<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>jengjeng matriphe! &#187; film</title>
	<atom:link href="http://jengjeng.matriphe.com/tag/film/feed" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://jengjeng.matriphe.com</link>
	<description>pengen jalan-jalan, makan-makan, dan lain-lain</description>
	<lastBuildDate>Tue, 02 Aug 2011 11:41:49 +0000</lastBuildDate>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<generator>http://wordpress.org/?v=3.2.1</generator>
	<atom:link rel='hub' href='http://jengjeng.matriphe.com/?pushpress=hub'/>
		<item>
		<title>Rabbit-Proof Fence: Perjalanan Menuju Kebebasan</title>
		<link>http://jengjeng.matriphe.com/rabbit-proof-fence-perjalanan-menuju-kebebasan.html</link>
		<comments>http://jengjeng.matriphe.com/rabbit-proof-fence-perjalanan-menuju-kebebasan.html#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 27 Jan 2009 08:13:52 +0000</pubDate>
		<dc:creator>matriphe</dc:creator>
				<category><![CDATA[Film]]></category>
		<category><![CDATA[Review]]></category>
		<category><![CDATA[Australia]]></category>
		<category><![CDATA[festival]]></category>
		<category><![CDATA[film]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://jengjeng.matriphe.com/?p=1020</guid>
		<description><![CDATA[Sabtu, 24 Januari 2009, lalu saya nonton Film Rabbit-Proof Fence pada acara Australian Film Festival &#038; Art Exhibition yang bertema &#8220;Dreaming Stories &#8211; Australian Indigenous Cultural Festival&#8221; dalam rangka merayakan Australia Day 2009 di Blitz Megaplex, Grand Indonesia, Jakarta. Film produksi tahun 2002 yang dibuat berdasarkan kisah nyata ini sangat berkesan dan sarat dengan pesan [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><img src="http://jengjeng.matriphe.com/wp-content/uploads/2009/01/rabbit-proof-fence-poster.jpg" alt="Rabbit-Proof Fence" title="Rabbit-Proof Fence" width="350" height="263" class="alignnone size-full wp-image-1021" /></p>
<p>Sabtu, 24 Januari 2009, lalu saya nonton Film Rabbit-Proof Fence pada acara Australian Film Festival &#038; Art Exhibition yang bertema &#8220;Dreaming Stories &#8211; Australian Indigenous Cultural Festival&#8221; dalam rangka merayakan Australia Day 2009 di Blitz Megaplex, Grand Indonesia, Jakarta.</p>
<p>Film produksi tahun 2002 yang dibuat berdasarkan kisah nyata ini sangat berkesan dan sarat dengan pesan moral tentang pembebasan dari &#8220;penyeragaman&#8221; budaya, selain menghibur tentu saja.</p>
<p><span id="more-1020"></span>Kisah ini diambil dari buku &#8220;Follow the Rabbit-Proof Fence&#8221; yang ditulis oleh Doris Pilkington Garimara, yang menceritakan perjalanan Molly Craig membebaskan diri dari aturan pemerintah Australia tahun 1931 di mana anak-anak &#8220;campuran&#8221; Aborigin dan &#8220;kulit putih&#8221; harus dipisahkan dari keluarga Aboriginnya.</p>
<p>Molly Craig, Daisy Burungu, dan Gracie Fields, tiga anak perempuan campuran dari Jigalong ini harus berjuang untuk melarikan diri dari Moore River, sebuah penampungan bagi anak-anak campuran untuk dididik mengikuti budaya kulit putih, untuk kembali ke tempat asalnya.</p>
<p>Aturan pemisahan ini rupanya mempunyai suatu niatan yang sangat jahat, yaitu pemusnahan ras dengan cara yang sangat halus, dengan cara mengajarkan budaya kulit putih dan perkawinan antara anak campuran dengan orang kulit putih yang pada akhirnya secara genetik ras Aborigin ini akan musnah.</p>
