<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>jengjeng matriphe! &#187; candi</title>
	<atom:link href="http://jengjeng.matriphe.com/tag/candi/feed" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://jengjeng.matriphe.com</link>
	<description>pengen jalan-jalan, makan-makan, dan lain-lain</description>
	<lastBuildDate>Mon, 08 Mar 2010 17:07:48 +0000</lastBuildDate>
	<generator>http://wordpress.org/?v=2.9.1</generator>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
			<item>
		<title>Menelusuri Jejak Danau Purba Borobudur</title>
		<link>http://jengjeng.matriphe.com/menelusuri-jejak-danau-purba-borobudur.html</link>
		<comments>http://jengjeng.matriphe.com/menelusuri-jejak-danau-purba-borobudur.html#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 04 Feb 2010 23:06:12 +0000</pubDate>
		<dc:creator>matriphe</dc:creator>
				<category><![CDATA[Asal Muasal & Sejarah]]></category>
		<category><![CDATA[Destinasi]]></category>
		<category><![CDATA[Edukasi & Ketrampilan]]></category>
		<category><![CDATA[Borobudur]]></category>
		<category><![CDATA[candi]]></category>
		<category><![CDATA[Elo]]></category>
		<category><![CDATA[National Geographic Indonenesia]]></category>
		<category><![CDATA[NGI]]></category>
		<category><![CDATA[Progo]]></category>
		<category><![CDATA[Yogyakarta]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://jengjeng.matriphe.com/?p=1444</guid>
		<description><![CDATA[
Seniman sekaligus arsitek Belanda bernama W.O.J Nieuwenkamp menulis di dalam bukunya yang berjudul Fiet Borobudur Meer (Danau Borobudur) pada tahun 1931, konon dahulunya Candi Borobudur dibangun di atas sebuah danau purba, sehingga seolah-olah bentuk Borobudur seperti ceplok bunga teratai yang mengapung di atas kolam sebagai perwujudan tempat kelahiran Sang Budha.
Bersama teman-teman dari forum National Geographic [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><img src="http://jengjeng.matriphe.com/index.php?feedimage=wp-content/uploads/2010/02/sutikno.jpg" alt="" title="Ir. Sutarto, M.T. menjelaskan batuan" width="350" height="263" class="alignnone size-full wp-image-1445" /></p>
<p>Seniman sekaligus arsitek Belanda bernama <em>W.O.J Nieuwenkamp</em> menulis di dalam bukunya yang berjudul <em>Fiet Borobudur Meer</em> (Danau Borobudur) pada tahun 1931, konon dahulunya Candi Borobudur dibangun di atas sebuah danau purba, sehingga seolah-olah bentuk Borobudur seperti ceplok bunga teratai yang mengapung di atas kolam sebagai perwujudan tempat kelahiran Sang Budha.</p>
<p><span id="more-1444"></span>Bersama teman-teman dari <a href="http://forum.nationalgeographic.co.id/" title="Forum national Geographic Indonesia" target="_blank">forum National Geographic Indonesia</a> regional Yogyakarta, saya berkesempatan menelusuri jejak-jejak danau purba di sekitar Borobudur, yang membuat saya seolah-olah sedang kuliah lapangan!</p>
<p>Saya mendengar pernyataan ini langsung dari Ir. Helmy Murwanto, M.Sc.,  Ir. Sutarto, M.T., dan Dr. Sutanto, tim peneliti dari UPN Veteran Yogyakarta yang telah melakukan penelitian terhadap materi-materi tanah di sekitar Borobudur sejak tahun 1996 hingga sekarang untuk membuktikan hipotesa Nieuwenkamp.</p>
<p>Hipotesa danau purba Nieuwenkamp dianggap sebuah mitos oleh <em>Van Erp</em>,  pemimpin tim pemugaran Candi Borobudur pada tahun 1907-1911 dari Belanda. Menurut Van Erp, hipotesa ini ngawur karena  tidak didukung bukti-bukti kuat seperti prasasti tentang adanya danau di kawasan itu.</p>
<p>Hipotesa Nieuwenkamp ini lah yang membuat Pak Helmy yang orang Muntilan, Magelang, ini bersama kawan-kawannya tertarik meneliti materi endapan lempung hitam yang ada di dasar sungai sekitar Candi Borobudur yaitu Sungai Sileng, Sungai Progo, dan Sungai Elo.</p>
<p><img src="http://jengjeng.matriphe.com/index.php?feedimage=wp-content/uploads/2010/02/helmy-lempung-hitam.jpg" alt="Ir. Helmy Murwanto, M.Sc., menunjukkan lempung hitam yang ditelitinya" title="Ir. Helmy Murwanto, M.Sc., menunjukkan lempung hitam yang ditelitinya" width="350" height="263" class="alignnone size-full wp-image-1446" /></p>
<p>Sampel lempung hitam yang sekilas bentuknya seperti arang basah ini kemudian diteliti dengan analisis radio karbon C-14. Ternyata lempung hitam ini banyak mengandung serbuk sari (<em>pollen</em>) dari tanaman komunitas rawa atau danau, antara lain <em>Commelina</em>, <em>Cyperaceae</em>, <em>Nymphaea stellata</em>, dan <em>Hydrocharis</em>, juga fosil kayu. Dalam bahasa populer, flora ini adalah tanaman teratai, rumput air, dan paku-pakuan yang mengendap di danau saat itu. Dari analisis ini pula diketahui ternyata endapan lempung hitam bagian atas berumur 660 tahun.</p>
<p>Pada tahun 2001, Pak Helmy dan tim melakukan pengeboran lempung hitam pada kedalaman 40 meter. Setelah dianalisis dengan radio karbon C-14 diketahui lempung hitam itu berumur 22 ribu tahun. Maka dari hasil ini bisa disimpulkan kalo danau ini sudah ada sejak 22 ribu tahun lalu (zaman <em>Plistosen</em>), dan berakhir di sekitar akhir abad ke-10 hingga abad ke-13.</p>
<p><img src="http://jengjeng.matriphe.com/index.php?feedimage=wp-content/uploads/2010/02/sutanto.jpg" alt="Dr. Sutanto menjelaskan proses terjadi endapan material vulkanik" title="Dr. Sutanto menjelaskan proses terjadi endapan material vulkanik" width="350" height="263" class="alignnone size-full wp-image-1448" /></p>
<p>Candi Borobudur konon dibangun di atas daratan (bukit) yang terbentuk karena timbunan endapan-endapan material vulkanik dari beberapa gunung di sekitarnya, yang terbawa oleh sungai-sungai yang bermuara ke danau ini, antara lain Sungai Pabelan dari Gunung Merapi, Sungai Elo dari Gunung Merbabu, Sungai Progo dari Gunung Sumbing dan Sindoro.</p>
<p>Sungai-sungai yang ada sekarang di sekitar Borobudur dulunya bermuara di danau purba ini. Namun seiring terbendungnya aliran-aliran sungai oleh material vulkanik, akhirnya danau ini mengering dan membuat sungai-sungai yang dulunya bemuara di danau ini mencari jalurnya sendiri hingga sekarang mengarah ke Laut Selatan.</p>
<p>Namun ada teori lain yang mengatakan bahwa danau ini sudah mengering jauh sebelum Borobudur dibangun, yaitu sebelum abad ke-8. Bahkan diperkirakan di lingkungan tersebut sudah terdapat pemukiman penduduk ketika Borobudur dibangun oleh Raja Samaratungga dari Wangsa Syailendra dengan arsitek Gunadharma ini.</p>
<p>Hal ini bisa ditengarai dari pemakaman umum di beberapa desa di sekitar Borobudur yang berumur sebelum tahun 1300. Nisan makam kuno terbuat dari kayu jati relatif tipis, bukan dari batu. Teori ini dikemukakan oleh budayawan Aris Sutomo, penulis buku <em>Temples of Java</em>.</p>
<p>Yang menarik, ada dugaan lain bahwa awalnya danau ini bagian dari laut yaitu terbentuk dari laut yang terjebak, karena ditemukannya beberapa sumur yang airnya asin di di Desa Candirejo, Sigug, dan Ngasinan. Selain itu, bebatuan karang di Bukit Menoreh di sebelah selatan Borobudur ditengarai sebagai karang laut zaman dahulu.</p>
<p>Bila Van Erp mempertanyakan bukti-bukti prasasti, tim Helmy menggunakan prasasti toponim (asal mula penamaan) nama daerah di sekitar Borobudur, yang berkaitan dengan lingkungan air. Misalnya nama desa Bumi Segoro  di sebelah barat daya Borobudur, yang mana &#8220;bumi&#8221; berarti daratan dan &#8220;segoro&#8221; berarti laut atau danau. Juga ada desa bernama Sabrang Rowo (menyeberang rawa/danau) di sebelah selatan Borobudur.</p>
<p><img src="http://jengjeng.matriphe.com/index.php?feedimage=wp-content/uploads/2010/02/lapisan-tanah.jpg" alt="Lapisan tanah di salah satu tepi Sungai Progo" title="Lapisan tanah di salah satu tepi Sungai Progo" width="350" height="263" class="alignnone size-full wp-image-1451" /></p>
<p>Penelitian tim dari UPN ini bertujuan untuk mencari tahu sejarah perkembangan lingkungan Borobudur dari waktu ke waktu, mulai dari awal terbentuknya danau, yaitu dugaan air laut yang terjebak hingga berkembang menjadi danau, kemudian danau menjadi rawa, dan rawa menjadi dataran, menggunakan analisis lapisan tanah dan batuan.</p>
<p>Selain tim peneliti dari UPN ini, penelitian serupa untuk membuktikan hipotesa Nieuwenkamp juga dilakukan pernah oleh seorang ahli geologi bernama <em>Van Bemmelen</em> pada tahun 1949.</p>
<p>Dalam bukunya yang berjudul <em>The Geology of Indonesia</em> (Geologi Indonesia), Van Bemmelen menyebutkan di daerah Magelang bagian selatan dulu pernah terbentuk danau yang terbentuk oleh letusan kuat dari Gunung Merapi tahun 1006 M (meski beberapa ahli mempertanyakan catatan tahun letusan Merapi tahun 1006 M ini).</p>
<p>Letusan ini mengakibatkan sebagian puncak Merapi longsor ke arah barat daya, kemudian tertahan oleh Bukit Menoreh bagian timur yang berada di selatan daerah Borobudur. Akibatnya, material longsoran tersebut membendung aliran Kali Progo di timur Borobudur, sehingga terbentuklah genangan yang luas di dataran Magelang bagian selatan. Setelah berabad-abad, sumbatan yang membendung Kali Progo hilang oleh proses erosi, akhirnya danau mengering.</p>
<p><img src="http://jengjeng.matriphe.com/index.php?feedimage=wp-content/uploads/2010/02/peserta.jpg" alt="Dr. Sutanto bersama rekan-rekan Forum NGI regional Jogja" title="Dr. Sutanto bersama rekan-rekan Forum NGI regional Jogja" width="350" height="263" class="alignnone size-full wp-image-1449" /></p>
<p>Nah, bila memang benar di sekeliling Borobudur saat itu terdapat danau atau rawa, yang menjadi pertanyaan adalah bagaimanakah batu-batu ini dibentuk dan bagaimana batu-batu ini dibawa ke bukit Borobudur untuk disusun menjadi candi. Apakah batu dibawa dalam bentuk utuh atau sudah berbentuk potongan-potongan balok batu?</p>
<p>Bila batuan dibawa dalam bentuk balok-balok itu, di manakah bengkel pemotongan batu ini? Bila memang dilakukan di tempat lain, di mana kah letak pemotongan batu ini? Bila batu dibawa dalam bentuk utuh kemudian dibentuk di bukit Borobudur, di mana kah &#8220;sampah&#8221; batu bekas ukiran dibuang?</p>
<p>Borobudur rupanya mempunyai sejarah dan pesona yang sampai sekarang masih menjadi misteri. <img src='http://jengjeng.matriphe.com/smilies/yahoo_smiley.gif' alt='&#58;&#41;' class='wp-smiley' width='18' height='18' title='&#58;&#41;' /></p>
 jengjeng matriphe!]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://jengjeng.matriphe.com/menelusuri-jejak-danau-purba-borobudur.html/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>18</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Jeng-Jeng Garut</title>
		<link>http://jengjeng.matriphe.com/jeng-jeng-garut.html</link>
		<comments>http://jengjeng.matriphe.com/jeng-jeng-garut.html#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 10 Nov 2009 08:43:47 +0000</pubDate>
		<dc:creator>matriphe</dc:creator>
				<category><![CDATA[Travelogue]]></category>
		<category><![CDATA[air panas]]></category>
		<category><![CDATA[candi]]></category>
		<category><![CDATA[Garut]]></category>
		<category><![CDATA[gunung]]></category>
		<category><![CDATA[kawah]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://jengjeng.matriphe.com/?p=1416</guid>
		<description><![CDATA[
Sejak zaman VOC, Garut sudah terkenal dengan keindahan alamnya. Pada tahun 1910, Officieel Touristen Bureau, Weltevreden (Dinas Pariwisata VOC di Weltevreden, Batavia) menyebut Garut sebagai Paradijs van het Oosten (surga dari timur). Namun sayang, potensi ini kurang tergarap dengan baik.
