<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>jengjeng matriphe! &#187; batik</title>
	<atom:link href="http://jengjeng.matriphe.com/tag/batik/feed" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://jengjeng.matriphe.com</link>
	<description>pengen jalan-jalan, makan-makan, dan lain-lain</description>
	<lastBuildDate>Tue, 02 Aug 2011 11:41:49 +0000</lastBuildDate>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<generator>http://wordpress.org/?v=3.2.1</generator>
	<atom:link rel='hub' href='http://jengjeng.matriphe.com/?pushpress=hub'/>
		<item>
		<title>Menelusuri Jejak Sejarah Kampung Batik Laweyan</title>
		<link>http://jengjeng.matriphe.com/menelusuri-jejak-sejarah-kampung-batik-laweyan.html</link>
		<comments>http://jengjeng.matriphe.com/menelusuri-jejak-sejarah-kampung-batik-laweyan.html#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 24 Jan 2008 07:53:45 +0000</pubDate>
		<dc:creator>matriphe</dc:creator>
				<category><![CDATA[Asal Muasal & Sejarah]]></category>
		<category><![CDATA[Destinasi]]></category>
		<category><![CDATA[Museum & Bangunan Bersejarah]]></category>
		<category><![CDATA[batik]]></category>
		<category><![CDATA[Solo]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://jengjeng.matriphe.com/index.php/2008/01/24/menelusuri-jejak-sejarah-kampung-batik-laweyan.html</guid>
		<description><![CDATA[Menelusuri kembali lorong-lorong di antara tembok-tembok di Laweyan membuat saya seakan terlempar ke masa lalu. Tembok-tembok tua dengan warna yang memudar itu konon menjadi saksi atas masa kejayaan batik Laweyan. Ndak hanya batik, dari kampung inil pula lahirlah tokoh pergerakan nasional yang ikut berpartisipasi dalam melawan penjajahan, K.H. Samanhudi melalui perkumpulan Serikat Dagang Islam-nya. Konon [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><img src="http://jengjeng.matriphe.com/wp-content/uploads/2008/01/lorong-laweyan1.jpg" alt="Salah satu sudut Kampung Laweyan" title="Salah satu sudut Kampung Laweyan" width="350" height="263" class="alignnone size-full wp-image-1202" /></p>
<p>Menelusuri kembali lorong-lorong di antara tembok-tembok di Laweyan membuat saya seakan terlempar ke masa lalu.</p>
<p>Tembok-tembok tua dengan warna yang memudar itu konon menjadi saksi atas masa kejayaan batik Laweyan.</p>
<p>Ndak hanya batik, dari kampung inil pula lahirlah tokoh pergerakan nasional yang ikut berpartisipasi dalam melawan penjajahan, K.H. Samanhudi melalui perkumpulan Serikat Dagang Islam-nya.</p>
<p><span id="more-606"></span>Konon Kampung Laweyan sudah ada sejak abad ke-15 pada masa pemerintahan Kerajaan Pajang.</p>
<p>Daerah Laweyan dulu banyak ditumbuhi pohon kapas dan merupakan sentra industri benang yang kemudian berkembang menjadi sentra industri kain tenun dan bahan pakaian.</p>
<p>Kain-kain hasil tenun dan bahan pakaian ini sering disebut dengan Lawe, sehingga daerah ini kemudian disebut dengan Laweyan.</p>
<p>Industri dan perdagangan di Laweyan semakin berkembang semenjak digunakannya <acronym title="orang-orang sekitar menyebut juga Kali Jenis">Kali Kabangan</acronym> sebagai jalur transportasi dari dan menuju Kerajaan Pajang.</p>
<p><img src='http://jengjeng.matriphe.com/wp-content/uploads/2008/01/jembatan-kabangan.jpg' alt='Jembatan yang melintas di atas Kali Kabangan' /></p>
<p>Dari kampung ini pula, hidup seorang tokoh yang konon akan menurunkan raja-raja Mataram Islam.</p>
<p>Tokoh ini adalah Kyai Ageng Henis yang merupakan keturunan Brawijaya V yang kemudian mempunyai keturunan Ki Ageng Pemanahan yang mendirikan Kerajaan Mataram di Kotagede.</p>
<p>Kyai Ageng Henis dulunya beragama Hindu Jawa, namun semenjak singgahnya Sunan Kalijaga di daerah ini ketika hendak menuju Kerajaan Pajang, Kyai Ageng Henis pun kemudian masuk Islam.</p>
<p>Kyai Ageng Henis bersama Sunan Kalijaga kemudian menyebarkan agama Islam di kawasan Laweyan.</p>
<p>Seorang tokoh yang amat disegani saat itu atas pengaruh Kyai Ageng Henis akhirnya juga masuk Islam. Beliau adalah Kyai Ageng Beluk.</p>