<p><img src="http://jengjeng.matriphe.com/wp-content/uploads/2009/01/walk-through-dessert.jpg" alt="Molly menggendong Daisy" title="Molly menggendong Daisy" width="200" height="267" class="alignright size-full wp-image-1022" /></p>
<p>Suasana penampungan dan pendidikan Moore River yang terletak di utara Perth ini rupanya membuat Molly dan kedua saudarinya melarikan diri dari penampungan. Namun rupanya pelarian tidak semudah yang dibayangkan karena mereka harus menghindari seorang pelacak jejak yang handal bernama Moodo yang akan mengembalikan para pelarian ini untuk kemudian mendapatkan hukuman yang sangat berat.</p>
<p>Dengan naluri berburu yang hebat, Molly berhasil membuat Moodo kesulitan untuk menemukan jejak mereka. Jarak 2.400 km yang harus ditempuh ketiganya tidak menyurutkan semangat mereka untuk kembali ke tanah kelahiran mereka. A.O. Neville, pejabat yang mengemban aturan ini, pun menjadi sangat kelimpungan dan frustasi menemukan ketiga anak perempuan yang melarikan diri.</p>
<p>Dengan mengikuti Rabbit-Proof Fence atau pagar penghalang kelinci, ketiganya berjalan kaki menuju Jigalong, yang terletak di sebelah utara Australia barat. Pagar kelinci adalah pagar kawat yang dibuat membentang di Australia barat yang bertujuan untuk menghalau kelinci dan binatang pengerat lain yang sangat merugikan. Pagar sepanjang lebih dari 2000 mil ini dibangun tahun 1901 hingga 1907.</p>
<p><img src="http://jengjeng.matriphe.com/wp-content/uploads/2009/01/molly-daisy.jpg" alt="Molly dan Daisy di samping Rabbit-Proof Fence" title="molly-daisy" width="350" height="263" class="alignnone size-full wp-image-1023" /></p>
<p>Kisah pelarian inilah yang diangkat oleh sutradara Phillip Noyce. Berbagai intrik mulai dari masalah yang dihadapi oleh ketiga anak perempuan hingga kefrustasian A.O. Neville digambarkan dengan detail. Berbagai penghargaan pun sempat dimenangkan oleh film ini.</p>
<p>Perjalanan ribuan kilometer ini rupanya tidak hanya sekedar perjalanan fisik. Ada pesan yang bisa ditangkap, yaitu keinginan untuk membebaskan diri dari penghapusan ras, penyeragaman budaya, dan perjuangan yang sangat hebat.</p>
<p>Sebuah film yang sangat menyentuh, menghibur, dan memberikan pengetahuan sejarah tentang Australia yang kita jarang mengetahui.</p>
<p><small>Gambar dan poster diambil dari IMDb (Internet Movie Database)</small></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://jengjeng.matriphe.com/rabbit-proof-fence-perjalanan-menuju-kebebasan.html/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>23</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Wagiman The Series</title>
		<link>http://jengjeng.matriphe.com/wagiman-the-series.html</link>
		<comments>http://jengjeng.matriphe.com/wagiman-the-series.html#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 22 Feb 2008 11:36:17 +0000</pubDate>
		<dc:creator>matriphe</dc:creator>
				<category><![CDATA[Arkais]]></category>
		<category><![CDATA[download]]></category>
		<category><![CDATA[film]]></category>
		<category><![CDATA[lelucon]]></category>
		<category><![CDATA[parodi]]></category>
		<category><![CDATA[video]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://jengjeng.matriphe.com/index.php/2008/02/22/wagiman-the-series.html</guid>
