<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>jengjeng matriphe! &#187; gunung</title>
	<atom:link href="http://jengjeng.matriphe.com/tag/gunung/feed" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://jengjeng.matriphe.com</link>
	<description>pengen jalan-jalan, makan-makan, dan lain-lain</description>
	<lastBuildDate>Tue, 02 Aug 2011 11:41:49 +0000</lastBuildDate>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<generator>http://wordpress.org/?v=3.2.1</generator>
	<atom:link rel='hub' href='http://jengjeng.matriphe.com/?pushpress=hub'/>
		<item>
		<title>Jeng-Jeng Sebesi-Anak Krakatau</title>
		<link>http://jengjeng.matriphe.com/jeng-jeng-sebesi-anak-krakatau.html</link>
		<comments>http://jengjeng.matriphe.com/jeng-jeng-sebesi-anak-krakatau.html#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 10 Feb 2010 07:04:53 +0000</pubDate>
		<dc:creator>matriphe</dc:creator>
				<category><![CDATA[Destinasi]]></category>
		<category><![CDATA[Gunung, Bukit, Mata Air]]></category>
		<category><![CDATA[Pulau, Laut, Pantai]]></category>
		<category><![CDATA[Travelogue]]></category>
		<category><![CDATA[Anak Krakatau]]></category>
		<category><![CDATA[gunung]]></category>
		<category><![CDATA[Lampung]]></category>
		<category><![CDATA[pantai]]></category>
		<category><![CDATA[Sebesi]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://jengjeng.matriphe.com/?p=1452</guid>
		<description><![CDATA[Tak pernah terbayang dalam benak saya ketika dulu semasa kecil melihat gambar Anak Krakatau di uang pecahan 100 rupiah tahun emisi 1992 bahwa saya bisa menginjakkan kaki di sana. Rasanya hampir tak percaya karena memang tidak ada rencana untuk ke sana! Berawal dari ajakan teman-teman dari komunitas Indonesia Backpacker yang hendak melakukan gathering ke Pulau [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><img src="http://jengjeng.matriphe.com/wp-content/uploads/2010/02/puncak-krakatau.jpg" alt="Di puncak Anak Krakatau" title="Di puncak Anak Krakatau" width="350" height="263" class="alignnone size-full wp-image-1453" /></p>
<p>Tak pernah terbayang dalam benak saya ketika dulu semasa kecil melihat gambar Anak Krakatau di <a href="http://www.bi.go.id/web/id/Tentang+BI/Museum/Koleksi/Uang/Uang+Kertas/detail.htm?id=192" title="Uang Kertas Bank Indonesia Emisi 1992" target="_blank">uang pecahan 100 rupiah tahun emisi 1992</a> bahwa saya bisa menginjakkan kaki di sana. Rasanya hampir tak percaya karena memang tidak ada rencana untuk ke sana!</p>
<p>Berawal dari ajakan teman-teman dari komunitas Indonesia Backpacker yang hendak melakukan gathering ke Pulau Sebesi, Lampung, saya pun ikut bergabung. Ini pertama kalinya saya ikut trip bersama rombongan besar, apalagi saya bukan anggota komunitas tersebut. <img src='http://jengjeng.matriphe.com/smilies/yahoo_bigsmile.gif' alt='&#58;&#68;' class='wp-smiley' width='18' height='18' title='&#58;&#68;' /></p>
<p><span id="more-1452"></span>Awalnya kami hendak mendaftarkan diri di acara gathering tersebut, namun karena pendaftaran sudah ditutup lebih cepat dari rencana, maka kami pun urung bergabung dengan trip tersebut. Tak kehilangan akal, kami bertujuh pun tetep nekad untuk berangkat bareng mereka untuk menghemat biaya kapal dan mengetahui rute (karena selama ini saya buta rute dan gak pake rencana).</p>
<p>Kesimpulan asal saya, mengorganisasi manusia sebanyak 100-an orang itu ribet sangat. Acara dan jadwal molor karena banyaknya manusia yang telat datang ke titik kumpul Pelabuhan Merak, Banten. Saya yang sudah datang jauh-jauh lebih awal jelas sewot. Itulah sebabnya saya lebih suka jalan sendiri atau maksimal dalam kelompok kecil (kurang dari 10 orang).</p>
