<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>jengjeng matriphe! &#187; betawi</title>
	<atom:link href="http://jengjeng.matriphe.com/tag/betawi/feed" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://jengjeng.matriphe.com</link>
	<description>pengen jalan-jalan, makan-makan, dan lain-lain</description>
	<lastBuildDate>Tue, 02 Aug 2011 11:41:49 +0000</lastBuildDate>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<generator>http://wordpress.org/?v=3.2.1</generator>
	<atom:link rel='hub' href='http://jengjeng.matriphe.com/?pushpress=hub'/>
		<item>
		<title>Perkampungan Budaya Betawi Situ Babakan</title>
		<link>http://jengjeng.matriphe.com/perkampungan-budaya-betawi-situ-babakan.html</link>
		<comments>http://jengjeng.matriphe.com/perkampungan-budaya-betawi-situ-babakan.html#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 22 Jun 2009 22:57:13 +0000</pubDate>
		<dc:creator>matriphe</dc:creator>
				<category><![CDATA[Destinasi]]></category>
		<category><![CDATA[Festival, Seni, Budaya]]></category>
		<category><![CDATA[betawi]]></category>
		<category><![CDATA[Jakarta]]></category>
		<category><![CDATA[kampung]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://jengjeng.matriphe.com/?p=1290</guid>
		<description><![CDATA[Bulan Juni merupakan bulan ulang tahun Jakarta. Biasanya banyak acara yang diadakan untuk menyambut ulang tahun Jakarta ini. Acara tahunan yang biasanya diadakan adalah Jakarta Fair yang diselenggarakan di Arena Pekan Raya Jakarta (PRJ) Kemayoran. Bila bosan dengan acara Jakarta Fair yang itu-itu saja, ada sebuah tempat wisata alternatif untuk melihat lebih dekat kebudayaan asli [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><img src="http://jengjeng.matriphe.com/wp-content/uploads/2009/06/rumah-betawi.jpg" alt="Perkampungan Budaya Betawi" title="Perkampungan Budaya Betawi" width="350" height="263" class="alignnone size-full wp-image-1294" /></p>
<p>Bulan Juni merupakan bulan ulang tahun Jakarta. Biasanya banyak acara yang diadakan untuk menyambut ulang tahun Jakarta ini. Acara tahunan yang biasanya diadakan adalah <a href="http://www.jakartafair.biz/" title="Jakarta Fair" target="_blank">Jakarta Fair</a> yang diselenggarakan di Arena Pekan Raya Jakarta (PRJ) Kemayoran.</p>
<p>Bila bosan dengan acara Jakarta Fair yang itu-itu saja, ada sebuah tempat wisata alternatif untuk melihat lebih dekat kebudayaan asli Betawi, yaitu Perkampungan Budaya Betawi Situ Babakan, yang terletak di Kelurahan Srengseng Sawah, Kecamatan Jagakarsa, Jakarta Selatan.</p>
<p><span id="more-1290"></span>Situ Babakan sendiri sebenernya nama sebuah danau buatan yang luasnya mencapai 32 hektar. Namun karena letak perkampungan ini sangat dekat dengan danau ini, orang lebih mengenal perkampungan ini dengan nama Situ Babakan.</p>
<p>Lokasi yang diresmikan menjadi kawasan wisata cagar budaya pada bulan Desember 2001 ini menggantikan perkampungan Betawi di Condet, Jakarta Timur, yang tergerus zaman.</p>
<p>Di kawasan ini kita bisa melihat kehidupan masyarakat Betawi asli lengkap dengan tradisi dan keseniannya, mulai dari bentuk arsitektur rumah, makanan khas, hingga kesenian ada semua di sini.</p>
<p>Saya menuju ke kawasan ini dengan menggunakan bus Kopaja S.616 jurusan Blok M-Pasar Minggu-Cipedak dan turun tepat di gerbang utama yang diberi nama Gerbang Bang Pitung.</p>
<p><img src="http://jengjeng.matriphe.com/wp-content/uploads/2009/06/gerbang-bang-pitung.jpg" alt="Gerbang I Bang Pitung" title="Gerbang I Bang Pitung" width="350" height="263" class="alignnone size-full wp-image-1295" /></p>
