
Saya bukan termasuk orang yang gemar membawa oleh-oleh ketika pulang dari bepergian. Buat saya, tradisi membawa oleh-oleh itu justru merepotkan.
Bukan berarti saya pelit dan enggan berbagi kebahagiaan, namun karena alasan “kepraktisan” dan “mengurangi kerepotan” membuat saya enggan membawa oleh-oleh.
Buat sebagian orang, mungkin membawa oleh-oleh adalah sesuatu yang dianggap harus, terutama bila bepergian ke tempat yang cukup jauh. Oleh-oleh bisa dianggap semacam perwujudan berbagi kebahagiaan dan bukti telah berkunjung ke suatu tempat.
Buat saya, justru sebaliknya. Membawa oleh-oleh itu bukan suatu keharusan, terutama buat orang seperti saya yang memang suka ngeluyur.
Membawa oleh-oleh itu merepotkan ketika membawanya. Saya saja kalo jeng-jeng sebisa mungkin membawa bawaan seminimal mungkin, sepraktis mungkin, sehingga saya bisa bebas bergerak dan berpindah, eh la kok ini direpotkan dengan membawa oleh-oleh.
Perkara oleh-oleh ini semakin merepotkan buat saya apabila ternyata banyak orang yang cukup dekat dan sepatutnya diberi oleh-oleh. Itu juga belum dihitung dengan orang yang nitip oleh-oleh. Ini berarti bawaan yang saya bawa jadi makin banyak.
Biasanya oleh-oleh ini berupa makanan khas daerah tertentu atau benda-benda yang memang unik dan hanya ada di daerah tertentu. Namun seringkali “kekhasan” daerah ini nisbi batasannya, sehingga makanan atau benda di daerah tertentu bisa jadi ada di daerah lain dan menjadi hal yang umum.
Misalnya saja, Brem Solo atau Intip yang “khas” Solo itu bisa saya temukan di Bogor. Bakpia Pathok khas Jogja bisa juga ditemukan di Jakarta. Contoh lain, barang-barang kerajinan dari kayu yang saya lihat di mol-mol di Jakarta, ternyata dipasok dari Jogja. Begitu pula dengan kerajinan yang kita temukan di Bali, pemasoknya juga tak lain dan tak bukan dari luar Bali. Ini membuat “kekhasan” suatu daerah menjadi tidak khas lagi.
Saya sebenernya ndak keberatan kalo pun misalnya harus membawa oleh-oleh. Itu pun bila saya rasa ndak merepotkan saya, benda tersebut memang sangat unik dan khas dan tidak ditemukan di daerah lain, dan biasanya saya membawakannya hanya untuk orang yang sangat dekat dengan saya.
Selain urusan jumlah dan cara membawa oleh-oleh ini, meluangkan waktu untuk mencari oleh-oleh juga menjadi kendala tersendiri. Saya pun lebih suka pergi ke pusat penjualan oleh-oleh bila harus mencari oleh-oleh, karena di situ kita bisa membeli berbagai macam oleh-oleh. Namun sayangnya, ndak semua tempat ada pusat penjualan oleh-oleh seperti ini.
Nah, pas mudik kemarin, saya cukup banyak membawa oleh-oleh. Itu pun karena ibu saya “memesan” oleh-olehnya. Begitu pula pas pulang balik ke Jakarta, saya pun membawa oleh-oleh seperlunya dan saya berikan ke orang-orang tertentu saja.
Kalo temen-temen gimana? Perlukah membawa oleh-oleh? Dan bila membawa, kira-kira apa?
Viewed 1580 times by 593 viewers !-->