<p>Menuju Pelabuhan Merak banyak bus yang bisa digunakan. Bus dari Kalideres, Pulogadung, dan Kampung Rambutan selalu ada hampir 24 jam. Ongkosnya sekitar 17 ribu untuk bus AC, dengan waktu tempuh sekitar 3-4 jam kalo tidak macet.</p>
<p>Selain dengan bus, bisa naik kereta api dari Stasiun Jakarta Kota hingga Stasiun Merak dengan kereta Merak Jaya, namun jadwal hanya ada 2 kali pagi dan sore.</p>
<p>Dari Terminal Merak, kami cukup berjalan kaki saja menuju Pelabuhan Merak. Pelabuhan dan terminal ini konon masih dalam taraf pembangunan hingga nantinya bisa menjadi terminal terpadu (pelabuhan, terminal, dan stasiun menjadi satu kawasan dan terhubung satu sama lain). Saat ini yang sudah terpadu baru pelabuhan dan stasiun.</p>
<p><img src="http://jengjeng.matriphe.com/wp-content/uploads/2010/02/etiket-merak.jpg" alt="E-ticket Pelabuhan Merak" title="E-ticket Pelabuhan Merak" width="350" height="263" class="alignnone size-full wp-image-1454" /></p>
<p>Tiket naik kapal feri 10 ribu rupiah dengan bentuk kartu magnetik. Bila pernah berkunjung dan masuk ke gedung SCBD/BEI Jakarta, masuk ke Pelabuhan Merak (dan juga di Bakauheni) mirip dengan sistem masuk di gedung SCBD.</p>
<p>Tiket ditempelkan ke mesin, kemudian pintu akan terbuka. Tiket ini diserahkan kepada petugas sesaat sebelum naik kapal. </p>
<p><img src="http://jengjeng.matriphe.com/wp-content/uploads/2010/02/pintu-masuk.jpg" alt="Masuk ke Pelabuhan melalui mesin" title="Masuk ke Pelabuhan melalui mesin" width="350" height="263" class="alignnone size-full wp-image-1455" /></p>
<p>Perjalanan dari Pelabuhan Merak ke Bakauheni memakan waktu sekitar 2 jam. Selama di kapal, kami lebih banyak tidur di atas bangku-bangku kosong. Apalagi malam membuat kami hampir tidak bisa melihat apa pun kecuali gemerlap lampu-lampu dari kawasan industri Cilegon.</p>
<p>Kami sampai di Bakauheni pas Subuh. Begitu keluar dari Pelabuhan Bakauheni, kami langsung diserbu para calo-calo dari Terminal Bakauheni. &#8220;Karang.. Karang.. Metro.. Metro.. Raja Basa.. Raja Basa..,&#8221; teriak calo tersebut yang kadang ngeselin karena mereka gak segan menarik-narik lengan dan barang bawaan calon penumpang.</p>
<p>Kami segera menyingkir dari kepungan para calo untuk nongkrong dulu di ibu penjual kopi yang ngemper di peron terminal. Selain membeli kopi, kami pun berunding untuk menentukan sarana transportasi berikutnya.</p>
<p>Tujuan kami adalah Dermaga Canti di Kalianda. Untuk menuju ke sini sebenernya bisa ditempuh dengan 2 kali naik angkot. Dari Bakauheni, naik angkot berwarna kuning turun di Pasar Kalianda. Ongkosnya 15 ribu rupiah. Dari Pasar Kalianda kemudian berganti angkot warna biru hingga ke Dermaga Canti dengan ongkos 5 ribu rupiah.</p>
<p>Karena rombongan IBP yang kami barengi pada nyewa angkot, kami pun memutuskan untuk ikut menyewa juga. Tawar-menawar harga terjadi. Kami bertujuh, jika dihitung per orang 20 ribu, ongkosnya akan jadi 140 ribu. Akhirnya kesepakatan harga terjadi, kami akan diantar hingga Dermaga Canti dengan ongkos carter 125 ribu.</p>
<p>Sepanjang jalan dari Bakauheni ke Canti, kami mencium bau durian. Sial! Bau ini membuat kami jadi pengen makan duren!!</p>
<p>Kami tiba di Canti lebih awal dari rombongan IBP. Begitu turun, lagi-lagi kami disambut oleh tawaran carter kapal ke Sebesi. Padahal menurut informasi, kapal dari Sebesi-Canti-Sebesi datang rutin setiap pukul 9 pagi. Ongkosnya pun cuma 15 ribu rupiah per orang. Bila mencarter kami ditarik ongkos 400 ribu rupiah!</p>
<p>Karena rombongan IBP sudah mencarter kapal dari Canti ke Sebesi, maka kami memilih untuk ikut rombongan IBP saja. Kami tetep membayar 15 ribu rupiah per orang ke panitia IBP.</p>
