<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>jengjeng matriphe! &#187; Bogor</title>
	<atom:link href="http://jengjeng.matriphe.com/tag/bogor/feed" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://jengjeng.matriphe.com</link>
	<description>pengen jalan-jalan, makan-makan, dan lain-lain</description>
	<lastBuildDate>Tue, 02 Aug 2011 11:41:49 +0000</lastBuildDate>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<generator>http://wordpress.org/?v=3.2.1</generator>
	<atom:link rel='hub' href='http://jengjeng.matriphe.com/?pushpress=hub'/>
		<item>
		<title>Curug Cilember, Pesona 7 Air Terjun</title>
		<link>http://jengjeng.matriphe.com/curug-cilember-pesona-7-air-terjun.html</link>
		<comments>http://jengjeng.matriphe.com/curug-cilember-pesona-7-air-terjun.html#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 15 Aug 2009 18:25:30 +0000</pubDate>
		<dc:creator>matriphe</dc:creator>
				<category><![CDATA[Destinasi]]></category>
		<category><![CDATA[Gunung, Bukit, Mata Air]]></category>
		<category><![CDATA[air terjun]]></category>
		<category><![CDATA[Bogor]]></category>
		<category><![CDATA[curug]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://jengjeng.matriphe.com/?p=1331</guid>
		<description><![CDATA[Puncak adalah tempat favorit warga Jakarta untuk berlibur. Bisa dipastikan setiap akhir pekan, jalur ini selalu macet. Namun sebenernya di rute menuju kawasan Puncak ini terdapat tempat wisata alternatif yang bisa dikunjungi, walau tetep harus menembus kemacetan jalur puncak juga, sih. He he he. Akhir pekan itu saya, Nila, dan Suprie bekunjung ke Curug Cilember, [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><img src="http://jengjeng.matriphe.com/wp-content/uploads/2009/08/curug-cilember.jpg" alt="Curug Cilember" title="Curug Cilember" width="350" height="263" class="alignnone size-full wp-image-1330" /></p>
<p>Puncak adalah tempat favorit warga Jakarta untuk berlibur. Bisa dipastikan setiap akhir pekan, jalur ini selalu macet. Namun sebenernya di rute menuju kawasan Puncak ini terdapat tempat wisata alternatif yang bisa dikunjungi, walau tetep harus menembus kemacetan jalur puncak juga, sih. He he he.</p>
<p>Akhir pekan itu saya, <a href="http://corniladesyana.wordpress.com" title="Cornila" target="_blank">Nila</a>, dan <a href="http://suprieaja.com/" title="Suprie" target="_blank">Suprie</a> bekunjung ke Curug Cilember, sebuah tempat wisata yang letaknya sekitar 20 km dari Kota Bogor ke arah Puncak. Yang namanya akhir pekan, rute yang seharusnya bisa ditempuh dalam waktu 1 jam dari Bogor bisa mencapai 2 jam!</p>
<p><span id="more-1331"></span>Dari Jakarta, saya dan Nila naik bus Agra Mas dari Lebak Bulus menuju Bogor. Ongkosnya sekitar 12 rebu. Di Bogor, kami akan bertemu dengan Suprie yang kebetulan sedang berada di Cibinong.</p>
<p>Dari Bogor, kami naik angkot 01 jurusan Baranang Siang-Ciawi dengan ongkos 2 rebu per orang. Sesampai di Ciawi, kami berganti angkot biru jurusan Cisarua.</p>
<p>Kemacetan terjadi di pertigaan di tanjakan sebelum Cipayung. Supir angkot kami yang dari logatnya sepertinya logat Batak (karena kecampur sunda-sunda gitu), mengajak kami ngobrol. Guyon-guyonnya yang garing memang menjadi penghibur kami di tengah kemacetan.</p>
<p>Lepas dari Cipayung, penumpang angkot tinggal kami bertiga. Beruntung, karena saat itu jalur Puncak sedang dibuka satu arah yaitu yang mengarah ke Puncak. Angkot pun digeber dengan kencang.</p>
<p>Supir angkot yang sok akrab itu menawarkan jasanya untuk mengantar kami hingga ke Curug Cilember dengan hitungan menyewa angkotnya sebesar 30 ribu rupiah. Setelah berpikir, kami menolaknya dan lebih memilih menggunakan ojek saja nantinya. Ongkos dari Ciawi sampai Hankam 5 ribu rupiah.</p>
<p>Kami turun di pertigaan Hankam, karena ternyata pertigaan Cilember terlewati. Dari pertigaan ini, kami naek ojek dengan ongkos 10 ribu per orang untuk sampai ke Wana Wisata Curug Cilember.</p>
<p>Jalan dari pertigaan Hankam menuju tempat wisata memang luar biasa. Tikungan tajam ketika jalan menurun curam atau menanjak tajam menjadi rute yang membuat adrenalin mengalir cukup deras. Belum lagi jalan yang sempit, membuat kami yakin keputusan kami menolak tawaran bapak supir angkot tadi tepat.</p>
<p><img src="http://jengjeng.matriphe.com/wp-content/uploads/2009/08/welcome-board.jpg" alt="Welcome to Curug 7 Cilember" title="Welcome to Curug 7 Cilember" width="350" height="263" class="alignnone size-full wp-image-1332" /></p>
<p>Wana Wisata Curug Cilember terletak di Desa Cilember, Kecamatan Cisarua, Kabupaten Bogor, Jawa Barat. Berketinggian sekitar 800 meter di atas permukaan laut, membuat kawasan di kaki Bukit Hambalang ini sejuk dengan vegetasi dominan pinus merkusi dan anggrek tanah berwarna kuning.</p>
<p>Kami masuk dengan terlebih dulu membeli tiket retribusi seharga 7.500 rupiah per orang. Kawasan wisata ini rupanya sudah dikelola cukup baik, terlihat dari sarana dan prasarana yang tersedia di lokasi ini.</p>
<p>Sepanjang jalan setapak sudah disemen dan diberi papan petunjuk. Kios-kios penjual suvenir dan warung makan juga terlihat berderet rapi. Di lokasi ini juga terdapat lapangan yang digunakan untuk berkemah. Ketika kami datang, siswa-siswa dari sebuah SMP sedang mengadakan acara perkemahan.</p>
<p>Bungalow-bungalow dengan konsep rumah panggung yang terbuat dari kayu juga disewakan di tempat ini. Total ada 4 bungalow yang mempunyai tarif berbeda-beda, mulai dari 500 ribu hingga 800 ribu rupiah. harga ini akan makin mahal ketika akhir pekan atau liburan.</p>
<p>Pondok Meranti adalah tipe bungalow yang paling lengkap dan paling mahal, sedangkan Pondok Merkusi adalah kelas menengah, kemudian Pondok Rasamala dan Damar adalah bungalow yang paling murah.</p>
<p><img src="http://jengjeng.matriphe.com/wp-content/uploads/2009/08/bungalow.jpg" alt="Bungalow di Curug Cilember" title="Bungalow di Curug Cilember" width="350" height="263" class="alignnone size-full wp-image-1333" /></p>
<p>Fasilitas untuk outbond juga ada di kawasan ini. Saya melihat seutas tali terbentang yang ternyata merupakan fasilitas <em>flying fox</em>.</p>
<p>Kami menjumpai sebuah bangunan berbentuk setengah lingkaran yang terbuat dari jaring-jaring besi. Rupanya bangunan ini adalah Taman Konservasi Kupu-kupu, di mana di tempat ini dikembangbiakkan 12 spesies kupu-kupu dari seluruh Indonseia, diantaranya adalah <em>Troides helena</em> dan <em>Papilio meiunon</em>.</p>
<p><img src="http://jengjeng.matriphe.com/wp-content/uploads/2009/08/taman-kupu-kupu.jpg" alt="Taman Konservasi Kupu-kupu" title="Taman Konservasi Kupu-kupu" width="350" height="263" class="alignnone size-full wp-image-1336" /></p>
<p>Setelah melewati Jembatan Cinta, sebuah jembatan yang melintasi sungai kecil dan menapaki jalan setapak, kami sampai di Curug 7.</p>
<p>Suasana yang sangat ramai membuat kami enggan mendatangi curug ini dan langsung menuju ke Curug 5.</p>
<p>Curug Cilember terdiri dari 7 buah curug sambung-menyambung yang airnya berasal dari mata air di Bukit Hambalang pada ketinggian 2.000 meter dpl. Curug 1 sendiri terletak pada ketinggian 1.700 meter dpl dan curug terakhir, yaitu curug 7 berketinggian sekitar 30 meter berada pada ketinggian 800 meter dpl.</p>
<p><img src="http://jengjeng.matriphe.com/wp-content/uploads/2009/08/curug.jpg" alt="Air terjun" title="Air terjun" width="200" height="267" class="alignright size-full wp-image-1334" /></p>
<p>Namun untuk menikmati keindahan curug-curug ini, dibutuhkan pengorbanan ekstra. Makin ke atas, medan yang ditempuh semakin terjal dan sulit. Track semen hanya sampai di Curug 7, sedangkan untuk sampai ke Curug 5, track berupa tangga batu yang terjal.</p>
<p>Curug 6 tidak dapat dijangkau karena medan yang berbahaya. Umumnya pengunjung hanya sampai di Curug 5 saja. Menurut tukang ojek yang saya tumpangi, curug yang bagus justru curug-curug yang berada di atas karena jarang tersentuh oleh manusia. Namun total perjalanan mulai dari Curug 7 dan mendaki hingga Curug 1, diperlukan waktu sekitar 3 jam!</p>
<p>Kami pun hanya sampai di Curug 5. Sebuah curug dengan kolam di bawahnya memang menarik untuk dicemplungi dan berbasah-basah di sana. Karena di Curug 5 ini ternyata juga ramai, kami memilih bermain air di sungai kecil yang  letaknya tak jauh dari Curug 5.</p>
<p><img src="http://jengjeng.matriphe.com/wp-content/uploads/2009/08/suprie-leyeh-leyeh.jpg" alt="Suprie leyeh-leyeh" title="Suprie leyeh-leyeh" width="350" height="263" class="alignnone size-full wp-image-1335" /></p>
<p>Air yang dingin dan segar membuat letih saya selama perjalanan tadi sirna ketika saya membasuh muka dan mengguyur air di atas kepala.</p>
<p>Tak terasa hari sudah sore. Kami pun segera beranjak dari ketenangan dan kesejukan di tempat ini.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://jengjeng.matriphe.com/curug-cilember-pesona-7-air-terjun.html/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>52</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Mata Air Panas Gunung Pancar, Air Panas Minim Belerang</title>
		<link>http://jengjeng.matriphe.com/mata-air-panas-gunung-pancar-air-panas-minim-belerang.html</link>
		<comments>http://jengjeng.matriphe.com/mata-air-panas-gunung-pancar-air-panas-minim-belerang.html#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 15 Dec 2008 04:08:35 +0000</pubDate>
		<dc:creator>matriphe</dc:creator>
				<category><![CDATA[Destinasi]]></category>
		<category><![CDATA[Gunung, Bukit, Mata Air]]></category>
		<category><![CDATA[air panas]]></category>
		<category><![CDATA[Bogor]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://jengjeng.matriphe.com/?p=978</guid>
