Martabak Terbalik Aceh

Kita biasa mengenal martabak. Tapi pernahkah mendengar Martabak Terbalik?

Ya, martabak ini adalah martabak khas Aceh yang berbeda dari martabak yang biasa kita kenal.

Martabak yang kita kenal selama ini merupakan keturunan dari Martabak Malabar, martabak telor khas dari India.

Lalu bedanya apa dengan martabak biasa? :-?

Martabak yang biasa kita kenal, biasanya berisi kocokan telur, rajangan daun bawang, dan daging cincang yang kemudian dibungkus adonan tepung dan digoreng garing hingga berbentuk seperti bantal.

Favorit saya adalah martabak yang terbuat dari telor bebek dengan isian daging kambing atau sapi. Muantab! =p~

Nah, Martabak Aceh beda. Pertama adonan tepung digoreng dahulu hingga berbentuk seperti Roti Cane berbentuk segi empat.

Setelah adonan “Cane” ini cukup garing, barulah kocokan telur dan rajangan daun bawang dituangkan ke atas “adonan kulit” tadi hingga kocokan telur tadi membungkus adonan Cane.

Nah, inilah sebabnya kenapa martabak ini dinamakan Martabak Terbalik, karena adonan yang seharusnya menjadi “kulit”-nya justru malah dibungkus kocokan telur.

Kocokan telur membungkus adonan tepung, bukan adonan tepung membungkus kocokan telur. :D

Sekilas bentuk martabak ini mirip telur dadar atau omlet. :D

Awalnya saya pun mengira ini semacam dadar, eh ternyata setelah merobek dan melihat isi martabak ini, barulah saya tersadar bahwa saya telah menemukan Martabak Terbalik yang termahsyur itu! \:d/

Namun sayang, rasanya menurut saya ndak senendang martabak tipe Malabar seperti yang biasa kita makan. Bumbunya ndak setajam martabak biasa.

Daging cincang ndak kita temukan di martabak ini. Jika kita ingin martabak kita dicampuri daging kambing, sapi, atau ayam cincang, silakan request ke pembuatnya. :D

Agak heran juga sih, biasanya masakan Aceh kan terkenal akan bumbu rempahnya yang garang, tapi justru martabak ini berasa soft.

Tak puas dengan rasa yang seperti ini, saya pun mencelupkan martabak ke bumbu Kare Kambing. Akibatnya, martabak jadi lebih nendang akibat bumbu Kare yang memang jahat pedas ladanya. b-(

Tanpa Kare pun kita bisa bereksperimen untuk membangkitkan sensasi yang tertidur dari martabak ini.

Saya pun mengambil potongan bawang merah yang diacar, kemudian memakannya bersama martabak.

Wow! Rasa manis-asem-pedes acar bawang merah sedikit memberikan kejutan!

Penjual martabak sedikit heran ketika saya meminta saus. Rupanya memakan martabak ini dengan saus bukan merupakan hal yang lumrah.

Ah, luweh! Yang penting rasanya, bung! :))

Atau bila anda ingin lebih ekstrim, makanlah martabak ini dengan pose yang spektakuler, bombastis! Makan martabak ini dengan kayang atau salto mungkin bisa memberikan sensasi tersendiri, selain anda akan dianggap orang gila. :))

Sebagai pelengkap, pesanlah Jus Timun khas Aceh. Eits, tapi jangan bayangkan kalo jus-nya seperti yang biasa kita minum loh.

Jus Timun terbuat dari buah timun yang diserut kemudian disiram air gula dan diberi es.

Sueger banget, terutama untuk menetralisir tendangan lada yang jahat menohok kerongkongan. :))