
Suara tabuhan Simbal, Kecer, Bek To, Gong, Pengling, dan Munyu bertalu-talu menggaung di lorong jalan Kampung Ketandan.
Harmoni suaranya mengundang para penonton untuk berkumpul di depan sebuah kotak berbentuk seperti gerobak penjual rokok yang berwarna merah.
Pagelaran Wayang Potehi (Po Tay Hie) akan segera dimulai. Penonton pun berkumpul untuk menyaksikan cerita apa yang akan ditampilkan malam itu.
Itulah salah satu sudut suasana yang tergambar di Pekan Budaya Tionghoa 2008 yang berlangsung di Kampung Ketandan, Kelurahan Suryatmajan, Kecamatan Danurejan, Yogyakarta, yang merupakan lokasi pertama perkembangan etnis Tionghoa di Jogja.
Acara ini merupakan acara tahunan yang mulai diadakan kembali sejak tahun 2006 setelah pada masa orde baru, kesenian macam begini dilarang.
Bersama Anto, Leksa, Gunawan, Funkshit, dan tamu dari Surabaya, si Cempluk, kami mengunjungi acara yang selain berisi penampilan kesenian Cina, juga digelar bazar ini.
Acara yang digelar tiap malam pada tanggal 7-11 Februari 2008 mulai pukul 17.00 hingga 23.00 ini menampilkan berbagai kesenian macam Musik Pek Bum, Atraksi Naga Barongsai, Pameran Budaya Tionghoa, dan yang menarik buat saya adalah Wayang Po Tay Hie.
Wayang Po Tay Hie sendiri sebetulnya milik suku bangsa Hokkian. Wayang ini berasal dari distrik Quanzhou di Provinsi Fu Jian, yang kemudian dibawa oleh para imigran Cina ke Indonesia sekitar abad 16 hingga abad 19.
Makanya ndak semua etnis Cina di Indonesia mengenal wayang ini. Apalagi semenjak masa orde baru, kesenian Cina macam begini dilarang.
Wayang Po Tay He juga bisa menjadi simbol pembebasan. Meskipun dikekang, wayang ini terus berkembang dan akhirnya bisa bebas dimainkan.
Ini tak lepas dari asal mula wayang ini. Konon Wayang Po Te Hie dimainkan pertama kali ketika Dinasti Tiu Ong berkuasa sekitar 3.000 tahun yang lalu.
Ceritanya, kaisar saat itu ndak berperikemanusiaan dan ndak segan-segan menghukum mati warganya. Ada lima orang yang divonis mati, tapi salah seorang di antaranya sangat tabah dan mengajak keempat rekannya bergembira selama di dalam tahanan.
Mereka kemudian menggunakan tutup panci sebagai Kecer, bambu tangkai sepatu sebagai seruling, panci bekas berbunyi “tong”, yang kemudian dibunyikan bersama-sama, menghasilkan suara merdu.
“Si tabah” menggunakan kain bekas yang diikat berbentuk kepala dan ujung kain diikat sebagai badan lalu memainkannya sebagai wayang untuk menghibur diri mereka.
Kaisar Tiu Ong akhirnya membebaskan kelima orang itu setelah mendengar bunyi-bunyian merdu dan melihat penampilan wayang tersebut.
Sejak saat itu, kelima orang itu mendirikan paguyuban Wayang Po Tay Hie, yang diambil dari kata-kata “Po” berarti “kain”, “Tay” berarti “kantong”, dan “Hie” berarti wayang.
Wayang ini mirip dengan wayang golek yang ada di Indonesia, namun uniknya wayang ini memiliki kaki.
Biasanya cerita yang dibawakan menceritakan cerita klasik Cina yang populer, macam “Shi Jin Kwi” (menaklukkan Kerajaan See Liang Kok), “Poei Sie Giok” (yang membela suku bangsa dengan mengadu kemampuan di atas panggung Lui Tay), “Jhi Gu Nau Tong Tiauw” (dua siluman kerbau membuat huru-hara di Kerajaan Tay Tong Tiaw), “Kho Han Bun” (jatuh cinta pada siluman ular putih di Danau Si Hu), dan berbagai ajaran kebajikan sesuai ajaran Khong Hu Cu.
Cerita-cerita ini ketika sampai di Indonesia kemudian diterjemahkan dan diakulturasi. Beberapa nama tokohnya pun kemudian “disesuaikan” seperti misalnya cerita “Shi Jin Kwi” yang pernah dimainkan dalam bahasa Jawa oleh Ketoprak Cokro Ijo Yogyakarta.
Semua nama tokoh diubah ke dalam bahasa Jawa. Misalnya, Kerajaan “Tai Tong Tiaw” diubah menjadi “Kerajaan Tanjung Anom”, “Kaisar Li Sie Bin” menjadi “Prabu Li San Puro”, Jenderal Perang “Shi Jin Kwi” menjadi Jenderal “Joko Sudiro”, putra “Sie Teng San” menjadi “Sutrisno”, dan istrinya “Wan Lie Hwa” menjadi “Warianti”.
Malam itu cerita yang dimainkan adalah cerita “Shi Jin Kwi” tersebut. Alkisah, Kaisar Lie Sie Bin yang memerintah Kerajaan Tai Tong Tiaw menerima surat tantangan dari So Pu Tong, penguasa negeri tetangga See Liang Kok. Merasa terhina, Kaisar Lie pun murka. Dia mengirimkan pasukan dan perang hebat tak terhindarkan.
Uniknya, semua pemainnya merupakan etnis pribumi, alias orang Jawa. Dalangnya ada dua orang. Seorang memainkan wayang dengan menggunakan jari-jarinya dan seorang lagi bercerita menggunakan bahasa Cina yang kemudian disambung dalam bahasa Indonesia.
“Crek.. Nong! Crek Crek.. Nong! Trok Tok Tok.. Creng.. Tong!”, begitulah suara musik yang muncul dari pukulan Simbal, Kecer, Bek To, Gong, Pengling, dan Munyu.