Garut memiliki banyak potensi wisata, karena lokasinya yang dikelilingi oleh rangkaian gunung berapi aktif seperti Gunung [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><img src="http://jengjeng.matriphe.com/index.php?feedimage=wp-content/uploads/2009/11/jengjeng-garut.jpg" alt="Jeng-jeng Garut" title="Jeng-jeng Garut" width="350" height="263" class="alignnone size-full wp-image-1415" /></p>
<p>Sejak zaman VOC, Garut sudah terkenal dengan keindahan alamnya. Pada tahun 1910, <em>Officieel Touristen Bureau, Weltevreden</em> (Dinas Pariwisata VOC di Weltevreden, Batavia) menyebut Garut sebagai <em>Paradijs van het Oosten</em> (surga dari timur). Namun sayang, potensi ini kurang tergarap dengan baik.</p>
<p><span id="more-1416"></span>Garut memiliki banyak potensi wisata, karena lokasinya yang dikelilingi oleh rangkaian gunung berapi aktif seperti Gunung Guntur, Gunung Haruman, dan Gunung Kamojang di sebelah barat, Gunung Papandayan dan Gunung Cikuray di sebelah selatan/tenggara, Gunung Talagabodas dan Gunung Galunggung di sebelah timur. Di sebelah selatan, terdapat garis pantai sepanjang 80 Km.</p>
<p>Saya mendatangi kota yang terkenal akan dodol dan dombanya ini. Seperti biasa, perjalan direncanakan sehari sebelum keberangkatan. Bahkan itinerary belum sempurna dibuat karena buta sama sekali dengan obyek wisata dan sistem transportasinya. Kami nekad berangkat dan bermodal &#8220;nanti di sana tanya-tanya saja soal transportasi dan akomodasinya&#8221;.</p>
<p>Untuk menuju kota ini sangat gampang karena banyaknya transportasi bus AKAP dari Jakarta maupun Bandung. Salah satunya dari Terminal Lebak Bulus menggunakan bus Primajasa dengan tarif 35 ribu rupiah. Perjalanan memakan waktu sekitar 4 jam dan berakhir di Terminal Guntur, Garut Kota.</p>
<p>Setelah beristirahat di sebuah masjid tak jauh dari terminal, kami bertanya ke penduduk yang kebetulan sedang akan melaksanakan ibadah sholat dhuhur. Calo-calo di terminal yang menawarkan trayek angkutan memang sedikit menyebalkan, maka kami memilih untuk menyingkir dari sana dan mencari petunjuk dari &#8220;pihak ketiga&#8221;.</p>
<p>Penginapan rupanya banyak ditemukan di daerah Cipanas. Di daerah Garut kota malah kesulitan. Ketika kami menghubungi 108 (terlebih dulu memberikan kode kota 0262 sebelum nomor 108) untuk bertanya penginapan, rupanya Telkom ndak memiliki database yang lengkap. Beberapa nomor yang diberikan pihak Telkom malah gagal tersambung.</p>
<p>Kami pun akhirnya mendapat kamar di Hotel Augusta (0262-238250), sebuah hotel bintang 2 yang terletak di Jalan Raya Cipanas dengan tarif sekitar 150-450 ribu per malam (tergantung tipe kamar dan wiken atau tidak).</p>
<p>Menuju Cipanas dari terminal Guntur bisa dilalui dengan angkot bernomor 04 jurusan Terminal Guntur-Cipanas berwarna coklat muda. Atau kalo naik bis, turun sebelum masuk terminal Guntur, tepatnya di Jalan Otista (Otto Iskandar Dinata) pertigaan Cipanas (Jl. Panday) sebelum simpang Tarogong, kemudian naik angkot 04 ke arah Cipanas.</p>
<p>Setelah meletakkan tas dan beristirahat sejenak di penginapan, kami melanjutkan perjalanan menuju Situ Cangkuang. Dengan menggunakan angkot nomor 10 berwarna hijau/abu-abu jurusan Leles, kami turun di alun-alun Leles, kemudian naik sejenis dokar di mana orang setempat menyebutnya <em>Kretek</em>. Tarif naik Kretek ini per orang sekitar 5 ribu rupiah.</p>
<p><img src="http://jengjeng.matriphe.com/index.php?feedimage=wp-content/uploads/2009/11/dokar-kretek.jpg" alt="Dokar &quot;Kretek&quot;" title="Dokar &quot;Kretek&quot;" width="350" height="263" class="alignnone size-full wp-image-1417" /></p>
<p>Pemandangan menuju situ didominasi oleh sawah. Di utara kita akan melihat siluet Gunung Haruman, di sebelah barat akan nampak Gunung Mandalawangi dan Gunung Guntur.</p>
<p>Kontur naik dan turun membuat kusir kami harus mengendalikan kuda sesuai dengan perintahnya. Ketika jalan menanjak, kusir akan menghentakkan tali dan kuda pun akan berlari kencang, dan sebaliknya ketika jalan menurun, laju kuda diperlambat. &#8220;Supaya kuda tidak keseleo karena berlari kencang di jalan menurun&#8221;, ucap sang kusir. Untuk memperlambat, tali kekang agak ditarik dan kusir mengeluarkan semacam bunyi yang memberi isyarat agar kuda memperlambat jalan atau berhenti.</p>
<p>Kretek sendiri cuma bisa ditumpangi oleh maksimal 4 penumpang dengan 2 tempat duduk menyamping di belakang tempat duduk kusir. Sepanjang jalan badan kami terguncang-guncang, sehingga bila tidak berpegangan, kita bisa terlempar keluar.</p>
<p>Masuk ke kawasan Situ Cangkuang, kami dipungut biaya 2 ribu rupiah per orang. Untuk menyeberang ke Pualu Ageung di tengah situ, kami naik semacam rakit sepanjang sekitar 20 meter. Tarif &#8220;resminya&#8221; sih 2 ribu rupiah per orang, tapi si pengemudi rakit mematok harga &#8220;borongan&#8221; seenaknya. Setelah negosiasi, disepakati tarifnya jadi 5 ribu per orang bolak-balik.</p>
<p><img src="http://jengjeng.matriphe.com/index.php?feedimage=wp-content/uploads/2009/11/situ-cangkuang.jpg" alt="Rakit penyeberangan di Situ Cangkuang" title="Rakit penyeberangan di Situ Cangkuang" width="350" height="263" class="alignnone size-full wp-image-1418" /></p>
<p>Rakit digerakkan dengan menggunakan sebilah bambu yang ditancapkan ke dasar situ, kemudian si &#8220;nakhoda&#8221; akan berjalan di sepanjang rakit dengan bertumpu pada bambu tadi untuk mendorong rakit. Di tengah-tengah situ, terdapat banyak nelayan yang menjala dan memancing ikan.</p>
<p>Situ Cangkuang dulu mempunyai luas sekitar 25 hektar, namun karena proses sedimentasi, luasnya menyusut hingga menjadi sekitar 15 hektar saja. Di tengah situ terdapat Pulau Ageung dan Pulau Alit, yang karena sedimentasi pula, kedua pulau ini akhirnya &#8220;menyatu&#8221;.</p>
<p>Dinamakan Cangkuang karena dulu di daerah ini terdapat banyak pohon cangkuang (<em>Pandanus furcatus</em>) semacam pandan yang dimanfaatkan warga untuk anyam-anyaman. Air situ berasal dari sebuah mata air yang kemudian dibendung oleh Embah Dalem Arif Muhammad, seorang tokoh dari Mataram yang menjadi awal mula keberadaan tempat ini.</p>
<p>Di tengah Pulau Ageung, terdapat candi Hindu yang bernama Candi Cangkuang. Tak jauh dari kompleks candi, terdapat makam Embah Dalem Arif Muhammad dan kampung adat Kampung Pulo (pulau).</p>
<p><img src="http://jengjeng.matriphe.com/index.php?feedimage=wp-content/uploads/2009/11/candi-cangkuang.jpg" alt="Candi Cangkuang" title="Candi Cangkuang" width="350" height="263" class="alignnone size-full wp-image-1419" /></p>
<p>Candi Cangkuang yang diperkirakan dibangun pada abad ke-8 ini seolah-olah menjadi saksi akulturasi kebudayaan dan agama yang dialami desa ini. Konon dulu penghuni Desa Cangkuang beragama Hindu (dibuktikan dengan berdirinya candi Hindu), kemudian Arif Muhammad datang ke desa ini dan menyebarkan agama Islam. </p>
<p>Kampung Pulo yang terletak tak jauh dari candi juga memiliki keunikan tersendiri. Di kampung ini cuma terdiri atas 6 rumah adat yang dihuni oleh 6 kepala keluarga dan sebuah masjid di tengah-tengah gang. Jumlah dari rumah tersebut tidak boleh ditambah atau dikurangi, begitu juga dengan keluarga yang mendiami di rumah tersebut tidak boleh lebih dari 6 kepala keluarga. Penduduk kampung ini dipercaya merupakan keturunan dari Embah Dalem Arif Muhammad.</p>
<p>Keunikan lain, meski penduduk Kampung Pulo memeluk agama Islam, namun beberapa ritual agama Hindu masih dilakukan. Selain itu, ada larangan bagi penduduk Kampung Pulo memelihara ternak berkaki empat seperti sapi, kambing, dan sebagainya.</p>
<p>Semua rumahnya pun memiliki pola yang unik, memanjang dari timur ke barat (jolopong). Beberapa rumah bahkan atapnya masih menggunakan atap ijuk.</p>
<p><img src="http://jengjeng.matriphe.com/index.php?feedimage=wp-content/uploads/2009/11/rumah-adat-kampung-pulo.jpg" alt="Rumah adat Kampung Pulo" title="Rumah adat Kampung Pulo" width="350" height="263" class="alignnone size-full wp-image-1420" /></p>
<p>Informasi soal Candi Cangkuang juga bisa dibaca di <a href="http://wijna.web.id/260-Candi-Cangkuang.html" title="Candi Cangkuang" target="_blank">blognya Wijna</a>.</p>
<p>Malamnya kami mencari makan di sekitaran Simpang Lima Garut. Informasi ini kami dapatkan dari sopir angkot yang kami tumpangi. Secara umum, Kota Garut itu sepi sekali.</p>
<p>Sejak menginjakkan kaki di Garut, saya mengamati jarang sekali terlihat pemuda berusia belasan. Dugaan saya, pemuda-pemuda berusia produktif ini kebanyakan merantau ke luar Garut seperti Jakarta atau Bandung, entah untuk sekolah atau bekerja.</p>
<p>Kami makan di Simlim, semacam foodcourt kecil-kecilan di pinggir jalan. Banyak menu yang ditawarkan, namun saya memesan Mie Kocok, karena penasaran dengan bentuknya. Selain dodol, sepertinya Garut ndak mempunyai kuliner khas yang bisa dicoba.</p>
<p>Mie Kocok sendiri sangat sederhana, terdiri dari mie kuning, kecambah mentah (yak, saya kurang suka dengan kecambah yang dicampur dengan mie), kemudian ditabur potongan kikil sapi. Kuahnya pun standar banget, kuah kaldu tanpa bumbu yang berarti.</p>
<p><img src="http://jengjeng.matriphe.com/index.php?feedimage=wp-content/uploads/2009/11/mie-kocok.jpg" alt="Mie Kocok Garut" title="Mie Kocok Garut" width="350" height="263" class="alignnone size-full wp-image-1421" /></p>
<p>Disebut mie kocok karena mie dimasak dengan dimasukkan ke dalam semacam sendok khusus, kemudian dicelup-celupkan ke dalam air mendidih. Proses memasak mie kayak gini mengingatkan saya akan Mie Ongklok dari Wonosobo.</p>
<p>Pagi-pagi benar kami bersiap menuju ke Kawah Papandayan. Dengan menumpang angkot 04 kemudian disambung dengan Elf (minibus). Untuk menuju ke Kawah Papandayan juga bisa langsung dicapai dengan menggunakan Elf jurusan Cikajang dari Terminal Guntur.</p>
<p>Kami turun di pintu gerbang obyek wisata di daerah Cisurupan. Ongkos Elf sekitar 5 ribu rupiah. Begitu turun, kami langsung disambut dengan tawaran tukang ojek. Menuju ke kawah memang bisa ditempun dengan menggunakan ojek, ndak perlu susah-susah mendaki. He he he.</p>
<p>Setelah tawar menawar, disepakati harga 15 ribu untuk naik dan 15 ribu rupiah lagi untuk turun. Jalan menuju kawah beraspal namun sedikit rusak di sana-sini. Motor mio yang saya tumpangi mengerang-erang ketika melahap tanjakan yang cukup curam.</p>
<p>Sekitar 10 menit, kami sampai di pos untuk melapor. Di sini dikenakan biaya per orang 2 ribu rupiah plus sumbangan sukarela. Bila ingin menyewa pemandu, ongkosnya 50 ribu per jam.</p>
<p>Karena jalur lama tertutup longsoran akibat letusan pada tahun 2002 dan si pemandu menjanjikan track yang ndak biasa, kami pun sepakat menggunakan pemandu, juga untuk menggali informasi.</p>
<p>Kawah Papandayan sebenernya sebuah kaldera dengan bentangan mencapai 3 Km. Gunung ini masih aktif sehingga asap-asap yang muncul dari beberapa kawahnya merupakan tanda-tanda aktivitasnya. Pengunjung harus berhati-hati karena ada beberapa kandungan gas yang cukup berbahaya, antara lain gas belerang (yang baunya busuk banget).</p>
<p><img src="http://jengjeng.matriphe.com/index.php?feedimage=wp-content/uploads/2009/11/kawah-papandayan.jpg" alt="Kawah Papandayan" title="Kawah Papandayan" width="350" height="263" class="alignnone size-full wp-image-1422" /></p>
<p>Kami melewati rute yang berbeda seperti yang dijanjikan pemandu. Kami mendaki dulu ke atas, menuju ke bibir kaldera sehingga pemandangannya pun lebih menakjubkan. Tepat di salah satu puncak di bibir kaldera, saya melihat seismograf yang dipasang untuk memantau aktivitas kegempaan kawah ini.</p>
<p>Dari atas sini pula, saya lebih leluasa melihat Kawah Baru, yang merupakan hasil letusan pada tahun 2002. Letusan ini juga mengakibatkan longsorannya menutupi Kawah Nagrak dan akses jalan aspal yang menuju kawah ini.</p>
<p>Puas menikmati pemandangan, kami memutuskan untuk turun dan menuju ke obyek wisata Cipanas untuk berendam air panas sebelum kembali ke Jakarta.</p>
<p>Begitu turun dari ojek dan hendak menunggu Elf, kami sempat bersitegang dengan sopir angkot yang memaksa-maksa kami naik ke angkotnya. Naik angkot dari Cisurupan menuju Garut tentu akan dipatok dengan harga sangat mahal. Tukang ojek yang rese juga seolah-olah menyuruh kami untuk masuk ke angkotnya.</p>
<p>Untung sebuah Elf lewat dan kami segera naik ke dalam meski si kenek Elf sempat diintimidasi oleh si sopir angkot, untungnya tidak terjadi masalah berarti.</p>
<p>Dari Elf, kami turun di persimpangan Tarogong untuk kemudian naik angkot 04 favorit kami. Kami memilih mandi air panas di <a href="http://www.tirtagangga-hotel.com/" title="Hotel Tirtagangga" target="_blank">Hotel Tirtagangga</a> dengan tarif 25 ribu rupiah per orang karena dengan alasan kenyamanan.</p>
<p>Di Hotel Tirtagangga, terdapat 2 kolam air panas dengan suhu yang berbeda plus sebuah shower air panas.</p>
<p><img src="http://jengjeng.matriphe.com/index.php?feedimage=wp-content/uploads/2009/11/kolam-air-panas.jpg" alt="Kolam air panas Hotel Tirtagangga" title="Kolam air panas Hotel Tirtagangga" width="350" height="263" class="alignnone size-full wp-image-1423" /></p>
<p>Di kawasan pemandian air panas Cipanas, memang banyak terdapat pemandian umum, namun kondisinya sangat memprihatinkan. Beberapa penginapan, terutama penginapan berbintang, biasanya mempunyai fasilitas kolam air panas tersendiri.</p>
<p>Air panas di kawasan ini berasal dari 4 sumber mata air panas yang merupakan hasil aktivitas dari Gunung Guntur. Air panas dari Gunung Guntur konon merupakan air panas alami terjernih, dengan kandungan belerang cukup rendah, bersuhu hingga mencapai suhu 49&deg; ini baik untuk terapi penyakit kulit atau penyakit lainnya.</p>
<p>Sejak dulu, Cipanas memang terkenal dan menjadi favorit para pejabat VOC di Batavia. Konon komedian film bisu Charlie Caplin pun pernah singgah di kawasan ini.</p>
 jengjeng matriphe!]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://jengjeng.matriphe.com/jeng-jeng-garut.html/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>34</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Candi Gebang, Candi Hindu Tertua di Jogja</title>
		<link>http://jengjeng.matriphe.com/candi-gebang-candi-hindu-tertua-di-jogja.html</link>
		<comments>http://jengjeng.matriphe.com/candi-gebang-candi-hindu-tertua-di-jogja.html#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 20 Apr 2008 07:08:31 +0000</pubDate>
		<dc:creator>matriphe</dc:creator>
				<category><![CDATA[Candi & Tempat Ibadah]]></category>
		<category><![CDATA[Destinasi]]></category>
		<category><![CDATA[candi]]></category>
		<category><![CDATA[Hindu]]></category>
		<category><![CDATA[Yogyakarta]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://jengjeng.matriphe.com/index.php/2008/04/20/candi-gebang-candi-hindu-tertua-di-jogja.html</guid>
		<description><![CDATA[
Di kawasan utara Jogja, sekitar 12 km dari pusat kota, terdapat sebuah candi yang orang mungkin ndak banyak tau. Walau terletak di kawasan yang padat penduduknya, keberadaan candi ini seolah-olah masih terkucilkan.