		<description><![CDATA[Berhubung saya jarang jeng-jeng sehingga blog ini terbengkalai, maka saya mencoba mengupdate blog ini dengan sebuah video tolol hasil bikinan temen saya yang dulu ngasih video Tutorial Bermain Gitar dalam Bahasa Jawa itu. Film ini menggunakan Bahasa Jawa, sehingga bagi njenengan yang ndak ngerti Bahasa Jawa, ndak akan ngerti. Langsung saja, silakan liat di Youtube [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><img src="http://jengjeng.matriphe.com/wp-content/uploads/2008/02/wagiman_the_series1.jpg" alt="Wagiman The Series" title="Wagiman The Series" width="350" height="263" class="alignnone size-full wp-image-1195" /></p>
<p>Berhubung saya jarang <a href="http://wiki.cahandong.org/Jeng-jeng" title="arti Jeng-Jeng" target="_blank">jeng-jeng</a> sehingga blog ini terbengkalai, maka saya mencoba mengupdate blog ini dengan sebuah video tolol hasil bikinan <a href="http://bayu-ac.web.ugm.ac.id/" title="Gethuk Elektrik" target="_blank">temen saya</a> yang dulu ngasih video <a href="http://jengjeng.matriphe.com/index.php/2007/03/28/tutorial-bermain-gitar.html" title="Tutorial Bermain Gitar" target="_blank">Tutorial Bermain Gitar</a> dalam Bahasa Jawa itu.</p>
<p>Film ini menggunakan Bahasa Jawa, sehingga bagi njenengan yang ndak ngerti Bahasa Jawa, ndak akan ngerti. <img src='http://jengjeng.matriphe.com/smilies/yahoo_giggle.gif' alt='&#59;&#41;&#41;' class='wp-smiley' width='18' height='18' title='&#59;&#41;&#41;' /></p>
<p>Langsung saja, silakan liat di <a href="http://youtube.com/watch?v=c7ckmWqyUQc" title="Wagiman The Series" target="_blank">Youtube saya</a>.. <img src='http://jengjeng.matriphe.com/smilies/yahoo_bigsmile.gif' alt='&#58;&#68;' class='wp-smiley' width='18' height='18' title='&#58;&#68;' /></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://jengjeng.matriphe.com/wagiman-the-series.html/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>53</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Nonton ScreenDocs! Traveling 2007</title>
		<link>http://jengjeng.matriphe.com/nonton-screendocs-traveling-2007.html</link>
		<comments>http://jengjeng.matriphe.com/nonton-screendocs-traveling-2007.html#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 11 Jun 2007 01:52:24 +0000</pubDate>
		<dc:creator>matriphe</dc:creator>
				<category><![CDATA[Film]]></category>
		<category><![CDATA[Review]]></category>
		<category><![CDATA[even]]></category>
		<category><![CDATA[festival]]></category>
		<category><![CDATA[film]]></category>
		<category><![CDATA[Yogyakarta]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://jengjeng.matriphe.com/index.php/2007/06/11/nonton-screendocs-traveling-2007.html</guid>
		<description><![CDATA[Hari Ahad, 10 Juni, kemarin saya nonton ScreenDocs! Traveling 2007, sebuah festival film dokumenter yang diadakan oleh In-Docs bekerja sama dengan Rumah Sinema Yogyakarta yang bertempat di Kinoki, Kotabaru, Jogja. Sayang sekali karena mungkin kurangnya publikasi (atau saya yang kuper ya?), saya baru tau tentang acara ini pada hari Sabtu sebelumnya. Padahal acara ini sangat [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><img src='http://jengjeng.matriphe.com/wp-content/uploads/2007/06/screendocs.jpg' alt='Nonton ScreenDocs! Traveling 2007' /></p>
