
Udah lama banget saya ndak nulis soal jeng-jeng di blog ini. Maksud saya, nulis soal cerita perjalanan, “jeng-jeng series” gitu, lah! ![]()
Kali ini saya berkesempatan ke Bromo, setelah ndak kuat menolak godaan Kumendan saya itu. Bah!
Awalnya Mas Iman ngajakin nonton upacara Kasada, upacara persembahan masyarakat Tengger, namun mengingat kalo saat itu Bromo bakalan rame, Mas Iman mengajak untuk jeng-jeng sebelum hari itu untuk menikmati pemandangan Bromo.
Bromo merupakan salah satu destinasi impian saya. Ajakan menggiurkan dari Mas Iman, ditambah waktu yang pas, yaitu liburan 16-17-18 Agustus, dan masih ada rejeki yang ngendon di tabungan, akhirnya saya memutuskan berangkat.
Berburu tiket kereta untuk berangkat ke Malang, terutama pada musim liburan gini, tentu bukan hal yang mudah. Untung Mas Iman punya “teman” sehingga tiket kereta Eksekutif Gajayana bisa didapat.
Berangkat Jumat (15/8) sore dari Gambir jam 17:40 (telat 10 menit dari jadwal) setelah sebelumnya saya dan Mas Iman saling mencari di tengah hiruk-pikuk Stasiun Gambir.
Para jelata CahAndong yang awalnya menelurkan ide ini rupanya hanya kacang.
Namun salut buat Nico, yang akhirnya membatalkan status kacangnya dengan menyerbu Surabaya untuk bergabung bersama Siwi dan Angki yang merapat kemudian di Malang.
Sebagai info, ini pertama kalinya Nico menginjakkan kaki di Surabaya dan Malang. Hoho, gelar “doyoker kehormatan” layak engkau sandang, Bung Nico! =D>
Setelah melalui perjalanan selama sekitar 18 jam, kami (saya dan Mas Iman) pun turun dari gerbong nomor 6. Bersama kami, beberapa cewek memanggul tas-tas besar backpack maupun carrier, sepasang suami istri bule backpacker sambil membawa dua putranya juga terlihat sibuk, juga beberapa orang bertas besar dan berjaket besar, ikut turun keluar dari gerbong kereta.
Hm.. Sepertinya mereka juga mempunyai tujuan yang sama dengan kami, mengintip eksotisme Bromo terutama ketika sunrise!
Stasiun Malang rupanya ndak begitu besar. Bangunan berarsitektur art-deco langsung menyambut kami. Semburat cat warna oranye nampak segar, walau terlihat sekali bangunan ini bangunan baru yang dibentuk seperti arsitektur jaman dulu. ![]()
Pak Mukani rupanya sudah menjemput di depan pintu keluar. Dengan menggunakan mobil Mitsubishi minibus, kami mencari penginepan untuk sekedar menaruh pantat yang penat dan mencari kesegaran air untuk mandi.
Sebelumnya, kami mampir dulu untuk sarapan Rawong Nguling yang berada di Jl. Zainal Arifin (Kedung Dalam).
Yang berbeda dari rawon ini adalah warna kuahnya yang ndak sehitam rawon-rawon yang pernah saya cicipi.

Setelah transit di Hotel Malinda yang bangunannya cukup jadul, Siwi, Angki, dan Nico datang merapat. Hujan abu dari Gunung Semeru yang saat itu turun tipis ndak menghalangi kami untuk berkeliling kota Malang.
Kami pun berjumpa dengan kawan-kawan dari BloggerNgalam di Warung Cwie Mie.

Sekitar jam 4 sore, kami segera berangkat ke Bromo. Sebelum ke sana, kami sempat mampir ke Candi Singosari. Hoho! Akhirnya aku ketemu candi, lagi! ![]()
Hari menjelang senja ketika kami tiba di Bromo Cottages, Tosari, Pasuruan, Jawa Timur.
Cottage ini bener-bener mantab! Berlokasi di bukit yang dekat dengan Gunung Bromo, menjadikan cottage ini menjadi pilihan bagi para wisatawan asing.
Benar saja, selama berada di sini, kami merasa terasing di negeri sendiri. Di mana-mana hanya ada bule, bule, dan bule! Serasa di Eropa saja! ![]()

Setelah beristirahat sejenak, mandi-mandi dengan air sedingin es, kami pun mencari makan di kaki lima. Yang unik, warung kaki lima di sini menggunakan tenda yang kanan-kirinya ditutup dengan terpal. Tenda ditutup rapat untuk menahan dingin yang menusuk kulit.
Satu lagi yang unik, sarung menjadi aksesoris wajib penduduk di sini. Sarung digunakan untuk membalut tubuh, menutup muka, atau hanya diselempangkan saja di leher.
Setelah makan dan beristirahat, jam 3.30 dini hari kami mulai bersiap untuk berangkat ke Bukit Pananjakan. Bukit ini kerap digunakan untuk mengamati prosesi matahari terbit.
Rupanya bule-bule yang juga menginap di Bromo Cottages juga udah bersiap. Suasana dini hari itu terasa sangat ramai.
Dengan mengendarai mobil, kami menuju ke Bukit Pananjakan. Namun untuk menuju ke pos pengamatan, kami harus turun dari mobil dan berjalan kaki.
Belum sampai ke gerbang pos, kami sudah diserbu penjaja jaket, syal, senter, untuk disewakan dan tukang ojek yang siap mengantar kami ke gerbang.
Ratusan orang sudah memadati pos pengamatan. Turis asing maupun domestik berbaur menjadi satu, demi menyaksikan keindahan alam ini.

