
Lebaran selalu identik dengan ketupat. Seolah-olah kalo Lebaran tanpa makan ketupat belum Lebaran rasanya, walau ndak ada aturan soal hidangan Lebaran harus ketupat. ![]()
Ndak banyak yang tau kenapa ketupat identik dengan Lebaran. Padahal bisa saja ketupat diganti lontong, nasi, sagu, singkong, roti, atau apa pun. Ternyata memang ada makna filosofis tersendiri di balik ketupat, lo. ![]()
Seperti yang saya bilang tadi, biasanya ketika Lebaran, hidangan utamanya adalah ketupat. Tapi pada masyarakat Jawa, ketupat biasanya dinikmati seminggu setelah hari raya Idul Fitri.
Kok bisa? Ya, inilah yang namanya tradisi Bakda Kupat (Lebaran Ketupat) yang sering juga disebut Bakda Cilik (Lebaran Kecil). ![]()
TRADISI BAKDA KUPAT (BAKDA CILIK)
Kata bakda berasal dari bahasa Arab ba’da yang artinya “setelah”. Kalimat “ba’da Ashar” berarti sesudah Ashar.
Nah, kata “bakda” di sini merujuk pada hari raya Idul Fitri, yang maksudnya berhari raya setelah sebulan penuh berpuasa. Kemudian kata “bakda” ini menjadi luas maknanya yang berarti “hari raya”.
Ada juga yang menyebut riyaya yang berasal dari kata “hari” dan “raya”, yang kemudian digabung jadi kata “riyaya”.
Wealah, gayaku ini kek ahli bahasa saja. ![]()
Kembali ke Bakda Kupat. Tradisi ini tentu ada asal usulnya. Kalo asal ndak boleh usul, tapi kalo usul ndak boleh asal. Halah, kek semboyan acara tivi saja. ![]()
Dalam Islam, ndak ada itu yang namanya hari raya selain Idul Fitri dan Idul Adha. Jadi, Bakda Kupat jelas hanya tradisi Jawa saja.
Yang namanya Islam di Jawa, ndak luput sama yang namanya asimilasi kebudayaan Hindu dan Islam yang dilakukan sama para Wali Songo.
Dulu, Bakda Kupat merupakan tradisi yang dilakukan masyarakat Jawa sebagai sarana berkirim doa kepada arwah anak kecil yang sudah meninggal. Anak kecil dalam bahasa Jawa adalah “bocah cilik”, sehingga tradisi ini disebut dengan Bakda Cilik.
Setelah ajaran Islam masuk, tradisi ini ndak dihilangkan, tapi dijadikan sarana dakwah dengan memasukkan ajaran-ajaran Islam.
Bakda Cilik pun berubah fungsi menjadi “hari raya kecil” setelah melakukan puasa Syawal selama 6 hari. Setelah merayakan Idul Fitri pada tanggal 1 Syawal, masyarakat Jawa kemudian dibiasakan dengan berpuasa sunnah Syawal selama 6 hari. Kemudian setelah rangkaian puasa Syawal usai, diakhiri dengan “lebaran kedua” yang disebut dengan Bakda Cilik atau Bakda Kupat itu tadi.
Ini pula kenapa Bakda Kupat disebut juga dengan Bakda Cilik atau “hari raya kecil” karena hari raya ini diadakan setelah “berpuasa kecil” selama seminggu bila dibandingkan dengan hari raya Idul Fitri yang dilakukan setelah puasa selama sebulan.
Namun tradisi Bakda Kupat ini sendiri makin lama makin ditinggalkan. Ndak hanya tradisi Bakda Kupat saja yang banyak ditinggalkan, tapi kebiasaan berpuasa Syawal pun kini juga jarang dilakukan. La kalo saya sih, puasa Syawal-nya ndak ikut, tapi Bakda Kupat-nya ikut. ![]()
Sanak famili saya yang di Gresik setahu saya masih melakukan tradisi ini. Setelah berpuasa selama seminggu, pakde, bude, paman, bibi, dan nenek mengakhiri rangkaian puasa Syawal dengan bakda walau ndak selalu pake ketupat. ![]()
Lalu yang jadi pertanyaan kemudian, kenapa menggunakan ketupat?
Ketupat memiliki makna tersendiri. Bungkus ketupat dibuat dari janur kuning yang dianyam sedemikian rupa hingga membentuk segi empat.