<p>Dari pintu gerbang ini saya berjalan kaki melalui jalan Moh. Kahfi II yang berpaving-blok sejauh kurang lebih 300 meter untuk mencapai danau, kemudian dilanjutkan dengan berjalan lagi sejauh 300 meter dari danau untuk mencapai Perkampungan Budaya Betawi.</p>
<p>Rumah-rumah di sekitar tempat ini sebagian besar berarsitektur Betawi. Memang ada aturan kepada warga di sini untuk membentuk rumahnya dengan arsitektur Betawi. Bahkan ketika saya mampir di masjid At-Taubah untuk melakukan sholat, saya terkagum-kagum dengan arsitektur masjid yang juga bercorak Betawi.</p>
<p>Mungkin karena akhir pekan, kawasan ini sangat ramai. Motor yang kebanyakan berisi pasangan muda-mudi banyak lalu lalang. Di lapangan tanah saya melihat anak-anak kecil sedang bermain sepak bola seperti melontarkan saya ke sisi lain Jakarta yang lebih membumi.</p>
<p>Saya pun mencapai danau. Wuih, rame banget! Para pengunjung pun terlihat asyik menikmati pemandangan danau yang bersih ini. Di tengah danau rupanya ada orang sedang bermain kano dan di pinggir-pinggir danau tampak beberapa orang sedang memancing.</p>
<p>Pengunjung juga bisa menyewa perahu bebek yang harus dikayuh untuk menggerakannya. Ongkosnya lima ribu rupiah per orang.</p>
<p>Berbagai makanan dan jajanan khas Betawi banyak dijajakan di sini. Hampir setiap 5 meter saya menemukan penjual Kerak Telor. Selain Kerak Telor, makanan lain yang bisa dijumpai adalah Soto Betawi, Bir Pletok, Roti Buaya, Dodol Betawi, dan lain sebagainya.</p>
<p><img src="http://jengjeng.matriphe.com/wp-content/uploads/2009/06/penjual-kerak-telor.jpg" alt="Penjual kerak telor" title="Penjual kerak telor" width="350" height="263" class="alignnone size-full wp-image-1293" /></p>
<p>Konon Roti Buaya merupakan salah satu syarat makanan yang harus ada pada upacara penganten Betawi. Buaya sendiri merupakan hewan yang paling setia. Mungkin sikap kesetiaan inilah yang disimbolkan dalam Roti Buaya yang disuguhkan pas acara penganten. <img src='http://jengjeng.matriphe.com/smilies/yahoo_bigsmile.gif' alt='&#58;&#68;' class='wp-smiley' width='18' height='18' title='&#58;&#68;' /></p>
<p>Selain makanan, saya juga menemukan penjual suvenir lucu dan unik. Kaos-kaos bergaya Betawi dan bergambar wajah legenda Betawi, alamarhum Benyamin S. juga dijual di sini. Lantunan lagu <em>Kompor Mleduk</em> yang dinyanyikan Bang Ben lantang terdengar dari VCD player yang diputar dari lapak penjual VCD lagu-lagu Bang Ben.</p>
<p>Untuk masuk kawasan ini gratis, hanya saja bagi pengguna motor akan diminta membayar biaya parkir sebesar seribu rupiah.</p>
<p>Sayang sekali jalanan paving blok hanya berakhir hingga ke danau. Mungkin jalan menuju ke kawasan perkampungan budaya ini masih dalam tahap pembangunan karena ketika saya ke sana, jalanan masih rusak berbatu.</p>
<p>Ndak berapa lama, saya pun sampai di gerbang perkampungan budaya. Sebuah tangga pendek dengan sebuah gerbang menyambut saya. Di sekitar gerbang nampak beberapa pemuda berpakaian hitam-hitam plus peci dengan berkalung kain sarung di leher ala si Pitung.</p>
<p><img src="http://jengjeng.matriphe.com/wp-content/uploads/2009/06/gerbang-kampung.jpg" alt="Gerbang perkampungan budaya" title="Gerbang perkampungan budaya" width="350" height="263" class="alignnone size-full wp-image-1296" /></p>
<p>Ada beberapa rumah yang berada di kompleks ini. Semuanya bercorak Betawi modern, karena rumah asli Betawi semua terbuat dari kayu, sedangkan rumah Betawi modern sudah menggunakan semen.</p>
<p>Rumah-rumah Betawi ini sebenernya ndak jauh berbeda dengan rumah Joglo. Rumah-rumah ini terbagi menjadi 3 bagian, yaitu wilayah publik (beranda untuk menerima tamu), wilayah semi publik (ruang keluarga), dan wilayah privat (kamar tidur dan dapur).</p>