Garis horison keemasan nampak panjang membelah birunya langit dan gelapnya daratan. Sedikit demi sedikit sang mentari menampakkan sosoknya, menyembul dari garis horison tersebut. Lingkaran berwarna oranye keemasan langsung menyolok mata. Awan-awan yang menyelimuti Kawah Tengger berada di bawah membuat kami serasa berada di negeri di atas awan.
Dari Pananjakan, ke arah selatan kami melihat Kawah Tengger yang berisi lautan pasir (Segara Wedi), Gunung Batok, Kawah Bromo, dan di kejauhan, Gunung Semeru nampak menjulang gagah.

Hawa dingin begitu menusuk. Saya yang hanya mengenakan celana kuning, kaos oblong, sepatu sneaker, dan jaket tipis langsung menggigil kedinginan. Jari-jari kaki dan tangan serasa beku diterjang angin dingin pegunungan.
Edan! Saya memang bodoh atau bener-bener nekad. Di saat yang lain menggunakan jaket berlapis-lapis, mengenakan kaos tangan, syal, hingga penutup kepala penahan dingin, saya malah seperti salah kostum! ![]()
Puas menikmati keindahan alam dari Bukit Pananjakan, kami pun memutuskan untuk turun menuju Kawah Bromo. Namun sebelumnya, kami mengisi perut dengan jagung bakar, pop mie, dan kopi hangat.
Untuk menuju ke Kawah Bromo, kita harus melewati Segara Wedi (Lautan Pasir). Biasanya kita bisa menyewa mobil jeep untuk bisa melintasi lautan pasir ini, namun mobil colt yang kami tumpangi ini bisa melaju dengan lancar tanpa terperosok dan terjebak pasir.
Pak Mukani rupanya cukup lincah dan sudah ahli dalam menyetir di atas pasir seperti ini. Dengan mengambil ancang-ancang, mobil digeber dengan kencang sehingga dapat melaju di atas pasir, meski mobil berjalan dengan sedikit oleng dan selip karena permukaan pasir yang lembut.
Beberapa motor nampak kesusahan dalam melintasi lautan pasir. Beberapa motor nampak ambles dan rodanya selip. Ada juga yang jatuh terjerembab karena ndak bisa mengendalikan keseimbangan yang hilang akibat olengnya motor.
Debu-debu yang bertebaran akibat dilindasnya pasir, tentu berbahaya bagi mesin. Bila filter udara ndak bagus, ruang bakar bisa hancur dihajar serpihan pasir yang masuk melalui karburator.
Ternyata Segara Wedi ini tak melulu berisi pasir. Di beberapa bagian masih ditumbuhi rerumputan laksana savana.
Kami pun tiba di “pintu masuk” Kawah Bromo. Begitu kami turun dari mobil, kami pun disambut oleh para penjaja kuda. Dengan ongkos 50 ribu rupiah, kami akan diantar menuju depan tangga kawah.
Saya yang memang ndak tega menunggangi hewan lucu itu, lebih memilih berjalan kaki. Sengatan panas matahari namun hawa dingin pegunungan menusuk, membuat saya serba salah dalam berkostum.

Belum lagi debu-debu yang bertebaran membuat saya harus menutup hidung untuk menghindari masuknya debu ke saluran pernafasan.
Kami mampir dulu ke sebuah pura. Pura ini digunakan untuk upacara keagamaan Hindu, agama yang banyak dianut oleh penduduk Tengger, terutama pada acara Kasada.
Dari pura, kami segera bergerak menuju ke tangga Kawah Bromo. Sengatan matahari, debu yang bertebaran, plus oksigen yang menipis membuat kami kesusahan dalam mendaki. Namun sedikit demi sedikit, kami sampai juga di depan tangga.
Siwi menghitung jumlah anak tangga menuju ke kawah ini. Sekitar 280-an anak tangga menurut hitungan Siwi, namun saya enggan menghitung ulang. ![]()
Sesampainya di puncak, asap putih tebal yang berasal dari pusat kawah menghalangi pandangan. Pemandangan begitu eksotis dan mantab!
Kami bertemu 2 wisatawati asal Jerman. Kedua orang ini ber-backpacking selama kurang lebih 3½ minggu di Indonesia. Sebelum ke Bromo, mereka telah menjelajah Rinjani dan tujuan mereka berikutnya adalah Yogyakarta!

Setelah puas menikmati pemandangan Kawah Bromo, kami pun memutuskan pulang kembali ke cottage. Debu dan pasir serasa lengket semua di badan, belum lagi rasa capek yang menghinggapi badan letih yang kurang istirahat, membuat kami ingin segera berbersih diri.
Setelah bersih, kami pun check-out dan melanjutkan perjalanan menuju Surabaya, di mana di sini menjadi titik tolak kepulangan kami ke peradaban masing-masing.
Setiba di Surabaya, saya, Mas Iman, dan Nico setelah beristirahat di Hotel Sahid, kami menuju ke Monumen Kapal Selam yang terletak tak jauh dari hotel.
Di tempat inilah, di tepi Kali Mas, kami juga betemu dengan temen-temen dari TuguPahlawan.Com, sebelum pintong ke MERR (Middle East Ring Road) untuk menikmati secangkir kopi panas dan bercanda.
Tengah malam, saya dan Nico bertolak dari Surabaya, sedangkan Mas Iman tinggal di Surabaya untuk melanjutkan misinya ke Madura.
Fiuh, perjalanan yang melelahkan! ![]()
Tulisan terkait:
- Titian Muhibah JawaTimuran oleh Mas Iman
- Kick Bromo oleh Raden Mas Angki Bukaningrat
- Perjalanan Bromo, Memaknai Kemerdekaan oleh Nico Wijaya
Update: Tulisan ini juga dimuat di Koran Tempo edisi Minggu, 19 Oktober 2008, pada rubrik Perjalanan.
Viewed 62520 times by 8772 viewers !-->