Candi Gebang, candi mungil ini ditengarai merupakan candi bercorak Hindu tertua di Jogja, bahkan diperkirakan lebih tua dari Candi Kalasan, candi Budha tertua di [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><img src="http://jengjeng.matriphe.com/index.php?feedimage=wp-content/uploads/2008/04/candi-gebang1.jpg" alt="Candi Gebang" title="Candi Gebang" width="350" height="263" class="alignnone size-full wp-image-1179" /></p>
<p>Di kawasan utara Jogja, sekitar 12 km dari pusat kota, terdapat sebuah candi yang orang mungkin ndak banyak tau. Walau terletak di kawasan yang padat penduduknya, keberadaan candi ini seolah-olah masih terkucilkan.</p>
<p>Candi Gebang, candi mungil ini ditengarai merupakan candi bercorak Hindu tertua di Jogja, bahkan diperkirakan lebih tua dari <a href="http://jengjeng.matriphe.com/index.php/2007/08/06/candi-kalasan-candi-budha-tertua-di-jogja.html" title="Candi Kalasan, Candi Budha Tertua di Jogja">Candi Kalasan, candi Budha tertua di Jogja</a> itu.</p>
<p><span id="more-674"></span>Menuju ke sini, seakan-akan memberikan kesan kontras. Candi yang terletak di Desa Gebang, Kelurahan Wedomartani, Kecamatan Ngemplak, Sleman, yang merupakan kawasan pemukiman padat ini ternyata kondisinya cukup memprihatinkan.</p>
<p>Mengikuti papan petunjuk ke arah candi yang mulai usang membuat kita seakan bertanya, apa iya candi ini terletak di antara pemukiman perumahan? Benar saja, candi ini rupanya memang terletak di &#8220;pinggir&#8221; kawasan perumahan itu.</p>
<p>Terletak di tengah areal persawahan, jalan menuju ke candi ini pun bisa dibilang jalan tanah setapak. Ah, tapi saya pernah menyusuri candi yang lokasinya lebih mengenaskan, kok. <img src='http://jengjeng.matriphe.com/smilies/yahoo_bigsmile.gif' alt='&#58;&#68;' class='wp-smiley' width='18' height='18' title='&#58;&#68;' /></p>
<p>Menakjubkan! Walau lokasinya &#8220;terpencil&#8221;, namun kondisi kompleks candi ini sangat terawat. Berpagarkan kawat berduri mengelilingi, makin menguatkan kesan &#8220;terpencil&#8221; tersebut.</p>
<p>Ketika saya datang di sore hari, pintu masuk pagar terkunci. Di dalam pos penjaga, ndak ada orang yang bisa saya temui.</p>
<p>Saya melihat sebuah selokan tanah yang terdapat lubang kecil di bawah untaian kawat berduri tersebut. Pikiran ala maling saya bekerja, saya pun nekad menerobos masuk melalui selokan tadi! <img src='http://jengjeng.matriphe.com/smilies/yahoo_devil.gif' alt='&#62;&#58;&#41;' class='wp-smiley' width='18' height='18' title='&#62;&#58;&#41;' /></p>
<p>Ah, perasaan amaze ketika melihat bangunan candi kembali merasuk jiwa. Sebuah perasaan yang ndak saya temukan di tempat lain, kecuali di candi tentunya. Apalagi dengan situasi sunyi semacam ini, membuat saya lebih leluasa menikmati dan mengagumi keindahannya. Ah, benar-benar menenangkan jiwa!</p>
<p>Candi ini ndak besar, berukuran sekitar 5,25 x 5,25 meter dengan tinggi 7,75 meter, terletak tepat di tengah-tengah halaman yang banyak ditumbuhi pohon sukun dan akasia.</p>
<p>Ndak banyak informasi mengenai latar belakang dibangunnya candi yang ditemukan pada bulan November 1936 ini. Bahkan siapa raja yang membangun dan maksudnya apa juga masih misteri.</p>
<p>Berawal dari penemuan sebuah arca Ganesha oleh penduduk, yang setelah ditelusuri rupanya arca ini merupakan bagian dari bangunan candi. Ndak ada prasasti yang ditemukan sehingga usia candi hanya bisa diperkirakan dari corak dan bentuk fisik bangunan candi.</p>
<p>Candi ketika ditemukan kondisinya sangat mengenaskan, yaitu berupa reruntuhan bangunan. Pemugaran kembali candi ini kemudian dilakukan pada tahun 1937 dan selesai pada tahun 1939 di bawah pimpinan ilmuwan Belanda, Prof. Dr. Ir. Van Romondt.</p>
<p>Ciri-ciri fisik bangunan menunjukkan bahwa candi ini bernafaskan Hindu, dengan ditemukannya arca Ganesha, Yoni, dan Lingga.</p>
<p>Seluruh tubuh candi ini sangat polos, tanpa ukiran relief, ndak seperti candi Hindu lainnya. Kalo pun ada, kesannya masih sangat sederhana. Dari sinilah diperkirakan, candi ini dibangun pada awal-awal abad ke-7, sekitar tahun 730 sampai 800 M.</p>
<p>Candi ini menghadap ke timur, dengan sebuah ruangan berisi Yoni dengan cerat menghadap utara tanpa Lingga. Pada bagian atas pintu masuk, terdapat semacam kanopi dengan hiasan Kala yang sederhana.</p>
<p>Uniknya, saya ndak menemukan tangga untuk masuk ke dalam ruangan ini yang biasanya berhiaskan Makara.</p>
<p>Di kanan-kiri pintu masuk, hanya ditemukan arca Nadiswara pada sebelah kanan, sedangkan arca Mahakala di sebelah kiri ndak ditemukan.</p>
<p>Dinding candi sebelah utara dan selatan hanya ditemukan relung kosong, sedangkan di bagian barat terdapat arca Ganesha yang berada pada sebuah Yoni dengan cerat menghadap utara.</p>
<p><img src='http://jengjeng.matriphe.com/wp-content/uploads/2008/04/ganesha.jpg' alt='Arca Ganesha di atas Yoni' /></p>
<p>Menilik dari ciri candi Hindu yang semasa, seperti yang dapat dilihat pada <a href="http://jengjeng.matriphe.com/index.php/2007/09/03/candi-sambisari-6-setengah-m-di-bawah-tanah.html" title="Candi Sambisari, 6½ m di Bawah Tanah">Candi Sambisari</a> dan pada candi ketiga pada kompleks <a href="http://jengjeng.matriphe.com/index.php/2007/10/05/nuansa-alam-candi-gedong-songo.html" title="Nuansa Alam Candi Gedong Songo">Candi Gedong Songo</a>, seharusnya relung di sebelah utara diisi oleh arca Agastya dan di sebelah selatan adalah arca Dewi Durga.</p>
<p>Kaki candi berupa teras yang tinggi tanpa ukiran relief apa pun juga menunjukkan usia tua dari candi.</p>
<p>Melihat ke atap, saya terkejut. Ada sesuatu yang berbeda bila dibandingkan dengan candi-candi Hindu lainnya. Atap yang terdiri atas 3 tingkat ini cukup unik dan menarik.</p>
<p>Pada tingkat pertama, terdapat sebuah relung dengan relief kepala manusia pada keempat sisinya. Dari bentuk penutup kepala manusia ini, diperkirakan merupakan gambaran pendeta Hindu.</p>
<p>Hal ini diperkuat dengan sebuah relung berhias Kala-Makara pada atap tingkat kedua yang kali ini berupa sosok manusia yang sedang duduk bersila.</p>
<p><img src='http://jengjeng.matriphe.com/wp-content/uploads/2008/04/hiasan-atap.jpg' alt='Hiasan pada atap candi' /></p>
<p>Pada bagian puncak, atapnya ndak berbentuk Ratna atau Stupa, namun merupakan Lingga silinder yang berada di atas Seroja.</p>
<p>Ketika saya merunut, rupanya bila Lingga di atap ini ditarik garis lurus, posisinya tepat berada di tengah-tengah Yoni yang ada di dalam candi. Hal ini diperkuat dengan adanya relung pada bagian atap sebelah dalam candi.</p>
<p>Hiasan Lingga di atas Seroja ini juga ada pada masing-masing tingkat atap. Selain itu, hiasan berupa Antefix pun dapat kita temukan pada tingkat bagian atas.</p>
<p>Dari ukiran-ukiran arca pendeta Hindu ini, bisa jadi candi ini sering digunakan oleh para pendeta untuk menenangkan diri dan bertapa. Hal ini didukung dengan suasana nyaman, sejuk, dan asri karena di sekeliling terdapat pohon-pohon yang rindang. Saya bahkan menemukan beberapa ekor kupu-kupu yang berterbangan di sekitar candi ini seakan memberikan kesan damai.</p>
<p><img src='http://jengjeng.matriphe.com/wp-content/uploads/2008/04/kompleks-candi-gebang.jpg' alt='Kompleks Candi Gebang' /></p>
<p>Berkunjung ke kompleks candi ini bisa menjadi alternatif wisata dan edukasi. Suasana asri dan menenangkan ini bisa menjadi obat gundah gulana, seperti apa yang saya rasakan kemarin itu.</p>
<p>Karena hari mulai beranjak senja, saya pun terpaksa mengakhiri kunjungan saya di candi ini. Ah, sepertinya saya akan merindukan lagi tempat ini..</p>
 jengjeng matriphe!]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://jengjeng.matriphe.com/candi-gebang-candi-hindu-tertua-di-jogja.html/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>37</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Wilujengan Dumateng Pasak Boemi</title>
		<link>http://jengjeng.matriphe.com/wilujengan-dumateng-pasak-boemi.html</link>
		<comments>http://jengjeng.matriphe.com/wilujengan-dumateng-pasak-boemi.html#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 23 Mar 2008 04:01:56 +0000</pubDate>
		<dc:creator>matriphe</dc:creator>
				<category><![CDATA[Event]]></category>
		<category><![CDATA[batagor]]></category>
		<category><![CDATA[cahandong]]></category>
		<category><![CDATA[candi]]></category>
		<category><![CDATA[kopdar]]></category>
		<category><![CDATA[loenpia]]></category>
		<category><![CDATA[tugupahlawan]]></category>
		<category><![CDATA[ultah]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://jengjeng.matriphe.com/index.php/2008/03/23/wilujengan-dumateng-pasak-boemi.html</guid>
		<description><![CDATA[
Berkumpul bersama teman-teman yang menyenangkan di tempat yang mengesankan pada hari bertambahnya usia rupanya menjadi kado indah saya yang mungkin entah ndak akan saya dapatkan lagi.
Terima kasih, semuanya! 
 jengjeng matriphe!]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><img src="http://jengjeng.matriphe.com/index.php?feedimage=wp-content/uploads/2008/03/pasak-bumi-boko1.jpg" alt="Para peserta Pasak Boemi" title="Para peserta Pasak Boemi" width="350" height="263" class="alignnone size-full wp-image-1185" /></p>
<p>Berkumpul bersama <a href="http://cahandong.org/" title="CahAndong" target="_blank">teman-teman</a> yang menyenangkan di <a href="http://cahandong.org/2008/03/24/makloemat-pasak-boemi.html" title="Makloemat Pasak Boemi" target="_blank">tempat yang mengesankan</a> pada hari bertambahnya usia rupanya menjadi kado indah saya yang mungkin entah ndak akan saya dapatkan lagi.</p>
<p>Terima kasih, semuanya! <img src='http://jengjeng.matriphe.com/smilies/yahoo_smiley.gif' alt='&#58;&#41;' class='wp-smiley' width='18' height='18' title='&#58;&#41;' /></p>
 jengjeng matriphe!]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://jengjeng.matriphe.com/wilujengan-dumateng-pasak-boemi.html/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>65</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Candi Ijo, Letaknya Paling Tinggi di Jogja</title>
		<link>http://jengjeng.matriphe.com/candi-ijo-letaknya-paling-tinggi-di-jogja.html</link>
		<comments>http://jengjeng.matriphe.com/candi-ijo-letaknya-paling-tinggi-di-jogja.html#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 26 Nov 2007 15:02:48 +0000</pubDate>
		<dc:creator>matriphe</dc:creator>
				<category><![CDATA[Candi & Tempat Ibadah]]></category>
		<category><![CDATA[Destinasi]]></category>
		<category><![CDATA[candi]]></category>
		<category><![CDATA[Hindu]]></category>
		<category><![CDATA[Yogyakarta]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://jengjeng.matriphe.com/index.php/2007/11/26/candi-ijo-letaknya-paling-tinggi-di-jogja.html</guid>
		<description><![CDATA[
Menuju ke arah selatan dari Petilasan Ratu Boko, kita akan menemukan kompleks candi yang unik. Konon candi ini merupakan candi yang letaknya paling tinggi bila dibandingkan dengan candi-candi lain di Jogja.
Candi Ijo, dinamakan demikian karena candi ini merupakan markas Kolor Ijo terletak di Gumuk Ijo atau Bukit Hijau yang memang eksotis pemandangannya.
Setelah dilanda kepenatan yang [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><img src="http://jengjeng.matriphe.com/index.php?feedimage=wp-content/uploads/2007/11/candi-ijo1.jpg" alt="Candi Ijo, Terletak Paling Tinggi di Jogja" title="Candi Ijo, Terletak Paling Tinggi di Jogja" width="350" height="263" class="alignnone size-full wp-image-1221" /></p>
<p>Menuju ke arah selatan dari <a href="http://jengjeng.matriphe.com/index.php/2007/07/17/sunset-hunting-at-ratu-boko-by-bike.html" title="Sunset Hunting at Ratu Boko by Bike!">Petilasan Ratu Boko</a>, kita akan menemukan kompleks candi yang unik. Konon candi ini merupakan candi yang letaknya paling tinggi bila dibandingkan dengan candi-candi lain di Jogja.</p>
<p>Candi Ijo, dinamakan demikian karena candi ini <strike>merupakan markas Kolor Ijo</strike> terletak di Gumuk Ijo atau Bukit Hijau yang memang eksotis pemandangannya.</p>
<p>Setelah dilanda kepenatan yang amat sangat, berkunjunglah saya bersama <a href="http://annots.wordpress.com/" title="Annots" target="_blank">doyoker trainee #1</a> yang merangkap guide saya ke sana untuk sekedar menenangkan pikiran. <img src='http://jengjeng.matriphe.com/smilies/yahoo_smiley.gif' alt='&#58;&#41;' class='wp-smiley' width='18' height='18' title='&#58;&#41;' /></p>
<p><span id="more-478"></span>Candi Ijo, terletak di Desa Gumuk Ijo, Kecamatan Prambanan, Sleman. Berada di atas bukit berketinggian Â± 410 meter dpl menjadikannya candi dengan letak paling tinggi se-Jogja.</p>
<p>Yang namanya di atas bukit, tentu pemandangannya ndak perlu diragukan lagi. Selain pemandangan alam yang hijau menyegarkan, kita dapat pula melihat landasan bandara Adisucipto di sebelah barat.</p>