<p>Bentuk perahu motor yang melayani rute Canti-Sebesi sebelas-duabelas dengan kapal yang melayani rute Muara Angke-Pulau Pramuka, cuma ukuran kapal Sebesi ini lebih kecil dan lajunya lebih lambat. Jarak Pulau Sebesi-Canti yang cuma 13 Km harus ditempuh dalam waktu 2 jam.</p>
<p><img src="http://jengjeng.matriphe.com/wp-content/uploads/2010/02/peta-pulau.jpg" alt="Peta Pulau Sebuku, Sebesi, Anak Krakatau. Sumber: Google Maps." title="Peta Pulau Sebuku, Sebesi, Anak Krakatau. Sumber: Google Maps." width="350" height="263" class="alignnone size-full wp-image-1456" /></p>
<p>Selama perjalanan, kami disuguhi pemandangan yang luar biasa. Ada 3 buah karang yang membentuk semacam pulau di sebelah selatan Dermaga Canti yang oleh penduduk setempat disebut dengan Pulau Tiga.</p>
<p>Kami bahkan menyusuri selat Sebuku yang memisahkan Pulau Sebuku dan Pulau Sebuku Kecil. Dari jauh terlihat Gunung Sebesi menjulang tinggi dengan awan menutupi puncaknya membawa kesan mistis. Dari jauh, samar-samar terlihat siluet Anak Gunung Krakatau.</p>
<p>Karena tak ingin melewatkan pemandangan ini, sebagian penumpang kapal langsung pindah untuk duduk di atap kapal. Kamera keluar semua dan akhirnya potret-memotret tak terelakkan!</p>
<p><img src="http://jengjeng.matriphe.com/wp-content/uploads/2010/02/di-atap-kapal.jpg" alt="Sebagian penumpang kapal duduk di atap untuk menikmati pemandangan" title="Sebagian penumpang kapal duduk di atap untuk menikmati pemandangan" width="350" height="263" class="alignnone size-full wp-image-1457" /></p>
<p>Perjalanan akhirnya berakhir di dermaga Sebesi. Dermaga ini merupakan akses utama untuk menuju dan keluar dari Pulau Sebesi.</p>
<p>Pulau Sebesi sebenernya berdiri di lereng Gunung Sebesi yang berketinggian 884 meter dpl. Secara administratif, Pulau Sebesi berada dalam wilayah Desa Tejang Pulau Sebesi, Kecamatan Raja Basa, Kabupaten Lampung Selatan. </p>
<p>Luas pulaunya 2.620 ha dengan panjang pantai 19,55 km. Bila dilihat dari peta, pulau ini berbentuk hampir bundar. Bersama Pulau Sebuku, Sanghyang, Lagundi, dan Anak Krakatau, 5 pulau ini masuk dalam wilayah Kepulauan Krakatau yang terletak di Teluk Lampung, Selat Sunda.</p>
<p>Di Pulau Sebesi terdapat 4 dusun, yaitu Dusun Bangunan, Dusun Inpres, Dusun Regahan Lada, dan Dusun Segenom. Mata pencaharian penduduk Sebesi selain nelayan adalah bertani kelapa, pisang, dan coklat, yang hasil pertanian ini dijual ke Kalianda.</p>
<p>Kami tiba di salah satu dari 3 dermaga di Pulau Sebesi yang terletak di Dusun Bangunan. Fasilitas penginapan tidak ada, kecuali bila menginap secara homestay di rumah-rumah warga.</p>
<p><img src="http://jengjeng.matriphe.com/wp-content/uploads/2010/02/dermaga-sebesi.jpg" alt="Dermaga Pulau Sebesi" title="Dermaga Pulau Sebesi" width="350" height="263" class="alignnone size-full wp-image-1458" /></p>
<p>Atas bantuan Pak Hayun (081369923312 &#8211; 08287013757), salah satu pengelola wisata di Pulau Sebesi, kami menginap di salah satu rumah warga dengan biaya 200 ribu per malam.</p>
<p>Kami menginap di salah satu ruangan di rumah warga di Dusun Bangunan. Ini memungkinkan kami bisa berinteraksi langsung dengan si pemilik rumah dan warga sekitar.</p>
<p>Sinyal operator seluler sangat sulit didapat. Ditambah listrik hanya menyala dari jam 6 sore hingga jam 12 malam yang dipasok dari PLN dengan menggunakan 2 buah generator diesel. Bahkan saat kami berada di sana, listrik sedang padam karena salah satu dari generator rusak (walau begitu, warga tetap diwajibkan membayar listrik sebesar 25 ribu per bulan).</p>
<p>Karena cuaca cerah, kami sepakat untuk mengunjungi Anak Krakatau, karena anak-anak IBP mengadakan acara sendiri. Awalnya memang tidak terpikir untuk ke Anak Krakatau karena saat berangkat, cuaca sedang mendung.</p>