		<description><![CDATA[Badan pegal-pegal akibat mburuh selama seminggu langsung sirna seketika setelah merasakan kehangatan panasnya air yang merendam badan. Sabtu kemarin, saya bareng Purwo dan Damar, 2 orang temen kantor, melakukan perjalanan ke pemandian air panas Gunung Pancar, Desa Karangtengah, Kecamatan Babakan Madang, Citereup, Kabupaten Bogor, Jawa Barat. Berangkat pagi-pagi sekali dari rumah Purwo di daerah Sentul, [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><img src="http://jengjeng.matriphe.com/wp-content/uploads/2008/12/air-panas-gunung-pancar.jpg" alt="Mata Air Panas Gunung Pancar" title="Mata Air Panas Gunung Pancar" width="350" height="263" class="alignnone size-full wp-image-979" /></p>
<p>Badan pegal-pegal akibat mburuh selama seminggu langsung sirna seketika setelah merasakan <strike>kehangatan</strike> panasnya air yang merendam badan.</p>
<p>Sabtu kemarin, saya bareng <a href="http://www.purwoshop.multiply.com/" title="Purwo" target="_blank">Purwo</a> dan Damar, 2 orang temen kantor, melakukan perjalanan ke pemandian air panas Gunung Pancar, Desa Karangtengah, Kecamatan Babakan Madang, Citereup, Kabupaten Bogor, Jawa Barat.</p>
<p><span id="more-978"></span>Berangkat pagi-pagi sekali dari rumah Purwo di daerah Sentul, kami menempuh perjalanan selama kurang lebih 2 jam.</p>
<p>Kami melewati Desa Sumurbatu, yang konon penduduknya mayoritas bermata pencaharian dari memecah batu. Di sepanjang jalan memang terlihat batu-batu besar yang sudah dipecah berserakan. Apakah karena ini juga sehingga jalan yang melintasi desa ini juga &#8220;berbatu&#8221; yang sedikit menghambat perjalanan? <img src='http://jengjeng.matriphe.com/smilies/yahoo_dontknow.gif' alt='&#58;&#45;&#63;&#63;' class='wp-smiley' width='40' height='18' title='&#58;&#45;&#63;&#63;' /></p>
<p>Hutan pinus langsung menyambut kami ketika memasuki Kawasan Wisata Alam Gunung Pancar yang memiliki luas sekitar 447,5 hektar ini. Kami dipungut tiket masuk 2 ribu rupiah per orang dan motor seribu rupiah.</p>
<p><img src="http://jengjeng.matriphe.com/wp-content/uploads/2008/12/hutan-pinus-gunung-pancar.jpg" alt="Hutan Pinus Gunung Pancar" title="Hutan Pinus Gunung Pancar" width="350" height="263" class="alignnone size-full wp-image-980" /></p>
<p>Kami pun menikmati pemandangan eksotis yang ditawarkan. Di beberapa bagian, bunga-bunga berwarna kuning dan oranye memberikan warna tersendiri di antara teduhnya hutan.</p>
<p>Di kawasan ini ada juga pemandian air panas yang lebih mewah, yaitu Giri Tirta. Namun kami lebih memilih pemandian air panas Gunung Pancar, karena alasan ekonomis.</p>
<p>Tak berapa lama, gerbang retribusi pemandian ini terlihat. Setiap orang dikenakan biaya masuk 5 ribu rupiah dan motor 2 ribu rupiah. Jangan lupa siapkan pula duit untuk ongkos &#8220;parkir&#8221;. <img src='http://jengjeng.matriphe.com/smilies/yahoo_bigsmile.gif' alt='&#58;&#68;' class='wp-smiley' width='18' height='18' title='&#58;&#68;' /></p>
<p>Kami segera menuju ke bawah dengan menuruni tangga setapak yang pegangan pinggirnya berupa kayu yang diikat dengan ijuk.</p>
<p>Terdapat gazebo-gazebo yang cocok untuk dipakai bersantai-santai. Kami duduk sebentar di salah satu gazebo sambil makan nasi uduk yang berbungkus daun pisang untuk sarapan.</p>
<p>Ada 3 buah kolam yang tersedia. Dua kolam untuk umum yang dipisahkan antara laki dan perempuan, serta satu lagi kolam yang dikhususkan untuk terapi pengobatan. Selain itu, ada 3 bilik khusus berisi semacam bathtub yang bisa kita sewa dengan harga 10 ribu bila ingin privasi terjaga.</p>
<p><img src="http://jengjeng.matriphe.com/wp-content/uploads/2008/12/kolam-air-panas.jpg" alt="Kolam Air Panas" title="Kolam Air Panas" width="350" height="263" class="alignnone size-full wp-image-981" /></p>
<p>Segera saya ingin mencoba. Namun begitu menyentuhkan kaki ke permukaan air, saya langsung berteriak dan menarik kaki. Panas banget! Saya memperkirakan suhunya sekitar 50&deg;-60&deg; celcius.</p>
<p>Memang kita harus melakukan pemanasan sebelum berendam. Caranya dengan merendam kaki terlebih dahulu supaya tubuh bisa menyesuaikan dengan suhu air.</p>
<p>Panas yang menusuk-nusuk inilah yang dipercaya mampu mengobati berbagai penyakit. Pantas saja, karena syaraf-syaraf langsung terbangun dan otot-otot kaku langsung lemas.</p>
<p>Perlahan-lahan saya mulai memasukkan kaki. Saya menahan panas dengan mengalihkan perhatian dengan melihat-lihat pemandangan sekitar yang menyegarkan. Sesekali burung elang tampak terbang di kejauhan.</p>
<p>Kaki yang terendam sontak berwarna lebih merah. Aliran darah yang lebih deras membuat warna kulit menjadi begitu.</p>
<p>Ketika dirasa sudah &#8220;terbiasa&#8221;, saya pun mulai merendam bagian tubuh lainnya, mulai dari paha, perut, hingga akhirnya seleher. Ketika merendam bagian selangkangan, rasanya panas luar biasa. <img src='http://jengjeng.matriphe.com/smilies/yahoo_bigsmile.gif' alt='&#58;&#68;' class='wp-smiley' width='18' height='18' title='&#58;&#68;' /> Maklum lah.. <img src='http://jengjeng.matriphe.com/smilies/yahoo_giggle.gif' alt='&#59;&#41;&#41;' class='wp-smiley' width='18' height='18' title='&#59;&#41;&#41;' /></p>
<p>Saya langsung merasa rileks. Mata mulai terkantuk-kantuk. Penat dan capek langsung sirna. Rasa panas yang tadi dirasa berubah menjadi lebih hangat dan nyaman.</p>
<p>Menyiramkan air panas ke tengkuk dan kepala membuat pusing dan pening saya hilang. Rasanya enak banget seperti dipijat.</p>
<p><img src="http://jengjeng.matriphe.com/wp-content/uploads/2008/12/berendam-air-panas.jpg" alt="Berendam Air Panas" title="Berendam Air Panas" width="350" height="263" class="alignnone size-full wp-image-983" /></p>
<p>Keunikan air panas di Gunung Pancar adalah air ini minim belerang. Maklum saja, air panas ini berasal dari panas bumi yang dialirkan melalui pipa-pipa ke kolam.</p>
<p>Bila ingin menyembuhkan penyakit kulit, sabun belerang bisa dibeli pula di tempat ini. Bila berani, silakan mencoba sensasi berbeda dengan merasakan pijatan dari air pancuran yang tentu lebih panas daripada air kolam.</p>
<p>Seorang bapak tiba-tiba masuk ke dalam kolam dan berkata, &#8220;air di sini ternyata gak begitu panas, lebih panas di kolam sebelah&#8221;, dengan enteng. Buset! <img src='http://jengjeng.matriphe.com/smilies/yahoo_ooooh.gif' alt='&#58;&#45;&#111;' class='wp-smiley' width='18' height='18' title='&#58;&#45;&#111;' /></p>
<p>Ternyata yang dimaksud adalah kolam yang khusus untuk terapi pengobatan. Airnya memang lebih panas. Saya melihat seorang nenek yang sedang dibopong menuju ke kolam terapi ini.</p>
<p>Ndak lama, sekitar 10 menit berendam, saya mentas. Panas terlalu lama memang kurang begitu baik, apalagi untuk kesehatan &#8220;si otong&#8221;.. <img src='http://jengjeng.matriphe.com/smilies/yahoo_giggle.gif' alt='&#59;&#41;&#41;' class='wp-smiley' width='18' height='18' title='&#59;&#41;&#41;' /></p>
<p>Setelah selesai berbilas dan berganti pakaian, badan langsung segar dan rileks. Namun celakanya, saking rileksnya, kantuk ndak mau lepas dari pelupuk mata. Pengennya tidur!!</p>
<p>Tempat ini buka selama 24 jam. Mau datang malam hari pun bisa. Tentu sensasinya juga akan berbeda.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://jengjeng.matriphe.com/mata-air-panas-gunung-pancar-air-panas-minim-belerang.html/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>50</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Pizza Meteran, Lezatnya Panjang!</title>
		<link>http://jengjeng.matriphe.com/pizza-meteran-lezatnya-panjang.html</link>
		<comments>http://jengjeng.matriphe.com/pizza-meteran-lezatnya-panjang.html#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 12 Nov 2008 03:37:00 +0000</pubDate>
		<dc:creator>matriphe</dc:creator>
				<category><![CDATA[Kuliner]]></category>
		<category><![CDATA[Bogor]]></category>
		<category><![CDATA[pizza]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://jengjeng.matriphe.com/?p=915</guid>
		<description><![CDATA[Pizza, ternyata ndak hanya berbentuk bundar seperti yang kita kenal selama ini. Isi atau toppingnya pun, ternyata ndak harus melulu itu-itu aja. Di Bogor, ada pizza yang dijual dalam skala ukuran meter. Ya, seperti beli kain, namun kita ndak harus beli sepanjang beberapa meter, namun cukup beberapa centimeter saja. Hari Ahad (9/11) lalu, saya, Dita, [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><img class="alignnone size-full wp-image-916" title="Pizza Meteran" src="http://jengjeng.matriphe.com/wp-content/uploads/2008/11/pizza-meteran.jpg" alt="" width="350" height="263" /></p>
<p>Pizza, ternyata ndak hanya berbentuk bundar seperti yang kita kenal selama ini. Isi atau toppingnya pun, ternyata ndak harus melulu itu-itu aja.</p>
<p>Di Bogor, ada pizza yang dijual dalam skala ukuran meter. Ya, seperti beli kain, namun kita ndak harus beli sepanjang beberapa meter, namun cukup beberapa centimeter saja.</p>
<p><span id="more-915"></span>Hari Ahad (9/11) lalu, saya, <a title="Nonadita" href="http://nonadita.com/" target="_blank">Dita</a>, dan <a title="Suprie" href="http://suprie.in.ruangkopi.com/" target="_blank">Suprie</a> nyobain pizza meteran tersebut yang dijual di Pastel &amp; Pizza Risttafel Pap, Jalan Binamarga I/1, Bogor. Letaknya pun cukup strategis. Berada di tepi jalan tol Jagorawi, ketika keluar dari gerbang tol Bogor, ambil arah ke Tanah Baru (Novotel Bogor).</p>
<p>Bangunan bercorak art-deco ini begitu mengesankan. Kanopi-kanopi yang berada di atas jendela berkotak-kotak, plus lampu-lampu gantung, serta desain interior yang bergaya campuran Eropa dan Indonesia benar-benar memberikan konsep berbeda.</p>