<p>Ciri masyarakat Betawi yang terbuka dan gemar bergaul dituangkan dalam bentuk beranda rumah yang dipakai untuk menerima tamu. Seperangkat meja-kursi kecil nampak tertata rapi di beranda. Di beberapa rumah nampak juga sebuah lincak lebar yang kadang juga dipakai untuk menerima tamu, umumnya tamu yang sudah dekat semacam kerabat.</p>
<p>Duduk di atas lincak ini mengingatkan saya adegan Bang Benyamin yang suka tiduran di atas lincak bambu di sinetron Si Doel Anak Sekolahan.</p>
<p><img src="http://jengjeng.matriphe.com/wp-content/uploads/2009/06/lincak-betawai.jpg" alt="Lincak Betawi" title="Lincak Betawi" width="350" height="263" class="alignnone size-full wp-image-1291" /></p>
<p>Karena semua rumah yang ada di kompleks ini adalah rumah pribadi, saya ndak dapat masuk lebih ke dalam dan cuma bisa masuk sampai beranda.</p>
<p>Bila memperhatikan, pola-pola ornamen dan hiasan yang ada di rumah-rumah Betawi ini sangat terpengaruh dari berbagai corak, yaitu Arab, Portugis, Cina dan Belanda.</p>
<p>Bentuk pintu dan jendela berdaun sirip-sirip horisontal merupakan pola khas yang ada di rumah Betawi. Daun jendela yang dibuka ke samping kanan-kiri dengan teralis kayu bulat bertirai separo di bagian dalam, selalu ada di samping kanan dan kiri rumah.</p>
<p>Di beberapa rumah yang memiliki halaman cukup luas, berbagai pohon buah yang tumbuh di halaman juga menjadi ciri khas rumah Betawi. Pohon belimbing, nangka, rambutan, melinjo, duku, kecapi, jambu air, bisa ditemui di beberapa halaman rumah.</p>
<p><img src="http://jengjeng.matriphe.com/wp-content/uploads/2009/06/nemplok.jpg" alt="Nemplok di pohon belimbing" title="Nemplok di pohon belimbing" width="350" height="263" class="alignnone size-full wp-image-1292" /></p>
<p>Sayang sekali, saya melihat beberapa motor nampak parkir seenaknya sehingga menggangu kerapihan yang ada. </p>
<p>Di kawasan ini terdapat sebuah panggung yang sering dipakai untuk pertunjukkan seni, mulai dari tari-tarian, pencak silat, Lenong, Gambang Kromong, dan Topeng Betawi, setiap hari Minggu jam 2 siang sampai jam 5 sore. Pada hari-hari tertentu, wisatawan juga bisa melihat latihan tari anak-anak dan remaja.</p>
<p>Karena saya datang kesorean, saya kelewatan berbagai acara seni yang menarik tersebut. <img src='http://jengjeng.matriphe.com/smilies/yahoo_sad.gif' alt='&#58;&#40;' class='wp-smiley' width='18' height='18' title='&#58;&#40;' /></p>
<p>Pada bulan-bulan tertentu, terutama bulan Juli, wisatawan bisa melihat ritual budaya seperti upacara pernikahan, akekahan, sunatan, khataman Quran, dan sebagainya.</p>
<p>Perkampungan ini juga terbuka bagi wisatawan yang hendak menginap dan merasakan kehidupan masyarakat Betawi. Ada sekitar 67 homestay (rumah penduduk) yang siap ditinggali wisatawan. Bahkan pada bulan Ramadhan, wisatawan juga bisa merasakan suasana berpuasa hingga Lebaran di kampung ini.</p>
<p><img src="http://jengjeng.matriphe.com/wp-content/uploads/2009/06/lompat.jpg" alt="Perkampungan Budaya Betawi keren!" title="Perkampungan Budaya Betawi keren!" width="350" height="263" class="alignnone size-full wp-image-1297" /></p>
<p>Namun ada satu hal yang menjadi pemikiran saya. Mengingat lokasi yang cukup &#8220;terpencil&#8221; ini, apakah ini menandakan bahwa masyarakat Betawi mulai &#8220;tersingkir&#8221; dari kawasan pusat Kota Jakarta yang makin dipadati oleh pendatang, sehingga harus &#8220;dikumpulkan&#8221; di suatu kawasan? <img src='http://jengjeng.matriphe.com/smilies/yahoo_think.gif' alt='&#58;&#45;&#63;' class='wp-smiley' width='18' height='18' title='&#58;&#45;&#63;' /></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://jengjeng.matriphe.com/perkampungan-budaya-betawi-situ-babakan.html/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>53</slash:comments>
		</item>
	</channel>
</rss>