<p>Pesawat yang hendak landing dan take off pun dapat terlihat dari atas bukit ini. Sayangnya kami ndak membawa <a href="http://mettex.net/astrojeff//binokuler.htm" title="apa sih, binoculer itu?" target="_blank">binocular</a> saat itu, sehingga pemandangan pesawat <a href="http://www.flyadamair.com/" title="Adam Air" target="_blank">Adam Air</a> (teridentifikasi dari warna oranye-nya) yang hendak take off hanya kami lihat sayup-sayup. <img src='http://jengjeng.matriphe.com/smilies/yahoo_bigsmile.gif' alt='&#58;&#68;' class='wp-smiley' width='18' height='18' title='&#58;&#68;' /></p>
<p>Untuk menuju kompleks ini, jalan yang kami lalui cukup terjal. Walau jalannya sudah diaspal mulus, namun tanjakan curam, kelokan tajam, serta jalan sempit membuat kita harus ekstra waspada.</p>
<p>Kami melewati bukit kapur. Bukit-bukit ini dipotong oleh para penambang batu kapur yang kemudian batu-batu kapur ini sering digunakan untuk bahan ukiran atau bahan bangunan.</p>
<p>Posisi candi yang terletak di pinggir jalan membuat candi ini mudah ditemukan. Sebenernya kompleks candi ini ada 11 teras yang harus dilalui, namun kami langsung menuju ke teras kesebelas dengan menggunakan motor.</p>
<p>Ada 3 buah candi perwara dan sebuah candi utama di teras paling atas (teras kesebelas) yang merupakan teras paling suci.</p>
<p><img src='http://jengjeng.matriphe.com/wp-content/uploads/2007/11/kompleks-candi1.jpg' alt='Candi Ijo pada teras kesebelas' /></p>
<p>Dari bentuknya sekilas dapat ditebak bahwa candi ini merupakan candi dengan latar belakang agama Hindu. Dari bentuk ukirannya pula, candi ini diperkirakan dibangun pada abad ke-9.</p>
<p>Candi utama menghadap ke barat sedangkan ketiga candi perwara yang berada di depan candi utama menghadap ke timur.</p>
<p><img src='http://jengjeng.matriphe.com/wp-content/uploads/2007/11/candi-perwara.jpg' alt='Tiga Candi Perwara di teras kesebelas' /></p>
<p>Atap candi perwara ini bebentuk permata ratna bertingkat 3 sedangkan yang di tengah beratap 4 tingkat. Bentuknya mengingatkan saya pada <a href="http://jengjeng.matriphe.com/index.php/2007/10/05/nuansa-alam-candi-gedong-songo.html" title="Nuansa Alam Candi Gedong Songo">Candi Gedong Songo</a>.</p>
<p>Saya pun mengamati candi perwara paling selatan terlebih dahulu. Hiasan Kala-Makara di pintu seolah-olah menjadi hiasan wajib di setiap candi yang saya temui.</p>
<p>Sekeliling dinding candi, terdapat relung-relung dangkal yang ditengarai berisi relief. Di dalam candi perwara ini, saya menemukan <strike>Lingga namun tanpa Yoni</strike> Yoni namun tanpa Lingga. Thanks <a href="http://mimimama.blogspot.com/" title="Fahmi" target="_blank">Fahmi</a> atas <a href="http://jengjeng.matriphe.com/index.php/2007/11/26/candi-ijo-letaknya-paling-tinggi-di-jogja.html#comment-2939" title="koreksi dari Fahmi">koreksinya</a>. <img src='http://jengjeng.matriphe.com/smilies/yahoo_bigsmile.gif' alt='&#58;&#68;' class='wp-smiley' width='18' height='18' title='&#58;&#68;' /></p>
<p><strike>Maaf, gambar belum dikoreksi. Maklum, fakir benwit. Tapi pasti akan saya koreksi.</strike> Gambar sudah dikoreksi. <img src='http://jengjeng.matriphe.com/smilies/yahoo_wink.gif' alt='&#59;&#41;' class='wp-smiley' width='18' height='18' title='&#59;&#41;' /></p>
<p><img src='http://jengjeng.matriphe.com/wp-content/uploads/2007/11/yoni.jpg' alt='Yoni pada Candi Perwara Selatan' /></p>
<p>Pada candi perwara yang berada di tengah, dinding sekelilingnya berisi ukir-ukiran bunga yang seperti &#8220;terbalik&#8221;, yaitu bunga tumbuh ke bawah, bukannya ke atas.</p>
<p><img src='http://jengjeng.matriphe.com/wp-content/uploads/2007/11/ukiran.jpg' alt='Ukiran pada dinding Candi Perwara Tengah' /></p>
<p>Di dalam candi perwara tengah ini seharusnya ditemukan arca Nandini, arca sapi betina tunggangan Dewa Siwa. Nandini juga merupakan lambang kekayaan dan merupakan hewan yang tak kenal rasa takut.</p>
<p>Ternyata arca Nandini ini dipindahkan letaknya. Arca Nandini ini dapat kita temukan pada pos di sebelah selatan candi utama.</p>
<p><img src='http://jengjeng.matriphe.com/wp-content/uploads/2007/11/nandini.jpg' alt='Arca Nandini pada Candi Perwara Tengah' /></p>
<p>Pada candi perwara ketiga yang terletak paling utara, saya menemukan sebuah lubang besar. Awalnya saya mengira ini adalah lubang bekas penempatan Lingga, namun setelah melihat jendela ventilasi pada dinding, perkiraan saya ini rasanya kurang tepat.</p>
<p>Menurut informasi, ternyata lubang ini adalah Homa, yang berfungsi untuk pembakaran. Diperkirakan candi perwara ini digunakan untuk ritual pengorbanan dengan membakar sesaji.</p>
<p><img src='http://jengjeng.matriphe.com/wp-content/uploads/2007/11/homa.jpg' alt='Lubang Homa pada Candi Perwara Utara' /></p>
<p>Lubang-lubang ventilasi pada dinding berbentuk segi empat ketupat seperti pada lubang-lubang pada stupa Candi Borobudur, namun ada ukir-ukirannya.</p>
<p>Lubang-lubang ini tentu berfungsi untuk mengeluarkan asap akibat pembakaran yang dilakukan pada Homa.</p>
<p>Ketika saya akan masuk ke dalam candi utama, petugas melarang saya. Rupanya saat itu ada ritual sembahyang yang dilakukan oleh sepasang muda-mudi beragama Hindu. Dari informasi petugas, candi ini memang sering digunakan untuk ritual ibadah, terutama umat Hindu.</p>
<p>Saat kami ke sana, candi ini juga sedang dibersihkan. Para petugas dari Dinas Purbakala membersihkan lumut-lumut yang tumbuh di badan candi. Bahkan para petugas ini menggunakan tangga untuk membersihkan lumut di bagian atap candi.</p>
<p>Lumut memang dapat merusak batu-batuan candi. Sayang banget bila warisan budaya seperti ini lapuk tanpa ada perawatan.</p>
<p><img src='http://jengjeng.matriphe.com/wp-content/uploads/2007/11/candi-utama1.jpg' alt='Candi Utama pada teras kesebelas' /></p>
<p>Saya pun berkeliling mengamati bagian luar candi utama. Tiap dinding pada candi ini terdapat masing-masing 3 relung yang ditengarai berisi arca Agastya, Ganesha, dan Dewi Durga. Namun semua arca ini ndak saya temukan.</p>
<p>Di pintu masuk, saya menemukan hiasan Kala ganda. Maksudnya ada 2 buah hiasan Kala di atas pintu utama. Di samping pintu utama terdapat relung yang saya tengarai berisi arca Mahakala dan Nadiswara. *sotoy* <img src='http://jengjeng.matriphe.com/smilies/yahoo_bigsmile.gif' alt='&#58;&#68;' class='wp-smiley' width='18' height='18' title='&#58;&#68;' /></p>
<p>Setelah ritual ibadah selesai, kami pun dipersilakan masuk ke dalam candi utama. Bau harum dupa langsung menusuk. Ya iya lah, wong habis dipake beribadah! <img src='http://jengjeng.matriphe.com/smilies/yahoo_bigsmile.gif' alt='&#58;&#68;' class='wp-smiley' width='18' height='18' title='&#58;&#68;' /></p>
<p>Di dalam candi utama terdapat Lingga dan Yoni berukuran besar. <strike>Lingga</strike> Yoni ini berukuran sekitar 1 x 1 x 1 meter dan tinggi <strike>Yoni</strike> Lingga sekitar Â½ meteran.</p>
<p><img src='http://jengjeng.matriphe.com/wp-content/uploads/2007/11/lingga-yoni.jpg' alt='Lingga-Yoni pada Candi Utama' /></p>
<p>Pada bagian cerat, terdapat hiasan kepala ular menyunggi kura-kura yang mirip banget dengan hiasan <strike>Lingga</strike> Yoni pada <a href="http://jengjeng.matriphe.com/index.php/2007/09/03/candi-sambisari-6-setengah-m-di-bawah-tanah.html" title="Candi Sambisari, 6Â½ m di Bawah Tanah">Candi Sambisari</a>.</p>
<p>Ukiran kepala ular dan kura-kura ini menggambarkan dasar dari pembentukan dunia menurut cerita kuno yang beredar di kawasan Asia Tenggara.</p>
<p><img src='http://jengjeng.matriphe.com/wp-content/uploads/2007/11/hiasan-lingga.jpg' alt='Hiasan Ular-Kura pada Lingga' /></p>
<p>Lingga dan Yoni ini juga digunakan untuk menyucikan air yang digunakan untuk beribadah umat Hindu pada jaman dulu. Caranya dengan menuangkan air pada <strike>Yoni</strike> Lingga yang kemudian air yang mengalir melalui <strike>Yoni</strike> Lingga akan tertampung pada <strike>Lingga</strike> Yoni dan kemudian air ini ditampung melalui cerat.</p>
<p>Pada dinding bagian dalam candi, masing-masing terdapat relung yang diapit ukiran dewa-dewi yang terbang dengan membawa semacam cawan menuju ke arah relung.</p>
<p><img src='http://jengjeng.matriphe.com/wp-content/uploads/2007/11/dewa-dewi.jpg' alt='Arca Dewa-Dewi membawa nampan' /></p>
<p>Ada lagi keunikan yang saya temukan di candi ini. Saya menemukan ukiran berbentuk seperti Kala yang terletak pada bahu tangga candi. Ukiran ini dapat ditemukan pada tangga masuk candi perwara maupun candi utama.</p>
<p><img src='http://jengjeng.matriphe.com/wp-content/uploads/2007/11/hiasan-kala.jpg' alt='Hiasan mirip Kala pada tangga' /></p>
<p>Di candi lain, hiasan semacam ini ndak saya temukan. Wajah Kala-nya pun sedikit berbeda dengan kala yang biasa saya liat di atas pintu-pintu candi itu.</p>
<p>Kehadiran 2 buah candi perwara dengan masing-masing fungsinya ditengarai merupakan penghormatan kepada Trimurti, walau dari Lingga dan Yoni yang ada menunjukkan candi ini bersifat Hindu Siwaistis.</p>
<p>Candi perwara paling utara yang memiliki Homa merupakan cerminan dari Dewa Brahma, Dewa Pencipta yang juga dikenal sebagai Dewa Api. Kemudian adanya Lingga-Yoni serta arca Nandini merupakan cerminan dari Dewa Wisnu sang Dewa Pemelihara, serta Dewa Siwa sang Dewa Penghancur.</p>
<p>Puas berkeliling di teras teratas, saya pun tertarik menyusuri teras-teras di bawahnya. Konon ada 17 bangunan pada kompleks candi ini.</p>
<p>Teras kesepuluh merupakan semacam selasar dengan tembok pagar batu mengelilingi teras kesebelas. Ada sebuah tangga menghubungkan teras kesepuluh dengan teras kesembilan.</p>
<p>Pada teras kesembilan dan kedelapan kita dapat menemukan puing-puing candi. Kondisinya begitu memprihatinkan. Batu-batu berserakan di sana-sini.</p>
<p><img src='http://jengjeng.matriphe.com/wp-content/uploads/2007/11/puing-teras-sembilan.jpg' alt='Puing-puing candi di teras kesembilan' /></p>
<p>Saya menemukan pohon Jambu Monyet di sini. Sayang banget, buah Jambu Monyet yang matang ada di atas semua dan susah dijangkau. Dapet sebuah, rasanya? Asem, sepet, dan getahnya bikin gatal! <img src='http://jengjeng.matriphe.com/smilies/yahoo_laughloud.gif' alt='&#58;&#41;&#41;' class='wp-smiley' width='18' height='18' title='&#58;&#41;&#41;' /></p>
<p>Menurut informasi, di puing-puing candi pada teras kedelapan ini lah ditemukan 2 buah prasasti batu.</p>
<p>Prasasti pertama setinggi 1 meter yang bertuliskan <em>Guywan</em> yang berarti &#8220;pertapaan&#8221;. Ada lagi prasasti setinggi 14 cm dan tebal 9 cm yang berisi 16 baris kutukan berbunyi, &#8220;om sarwwawinasa, sarwwawinasa&#8221;. Namun ketika kami ke sana, kami ndak melihat prasasti ini.</p>
<p>Puing-puing candi lainnya dapat ditemukan pada teras kelima, keempat, dan teras pertama. Sedangkan teras lainya berupa tanah lapang kosong yang berundak.</p>
<p>Mohon maaf kepada <a href="http://cyapila.com/blog/" title="Cyapila" target="_blank">doyoker trainee #2</a> yang ndak diajak karena <a href="http://cyapila.com/blog/2007/11/25/case-closed/" title="case closed" target="_blank">baru wisuda</a> (selamat, ya!) dan kepada <a href="http://www.kapucino.org/" title="Leksa" target="_blank">doyoker wannabe</a> yang kami ndak tau nomor kontak sampeyan. <img src='http://jengjeng.matriphe.com/smilies/yahoo_bigsmile.gif' alt='&#58;&#68;' class='wp-smiley' width='18' height='18' title='&#58;&#68;' /></p>
 jengjeng matriphe!]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://jengjeng.matriphe.com/candi-ijo-letaknya-paling-tinggi-di-jogja.html/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>42</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Candi Barong, Memuja Dewi Kesuburan</title>
		<link>http://jengjeng.matriphe.com/candi-barong-memuja-dewi-kesuburan.html</link>
		<comments>http://jengjeng.matriphe.com/candi-barong-memuja-dewi-kesuburan.html#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 12 Nov 2007 03:58:40 +0000</pubDate>
		<dc:creator>matriphe</dc:creator>
				<category><![CDATA[Candi & Tempat Ibadah]]></category>
		<category><![CDATA[Destinasi]]></category>
		<category><![CDATA[candi]]></category>
		<category><![CDATA[Hindu]]></category>
		<category><![CDATA[Yogyakarta]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://jengjeng.matriphe.com/index.php/2007/11/12/candi-barong-memuja-dewi-kesuburan.html</guid>
		<description><![CDATA[
Kerinduan saya akan candi kembali terobati. Beberapa hari ini saya ndak bisa konsen kerja karena pikiran ini selalu terbayang-bayang akan batu candi. 
Hari Ahad (11/11) kemarin, saya dan rekan ndoyok saya kembali berpetualang ke Candi Barong untuk beribadah setelah lama vakum keluyuran.