<p>Bagi yang pernah berkunjung ke DBC, Macaroni Panggang, atau Pie Apple Pie, suasana semacam ini tentunya ndak asing lagi. Tentu saja, karena pengelola keempat resto tersebut masih dalam satu grup.</p>
<p>Kami langsung menuju ke lantai paling atas yang diberi nama ruang &#8220;jantung pisang&#8221;. Kami memilih ruangan ini karena menginginkan pemandangan yang lebih leluasa.</p>
<p><img class="alignnone size-full wp-image-917" title="Ruang Jantung Pisang" src="http://jengjeng.matriphe.com/wp-content/uploads/2008/11/ruang-jantung-pisang.jpg" alt="" width="350" height="263" /></p>
<p>Sebenernya ada beberapa ruangan yang bisa dipilih. Namun kami memilih berada di ruangan paling atas.</p>
<p>Kami pun memesan menu andalah resto ini, pizza meteran. Kami memesan pizza sepanjang seperempat meter yang berisi 4 slice pizza. Harganya pun cukup murah, 9 ribu rupiah per slice. Per slice memiliki panjang sekitar 15 cm dengan lebar sekitar 6 cm (25 cm / 4).</p>
<p>Rasa dari pizza ini begitu unik. Beef pizza yang kami pesan ini rupanya diisi dengan berbagai macam sayuran, ada wortel, kacang kapri, hingga biji jagung manis, plus irisan jamur kuping yang di atasnya diseruti keju chedar.</p>
<p>Rotinya pun empuk, beda banget dengan pizza waralaba semacam Pizza Hut atau Papa Ron&#8217;s. Rupanya bahan dasar roti pizza ini hampir sama dengan bahan dasar pie yang juga dijual di tempat ini. Pantas saja terasa beda dan enak.</p>
<p>Selain genre asin, resto ini juga menjual pizza dari genre manis. Pizza dengan topping coklat berhias strawberry sayangnya belum sempat saya coba ketika melihatnya di meja depan.</p>
<p>Sebuah tungku dari batu bata juga dapat kita lihat ketika kita masuk. Tungku ini masih dipakai walau sangat jarang dikarenakan kendala sulitnya mencari kayu sebagai bahan bakar tungku ini. Bila pizza dipanggang dengan tungku ini, rasanya pun akan lebih mantab.</p>
<p><img class="alignnone size-full wp-image-918" title="Ruang Pala" src="http://jengjeng.matriphe.com/wp-content/uploads/2008/11/ruang-pala.jpg" alt="" width="350" height="263" /></p>
<p>Kami mencoba turun ke bawah. Tak hanya meja-kursi, ada tempat khusus bagi kita yang ingin menikmati pizza sambil duduk bersila sambil beralaskan bantal duduk. Kursinya yang terbuat dari campuran besi dan kayu juga terasa empuk karena bantalan pantat yang tebal.</p>
<p>Tempat ini memang cocok untuk merayakan ultah atau kopdar karena tempatnya yang luas. Makanannya pun enak dan boleh ditjoebaken.</p>
<p>Namun sayang ada yang kurang. Saya sempat menemukan ada sinyal wi-fi di tempat ini, namun rupanya tidak aktif. Menurut pelayan, memang akan ada wi-fi, namun perkara gratis, saya meragukan. Kalo mo yang gratis dan kuenceng, datang aja ke <a title="Wetiga: Warung Wedangan Wi-fi" href="http://jengjeng.matriphe.com/index.php/2008/11/01/wetiga-warung-wedangan-wi-fi.html">Wetiga</a>. <img src='http://jengjeng.matriphe.com/smilies/yahoo_bigsmile.gif' alt='&#58;&#68;' class='wp-smiley' width='18' height='18' title='&#58;&#68;' /></p>
<p>Belum lagi adanya biaya colok listrik yang mahalnya minta ampun. Untuk laptop, sejam dikenai biaya 10 ribu dan untuk henpon (charging batere) dikenai 5 ribu per jam.</p>
<p>Ah, rasanya akan lebih asyik kalo ada wi-fi gratis dan bebas nyolok listrik. Dijamin tempat ini bakal jadi tempat nongkrong yang asyik.</p>
<p>Atau kita tunggu saja Wetiga buka cabang di Bogor? <img src='http://jengjeng.matriphe.com/smilies/yahoo_giggle.gif' alt='&#59;&#41;&#41;' class='wp-smiley' width='18' height='18' title='&#59;&#41;&#41;' /></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://jengjeng.matriphe.com/pizza-meteran-lezatnya-panjang.html/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>39</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Ayam Geprek Bikin Merem Melek</title>
		<link>http://jengjeng.matriphe.com/ayam-geprek-bikin-merem-melek.html</link>
		<comments>http://jengjeng.matriphe.com/ayam-geprek-bikin-merem-melek.html#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 30 Jun 2008 12:13:13 +0000</pubDate>
		<dc:creator>matriphe</dc:creator>
				<category><![CDATA[Kuliner]]></category>
		<category><![CDATA[ayam geprek]]></category>
		<category><![CDATA[Bogor]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://jengjeng.matriphe.com/index.php/2008/06/30/ayam-geprek-bikin-merem-melek.html</guid>
		<description><![CDATA[Berawal dari rasa penasaran saya terhadap nama menu yang cukup terkenal di Bogor ini, saya pun akhirnya mencobanya. Rasa penasaran saya semakin bertambah apalagi setelah melihat begitu banyak orang yang rela antri berdiri-diri hanya demi menikmati sepotong daging ayam. Bertempat di warung Ayam Geprek Istimewa, Jl. Bangbarung Raya No. 54, Bantarjati, Bogor, warung ini terletak [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><img src="http://jengjeng.matriphe.com/wp-content/uploads/2008/06/ayam-geprek1.jpg" alt="Ayam Geprek" title="Ayam Geprek" width="350" height="263" class="alignnone size-full wp-image-1158" /></p>
<p>Berawal dari rasa penasaran saya terhadap nama menu yang cukup terkenal di Bogor ini, saya pun akhirnya mencobanya.</p>
<p>Rasa penasaran saya semakin bertambah apalagi setelah melihat begitu banyak orang yang rela antri berdiri-diri hanya demi menikmati sepotong daging ayam.</p>
<p><span id="more-754"></span>Bertempat di warung Ayam Geprek Istimewa, Jl. Bangbarung Raya No. 54, Bantarjati, Bogor, warung ini terletak berada di samping rumah bergaya art deco dengan taman yang cukup rimbun.</p>
<p>Menurut <a href="http://nonadita.com/" title="Nona Dita" target="_blank">si pecinta ayam geprek</a>, yang istimewa dari ayam ini adalah <a href="http://nonadita.dagdigdug.com/archives/555" title="Sambel Ayam Geprek" target="_blank">sambalnya</a> benar-benar maut. La kalo gitu makan saja sambalnya tanpa ayam. <img src='http://jengjeng.matriphe.com/smilies/yahoo_laughloud.gif' alt='&#58;&#41;&#41;' class='wp-smiley' width='18' height='18' title='&#58;&#41;&#41;' /></p>
<p>Sembari menunggu tempat duduk, saya melihat-lihat sekeliling. Tempat yang ndak begitu luas, membuat para pengunjung sampe rela antri berdiri-diri.</p>
<p>Warung ini pun banyak didatangi oleh berbagai kalangan, mulai dari keluarga, pasangan ABG, hingga eksekutif muda berdasi ada di sini.</p>
<p>Akhirnya setelah menunggu cukup lama, saya mendapat tempat duduk. Duduk di sebuah kursi rotan dan menghadap meja rotan bundar dengan selembar kaca di atasnya, pelayan datang menghantarkan menu.</p>
<p>Suasana yang begitu ramai membuat saya langsung merasa kurang nyaman. Bayangkan, anda hendak makan, namun seolah-olah anda ditunggui untuk segera menghabiskan makanan anda dan cabut dari tempat duduk karena meja akan dipakai oleh pengunjung lainnya.</p>
<p>Kami memesan Ayam Geprek, Tahu Susur, dan Tumis Kangkung. Agak lama, pesanan kami akhirnya datang. Rupanya karena saking banyaknya pengunjung, pelayannya cukup kerepotan.</p>
<p>Bentuk dari ayam goreng ini lucu juga. Gepeng karena &#8220;digeprek&#8221;, ndak kayak ayam goreng lainnya yang biasanya <em>mekungkung</em> dan <em>mlenuk</em> di atas piring. <img src='http://jengjeng.matriphe.com/smilies/yahoo_bigsmile.gif' alt='&#58;&#68;' class='wp-smiley' width='18' height='18' title='&#58;&#68;' /></p>
<p>Entah bagaimana teknik menggepreknya, namun rupanya daging ayam ini bisa menjadi sedemikian lunak. Sekali tarik, daging pun langsung sobek tanpa perlawanan.</p>
<p>Remah-remahan tepung berbumbu semakin memeriahkan suasana dengan rasa kriuk-kriuknya. Warna kuning terang menunjukkan minyak yang digunakan untuk menggoreng masih cukup bagus.</p>
<p>Saya pun mencoba rasa ayamnya. Rasa gurih cenderung asin merupakan rasa ayam yang dominan. Dita memaksa saya untuk mencoba sambalnya. Woh, padahal saya ini ndak doyan sambal, je. <img src='http://jengjeng.matriphe.com/smilies/yahoo_waiting.gif' alt='&#58;&#45;&#119;' class='wp-smiley' width='23' height='18' title='&#58;&#45;&#119;' /></p>
<p>Melihat bentuk sambalnya saja saya sudah bergidik ngeri. Warna merah-oranye dengan sedikit warna hijau yang muncul malu-malu membuat saya meringis.</p>
<p>Bau cabe rawit langsung menyeruak seolah hendak menunjukkan kegarangannya, bahkan sebelum sampai ke mulut. Ndak mau dibilang cemen, saya pun akhirnya menguji nyali.</p>
<p>Saya memberanikan diri mendulit sambal yang ada dan dengan dada berdebar-debar saya memasukkannya ke dalam mulut.</p>
<p>Begitu masuk ke dalam mulut, lidah saya langsung terbakar, mata saya langsung merem-melek, kebakaraaann!!! <img src='http://jengjeng.matriphe.com/smilies/yahoo_ooooh.gif' alt='&#58;&#111;' class='wp-smiley' width='18' height='18' title='&#58;&#111;' /></p>
<p>Teh manis punya Dita langsung saya sikat dengan kalap. Buset, kok bisa-bisanya dia bisa jatuh cinta sama sambal yang sedemikian laknat?</p>
<p>Dita cuma ketawa melihat saya kepedasan. Saya masih saja merem melek.</p>
<p>Akhirnya saya harus puas dengan menikmati ayam dengan rekan tumis kangkung. Sedangkan Dita malah asyik ber-huh-hah-huh-hah menikmati sensasi pedas sambil nyruputi tulang.. <img src='http://jengjeng.matriphe.com/smilies/yahoo_laughloud.gif' alt='&#58;&#41;&#41;' class='wp-smiley' width='18' height='18' title='&#58;&#41;&#41;' /></p>
<p>Sensasi rasa pedas masih tersisa di mulut, menunjukkan betapa kejamnya itu sambal. Uniknya, banyak orang datang ke tempat ini justru karena tergila-gila dengan sambalnya yang laknat itu.</p>
<p>Tahu Susurnya juga lumayan istimewa. Tepung yang menyelimuti tahu inilah yang saya rasakan begitu istimewa. Sedangkan isinya, ya seperti tahu isi biasa, seonggok tauge dan potongan wortel.</p>
<p>Menurut saya, Ayam Geprek ini ndak begitu istimewa. Ketenaran menu ini justru tertolong oleh kedahsyatan sambalnya.</p>
