Tugu Jogja

Setelah selama 5 tahun lebih tinggal di Jogja, akhirnya tibalah saatnya saya untuk meninggalkan kota ini. Terlalu banyak kenangan dan cerita yang tertoreh, yang bila semua dituliskan di dalam blog pun, rasanya ndak akan cukup.

Walau rasanya cukup banyak tempat dan sudut yang saya jelajahi, namun semakin banyak tempat dan sudut yang menurut saya belum ketahui. Ndak habis rasanya untuk menjelajahi seluruh penjuru Jogja.

Bila boleh memilih, tentu saya akan memilih untuk tinggal di kota yang saya cintai ini. Namun apa daya, terkadang kita harus meninggalkan sesuatu yang kita cintai untuk semakin menambah cinta kita.

Begitu pula dengan Jogja. Kota yang menjadi zona nyaman dan aman serta menentramkan, kota dengan ritme yang seolah berjalan pelan dan santai, dengan keramahan dan kesantunan warganya, namun rupanya harus saya tinggalkan.

Peluk Tugu

“Kemapanan adalah penghambat kemajuan”, begitu salah satu slogan motivasi yang pernah saya dengar di televisi. Slogan yang akhirnya menyadarkan saya bahwa hidup harus terus berjalan, menghadapi rintangan dan ujian untuk meningkatkan kualitas diri.

Dan akhirnya ke Barat lah saya akan menuju. Kota kejam sekejam ibu tiri namun tak kejam soal gaji.. :D

Rasanya saya telah menerima karma. Membenci kota itu justru membuat saya sekarang harus menghadapinya. Sepertinya lain kali saya harus berhati-hati dengan ucapan saya.. ;))

Kini barulah terasa, kesan mendalam ketika mendengar lagu “Yogyakarta” yang dipopulerkan oleh KLA Project pada tahun 90-an. Padahal dulunya ketika mendengar lagu itu terasa biasa-biasa saja.

Juga lagu “Ngayogjakarta” yang dibawakan kelompok musik asal Solo, Genk Kobra. Begitu njawani dan lekat pada kehidupan sehari-hari yang kadang ndak kita sadari.

Saya tentu akan merindukan saat-saat bersama kawan-kawan di Jogja. Gojek kere, guyon goblok, ngangkring, melakukan hal bodoh dan sia-sia, ndoyok jeng-jeng keluyuran ke candi dan tempat ndak jelas lainnya..

Ah, namun ndak perlu bersedih. Program baru “Jengjeng van Ndoyok de Batavia” sudah saya persiapkan. ;))

Berpikiran positif tentu akan lebih baik. Seperti lirik lagu Serenade yang sering dinyanyikan para pengamen jalanan kalo pas Jumintenan.

Kenapa harus takut pada matahari?
Kepalkan tangan dan halau setiap panasnya
Kenapa harus takut pada malam hari?
Nyalakan api dalam hati
Usir segala kelamnya..

Kepada Tugu saya telah berjanji. Memeluknya berarti akan kembali lagi. Kembali ke Jogja. Sampai jumpa lagi, Jogja!

Izinkanlah aku untuk slalu pulang lagi
Bila hati mulai sepi tanpa terobati..

Sayup-sayup terdengar lagu Yogyakarta-nya KLA Project..