<p>Atas bantuan Pak Hayun, kami menyewa kapal untuk menuju ke Anak Krakatau dengan biaya 1,2 juta rupiah pulang-pergi plus biaya perijinan dan pemandu dari ranger Taman Nasional sebesar 200 ribu rupiah, sehingga totalnya 1,4 juta rupiah.</p>
<p><img src="http://jengjeng.matriphe.com/wp-content/uploads/2010/02/anak-krakatau.jpg" alt="Menuju ke Anak Krakatau" title="Menuju ke Anak Krakatau" width="350" height="263" class="alignnone size-full wp-image-1459" /></p>
<p>Perjalanan dari Sebesi ke Anak Krakatau memakan waktu sekitar 2 jam. Makin mendekati Anak Krakatau, gelombang laut pun makin tinggi dan ganas. Kami yang awalnya duduk-duduk di atap kemudian beringsut turun dan masuk ke dalam karena goyangan kapal makin kencang sambil berdoa semoga tidak terjadi apa-apa.</p>
<p>Begitu kapal merapat ke bibir pantai Anak Krakatau, saya langsung menginjak-injakkan kaki di atas pasir hitam karena kegirangan. Maaakk!! Anakmu ini menginjakkan kaki di Anak Krakatau!!</p>
<p><img src="http://jengjeng.matriphe.com/wp-content/uploads/2010/02/cagar-alam-krakatau.jpg" alt="Gerbang Taman Nasional Cagar Alam Krakatau" title="Gerbang Taman Nasional Cagar Alam Krakatau" width="350" height="263" class="alignnone size-full wp-image-1460" /></p>
<p>Ketika kami tiba, kami melihat beberapa tenda tengan berdiri di depan gerbang Taman Nasional Krakatau. Selama aktivitas vulkanik Krakatau dinyatakan aman, kita diperbolehkan mendaki ke puncak, berkemah, bahkan melakukan snorkeling dan diving di sekitar Anak Krakatau.</p>
<p>Bersama pemandu, kami melakukan trekking dan mendaki hingga ke puncak Krakatau. Awalnya kami harus menembus gelapnya &#8220;hutan tropis&#8221; mini sebelum pada patok nomor 4 pada ketinggian sekitar 400 meter dpl, kondisinya sudah berubah menjadi jalur pasir bekas longsoran lahar dan beberapa pohon pinus.</p>
<p>Hingga patok nomor 5 pada ketinggian 500 meter dpl, vegetasinya sudah berubah menjadi rerumputan. Lepas dari patok nomor 6-7 pada ketinggian 600-700 meter, vegetasi sudah hampir tak ada dan hanya pasir dan batuan vulkanik. Mulai dari patok nomor 5 inilah sudut pendakian berubah curam.</p>
<p>Kami mendaki hanya sampai bibir kawah bekas letusan tahun 1992 pada patok nomor 12 atau pada ketinggian 120 meter dpl. Kami tidak bisa mencapai ke atas lagi karena puncak Anak Krakatau masih aktif mengeluarkan gas belerang. Total ketinggian puncak Anak Krakatau saat kami berkunjung adalah 334 meter dpl.</p>
<p>Ketinggian dan luas pulau Anak Krakatau yang muncul pada periode 1927-1929 ini akan terus berubah seiring dengan aktivitas vulkaniknya. Bahkan dari tengah kawah yang terbentuk ketika ledakan tahun 1992 kini telah menjulang puncak baru.</p>
<p><img src="http://jengjeng.matriphe.com/wp-content/uploads/2010/02/gunung-rakata.jpg" alt="Gunung Rakata di latar belakang merupakan salah satu sisa letusan Gunung Krakatau Besar" title="Gunung Rakata di latar belakang merupakan salah satu sisa letusan Gunung Krakatau Besar" width="350" height="263" class="alignnone size-full wp-image-1462" /></p>
<p>Berawal dari sebuah gunung bernama Krakatau Besar berbentuk kerucut yang kemudian meletus besar hingga terbentuklah Pulau Rakata, Pulau Panjang, dan Pulau Sertung.</p>
<p>Aktivitas di kaldera Krakatau di bawah laut yang terus bergejolak akhirnya memunculkan 3 gunung baru di atas Pulau Rakata, yaitu Gunung Rakata, Gunung Danan, dan Gunung Perbuatan.</p>
<p>Pada tanggal 27 Agustus 1883, terjadi letusan besar yang akhirnya menenggelamkan Gunung Danan dan Gunung Perbuatan dan hanya menyisakan Gunung Rakata. Kaldera yang terbentuk dari ledakan ini memiliki diameter hingga 7 Km.</p>
<p>Aktivitas vulkanik di dasar laut Krakatau terus bergejolak hingga pada periode 1927-1929 terbentuklah pulau baru yang kini dinamakan Anak Krakatau.</p>