<p>Bagi penyuka sambal, tiada salahnya untuk mencoba menu ini. Siapa tau anda bisa tergila-gila kayak <a href="http://nonadita.dagdigdug.com/?s=ayam+geprek" title="Nona Dita Geprek" target="_blank">si Dita Geprek</a> itu. <img src='http://jengjeng.matriphe.com/smilies/yahoo_giggle.gif' alt='&#59;&#41;&#41;' class='wp-smiley' width='18' height='18' title='&#59;&#41;&#41;' /></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://jengjeng.matriphe.com/ayam-geprek-bikin-merem-melek.html/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>72</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Kue Putu Tanpa Bambu</title>
		<link>http://jengjeng.matriphe.com/kue-putu-tanpa-bambu.html</link>
		<comments>http://jengjeng.matriphe.com/kue-putu-tanpa-bambu.html#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 25 Jun 2008 09:28:58 +0000</pubDate>
		<dc:creator>matriphe</dc:creator>
				<category><![CDATA[Kuliner]]></category>
		<category><![CDATA[Bogor]]></category>
		<category><![CDATA[putu]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://jengjeng.matriphe.com/index.php/2008/06/25/kue-putu-tanpa-bambu.html</guid>
		<description><![CDATA[Saya jadi teringat tebak-tebakan jaman kecil dulu. &#8220;Penjual apa yang menjajakan dagangannya dengan cara menangis?&#8221; Yak, pedagang Kue Putu, jawabannya. Bukan karena penjualnya beneran nangis, namun suara &#8220;hhuuuuuuu&#8221; panjang dari cerobong peluit yang tertiup uap air yang mirip dengan suara tangisan inilah sebabnya. Masih dari Bogor, saya menemukan kembali penjual Kue Putu. Namun yang unik, [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><img src="http://jengjeng.matriphe.com/wp-content/uploads/2008/06/kue-putu1.jpg" alt="Kue Putu" title="Kue Putu" width="350" height="263" class="alignnone size-full wp-image-1160" /></p>
<p>Saya jadi teringat tebak-tebakan jaman kecil dulu. &#8220;Penjual apa yang menjajakan dagangannya dengan cara menangis?&#8221;</p>
<p>Yak, pedagang Kue Putu, jawabannya. Bukan karena penjualnya beneran nangis, namun suara &#8220;hhuuuuuuu&#8221; panjang dari cerobong peluit yang tertiup uap air yang mirip dengan suara tangisan inilah sebabnya.</p>
<p><span id="more-743"></span>Masih dari Bogor, saya menemukan kembali penjual Kue Putu. Namun yang unik, Kue Putu ini diuapkan tidak di dalam selongsong bambu, namun dalam potongan pipa PVC!</p>
<p><img src='http://jengjeng.matriphe.com/wp-content/uploads/2008/06/putu-pralon.jpg' alt='Putu di dalam pipa' class="alignright" /></p>
<p>Sebuah pipa berdiameter sekitar 5 cm dipotong sepanjang kurang lebih 10 cm kemudian dililit karet bekas ban digunakan untuk menguapi adonan &#8220;serbuk&#8221; beras.</p>
<p>Inilah ciri khas Kue Putu, penguapan dengan uap air melalui lubang kecil ini membuat gula merah yang disisipkan di tengah adonan menjadi meleleh dan &#8220;serbuk&#8221; beras tadi menjadi lebih hangat dan bisa menyatu.</p>
<p>Kita sering melihat penggunaan bambu untuk melakukan &#8220;pengukusan&#8221; seperti ini, namun rupanya bahan bambu yang mudah rusak membuat sang penjual berpikir kreatif dan nyeleneh, yaitu menggunakan pipa PVC yang lebih awet demi menghemat biaya maintenance. <img src='http://jengjeng.matriphe.com/smilies/yahoo_bigsmile.gif' alt='&#58;&#68;' class='wp-smiley' width='18' height='18' title='&#58;&#68;' /></p>
<p>Memang penggunaan bambu atau pun pipa, ndak berpengaruh sama sekali ke rasa. Begitu pula dalam urusan bentuk. Namun, ide kreatif inilah yang menurut saya unik.</p>
<p>Saya teringat dengan Kue Putu sejenis yang pernah saya temukan pula pas jaman kecil ketika main di tempat bude saya di Bogor.</p>
<p>Kue Putu diuapi dalam selongsong bambu berdiameter besar! Sekitar 10 cm barangkali ada. Dan untuk menguapkannya pun, dibutuhkan 3 lubang penghembus uap sekaligus.</p>
<p>Serbuk beras itu sebenernya sudah matang. Dimakan langsung tanpa diuapi pun bisa. Rasanya? Hambar cenderung gurih. Bila ndak percaya silakan mencoba. <img src='http://jengjeng.matriphe.com/smilies/yahoo_bigsmile.gif' alt='&#58;&#68;' class='wp-smiley' width='18' height='18' title='&#58;&#68;' /></p>
<p>Adonan tepung beras dan air dikukus terlebih dulu. Setelah matang dan bisa dibentuk,  adonan dimasukkan ke dalam saringan kawat, lalu ditekan dan gosok-gosok dengan tangan sehingga adonan keluar dalam bentuk butiran.</p>
<p><img src='http://jengjeng.matriphe.com/wp-content/uploads/2008/06/bikin-kue-putu.jpg' alt='Masukkan adonan ke dalam pipa' /></p>
<p>Nah, adonan &#8220;serbuk&#8221; inilah yang kemudian dimasukkan ke dalam potongan pipa dan &#8220;dikukus&#8221;. Jangan lupa, serutan gula jawa harus dimasukkan di tengah supaya mak nyus.</p>
<p>Tak lama, sekitar semenit adonan kue dalam pipa matang. Dengan menggunakan semacam <em>sunduk</em> dari kayu, adonan dalam pipa ini disodok hingga keluar dari pipa. Srut.. Srut.. Srut!</p>
<p>Satu per satu silinder-silinder hangat pengundang selera itu pun disusun seperti piramid, sebelum ditaburi parutan kelapa.</p>
<p>Bila saya perhatikan, ada beberapa perbedaan dengan Kue Putu yang saya temukan di Solo, juga pas saya masih kecil. Kue Putu di Solo berwarna putih, sedangkan yang saya temukan di Bogor (dan juga di Jakarta) berwarna hijau. Warna hijau ini dibuat dengan menggunakan air daun suji.</p>
<p>Penjualnya pun, ada yang menggunakan sepeda dan ada juga yang menggunakan pikulan.</p>
<p><img src='http://jengjeng.matriphe.com/wp-content/uploads/2008/06/penjual-kue-putu.jpg' alt='Penjual Kue Putu' /></p>
<p>Seperti pada penjual Kue Putu di atas. Dengan mengempelkan stiker karakter tokoh super hero semacam Spiderman, menjadikan rombong dagangannya terlihat lebih rame, ciamik, meriah, dan nyentrik!</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://jengjeng.matriphe.com/kue-putu-tanpa-bambu.html/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>55</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Kecap Zebra, Kecap Asli Bogor</title>
		<link>http://jengjeng.matriphe.com/kecap-zebra-kecap-asli-bogor.html</link>
		<comments>http://jengjeng.matriphe.com/kecap-zebra-kecap-asli-bogor.html#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 23 Jun 2008 07:14:24 +0000</pubDate>
		<dc:creator>matriphe</dc:creator>
				<category><![CDATA[Kuliner]]></category>
		<category><![CDATA[Bogor]]></category>
		<category><![CDATA[kecap]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://jengjeng.matriphe.com/index.php/2008/06/23/kecap-zebra-kecap-asli-bogor.html</guid>
		<description><![CDATA[Pas keluyuran ngicip-icip penganan di Bogor kemarin, saya menemukan penjual soto yang menggunakan kecap (cap) Zebra. Konon kecap ini adalah kecap asli Bogor yang telah ada sejak kurang lebih 60 tahun yang lalu. Pabrik kecap ini berdiri pada tahun 1945 di daerah Gunung Batur, Bogor. Pabrik ini dibangun oleh Soedjono, seorang pembuat kecap yang mempunyai [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><img src="http://jengjeng.matriphe.com/wp-content/uploads/2008/06/kecap-zebra1.jpg" alt="Kecap dan Cuka Cap Zebra" title="Kecap dan Cuka Cap Zebra" width="350" height="263" class="alignnone size-full wp-image-1162" /></p>
<p>Pas <a href="http://suprie.in.ruangkopi.com/2008/06/23/weekend-kemarin/" title="Weekend Kemarin" target="_blank">keluyuran</a> <a href="http://ndobos.com/2008/06/23/bersama-keluarga/" title="Bersama Keluarga" target="_blank">ngicip-icip penganan</a> di Bogor kemarin, saya menemukan penjual soto yang menggunakan kecap (cap) Zebra.</p>
<p>Konon kecap ini adalah kecap asli Bogor yang telah ada sejak kurang lebih 60 tahun yang lalu.</p>
<p><span id="more-741"></span>Pabrik kecap ini berdiri pada tahun 1945 di daerah Gunung Batur, Bogor.  Pabrik ini dibangun oleh Soedjono, seorang pembuat kecap yang mempunyai keahlian turun temurun dalam dunia perkecapan, yang berasal dari Juwana, Pati, Jawa Tengah.</p>
<p>Kecap produksi Soedjono awalnya diberi nama label Badak, namun setelah berproduksi selama 5 tahun, merk itu ternyata banyak dipalsukan dan membuat usaha kecap ini kolaps.</p>
<p>Tahun 1960, label Badak pun diganti dengan label Zebra. Ndak ingin mengulangi kerugiannya di masa lalu, merk ini segera dipatenkan.</p>
<p>Ndak seperti pabrik kecap lainnya, konon semua proses pembuatan kecap ini pun masih menggunakan cara tradisional. Mulai dari fermentasi, pengolahan, dan pengemasan, semuanya hand-made alias tradisional.</p>
<p>Bahan bakunya pun, kebanyakan masih alami. Kedelai yang telah difermentasi selama 1 bulan, dicampur dengan gula kelapa, garam,  bumbu, dan air. Satu-satunya bahan pengawet hanyalah <em>Natrium benzoat</em> yang umum digunakan dalam industri makanan.</p>
<p>Kemasannya pun unik. Botol kecap biasa yang cuma ditempeli label kertas dengan cetakan duo-tone, hitam-putih. Logo Zebra yang digunakan, bila diperhatikan, adalah Zebra jantan.</p>
<p>Kok tau itu jantan atau betina? Liat dari stripingnya. Zebra jantan warnanya putih bergaris hitam, sedangkan zebra betina berwarna hitam bergaris putih. <img src='http://jengjeng.matriphe.com/smilies/yahoo_bigsmile.gif' alt='&#58;&#68;' class='wp-smiley' width='18' height='18' title='&#58;&#68;' /></p>
<p>Dengan desain yang klasik banget ini membuat kecap ini begitu unik dan lucu. Ah, soal perlabel-an ini, <a href="http://label.blogombal.org/2007/03/01/kecap-bergaris/" title="Kecap Bergaris" target="_blank">Paman Gombal</a> itu lebih tau banyak.</p>
<p>Label-label beginian ini mengingatkan saya pada Kecap Cap Jeruk dengan foto sepasang suami istri keturunan Tionghoa di label belakangnya jaman saya kecil ketika di Surabaya. Hoho..</p>
