Kumpul-kumpul Juminten

Jogja tak pernah sepi, tak pernah mati. Setiap sudutnya selalu menyapa dan menawarkan selaksa makna, begitu KLA Project menuliskannya dalam lagu.

Salah satunya adalah di seputaran titik nol kilometer. Maklum saja, di tempat inilah pusat kota Jogja yang sebenarnya.

Berbagai macam rupa manusia pun ada di sana. Berkumpul dan bercengkrama menikmati suasana kota.

Pun dengan tanggal 1 Maret. Tanggal ini merupakan tanggal keramat yang saat ini sudah banyak terlupakan.

1 Maret 1949 pukul 6 pagi. Sirene meraung-raung dari 3 penjuru kota, dari Kedaung Table Top, Pasar Beringharjo, dan Plengkung Gading, menandakan berakhirnya jam malam yang diterapkan Belanda.

Para pemuda berikat kepala janur kuning pun dengan gagah berani segera mengokang senjata. Di bawah pimpinan Letkol Soeharto, Jogja selama 6 jam menjadi neraka bagi Belanda.

Di depan Monumen Serangan Umum 1 Maret 1949 inilah kami, para pemuda nggaya, dangkal, ngeselin, dan sok tau ini semalaman berkumpul.

Maksudnya sih hendak mengenang kembali dan meneladani semangat kepahlawanan para pemuda Jogja berjanur kuning itu, apa daya malah menjadi ajang bergojek kere, guyon goblok, dan nggedebus nggambus. :))

Yang lebih ngeselinnya lagi, tiap Jumat malem akan selalu diadakan kembali. Kumpul dan nongkrong di seputaran titik nol kilometer, di emperan depan Monumen Serangan Umum 1 Maret 1949 itu.

Ikut-ikutan negara tetangga? Iya. Lantas kenapa? Apa ada yang salah? ;))

Jadi buat njenengan yang lagi sial berada di Jogja pada hari Jumat dan ingin menggenapkan kesialan njenengan, monggo untuk datang malam harinya ke titik nol kilometer di emperan depan Monumen Serangan Umum 1 Maret 1949.

Silakan cari sekumpulan orang bodoh tukang tipu yang cekakakan di sana. Wajah-wajah kami ini tentu sudah sangat familiar. Halah. :))

Soal nama, kalo mo “cangkruk” kok sudah dipake sama BHI. Jumatan? La itu miliknya temen-temen Adsense Jogja jeh..

Akhirnya JUMINTEN pun ditetapkan sebagai nama setelah Pak Menpenak mengangguk setuju untuk menamai tètèg-nya kami malam itu.

Memasuki awal hari 1 Maret, segerombolan tukang tipu pun bergerak meninggalkan monumen. Menuju ke Wijilan bukan untuk mencari gudeg namun menuju Angkringan Mbak Cantik.

Sayang dagangan sudah habis. Mbak Cantik menyarankan kami untuk menuju ke Krapyak, ndak jauh dari situs bersejarah Panggung Krapyak, untuk menuju angkringan yang masih merupakan jaringan dagang keluarganya itu.

Setelah cacing perut dibungkam dengan nasi pecel dan thowaf mengelilingi Panggung Krapyak, kami pun kembali ke habitat masing-masing.

Sampai jumpa Jumat depan! ;)

Viewed 217 times by 132 viewers