<p>Hari Ahad, 10 Juni, kemarin saya nonton <a href="http://sandbox.cahandong.org/2007/06/11/screendocs-traveling-2007.html" title="ScreenDocs! Traveling 2007" target="_blank">ScreenDocs! Traveling 2007</a>, sebuah festival film dokumenter yang diadakan oleh <a href="http://www.in-docs.com/" title="In-Docs" target="_blank">In-Docs</a> bekerja sama dengan Rumah Sinema Yogyakarta yang bertempat di Kinoki, Kotabaru, Jogja.</p>
<p>Sayang sekali karena mungkin kurangnya publikasi (atau saya yang kuper ya?), saya baru tau tentang acara ini pada hari Sabtu sebelumnya. Padahal acara ini sangat bagus dan Jogja merupakan salah satu kota yang disinggahi untuk pemutaran film ini di antara 14 kota lainnya. Di Jogja, acara ini diselenggarakan mulai tanggal 8 hingga 10 Juni 2007.</p>
<p>Ada 21 film yang diputar, tetapi karena saya cuma sempet nonton pada hari terakhir, saya cuma menonton 8 film saja. Film-film yang diputar sangat keren, karena film-film ini merupakan finalis dan pemenang dari beberapa kompetisi film dokumenter, antara lain AMI Youth Films, Kick Start 2006, dan <a href="http://www.metrotvnews.com/eagle/" title="Eagle Awads MetroTV" target="_blank">Eagle Awards 2006</a>. Pokoke top markotop! <img src='http://jengjeng.matriphe.com/smilies/top.gif' alt='&#58;&#116;&#111;&#112;' class='wp-smiley' width='29' height='19' title='&#58;&#116;&#111;&#112;' /></p>
<p><span id="more-251"></span>Jujur saja, daripada nonton film-film Indonesia yang ceritanya makin lama makin gak jelas dan cuma mengikuti trend pasar, saya lebih suka film-film kreasi anak bangsa yang berkualitas seperti ini, terutama film dokumenter. Terdengar idealis? Memang! <img src='http://jengjeng.matriphe.com/smilies/yahoo_tongue.gif' alt='&#58;&#112;' class='wp-smiley' width='18' height='18' title='&#58;&#112;' /></p>
<p>Film dokumenter ini bener-bener menyentuh sisi humanisme kita. Tak hanya terhibur, melalui film ini kita bisa memperoleh banyak pengetahuan, bahkan film ini adalah potret sebenarnya dari bangsa kita, yang selama ini terbuai mimpi. <img src='http://jengjeng.matriphe.com/smilies/yahoo_sleep.gif' alt='&#124;&#45;&#41;' class='wp-smiley' width='21' height='18' title='&#124;&#45;&#41;' /></p>
<p>Ada 8 film yang diputar malam itu, yaitu:</p>
<ol>
<li>Nyanyian Negeri Sejuta Matahari &#8211; Miles Production &#038; UNICEF</li>
<li>Mengejar Fatamorgana Ã¢â‚¬â€œ Film Kick Start 2006</li>
<li>Banjo Pickin&#8217; Girl &#8211; AMI Youth Films</li>
<li>Sang Penggali Fosil Ã¢â‚¬â€œ Eagle Awards 2006</li>
<li>Di Atas Rel Mati Ã¢â‚¬â€œ Eagle Awards 2006</li>
<li>Perjuangan Tak Pernah Surut &#8211; Candra Tanzil</li>
<li>Amtenar: Sahaja Yang TerabaikanÃ¢â‚¬â€œ Eagle Awards 2006</li>
<li>Leila Khaled The Hijacker &#8211; Lina Makboul</li>
</ol>
<p>Dari 8 film tersebut, ada 3 film yang sangat berkesan untuk saya. Dua film di antaranya adalah film finalis Eagle Awards 2006 dan sebuah film asing pemenang berbagai penghargaan di ajang film internasional.</p>
<p><strong>Sang Penggali Fosil</strong></p>
<p><img src='http://jengjeng.matriphe.com/wp-content/uploads/2007/06/sang-penggali-fosil.jpg' alt='Sang Penggali Fosil' class="alignleft" /></p>
<p>Film finalis Eagle Awards 2006 ini berdurasi sekitar 16 menit. Film ini bercerita tentang kisah 2 orang petani yang nyambi sebagai penggali fosil di daerah Sangiran, Sragen, Jawa Tengah. Cerita ini begitu menarik buat saya, karena film ini menceritakan tentang dilema yang dihadapi oleh kedua orang petani tersebut.</p>