<p>Namun, yang bikin saya penasaran, kenapa menggunakan gambar Zebra? Kenapa ndak menggunakan Talas sebagai merk kecap? Mungkin njenengan tau? <img src='http://jengjeng.matriphe.com/smilies/yahoo_giggle.gif' alt='&#59;&#41;&#41;' class='wp-smiley' width='18' height='18' title='&#59;&#41;&#41;' /></p>
<p>Sebagai leader dan tetua di dunia perkecapan Bogor, kecap Zebra bisa dibilang menguasai peta kuliner Bogor. Mulai dari pedagang soto hingga tauge goreng, saya melihat kecap ini banyak digunakan.</p>
<p>Rasanya yang khas dan mBogor banget inilah yang mungkin membuat kecap ini tetep menjadi kecap andalan penganan khas Bogor. Soal rasa, <a href="http://tumisgenjer.multiply.com/" title="Andrew Mulianto" target="_blank">Mas Andrew Mulianto</a> si tukang kecap, eh pendekar kecap dari perguruan <a href="http://yahoogroups.com/group/jalansutra" title="JalanSutra" target="_blank">JalanSutra</a> yang pandai membedakan. <img src='http://jengjeng.matriphe.com/smilies/yahoo_bigsmile.gif' alt='&#58;&#68;' class='wp-smiley' width='18' height='18' title='&#58;&#68;' /></p>
<p>Dari botol yang saya temukan, rupanya pabrik ini juga memproduksi cuka makanan dengan label serupa berbeda warna, Cap Zebra! Sebuah diversifikasi usaha yang semoga selalu bertahan. <img src='http://jengjeng.matriphe.com/smilies/yahoo_wink.gif' alt='&#59;&#41;' class='wp-smiley' width='18' height='18' title='&#59;&#41;' /></p>
<p>Pabriknya sekarang, berada di daerah Ciampea, Kabupaten Bogor. Konon kita bisa berkunjung ke pabrik kecap ini dan melihat proses produksinya secara langsung.</p>
<p>Ah, jadi pengen ke sana.. <img src='http://jengjeng.matriphe.com/smilies/yahoo_think.gif' alt='&#58;&#45;&#63;' class='wp-smiley' width='18' height='18' title='&#58;&#45;&#63;' /></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://jengjeng.matriphe.com/kecap-zebra-kecap-asli-bogor.html/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>90</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Soto Kuning Bogor</title>
		<link>http://jengjeng.matriphe.com/soto-kuning-bogor.html</link>
		<comments>http://jengjeng.matriphe.com/soto-kuning-bogor.html#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 04 Jun 2008 01:48:23 +0000</pubDate>
		<dc:creator>matriphe</dc:creator>
				<category><![CDATA[Kuliner]]></category>
		<category><![CDATA[Bogor]]></category>
		<category><![CDATA[soto]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://jengjeng.matriphe.com/index.php/2008/06/04/soto-kuning-bogor.html</guid>
		<description><![CDATA[Ketika jeng-jeng ke Bogor beberapa waktu yang lalu, saya sempat mencicipi soto khas Bogor, yaitu Soto Kuning Bogor. Sebenernya di Bogor sendiri ada 2 gagrak soto, yaitu soto kuning dan soto bening. Kedua soto ini mengikuti pola dasar persotoan, yaitu soto bersantan dan soto ndak bersantan. Kali ini saya mencoba Soto Kuning yang dijual di [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><img src="http://jengjeng.matriphe.com/wp-content/uploads/2008/06/soto-kuning-bogor1.jpg" alt="Soto Kuning Bogor" title="Soto Kuning Bogor" width="350" height="263" class="alignnone size-full wp-image-1168" /></p>
<p>Ketika <a href="http://jengjeng.matriphe.com/index.php/2008/06/02/jeng-jeng-cibujang-bogor.html" title="Jeng-Jeng Cibujang Bogor" target="_blank">jeng-jeng ke Bogor</a> beberapa waktu yang lalu, saya sempat mencicipi soto khas Bogor, yaitu Soto Kuning Bogor.</p>
<p>Sebenernya di Bogor sendiri ada 2 gagrak soto, yaitu soto kuning dan soto bening. Kedua soto ini mengikuti pola dasar persotoan, yaitu soto bersantan dan soto ndak bersantan.</p>
<p><span id="more-716"></span>Kali ini saya mencoba Soto Kuning yang dijual di seputaran Jalan Surya Kencana, tepatnya di dekat perempatan Gang Aut dan Gang Roda, pada pagi hari menjelang siang.</p>
<p>Penjual soto ini menggunakan gerobak dorong, berada di trotoar ala kaki lima. Sebelum soto disajikan, kita dipersilakan memilih sendiri isi dari soto kita. Kebanyakan adalah jeroan semacam babat dan kikil. Ada juga perkedel kentang bila suka.</p>
<p>Setelah isi tersebut kita pilih, daging yang berwarna kuning karena sebelumnya direbus ke dalam kuah soto yang juga berwarna kuning ini kemudian dipotong-potong dan diguyur kuah panas lalu ditaburi potongan seledri dan bawang goreng. Yang namanya soto, tak lengkap rasanya kalo belum dikucuri perasan jeruk nipis.</p>
<p>Soto terhidang di meja. Baunya sudah ngawe-awe seakan menantang untuk disantap. Seperti biasa, saya mencicip dulu kuah soto sebagai basis penilaian suatu soto.</p>
<p>Slurrpp.. Hm.. Santan kental yang warna kuningnya berasal dari kunyit begitu sedap. Saya merasakan sedikit rasa minyak samin di sana. Pada beberapa versi, soto ini ada yang menggunakan susu sebagai pengganti santan atau memadukan keduanya. Uniknya, walau menggunakan santan, rasanya ndak eneg. Mungkin karena perasan jeruk nipis yang mampu memberikan rasa segar.</p>
<p>Saya pun mulai mencoba isi soto. Potongan-potongan daging tersebut ternyata sangat lunak dan empuk. Bila biasanya daging babat atau kikil itu terasa alot, di soto ini mitos tersebut terpatahkan.</p>
<p>Nasi putih hangat yang disajikan dengan dibungkus daun pisang berbentuk segitiga memberi kesan unik. Bau nasi hangat yang harum berpadu dengan bau daun pisang yang menyegarkan begitu menggugah selera. Makan nasi soto beralaskan daun pisang memang memberikan sensasi rasa tersendiri.</p>
<p><img src='http://jengjeng.matriphe.com/wp-content/uploads/2008/06/soto-kuning-nasi.jpg' alt='Soto Kuning plus nasi' /></p>
<p>Penjual soto ini mudah ditemui di seantero Bogor. Penasaran? Mungkin <a href="http://nonadita.com/" title="Nona Dita" target="_blank">nona manis berlirikan mata dahsyat</a> ini bisa mengajak anda menjelajah eksotisme kuliner Kerajaan Sillymangi tersebut. <img src='http://jengjeng.matriphe.com/smilies/yahoo_giggle.gif' alt='&#59;&#41;&#41;' class='wp-smiley' width='18' height='18' title='&#59;&#41;&#41;' /></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://jengjeng.matriphe.com/soto-kuning-bogor.html/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>38</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Jeng-Jeng Cibujang Bogor</title>
		<link>http://jengjeng.matriphe.com/jeng-jeng-cibujang-bogor.html</link>
		<comments>http://jengjeng.matriphe.com/jeng-jeng-cibujang-bogor.html#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 02 Jun 2008 06:11:19 +0000</pubDate>
		<dc:creator>matriphe</dc:creator>
				<category><![CDATA[Kumpul-Kumpul]]></category>
		<category><![CDATA[Travelogue]]></category>
		<category><![CDATA[Bogor]]></category>
		<category><![CDATA[Cibubur]]></category>
		<category><![CDATA[kopdar]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://jengjeng.matriphe.com/index.php/2008/06/02/jeng-jeng-cibujang-bogor.html</guid>
		<description><![CDATA[Berawal dari kopdar dadakan yang diadakan oleh Simbok di Cibujang, dengan tergopoh-gopoh saya pun ndoyok kembali. Nanggung, setelah kopdar pun, pendoyokan saya lanjutkan ke Bogor. Manstab surantab dan ndoyok sekali pokoknya lah! Saya dikontak Simbok sekitar pukul 3 sore. La padahal waktu itu saya sedang pindahan kos karena ndak betah tinggal di apartemen. Maklum, wong [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><img src="http://jengjeng.matriphe.com/wp-content/uploads/2008/06/cibujang-bogor1.jpg" alt="Jeng-Jeng Cibujang Bogor" title="Jeng-Jeng Cibujang Bogor" width="350" height="263" class="alignnone size-full wp-image-1169" /></p>
<p>Berawal dari kopdar dadakan yang diadakan oleh <a href="http://venus-to-mars.com/" title="Venus" target="_blank">Simbok</a> di <acronym title="Cibubur Jangsyen (Junction)">Cibujang</acronym>, dengan tergopoh-gopoh saya pun ndoyok kembali.</p>
<p>Nanggung, setelah kopdar pun, pendoyokan saya lanjutkan ke Bogor. Manstab surantab dan ndoyok sekali pokoknya lah! <img src='http://jengjeng.matriphe.com/smilies/yahoo_laughloud.gif' alt='&#58;&#41;&#41;' class='wp-smiley' width='18' height='18' title='&#58;&#41;&#41;' /></p>
<p><span id="more-711"></span>Saya dikontak Simbok sekitar pukul 3 sore. La padahal waktu itu saya sedang pindahan kos karena ndak betah tinggal di apartemen. Maklum, wong ndeso, ndak bakat kaya, tidur di ruangan adem ber-AC membuat saya sering sakit-sakitan karena pilek kedinginan.</p>
<p>Saya pun memilih kos di pinggiran yang nuansanya lebih tenang, ndak ada suara klakson tan-tin-tan-tin laknat bangsat keparat, dan cuma sak lemparan cawet kalo mo ke office.. Cieh, office, ndes! <img src='http://jengjeng.matriphe.com/smilies/yahoo_laughloud.gif' alt='&#58;&#41;&#41;' class='wp-smiley' width='18' height='18' title='&#58;&#41;&#41;' /></p>
<p>Setelah urusan kos perkosan (awas, bukan perkosaan) kelar, saya pun berangkat menuju lokasi yang ditentukan: Cibubur Junction!</p>
<p>Menarik! Karena saya belum pernah ke sana, radar ndoyok saya segera saya asah kembali karena saya takut radar itu tumpul karena jarang dipakai semenjak saya di Jakarta.</p>
<p>Saya pun mengikuti petunjuk dari Simbok. Sebenernya saya disarankan naik taksi saja, namun saya lebih suka naik angkutan umum karena saya merasa ndoyok saya ndak nge-soul kalo naik taksi. Lagian, dengan menggunakan angkutan umum, saya bisa lebih mudah menghafal rute dan jalan. <img src='http://jengjeng.matriphe.com/smilies/yahoo_bigsmile.gif' alt='&#58;&#68;' class='wp-smiley' width='18' height='18' title='&#58;&#68;' /></p>
<p>Saya memilih naik busway untuk menuju ke <acronym title="Universitas Kristen Indonesia, Cawang">UKI</acronym>, karena saya mengkhawatirkan terjadinya macet. Lagian, belum semua koridor busway saya coba, terutama daerah timur, maka saya pun waton nekat saja untuk ke UKI pake busway.</p>
