matriphe di Radar Jogja

Ternyata ndak harus jadi seorang seleblog untuk bisa diliput koran. Buktinya, ada seorang gembel kere lusuh fakir benwit yang kok bisa-bisanya nongol beritanya di koran.

Bukan, bukan si gembel itu mbikin sesuatu yang heboh, mbikin aliran baru Al Jengjengiyah Al Islamiyah dan ngaku-aku jadi rasul baru, bukan! Gembel tersebut masuk koran gara-gara BLOG!

Kok bisa? :-?

Sebenernya ini bukan yang pertama kali gembel tersebut masuk koran. Dulu pernah diliput juga sama Radar Jogja karena meng-geger-genjik-udan-kirik-kan Taman Kuliner dengan acara pelatihan ngeblog bareng CahAndong.

Nah, kalo yang kemarin itu gara-gara hajatan Pesta Blogger yang berhasil mencanangkan Harblognas beberapa waktu yang lalu.

Jawa Pos Radar Jogja, salah satu koran terkemuka di Jogja kebetulan mo mbikin liputan soal komunitas blog, karena tema Harblognas itu.

Saya dikontak sama Bung Thomas, karena ada wartawan beneran mo wawancara soal perbloggingan. Weh, rasa ndesit bin kemlinthi saya pun sekonyong-konyong muncul.

Saya sudah membayangkan sing ora-ora. Siapa tau wajah kere dan mengenaskan saya ini dilirik sama produser sinetron terus disandingkan sama Revalina S. Temat itu? 8->

Setelah kansenan, kita orang bertiga pun ketemuan di Warung Ayam Kampus Goreng Ninit. Kapan-kapan saya review dah ayam goreng ini. ;))

Saya mikirnya, yang namanya wawancara itu formal, pake recorder gitu, eh la ternyata cuman ngobrol dan sharing. Walau begitu, obrolan kami itu dimuat sebanyak satu halaman full!

Koran Radar Jogja

Mas Anwar, sang wartawan, ternyata juga ngeblog. Walau sempet berhenti namun akhirnya dia kembali melanjutkan aktivitas ngeblognya setelah blognya yang membahas analisisis soal-soal semasa beliau kuliah, dipakai referensi sama adik-adik kelasnya. Di situlah beliau sadar bahwa blog itu bermanfaat.

Bung Thomas pun juga banyak bercerita soal pengalaman ngeblognya, mulai dari jaman-jaman awal ngeblog (la beliau ini mulai ngeblog sejak tahun 98-an) sampai isu-isu dunia perbloggingan jaman sekarang.

Saya? Saya cuma ndlongap-ndlongop dan ngisruh saja. Saya cuma cerita tentang kandang para eblis bertajuk CahAndong itu.

Sebenernya banyak komunitas blog yang lebih layak liput, la kok celakanya malah justru CahAndong yang ketiban sampur. :))

Omong kosong saya ini ditulis pada artikel bertajuk CahAndong, Komunitas Blog Penuh Aktivitas Sosial.

Bung Thomas juga cerita soal gimana cara ndapetin duit dari blog. Ndak, Bung Thomas ndak cerita soal penggunaan adsense dan sebangsanya, tapi lebih menekankan pada “keseriusan” ngeblog. Tentu tulisan blognya harus bagus dan berkualitas.

Kalo menurut saya, blog juga bisa dijadikan investasi. Seperti pengalaman Bung Anwar tadi, siapa tau blog saya yang isinya ndak jelas ini bisa bermanfaat. Walau ndak mendapat keuntungan secara finansial, minimal bisa ngamal. Siapa tau bisa jadi amal jariyah, ma wadah, wa rahmah. Halah. :))

Blog-blog yang bertema niche (fokus pada satu tema) biasanya gampang dicari. Seperti kata Simbok, untuk jadi seleblog itu, butuh suatu identitas.

Blog niche bisa jadi identitas dan branding yang kuat. Dan kalo sudah punya branding, biasanya pangsa pasarnya jadi lebih mudah. Hayah, gayaku kek Pak Nukman saja. :))

Nyinggung soal branding, Bung Thomas kok nyelekop, “kalo urusan candi, Zamroni ini ahlinya”. Celakanya, quote itu beneran ditulis! Emangnya tampang saya kek batu candi, apa? =))

Ndak, ndak. Saya ndak ahli soal candi. Saya hanya PENIKMAT keindahan candi saja kok. Kalo soal ahli, monggo nanya ke arkeolog atau pemandu wisata saja. :">

Selain ngomongin soal blog, kita orang juga ngomongin soal hubungan antar blogger yang meski belum pernah ketemu sebelumnya, ketika bertemu seolah-olah sudah kenal lama karena sering berkunjung ke blog orang itu. Pengalaman ini juga diperoleh Bung Thomas saat ikutan Pesta Blogger kemarin itu.

Dari blog juga kita bisa punya banyak permen, eh banyak temen. Dari sekedar komen nyampah hingga hetrik, menjadi semacam tanda “i was here” dan tanda silaturahmi.

Memang, ndak semua blogger rela blognya dikotori dengan sampah komentar semacam itu. Kalo itu ya kita harus liat-liat. Jangan asal nyampah di blog orang kalo blog sendiri ndak mau disampahin. :D

Blogwalking itu juga penting. Saya sering liat banyak blog yang isinya bagus, tapi begitu liat komentarnya, nol. Saya sedih. Ini apa memang karena si pembaca ndak ngerti sama isi postingan, atau si pembaca takut komentarnya ndak nyambung sama isi postingan, atau si empunya blog jarang gaul?

Komen kalo menurut saya bisa menjadi “penyemangat”. Dengan adanya komen, menunjukkan bahwa postingannya dihargai. Tentu isi komentar juga menunjukkan kapasitas dari si komentator sendiri.

Tapi ingat, kita jangan ngeblog karena mengejar jumlah komen, tapi ngebloglah dengan kaffah! Kalo postingan bagus, otomatis pengunjung yang tentunya membawa potensi komentar akan datang dengan sendirinya. Tentunya blog kita harus dikenal dulu.

“Ngeblog itu aktivitas sosial. Semacam di kehidupan nyata, bergaul lah, maka blog dan anda akan dikenal”, ungkap Bung Thomas.

La saya sebenernya juga pengen blog walking, bung.. Tapi apa daya benwit saya tak punya. :(

Petuah-petuah soal mendapatkan duit dan pentingnya blog walking silakan dibaca sendiri. :D

Yah, begitulah. Obrolan selama 3 jam itu membuat mulut saya berbusa. Semoga obrolan busa kami itu, dengan semangat Pancasila dan UUD 45 dapat memajukan dunia perbloggingan Indonesia. :rock

Viewed 354 times by 176 viewers