<p><img src="http://jengjeng.matriphe.com/wp-content/uploads/2010/02/proses-anak-krakatau.jpg" alt="Proses terbentuknya Anak Krakatau" title="Proses terbentuknya Anak Krakatau" width="350" height="789" class="alignnone size-full wp-image-1461" /></p>
<p>Setelah puas menjelajah puncak Krakatau, kami kembali turun sebelum semakin sore. Melihat pantai dengan air jernih, badan rasanya gatal kalo tidak nyemplung. Kami pun kalap dan berkecipak-kecipak nyemplung ke laut!</p>
<p><img src="http://jengjeng.matriphe.com/wp-content/uploads/2010/02/nyemplung-krakatau.jpg" alt="Nyemplung di pantai Anak Krakatau" title="Nyemplung di pantai Anak Krakatau" width="350" height="263" class="alignnone size-full wp-image-1463" /></p>
<p>Anak buah kapal berteriak-teriak ke arah kami untuk segera naik ke kapal dan segera kembali ke Sebesi. Selain takut kesorean, ternyata kami disuguhkan pemandangan dahsyat di atas laut ketika pulang.</p>
<p>Di barat, mentari lambat-lambat mulai tenggelam. Anak Krakatau yang gagah nampak tertidur di samping Pulau Sertung yang sekilas berbentuk mirip paus membentuk siluet dahsyat.</p>
<p><img src="http://jengjeng.matriphe.com/wp-content/uploads/2010/02/krakatau-sertung.jpg" alt="Siluet Anak Krakatau dan Pulau Sertung di senja hari" title="Siluet Anak Krakatau dan Pulau Sertung di senja hari" width="350" height="263" class="alignnone size-full wp-image-1464" /></p>
<p>Mendekati Pulau Sebesi, langit sudah gelap. Di kejauhan, di bagian daratan Lampung, kami melihat petir berkilat-kilat teredam mendung pekat. Sepertinya hujan deras tengah mengguyur Lampung. Kami pun bisa dengan jelas melihat rasi bintang scorpio di langit utara, suatu hal yang sangat langka kami temukan di Jakarta. Suara bising mesin kapal tak lagi kami hiraukan.</p>
<p>Kapal yang kami tumpangi tidak memiliki penerangan sama sekali. Kami hanya mengandalkan satu-satunya senter yang dibawa oleh seorang rekan. Begitu kami tiba di dermaga, suasana pun gelap gulita.</p>
<p>Kami berjalan kembali ke penginapan yang untungnya ada genset pribadi di rumah tersebut, sehingga rumah tempat kami menginap lebih terang daripada rumah lain yang menggunakan penerangan lampu minyak (lampu teplok).</p>
<p><img src="http://jengjeng.matriphe.com/wp-content/uploads/2010/02/pagi-sebesi.jpg" alt="Suasana pagi di Dermaga Sebesi" title="Suasana pagi di Dermaga Sebesi" width="350" height="263" class="alignnone size-full wp-image-1466" /></p>
<p>Keesokan paginya, kami menghabiskan waktu bermain-main dan menyusuri pantai di Pulau Sebesi. Setelah berburu sunrise di dermaga dan makan nasi udduk di warung sebelah penginapan, kami menyurusi pantai hingga mencapai kawasan hutan bakau di sebelah timur laut kemudian berganti arah menuju barat laut untuk menemukan pantai yang teduh untuk mandi-mandi.</p>
<p>Kami pun akhirnya mandi-mandi di pantai dengan pemandangan langsung ke Pulau Umang (masyarakat menyebutnya juga Pulau Umang Umang).</p>
<p><img src="http://jengjeng.matriphe.com/wp-content/uploads/2010/02/nyemplung-sebesi.jpg" alt="Bermain di pantai Pulau Sebesi" title="Bermain di pantai Pulau Sebesi" width="350" height="263" class="alignnone size-full wp-image-1465" /></p>
<p>Setelah membersihkan diri dan berkemas, kami meninggalkan Pulau Sebesi sekitar pukul 12 bareng dengan rombongan IBP.</p>
<p>Selama perjalanan, kami mengalami 2 kali senja di atas laut. Pertama ketika kami kembali dari Anak Krakatau dan yang kedua ketika kami berada di atas feri KM Raja Basa I yang membawa kami dari Bakauheni ke Merak. Lagi-lagi kami mendapat pemandangan senja yang menakjubkan!</p>
<p><img src="http://jengjeng.matriphe.com/wp-content/uploads/2010/02/senja-kapal.jpg" alt="Menikmati senja di atas kapal feri" title="Menikmati senja di atas kapal feri" width="350" height="263" class="alignnone size-full wp-image-1467" /></p>