Petualangan tolol kali ini sedikit beda, karena bisa dibilang petualangan kami kemarin merupakan training [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><img src="http://jengjeng.matriphe.com/index.php?feedimage=wp-content/uploads/2007/11/candi-barong1.jpg" alt="Candi Barong, Memohon Kesuburan dari Dewi Sri" title="Candi Barong, Memohon Kesuburan dari Dewi Sri" width="350" height="263" class="alignnone size-full wp-image-1226" /></p>
<p>Kerinduan saya akan candi kembali terobati. Beberapa hari ini saya ndak bisa konsen kerja karena pikiran ini selalu terbayang-bayang akan batu candi. <img src='http://jengjeng.matriphe.com/smilies/yahoo_laughloud.gif' alt='&#58;&#41;&#41;' class='wp-smiley' width='18' height='18' title='&#58;&#41;&#41;' /></p>
<p>Hari Ahad (11/11) kemarin, saya dan <a href="http://diditkurniawan.web.ugm.ac.id/" title="diditjogja" target="_blank">rekan ndoyok saya</a> kembali berpetualang ke Candi Barong <strike>untuk beribadah</strike> setelah lama vakum keluyuran.</p>
<p>Petualangan tolol kali ini sedikit beda, karena bisa dibilang petualangan kami kemarin merupakan training dan diklat kepada para <acronym title="doyoker pemula yang lagi magang">doyoker trainee</acronym> sekaligus memperkenalkan kegiatan <em>ndoyok</em> kepada seorang tamu. <img src='http://jengjeng.matriphe.com/smilies/yahoo_laughloud.gif' alt='&#58;&#41;&#41;' class='wp-smiley' width='18' height='18' title='&#58;&#41;&#41;' /></p>
<p>Para <em>doyoker trainee</em> itu adalah <a href="http://annots.wordpress.com/" title="Annots" target="_blank">Annots</a> dan <a href="http://cyapila.com/blog/" target="_blank" title="Cyapila">Cyapila</a>, sedangkan tamu kami hari itu adalah seorang mahasiswi tersesat bernama <strike>Tika yang ndak kebangetan</strike> Ika. <img src='http://jengjeng.matriphe.com/smilies/yahoo_bigsmile.gif' alt='&#58;&#68;' class='wp-smiley' width='18' height='18' title='&#58;&#68;' /></p>
<p><span id="more-452"></span>Perjalanan dimulai pukul 9 pagi. Cuaca yang mendung-cerah cukup mendukung karena medan yang akan kami kunjungi cukup &#8220;memprihatinkan&#8221;.</p>
<p>Ada 2 jalur sebenernya untuk menuju ke Candi Barong. Jalur pertama melalui sebelah utara yang memungkinkan kendaraan sampai ke bagian belakang candi. Tetapi kami ndak menempuh jalur itu karena jaraknya lebih jauh.</p>
<p>Kami menempuh jalur yang cukup berat namun cukup gampang ditempuh. Dari pertigaan Prambanan, ambil jalur ke selatan, ke arah situs <a href="http://jengjeng.matriphe.com/index.php/2007/07/17/sunset-hunting-at-ratu-boko-by-bike.html" title="Sunset Hunting at Ratu Boko by Bike!">Petilasan Ratu Boko</a>. Kemudian akan ada papan petunjuk ke arah <a href="http://jengjeng.matriphe.com/index.php/2007/09/08/candi-banyunibo-candi-sebatang-kara.html" title="Candi Banyunibo, Candi Sebatang Kara">Candi Banyunibo</a>.</p>
<p>Jika ke Candi Banyunibo belok ke kanan (selatan), untuk ke Candi Barong kita mengambil jalan lurus kemudian belok ke kiri. Letak Candi Barong ada di sebelah timur Candi Banyunibo tapi berada di atas bukit. Bila melalui jalur ini, kendaraan ndak dapat sampai ke lokasi candi di atas.</p>
<p>Kami terkejut ketika ada petunjuk menuju ke arah Candi Barong malah nyasar ke halaman rumah penduduk. Oleh si empunya rumah, kami diberitahu bahwa memang sering orang kesasar ke rumahnya ketika hendak menuju ke Candi Barong.</p>
<p>Untungnya bapak pemilik rumah tersebut mempersilakan kami memarkir kendaraan di halaman rumahnya. Kami kemudian melanjutkan perjalanan ke Candi Barong dengan berjalan kaki, menyusuri jalan setapak nan licin.</p>
<p>Jalan mendaki menuju candi ini cukup mantab sebagai ajang berolah raga. Selain itu pemandangan eksotis hamparan sawah, rumput, dan ilalang menghijau di sekitar candi begitu menyejukkan.</p>
<p>Candi Barong terletak lereng Pegunungan Boko. Berada di ketinggian Â±200 meter dpl, di Desa Candisari, Bokoharjo, Prambanan, Sleman.</p>
<p>Disebut Candi Barong karena hiasan Kala pada candi ini berbentuk seperti kepala Barong di Bali itu.</p>
<p><img src='http://jengjeng.matriphe.com/wp-content/uploads/2007/11/barong.jpg' alt='Hiasan kepala Barong pada Kala' /></p>
<p>Candi Barong tersusun atas 3 tingkat. Tingkat pertama merupakan dasar dari seluruh bangunan candi berupa tanah datar. Tingkat kedua berupa pelataran yang ditengarai dulu berdiri bangunan yang menggunakan unsur kayu selain unsur batu. Tingkat ketiga ini adalah tingkat yang paling suci, di mana terdapat 2 buah candi utama dan sebuah gerbang.</p>
<p>Untuk menuju ke sana, kita harus melalui 3 tangga yang berada di bagian barat. Kompleks candi berada di atas fondasi batu berbentuk talud yang membentuk pelataran.</p>
<p><img src='http://jengjeng.matriphe.com/wp-content/uploads/2007/11/talud.jpg' alt='Talud fondasi bangunan candi' /></p>
<p>Pelataran kedua ini berukuran sekitar 12 x 8 meter. Pada pelataran ditemukan puing-puing batu sisa bangunan. Ditengarai di pelataran ini dulu merupakan kompleks bangunan pendukung candi.</p>
<p>Dari petak-petak dan sisa-sisa batu, diperkirakan merupakan bangunan semacam tempat tinggal atau pendopo.</p>
<p><img src='http://jengjeng.matriphe.com/wp-content/uploads/2007/11/pelataran.jpg' alt='Pelataran candi tingkat kedua' /></p>
<p>Candi Barong berada pada tingkat ketiga. Sebelum masuk ke kompleks candi, ada sebuah gapura berhias motif Kala-Makara yang harus dilewati. Ditengarai di sekeliling candi ini terdapat pagar namun pagar ini telah roboh dan hanya tersisa sedikit di sisi gerbang sebelah utara.</p>
<p><img src='http://jengjeng.matriphe.com/wp-content/uploads/2007/11/kompleks-candi.jpg' alt='Dua candi utama dan gerbang' /></p>
<p>Ada 2 buah candi utama yang posisinya &#8220;kurang simetris&#8221; karena candi ini cenderung menjorok ke selatan.</p>
<p>Sekilas kedua candi ini nampak sama, namun ada beberapa perbedaan yang bisa kita temukan.</p>
<p>Candi pertama yang berada di sebelah utara (di depan gerbang pintu masuk) berukuran sedikit lebih kecil. Motif ukiran dan arca yang ada pada candi ini pun sedikit berbeda.</p>
<p>Candi ini ndak memiliki ruangan. Hanya terdapat 4 relung berhias Kala-Makara di keempat sisinya. Arca yang ada pada candi ini pun sudah hilang atau mungkin sudah diamankan.</p>
<p>Menurut referensi yang saya baca, pada candi ini ditemukan arca Dewi Sri sang dewi kesuburan, istri dari Dewa Wisnu. Selain itu ditemukan juga hiasan kerang bersayap (Sankha) yang merupakan simbol dari Dewa Wisnu.</p>
<p>Candi pertama, yang berada persis di depan gerbang candi merupakan candi untuk menghormati Dewa Wisnu, sedangkan candi di sampingnya merupakan candi untuk menghormati Dewi Sri.</p>
<p>Dari ciri-ciri ini, dapat diidentifikasikan bahwa Candi Barong merupakan candi Hindu. Dari bentuk bangunannya, candi ini diperkirakan dibangun pada abad ke-9.</p>
<p>Ditemukannya arca Dewi Sri menjadi tanda bahwa candi ini ditengarai merupakan candi pemujaan terhadap Dewi Sri untuk memohon kesuburan. Apalagi lokasi candi ini berada di atas bukit yang tanahnya relatif kurang subur.</p>
<p><img src='http://jengjeng.matriphe.com/wp-content/uploads/2007/11/candi-utama.jpg' alt='Candi utama di bagian tengah' /></p>
<p>Bangunan candi sendiri berupa lantai, badan, dan atap candi. Kaki candi berupa alas persegi bersusun tingkat. Kita dapat menemukan ukiran bermotif berlian dan sulur di bagian ini. Antara kaki dan badan dipisahkan dengan selasar dengan hiasan segitiga.</p>
<p>Badan candi terdapat relung Kala-Makara dengan hiasan sulur di dindingnya. Pada bagian bawah relung, kita menemukan hiasan makhluk kerdil bernama Ghana yang diapit ukiran pot.</p>
<p>Badan dan atap candi dipisahkan hiasan berupa segitiga, seperti pada pemisah badan dan kaki candi. Bagian atap terdiri atas 3 tingkat berbentuk permata ratna.</p>
<p>Kondisi bangunan candi masih sangat baik dan utuh. Motif ukiran dan relief masih dapat dilihat dengan jelas. Hanya saja, arca-arca yang seharusnya mengisi relung-relung candi ndak dapat kita temukan.</p>
<p>Bentuk keseluruhan kompleks candi juga menarik, karena ada bagian-bagian yang tidak simetris namun di sisi lain ada bagian yang sangat simetris. Nah, bingung kan? <img src='http://jengjeng.matriphe.com/smilies/yahoo_giggle.gif' alt='&#59;&#41;&#41;' class='wp-smiley' width='18' height='18' title='&#59;&#41;&#41;' /></p>
<p>Tak jauh dari kompleks Candi Barong, di sebelah utara kami menemukan puing-puing batu. Ketika kami menuju ke sana, kami ndak menemukan petunjuk apapun mengenai puing-puing batu tersebut. Kemungkinan ini adalah sisa-sisa batu penyusun Candi Barong yang belum dapat disusun kembali.</p>
<p>Selain kompleks candi yang menjadi daya tarik, lokasinya yang berada di atas bukit memberikan pemandangan mantab dan menyenangkan. <img src='http://jengjeng.matriphe.com/smilies/yahoo_smiley.gif' alt='&#58;&#41;' class='wp-smiley' width='18' height='18' title='&#58;&#41;' /></p>
<p>Namun sayang, lokasi yang terpencil dan sulit dijangkau membuat potensi wisata ini menjadi tak terurus dan tersisih.</p>
 jengjeng matriphe!]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://jengjeng.matriphe.com/candi-barong-memuja-dewi-kesuburan.html/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>56</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Nuansa Alam Candi Gedong Songo</title>
		<link>http://jengjeng.matriphe.com/nuansa-alam-candi-gedong-songo.html</link>
		<comments>http://jengjeng.matriphe.com/nuansa-alam-candi-gedong-songo.html#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 04 Oct 2007 23:55:09 +0000</pubDate>
		<dc:creator>matriphe</dc:creator>
				<category><![CDATA[Candi & Tempat Ibadah]]></category>
		<category><![CDATA[Destinasi]]></category>
		<category><![CDATA[candi]]></category>
		<category><![CDATA[Hindu]]></category>
		<category><![CDATA[Semarang]]></category>
		<category><![CDATA[Ungaran]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://jengjeng.matriphe.com/index.php/2007/10/05/nuansa-alam-candi-gedong-songo.html</guid>
		<description><![CDATA[
Hari Rabu, 3 Oktober lalu, saya ngeluyur lagi ke candi. Seperti biasa, petualangan tolol saya kali ini tetep masih tanpa rencana, lebih tepatnya karena tersesat. 
Petualangan diawali setelah saya menyelesaikan pekerjaan saya di Semarang. Biasanya saya ke Semarang bareng sama majikan saya, sehingga habis kerja ndak bakal bisa keluyuran.
Untungnya hari itu saya sendirian. Niatan untuk [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><img src="http://jengjeng.matriphe.com/index.php?feedimage=wp-content/uploads/2007/10/candi-gedong-songo1.jpg" alt="Candi Gedong Songo" title="Candi Gedong Songo" width="350" height="263" class="alignnone size-full wp-image-1266" /></p>
<p>Hari Rabu, 3 Oktober lalu, saya ngeluyur lagi ke candi. Seperti biasa, petualangan tolol saya kali ini tetep masih tanpa rencana, lebih tepatnya karena tersesat. <img src='http://jengjeng.matriphe.com/smilies/yahoo_laughloud.gif' alt='&#58;&#41;&#41;' class='wp-smiley' width='18' height='18' title='&#58;&#41;&#41;' /></p>
<p>Petualangan diawali setelah saya menyelesaikan pekerjaan saya di Semarang. Biasanya saya ke Semarang bareng sama majikan saya, sehingga habis kerja ndak bakal bisa keluyuran.</p>
<p>Untungnya hari itu saya sendirian. Niatan untuk jeng-jeng setelah urusan kerjaan usai pun membara di dada. Sepeda motor pun saya pilih sebagai tunggangan dan rekan berpetualang.</p>
<p>Sejak dari Jogja, niat awalnya sih mo ke Bandungan. Tapi apa lacur, sampai di Bandungan saya ndak menemukan obyek yang menarik.</p>
<p>Dasar nasib, mata saya ndak sengaja melihat papan petunjuk ke arah Candi Gedong Songo. Hasrat sok-arkeolog saya pun terusik, dimulailah <acronym title="istilah untuk melakukan petualangan dengan nekad dan penuh ke-soktau-an">pendoyokan</acronym> saya hari itu! <img src='http://jengjeng.matriphe.com/smilies/yahoo_devil.gif' alt='&#62;&#58;&#41;' class='wp-smiley' width='18' height='18' title='&#62;&#58;&#41;' /></p>
<p><span id="more-405"></span>Kompleks wisata Candi Gedong Songo terletak sekitar 1.200 meter <acronym title="dari permukaan air laut">DPL</acronym> di lereng Gunung Ungaran, tepatnya di Desa Candi, Kecamatan Ambarawa, Kabupaten Semarang. Jika dari Bandungan, ambil arah ke barat sejauh kurang lebih 15 km.</p>
<p>Jalan menuju obyek ini sangat terjal dan berkelok. Tapi kita akan diganjar oleh pemandangan mantab dan keren kota Ambarawa dan Rawa Pening dari atas. Jika cuaca cukup cerah, gunung kembar Sindoro dan Sumbing pun akan terlihat.</p>
<p>Jangan sekali-kali menuju ke tempat wisata ini jika kendaraan ndak dalam kondisi fit. Tanjakan sebesar 30Â°-40Â° akan menghajar mesin. Belom lagi tikungan tajam dan berkelok membuat mesin harus bekerja ekstra.</p>
<p>Bahkan ketika saya turun dengan kondisi gigi netral dan mesin sengaja saya matikan untuk menghemat bensin, dalam beberapa detik speedometer menunjukkan angka 60 km/jam dan terus bertambah jika saya ndak ngerem.</p>
<p>Kata &#8220;Gedong Songo&#8221; berasal dari bahasa Jawa &#8220;Gedong&#8221; yang berarti bangunan dan &#8220;Songo&#8221; yang berarti sembilan. Dulunya, nama kompleks candi ini disebut &#8220;Gedong Pitu&#8221; alias Gedong Tujuh, karena saat pertama kali ditemukan oleh Gubernur Jendral Raffles tahun 1740, ada 7 candi. Kemudian ditemukan lagi 2 bangunan candi sehingga disebut dengan &#8220;Gedong Songo&#8221;.</p>
<p>Meski namanya Gedong Songo, namun cuma 5 candi saja yang masih berdiri kokoh. Empat candi lainnya cuma tertinggal puing. Semua candi ini terletak menyebar di beberapa bukit ke atas, dengan urutan candi nomor satu berada di paling bawah, kemudian berurutan hingga ke atas.</p>
<p>Selain candi, di kompleks obyek wisata ini terdapat taman bermain dengan berbagai fasilitas pemainan, hutan pinus yang nyaman untuk berekreasi dengan keluarga, ladang-ladang sayuran milik penduduk sekitar, serta bumi perkemahan. Tak jarang pula, pendakian ke puncak Gunung Ungaran juga dimulai dari kompleks ini.</p>
<p>Dengan tiket masuk seharga 2.600 rupiah dan ongkos parkir motor 1.000 rupiah, kita bisa menikmati berbagai keindahan di lokasi ini sepuasnya.</p>
<p>Begitu masuk gerbang, jalanan menanjak langsung menyambut. Weleh, cukup ngos-ngosan juga, padahal candinya aja belum terlihat.</p>
<p>Untuk menuju ke candi, kita dapat mengikuti jalan setapak yang sudah disemen. Ada 2 jalur, lewat barat atau lewat utara. Bila ingin mengikuti urutan candi, ambillah jalan ke utara alias naik. Saya pun mengambil jalur yang ke utara.</p>
<p>Belum sampai ke candi yang pertama, kita akan ditawari menunggang kuda untuk melahap jalan menanjak terkutuk itu. Ongkos sewanya sekitar 50.000 rupiah, tapi bisa lebih murah jika kita pandai menawar.</p>
<p>Saya memilih untuk berjalan kaki. La saya ndak punya cukup uang, je! Saya juga lupa kalo saya sedang puasa, mana hari itu saya ndak sahur karena kesiangan. Waduh mak, haus banget! <img src='http://jengjeng.matriphe.com/smilies/banghead.gif' alt='&#58;&#98;&#97;&#110;&#103;&#104;&#101;&#97;&#100;' class='wp-smiley' width='25' height='20' title='&#58;&#98;&#97;&#110;&#103;&#104;&#101;&#97;&#100;' /></p>