<p>Asmorejo, yang sering dipanggil &#8220;Insinyur&#8221; meski ia tidak pernah merasakan bangku sekolah ini karena keadaan ekonomi yang sulit, dia lebih suka menjual fosil temuannya secara ilegal. Padahal seharusnya sesuai aturan, fosil tersebut harus diserahkan kepada pemerintah.</p>
<p>Alasan yang dikemukakan oleh Insinyur ini cukup logis, fosil yang dijualnya secara ilegal lebih menguntungkan daripada jika diserahkan kepada pemerintah karena kompensasi yang diberikan pemerintah tidak sebanding dengan usahanya. Dan yang lebih parah lagi, para pembelinya justru dari pegawai museum itu sendiri.</p>
<p>Lain lagi cerita Sudikromo. Dia sebenernya ingin mengikuti jejak Insinyur, menjual fosil secara ilegal, tetapi apa daya, statusnya yang diangkat sebagai pegawai museum membuatnya terpaksa menyerahkan fosil temuannya ini ke museum, tentu dengan kompensasi yang tak sebanding dengan jerih payahnya.</p>
<p>Dari film ini kita dapat mengambil pesan, betapa rendahnya apresiasi pemerintah terhadap para penggali fosil ini sehingga sebagai ungkapan kekecewaan dan penjawab kesulitan ekonomi, aset-aset negara ini akhirnya justru jatuh ke tangan orang lain melalui cara ilegal.</p>
<p><strong>Amtenar: Sahaja Yang Terabaikan</strong></p>
<p><img src='http://jengjeng.matriphe.com/wp-content/uploads/2007/06/amtenar.jpg' alt='Amtenar: Sahaja Yang Terabaikan' class="alignleft" /></p>
<p>Finalis Eagle Awards 2006 yang berdurasi sekitar 15 menit ini bercerita tentang perjuangan dr. Diana Bancin, seorang pegawai tidak tetap yang ditempatkan di daerah terpencil di Kalimantan.</p>
<p>Daerah yang ditempati oleh dokter ini sudah 9 tahun tidak memiliki tenaga medis. Sehingga penduduk lebih percaya kepada dukun daripada kepada tenaga medis. Adalah tugas yang amat berat bagi dr. Diana untuk memberikan pengertian kepada masyarakat tentang pentingnya tenaga medis.</p>
<p>Film ini juga mempertanyakan tentang arti &#8220;pengabdian&#8221;. Para petugas yang ditempatkan di daerah terpencil seperti dr. Diana belum tentu benar-benar mengabdi. Banyak faktor yang menyebabkan para petugas ini bertahan, sesuatu yang kita sebut mengabdi, meski kadang sisi egoisme mereka muncul dan pernah terpikir untuk menyerah.</p>
<p>Kebimbangan ini juga dialami oleh Diana. Dia berkisah ketika sang ibunda sakit, dia tidak bisa berada di sisinya karena jarak yang jauh. Kepenatan dan kepenuhan pun tak jarang dirasakan olehnya.</p>
<p>Diana pun akhirnya memutuskan untuk bertahan di tempat itu. Dasarnya adalah, pertama karena tempatnya sangat indah. Kedua, di tempat itu Diana mendapatkan banyak pengalaman luar biasa selama memberi pelayanan medis. Tidak hanya memberikan obat dan merawat orang sakit, tapi juga memberikan pengertian kepada masyarakat tentang pentingnya tenaga medis. Dan alasan terakhirnya, dia tidak ingin tenaga medis satu-satunya di tempat itu (yaitu dia sendiri) kembali hilang dari situ.</p>
<p><strong>Leila Khaled The Hijacker</strong></p>
<p><img src='http://jengjeng.matriphe.com/wp-content/uploads/2007/06/leilakhaled.gif' alt='Leila Khaled The Hijacker' class="alignleft" /></p>
<p>Film ini menjadi gong dari festival film ini. Sebuah film karya Lina Makboul, seorang sutradara berkebangsaan Swedia, yang mengangkat kisah idolanya, <a href="http://en.wikipedia.org/wiki/Leila_Khaled" title="Liela Khaled di Wikipedia" target="_blank">Leila Khaled</a>, seorang &#8220;teroris&#8221; yang pernah membajak 2 buah pesawat terbang sekitar tahun 70-an.</p>