<p>Setau saya, Cibubur itu berada di daerah selatan agak ke timur. Maka dari Sarinah saya naik busway koridor 1 lalu transit ke koridor 4 di Dukuh Atas menuju Pulo Gadung kemudian transit lagi di Matraman mengambil koridor 5 ke arah Kampung Melayu dan disambung ke koridor 7 arah Kampung Rambutan. Mehong, ternyata ada busway yang rutenya langsung ke arah Kampung Rambutan tanpa transit di Kampung Melayu!</p>
<p>Saya memang terbebas dari macet, namun sialnya saya harus mengantre berjejal-jejal di halte Kampung Melayu yang menurut maki-makian penumpang yang lain, itu busway telat datangnya! Mehong, sekali lagi mehong!! <img src='http://jengjeng.matriphe.com/smilies/yahoo_waiting.gif' alt='&#58;&#45;&#119;' class='wp-smiley' width='23' height='18' title='&#58;&#45;&#119;' /></p>
<p>Setelah sampai di UKI, saya sempet clingak-clinguk kayak fotomodel belom gajian karena sama sekali buta rute. Manalagi itu pertama kalinya saya berada di UKI.</p>
<p>Karena saya ndak melihat angkot Elf K56 warna oranye di seputaran UKI, plus waktu yang sudah mepet karena Simbok ndak bisa pulang malem, maka saya pun ngawe taksi yang menuju ke arah selatan.</p>
<p>Kok kamu tau itu arah selatan, Zam? Lah.. Feeling saya soal arah mata angin ini lumayan canggih, bro! Kecuali kalo dah masuk mol, saya langsung buta arah! <img src='http://jengjeng.matriphe.com/smilies/yahoo_laughloud.gif' alt='&#58;&#41;&#41;' class='wp-smiley' width='18' height='18' title='&#58;&#41;&#41;' /></p>
<p>Keluar tol, saya langsung disambut macet sampe di depan Cibubur Junction. Modiar! Namun akhirnya saya pun tiba dengan selamat sentosa bahagia sejahtera dan langsung disambut oleh Simbok, <a href="http://bunyinya.dagdigdug.com/" title="Gage" target="_blank">Gage</a>, dan <a href="http://nonadita.com/" title="Dita" target="_blank">Dita</a> dengan gegap gempita! <img src='http://jengjeng.matriphe.com/smilies/yahoo_party.gif' alt='&#60;&#58;&#45;&#112;' class='wp-smiley' width='38' height='18' title='&#60;&#58;&#45;&#112;' /></p>
<p>Si mbak pelayan yang menawari menu langsung saya tanya, &#8220;minuman yang bisa meredakan emosi, apa, mbak?&#8221; <img src='http://jengjeng.matriphe.com/smilies/yahoo_laughloud.gif' alt='&#58;&#41;&#41;' class='wp-smiley' width='18' height='18' title='&#58;&#41;&#41;' /></p>
<p>Nguakak-ngakak sebentar di Kafe Etcetera (susah banget nulisnya), poto-poto, makan-makan minum-minum, pokoke standar kopdar banget,  saya pun curhat gimana caranya pulang kembali ke Jakarta.</p>
<p>Lah.. Si Gage malah nantangin, &#8220;ke Bogor aja yuk..&#8221; Weh.. <img src='http://jengjeng.matriphe.com/smilies/yahoo_drool.gif' alt='&#61;&#112;&#126;' class='wp-smiley' width='18' height='18' title='&#61;&#112;&#126;' /> Saya kalo digoda syaithon macam beginian, paling ndak bisa nolak! <img src='http://jengjeng.matriphe.com/smilies/yahoo_devil.gif' alt='&#62;&#58;&#41;' class='wp-smiley' width='18' height='18' title='&#62;&#58;&#41;' /></p>
<p>Akhirnya saya, Gage, ma Dita koprol ke Bogor. Setelah nganterin Dita pulang, saya ma Gage nyari makan di warung Jawa Timuran pinggir Jalan Sudirman, Bogor. Lah? Ke Bogor kok makannya malah Jawa Timuran?</p>
<p>Gage ngajakin ke warung itu karena ibu penjualnya yang suka nyerocos bahasa Jawa dengan logatnya yang kental kalo ketemu orang yang bisa bahasa Jawa. Benar saja, setelah saya ngomong Jawa, ibu itu langsung nyerocos dengan semangat Soto Lamongan! <img src='http://jengjeng.matriphe.com/smilies/yahoo_laughloud.gif' alt='&#58;&#41;&#41;' class='wp-smiley' width='18' height='18' title='&#58;&#41;&#41;' /></p>
<p><img src='http://jengjeng.matriphe.com/wp-content/uploads/2008/06/soto-lamongan.jpg' alt='Soto Lamongan' /></p>
<p>Setelah makan, kami pun jalan kaki mengelilingi separo Kota Bogor. <img src='http://jengjeng.matriphe.com/smilies/yahoo_ooooh.gif' alt='&#58;&#45;&#111;' class='wp-smiley' width='18' height='18' title='&#58;&#45;&#111;' /> Beneran?</p>
<p>Iya! Kota Bogor kan cuma sekeliling Kebun Raya Bogor itu. <img src='http://jengjeng.matriphe.com/smilies/yahoo_laughloud.gif' alt='&#58;&#41;&#41;' class='wp-smiley' width='18' height='18' title='&#58;&#41;&#41;' /></p>
<p>Sembari jalan kaki, Gage menunjukkan gedung-gedung tua yang rupanya cukup banyak bertebaran. Mulai dari depan Istana Bogor, kami menuju Kantor Walikota. Kebetulan Bogor sedang merayakan hari jadinya yang ke-526. Sayang, kami datang terlambat karena acara open house ke Istana Bogor sudah usai, sehingga kami ndak bisa masuk dan melihat Istana Bogor.</p>
<p>Kami pun kemudian menuju Gereja Katedral. Gereja ini begitu mantab dan megah sekali arsitekturnya. Yang menyebalkan, ketika penjaga menanyakan tujuan kami masuk dan minta ijin foto-foto di situ, Gage menjawab, &#8220;buat kenang-kenangan..&#8221;.</p>
<p>Nyet! Emangnya kita pasangan yang sedang.. Ah, sudahlah.. <img src='http://jengjeng.matriphe.com/smilies/yahoo_sighing.gif' alt='&#58;&#45;&#60;' class='wp-smiley' width='24' height='18' title='&#58;&#45;&#60;' /></p>
<p><img src='http://jengjeng.matriphe.com/wp-content/uploads/2008/06/pasar-bogor.jpg' alt='Pasar Bogor' class="alignright" /></p>
<p>Apalagi di sekitar situ ditengarai banyak pasangan gay yang sedang indehoy berasyik masyuk. Huaseng.. Jangan-jangan saya dan Gage juga dikira.. <img src='http://jengjeng.matriphe.com/smilies/yahoo_nailbiting.gif' alt='&#58;&#45;&#83;&#83;' class='wp-smiley' width='36' height='18' title='&#58;&#45;&#83;&#83;' /></p>
<p>Perjalanan diteruskan. Ketika mo masuk Gereja Zeboth, yang sering juga disebut Gereja Ayam karena di puncak atapnya ada ornamen berbentuk ayam pada penunjuk arah mata angin, 2 ekor anjing penjaga tiba-tiba menyalak dan berlari mengejar kami. Uassuuuuu!!!</p>
<p>Kami pun sampai di Pasar Bogor. Uniknya, ketika malam, jalanan di depan pasar juga berubah menjadi pasar. Berbagai macam jenis sayuran banyak dijual di sini.</p>
<p>Mulai dari talas, wortel, tomat, sawi, kacang panjang, you name it lah! Yang saya suka ketika melewati pasar ini adalah aroma kesegaran dari sayuran ini. It&#8217;s so fresh!</p>
<p>Dari pasar, perjalanan diteruskan menuju landmark Kota Bogor, yaitu, Monumen Tugu Kujang! <img src='http://jengjeng.matriphe.com/smilies/yahoo_bigsmile.gif' alt='&#58;&#68;' class='wp-smiley' width='18' height='18' title='&#58;&#68;' /></p>
<p>Warung roti bakar Saras kemudian menjadi sasaran kami berikutnya karena setelah jalan kurang lebih 2 jam, Soto Lamongan yang jadi bahan bakar cacing perut kami habis. Roti bakar pisang keju yang berpenampilan garang merangsang sedikit mampu membungkam cacing perut yang tak tau diri!</p>
<p>Esok harinya, destinasi kami selanjutnya adalah Warso Farm, sebuah agrowisata kebun durian yang terletak di Desa Cihideung, Kelurahan Cipelang, Kecamatan Cijeruk, Kabupaten Bogor.</p>
<p>Namun sebelumnya saya ma Gage ketemuan ma Dita dan adiknya di kawasan Jalan Surya Kencana. Kami pun sarapan Soto Bogor di seputaran situ untuk membungkam cacing perut yang sudah tereak-tereak sontoloyo.</p>
<p>Sebenernya kami berniat ngajakin <a href="http://anakndobos.wordpress.com/" title="Ghilman" target="_blank">Ghilman</a>, namun sayang seribu sayang, nasib dan rejeki ndak berpihak kepadamu, nak! <img src='http://jengjeng.matriphe.com/smilies/yahoo_laughloud.gif' alt='&#58;&#41;&#41;' class='wp-smiley' width='18' height='18' title='&#58;&#41;&#41;' /></p>
<p><img src='http://jengjeng.matriphe.com/wp-content/uploads/2008/06/duren-raksasa.jpg' alt='Durian Raksasa' class="alignright" /></p>
<p>Untuk menuju ke Warso Farm bisa dengan menggunakan angkot nomor 04A jurusan Cihideung. Kami koprol ke Jalan Batu Tulis untuk nyegat angkot yang dimaksud. Sekitar setengah jam perjalanan yang disambut jalan sempit berbukit, sampailah kami di Warso Farm!</p>
<p>Sungguh berbakat itu supir angkot dan sungguh hebat angkotnya! Sukses kami terguncang jumpalitan di dalam angkot karena jalan berjerawat parah dengan tanpa ragu dan bimbang disikat dengan kecepatan yang mengagumkan! Bravo, senior! <img src='http://jengjeng.matriphe.com/smilies/yahoo_waiting.gif' alt='&#58;&#45;&#119;' class='wp-smiley' width='23' height='18' title='&#58;&#45;&#119;' /></p>
<p>Saya hampir berteriak histeris setelah melihat durian gede banget, namun rupanya itu durian cuma patung sajah! <img src='http://jengjeng.matriphe.com/smilies/yahoo_laughloud.gif' alt='&#58;&#41;&#41;' class='wp-smiley' width='18' height='18' title='&#58;&#41;&#41;' /></p>
<p>Namun Warso Farm rupanya ndak sesuai dengan ekspektasi saya. Bayangan mengambil durian yang langsung jatuh dari pohonnya kemudian menyantapnya di bawah pohon langsung sirna, musnah, binasa!</p>
<p>Rupanya karena sedang bukan musimnya, kami hanya bisa membeli durian di counter yang disediakan. Itu pun harganya lebih mahal daripada kalo beli di supermarket.</p>
<p>Bayang pun! Harga Durian Montong sebesar 2 kg aja masak harganya 70 ribuan?! La saya beli di Hypermart, dengan harga segitu bisa dapet 5 kg! Bahkan di Carrefour harga per ons-nya lebih murah! Halah, malah mbahas harga durian! <img src='http://jengjeng.matriphe.com/smilies/yahoo_laughloud.gif' alt='&#58;&#41;&#41;' class='wp-smiley' width='18' height='18' title='&#58;&#41;&#41;' /></p>
<p>Memang solusi yang bagus sebenernya adalah membeli durian di Hypermart atau Carrefour, kemudian membawanya ke kebun yang luasnya sekitar 7 hektar ini, lalu disantap di sana sepuwasnya! Untuk informasi, masuk ke kebun durian ini ndak dipungut biaya. <img src='http://jengjeng.matriphe.com/smilies/yahoo_devil.gif' alt='&#62;&#58;&#41;' class='wp-smiley' width='18' height='18' title='&#62;&#58;&#41;' /></p>
<p><img src='http://jengjeng.matriphe.com/wp-content/uploads/2008/06/belah-duren.jpg' alt='Belah Duren' /></p>