<p><strong>CANDI GEDONG SATU</strong></p>
<p><img src='http://jengjeng.matriphe.com/wp-content/uploads/2007/10/candi-1.jpg' alt='Candi Gedong Satu' /></p>
<p>Sampai juga saya di candi pertama. Candi ini hanya terdiri atas sebuah candi saja. Tetapi ditengarai ada candi perwara, dengan melihat puing-puing di sekitar candi ini.</p>
<p>Bentuk atap candinya terdiri atas 3 tingkat. Masing-masing tingkat dihiasi oleh segitiga-segitiga dengan ukiran yang cantik. Yang unik, di dalam candi pertama ini, kita dapat menemukan Yoni namun tanpa Lingga.</p>
<p>Ndak ada arca satu pun di candi ini. Setiap sisi candi hanya terdapat relung-relung kosong. Kondisi bangunan candi pun cukup memprihatinkan karena banyak batuan yang rapuh dan rusak.</p>
<p>Perjalanan pun saya teruskan ke candi kedua. Jalanan panjang menanjak begitu menyiksa betis dan paha saya yang jarang terlatih ini. Beberapa kali saya harus berhenti untuk istirahat sejenak, menghirup nafas panjang, sambil mencium harum pinus dan menikmati pemandangan.</p>
<p>Tak terasa tubuh pun mulai berkeringat. Dari kejauhan, keempat candi lainnya pun mulai terlihat. Masing-masing berdiri di bukit-bukit yang berbeda. Perjalanan masih panjang, bung! <img src='http://jengjeng.matriphe.com/smilies/yahoo_sweating.gif' alt='&#35;&#58;&#45;&#83;' class='wp-smiley' width='34' height='18' title='&#35;&#58;&#45;&#83;' /></p>
<p><strong>CANDI GEDONG DUA</strong></p>
<p><img src='http://jengjeng.matriphe.com/wp-content/uploads/2007/10/candi-2.jpg' alt='Candi Gedong Dua' /></p>
<p>Setelah melalui perjuangan panjang, tiba juga saya di candi kedua. Candi kedua ini juga terdiri atas sebuah candi saja. Namun kita juga dapat menemukan puing-puing yang ditengarai merupakan candi perwara. Candi ini kondisinya yang paling baik di antara candi-candi lainnya.</p>
<p>Atapnya tersusun atas 4 tingkat, dengan stupa di tiap ujungnya dan hiasan Antefix di tengah-tengah sisinya. Antefix adalah ukiran seorang dewa dalam posisi bersila yang berada di dalam segitiga berukiran pot dengan sulur-sulur daunnya.</p>
<p><img src='http://jengjeng.matriphe.com/wp-content/uploads/2007/10/antefix.jpg' alt='Hiasan Antefix pada Candi Gedong kedua' /></p>
<p>Dari candi kedua, untuk menuju candi ketiga jaraknya sangat dekat. Tanjakannya cukup terjal namun pendek, sehingga ndak begitu menyiksa kaki. <img src='http://jengjeng.matriphe.com/smilies/yahoo_sweating.gif' alt='&#35;&#58;&#45;&#83;' class='wp-smiley' width='34' height='18' title='&#35;&#58;&#45;&#83;' /></p>
<p><strong>CANDI GEDONG TIGA</strong></p>
<p><img src='http://jengjeng.matriphe.com/wp-content/uploads/2007/10/candi-3.jpg' alt='Candi Gedong Tiga' /></p>
<p>Ada 3 bangunan candi di kompleks candi ketiga ini. Sebuah candi perwara di samping candi utama dan sebuah bangunan semacam ruang penyimpan di depan candi utama.</p>
<p>Atap candi utama terdiri atas 4 tingkat dengan hiasan stupa dan Antefix, atap candi perwara teridiri atas 3 tingkat dengan hiasa stupa dan Antefix, serta bangunan di depan candi utama yang beratap stupa berderet 3 buah.</p>
<p>Candi utama pada kompleks ini satu-satunya candi yang menggunakan hiasan Makara pada tangga pintu masuknya. Selain itu arca-arcanya masih lengkap mengisi tiap relung pada tiap sisinya.</p>
<p><img src='http://jengjeng.matriphe.com/wp-content/uploads/2007/10/mahakala-nadiswara.jpg' alt='Arca Mahakala dan Nadiswara' /></p>
<p>Di pintu masuk candi utama, kita dapat menemukan arca Mahakala dan Nadiswara. Kemudian di sisi utara, timur, dan barat masing masing berisi arca Dewi Durga Mahesasuramardhani, Ganesha, dan Agastya.</p>
<p><img src='http://jengjeng.matriphe.com/wp-content/uploads/2007/10/durga-ganesha-agastya.jpg' alt='Arca Dewi Durga - Ganesha - Agastya' /></p>
<p>Eits, bentar, bentar. <img src='http://jengjeng.matriphe.com/smilies/yahoo_think.gif' alt='&#58;&#45;&#63;' class='wp-smiley' width='18' height='18' title='&#58;&#45;&#63;' /> Masih ingat dengan pola seperti ini?</p>
<p>Yak, benar! Susunannya sama persis dengan susunan arca pada <a href="http://jengjeng.matriphe.com/index.php/2007/09/03/candi-sambisari-6-setengah-m-di-bawah-tanah.html" title="Candi Sambisari, 6Â½ m di Bawah Tanah">Candi Sambisari</a> di Jogja! <img src='http://jengjeng.matriphe.com/smilies/yahoo_wink.gif' alt='&#59;&#41;' class='wp-smiley' width='18' height='18' title='&#59;&#41;' /></p>
<p>Namun pada candi perwara, arca-arca ini tidak ditemukan dan hanya tersisa relung-relungnya saja.</p>
<p>Di sini, saya sempat terpikir untuk mengakhiri penjelajahan saya karena melihat candi keempat dan kelima dipisahkan oleh sebuah lembah di seberang sana. Melihatnya saja sudah terbayang capeknya.</p>
<p>Tapi tunggu dulu, bau apa ini? <img src='http://jengjeng.matriphe.com/smilies/yahoo_sick.gif' alt='&#58;&#45;&#38;' class='wp-smiley' width='18' height='18' title='&#58;&#45;&#38;' /> Saya pun menengok ke arah lembah yang memisahkan bukit tempat candi ketiga dan keempat berada.</p>
<p><strong>MATA AIR PANAS</strong></p>
<p><img src='http://jengjeng.matriphe.com/wp-content/uploads/2007/10/mata-air-panas.jpg' alt='Sumber Mata Air Panas Berbelerang' /></p>
<p>Alamakjang! Ternyata ada sumber mata air panas di lembah tersebut dan bau busuk menyengat itu adalah bau belerang dari mata air panas ini!</p>
<p>Saya pun penasaran dan menuruni bukit menuju ke lembah. Bau belerang semakin menyengat. Konon mata air ini mampu menyembuhkan berbagai macam penyakit kulit.</p>
<p>Sayangnya saya ndak membawa baju ganti, soalnya siapa tau setelah saya mandi di mata air tersebut, wajah saya bisa jadi ganteng? <img src='http://jengjeng.matriphe.com/smilies/yahoo_mean.gif' alt='&#58;&#62;' class='wp-smiley' width='18' height='18' title='&#58;&#62;' /></p>
<p>Mata air panas di Gedong Songo ini konon adalah mata air terpanas di antara 3 mata air panas lain di Gunung Ungaran ini. Suhu uap dan air pada mata air ini mencapai 80Â°-an Celcius, sedangkan 2 mata air panas lainnya sekitar 40Â°-an Celcius.</p>
<p>Ada cerita di balik mata air panas ini. Konon mata air ini dijaga oleh makhluk bernama Nyai Gayatri, arwah perempuan asal Pulau Dewata. Nyai Gayatri adalah salah satu dayang dari Raja Sima. Setelah meninggal, arwah Nyai Gayatri mendiami mata air ini.</p>
<p>Nyai Gayatri adalah seseorang yang gemar menolong sesama. Sampai meninggal pun, Nyai Gayatri masih suka menolong. Salah satunya adalah dengan membantu menyembuhkan penyakit bagi orang yang mandi di mata air ini.</p>
<p>Yah, namanya juga cerita rakyat. Boleh percaya boleh tidak, tapi saya percaya kalo kekuatan penyembuhan terletak pada kandungan belerang di dalam air panas ini. <img src='http://jengjeng.matriphe.com/smilies/yahoo_smiley.gif' alt='&#58;&#41;' class='wp-smiley' width='18' height='18' title='&#58;&#41;' /></p>
<p>Begitu sampai di lembah tempat mata air panas berada, jalan setapak menuju ke candi keempat begitu menggoda.</p>
<p>Sial, ndak tahan dengan godaan, saya pun menapakkan kaki kembali, mendaki jalan setapak menuju candi keempat! <img src='http://jengjeng.matriphe.com/smilies/yahoo_laughloud.gif' alt='&#58;&#41;&#41;' class='wp-smiley' width='18' height='18' title='&#58;&#41;&#41;' /></p>
<p><strong>CANDI GEDONG EMPAT</strong></p>
<p><img src='http://jengjeng.matriphe.com/wp-content/uploads/2007/10/candi-4.jpg' alt='Candi Gedong Empat' /></p>
<p>Candi keempat ini mempunyai keunikan tersendiri. Ditengarai ada 8 candi perwara yang mengelilingi candi utama. Ini bisa dilihat dari puing-puing yang berformasi 2 candi di samping kanan-kiri, sebuah di belakang, dan 3 buah di depan candi utama.</p>
<p>Atap candi utama terdiri atas 4 tingkat, di mana masing-masing tingkat terdapat hiasan stupa. Pada dinding candi utama di sebelah selatan, terdapat sebuah arca yang ndak jelas arca siapa.</p>
<p>Di antara candi keempat dan kelima, terdapat tanah lapang luas yang sering digunakan untuk mendirikan tenda. Saya menemukan sisa-sisa pembakaran api unggun di sekitar lapangan ini.</p>
<p><strong>CANDI GEDONG LIMA</strong></p>
<p><img src='http://jengjeng.matriphe.com/wp-content/uploads/2007/10/candi-5.jpg' alt='Candi Gedong Lima' /></p>
<p>Melalui lapangan yang terbentang di antara candi keempat dan kelima yang cukup landai, sampailah kita di candi terakhir.</p>
<p>Kampret! Saya menemukan sepasang sejoli yang sedang asyik masyuk pacaran di candi ini. Begitu ke-gap oleh saya, mereka langsung kaget dan buru-buru membetulkan <strike>celana</strike> posisi mereka seolah-olah ndak terjadi apa-apa. <img src='http://jengjeng.matriphe.com/smilies/yahoo_angry.gif' alt='&#88;&#40;' class='wp-smiley' width='34' height='18' title='&#88;&#40;' /></p>
<p>Jirut! Mbok kalo pacaran tu jangan di candi, to ya! Kan ada tempat lain, toh di seputaran ini kan ada taman yang bisa dipake buat pacaran. <strike>Bikin pengen aja, tau ndak!</strike></p>
<p>Candi, selain tempat wisata budaya, merupakan tempat suci bagi agama Hindu atau Budha. Jadi, hormati, donk! Saya yang bukan umat Hindu atau Budha aja emosi kalo liat tempat suci begini dipake maksiat, apalagi di bulan puasa! <strike>Mana muka cowoknya jelek, padahal ceweknya lumayan manis.</strike></p>
<p>Untung mereka langsung pergi setelah saya datang. Mungkin mereka <strike>jijik</strike> malu ama saya. Apalagi saya langsung masang tampang ndak suka <strike>sama cowoknya</strike> ke arah mereka. <img src='http://jengjeng.matriphe.com/smilies/yahoo_frustrated.gif' alt='&#58;&#45;&#108;' class='wp-smiley' width='18' height='18' title='&#58;&#45;&#108;' /></p>
<p>Halah, malah ngomongin orang pacaran. <img src='http://jengjeng.matriphe.com/smilies/yahoo_laughloud.gif' alt='&#58;&#41;&#41;' class='wp-smiley' width='18' height='18' title='&#58;&#41;&#41;' /></p>
<p>Bentuk candi kelima ini mirip dengan candi keempat. Atap 4 tingkat dengan hiasan stupa, serta puing-puing candi perwara di sekitar candi utama.</p>
<p>Ada yang unik di salah satu puing candi perwara. Ada bagian yang tersusun lucu, tapi setelah diamati, bagian tersebut adalah bagian dinding candi. Walau terlihat cuma seonggok gitu, bagian ini cukup kokoh berdiri.</p>
<p>Akhirnya, selesai sudah penjelajahan candi saya. Yang saya bingung, gimana cara mbaliknya? Mo mbalik lewat jalan tadi? <img src='http://jengjeng.matriphe.com/smilies/yahoo_ooooh.gif' alt='&#58;&#45;&#111;' class='wp-smiley' width='18' height='18' title='&#58;&#45;&#111;' /></p>
<p>We e e. Ternyata ada jalan menurun yang cukup curam dari candi kelima ini. <img src='http://jengjeng.matriphe.com/smilies/yahoo_sweating.gif' alt='&#35;&#58;&#45;&#83;' class='wp-smiley' width='34' height='18' title='&#35;&#58;&#45;&#83;' /></p>
<p>Saya pun menuruni jalan terjal ini hingga setengah berlari karena saking kuatnya gaya <code>W cos &alpha;</code> mendorong tubuh saya. <img src='http://jengjeng.matriphe.com/smilies/yahoo_laughloud.gif' alt='&#58;&#41;&#41;' class='wp-smiley' width='18' height='18' title='&#58;&#41;&#41;' /></p>
<p>Sepanjang jalan ini, kita akan melewati ladang-ladang milik penduduk sekitar yang ditanami berbagai macam sayuran dan bunga selain hutan pinus, sehingga selama melewati jalan setapak ini pemandangannya begitu elok.</p>
<p>Saya baru menyadari, bahwa semua candi ini memiliki pola yang sama, yaitu semuanya menghadap ke barat!</p>
<p><strong>CERITA RAKYAT</strong></p>
<p>Ada cerita rakyat yang menyelimuti kompleks candi bercorak Hindu ini. Konon Gunung Ungaran tempat candi ini berada dibawa oleh Hanoman, anak dewa berwujud kera putih ini, untuk menimbun Dasamuka.</p>
<p>Dalam cerita Ramayana, Dasamuka yang ndak bisa mati ini menculik Dewi Sinta, istri Rama. Dalam perang merebut Dewi Sinta dari tangan Dasamuka, Dasamuka ndak bisa mati walau berbagai senjata sudah menghujam tubuhnya. Hanoman pun kemudian mengangkat sebuah gunung untuk menimbun tubuh Dasamuka.</p>
<p>Masyarakat sekitar percaya, jika mendengar suara desis atau bergejolak, itu adalah suara Dasamuka. Padahal sebenernya suara-suara itu muncul akibat aktivitas vulkanik yang aktif.</p>
<p>Ada lagi cerita soal Raja Sima. Raja Sima, merupakan raja yang pernah berkuasa di tanah Jawa. Konon ketika Raja Sima menemui masalah, dia selalu merenung dan menemukan solusinya di kompleks candi ini.</p>
<p>Menurut informasi yang saya peroleh, konon di kawasan candi yang bersuhu sekitar 20Â° Celcius ini ternyata memiliki kekuatan bio energi terbaik di Asia. Bahkan bio energi di kompleks ini lebih baik dari Pegunungan Tibet atau pegunungan di Asia lainnya.</p>
<p>Soal kebenarannya, saya sendiri ndak ngecek. Tapi memang, berada di kawasan ini sangat mengasyikkan <strike>apalagi sambil pacaran</strike>.</p>
<p>Berlibur ke tempat ini, selain menambah wawasan budaya juga mampu memberi kesegaran karena panorama dan hawa sejuk yang ada.</p>
<p>Menilik sejarah, candi ini ndak ada yang tau secara pasti siapa yang membangun. Tetapi melihat dari bentuk arsitekturnya, diperkirakan candi ini dibangun pada abad ke-9 oleh Wangsa Syailendra, walau ada versi lain yang menyebutkan dibangun oleh Raja Sanjaya.</p>
<p>Menurut fungsinya, diperkirakan candi ini digunakan selain untuk pemujaan juga digunakan untuk pemakaman.</p>
<p>Candi Gedong Songo, selain memberikan wawasan budaya, keindahan alamnya bisa menjadi alternatif lokasi wisata anda. <img src='http://jengjeng.matriphe.com/smilies/yahoo_wink.gif' alt='&#59;&#41;' class='wp-smiley' width='18' height='18' title='&#59;&#41;' /></p>
 jengjeng matriphe!]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://jengjeng.matriphe.com/nuansa-alam-candi-gedong-songo.html/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>34</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Candi Kedulan, Puzzle dari Masa Lalu</title>
		<link>http://jengjeng.matriphe.com/candi-kedulan-puzzle-dari-masa-lalu.html</link>
		<comments>http://jengjeng.matriphe.com/candi-kedulan-puzzle-dari-masa-lalu.html#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 15 Sep 2007 02:45:55 +0000</pubDate>
		<dc:creator>matriphe</dc:creator>
				<category><![CDATA[Candi & Tempat Ibadah]]></category>
		<category><![CDATA[Destinasi]]></category>
		<category><![CDATA[candi]]></category>
		<category><![CDATA[Hindu]]></category>
		<category><![CDATA[Yogyakarta]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://jengjeng.matriphe.com/index.php/2007/09/15/candi-kedulan-puzzle-dari-masa-lalu.html</guid>
		<description><![CDATA[
Kita lanjutkan petualangan candi kita. Siapkan buku Sejarah kalian, anak-anak. 
Kali ini kita akan jalan-jalan ke Candi Kedulan, sebuah candi yang tergolong &#8220;baru&#8221; dan masih dalam tahap ekskavasi (penggalian dan penyusunan kembali).
Candi, adalah sebuah bangunan hasil karya manusia yang unik dan cantik. Bayangkan saja, batu-batu andesit bisa dipotong sedemikian rupa dan disusun dengan kokoh.