Janur kuning merupakan lambang dari penolak bala. Pada Kraton Surakarta, ada sepotong kain panjang yang disebut Samir yang merupakan aksesoris wajib yang harus dikenakan. Samir kuning tersebut dipercaya sebagai penolak bala. Nah, janur kuning inilah kemudian yang dianggap sebagai Samir penolak bala.
Dulu, selongsong ketupat itu dibuat sendiri. Tangan-tangan terampil wanita bekerja dengan cekatan merangkai helai-helai janur. Di kala pembuatan selongsong ini biasanya suasana begitu ramai. Inilah yang membuat suasana menjelang Lebaran begitu meriah.
Kalo kini sih, cukup membeli saja di pasar yang biasanya dijual per ikat berisi 10 selongsong atau selusin selongsong. ![]()
Bentuk segi empat merupakan wujud dari prinsip “kiblat papat lima pancer”, yang bermakna bahwa ke mana pun manusia menuju, pasti selalu kembali kepada Tuhan.
UPDATE. Terima kasih Bung Zaenal! ![]()
Secara harfiah, “kiblat papat lima pancer” bermakna “empat arah mata angin dan satu pusat”. Kalo dijelantrahkan bisa bermakna macam-macam. Salah satu maknanya adalah makna filosofi keseimbangan alam.
Kita tahu ada 4 arah mata angin utama, yaitu timur, selatan, barat, dan utara. Akan tetapi semua arah ini bertumpu pada satu pusat. Bila salah satunya hilang, keseimbangan alam akan hilang.
Begitu juga dengan manusia. Ke mana pun manusia ini pergi (ke penjuru mata angin) tentu dia tak lepas dari yang namanya pusat, yaitu Tuhan Yang Maha Esa. Oleh karena itu, supaya manusia tetap “seimbang” hendaklah selalu ingat kepada Tuhan, pusat dari segalanya.
Itulah kira-kira hasil otak-atik gathuk yang saya tangkap dari filosofi “kiblat papat lima pancer” ini. ![]()
Kemudian beras yang menjadi isi dari ketupat menjadi lambang dari kemakmuran. Diharapkan setelah hari raya, kita akan selalu dilimpahi dengan kemakmuran.
Kata “ketupat” atau “kupat” berasal dari kata bahasa Jawa “ngaku lepat” yang berarti “mengakui kesalahan”. Sehingga dengan ketupat kita diharapkan mengakui kesalahan kita dan saling memaafkan serta melupakan kesalahan dengan cara memakan ketupat tersebut.
Ada lagi tradisi unik yang kini sudah sangat jarang ditemukan. Selain simbol maaf, ada yang percaya kalo ketupat dapat menolak bala.
Caranya dengan menggantungkan ketupat yang sudah matang di atas kusen pintu depan rumah. Biasanya ketupat digantung bersamaan dengan pisang. Ketupat ini digantungkan berhari-hari bahkan berbulan-bulan sampai kering hingga Lebaran tahun berikutnya.
Tapi tradisi menggantungkan ketupat yang kental nuansa mistisnya ini kini sudah sangat jarang ditemukan.
Percaya atau tidak, tapi itulah filosofi dan tradisi yang saya ketahui dari cerita orang-orang tua. ![]()
HIDANGAN LEBARAN SELALU KETUPAT?
Biasanya, ketupat disajikan bersama opor ayam dan sambal goreng. Ini pun ternyata ada makna filosofisnya juga.
Opor ayam menggunakan santan sebagai salah satu bahannya. Santan, dalam bahasa Jawa disebut dengan santen yang mempunya makna “pangapunten” alias memohon maaf.
Saking dekatnya kupat dengan santen ini, ada pantun yang sering dipake pada kata-kata ucapan Idul Fitri:
Mangan kupat nganggo santen.
Menawi lepat, nyuwun pangapunten.
(Makan ketupat pakai santan.
Bila ada kesalahan mohon dimaafkan.)
Biasanya hidangan ketupat dan opor ini ndak hanya dinikmati bersama keluarga. Hidangan ketupat ini juga dijadikan hantaran kepada tetangga-tetangga sebagai simbol permohonan maaf dan silaturahmi.
Tapi sekali lagi, tradisi saling menghantarkan hidangan ketupat ini kini juga sudah pudar.
Mungkin ada tradisi, filosofi, atau makanan khas Lebaran lainnya? Saya yakin, tiap daerah pasti mempunyai tradisi dan makanan yang khas ketika Lebaran tiba.
Silakan berbagi cerita melalui komentar. ![]()