<p>Postingan terkait:</p>
<ul>
<li><a href="http://www.mrbambang.web.id/2010/02/journey-to-sebesi-island-and-child-of-krakatoa.blog/comment-page-1/#comment-2491" title="Journey to Sebesi Island and Child of Krakatoa" target="_blank">Journey to Sebesi Island and Child of Krakatoa</a> di blog Bambang</li>
<li><a href="http://www.flickr.com/photos/zamroni/sets/72157623384262786/" title="Muhammad Zamroni's buddy icon<br />
Sebesi &#038; Anak Krakatau" target="_blank">Galeri foto di Flickr</a></li>
</ul>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://jengjeng.matriphe.com/jeng-jeng-sebesi-anak-krakatau.html/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>44</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Jeng-Jeng Ciwidey</title>
		<link>http://jengjeng.matriphe.com/jeng-jeng-ciwidey.html</link>
		<comments>http://jengjeng.matriphe.com/jeng-jeng-ciwidey.html#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 11 Jan 2010 16:38:57 +0000</pubDate>
		<dc:creator>matriphe</dc:creator>
				<category><![CDATA[Destinasi]]></category>
		<category><![CDATA[Gunung, Bukit, Mata Air]]></category>
		<category><![CDATA[Travelogue]]></category>
		<category><![CDATA[Bandung]]></category>
		<category><![CDATA[ciwidey]]></category>
		<category><![CDATA[gunung]]></category>
		<category><![CDATA[kawah]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://jengjeng.matriphe.com/?p=1434</guid>
		<description><![CDATA[Bandung selatan memiliki potensi wisata yang menarik. Selain Pangalengan, Ciwidey bisa menjadi pilihan berlibur yang cukup dekat dari Jakarta atau Bandung. Ciwidey yang sebenernya merupakan salah satu kecamatan dari Kabupaten Bandung yang berbatasan langsung dengan Kabupaten Cianjur ini merupakan daerah perkebunan dan pertanian yang memiliki banyak obyek wisata. Salah duanya yang terkenal adalah Kawah Putih [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><img src="http://jengjeng.matriphe.com/wp-content/uploads/2009/12/ciwidey.jpg" alt="Di Kawah Putih Ciwidey" title="Di Kawah Putih Ciwidey" width="350" height="263" class="alignnone size-full wp-image-1435" /></p>
<p>Bandung selatan memiliki potensi wisata yang menarik. Selain <a href="http://jengjeng.matriphe.com/jeng-jeng-pangalengan.html" title="Jeng-Jeng Pangalengan">Pangalengan</a>, Ciwidey bisa menjadi pilihan berlibur yang cukup dekat dari Jakarta atau Bandung.</p>
<p>Ciwidey yang sebenernya merupakan salah satu kecamatan dari Kabupaten Bandung yang berbatasan langsung dengan Kabupaten Cianjur ini merupakan daerah perkebunan dan pertanian yang memiliki banyak obyek wisata. Salah duanya yang terkenal adalah Kawah Putih dan Situ Patengan.</p>
<p><span id="more-1434"></span>Bersama 3 orang rekan lain, saya berkunjung ke Ciwidey, seperti biasa, tanpa rencana. Dari cetusan semalam, saya kemudian berkemas secukupnya, dan berangkat esok paginya dengan cara <em>ngeteng</em> (menggunakan kendaraan umum).</p>
<p>Bagi yang menggunakan kendaraan pribadi, menuju Ciwidey menjadi lebih mudah. Tinggal keluar dari tol Kopo kemudian ikuti jalur ke arah Soreang-Ciwidey.</p>
<p>Dari Jakarta, kami menggunakan bus Primajasa dari Terminal Lebakbulus. Ongkosnya 50 ribu rupiah dengan tujuan akhir Terminal Leuwi Panjang, Bandung.</p>
<p>Dari Leuwi Panjang, kami berganti angkutan dengan menumpang bus Putera Setia jurusan Leuwi Panjang-Ciwidey. Ongkosnya sangat murah, 6 ribu rupiah dengan waktu tempuh 2-3 jam (tergantung kemacetan di jalan raya Kopo).</p>
<p>Selain menggunakan bus Putera Setia, Ciwidey juga bisa ditempuh dengan menggunakan Elf jurusan Leuwi Panjang-Ciwidey atau 2 kali naik angkot (Leuwi Panjang-Soreang, dilanjut Soreang-Ciwidey).</p>