<p>Setelah masuk Islam, Kyai Ageng Beluk kemudian mengubah sanggarnya menjadi sebuah masjid untuk menunjang dakwahnya.</p>
<p>Masjid ini lah yang kemudian dikenal sebagai Masjid Laweyan yang dibangun pada tahun 1546 Masehi.</p>
<p>Agama Islam pun menyebar dengan sangat pesat di Laweyan.</p>
<p><img src='http://jengjeng.matriphe.com/wp-content/uploads/2008/01/masjid-laweyan.jpg' alt='Masjid Laweyan' /></p>
<p>Batik sendiri awalnya diperkenalkan oleh Kyai Ageng Henis yang memang menyukai kesenian.</p>
<p>Selain menyebarkan agama, Kyai Ageng Henis juga mengajarkan masyarakat bagaimana cara membuat batik.</p>
<p>Jadilah Laweyan yang dulunya hanya memproduksi kain tenun berubah menjadi produsen batik.</p>
<p>Karena letaknya yang strategis, Laweyan pun menjadi salah satu kota perdagangan yang maju.</p>
<p>Sebagai kota perdagangan, dibangunlah sebuah bandar (pelabuhan) yang berada di sisi selatan kampung dan di sebelah timur masjid di pinggir Kali Kabangan. Namun peninggalan bandar ini sudah ndak dapat ditemukan lagi.</p>
<p>Ndak heran kalo di Laweyan banyak terdapat saudagar batik yang kaya.</p>
<p>Kehidupan masyarakat di Laweyan ini dapat kita lihat dari bentuk-bentuk bangunan yang ada.</p>
<p>Setiap rumah saudagar biasanya dikelilingi oleh tembok-tembok tinggi. Tujuannya adalah saat itu demi alasan keamanan.</p>
<p>Namun walau setiap rumah dibatasi dengan tembok, antar rumah terdapat pintu yang menghubungkan rumah satu dengan yang lainnya sehingga silaturahmi tetap terjaga.</p>
<p>Konon di beberapa rumah juga terdapat lorong bawah tanah dan bunker yang berfungsi untuk mengungsi bila terjadi serangan.</p>
<p><img src='http://jengjeng.matriphe.com/wp-content/uploads/2008/01/tembok-laweyan.jpg' alt='Lorong di antara tembok-tembok tinggi di Laweyan' /></p>
<p>Sekilas, bentuk-bentuk bangunan rumah yang dikelilingi oleh tembok ini mengingatkan saya akan Kotagede.</p>
<p>Terang saja, tata kota Kotagede terinspirasi oleh tata kota di Laweyan karena Panembahan Senopati, putra Ki Ageng Pemanahan banyak menghabiskan masa kecilnya di kampung ini.</p>
<p>Bila melacak kembali, sebuah tugu yang ada di pusat kawasan ini dulunya adalah pasar. Namun pasar ini sudah ndak ditemukan lagi.</p>
<p>Panembahan Senopati semasa kecil tinggal di kawasan sebelah utara pasar. Rumah Panembahan Senopati ketika berada di Kotagede pun berada di sebelah utara pasar. Karena inilah ia dijuluki Raden Ngabehi Loring Pasar.</p>
<p>Ketika Kerajaan Mataram pindah ke desa Sala yang kemudian berubah nama menjadi Kraton Surakarta, Laweyan tetap merasa sebagai daerah merdeka yang ndak ingin tunduk kepada kraton.</p>
<p>Ini dikarenakan para saudagar merasa mereka sudah kaya dan mampu hidup tanpa perlu bergabung dengan daerah kekuasaan kraton.</p>
<p>Bisa jadi perlawanan ini juga dikarenakan kraton saat itu begitu dekat pihak Belanda, padahal para saudagar batik yang ada di kawasan ini semuanya adalah saudagar muslim <acronym title="pribumi">bumiputra</acronym>.</p>
<p>Sikap ini nampak dari bentuk-bentuk motif batik yang ndak mengikuti pakem-pakem motif seperti motif-motif batik kraton.</p>
<p>Ketika masa penjajahan Belanda, pada tahun 1905 muncullah organisasi Serikat Dagang Islam yang diprakarsai oleh K.H. Samanhudi, salah satu saudagar batik.</p>
<p>Tujuan didirikannya SDI saat itu sebenernya untuk menyatukan para saudagar batik muslim bumiputra yang ada di Laweyan untuk menghadapi Belanda yang pengaruhnya semakin kuat di dalam kraton.</p>
<p>Rumah K.H. Samanhudi masih ada dan dapat kita temukan di kawasan ini.</p>
<p>Atas jasa-jasa dari K.H. Samanhudi, Presiden Soekarno memberikan sebuah rumah untuk K.H. Samanhudi yang sampai sekarang masih digunakan oleh cucu dan keturunan K.H. Samanhudi.</p>
<p><img src='http://jengjeng.matriphe.com/wp-content/uploads/2008/01/rumah-samanhudi.jpg' alt='Rumah pemberian Presiden Soekarno kepada K.H. Samanhudi' /></p>