Pemain dan dalang wayang ini berada di dalam kotak berukuran sekitar 2×2 meter. Tiga orang memainkan alat musik dan dua orang bermain sebagai dalang.
Cerita dimainkan selama kurang lebih 2 jam. Antusiasme penonton pun begitu besar. Tua-muda, Jawa-Cina, semua berbaur untuk menyaksikan wayang yang dulunya hanya dipakai untuk ritual ibadah ini.
Melihat ekspresi wajah anak-anak kecil yang menonton dengan antusias membuat saya tertarik. Bukan berarti saya pedofil, tapi melihat ekspresi mereka yang ndomblong membuat saya mengeluarkan kamera dan mengabadikan ekspresi wajahnya.

Funkshit bilang kalo sejak saya jeprat-jepret anak itu, ibunya sudah ketar-ketir takut kalo anaknya bakal diganyang maniak pedofil! ![]()
Walau kesenian ini merupakan kesenian Cina, namun justru yang memainkan dan melestarikannya malah orang-orang pribumi.
Inikah wujud akulturasi atau justru orang-orang keturunan Cina sudah enggan memainkan kebudayaannya?
Saya jadi teringat perkataan seorang reporter Trans7 ketika melakukan liputan di Klenteng Sam Poo Kong pas kami ke Semarang kemarin.
Sang reporter bilang kalo dia kesulitan menemukan etnis Tionghoa asli yang memainkan Barongsai. Semua pemain Barongsai yang dia temui justru berasal dari etnis Jawa.
Ke mana kah generasi muda Cina? Inikah wujud akulturasi atau “pembajakan budaya”? Entah lah. ![]()
Yang penting menurut saya kesenian macam begini ini menarik dan layak dilestarikan. ![]()

10 Feb 2008 12:39:30 dari
sebentar.. ini ridu yg pertamax bukan??
10 Feb 2008 12:43:11 dari
wew.. jadi tambah penasaran deh.. kakinya kek gmana yah?? unyil aja gak ada kakinya!
apa gak ribet yah.. tapi keren bagnet deh.. ridu jadi pengen banget nonton!
10 Feb 2008 12:48:02 dari
pembajakan budaya? jadi inget negeri sebelah
“
10 Feb 2008 12:49:35 dari
kok ga muncul emoticonnya? yang siul2…
10 Feb 2008 13:21:16 dari
lha iki kapan? wah saya ndak dikabari iks… *mbawa buntelan kain kabuur dari rumah*
10 Feb 2008 13:29:22 dari
sayang gak sempet liat juga tahun ini
10 Feb 2008 13:52:57 dari
loh, kowe emang pedofil kan mas?
*nyebar HOAX*
10 Feb 2008 14:20:01 dari
ndak nyangka. selain candi dan stupa, kamu juga suka wayang..
10 Feb 2008 14:24:25 dari
klo aku pengen banget nonton opera cina yang orang beneran itu, sayangnya gak rutin tampil cuma pas even imlek ginih
10 Feb 2008 15:16:47 dari
ada yang judi kopro ga zam?
10 Feb 2008 16:13:54 dari
Ndak nyangka..
Ternyata selain suka candi, stupa n wayang ternyata kamu juga suka anak kecil Mat!
10 Feb 2008 16:26:32 dari
*baca comennya chika ama kang sandal*
*ngakak*
tapi tuh anak kecil emang manis sih….
10 Feb 2008 17:18:04 dari
Wedew, fotografer beraksi hati-hati dek nanti di hipnotis
10 Feb 2008 17:18:52 dari
10 Feb 2008 17:50:41 dari
aya cepot nteu?
10 Feb 2008 18:38:58 dari
Senin masih ada kan? kesana ahh,..
10 Feb 2008 22:42:45 dari
memang top markotop mas Zam ini dalam fotografi..diriku diajari teknik fotografi yang baik dan benar selama di jogja..
suwun mas !!!
akhir nya, tiba juga di surabaya…
10 Feb 2008 22:49:00 dari
udah posting ajah

