Museum Bank Indonesia, Museum Bermultimedia

Museum Bank Indonesia

Masih di seputaran Kota Tua, saya pun mengunjungi Museum Bank Indonesia, yang terletak di Jl. Pintu Besar Utara No. 3, Jakarta Barat.

Museum ini kembali membuat saya takjub. Konsep museum yang ditawarkan oleh Museum BI ini sangat keren dan berbeda dengan museum-museum lainnya.

Walau dari luar, bangunan bekas De Javasche Bank ini nampak tua, namun jangan berharap menemukan kesan kuno bila masuk ke dalamnya. Saya serasa masuk ke dalam hotel berbintang!

Awalnya saya clingak-clinguk mencari di mana pintu masuknya. Ah, rupanya pintu kaca bersensor yang akan terbuka otomatis bila kita mendekat mengagetkan saya. Saya sempat bingung, ini museum atau mall?

Masuk ke lobi, saya kembali melongo, ini penjaganya di mana? Kok sepi? Oh, rupanya meja resepsionis berada di ruangan sebelah utara, setelah masuk melalui sebuah pintu putar kuno yang terbuat dari baja.

Lagi-lagi saya tercengang, ruang resepsionisnya pun nampak modern. Mbak-mbak penjaga resepsionis menyapa saya ramah dan mempersilakan saya mengisi buku tamu dan menitipkan tas.

“Mohon nanti di ruang Peralihan dan Numismatik, blitz-nya tidak dinyalakan, karena akan mengganggu..”, mbak resepsionis memperingatkan saya dengan tersenyum ketika melihat saya mengeluarkan kamera dari tas.

Ruang Resepsionis

Saat saya hendak mengeluarkan uang untuk membayar tiket masuk, lagi-lagi saya terkejut. “Hah?! Masuk museum sekeren ini, GRATIS?!!”, teriak saya hampir tak percaya.

Ruang resepsionis ini begitu keren. Sepanjang koridor di mana ruang resepsionis ini berada, terdapat ruang-ruang berteralis yang digunakan untuk melakukan transaksi dengan teller. Privasi sangat dijaga sekali.

Konon bangunan 2 lantai ini dulunya digunakan sebagai rumah sakit Binnen Hospital, sebelum digunakan untuk kantor De Javasche Bank.

De Javasche Bank didirikan pada tahun 1828. DJB saat itu sangat berperan dalam peredaran komoditi hasil bumi dari seluruh penjuru Hindia Belanda.

Gedung ini pun sempat mengalami 5 tahap renovasi. Renovasi pertama dilakukan pada tahun 1909 hingga 1912 yang dilakukan oleh biro arsitektur terkemuka dari Belanda saat itu, Biro Arsitek Ed Cuypers en Hulswit.

Renovasi pertama ini menambahkan elemen dekoratif Neoklasik yang terpengaruh oleh arsitektur Beaux Arts yang sedang berkembang di Eropa. Selain itu, unsur-unsur lokal dapat kita temukan pula pada beberapa hiasan dekoratifnya, sehingga gedung ini menjadi gedung bergaya Eropa pertama yang memadukan unsur Eropa dan lokal di Hindia Belanda.

Renovasi kedua dilakukan pada tahun 1922 oleh Biro Arsitek NV Architecten-Ingenieursbureau Fermont-Cuypers, dengan menambahkan ruang rapat berkeramik hijau dari Belanda yang disebut dengan Ruang Hijau.

Pada tahap ini pula, ruang Kluis (penyimpanan uang dan benda beharga) lapis baja dengan tembok beton setebal 65 cm dibangun oleh perusahaan LIPS dari Dordrecht.

Renovasi tahap ketiga pada tahun 1924 hanya menyelesaikan pembangunan di sepanjang Javabank Straat (sekarang Jl. Bank) dan bangunan sayap belakang sepanjang kali.

Tahap keempat (1933) dan tahap kelima (1935) hanya melakukan penambahan beberapa gedung dan merombak beberapa bagian gedung.

Sebelum masuk ke ruang pertama museum, yaitu Ruang Peralihan, terpampang layar touchscreen yang memberikan informasi lengkap soal museum ini. Beberapa layar monitor LCD widescreen juga terpampang memberikan informasi berupa video.

Layar Informasi Touchscreen

Sejarah perkembangan logo BI yang telah mengalami perubahan 7 kali sejak tahun 1953 hingga 2005 pun terpampang jelas. Logo BI yang sekarang ini ternyata mengadaptasi logo De Javasche Bank dengan mengubah huruf J menjadi huruf I.

Saya pun memasuki Ruang Peralihan. Label larangan memotret menggunakan blitz terpampang sebelum pintu masuk. Rupanya penggunaan blitz dikhawatirkan akan mengganggu sensor cahaya yang ada di ruangan ini.

Ruangan ini adalah ruangan multimedia interaktif. Di sini sebuah proyektor khusus menampilkan kepingan uang logam berbagai nilai yang melayang-layang pada sebuah layar putih melengkung.