<p>Leila Khaled adalah seorang pejuang wanita Palestina yang melambung namanya setelah membajak 2 buah pesawat. Meskipun insiden ini tidak menimbulkan korban jiwa, akibat perbuatannya, Palestina pun menjadi sorotan dunia.</p>
<p>Leila Khaled pun akhirnya tertangkap di Inggris dalam aksinya yang kedua dan akhirnya dibebaskan dengan menukarkan seluruh penumpang pesawat yang disandera oleh anak buah Leila.</p>
<p>Setelah insiden itu, Leila pun tidak terdengar lagi kabarnya, hingga akhirnya Lina Makboul menghubungi Leila yang menjalani kehidupan layaknya penduduk biasa di Amman, Yordania, dan menawarinya untuk membuat film dokumenter.</p>
<p>Dalam film ini, Lina berusaha mengetahui apa yang menjadi dasar Leila melakukan pembajakan terhadap pesawat serta aksi-aksi perlawananannya tersebut. Leila pun menjawab bahwa semua usahanya itu adalah untuk merebut kembali tanah Palestina yang dikuasai oleh Israel.</p>
<p>Leila menjelaskan bahwa aksi-aksinya yang dicap terorisme oleh negara barat itu adalah langkah terakhir dan satu-satunya cara, karena tanpa cara itu, bangsa Palestina tidak akan diperhatikan. </p>
<p>Ketika ditanya mengapa pasukannya membiarkan anak-anak bergabung menjadi bagian dari pasukannya, Leila pun balik bertanya mengapa negara lain membiarkan ibu-ibu dan wanita Palestina dibunuh oleh Israel sehingga anak-anaknya terlantar.</p>
<p>Di film ini kita dapat melihat sebuah sisi feminimitas seorang Leila, pejuang pembebasan Palestina, yang dianggap pahlawan oleh rakyat Palestina. Di balik keperkasaan dan keberaniannya, Leila merupakan sosok yang hangat dan menyayangi keluarga.</p>
<p>Bahkan di satu adegan, ketika Lina membawakan potongan lantai rumahnya di Haifa, Leila tak kuasa menahan air mata. Tak henti-hentinya potongan lantai itu dipeluk dan diciuminya, menunjukkan betapa rindunya ia akan tanah kelahirannya.</p>
<p>Ending film ini bener-bener membuat penasaran. Lina, ketika mewawancara Leila tidak berani menanyakan sebuah pertanyaan yang cukup fundamental tentang aksinya. Lina bahkan terus mencari waktu yang pas untuk menanyakan pertanyaan itu, hingga akhirnya, setelah proses pengambilan gambar untuk film ini selesai dan Lina kembali ke Swedia, Lina baru berani bertanya kepada Leila melalui telepon.</p>
<p>Pertanyaan terakhir Lina kepada Leila adalah, &#8220;apakah anda sadar bahwa perbuatan anda (membajak pesawat) tersebut akan membawa nama buruk (cap Teroris) kepada bangsa Palestina?&#8221;. Dan sialnya, jawaban Leila tidak ditampilkan! Maka saya jadi penasarah banget. <img src='http://jengjeng.matriphe.com/smilies/yahoo_think.gif' alt='&#58;&#45;&#63;' class='wp-smiley' width='18' height='18' title='&#58;&#45;&#63;' /></p>
<p>Ah, tak menyesal saya melihat film-film ini. Bahkan saya pun rela menahan lapar karena penayangan film mulai dari jam 17.30 hingga 22.00 secara maraton ini bener-bener keren.</p>
<p>Dan saya pun memutuskan untuk makan malam dengan menu nasi plus puyuh goreng.. <img src='http://jengjeng.matriphe.com/smilies/yahoo_drool.gif' alt='&#61;&#112;&#126;' class='wp-smiley' width='18' height='18' title='&#61;&#112;&#126;' /></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://jengjeng.matriphe.com/nonton-screendocs-traveling-2007.html/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>32</slash:comments>
		</item>
	</channel>
</rss>

