Ayam Geprek

Berawal dari rasa penasaran saya terhadap nama menu yang cukup terkenal di Bogor ini, saya pun akhirnya mencobanya.

Rasa penasaran saya semakin bertambah apalagi setelah melihat begitu banyak orang yang rela antri berdiri-diri hanya demi menikmati sepotong daging ayam.

Bertempat di warung Ayam Geprek Istimewa, Jl. Bangbarung Raya No. 54, Bantarjati, Bogor, warung ini terletak berada di samping rumah bergaya art deco dengan taman yang cukup rimbun.

Menurut si pecinta ayam geprek, yang istimewa dari ayam ini adalah sambalnya benar-benar maut. La kalo gitu makan saja sambalnya tanpa ayam. :))

Sembari menunggu tempat duduk, saya melihat-lihat sekeliling. Tempat yang ndak begitu luas, membuat para pengunjung sampe rela antri berdiri-diri.

Warung ini pun banyak didatangi oleh berbagai kalangan, mulai dari keluarga, pasangan ABG, hingga eksekutif muda berdasi ada di sini.

Akhirnya setelah menunggu cukup lama, saya mendapat tempat duduk. Duduk di sebuah kursi rotan dan menghadap meja rotan bundar dengan selembar kaca di atasnya, pelayan datang menghantarkan menu.

Suasana yang begitu ramai membuat saya langsung merasa kurang nyaman. Bayangkan, anda hendak makan, namun seolah-olah anda ditunggui untuk segera menghabiskan makanan anda dan cabut dari tempat duduk karena meja akan dipakai oleh pengunjung lainnya.

Kami memesan Ayam Geprek, Tahu Susur, dan Tumis Kangkung. Agak lama, pesanan kami akhirnya datang. Rupanya karena saking banyaknya pengunjung, pelayannya cukup kerepotan.

Bentuk dari ayam goreng ini lucu juga. Gepeng karena “digeprek”, ndak kayak ayam goreng lainnya yang biasanya mekungkung dan mlenuk di atas piring. :D

Entah bagaimana teknik menggepreknya, namun rupanya daging ayam ini bisa menjadi sedemikian lunak. Sekali tarik, daging pun langsung sobek tanpa perlawanan.

Remah-remahan tepung berbumbu semakin memeriahkan suasana dengan rasa kriuk-kriuknya. Warna kuning terang menunjukkan minyak yang digunakan untuk menggoreng masih cukup bagus.

Saya pun mencoba rasa ayamnya. Rasa gurih cenderung asin merupakan rasa ayam yang dominan. Dita memaksa saya untuk mencoba sambalnya. Woh, padahal saya ini ndak doyan sambal, je. :-w

Melihat bentuk sambalnya saja saya sudah bergidik ngeri. Warna merah-oranye dengan sedikit warna hijau yang muncul malu-malu membuat saya meringis.

Bau cabe rawit langsung menyeruak seolah hendak menunjukkan kegarangannya, bahkan sebelum sampai ke mulut. Ndak mau dibilang cemen, saya pun akhirnya menguji nyali.

Saya memberanikan diri mendulit sambal yang ada dan dengan dada berdebar-debar saya memasukkannya ke dalam mulut.

Begitu masuk ke dalam mulut, lidah saya langsung terbakar, mata saya langsung merem-melek, kebakaraaann!!! :o

Teh manis punya Dita langsung saya sikat dengan kalap. Buset, kok bisa-bisanya dia bisa jatuh cinta sama sambal yang sedemikian laknat?

Dita cuma ketawa melihat saya kepedasan. Saya masih saja merem melek.

Akhirnya saya harus puas dengan menikmati ayam dengan rekan tumis kangkung. Sedangkan Dita malah asyik ber-huh-hah-huh-hah menikmati sensasi pedas sambil nyruputi tulang.. :))

Sensasi rasa pedas masih tersisa di mulut, menunjukkan betapa kejamnya itu sambal. Uniknya, banyak orang datang ke tempat ini justru karena tergila-gila dengan sambalnya yang laknat itu.

Tahu Susurnya juga lumayan istimewa. Tepung yang menyelimuti tahu inilah yang saya rasakan begitu istimewa. Sedangkan isinya, ya seperti tahu isi biasa, seonggok tauge dan potongan wortel.

Menurut saya, Ayam Geprek ini ndak begitu istimewa. Ketenaran menu ini justru tertolong oleh kedahsyatan sambalnya.

Bagi penyuka sambal, tiada salahnya untuk mencoba menu ini. Siapa tau anda bisa tergila-gila kayak si Dita Geprek itu. ;))

Viewed 40047 times by 6760 viewers