Bila kita bisa “menangkap” kepingan uang logam ini, yaitu dengan mengurung uang tersebut di dalam lingkaran tangan, maka akan muncul semacam pop-up yang berisi informasi mengenai uang logam tersebut.

Ruang Peralihan

Keluar dari Ruang Peralihan, saya memasuki Ruang Teater berkapasitas 45 tempat duduk yang digunakan untuk memutar film sejarah Bank Indonesia selama 30 menit.

Ruangan berikutnya adalah Ruang Sejarah Bank Indonesia. Di sini terdapat berbagai diorama dan papan informasi besar yang menceritakan sejarah Bank Indonesia dari tahun 1953 hingga tahun 2005.

Sejarah Bank Indonesia sendiri menampilkan 3 fungsi Bank Indonesia yaitu sebagai lembaga moneter, perbankan, dan sistem pembayaran.

Lagi-lagi unsur multimedia tak lepas dari ruangan ini. Speaker berbentuk khusus yang terletak menggantung di langit-langit tepat di atas monitor touchscreen membuat suara menjadi lebih bagus.

Yang saya sukai dari ruangan ini adalah panel “Yang Seru, Yang Lucu”, yang menampilkan beberapa asal mula istilah-istilah perbankan yang akrab di telinga kita.

Tampilannya pun dibuat interaktif. Pertanyaan dan gambar ilustrasi ditulis pada papan persegi semacam jendela, kemudian untuk mengetahui jawabannya, kotak pertanyaan ini digeser ke kanan dan akan muncullah jawaban dari pertanyaan tersebut.

Panel “Yang Seru, Yang Lucu”

Berbagai macam asal usul istilah perbankan ada di sana. Mulai dari asal usul uang kertas, kata “dollar”, kata “money”, celengan, kata “matre”, kata “bangkrut”, kata “bank”, beberapa istilah bursa semacam “bull market” dan “bear market”, serta masih banyak lagi.

Dari panel-panel ini saya jadi tau asal kata “money” yang berasal dari kata “moneta” (memperingatkan) dalam mitologi Yunani, kemudian kata “dollar” yang berasal dari kata “thaler” (koin perak) di Bohemia (Cekoslovakia), kata “bank” yang berasal dari kata “banca” (bangku) di Italia, serta banyak hal menarik dan lucu lainnya.

Keluar dari ruang ini, saya lantas menuju ke lantai atas. Di sana terdapat Ruang Numismatik. Sebelum masuk ke ruangan ini, kita harus melalui ruang koridor Numismatik.

Di sini, terdapat sebuah panel gambar uang pecahan 10 ribu rupiah tahun emisi 1985 yang pada wajah Ibu Kartini terdapat lubang untuk kita berpose. Jadi kita seolah-olah menjadi tokoh dalam uang tersebut. Saya pun tak menyia-nyiakan kesempatan ini! ;))

Duit Edisi Aneh

Sebelum masuk ke ruang Numismatik, yang merupakan bekas ruang Kluis dengan pintu baja, seorang guide wanita kembali memperingatkan saya untuk tidak menyalakan blitz, karena di ruangan ini terdapat koleksi mata uang kuno yang dikhawatirkan bila terkena cahaya berlebihan, bisa merusak uang-uang tersebut.

Di ruang ini, display uang kuno dibagi dalam beberapa periode masa, mulai dari masa kerajaan hingga masa sekarang. Selain itu, terdapat informasi mengenai uang-uang khusus semacam uang bersambung dan uang token.

Saya takjub melihat Kampua, uang dari kerajaan Buton, Sulawesi Tenggara yang diperkirakan berasal dari abad ke-14 hingga 19. uang ini terbuat dari anyaman benang yang dianyam oleh putri raja Buton.

Satuan uang ini ditentukan oleh luas kain selebar telapak tangan raja Buton yang berkuasa saat itu. Satu satuan uang adalah sama harganya dengan satu butir telur.

Kemudian ada lagi yang namanya Uang Bersambung. Jadi, uang ini sengaja dicetak tanpa dipotong, sehingga uang tersebut tetap bergandengan. Uang ini dicetak dalam jumlah terbatas untuk konsumsi para kolektor dan tidak digunakan untuk keperluan sehari-hari, meski bila uang ini kemudian kita potong, tetep saja uang ini sah digunakan sebagai alat pembayaran.

Ada juga Uang Token, yaitu uang yang mempunyai nilai nominalnya lebih tinggi dari nilai materinya. Uang ini biasanya dikeluarkan oleh badan tertentu dan hanya berlaku di lokasi tertentu saja. Contohnya ya koin-koin pada casino, di mana koin tersebut hanya berlaku di dalam casino tersebut.

Ruang Numismatik

Sayangnya ruang ini menjadi ruang terakhir yang saya jelajah, karena museum ini rupanya baru aja soft-launching pada tanggal 15 Desember 2005 lalu dan masih dalam taraf pembangunan.

Rencana grand-launching adalah pada akhir tahun 2008 ini. Saya pun berharap bisa melihat berbagai macam koleksi yang ada di museum ini. Tentu dengan penataan yang sangat baik dan menyenangkan semacam ini.

