Juminten bersama Nukman Luthfi

Acara Juminten kemarin sedikit berbeda. Selain gojek kere, guyon goblok, dan nggedebus nggambus, para jelata juga kedatangan tamu istimewa.

Tamu istimewa yang datang ke Titik Nol Kilometer kemarin itu adalah pakar marketing online Mas Nukman Luthfie dan pakar SEO Mas Keke.

Kebetulan saat itu Mas Nukman ada di Jogja. Ketika ditanya, beliau menjawab, “nostalgia kuliah 25 tahun yang lalu..” :))

Sebelum mampir ke Titik Nol Kilometer, rupanya Mas Nukman sudah menyambangi Bunderan UGM untuk ikutan Jumatan.

Ini adalah kedua kalinya saya ketemu Mas Nukman. Ketemu pertama kali pas ikutan Peluncuran Tour-de-Djokdja-nya Yogyes di Hotel Jayakarta beberapa waktu yang lalu.

Mas Nukman dan Mas Keke rupanya ndak segan-segan untuk sharing pengetahuan dan pengalaman mereka soal “monetizing blog” alias dalam bahasa kere-nya, nyari duit lewat internet (blog).

Mas Keke sendiri lebih banyak sharing soal pengalaman beliau bagaimana mendapatkan duit via internet. Berawal dari penjaga warnet, kini Mas Keke sudah mampu hidup dengan mengandalkan duit yang didapat dari internet.

Kalo kita berpikir nyari duit lewat internet itu selalu lewat Google Adsense, rupanya menurut Mas Keke, cara ini ndak begitu efektif.

Mas Keke malah lebih banyak memberi wejangan soal marketing, bagaimana menjual diri kita di internet. ;))

Diskusi dan sharing dari Mas Keke dan Mas Nukman ini rupanya memberikan wacana baru di kalangan para jelata. Bahkan Mas Keke dan Mas Nukman menantang kami para jelata ini untuk ikut berperan dalam meraup duit dari internet.

Menurut Mas Nukman, Jogja punya kultur dan situasi yang berbeda, sehingga cara yang digunakan untuk mencari duit juga berbeda.

Apalagi infrastruktur di Jogja sudah amat sangat memadai. Sebagai contoh, murah dan mudahnya akses internet baik melalui warnet maupun free wi-fi area yang tersebar di penjuru Jogja.

Saya yang biasanya cuma mburuh dan macul ini pun menjadi tertarik juga.

Namun kok kendala klise yang saya hadapi ya sama dengan para calon enterpreneur itu, “bagaimana mulainya?” ;))

Tantangan dari Mas Nukman dan Mas Keke untuk “mencari cara sendiri” dalam mencari duit lewat internet dengan menyesuaikan situasi di Jogja ini bener-bener menarik.

Bisakah saya dan temen-temen untuk menemukan caranya? Pemirsa, inilah Insert Investigasi.. Doakan saja. :D

Keistimewaan lain dari acara Juminten semalem itu adalah adanya hiburan dari para pengamen jalanan yang membawa instrumen musik lengkap, mulai dari ukulele, gitar, perkusi, bas betot, hingga icik-icik.

Belum lagi penampilan para pengamen yang nyentrik, dengan gaya ala rasta namun bersandal jepit memberikan keunikan tersendiri.

Kalo di dalam lagu KLA Project yang berjudul Yogyakarta itu ada lirik yang menceritakan soal musisi jalanan, rasanya kok lagu itu masih relevan, ya?

Malioboro, dulu terkenal dengan para musisi dan seniman jalanannya. Kini mulai memudar seiring dengan perkembangan waktu.

Pukulan perkusi dan petikan gitar menyadarkan lamunan saya. Pengamen itu sesumbar akan menyanyikan lagu bertema “teknologi”. Apa pula ini? :-?

Penasaran? Silakan liat di Youtube atau Multiply saya. ;))

Oh Jogja, rasanya aku makin enggan untuk meninggalkanmu.. :x