<p>Bentuk bangunan di kawasan tengah dan utara Laweyan kebanyakan membentuk &#8220;jalan mati&#8221;, di mana jalan ini terkesan sepi karena berada di antara tembok-tembok rumah yang saling membelakangi.</p>
<p>Sedangkan kawasan di daerah selatan yang dekat dengan Kali Kabangan rumahnya cenderung terbuka dan membentuk &#8220;jalan hidup&#8221; di mana pintu-pintu bagian depan rumah saling berhadap-hadapan sehingga memungkinkan interaksi.</p>
<p>Rumah-rumah di kawasan tengah dan utara didiami oleh para saudagar sedangkan berada di selatan didiami oleh para pekerja batik.</p>
<p>Dulu banyak sekali jalan-jalan yang melintang dari utara ke selatan menuju ke Kali Kabangan. Jalan ini dinamakan &#8220;jalan servis&#8221; yang berfungsi untuk membawa kain batik setengah jadi untuk dicuci di Kali Kabangan.</p>
<p>Jaman dulu air di kali ini begitu bersih sehingga masih layak digunakan untuk mencuci. Selain itu, bahan pewarna batik jaman dulu itu terbuat dari bahan alami sehingga ndak membahayakan alam.</p>
<p>Industri batik tulis dan cap di Laweyan sempat kolaps ketika masuknya batik-batik sablon.</p>
<p>Proses pembuatan batik yang lebih cepat dan massal membuat harga batik sablon menjadi murah. Tentu saja ini menghantam industri batik tulis dan cap yang ada di Laweyan.</p>
<p>Belum lagi ekspansi bisnis yang dilakukan oleh para pedagang Cina yang saat itu memang mencoba menguasai area Laweyan.</p>
<p>Selama hampir beberapa generasi pembatik di Laweyan gulung tikar. Bisnis batik di Laweyan yang dilakukan secara turun temurun pun terputus.</p>
<p>Para pemuda Laweyan justru banyak yang keluar dari area dan mencoba peruntungan di luar Laweyan. Bukan begitu, <a href="http://colonelseven.wordpress.com/" title="Balibul" target="_blank">Kang Bal</a>? <img src='http://jengjeng.matriphe.com/smilies/yahoo_giggle.gif' alt='&#59;&#41;&#41;' class='wp-smiley' width='18' height='18' title='&#59;&#41;&#41;' /></p>
<p>Namun pada tahun 2000-an industri batik Laweyan pun kembali bangkit. Apalagi semenjak dibentuknya forum Kampung Batik Laweyan mencoba mengangkat kembali potensi wisata kampung cagar budaya ini.</p>
<p>Jika dulu para pengusaha batik hanya menjadi produsen dan suplier, kini mereka juga membuka showroom-showroom di rumahnya masing-masing.</p>
<p>Kita bisa berkeliling menyusuri lorong-lorong Laweyan dan blusukan masuk ke rumah-rumah saudagar batik untuk melihat dengan lebih dekat proses pembuatan batik.</p>
<p><img src='http://jengjeng.matriphe.com/wp-content/uploads/2008/01/mengintip-pembatik.jpg' alt='Mengintip aktivitas pembatik di Laweyan' /></p>
<p>Waktu yang dianjurkan untuk melihat aktivitas di kampung ini adalah pagi hari. Mulai dari pembuatan, pencelupan, hingga penjemuran kain-kain batik dapat kita lihat hingga tengah hari.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://jengjeng.matriphe.com/menelusuri-jejak-sejarah-kampung-batik-laweyan.html/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>56</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>JengJeng dan JalanJalan di Solo</title>
		<link>http://jengjeng.matriphe.com/jengjeng-dan-jalanjalan-di-solo.html</link>
		<comments>http://jengjeng.matriphe.com/jengjeng-dan-jalanjalan-di-solo.html#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 23 Jan 2008 08:48:49 +0000</pubDate>
		<dc:creator>matriphe</dc:creator>
				<category><![CDATA[Travelogue]]></category>
		<category><![CDATA[batik]]></category>
		<category><![CDATA[kraton]]></category>
		<category><![CDATA[museum]]></category>
		<category><![CDATA[Solo]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://jengjeng.matriphe.com/index.php/2008/01/23/jengjeng-dan-jalanjalan-di-solo.html</guid>