Yang membuat [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><img src="http://jengjeng.matriphe.com/index.php?feedimage=wp-content/uploads/2007/09/candi-kedulan1.jpg" alt="Candi Kedulan" title="Candi Kedulan" width="350" height="263" class="alignnone size-full wp-image-1275" /></p>
<p>Kita lanjutkan petualangan candi kita. Siapkan buku Sejarah kalian, anak-anak. <img src='http://jengjeng.matriphe.com/smilies/yahoo_laughloud.gif' alt='&#58;&#41;&#41;' class='wp-smiley' width='18' height='18' title='&#58;&#41;&#41;' /></p>
<p>Kali ini kita akan jalan-jalan ke Candi Kedulan, sebuah candi yang tergolong &#8220;baru&#8221; dan masih dalam tahap ekskavasi (penggalian dan penyusunan kembali).</p>
<p>Candi, adalah sebuah bangunan hasil karya manusia yang unik dan cantik. Bayangkan saja, batu-batu andesit bisa dipotong sedemikian rupa dan disusun dengan kokoh.</p>
<p>Yang membuat saya kagum, bagaimana mereka melakukannyca? Teknologi apa dan bagaimana perhitungannya? Dan masih banyak pertanyaan lainnya. Inilah sebabnya kenapa saya gandrung banget dolan ke candi-candi.</p>
<p><span id="more-384"></span>Candi Kedulan terletak di Bulak Perung, Dusun Kedulan, Desa Tirtomartani, Kalasan, Sleman, sekitar 4 km ke arah barat-laut dari Candi Kalasan.</p>
<p>Candi ini terletak di sebidang tanah yang dijadikan lokasi penambangan pasir. Candi ini ditemukan pada tahun 1993 ketika para penambang pasir menggali tanah hingga kedalaman 3 m.</p>
<p>Setelah digali, ternyata kedalaman candi mencapai 7 meter. Dari lapisan tanah yang menutupi candi tersebut, diduga candi ini telah terkubur lahar dari letusan Merapi sebanyak 13 kali sekitar abad ke-9 hingga ke-13.</p>
<p>Hm.. Dilihat sekilas, susunan candi ini mengingatkan saya pada Candi Sambisari. 3 buah candi perwara di depan sebuah candi induk ditambah bentuk tubuh candi dan atap yang sudah berhasil disusun kembali, menguatkan dugaan saya. Ukir-ukirannya, tata letak ruangannya, bentuk atapnya, Candi Sambisari banget! <img src='http://jengjeng.matriphe.com/smilies/yahoo_wink.gif' alt='&#59;&#41;' class='wp-smiley' width='18' height='18' title='&#59;&#41;' /></p>
<p>Jika kita ke sini, kita akan menemukan batu-batu candi berserakan di sebelah utara lokasi penggalian. Mungkin batu-batu ini dipilah-pilah untuk mencari susunan yang tepat. Sedangkan di sebelah barat lokasi penggalian, kita akan menemukan badan dan atap candi yang telah berhasil disusun ulang.</p>
<p><img src='http://jengjeng.matriphe.com/wp-content/uploads/2007/09/badan-candi.jpg' alt='Badan candi yang sudah tersusun kembali' /></p>
<p>Menyusun kembali candi ini tentu bukanlah pekerjaan mudah. Susunan batu-batu ini mempunyai pola-pola tertentu sehingga ndak bisa sembarangan dalam menyusunnya. Layaknya menyusun sebuah puzzle atau mainan lego gitu lah. Cuma ini pake batu besar-besar. <img src='http://jengjeng.matriphe.com/smilies/yahoo_bigsmile.gif' alt='&#58;&#68;' class='wp-smiley' width='18' height='18' title='&#58;&#68;' /></p>
<p>Untuk memudahkan penyusunan, batu-batu ini diberi tanda dengan pola-pola tertentu oleh para arkeolog dengan semacam cat berwarna putih sehingga ketika disusun tidak ada bagian yang salah pasangan.</p>
<p><img src='http://jengjeng.matriphe.com/wp-content/uploads/2007/09/tanda-kode.jpg' alt='Tanda untuk memudahkan penyusunan candi' /></p>
<p>Yang menjadi pertanyaan besar saya, bagaimana cara memotong batu-batu ini dengan presisi, alat apakah yang digunakan, mengingat jaman dulu itu belom ada teknologi macam sekarang.</p>
<p>Belum lagi pemilihan lokasi, pengukuran dimensinya, perhitungan bebannya, simetrisitasnya, keindahan arsitektur dan ukirannya, membuat saya semakin ndak bisa membayangkan lagi! <img src='http://jengjeng.matriphe.com/smilies/yahoo_timeout.gif' alt='&#58;&#45;&#116;' class='wp-smiley' width='30' height='18' title='&#58;&#45;&#116;' /></p>
<p>Dilihat dari kemiripannya dengan Candi Sambisari, kemungkinan candi bercorak Hindu ini dibangun pada masa yang sama dengan Candi Sambisari, sekitar abad ke-9. Yah, sekali lagi ini hasil analisis ngawur saya. <img src='http://jengjeng.matriphe.com/smilies/yahoo_bigsmile.gif' alt='&#58;&#68;' class='wp-smiley' width='18' height='18' title='&#58;&#68;' /></p>
<p>Dan memang, dengan mengintip denah rancangan yang ada di kantor pada lokasi penggalian, rancangan candi ini bener-bener mirip dengan Candi Sambisari. Di dalam kantor tersebut kita juga dapat menemukan Lingga, Yoni, dan aksesoris candi lainnya.</p>
<p>Wah, saya ndak bisa membayangkan kalo hujan. Lokasi penggalian ini bisa terendam air. Dan kalo terus menerus, bisa mirip empang! La sebelum sistem drainase di Candi Sambisari diperbaiki, Candi Sambisari juga pernah terendam juga, kok. <img src='http://jengjeng.matriphe.com/smilies/yahoo_bigsmile.gif' alt='&#58;&#68;' class='wp-smiley' width='18' height='18' title='&#58;&#68;' /></p>
<p>Padahal dari 2 prasasti berhuruf Pallawa dan berbahasa Sansekerta yang ditemukan di lokasi, lokasi ini digunakan untuk keperluan bendungan dan irigasi, walau bendungan kuno itu belum ditemukan. Dari prasasti tersebut juga diketahui angka tahun pendirian candi ini, yaitu 791 Saka atau 869 Masehi.</p>
<p>Menurut pengamatan saya, proyek penggalian candi ini terkesan tersendat. Dugaan saya, faktor dana adalah faktor utamanya. Pemerintah kita mana peduli ama soal-soal beginian? <img src='http://jengjeng.matriphe.com/smilies/yahoo_sighing.gif' alt='&#58;&#45;&#60;' class='wp-smiley' width='24' height='18' title='&#58;&#45;&#60;' /></p>
<p>Dan yang jadi dugaan saya lagi, ini lokasi candi pasti lebih luas dari sekarang. La Candi Sambisari saja luas banget kayak gitu.</p>
<p>Tapi ya tau sendiri lah. Tanah-tanah di sekitar lokasi ini kan masih dimiliki warga sekitar, sehingga butuh waktu yang lama untuk menggali semua bagian candi, tentunya setelah tanah-tanah warga ini dibebaskan.</p>
<p>Candi Kedulan, sebuah puzzle raksasa masa lalu yang menyimpan banyak misteri.. <img src='http://jengjeng.matriphe.com/smilies/yahoo_smiley.gif' alt='&#58;&#41;' class='wp-smiley' width='18' height='18' title='&#58;&#41;' /></p>
 jengjeng matriphe!]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://jengjeng.matriphe.com/candi-kedulan-puzzle-dari-masa-lalu.html/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>26</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Candi Banyunibo, Candi Sebatang Kara</title>
		<link>http://jengjeng.matriphe.com/candi-banyunibo-candi-sebatang-kara.html</link>
		<comments>http://jengjeng.matriphe.com/candi-banyunibo-candi-sebatang-kara.html#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 08 Sep 2007 06:44:40 +0000</pubDate>
		<dc:creator>matriphe</dc:creator>
				<category><![CDATA[Candi & Tempat Ibadah]]></category>
		<category><![CDATA[Destinasi]]></category>
		<category><![CDATA[Budha]]></category>
		<category><![CDATA[candi]]></category>
		<category><![CDATA[Yogyakarta]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://jengjeng.matriphe.com/index.php/2007/09/08/candi-banyunibo-candi-sebatang-kara.html</guid>
		<description><![CDATA[
Melanjutkan petualangan candi sebelumnya, semoga ndak pada bosen, ya.  Kali ini saya mo cerita soal dolan saya ke Candi Banyunibo.
Ndak banyak yang tahu soal keberadaan candi ini. Lokasinya yang terpencil, akses jalan yang rusak, membuat candi eksotis ini kurang dikenal. Padahal candi Budha ini masih berdiri megah dan reliefnya masih banyak yang utuh.
Kali ini [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><img src="http://jengjeng.matriphe.com/index.php?feedimage=wp-content/uploads/2007/09/candi-banyunibo1.jpg" alt="Candi Banyunibo, Candi Budha Sebatang Kara" title="Candi Banyunibo, Candi Budha Sebatang Kara" width="350" height="263" class="alignnone size-full wp-image-1278" /></p>
<p>Melanjutkan <a href="http://jengjeng.matriphe.com/index.php/2007/09/03/candi-sambisari-6-setengah-m-di-bawah-tanah.html" title="Candi Sambisari, 6Â½ m di Bawah Tanah">petualangan candi sebelumnya</a>, semoga ndak pada bosen, ya. <img src='http://jengjeng.matriphe.com/smilies/yahoo_bigsmile.gif' alt='&#58;&#68;' class='wp-smiley' width='18' height='18' title='&#58;&#68;' /> Kali ini saya mo cerita soal dolan saya ke Candi Banyunibo.</p>
<p>Ndak banyak yang tahu soal keberadaan candi ini. Lokasinya yang terpencil, akses jalan yang rusak, membuat candi eksotis ini kurang dikenal. Padahal candi Budha ini masih berdiri megah dan reliefnya masih banyak yang utuh.</p>
<p>Kali ini tim petualangan selain <a href="http://diditkurniawan.web.ugm.ac.id/" title="diditjogja" target="_blank">Didit</a> dan saya, ketambahan lagi seorang <a href="http://annots.wordpress.com/2007/09/03/wartawan-kagetan%e2%84%a2/" title="Wartawan kagetanâ„¢" target="_blank">wartawan kagetanâ„¢</a> berjuluk <a href="http://annots.wordpress.com/" title="Annots" target="_blank">Bung Annots</a> yang bukan pabrik roti itu. <img src='http://jengjeng.matriphe.com/smilies/yahoo_laughloud.gif' alt='&#58;&#41;&#41;' class='wp-smiley' width='18' height='18' title='&#58;&#41;&#41;' /></p>
<p><span id="more-368"></span>Candi Banyunibo terletak sekitar 2 km sebelah tenggara petilasan Ratu Boko, tepatnya di Dusun Cepit, Desa Bokoharjo, Kecamatan Prambanan, Sleman. Untuk mencapainya cukup mudah sebenernya.</p>
<p>Dari Jalan Raya Jogja-Solo, ketika sampai di pertigaan Prambanan, berbelok ke selatan sekitar 2 km ke arah Piyungan. Kemudian berbelok pada plang petunjuk ke arah petilasan Ratu Boko. Ikuti saja petunjuk ke arah Candi Ratu Boko tersebut sampai mentok perempatan.</p>
<p>Ketika sampai di perempatan, akan ada petunjuk jika belok kiri ke arah Boko, maka ambil jalan lurus. Setelah itu akan ada petunjuk ke arah Candi Barong dan Candi Banyunibo. Ambil arah kanan jika ingin ke Candi Banyunibo. <img src='http://jengjeng.matriphe.com/smilies/yahoo_bigsmile.gif' alt='&#58;&#68;' class='wp-smiley' width='18' height='18' title='&#58;&#68;' /></p>
<p>Kondisi situs ini juga hampir sama dengan situs-situs yang saya kunjungi sebelumnya. Memprihatinkan. Pemandu yang kami harapkan juga ndak ada, membuat kami hanya bisa menikmati kondisi fisik bangunannya saja. <img src='http://jengjeng.matriphe.com/smilies/yahoo_sighing.gif' alt='&#58;&#45;&#60;' class='wp-smiley' width='24' height='18' title='&#58;&#45;&#60;' /></p>
<p>Banyunibo sendiri berasal dari kata dalam Bahasa Jawa &#8220;banyu&#8221; dan &#8220;nibo&#8221; yang berarti &#8220;air yang menetes&#8221;. Entah kenapa candi ini disebut seperti itu, tapi kalo menurut pengamatan dan analisis ngawur saya, bentuk atap candi yang terdiri dari sebuah stupa ini mirip-mirip dengan bentuk air ketika menetes dan terpercik ke samping. <img src='http://jengjeng.matriphe.com/smilies/yahoo_laughloud.gif' alt='&#58;&#41;&#41;' class='wp-smiley' width='18' height='18' title='&#58;&#41;&#41;' /></p>
<p>Dari puing-puing di sekitar, diperkirakan ada 6 buah candi perwara (candi pendamping) berbentuk stupa di sekeliling candi utama di sebelah selatan dan timur. Candi utama menghadap ke barat dan terletak di antara ladang tebu dan persawahan. Inilah sebabnya candi ini dijuluki &#8220;si sebatang kara Banyunibo&#8221; karena letaknya yang terpencil dan terpisah dari kompleks candi-candi lainnya.</p>
<p>Terdiri dari 3 susunan seperti biasa, kaki, badan, dan atap. Bagian kaki yang tingginya sekitar 2,5 m ini dihiasi relief ornamen sulur-sulur yang keluar dari pot. Kemudian antara kaki candi dan badan candi pada sisi selatan, timur, dan utara terdapat Jaladwara (saluran air) berbentuk Makara dengan hiasan Kala di atasnya tepat di tengah-tengah. Untuk berekeliling badan candi, terdapat selasar mengelilingi badan candi.</p>
<p><img src='http://jengjeng.matriphe.com/wp-content/uploads/2007/09/jaladwara-makara-kala.jpg' alt='Jaladwara bermotif Makara dengan Kala di atasnya' /></p>
<p>Seperti biasa, di tangga masuk kita akan menemukan Makara. Pada bagian depan pintu, terdapat 2 jendela tepat di samping pintu dan 2 relief patung dewa di sebelah kanan-kiri jendela. Ada 2 hiasan Kala di atas pintu masuk.</p>
<p>Pada lorong pintu, kita akan menjumpai 2 buah relief pada kanan-kiri dinding lorong. Pada dinding sebelah kiri (utara) kita akan menemukan relief seorang wanita yang dikelilingi oleh banyak anak kecil, beberapa di antaranya digambarkan sedang naik pohon.</p>
<p>Kalo menurut analisis tanpa dasar saya, relief ini menggambarkan soal kesuburan yang dilambangkan dengan banyaknya anak dan pohon. Mungkinkah wanita dalam relief tersebut adalah Dewi Hariti, yang merupakan Dewi Kesuburan dalam agama Budha? <img src='http://jengjeng.matriphe.com/smilies/yahoo_think.gif' alt='&#58;&#45;&#63;' class='wp-smiley' width='18' height='18' title='&#58;&#45;&#63;' /></p>
<p><img src='http://jengjeng.matriphe.com/wp-content/uploads/2007/09/relief-kiri.jpg' alt='Relief di lorong pintu masuk sebelah kiri (utara)' /></p>
<p>Sedangkan pada sebelah kanan dinding (selatan), alias di depan relief Dewi Hariti, terdapat relief seorang pria dengan sebuah kantong di sisinya serta seekor burung terbang di atasnya. Kalo menurut saya, relief ini menggambarkan kekayaan.</p>
<p>Mungkinkah ini relief Dewa Kurawa, Dewa Kekayaan pada agama Budha? Ataukah justru ini relief Vaisaravana, suami dari Dewi Hariti? Yang pasti ini bukan Arman Maulana suaminya Dewi Gita! Tapi sekali lagi, ini menurut analisis ngawur saya, lo! <img src='http://jengjeng.matriphe.com/smilies/yahoo_laughloud.gif' alt='&#58;&#41;&#41;' class='wp-smiley' width='18' height='18' title='&#58;&#41;&#41;' /></p>
<p>Masuk ke dalam ruangan, di sudut sebelah tenggara dekat jendela, ada relief seorang pria yang sedang duduk di bawah payung yang dipegang pengawalnya. Diduga pria ini, yang melihat potongannya merupakan seorang biksu, tokoh yang dihormati di candi ini.</p>
<p><img src='http://jengjeng.matriphe.com/wp-content/uploads/2007/09/relief-kanan.jpg' alt='Relief di lorong pintu masuk sebelah kanan (selatan) dan tenggara ruangan dalam' /></p>
<p>Ruangan candi berukuran sekitar 10 x 10 m dengan 8 jendela (sebagian jendela tertutup) dan ada 3 buah relung dangkal pada sisi utara, timur, dan selatan. Pada relung sisi timur, terdapat semacam ukiran tapi ndak jelas ukiran apa itu.</p>
<p>Melalui selasar, kita bisa menikmati relief-relief penghias dinding candi. Pada dinding terdapat relief-relief Bodhisatva berdiri gagah membawa tongkat. Pada bagian atas jendela bagian luar, terdapat relief Bodhisatva sedang duduk bersila dengan posisi tangan ke atas membawa bunga di bawah Kala.</p>
<p><img src='http://jengjeng.matriphe.com/wp-content/uploads/2007/09/gana.jpg' alt='Gana, makhluk kerdil dari kahyangan' class="alignright" /></p>
<p>Saya menemukan Gana, makhluk kerdil dari kahyangan yang dapat ditemukan pada bagian atap Candi Kalasan, menyokong hiasan Kala pada relung sisi selatan pada bagian depan.</p>
<p>Atap candi sangat polos. Hanya terdiri atas sebuah stupa pada bagian tengah yang berada di atas bentuk daun bunga padma. Batas antara atap dan badan hanya dipisahkan oleh ukiran ornamen sulur-sulur bunga.</p>
<p>Secara bentuk, candi ini bisa dibilang cukup kokoh dan utuh. Mengingat kondisi candi ini dalam keadaan runtuh ketika pertama kali ditemukan. Candi ini pun mulai digali dan diteliti pada tahun 1940-an.</p>
<p>Di sebelah utara candi, terdapat tembok batu sepanjang 65 m membujur dari barat ke timur. Reruntuhan candi perwara berupa stupa diperkirakan berdiameter sekitar 5 m. Di halaman candi juga ditemukan beberapa patung berbentuk lembu.</p>
<p>Candi ini diperkirakan dibangun sekitar abad ke-9. Dan tentu saja, dari bentuk stupa dan relief-reliefnya, candi ini merupakan candi Budha. Candi utama bila dilihat sekilas berbentuk kubus dengan panjang, lebar, dan tinggi sekitar 15 m.</p>
<p>Candi Banyunibo. Suasana senjanya begitu eksotis. Tempatnya yang terpencil merupakan lokasi yang cocok untuk <strike>berpacaran</strike> mencari inspirasi dan ketenangan. <img src='http://jengjeng.matriphe.com/smilies/yahoo_smiley.gif' alt='&#58;&#41;' class='wp-smiley' width='18' height='18' title='&#58;&#41;' /></p>
<p><img src='http://jengjeng.matriphe.com/wp-content/uploads/2007/09/senja-banyunibo.jpg' alt='Suasana senja di Candi Banyunibo' /></p>
 jengjeng matriphe!]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://jengjeng.matriphe.com/candi-banyunibo-candi-sebatang-kara.html/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>19</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Candi Sambisari, 6½ m di Bawah Tanah</title>
		<link>http://jengjeng.matriphe.com/candi-sambisari-6-setengah-m-di-bawah-tanah.html</link>
		<comments>http://jengjeng.matriphe.com/candi-sambisari-6-setengah-m-di-bawah-tanah.html#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 03 Sep 2007 12:09:26 +0000</pubDate>
		<dc:creator>matriphe</dc:creator>
				<category><![CDATA[Candi & Tempat Ibadah]]></category>
		<category><![CDATA[Destinasi]]></category>
		<category><![CDATA[candi]]></category>
		<category><![CDATA[Hindu]]></category>
		<category><![CDATA[Yogyakarta]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://jengjeng.matriphe.com/index.php/2007/09/03/candi-sambisari-6%c2%bd-m-di-bawah-tanah.html</guid>
		<description><![CDATA[
Kembali jelajah candi saya lakukan. Biasalah, stres karena siksaan pekerjaan membuat saya ingin lepas sejenak dari rutinitas dengan mengagumi karya cipta budaya manusia masa lampau.