<p>Sesampai di Terminal Cibeureum, Ciwidey, kami menggunakan ojek untuk naik ke atas sembari mencari penginapan. Ongkos ojek ini sekitar 15 ribu, makin pandai menawar, makin murah ongkosnya.</p>
<p>Karena ketidaktahuan plus begitu turun dari bus kami diserbu oleh tukang ojek yang menawarkan jasanya, makanya kami menggunakan ojek. Padahal sebenernya bisa juga menggunakan angkot berwarna kuning jurusan Cibeureum-Situ Patengan dengan ongkos sekitar 3-7 ribu (tergantung jarak).</p>
<p>Oleh tukang ojek, kami direkomendasikan menginap di bungalow dan restoran Kampoeng Strawberry (Jl. Rancabali KM 7, Alam Indah, Ciwidey, Telp. 022-8592 0550). Pertimbangan tukang ojek, penginapan ini jaraknya lebih dekat ke obyek-obyek wisata.</p>
<p>Penginapan lain di sekitar sini adalah  penginapan Patuha Resort dan bumi perkemahan Ranca Upas.</p>
<p><img src="http://jengjeng.matriphe.com/wp-content/uploads/2009/12/kampoeng-strawberry.jpg" alt="Bungalow dan Restoran Kampoeng Strawberry" title="Bungalow dan Restoran Kampoeng Strawberry" width="350" height="263" class="alignnone size-full wp-image-1436" /></p>
<p>Bungalow yang kami sewa merupakan bungalow yang standar. Rate-nya 400 ribu plus ekstra bed dan pajak, totalnya 490 ribu. Biaya ini kami bagi berempat, sehingga per orang membayar Rp 122.500. Bungalow standar ini memiliki air panas.</p>
<p>Jika menyukai yang lebih alami, bisa menginap di bumi perkemahan Ranca Upas atau di wisma PTPN VIII. Daerah di dekat obyek wisata (seputaran daerah Alam Indah) sangat minim penginapan. Penginapan yang agak murah dengan rate 100-200 ribu ada di bawah (seputaran Cibereum-Ciwidey), dengan konsekuensi jarak tempuh yang jauh ke obyek-obyek wisata.</p>
<p>Sepanjang jalan dari terminal hingga Situ Patengan kita dapat menemukan berbagai tempat yang menawarkan wisata memetik sendiri buah strawberry dari kebun. Strawberry yang telah dipetik kemudian ditimbang untuk kemudian dibeli. Kita bisa juga langsung memakan strawberry di kebun.</p>
<p>Setelah cek-in dan meletakkan barang, kami langsung menuju ke Situ Patengan, obyek wisata yang paling jauh. Apalagi kami datang sudah terlalu sore karena terjebak macet.</p>
<p>Ada yang menyebut nama obyek wisata ini dengan &#8220;Patengang&#8221; atau &#8220;Patenggang&#8221;, menurut saya ini cuma faktor &#8220;kesleo&#8221; lidah dalam pengucapan saja. Meski begitu, cukup banyak penduduk lokal mengucapkan &#8220;Patenggang&#8221; yang berarti &#8220;berjarak&#8221; (dari kata &#8220;tenggang&#8221;).</p>
<p>Bila diurutkan, obyek-obyek wisata di daerah ini berada dalam sau garis jalan, yaitu Kawah Putih, pemandian air panas Cimanggu, bumi perkemahan Ranca Upas, kebun teh dan pemandian air panas Ranca Ciwalini, kebun teh PTPN VIII Ranca Bali, dan berakhir di Situ Patengan.</p>
<p>Dari penginapan, kami naik angkot hingga ke Situ Patengan. Ongkosnya 5 ribu rupiah, plus 5 ribu untuk retribusi, semua dibayar oleh sopir angkot. Saya curiga duit retribusi kami dimakan sendiri oleh si sopir angkot, apalagi kami tidak mendapat tiket resmi.</p>
<p>Sopir angkot ini pula yang membuat perjalanan kami jadi kurang menyenangkan. Kalo misal ada banyak sopir angkot macam begini di satu obyek wisata, bisa dipastikan obyek wisata itu akan hancur, karena wisatawan jadi enggan datang. Selengkapnya saya ceritakan nanti.</p>
<p>Situ Patengan adalah sebuah danau seluas 48 hektar yang terbentuk dari sisa-sisa aktivitas vulkanik. Terletak pada ketinggian sekitar 1.600 meter dpl, membuat taman wisata ini sejuk. Apalagi di sekitar danau ditumbuhi tanaman pinus dan kayu putih.</p>
<p><img src="http://jengjeng.matriphe.com/wp-content/uploads/2010/01/situ-patengan.jpg" alt="Situ Patengan di kala senja" title="Situ Patengan di kala senja" width="350" height="263" class="alignnone size-full wp-image-1437" /></p>