<p>Di kebun durian ini terdapat berbagai macam jenis durian, antara lain Petruk, Lay, Sunan, Tembaga, Montong, dan Si Mas yang konon merupakan varietas asli Bogor dan menjadi favoritnya Bung Karno.</p>
<p>Suara gemericik air jernih yang mengalir membelah perkebunan dan hijaunya tetumbuhan yang sudah jarang saya lihat lagi di Jakarta bisa membuat segar pikiran.</p>
<p>Warso Farm, yang dipunyai oleh H. Soewarso Pawaka tersebut hanya buka pada hari Sabtu-Minggu dan hari libur saja. Selain kebun durian, di sini terdapat pula restoran keluarga yang menyajikan menu ikan bakar dan sebagainya.</p>
<p>Usai menikmati pesta durian, walau hati ini rasanya belum puwas karena ekspektasi saya berlebihan, kami pun harus kembali ke peradaban. <img src='http://jengjeng.matriphe.com/smilies/yahoo_sighing.gif' alt='&#58;&#45;&#60;' class='wp-smiley' width='24' height='18' title='&#58;&#45;&#60;' /></p>
<p>Perjalanan ala off-roader kembali kami lalui. Saya pun harus berpisah dengan para penggede Kerajaan Sillymangi di Stasiun Bogor.</p>
<p>Setelah beli tiket seharga 2.500 perak, saya segera naek ke sebuah kereta buluk yang saat itu mo berangkat. Lari-lari ngejar kereta dan hup! Dengan sigap dan pose yang bersahaja, saya sukses mencolot masuk ke dalam kereta.</p>
<p>Suasana kereta ekonomi begitu khas. Pedagang hilir mudik sana-sini dan saya cuma duduk beralaskan koran karena saya memberikan tempat duduk saya kepada seorang ibu yang menggendong bayi.</p>
<p>Karena letih, saya pun sempat tertidur karena dihembus sepoi-sepoi angin yang menerobos masuk melalui pintu kereta. Saya terbangun ketika kereta berhenti. Stasiun Lenteng Agung, begitu tulisan di stasiun yang saya baca saat mata saya masih kriyip-kriyip.</p>
<p>Saya baru tersadar, saya akan turun di stasiun mana? Sayup-sayup saya dengar penumpang naik dan bertanya ke sebelahnya, &#8220;ini kereta ke Stasiun (Jakarta) Kota?&#8221;. Sebuah anggukan dari yang ditanya melegakan saya. Baik, saya akan turun di Stasiun akhir Jakarta Kota. Saya ndak pengen <a href="http://matriphe.com/thursday-bad-day.html" title="Thursday Bad Day!" target="_blank">kejadian tolol</a> saya terulang. <img src='http://jengjeng.matriphe.com/smilies/yahoo_bigsmile.gif' alt='&#58;&#68;' class='wp-smiley' width='18' height='18' title='&#58;&#68;' /></p>
<p>Kok milih turun di Kota, Zam? Ya, saya ingin melihat stasiun yang arsitektur bangunan tuanya begitu memukau saya itu. Stasiun paling pangkal di Jakarta ini sudah menyita perhatian saya semenjak melihatnya pertama kali.</p>
<p>Menelusuri lorong dan sudut di stasiun pangkal yang sayang sekali kumuhnya minta ampun ini melemparkan ingatan saya semenjak kecil di stasiun serupa di Surabaya, Stasiun Semut.</p>
<p>Nostalgia semasa kecil ketika bepergian menggunakan kereta api dari Stasiun Semut sekelebat melintas di benak. Duh, saya kangen Emak dan Bapak.. <img src='http://jengjeng.matriphe.com/smilies/yahoo_sad.gif' alt='&#58;&#40;' class='wp-smiley' width='18' height='18' title='&#58;&#40;' /></p>
<p>Puas menikmati senja yang seolah mentari tenggelam dijerat tungkai-tungkai rel yang saling melilit, saya pun melangkahkan kaki keluar. Kaki mengarah ke arah lorong yang terdapat sebuah papan bertuliskan: &#8220;Halte Busway&#8221;..</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://jengjeng.matriphe.com/jeng-jeng-cibujang-bogor.html/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>37</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Segarnya Es Bir Kocok Gang Roda, Bogor</title>
		<link>http://jengjeng.matriphe.com/segarnya-es-bir-kocok-gang-roda-bogor.html</link>
		<comments>http://jengjeng.matriphe.com/segarnya-es-bir-kocok-gang-roda-bogor.html#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 01 Feb 2008 05:45:01 +0000</pubDate>
		<dc:creator>matriphe</dc:creator>
				<category><![CDATA[Kuliner]]></category>
		<category><![CDATA[Bogor]]></category>
		<category><![CDATA[es]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://jengjeng.matriphe.com/index.php/2008/02/01/segarnya-es-bir-kocok-gang-roda-bogor.html</guid>
		<description><![CDATA[Bir, minuman yang mengandung alkohol ini bagi sebagian orang merupakan minuman yang haram untuk dikonsumsi. Namun ini ndak berlaku untuk minuman segar dari Bogor ini. Pas jeng-jeng kemarin, Pakde Mbilung mengajak saya untuk menikmati minuman yang bisa dibilang hampir punah ini. Kalo kita mengenal Bir Pletok, maka tentu kita ndak akan asing lagi dengan Bir [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><img src="http://jengjeng.matriphe.com/wp-content/uploads/2008/02/bir-kocok1.jpg" alt="Bir Kocok" title="Bir Kocok" width="350" height="263" class="alignnone size-full wp-image-1200" /></p>
<p>Bir, minuman yang mengandung alkohol ini bagi sebagian orang merupakan minuman yang haram untuk dikonsumsi.</p>
<p>Namun ini ndak berlaku untuk minuman segar dari Bogor ini.</p>
<p>Pas <a href="http://jengjeng.matriphe.com/index.php/2008/01/30/jengjeng-bogor.html" title="JengJeng Bogor">jeng-jeng</a> kemarin, <a href="http://ndobos.com/" title="Mbilung" target="_blank">Pakde Mbilung</a> mengajak saya untuk menikmati minuman yang bisa dibilang hampir punah ini.</p>
<p><span id="more-620"></span>Kalo kita mengenal Bir Pletok, maka tentu kita ndak akan asing lagi dengan Bir Kocok yang rupanya masih sodaraan sama minuman dari Betawi tersebut.</p>
<p>Minuman segar berbahan air sari jahe ini memang menyegarkan lagi menyehatkan.</p>
<p>Warnanya yang kemerahan diakibatkan oleh campuran kayu manis. Sedangkan bau harumnya muncul dari penggunaan cengkeh.</p>
<p><img src='http://jengjeng.matriphe.com/wp-content/uploads/2008/02/mengocok-bir.jpg' alt='Pak Acep mengocok bir' class="alignright" /></p>
<p>Busa putih yang membuat minuman ini disebut dengan &#8220;bir&#8221; adalah akibat pengocokan campuran air jahe, gula, kayu manis, dan cengkeh ini dengan es batu pada sebuah tabung <em>stainless steel</em> yang memiliki tinggi sekitar 30 cm dan berdiameter 15 cm.</p>
<p>Pak Acep, demikian nama lelaki renta penjual minuman yang sudah mangkal di Gang Roda, Bogor sejak 45 tahun yang lalu.</p>
<p>Bisa dibilang penjual bir kocok di kawasan ini hanyalah Pak Acep seorang.</p>
<p>Kalo pun ada penjual lain, itu adalah anak bungsunya yang ingin meneruskan usaha bapaknya.</p>
<p>Jaman dulu minuman ini sering diminum oleh para calon pengantin yang hendak melangsungkan pernikahan.</p>
<p>Inilah sebabnya minuman ini juga sering disebut dengan &#8220;bir pengantin&#8221;.</p>
<p>Khasiatnya tentunya untuk menjaga kesehatan dan menjaga stamina. <img src='http://jengjeng.matriphe.com/smilies/yahoo_giggle.gif' alt='&#59;&#41;&#41;' class='wp-smiley' width='18' height='18' title='&#59;&#41;&#41;' /></p>
<p>Hampir setiap hari Pak Acep mangkal di Gang Roda. Dalam sehari bisa 2 kali shift ia berjualan.</p>
<p>Jika dagangan pada pagi hari habis, dia akan pulang untuk mengambil stok berikutnya dan akan dijualnya hingga petang menjelang.</p>
<p>Hampir setiap hari pula dagangannya ludes. Konsumennya ndak hanya masyarakat Bogor, namun juga dari Jakarta yang rela ndoyok blusukan.</p>
<p>Eh, bukannya &#8220;orang Jakarta&#8221; itu kebanyakan orang Bogor yang tiap hari ngelajo Bogor-Jakarta? <img src='http://jengjeng.matriphe.com/smilies/yahoo_giggle.gif' alt='&#59;&#41;&#41;' class='wp-smiley' width='18' height='18' title='&#59;&#41;&#41;' /></p>
<p>&#8220;Dulu ada yang jual di sekitar Gambir, tapi sekarang sudah ndak ada lagi&#8221;, kata Pak Acep.</p>
<p><img src='http://jengjeng.matriphe.com/wp-content/uploads/2008/02/gerobak-bir.jpg' alt='Gerobak Es Bir Kocok' /></p>
<p>Pak Acep memang hanya mangkal di Gang Roda. Sejak tahun 1960-an dia menguasai bisnis ini.</p>
<p>Menggunakan gerobak putih yang khas, membuat Pak Acep mudah untuk ditemukan. <img src='http://jengjeng.matriphe.com/smilies/yahoo_bigsmile.gif' alt='&#58;&#68;' class='wp-smiley' width='18' height='18' title='&#58;&#68;' /></p>
<p>Sebelum disajikan, air jahe, gula, kayu manis, dan cengkeh sudah diracik dan dikemas dalam botol-botol. Satu botol berkapasitas 4-5 gelas.</p>
<p>Bila ada pembeli, Pak Acep akan menakar air yang dituang dari botol ke tabung <em>stainless steel</em>-nya bersama pecahan es batu  lalu menggoyang melingkar.</p>
<p>Untuk segelas bir segar ini, kerusakan yang ditimbulkan hanya 2 ribu rupiah saja. Cukup murah, bukan?</p>
<p>Tentunya ini ndak termasuk ongkos dari Jogja ke Bogor, lo ya! <img src='http://jengjeng.matriphe.com/smilies/yahoo_laughloud.gif' alt='&#58;&#41;&#41;' class='wp-smiley' width='18' height='18' title='&#58;&#41;&#41;' /></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://jengjeng.matriphe.com/segarnya-es-bir-kocok-gang-roda-bogor.html/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>39</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>JengJeng Bogor</title>
		<link>http://jengjeng.matriphe.com/jengjeng-bogor.html</link>
		<comments>http://jengjeng.matriphe.com/jengjeng-bogor.html#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 30 Jan 2008 09:01:22 +0000</pubDate>
		<dc:creator>matriphe</dc:creator>
				<category><![CDATA[Travelogue]]></category>
		<category><![CDATA[Bogor]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://jengjeng.matriphe.com/index.php/2008/01/30/jengjeng-bogor.html</guid>
		<description><![CDATA[Tunai sudah janji saya kepada njenengan, Pakde! Ya ya, kemarin itu saya nekat ndoyok ke Bogor, ketemu sama Pakde Mbilung. Tanpa rencana, tanpa agenda, pokoknya ya langsung datang saja. Namanya juga ndoyok. Kebetulan saya ada suatu keperluan di Jakarta. Setelah keperluan saya selesai, tanpa banyak mikir saya langsung ngontak Pakde untuk nagih janji beliau soal [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><img src="http://jengjeng.matriphe.com/wp-content/uploads/2008/01/bogor1.jpg" alt="Bogor" title="Bogor" width="350" height="263" class="alignnone size-full wp-image-1201" />       </p>