		<description><![CDATA[Beberapa waktu yang lalu, sebuah nomer Jakarta nongol di layar henpon saya. Saya sempat berpikir mungkinkah ini panggilan interview dari sebuah perusahaan di kota laknat bernama Jakarta itu? Setelah saya pencet tombol OK untuk menjawab telepon, terdengar suara renyah seorang wanita yang menyapa. &#8220;Halo, ini bener Zam? Saya Ina dari Majalah JalanJalan, temennya Gita Aprikot. [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><img src="http://jengjeng.matriphe.com/wp-content/uploads/2008/01/zam-ina1.jpg" alt="Zam JengJeng dan Ina JalanJalan" title="Zam JengJeng dan Ina JalanJalan" width="350" height="263" class="alignnone size-full wp-image-1203" /></p>
<p>Beberapa waktu yang lalu, sebuah nomer Jakarta nongol di layar henpon saya.</p>
<p>Saya sempat berpikir mungkinkah ini panggilan interview dari sebuah perusahaan di kota laknat bernama Jakarta itu?</p>
<p>Setelah saya pencet tombol OK untuk menjawab telepon, terdengar suara renyah seorang wanita yang menyapa.</p>
<p>&#8220;Halo, ini bener Zam? Saya <a href="http://jalanjalan.co.id/contributors.php?id=43" title="Ina Hapsari" target="_blank">Ina</a> dari <a href="http://www.jalanjalan.co.id/" title="Majalah JalanJalan" target="_blank">Majalah JalanJalan</a>, temennya <a href="http://aprikot.wordpress.com/" title="Gita Aprikot" target="_blank">Gita Aprikot</a>. Kira-kira kamu bisa bantu saya?&#8221;</p>
<p><span id="more-598"></span>Rupanya Ina membutuhkan beberapa informasi mengenai Solo yang akan dia tulis di majalahnya edisi mendatang.</p>
<p>&#8220;Wah, kebetulan&#8221;, pikir saya. Sudah lama saya ndak keluyuran di Solo karena ndak ada temen jalan. Saya pun menawarkan diri untuk menemani kalo dia bener datang ke Solo.</p>
<p>Selama 3 hari 2 malam, saya dan Ina melakukan penjelajahan di Solo. Yang membuat saya sedikit malu, rupanya cukup banyak tempat menarik yang ada di Solo yang ndak saya ketahui.</p>
<p>Ternyata cukup menyenangkan juga bertemu dengan wartawan traveling macam Ina. Saya mendapat banyak sekali cerita dan pengalaman dia ketika ia berkunjung ke berbagai tempat di Indonesia dan dunia.</p>
<p>Saya langsung iri dengan kerjaan dia yang isinya ngeluyur ke tempat-tempat macam itu. Pengeeen!!! <img src='http://jengjeng.matriphe.com/smilies/yahoo_drool.gif' alt='&#61;&#112;&#126;' class='wp-smiley' width='18' height='18' title='&#61;&#112;&#126;' /></p>
<p>Laksana kopdar bloger pertama kali, saya langsung bisa akrab sama dia. Orangnya yang rame dan doyan bercerita membuat saya merasa nyaman dan &#8220;klik&#8221; jalan bareng dia.</p>
<p>Selain itu, Ina juga bukan tipe traveler pemilih. Saya ajak ndoyok pun dia setuju. What a nice travelmate! <img src='http://jengjeng.matriphe.com/smilies/yahoo_wink.gif' alt='&#59;&#41;' class='wp-smiley' width='18' height='18' title='&#59;&#41;' /></p>
<p>Saya banyak sekali mendapat pengetahuan, informasi, serta tips-tips dari Ina tentang traveling. Mulai dari yang nggembel (backpacking) hingga yang level mid-to-top traveling.</p>
<p>Kebetulan tugas dia di Solo adalah mengupas beberapa tempat yang termasuk level mid-to-top traveling destination. Ini adalah ranah yang belum pernah saya coba karena tentunya keterbatasan finansial. <img src='http://jengjeng.matriphe.com/smilies/yahoo_laughloud.gif' alt='&#58;&#41;&#41;' class='wp-smiley' width='18' height='18' title='&#58;&#41;&#41;' /></p>
<p>Namun di luar tugas peliputan, dia justru mengajak saya untuk ndoyok. Hoho.. You got a right person, Na! <img src='http://jengjeng.matriphe.com/smilies/yahoo_wink.gif' alt='&#59;&#41;' class='wp-smiley' width='18' height='18' title='&#59;&#41;' /></p>
<p>Ina rencananya datang bersama fotografernya, seorang Belanda yang sudah cukup lama tinggal di Indonesia, <a href="http://jalanjalan.co.id/contributors.php?id=40" title="Jan Dekker" target="_blank">Jan Dekker</a>. Namun tiba-tiba fotografernya ndak bisa datang karena sakit.</p>
<p>Saya pun diminta sama Ina untuk jadi fotografernya selama liputan. Wah! Suatu kehormatan.</p>
<p>Maka jadilah saya menjadi fotografer sok-tau dan banyak nggaya karena memang saya ndak bakat jadi fotografer. Bakat saya kan sebenernya fotomodel! <img src='http://jengjeng.matriphe.com/smilies/yahoo_sunglas.gif' alt='&#98;&#45;&#41;' class='wp-smiley' width='18' height='18' title='&#98;&#45;&#41;' /></p>