aku bingung mau start dari mana
10 Feb 2008 22:59:35 dari
zam, ibunya anak itu protes ke aku..
kamu disuruh tanggung jawab tu…
11 Feb 2008 04:10:58 dari
anak kecilnya mirip dea imut..
11 Feb 2008 10:37:11 dari
damn…..tadi malem mau liat penutupannya malah hujan mpe malam banget. Jadinya ga jadi memburu gadis oriental kesana
11 Feb 2008 14:23:50 dari
heran aku… kok sampeyan iso ngerti jalan ceritanya tho
padahal sibuk jeprat jepret . . .
*saya aja nda ngerti jalan ceritanya sibuk clingak clinguk nyari cewe oriental
11 Feb 2008 15:20:42 dari
jengjeng rak ngejak, piye entuk sing mata almond setelah dari sana?
11 Feb 2008 16:09:56 dari
Walah, ternyata ada Unyil versi Oriental
Walah, masak bangsa kita lebih suka melestarikan budaya bangsa lain toh?
11 Feb 2008 18:32:53 dari
iyoh, sefertina keturunan tionghoa ndak mau lage melestarikan budaya mereka sendiri. lihat saja disekeliling kita, mereka malah lebih berasyik masyuk buat ngeblog! *nglirik somebody*
11 Feb 2008 18:50:21 dari
baru tahu kalo pedofili

ahhh, jadi kangen suasana tuban, disana ada kelenteng yang gedhe! pasti rame!
11 Feb 2008 20:30:02 dari
protes!
skrinsut wayang potehinya tambahin, gak anak kecil perempuannya di hapus ajah. Bisa menimbulkan fitnah
sekalian laporan pak kusir, kok blog saya gak teragregat lagi ya di planet.
matur suwun
12 Feb 2008 01:36:37 dari
Wooh… Ada toh yg kyk gini…
12 Feb 2008 02:11:31 dari
eh…gadis kecil itu…CACAT !!!!
alias CAlon CAnTik….
hueeee…..aku ga jd nonton ni…..pdhl udah tak niatkan, mlm trakhir mo nonton. lha kelupaan
btw, katanya ada pameran kuliner juga…gimana kok ga ada critanya?? tak tunggu je….
12 Feb 2008 08:04:59 dari
Waah.. Jadi pengen nonton nih
12 Feb 2008 09:29:15 dari
Akulturasi ituh…. *pembelaan diri*
Kayaknya kalo di Jawa akulturasinya udah dalem banget, ndak kayak di Kalimantan (terutama KalBar) yang masih cukup kental. Mungkin faktor itu ya, asal daerah dan latar belakang migrasi ke Endonesa dulu.
12 Feb 2008 09:30:56 dari
Ah, salah email dan URL blog..
Btw minta foto anak kecil itu dong!!
13 Feb 2008 10:13:41 dari
zam eling…..ojo ngembat cah cilix….
dumeh diputus karo cowokmu po piye? 
13 Feb 2008 14:35:18 dari
tokoh kuwi sing mirip karo Didit, sing endhi Zam?
13 Feb 2008 15:23:23 dari
wooo..kalok wayang ini dalangnya ada di belakang panggung ya.. si bos serius juga ya ngikutin ceritanya.. salut!
13 Feb 2008 17:57:02 dari
13 Feb 2008 18:00:07 dari
Orang Cina kan pada umumnya sudah mampu dan mapan, ngapain melestarikan kebudayaan Cina kalau bisa mbayar wong jowo ndeso untuk melestarikannya.
13 Feb 2008 21:24:24 dari
jadi pengen nonton
ditayangin di TVRI ngga ya 