Jeng-Jeng Bromo
Udah lama banget saya ndak nulis soal jeng-jeng di blog ini. Maksud saya, nulis soal cerita perjalanan, “jeng-jeng series” gitu, lah! Kali ini saya berkesempatan »
Tunai sudah janji saya kepada njenengan, Pakde! Ya ya, kemarin itu saya nekat ndoyok ke Bogor, ketemu sama Pakde Mbilung. Tanpa rencana, tanpa agenda, pokoknya ya langsung datang saja. Namanya juga ndoyok. Kebetulan saya ada suatu keperluan di Jakarta. Setelah keperluan saya selesai, tanpa banyak mikir saya langsung ngontak Pakde untuk nagih janji beliau soal duren. »
Bir, minuman yang mengandung alkohol ini bagi sebagian orang merupakan minuman yang haram untuk dikonsumsi. Namun ini ndak berlaku untuk minuman segar dari Bogor ini. Pas jeng-jeng kemarin, Pakde Mbilung mengajak saya untuk menikmati minuman yang bisa dibilang hampir punah ini. Kalo kita mengenal Bir Pletok, maka tentu kita ndak akan asing lagi dengan Bir Kocok yang rupanya »
Berawal dari kopdar dadakan yang diadakan oleh Simbok di Cibujang, dengan tergopoh-gopoh saya pun ndoyok kembali. Nanggung, setelah kopdar pun, pendoyokan saya lanjutkan ke Bogor. Manstab surantab dan ndoyok sekali pokoknya lah! Saya dikontak Simbok sekitar pukul 3 sore. La padahal waktu itu saya sedang pindahan kos karena ndak betah tinggal di apartemen. Maklum, wong ndeso, »
Ketika jeng-jeng ke Bogor beberapa waktu yang lalu, saya sempat mencicipi soto khas Bogor, yaitu Soto Kuning Bogor. Sebenernya di Bogor sendiri ada 2 gagrak soto, yaitu soto kuning dan soto bening. Kedua soto ini mengikuti pola dasar persotoan, yaitu soto bersantan dan soto ndak bersantan. Kali ini saya mencoba Soto Kuning yang dijual di seputaran Jalan »
Pas keluyuran ngicip-icip penganan di Bogor kemarin, saya menemukan penjual soto yang menggunakan kecap (cap) Zebra. Konon kecap ini adalah kecap asli Bogor yang telah ada sejak kurang lebih 60 tahun yang lalu. Pabrik kecap ini berdiri pada tahun 1945 di daerah Gunung Batur, Bogor. Pabrik ini dibangun oleh Soedjono, seorang pembuat kecap yang mempunyai keahlian »
Saya jadi teringat tebak-tebakan jaman kecil dulu. “Penjual apa yang menjajakan dagangannya dengan cara menangis?” Yak, pedagang Kue Putu, jawabannya. Bukan karena penjualnya beneran nangis, namun suara “hhuuuuuuu” panjang dari cerobong peluit yang tertiup uap air yang mirip dengan suara tangisan inilah sebabnya. Masih dari Bogor, saya menemukan kembali penjual Kue Putu. Namun yang unik, Kue Putu »
Berawal dari rasa penasaran saya terhadap nama menu yang cukup terkenal di Bogor ini, saya pun akhirnya mencobanya. Rasa penasaran saya semakin bertambah apalagi setelah melihat begitu banyak orang yang rela antri berdiri-diri hanya demi menikmati sepotong daging ayam. Bertempat di warung Ayam Geprek Istimewa, Jl. Bangbarung Raya No. 54, Bantarjati, Bogor, warung ini terletak berada di »
Udah lama banget saya ndak nulis soal jeng-jeng di blog ini. Maksud saya, nulis soal cerita perjalanan, “jeng-jeng series” gitu, lah! Kali ini saya berkesempatan »
Kompleks Bioskop Megaria yang terletak di pertigaan Jalan Cikini Raya, Jalan Diponegoro, dan Jalan Proklamasi, Jakarta Pusat ini rupanya menyimpan cerita kuliner nostalgia. Ayam bakar khas »
Berada di Pelabuhan Sunda Kelapa, mengamati aktivitas bongkar muat barang di sana, membuat saya menelaah kembali lirik lagu, “nenek moyangku orang pelaut..” Mungkin ndak banyak yang »
Masih di seputaran Kota Tua, saya pun mengunjungi Museum Bank Indonesia, yang terletak di Jl. Pintu Besar Utara No. 3, Jakarta Barat. Museum ini kembali membuat »
Rasa penasaran saya terhadap bangunan berarsitektur Indische dengan gaya Nieuw-Zakelijk yang terletak di depan Stasiun BEOS (Jakarta Kota) tertuntaskan sudah. Museum Bank Mandiri, nama gedung itu »
“Setelah hampir duapuluh tahun tidak ada yang merayakan ulang tahun saya”, ucapan lirih penuh haru itu keluar dari mulut Kang Gembul, malam itu. Saya bisa merasakan »
Berawal dari rasa penasaran saya terhadap nama menu yang cukup terkenal di Bogor ini, saya pun akhirnya mencobanya. Rasa penasaran saya semakin bertambah apalagi setelah melihat »