Selain itu, museum ini juga mempunyai website yang cukup informatif. Beralamat di http://www.bi.go.id/msmbiweb/, website ini bisa dibilang cukup lengkap. Desainnya pun bisa dibilang keren bila dibandingkan dengan website-website museum lain di Indonesia. :D

Sekali lagi, saya menemukan museum yang menyenangkan untuk dikunjungi di Indonesia! :top

Give comments Share it on
Related Articles

73 responses

  1.  

    @ria : Zam itu kerja di salah satu penerbitan terbesar di Indonesia dengan gaji yang kata orang-orang 5 juta per minggu, trus naik menjadi 10 juta per minggu ^^v

    mr.bambang — 24 July 2008 20:43:37
  2.  

    :o keren museumnya…
    huahh pengen kesana.
    *catet*

    ocha — 25 July 2008 07:25:11
  3.  

    Haaaaa… mau mampir kesana ah…

    Nike — 25 July 2008 12:09:05
  4.  

    Kayaknya rame nih.. :)

    Taruma — 25 July 2008 15:29:00
  5.  

    Eih ampun zam.. jengjeng BI nya gak selese2… huehehhe… :D

    Jane — 27 July 2008 03:51:49
  6.  

    woii.. pendatang.. ajak2 donk..
    marco dah cemen neh..

    kyra — 30 July 2008 14:19:51
  7.  

    mantapz juga.. kapan2 pengen juga jalan2 kesitu :D

    Fajar Saptono — 30 July 2008 20:03:53
  8.  

    hweheheh…
    semoga fasilitas multimedianya ga cepet rusak :p

    lambrtz — 31 July 2008 18:54:26
  9.  

    Mantep tenan Kang Musiume, tumben ora jeng-jeng nang candi. Eh, nang Jakta ra ono dhing yo :d

    -=«GoenRock®»=- — 2 August 2008 09:05:21
  10.  

    nah, agak mencengangkan juga buat saya, masuk Museum BI yang sekeren itu gratis, sementara masuk Museum Fatahillah yang tampak makin ga terawat di bagian dalamnya, malah bayar :-?

    hahahaha…rupanya mencoba pasang muka di uang 10.000-an itu juga toh, saya juga tempo hari pernah, tanpa melihat siapa di sekeliling saya, dan tanpa memperhatikan gambar apa di uang itu, pasang wajah, eh para cewek2 pada senyum2 geli ngetawain saya, ternyata itu gambar ibu kartini toh? ckckckck….sejak kapan Kartini jenggotan dan berkacamata? *gubraks*

    heri — 8 August 2008 09:33:37
  11.  

    ralat : soft launchingnya 15 Desember 2006, bukan 15 Desember 2005 ^_^

    unisa — 1 September 2008 11:13:59
  12.  

    :top museum inin.

    salam kenal mas…baru mampir nih disini. suer deh belum pernah aku mampir ke museum bI hahahhaa (wah bakal di marahin sama BatMus, Sahabat Museum ya atawa bang adep hahaha…

    keren bok fotonya:clap

    galz — 25 March 2009 10:02:43
  13.  

    koin kuningan gambar depannya kapal pesiar, gambar belakangnya angka25 dan di bawahnya tulisantoken, apa termasuk uang kuno??????

    roni — 30 April 2009 13:50:59
  14.  

    kok akhir2 ini banyak yang menulis tentang KOTA TUA yah?
    aku jadi ingin ke sana nih.
    mas, besok kalau mau main2 ke sana lagi, sms ya.

    samsul arifin — 31 May 2009 07:45:55
  15.  

    seeruuu bgt:)harus ksna nih

    anisa — 20 June 2009 21:48:25
  16.  

    emk bagus bgt tempatna.. gambar” n brang”na msh asli bgt…:d/
    hehhehehe… ;)

    hilda — 28 September 2009 11:58:47
  17.  

    muanteb!!!

    khiqi — 28 October 2009 14:25:40
  18.  

    asiiiiikkk..
    pngen kesana

    ajeng — 1 November 2009 09:07:40
  19.  

    emang ok banget!!! aku udah kesn!

    bambang — 17 December 2009 07:23:43
  20.  

    wah gratis ya,,, kereeeen…. tapi kok sepi ya kayaknya, kurang publikasi?

    Fachmi — 22 January 2010 08:05:32
  21.  

    udah 2010, coba deh ke Museum Bank Indonesia lagi.
    super kereeeeen! :)
    diorama dan informasinya lebih komplit.
    harusnya Disbudpar belajar sama BI nih.

    sheila kartika — 19 December 2010 22:07:47
  22.  

    museum BI emg kereen bgt…
    fasilitasnya bagus koleksinya juga antik2,,
    jd pengen ke sana lagi dehh,ga bakalan bosen!:D

    ioraa — 1 April 2011 22:28:16
  23.  

    we selain jalan-jalan.
    banyak juga kegiatan yang lain nya juga.

    mantaplah

    seli_usel — 23 August 2011 10:52:25