Happy Gembul!

“Setelah hampir duapuluh tahun tidak ada yang merayakan ulang tahun saya”, ucapan lirih penuh haru itu keluar dari mulut Kang Gembul, malam itu.

Saya bisa merasakan keharuan yang terpancar dari ekspresi dan pancaran matanya. Meski dia tertunduk malu-malu, namun saya yakin di sudut hatinya diselimuti rasa bahagia yang membuncah.

Malam itu, Anomali Coffe berubah menjadi hangat. Di beranda lantai dua, kemeriahan itu terlaksana.

Gembul sama sekali ndak bisa berkata apa-apa. Saya dengan puas bisa membalas semua perbuatan dia. Pembalasan itu lebih kejam, kamerad! >:)

Gembul, dengan tertawanya yang khas itu, berubah menjadi sosok yang berbeda. Jurus kelitan dan ngelesnya langsung melempem. Tiada balasan yang keluar darinya.

Saya yang biasanya menjadi korban dari keusilan Gembul, kini bagai malaikat penuntut balas. Lontaran “pace-pacenan” pun meluncur bertubi-tubi yang diperparah oleh kumendan saya, Mas Iman.

Saya masih teringat bagaimana dia mengerjai saya ketika pertama kalinya saya datang ke Jancukarta.

Bertindak seolah seperti sopir taksi gelap yang mencari mangsa, saya habis dikerjai olehnya. Walau sedikit ndongkol saat itu, namun saya tau, ini adalah wujud ucapan selamat datang dan keramahan cah Solo yang merasa semakin tersesat di hiruk pikuk Jakarta.

Belum lagi isu yang sempat menyebar, soal gaji 5 juta per minggu yang ia hembuskan, bagi saya itu sebuah wujud doa darinya. Walau awalnya saya sempet kesel dan nggonduk juga. :D

Latar belakang ke-Solo-an yang sama membuat saya dan Gembul cukup dekat. Saya menganggapnya sebagai kakak yang baik. Yang mempunyai niatan baik walau kemasannya sering ngeselin dan mbikin misuh.

Masa kecilnya yang keras dan tumbuh di lingkungan pengusaha di Kampung Batik Laweyan membuatnya menjadi pribadi yang tangguh dan pantang menyerah.

Berbagai ide dan inovasi cita-citanya untuk menjadi pengusaha, mengikuti naluri yang terbawa oleh darah dari keluarganya, kerap kali ia lontarkan. Cita-citanya, membangun warung angkringan ber-wifi untuk mengobati kerinduan akan tempat nongkrong murah, ngere, dan penuh nuansa keramahan.

Saya masih ingat akan petuahnya soal hidup di Jakarta. Cerita pengalamannya hidup mulai dari kuli hingga sekarang sudah hidup kaya selalu memacu saya, membuat saya ndak ingin lekas menyerah.

Kisah asmaranya pun pernah suatu kali ia ceritakan. Ternyata, walau casingnya sebesar kulkas, namun hatinya begitu hangat dan lembut. Tokoh Po dalam film Kungfu Panda begitu pas menggambarkan sosoknya.

Namun akhirnya sang Po sudah menemukan Sifu-nya. Dia telah menemukan tambatan hatinya. Doraemon telah menemukan dorayaki Luna Maya-nya.

Bertambah lagi pasangan yang bersua di ranah Blogosfer. Ah, ikatan hyperlink itu kini berubah menjadi tali persudaraan yang begitu erat dan kental.

Selamat berbahagia, kawanku. Selamat berbahagia, kakakku! :)

Viewed 36929 times by 7915 viewers