<p>Lucunya, biasanya fotografer kan pake kamera SLR gitu, dengan segudang peralatan mulai dari tripod hingga lampu-lampu, la modal saya cuma kamera poket pinjaman. <img src='http://jengjeng.matriphe.com/smilies/yahoo_laughloud.gif' alt='&#58;&#41;&#41;' class='wp-smiley' width='18' height='18' title='&#58;&#41;&#41;' /></p>
<p>Ndak tau deh apakah foto-foto hasil jepretan saya itu layak cetak di majalah yang mengusung tema &#8220;travel in style&#8221; dan &#8220;style in travel&#8221; itu. <img src='http://jengjeng.matriphe.com/smilies/yahoo_giggle.gif' alt='&#59;&#41;&#41;' class='wp-smiley' width='18' height='18' title='&#59;&#41;&#41;' /></p>
<p>Our first destination adalah sebuah resto dan guesthouse yang sangat cantik bernama Roemahkoe, yang terletak di Jl. Dr. Rajiman 501, Laweyan, Solo.</p>
<p>Bangunan ini dibangun paa tahun 1938 bergaya &#8220;art deco&#8221; yang dulunya milik seorang saudagar batik.</p>
<p>Terang saja, dari belakang bangunan ini, ada sebuah pintu tembus ke Kampung Batik Laweyan.</p>
<p>Arsitektur Jawa yang berpadu Eropa begitu memukau saya yang suka melihat bangunan-bangunan tua.</p>
<p>Belum lagi interiornya yang khas Jawa berpadu dengan foto-foto jadul jaman Belanda.</p>
<p>Di restonya, saya bertugas memfoto dan mencicipi beberapa menu unggulan dari resto ini. Hohoho! <img src='http://jengjeng.matriphe.com/smilies/yahoo_devil.gif' alt='&#62;&#58;&#41;' class='wp-smiley' width='18' height='18' title='&#62;&#58;&#41;' /></p>
<p><img src='http://jengjeng.matriphe.com/wp-content/uploads/2008/01/roemahkoe.jpg' alt='Roemahkoe' /></p>
<p>Salah satu menu yang diunggulkan di resto ini adalah Lodoh Pindang yang konon merupakan makanan favorit Sri Sultan Pakubuwana X.</p>
<p>Untuk minuman, Pak Bondan Winarno pas acara Wisata Kuliner pernah mencoba Es Cemol yang jahenya berasa sangat nendang!</p>
<p>Tapi maafken, beberapa foto ndak bisa saya share di sini. <img src='http://jengjeng.matriphe.com/smilies/yahoo_bigsmile.gif' alt='&#58;&#68;' class='wp-smiley' width='18' height='18' title='&#58;&#68;' /></p>
<p>Habis dari Roemahkoe, Ina ngajakin ke kebun binatang. Motor Kaze pun saya arahkan ke Taman Satwa Taru Jurug yang berada di pinggir kali Bengawan Solo.</p>
<p>Hohoh.. Terakhir kali saya ke sini, kalo ndak salah pas TK. Sepertinya menarik juga menengok <strike>kerabat</strike> kondisi satwa di kebun binatang ini.</p>
<p>Setelah berputar dan melihat-lihat koleksi satwa di kebun binatang yang pengelolaannya kini dipegang pihak swasta ini, saya miris dan sedih.</p>
<p>Lepaskan saja semua binatang ini dan kembalikan ke habitatnya! <img src='http://jengjeng.matriphe.com/smilies/yahoo_angry.gif' alt='&#88;&#40;' class='wp-smiley' width='34' height='18' title='&#88;&#40;' /></p>
<p>Saya sedikit emosi, sedih, dan hanya bisa mengelus dada melihat kondisi satwa yang mengenaskan.</p>
<p><img src='http://jengjeng.matriphe.com/wp-content/uploads/2008/01/awas-buas.jpg' alt='Awas Binatang Buas' /></p>
<p>Malamnya saya mengajak Ina untuk mencicipi hidangan khas Solo, Nasi Liwet, di kawasan Keprabon.</p>
<p>Melalui Ina yang melakukan interview terhadap si penjual, saya baru tau kalo penjual Nasi Liwet di kawasan ini rupanya masih satu keluarga, keluarga Bu Wongso.</p>
<p>Pantes saja banyak warung yang menggunakan merk &#8220;Nasi Liwet Bu Wongso Lemu&#8221;. <img src='http://jengjeng.matriphe.com/smilies/yahoo_laughloud.gif' alt='&#58;&#41;&#41;' class='wp-smiley' width='18' height='18' title='&#58;&#41;&#41;' /></p>
<p>Dan uniknya, para penjual Nasi Liwet ini berasal dari daerah Baki, Sukoharjo. <img src='http://jengjeng.matriphe.com/smilies/yahoo_giggle.gif' alt='&#59;&#41;&#41;' class='wp-smiley' width='18' height='18' title='&#59;&#41;&#41;' /></p>
<p><img src='http://jengjeng.matriphe.com/wp-content/uploads/2008/01/wongso-lemu.jpg' alt='Warung Nasi Liwet Bu Wongso Lemu Keprabon' /></p>
<p>Tujuan kami esok harinya adalah ke Museum Batik Kuno Danar Hadi. Saya sendiri baru tau kalo ada museum ini ya dari si Ina.</p>
