Warung Gudeg Jogja Hayam Wuruk

Belum sebulan kesasar di Jakarta, saya kok sudah kangen sama Jogja. Nah, untuk mengurangi rasa kangen, saya pun kemecer pengen makan gudeg.

Ternyata, mencari gudeg di Jakarta ini gampang-gampang susah. Mencari gudeg dengan rasa original yang nJogja banget, membutuhkan kemampuan ndoyok yang super.

Setelah bertanya sana-sini, saya mendapatkan beberapa informasi tentang koordinat gudeg yang boleh dipoedjiken.

Rupanya seperti halnya di Jogja, penjual gudeg di Jakarta punya jam operasional yang berbeda-beda. Ada yang jualan pagi sampe siang dan ada juga yang jualan dari malam sampe pagi. Siang itu, kami pun meluncur ke Pasar Cikini. Menurut informasi, Gudeg Bu Harjo, Pasar Cikini, layak ditjoebaken.

Nyegat Kopaja 502 dari perempatan Bank Indonesia Thamrin, kami segera meluncur ke sasaran. Eh la mungkin karena salah pengertian, kami salah ngubek-ubek Pasar Gondangdia gara-gara mengira itu pasar adalah Pasar Cikini. Sadar kalo kami salah sasaran, segera kami membajak bajaj dengan ongkos 6 rebu untuk meluncur ke Pasar Cikini. :))

Setelah terguncang hebat plus suara kecompreng knalpot bajaj memekakkan gendang telinga, sampailah kami di Pasar Cikini. Sesampainya di sana, kami pun clingak-clinguk. Nanya tukang parkir, kami pun mengikuti arah telunjuk jari tukang parkir yang siang itu terlihat begitu tergopoh-gopoh sibuk mengatur parkir yang semrawut.

Menerobos Pasar Cikini, kami akhirnya menemukan seorang penjual gudeg yang membuka dhasaran di salah satu lorong. “Aha! Ini dia”, celetuk saya ketika menemukan papan sederhana bertulis Gudeg Bu Harjo yang terbuat dari stiker tempel pada papan triplek putih.

Malang nasib kami, rupanya gudeg sudah ludes ndak bersisa! :((

Tanpa putus asa, dengan semangat super ala Mario Teguh, kami pun keluar pasar untuk jeng-jeng dulu di seputaran Cikini. Konon di Cikini, masih banyak terdapat bangunan tua yang masih terawat!

Hoho! Saya menemukan gedung bioskop tua Megaria yang amboy arsitekturnya mengingatkan saya akan Stasiun Tugu! Ada pula gedung Fakultas Kedokteran UI dan beberapa gedung tua tak bertuan dan tak bernama lainnya. Yes, I love heritage!

Saya pun menemukan rumah neneknya Seno Gumira Ajidarma, yang diceritakan dalam salah satu bukunya, “Affair: obrolan tentang Jakarta”. Persis seperti di dalam buku, rumah itu tepat berada di samping kantor YLBHI.

Perburuan gudeg pun sementara terhenti karena kami menunggu malam tiba. Menurut informasi, ada gudeg lesehan boleh ditjoebaken di sekitar Jl. Hayam Wuruk, Jakarta Pusat, yang buka dari malam sampai pagi.

Ndak ingin bengong, kami berjalan menuju Taman Ismail Marzuki. Niat hati sih, pengen ke Planetarium, namun apa daya rupanya ketika kami datang, Planetarium sudah tutup. Kami datang sekitar pukul 16.30 padahal pertunjukkan terakhir adalah pada pukul 14.30! =))

Senja pun akhirnya tiba. Sasaran perburuan gudeg kembali dicanangkan. Pokoke malam ini gudeg harus didapat!

Kami kembali naik Kopaja 502 dan turun di perempatan BI. Dari situ, kami naik busway koridor 1 menuju ke arah Kota. Kami pun turun di halte Sawah Besar dan mulai bertanya-tanya. Ealah, rupanya lokasi gudeg yang dimaksud masih jauh dari halte Sawah Besar! Harusnya kami turun di halte Mangga Besar! :))

Baiklah, setelah berjalan menyusuri Jalan Hayam Wuruk, sampailah kami di warung lesehan gudeg yang dimaksud! Warung ini terletak di emperan dealer motor Armada Ruang Motor, persis di samping Anta Tour dan Tamani Cafe. \:d/

Suasana Warung Gudeg

Suasanya bener-bener mirip di Jogja! Dengan mengusung nama warung “Gudeg Jogja Malioboro”, membuat saya merasa seperti berada di jalan legendaris itu. Ah, sayangnya ndak ada musisi jalanan yang kadang menjengkelkan, namun di satu sisi mengangenkan. :D

Kami pun memesan Gudeg Komplit dan teh poci. Gudeg yang terhidang di sini merupakan gagrak gudeg basah. Gudeg yang memang sering ditemukan di malam hari.

Gudeg Komplit terdiri atas nasi, sejumput gudeg, krecek, tahu, telur, dan ayam opor. Sedikit beda versi dengan gudeg basah yang biasa saya temui di Jogja memang, namun bolehlah untuk mengobati kerinduan. :)

Rasanya boleh diacungi jempol. Apalagi daging ayam opornya begitu empuk marempuk. Lunak sekali. Miroso lah pokoke!

Namun, mungkin ada yang bertanya, kok pake ayam opor? Apa enak? Rupanya “ayam opor” yang dimaksud di sini bukan ayam opor sebenernya, melainkan ayam yang dimasak dalam bumbu santan yang bertindak sebagai “areh”.

Gudeg Hayam Wuruk

Teh pocinya pun lumayan. Namun gula batu yang diberikan sedikit kebanyakan, membuat teh menjadi terlalu manis. Ah, saya merindukan teh nasgitel ala Angkringan Tugu yang denger-denger digusur itu.

Aduh, celaka! Kini saya jadi kangen sama gudeg Hj. Latifah di Jalan Ahmad Dahlan, depan PKU Muhammadiyah, Jogja, yang kerap disinggahi para jelata setelah jumintenan. =p~

Update: Monggo yang mau ngasih alamat warung lesehan gudeg di Jakarta. Matur nuwun sanget.. :D

Viewed 2965 times by 147 viewers