Tapi lama kelamaan kok sepertinya saya terobsesi untuk menjelajah seluruh sebanyak mungkin situs candi, terutama candi-candi yang jarang terekspos mengingat selama ini yang kita kenal hanya Candi Borobudur atau Prambanan saja. [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><img src="http://jengjeng.matriphe.com/index.php?feedimage=wp-content/uploads/2007/09/candi-sambisari-21.jpg" alt="Candi Sambisari terletak 6,5 m di Bawah Tanah" title="Candi Sambisari terletak 6,5 m di Bawah Tanah" width="350" height="263" class="alignnone size-full wp-image-1279" /></p>
<p>Kembali jelajah candi saya lakukan. Biasalah, stres karena siksaan pekerjaan membuat saya ingin lepas sejenak dari rutinitas dengan mengagumi karya cipta budaya manusia masa lampau.</p>
<p>Tapi lama kelamaan kok sepertinya saya terobsesi untuk menjelajah <strike>seluruh</strike> sebanyak mungkin situs candi, terutama candi-candi yang jarang terekspos mengingat selama ini yang kita kenal hanya Candi Borobudur atau Prambanan saja. Proyek 1000 Candi, kata <a href="http://annots.wordpress.com/" title="Annots" target="_blank">Bung Annots</a>. <img src='http://jengjeng.matriphe.com/smilies/yahoo_youkiddingme.gif' alt='&#58;&#45;&#106;' class='wp-smiley' width='26' height='18' title='&#58;&#45;&#106;' /></p>
<p>Mungkinkah selama ini saya salah ambil jurusan, ya? Bisa jadi. Tapi ndak juga sih, gelar saya kan S.Si. alias Sarjana <strike>Sarkeologi</strike> Sains, dan kebudayaan termasuk sains juga, bukan? *maksa* <img src='http://jengjeng.matriphe.com/smilies/yahoo_whistling.gif' alt='&#58;&#45;&#34;' class='wp-smiley' width='22' height='18' title='&#58;&#45;&#34;' /></p>
<p>Kali ini saya bersama <a href="http://diditkurniawan.web.ugm.ac.id/" title="diditjogja" target="_blank">Didit</a> mengunjungi Candi Sambisari, candi bercorak Hindu yang terletak 6,5 meter di bawah permukaan tanah.</p>
<p><span id="more-359"></span>Candi Sambisari terletak sekitar 10 km sebelah timur Jogja. Cara menuju ke sana, dari Jalan Jogja-Solo menuju ke timur, setelah pertigaan bandara Adi Sucipto dan sebelum gerbang Akademi Angkatan Udara ada jalan kecil menuju ke utara kurang lebih 3 km. Gampang sih, karena ada papan petunjuknya, kok. <img src='http://jengjeng.matriphe.com/smilies/yahoo_bigsmile.gif' alt='&#58;&#68;' class='wp-smiley' width='18' height='18' title='&#58;&#68;' /></p>
<p>Candi Sambisari termasuk candi bercorak Hindu. Terletak di Dusun Sambisari, Desa Purwomartani, Kecamatan Kalasan, Sleman. Ketika sampai, sekilas kita tidak melihat bangunan candi. Jelas karena candi ini terletak di bawah tanah.</p>
<p>Candi ini ditemukan secara tidak sengaja oleh seorang petani ketika menggarap tanah pada tahun 1966. Diduga candi ini tertimbun lahar letusan Gunung Merapi.</p>
<p>Setelah ditemukan, segera dilakukan penggalian (ekskavasi) dan pemugaran. Sekitar tahun 1987 Candi Sambisari selesai dipugar.</p>
<p>Itulah sekilas sejarah penemuan candi ini yang saya ketahui. Berhubung di kompleks tersebut ndak ada pemandunya, lagi-lagi kami cuma bisa menikmati keindahan bangunan candi tesebut.</p>
<p>Candi ini terdiri dari sebuah candi induk yang menghadap ke barat dan 3 buah candi perwara (candi pendamping) di bagian depannya.</p>
<p>Kompleks candi dikelilingi oleh 2 lapisan pagar, yang pertama masih terpendam dan belum sepenuhnya digali. Pagar paling luar ini dapat dilihat pada bekas pengalian di sisi sebelah timur kompleks candi.</p>
<p>Sedangkan pagar kedua terbuat dari batu andesit dan batu putih berukuran sekitar 50 x 48 meter dengan parit mengelilingi di sisi luarnya. Untuk menuju ke pagar kedua ini, kita harus melewati teras selebar 8 meter dengan tangga menurun yang terdapat pada keempat sisinya. Terdapat 4 buah pintu masuk tetapi pada pintu masuk sebelah utara ditutup. Kami pun turun ke kompleks candi melalui pintu sebelah barat.</p>
<p>Di sini kami bertemu dengan 4 orang turis dari Jerman. Saya pun mencoba menyapa dan berbincang-bincang dengan mereka. Saya pun nggedebus sok tau soal candi ini bak guide kepada para turis ini walau English saya mawut, acak kadut, berlogat medok, dan harus dibantu bahasa tarzan. Wis, pokoke sok nggaya dan nekad saja. <img src='http://jengjeng.matriphe.com/smilies/yahoo_laughloud.gif' alt='&#58;&#41;&#41;' class='wp-smiley' width='18' height='18' title='&#58;&#41;&#41;' /></p>
<p><img src='http://jengjeng.matriphe.com/wp-content/uploads/2007/09/turis.jpg' alt='Berbincang sok tau dengan turis asal Jerman' /></p>
<p>Sepertinya saya harus ngambil kursus bahasa Inggris kelas conversation, nih.. <img src='http://jengjeng.matriphe.com/smilies/yahoo_think.gif' alt='&#58;&#45;&#63;' class='wp-smiley' width='18' height='18' title='&#58;&#45;&#63;' /></p>
<p>Kebetulan para turis ini sedang mengisi masa pensiun mereka dan mengagumi kemegahan candi-candi seperti ini. Sebelumnya, mereka memang sudah mengunjungi Candi Prambanan, Kalasan, Ratu Boko, dan Borobudur.</p>
<p>Bayangkan, orang asing saja mengagumi hasil kebudayaan kita, masak kita sendiri tidak? Saya pun makin bersemangat untuk menulis informasi tentang candi-candi yang ada sejauh pengetahuan dan kemampuan saya. Doakan saja saya sanggup. <img src='http://jengjeng.matriphe.com/smilies/yahoo_wink.gif' alt='&#59;&#41;' class='wp-smiley' width='18' height='18' title='&#59;&#41;' /></p>
<p>Lanjut. Saya pun menuju ke candi induk. Candi induk berukuran 13,65 x 13,65 meter dengan tinggi 7,5 meter. Bagian kaki candi menyatu dengan alas candi, sehingga bagian kaki candi ini bisa dibilang bukan kaki candi yang sebenarnya.</p>
<p>Terdapat sebuah tangga masuk dengan hiasan Makara di kanan kirinya. Terdapat relief manusia berperut buncit seolah-olah menyangga Makara. Di rongga mulut Makara terdapat patung semacam singa tapi kepalanya manusia dengan jenggot panjang.</p>
<p><img src='http://jengjeng.matriphe.com/wp-content/uploads/2007/09/makara.jpg' alt='Makara pada tangga menuju selasar candi' /></p>
<p>Di ujung tangga menuju alas candi, terdapat pintu gerbang tanpa hiasan Kala di bagian atas, tapi terdapat hiasan relief Makara di kanan-kiri bawah dan ukiran ornamen di kanan-kirinya. Alas candi dikelilingi oleh Langkan (tembok) dengan ukiran ornamen di sisi luarnya.</p>
<p><img src='http://jengjeng.matriphe.com/wp-content/uploads/2007/09/umpak-selasar.jpg' alt='Umpak pada selasar candi' class="alignright" /></p>
<p>Begitu memasuki gerbang, kita pun mendapati badan candi yang berupa ruangan berukuran 5 x 5 meter dengan selasar selebar sekitar 2,5 meter mengelilingi candi. Di selasar ini kami menemukan batu pipih dengan tonjolan di atasnya sebanyak 12 buah, masing-masing 8 buah berbentuk lingkaran dan 4 buah berbentuk persegi.</p>
<p>Pintu masuk ke dalam badan candi dihiasi Kala di bagian atasnya. Di sisi kiri dan kanan candi terdapat relung yang seharusnya terdapat patung penjaga pintu, Mahakala dan Nadiswara, tapi kedua patung ini hilang.</p>
<p>Di dalam ruangan terdapat Lingga yang berada di atas Yoni. Lingga merupakan representasi dari alat kelamin laki-laki dan Yoni merupakan representasi alat kelamin wanita. Lingga ini juga merupakan lambang Siwalingga, khususnya kemaluan Dewa Siwa.</p>
<p>Pada Yoni terdapat semacam cerat yang mengarah ke ke arah utara dan terdapat hiasan berupa patung kepala naga pada bagian bawah Yoni. Entah apa fungsi dari cerat tersebut.</p>
<p><img src='http://jengjeng.matriphe.com/wp-content/uploads/2007/09/lingga-yoni.jpg' alt='Lingga yang berada di atas Yoni' /></p>
<p>Kami pun keluar dari ruangan dan mengelilingi badan candi. Pada dinding badan candi, terdapat relung-relung yang berisi relief Agastya di sebelah selatan, Ganesha di sebelah timur (belakang), dan Dewi Durga di sebelah utara.</p>
<p><img src='http://jengjeng.matriphe.com/wp-content/uploads/2007/09/agastya-ganesha-durga.jpg' alt='Agastya - Ganesha - Dewi Durga' /></p>
<p>Setelah puas menikmati candi induk, saya pun menuju ke candi perwara. Ukuran candi-candi perwara ini sekitar 5 x 5 meter. Tetapi ternyata dari ketiga candi ini, candi yang tengah ukurannya lebih lebar dari 2 candi lainnya.</p>
<p>Bentuk ketiga candi ini sebenarnya serupa, terdiri atas kaki candi yang dikelilingi pagar Langkan tanpa tubuh dan atap. Tetapi candi pada sisi selatan mengalami kerusakan paling parah bila dibandingkan kedua candi perwara lainnya.</p>
<p>Saya penasaran dengan sejarah candi ini. Saya akhirnya menemukan pencerahan melalui informasi yang tersedia pada ruang informasi.</p>
<p>Menurut arca-arca yang ditemukan, disimpulkan bahwa agama yang melatarbelakangi berdirinya Candi Sambisari adalah Hindu Siwaistis.</p>
<p>Sedangkan tahun dibangunnya candi ini masih belum diketahui secara pasti. Namun jika ditinjau dari arsitektur dan jenis batuan yang digunakan, diperkirakan candi ini didirikan pada abad ke-9 (812 &#8211; 838 Masehi). Pendapat ini diperkuat dengan ditemukannya lempengan emas bertuliskan huruf Paleograf yang merupakan tulisan pada awal abad ke-9.</p>
<p>Selain tahun berdirinya yang tidak diketahui secara pasti, raja yang memimpin pembangunan candi juga belum diketahui. Dari prasasti Wanua III tahun 908 tentang raja-raja dinasti Mataram Hindu, raja yang memerintah antara tahun 828 &#8211; 846 Masehi adalah Rakai Garung. Tentu saja tidak semua candi dibangun oleh raja yang memerintah saat itu.</p>
<p>Dari Candi Sambisari, kami melanjutkan penjelajahan menuju ke Candi Banyunibo. Hm.. Candi apakah itu? Di manakah lokasinya?</p>
<p>Nah, biar penasaran, tulisan tentang <a href="http://jengjeng.matriphe.com/index.php/2007/09/08/candi-banyunibo-candi-sebatang-kara.html" title="Candi Banyunibo, Candi Sebatang Kara">Candi Banyunibo <strike>akan</strike> saya publish pada postingan selanjutnya</a>. <strike>Tentu kalo saya masih ingat detailnya.</strike> <img src='http://jengjeng.matriphe.com/smilies/yahoo_bigsmile.gif' alt='&#58;&#68;' class='wp-smiley' width='18' height='18' title='&#58;&#68;' /></p>
<p>Oiya, untuk para ahli dari arkeologi, sejarah, atau purbakala yang membaca postingan ini, mohon koreksinya jika pada postingan ini terdapat kesalahan. <img src='http://jengjeng.matriphe.com/smilies/yahoo_smiley.gif' alt='&#58;&#41;' class='wp-smiley' width='18' height='18' title='&#58;&#41;' /></p>
<p>Foto-foto narsis ada di <a href="http://matriphe.multiply.com/photos/album/18/Candi_Sambisari" title="Candi Sambisari" target="_blank">Multiply saya</a>. <img src='http://jengjeng.matriphe.com/smilies/yahoo_bigsmile.gif' alt='&#58;&#68;' class='wp-smiley' width='18' height='18' title='&#58;&#68;' /></p>
 jengjeng matriphe!]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://jengjeng.matriphe.com/candi-sambisari-6-setengah-m-di-bawah-tanah.html/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>36</slash:comments>
		</item>
	</channel>
</rss>