<p>Padahal museum ini bener-bener keren dan patoet dipoedjiken!</p>
<p>Museum ini menyimpan berbagai kain batik kuno koleksi Bapak Santoso Dullah, pemilik Danar Hadi.</p>
<p>Melihat-lihat koleksi batik dan mendengar penjelasan Asisten Manager museum ini, Bu Asti, semakin menguatkan bahwa batik sebenernya berawal dari Jawa.</p>
<p>Bahkan batik Pekalongan, batik Madura, hingga batik-batik Sumatra, semuanya berakar dari batik yang ada di Jawa, terutama dari masa kerajaan Pajang dan Mataram.</p>
<p>Batik rupanya juga menyerap berbagai kebudayaan yang masuk di masanya yang kemudian tertuang di dalam motifnya.</p>
<p>Ada motif Jawa Hokokai yang mendapat pengaruh Jepang, ada batik yang terpengaruh gaya Eropa, India, Cina, dan Arab.</p>
<p>Selain dari motif, daerah asal batik juga dapat dilihat dari warna yang mendominasi.</p>
<p>Warna coklat merupakan warna khas kraton, warna biru adalah warna batik khas daerah pesisir utara yang terpengaruh warna laut, warna merah yang terpengaruh kebudayaan Cina, dan lain-lain.</p>
<p>Ada juga motif batik pagi-sore di mana satu kain bisa dipakai 2 kali dengan motif berbeda. Juga batik yang untuk mewarnainya harus dibawa ke 3 tempat.</p>
<p>Segala hal mengenai batik sangat lengkap di museum ini.</p>
<p><img src='http://jengjeng.matriphe.com/wp-content/uploads/2008/01/membatik.jpg' alt='Membuat batik tulis' /></p>
<p>Selain itu, pengunjung juga bisa melihat secara langsung proses pembuatan batik tulis dan batik cap yang ada di lingkungan pabrik batik Danar Hadi.</p>
<p>Museum ini terletak di Jl. Slamet Riyadi, berada di seberang hotel Novotel Solo di samping Toko Sami Luwes. <img src='http://jengjeng.matriphe.com/smilies/yahoo_bigsmile.gif' alt='&#58;&#68;' class='wp-smiley' width='18' height='18' title='&#58;&#68;' /></p>
<p>Selama di dalam museum, pengunjung dilarang mengambil gambar. Tapi ketika di pabrik, pengunjung diperbolehkan mengambil gambar.</p>
<p>Tapi karena saat itu saya &#8220;bertugas&#8221; maka saya pun boleh jeprat-jepret mengambil gambar suasana museum. <img src='http://jengjeng.matriphe.com/smilies/yahoo_giggle.gif' alt='&#59;&#41;&#41;' class='wp-smiley' width='18' height='18' title='&#59;&#41;&#41;' /></p>
<p>Berlanjut perjalanan kami menelusuri segala hal tentang batik, kami pun menuju ke Kampung Batik Laweyan.</p>
<p>Secara umum, kampung batik ini rupanya lebih dulu ada jauh sebelum Kraton Surakarta ada.</p>
<p>Motif batik dari kampung ini lebih bervariatif dan cenderung mengikuti pasar daripada motif batik kraton yang mempunyai makna filosofi dan pakem-pakem tertentu.</p>
<p>Tata kota kampung dan bentuk bangunan di wilayah ini ini pun mengingatkan saya pada tata kota dan bangunan di <a href="http://jengjeng.matriphe.com/index.php/tag/kotagede" title="Tag: Kotagede">Kotagede</a> yang rupanya mempunyai alur sejarah yang saling bertautan.</p>
<p>Selain Laweyan, ada sebuah kampung batik lain di Solo, yaitu Kampung Batik Kauman yang lebih condong ke pemenuhan kebutuhan kraton.</p>
<p><img src='http://jengjeng.matriphe.com/wp-content/uploads/2008/01/laweyan.jpg' alt='Salah satu sudut di Kampung Batik Laweyan' /></p>
<p>Untuk Kampung Batik Laweyan ini, <strike>insya Allah akan</strike> sudah saya tulis di <a href="http://jengjeng.matriphe.com/index.php/2008/01/24/menelusuri-jejak-sejarah-kampung-batik-laweyan.html" title="Menelusuri Jejak Sejarah Kampung Batik Laweyan">postingan terpisah</a>. <img src='http://jengjeng.matriphe.com/smilies/yahoo_wink.gif' alt='&#59;&#41;' class='wp-smiley' width='18' height='18' title='&#59;&#41;' /></p>
<p>Agenda hari berikutnya, kami mengunjungi Kraton Kasunana Surakarta dan Istana Mangkunegaran.</p>
<p>Di Kraton Kasunanan, ndak banyak yang membuat saya tertarik.</p>
<p>Apalagi bapak abdi dalem yang menjadi guide kami saat itu menurut perasaan si Ina, kemungkinan dia naksir saya! <img src='http://jengjeng.matriphe.com/smilies/yahoo_ooooh.gif' alt='&#58;&#45;&#111;' class='wp-smiley' width='18' height='18' title='&#58;&#45;&#111;' /></p>
