Suasana Pasar Subuh Blok M

Sebelum acara Ngupas Benhil, sebenernya saya udah melakukan acara pre-ngubek pasar.

Bersama Yudi dan Pito, saya menjelajah Pasar Subuh Blok M Sabtu dini hari.

Hujan yang turun sejak lepas tengah malam hari itu membuat suasana menjadi semakin mencekat. Hawa dingin menusuk kulit, pedih sepedih tusukan jarum-jarum air yang tak kunjung reda. Ah, tapi masih lebih pedih bila tiada dirimu di sisi.. Hoeeekkk!!! :))

Sehabis nongkrong di BHI, terbersit rencana tolol untuk melihat dari dekat aktivitas para pedagang jajanan pasar di kawasan Blok M.

Walau hujan masih turun rintik-rintik, sekitar pukul 4 kami nyegat mikrolet C01 dari depan Hotel Nikko. Menunggu tak lama di halte yang terbuat dari bahan metal itu.

Mikrolet yang penuh dengan orang-orang pulang kerja, mulai dari kerja beneran hingga kerja “gituan” pun ada. Sepinya malam semakin sunyi, tenggelam dalam deru mesin mikrolet yang melesat cepat.

Tiba di Blok M, hujan makin menderas. Sial. Tanpa jaket, hanya bermodal kaos oblong dan topi butut gratisan, saya berlari-lari menuju warung mi ayam yang rupanya juga penuh dengan para peneduh.

Aroma mi ayam sempat menggoda, namun urung saya memesan karena Yudi menjawil saya untuk pindah ke pelataran wartel yang ndak jauh dari situ.

Kebelet pipis, karena ndak ada toliet umum yg tersedia, plus hujan deras membuat saya memutuskan untuk sekonyong-konyong mepet ke sekumpulan semak untuk melepas hasrat. Ah.. Nikmat, sambil bergidik karena dingin menjamah kulit.

Dedaunan malang yang basah oleh air hujan menjadi korban. Masih untung saya ndak membawa syal baru yang indah nan permai.. :D

Setelah hujan sedikit mereda, kami pun bergerak. Masuk menusuk melewati jalur-jalur bis terminal Blok M. Sesekali melompat untuk menghindari genangan air, namun apa daya kecipak air yang muncul ketika kaki mendarat masih saja membasahi ujung celana.

Berbelok mengikuti koridor dan lorong-lorong toko yang masih tutup, laksana labirin yang membingungkan bila belum terbiasa. Saya yang sedikit mengantuk pun tak begitu ingat rute-rutenya.

Saya hanya menyerah pasrah mengikuti langkah Yudi dan Pito yang seolah-olah memiliki GPS di kepalanya sehingga dengan mudahnya menelusuri labirin pasar. Padahal menurut pengakuan mereka, baru 2 kali mereka menjelajahi pasar ini. Menemukannya pun secara tak sengaja.

Seingat saya, pasar Subuh ini berada di belakang gedung Pasar Jaya, yang dulu pernah mengalami kebakaran ini. Seruak keramaian langsung menyergap.

Para pedagang rupanya sedang bersiap-siap. Ada yang memasang tenda, menata dagangan, bahkan beberapa pembeli sudah melakukan transaksi. Hujan deras rupanya menjadi kendala sehingga persiapan pasar yang biasanya diakukan pukul 2 dini hari telat.

Berbagai jajanan pasar, mulai dari yang tradisional, kue basah, hingga modern berupa roti-roti ada semua di sini. Menempati ruas jalan sepanjang kurang lebih 300 meter, membuat saya sempat kehilangan pegangan hendak membeli jajanan yang mana.

Kue-kue pasar

Memang, pasar ini ndak lebih besar dari pasar sejenis di kawasan Senen, namun berada di surga makanan ini saja sudah cukup membingungkan.

Setelah tenggelam dalam kebingungan ahirnya saya ndak jadi membeli apa pun. Cacing perut yang nakal malah memaksa kami njujug ke penjual bubur ayam di pentokan pasar. Soal bubur ini sudah saya posting tersendiri.

Pasar yang memang mulai ada sekitar 3 tahun lalu ini lumayan lengkap. Corak dagangannya beragam dan jumlahnya yang bejibun, membuat pasar ini sering digunakan sebagai pusat kulakan jajanan untuk dijual kembali di pasar-pasar tradisional di sekitarnya.

Namun menurut informasi dari Kang Iway, keberadaan pasar ini rupanya sudah cukup lama. Dugaan saya sih pasar ini mulai ramai lagi setelah kebakaran pasar pada tahun 2005. Matur sengsu, Kang! :D

Entah apakah pasar ini juga merupakan “ekstensi” dari Pasar Subuh yang ada di Pasar Senen, mengingat faktor jarak, saya kurang mengerti sejarahnya. Mungkin njenengan bisa menambahkan?

Namun satu hal, kehidupan pasar di pagi hari menjadi daya tarik tersendiri. Setidaknya buat saya. :D

Pasar tradisional, selain menjadi ajang transaksi jual beli yang dihiasi dengan tawar menawar, rupanya juga menjadi ajang bersosialisasi dan berinteraksi, baik antar pedagang, maupun pedagang dengan pembelinya.

Hal yang ndak bisa kita temukan di pasar modern semacam swalayan dan supermarket. Tentu ini terlepas dari kebersihan, kepraktisan, dan berbagai kemudahan yang ditawarkan oleh pasar modern.

Inilah kenapa saya selalu merasa nyaman dan senang ngubek jajanan di pasar atau kaki lima. Selain faktor harga, ada sentuhan lain yang ndak saya dapatkan di restoran mewah, apalagi restoran waralaba.

Ah, potret keramahan dan interaksi semacam inilah yang membuat saya selalu kangen pulang..

Baca juga: Pasar Ngantuk oleh kang Iway.

Viewed 3659 times by 297 viewers