<p>Tunai sudah janji saya kepada njenengan, <a href="http://ndobos.com/" title="Pakde Mbilung" target="_blank">Pakde</a>! <img src='http://jengjeng.matriphe.com/smilies/yahoo_bigsmile.gif' alt='&#58;&#68;' class='wp-smiley' width='18' height='18' title='&#58;&#68;' /></p>
<p>Ya ya, kemarin itu saya nekat ndoyok ke Bogor, ketemu sama <a href="http://ndobos.com/" title="Pakde Mbilung" target="_blank">Pakde Mbilung</a>.</p>
<p>Tanpa rencana, tanpa agenda, pokoknya ya langsung datang saja. Namanya juga ndoyok. <img src='http://jengjeng.matriphe.com/smilies/yahoo_giggle.gif' alt='&#59;&#41;&#41;' class='wp-smiley' width='18' height='18' title='&#59;&#41;&#41;' /></p>
<p>Kebetulan saya ada suatu keperluan di Jakarta. Setelah keperluan saya selesai, tanpa banyak mikir saya langsung ngontak Pakde untuk nagih janji beliau soal <a href="http://ndobos.com/archives/369" title="Duren" target="_blank">duren</a>. <img src='http://jengjeng.matriphe.com/smilies/yahoo_drool.gif' alt='&#61;&#112;&#126;' class='wp-smiley' width='18' height='18' title='&#61;&#112;&#126;' /></p>
<p><span id="more-615"></span>Berhubung sore, Pakde menyarankan saya untuk naik kereta Pakuan Ekspress yang berangkat dari Gambir menuju stasiun Bogor dengan jam pemberangkatan terakhir pukul 18.30-an.</p>
<p>Setelah terjebak kemruyukan di halte busway Harmoni yang saat itu memang jam pulang kantor, sampai juga saya di Gambir.</p>
<p>Langsung rogoh kocek buat beli tiket Pakuan Ekspress dan segera nangkring nungguin kereta yang meluncur dari Stasiun Jakarta Kota yang bakal masuk ke jalur 4.</p>
<p>Kereta datang. Setumpukan manusia sudah berjejal di dalam kereta yang bentuknya seperti kereta subway di Jepang itu.</p>
<p><img src='http://jengjeng.matriphe.com/wp-content/uploads/2008/01/pakuan-ekspres.jpg' alt='Suasana di dalam Pakuan Ekspres' /></p>
<p>Ada yang mendapat tempat duduk, ada yang berdiri, ada juga yang duduk di lantai dengan beralas koran yang hari itu <a href="http://tikabanget.com/2008/01/29/kematian-ituh/" title="Kematian ituh.." target="_blank">beritanya seragam</a>.</p>
<p>Kesunyian bener-bener terasa. Rasa capek yang amat sangat membuat para penumpang enggan untuk sekedar bersuara. Mereka tenggelam dalam pikiran dan kesibukannya masing-masing.</p>
<p>Ada yang membaca koran, ada yang mendengarkan mp3 player, ada yang asyik bermain hape, namun banyak juga yang terlelap karena keasyikan digoyang laju kereta.</p>
<p><a href="http://ndobos.com/archives/378" title="Kota Sunyi" target="_blank">Kesunyian metropolitan</a> tercermin dari suasana di kereta ini. Terasa begitu individualistis dan egois. Akankah saya terseret ke kota laknat ini? <img src='http://jengjeng.matriphe.com/smilies/yahoo_sighing.gif' alt='&#58;&#45;&#60;' class='wp-smiley' width='24' height='18' title='&#58;&#45;&#60;' /></p>
<p>Kurang lebih satu jam, akhirnya tiba juga di Stasiun Bogor.</p>
<p>Penumpang langsung berhamburan. Saya pun turun dan cuma melongo melihat keadaan stasiun yang lebih mirip pasar ini. Boleh dibilang, ini pasar yang dikasih rel di tengahnya!</p>
<p>Eksotisme arsitektur bangunan tua Stasiun Bogor nampak muncul samar-samar di antara kumuhnya pasar. Saya hanya bisa bergumam, &#8220;sayang sekali..&#8221;, sambil menghela nafas. <img src='http://jengjeng.matriphe.com/smilies/yahoo_sighing.gif' alt='&#58;&#45;&#60;' class='wp-smiley' width='24' height='18' title='&#58;&#45;&#60;' /></p>
<p>Walau sempet saling mencari, saya pun ketemu Pakde yang menjemput saya.</p>
<p>Ayunan tangan Pakde yang bersemangat ketika menyalami saya seolah-olah menyadarkan saya bahwa dunia masih cukup menyenangkan.</p>
<p>Keriuhan Kota Bogor begitu malam itu terasa berbeda dengan keriuhan Jakarta yang baru saja saya singgahi tadi.</p>
<p>Dengan bersemangat Pakde membawa saya menuju Taman Kencana untuk menikmati Sate Madura tempat makan favorit Pakde Mbilung. Hoho.. Kebetulan sekali ini! <img src='http://jengjeng.matriphe.com/smilies/yahoo_drool.gif' alt='&#61;&#112;&#126;' class='wp-smiley' width='18' height='18' title='&#61;&#112;&#126;' /></p>
<p>Setelah kenyang, Pakde mengajak saya berkeliling sejenak sebelum akhirnya mengajak saya menuju ke rumahnya yang berada di pinggiran Kota Bogor.</p>
<p>&#8220;Bogor itu terkenal dengan wisata offroad-nya, Zam!&#8221;, begitu Pakde berkata sambil tangan lincahnya memutar setir untuk menghindari lubang yang menganga di jalanan. Mobil berguncang dan saya cuma bisa tertawa.</p>
<p>Sampai juga saya di rumah Pakde. Suasana sepi. <a href="http://anakndobos.wordpress.com/" title="Ghilman">Ghilman</a> sudah tidur ketika saya datang. <a href="http://blogkedua.blogdrive.com/" title="Adri" target="_blank">Adri</a> yang masih terjaga membukakan pintu.</p>
<p>Pakde menunjukkan letak kamar saya yang rupanya sudah sering disinggahi <a href="http://b-h-i.blogspot.com/" title="Bunderan HI" target="_blank">temen-temen BHI</a>. Rumah Pakde yang ndak begitu besar namun terasa amat sangat nyaman dan homy.</p>
<p>Walau badan terasa capek, namun saya kok ndak bisa langsung tidur. Saya ngobrol sebentar bareng Pakde dan <a href="http://nengjeni.blogdrive.com/" title="Mbak Jeni" target="_blank">Mbak Jeni</a> di lantai atas sebelum akhirnya terkapar di kamar setelah mandi merasakan kesegaran air Bogor.</p>
<p>Pagi pun tiba. Suasana keluarga di pagi hari begitu kental terasa. Mbak Jeni yang ngoyak-oyak Adri dan Ghilman untuk segera bersiap untuk berangkat sekolah, menu sarapan yang sudah terhidang di atas meja, membuat saya teringat akan rumah.</p>
<p>Setelah bersiap, saya pun ikutan Pakde mengantar Adri dan Ghilman ke sekolah. Selesai tugasnya, giliran Mbak Jeni yang diantarkan  ke kantor.</p>
<p>Per-jeng-jeng-an saya dan Pakde pun dimulai. <img src='http://jengjeng.matriphe.com/smilies/yahoo_dance.gif' alt='&#92;&#58;&#100;&#47;' class='wp-smiley' width='26' height='18' title='&#92;&#58;&#100;&#47;' /></p>
<p>Pertama kali, saya diajak Pakde berkeliling ke <a href="http://blogombal.org/2007/11/01/kantor-hijau-yang-nyaman/" title="Kantor Hijau yang Nyaman" target="_blank">kantornya Mbak Jeni</a> di kawasan Cimahpar, ndak jauh dari jalan tol Jagorawi, yang bener-bener menyenangkan!</p>
<p>Lokasi asri dan segar membuat siapa pun betah untuk kerja di sini. Suara kicau burung, gesekan dedaunan, dan suara gemericik air dari sungai membuat suasana begitu menenangkan.</p>
<p>Jika jenuh bekerja di dalam ruangan, kita bisa berpindah ke gazebo atau nongkrong di pinggir sungai karena dalam wilayah ini tercakup koneksi nirkabel. Woho.. Betapa menyenangkannya!</p>
<p>Kantor ini lebih terasa seperti hotel, guesthouse, atau camping ground, daripada kantor <a href="http://www.mitrakonservasi.co.id/" title="CICO" target="_blank">lembaga konservasi alam</a>. <img src='http://jengjeng.matriphe.com/smilies/yahoo_giggle.gif' alt='&#59;&#41;&#41;' class='wp-smiley' width='18' height='18' title='&#59;&#41;&#41;' /></p>
<p><img src='http://jengjeng.matriphe.com/wp-content/uploads/2008/01/di-kantor-cico.jpg' alt='di salah satu sudut kantor CICO' /></p>
<p>Target berikutnya adalah Kebun Raya Bogor. Namun sebelumnya, kami mampir ke penjual duren yang ndak jauh dari kantornya Mbak Jeni.</p>
<p>Tiga buah durian seharga 5.000-an berhasil kami angkut. Durian lokal Cimahpar ini memang mempunyai keunikan tersendiri.</p>
<p>Seratnya yang banyak, rasa manisnya yang unik, namun bau durian ndak menempel ke tangan seperti pada durian-durian jenis lainnya.</p>
<p>Setelah berkeliling kebun raya untuk mencari lokasi yang puenak, saya dan Pakde pun segera memberangus ketiga durian tersebut.</p>
<p>Di bawah pohon rindang yang ditanam sekitar tahun 1844-an, beralaskan rumput dan dedaunan yang berguguran, kami berpesta durian. <img src='http://jengjeng.matriphe.com/smilies/yahoo_dance.gif' alt='&#92;&#58;&#100;&#47;' class='wp-smiley' width='26' height='18' title='&#92;&#58;&#100;&#47;' /></p>
<p><img src='http://jengjeng.matriphe.com/wp-content/uploads/2008/01/menikmati-duren-cimahpar.jpg' alt='menikmati duren di Kebun Raya Bogor' /></p>
<p>Setelah kekenyangan dihajar durian, Pakde mengajak saya untuk menikmati petualangan kuliner selanjutnya.</p>
<p>Sepiring Asinan Buah Bogor Gang Dalam yang dijual di sekitar Pasar Sukasari langsung ludes saya huajar. Segelas Es Pala pun hanya menambah penuh perut yang mirip garbage-compactor ini.. <img src='http://jengjeng.matriphe.com/smilies/yahoo_laughloud.gif' alt='&#58;&#41;&#41;' class='wp-smiley' width='18' height='18' title='&#58;&#41;&#41;' /></p>
<p>Masih belum puas, sebagai penutup, Pakde mengajak saya untuk berburu <acronym title="sejenis Bir Pletok yang ada di Jakarta">Bir Kocok</acronym> di Jalan Roda Kawasan Pasar Lama Bogor. <img src='http://jengjeng.matriphe.com/smilies/drunk.gif' alt='&#58;&#100;&#114;&#117;&#110;&#107;' class='wp-smiley' width='58' height='30' title='&#58;&#100;&#114;&#117;&#110;&#107;' /></p>
<p>Perut yang full-tank akhirnya saya bawa kembali ke Jogja. <img src='http://jengjeng.matriphe.com/smilies/yahoo_timeout.gif' alt='&#58;&#45;&#116;' class='wp-smiley' width='30' height='18' title='&#58;&#45;&#116;' /></p>
<p>Terima kasih Pakde, untuk semuanya! <img src='http://jengjeng.matriphe.com/smilies/yahoo_worship.gif' alt='&#94;&#58;&#41;&#94;' class='wp-smiley' width='32' height='18' title='&#94;&#58;&#41;&#94;' /></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://jengjeng.matriphe.com/jengjeng-bogor.html/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>38</slash:comments>
		</item>
	</channel>
</rss>