<p>Oh mai gat! Tidaaakkk!!! <img src='http://jengjeng.matriphe.com/smilies/yahoo_nailbiting.gif' alt='&#58;&#45;&#83;&#83;' class='wp-smiley' width='36' height='18' title='&#58;&#45;&#83;&#83;' /></p>
<p>Ina malah semakin menjadi dengan menggoda saya karena itu bapak dengan agresifnya menyerang saya. Kadal njengking, kecoak bunting!!</p>
<p><acronym title="karena sebenernya bukan kraton, sih">Istana</acronym> Mangkunegaran menjadi pengalaman terbaru saya. Jujur, selama saya besar dan tinggal di Solo, saya belum pernah mengunjungi tempat ini. <img src='http://jengjeng.matriphe.com/smilies/yahoo_blush.gif' alt='&#58;&#34;&#62;' class='wp-smiley' width='18' height='18' title='&#58;&#34;&#62;' /></p>
<p>Mangkunegara berpangkat setara adipati dari Kraton Kasunanan. Di Jogja, jabatan ini setara dengan Pakualam.</p>
<p>Mangkunegara sendiri lebih berfungsi semacam panglima perang, sehingga pantas saja kalo di sekitar istana ini ada banyak lapangan yang memang diperuntukkan untuk latihan berperang.</p>
<p>Bangunan istana ini menurut saya lebih bagus dan lebih terawat. Apalagi beberapa hari sebelumnya kraton ini mengadakan upacara <acronym title="peringatan ulang tahun">Wilujengan</acronym> <acronym title="kenaikan tahta">Jumenengan</acronym> <acronym title="Kanjeng Gusti Pangeran Adipati Aryo">KGPAA</acronym> Mangkunegara IX ke-20.</p>
<p>Bersama Pak Budi sang guide, kami diajak berkeliling ke beberapa ruang di Istana Mangkunegaran ini.</p>
<p><img src='http://jengjeng.matriphe.com/wp-content/uploads/2008/01/di-mangkunegaran.jpg' alt='di Istana Mangkunegaran' /></p>
<p>Di suatu ruangan kami melihat sebuah benda anti-selingkuh yang dipasang pada alat kelamin pria dan wanita yang kemudian dikunci dengan ritual khusus.</p>
<p>Bentuk pengaman untuk pria ini seperti kondom namun terbuat dari emas dan berujung terbuka mirip kelopak bunga tapi tajam.</p>
<p>Sedangkan pengaman untuk wanita berbentuk lempeng emas berbentuk V berukir yang ada lubang khusus untuk keluarnya air kencing. <img src='http://jengjeng.matriphe.com/smilies/yahoo_giggle.gif' alt='&#59;&#41;&#41;' class='wp-smiley' width='18' height='18' title='&#59;&#41;&#41;' /></p>
<p>Maaf banget karena selama di ruangan ini, pengunjung ndak diperbolehkan mengambil gambar. <img src='http://jengjeng.matriphe.com/smilies/yahoo_giggle.gif' alt='&#59;&#41;&#41;' class='wp-smiley' width='18' height='18' title='&#59;&#41;&#41;' /></p>
<p>Setelah lelah mengelilingi Mangkunegaran, kami pun menikmati hidangan khas Solo lainnya, Sate Kere!</p>
<p><img src='http://jengjeng.matriphe.com/wp-content/uploads/2008/01/penjual-sate-kere.jpg' alt='Penjual Sate Kere di Mangkunegaran' class="alignright" /></p>
<p>Sate kere adalah sate yang bahannya terdiri atas tempe gembus, tempe bacem, jeroan, kikil, dengan bumbu kacang, kecap, dan cabe yang puedes. <img src='http://jengjeng.matriphe.com/smilies/yahoo_bigsmile.gif' alt='&#58;&#68;' class='wp-smiley' width='18' height='18' title='&#58;&#68;' /></p>
<p>Yang unik, kami menikmati sate ini masih di dalam kawasan Istana Mangkunegaran.</p>
<p>Kami bertemu dengan sepasang suami-istri orang asing yang merupakan traveler.</p>
<p>Awalnya mereka hendak memesan sate seperti yang kami makan dan dari situlah obrolan pun berkembang.</p>
<p>Sang wanita yang kami sangka awalnya orang Indonesia rupanya berasal dari Filipina. <img src='http://jengjeng.matriphe.com/smilies/yahoo_laughloud.gif' alt='&#58;&#41;&#41;' class='wp-smiley' width='18' height='18' title='&#58;&#41;&#41;' /></p>
<p>Saya cuma ndomblong mendengarkan si Ina sama ini cewek Filipina ketika saling bercerita tentang pengalaman traveling mereka masing-masing. <img src='http://jengjeng.matriphe.com/smilies/yahoo_drool.gif' alt='&#61;&#112;&#126;' class='wp-smiley' width='18' height='18' title='&#61;&#112;&#126;' /></p>
