Tobat

Saya kehilangan gairah, kehilangan nafsu, dan kehilangan passion untuk ngeblog.

Jujur, ini bukan hanya karena Wiki, namun menurut analisis pribadi saya, karena urusan pacul dan harga sembako yang naik mencekik leher.

Saya sering eneg dan ndak tau mo ngapain lagi di depan internet. Tersesat dan bingung hendak ke mana ketika berada di dunia maya.

Apakah ini saatnya saya untuk bertobat?

Saya kok merasa hampa. Persoalan harga kebutuhan yang naik jelas berimbas ke masalah rumah tangga dan perut. La mau saya kasih makan apa itu istri-istri saya?

Belum lagi anak saya yang paling besar dari istri muda merengek tahun ini pengen masuk UGM. Oalah le, UGM itu ndak semegah dan sekeren gerbangnya itu!

Pontang-panting nyari duit itu susah juga, ya. Tawaran, eh tantangan dari Mas Nukman beberapa waktu lalu masih terngiang-ngiang.

Ah, padahal saya saja sudah keteteran dengan kerjaan saya yang harus ngobyek sana-sini. :-<

Saya kok jadi kangen dengan masa-masa saya pas masih muda. Enjoying life dengan keluyuran ke sana kemari. Blusukan ke candi-candi, ngicip-icip makanan, belajar soal seni budaya dan tradisi..

Ke manakah hasrat saya itu? Padahal masih ada beberapa candi yang belum saya jelajah. Masih ada referensi tempat makan yang belum tersentuh, juga berbagai niatan penelusuran heritage yang sudah saya gadang-gadang?

Kendala waktu dan finansial rupanya masih menghantui. Duh, mending duitnya digunakan untuk dibelikan susu buat anak-anak. :-<

Duh Gusti, apakah saya harus kembali lagi ke pesantren? Mengkaji kitab kuning dan melancarkan bahasa Arab supaya mudah memperistri lagi gadis Arabik Oriental?

Memikirkannya malah bikin muka saya jadi ijo. Tidak!! ~X(

Saya pun mengontak para jelata. Kafe Djambur sudah menanti dengan dayang-dayangnya. =p~

Pernyataan: Sebuah postingan sampah ndak layak baca, dangkal, dan pastinya ngeselin. :D

Viewed 59 times by 34 viewers