<p>Melihat pasangan ini saya jadi iri dan pengen. Betapa bahagianya mereka bisa traveling dan ndoyok ke berbagai tempat di dunia bersama.</p>
<p>Yang saya pikirkan, mereka ini dapet duit dari mana? Lalu gimana dengan kerjaan mereka? Hampir setiap kehidupannya mereka menghabiskan waktu di berbagai tempat menarik.</p>
<p>Sedangkan saya? Mburuh sampai njengking pun pendapatan selalu habis buat menyambung hidup dan mbayar utang.</p>
<p>Duh Gusti, ampunilah dosa-dosa hamba-Mu ini.. <img src='http://jengjeng.matriphe.com/smilies/yahoo_pray.gif' alt='&#91;&#45;&#111;&#60;' class='wp-smiley' width='18' height='18' title='&#91;&#45;&#111;&#60;' /></p>
<p>Berkenalan dengan orang seperti Ina dan pasangan traveler itu, membuat saya malu.</p>
<p>Pengalaman perjalanan saya ini ndak ada apa-apanya dibanding mereka. Petualangan saya yang ndak mutu ini sepertinya kok ndak layak dibanggakan.</p>
<p>Ah, saya sendiri pun tersadar. Sebagai amateur traveler, rasanya saya masih perlu menimba banyak pengalaman dan menentukan jati diri traveling saya.</p>
<p>Mengenal wartawan seperti Ina, membuat saya mengerti bagaimana cara mencari informasi tentang tempat-tempat yang layak liput atau ndak.</p>
<p>Selain itu, berbagai cerita di belakang layar acara petualangan yang muncul di tivi itu rupanya sangat menarik.</p>
<p>Maklum saja, Ina juga mengenal beberapa host acara traveling di beberapa acara tivi. Kadang para presenter itu harus berakting di depan kamera ketika harus membawakan acara.</p>
<p>Ina pernah bercerita, saat pembuatan suatu acara traveling, si presenter disyuting dengan menceburkan diri ke dalam laut ketika meliput keindahan bawah laut padahal itu presenter sama sekali ndak bisa berenang! <img src='http://jengjeng.matriphe.com/smilies/yahoo_laughloud.gif' alt='&#58;&#41;&#41;' class='wp-smiley' width='18' height='18' title='&#58;&#41;&#41;' /></p>
<p>Mendengar ceritanya saja semakin membuat saya ngiri. <img src='http://jengjeng.matriphe.com/smilies/banghead.gif' alt='&#58;&#98;&#97;&#110;&#103;&#104;&#101;&#97;&#100;' class='wp-smiley' width='25' height='20' title='&#58;&#98;&#97;&#110;&#103;&#104;&#101;&#97;&#100;' /></p>
<p>Duh Gusti, apakah saya harus berpindah jalur dari kerjaan mburuh saya ini ke dunia yang sama sekali buta bagi saya itu? <img src='http://jengjeng.matriphe.com/smilies/yahoo_pray.gif' alt='&#91;&#45;&#111;&#60;' class='wp-smiley' width='18' height='18' title='&#91;&#45;&#111;&#60;' /></p>
<p>Selain itu, saya juga merasakan betapa susahnya jadi fotografer. Pantes saja si <a href="http://diditkurniawan.web.ugm.ac.id/" title="diditjogja" target="_blank">Didit</a> yang biasanya jadi fotografer saya itu kadang misuh-misuh karena ndak bisa ikut bernarsis ria. <img src='http://jengjeng.matriphe.com/smilies/yahoo_laughloud.gif' alt='&#58;&#41;&#41;' class='wp-smiley' width='18' height='18' title='&#58;&#41;&#41;' /></p>
<p>Ah, namun saya yakin. Setiap orang pasti punya jalur rejekinya masing-masing. <img src='http://jengjeng.matriphe.com/smilies/yahoo_wink.gif' alt='&#59;&#41;' class='wp-smiley' width='18' height='18' title='&#59;&#41;' /></p>
<p>Makasih banget, Ina Hapsari, atas semua cerita dan pengalaman serta pengaruh jahat travelingmu yang telah elo tularkan. <img src='http://jengjeng.matriphe.com/smilies/yahoo_devil.gif' alt='&#62;&#58;&#41;' class='wp-smiley' width='18' height='18' title='&#62;&#58;&#41;' /></p>
<p>It&#8217;s nice to have a travel mate like you! <img src='http://jengjeng.matriphe.com/smilies/yahoo_wink.gif' alt='&#59;&#41;' class='wp-smiley' width='18' height='18' title='&#59;&#41;' /></p>
<p>I hope I&#8217;ll go to the destination you&#8217;ve recommended soon! <img src='http://jengjeng.matriphe.com/smilies/yahoo_daydream.gif' alt='&#56;&#45;&#62;' class='wp-smiley' width='23' height='18' title='&#56;&#45;&#62;' /></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://jengjeng.matriphe.com/jengjeng-dan-jalanjalan-di-solo.html/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>53</slash:comments>
		</item>
	</channel>
</rss>