<p>Ada sebuah legenda tentang kemunculan Situ Patengan ini. Konon dulu ada sejoli yang bernama Raden Indrajaya,  (berjuluk Ki Santang), keponakan Prabu Siliwangi, dengan Dewi Rengganis yang karena peperangan, mereka berdua harus terpisah. Menangislah mereka hingga air matanya tergenang menjadi danau ini.</p>
<p>Karena kekuatan cinta mereka, kedua sejoli ini bertekad untuk bertemu sehingga mereka saling mencari, yang dalam bahasa Sunda &#8220;pateangan-teangan&#8221;. Nah, dari kata inilah nama Patengan berasal.</p>
<p>Mereka pun akhirnya bertemu kembali di tempat ini. Tempat bertemunya kedua sejoli ini dinamakan Batu Cinta. Wujud dari batu ini dikabarkan mirip dengan sosok manusia, namun batu ini sangat jarang terlihat karena berada di dalam danau, kecuali ketika air danau surut.</p>
<p>Dewi Rengganis pun meminta kepada Ki Santang untuk dibuatkan perahu untuk digunakan berkeliling danau. Konon pulau yang terletak di tengah danau ini dulunya adalah perahu Ki Santang yang digunakan untuk berkeliling. Ndak heran banyak persewaan perahu yang memang digunakan untuk berkeliling di danau sedalam 3 hingga 4 meter ini.</p>
<p>Pulau di tengah danau tersebut bernama Pulau Sasaka dan lebih dikenal dengan nama Pulau Asmara.</p>
<p><img src="http://jengjeng.matriphe.com/wp-content/uploads/2010/01/perahu-patengan.jpg" alt="Perahu sewaan di Situ Patengan" title="Perahu sewaan di Situ Patengan" width="350" height="263" class="alignnone size-full wp-image-1438" /></p>
<p>Sewa perahu lumayan mahal, sekitar 50-80 ribu. Atau jika menunggu penuh, dikenai tarif 15 ribu per orang. Namun yang menyebalkan, rata-rata para pemilik perahu memaksa pengunjung untuk menyewa.</p>
<p>Menurut mitos, barang siapa yang mengelilingi Pulau Asmara dan singgah di lokasi seputaran Batu Cinta, maka kisah cinta kedua sejoli ini akan abadi seperti pada kisah cinta Ki Santang dan Dewi Rengganis.</p>
<p>Situ Patengan dulunya bersatatus cagar alam dan taman nasional, namun sejak 1981, Situ Patengan dijadikan sebagai taman wisata.</p>
<p>Di sekeliling danau terdapat beberapa penginapan, toko-toko suvenir, dan warung makan yang nampak berjajar. </p>
<p>Kendaraan umum yang melayani rute ini paling terakhir beroperasi jam 6 sore. Dan inilah awal dari kekesalan kami kepada sopir angkot yang kami tumpangi sebelumnya.</p>
<p>Ketika kami tiba, si bapak menawarkan jasa untuk menunggui dan mengantarkan kami pulang. Tawar-menawar harga pun terjadi, dan disepakati harga sebesar 40 rupiah. Kami menganggap angkot sudah kami carter.</p>
<p>Menyebalkannya, ketika mengantar kami, angkot ini ternyata juga mengangkut penumpang sepanjang jalan! Kurang asem! Merasa tertipu, kami memutuskan untuk membayar ongkos layaknya kami naik angkot dengan tarif biasa.</p>
<p>Ketika kami sampai di penginapan dan membayar ongkos sebesar 20 ribu (untuk 4 orang), si sopir angkot tidak terima. Dia memaksa kami untuk membayar harga 40 ribu. Kok nyimut!!</p>
<p>Bahkan ketika kamu cuekin tu angkot, si sopir mengejar kami dan keributan terjadi. Kami berkeras bahwa itu sopir angkot menyalahi kesepakatan, wong sudah dicarter kok masih mengangkut penumpang. Sopir angkot ngehe itu berkilah, &#8220;kalo emang nggak mau ngangkut penumpang lain, bilang, dong&#8221;. Ini sopir angkot emang ngeselin.</p>
<p>Akhirnya satpam penginapan datang menengahi kami. Kami menjelaskan duduk persoalan, dan debat masih terjadi. Kami tetep tidak mau membayar ongkos sesuai kesepakatan karena si sopir angkot sejak awal sudah tidak jujur.</p>
<p>Karena capek dan malas berdebat lagi, kami mengancam bahwa kami bisa menulis di media (salah seorang di antara kami memang wartawan sebuah koran nasional) dan membuat lokasi wisata ini sepi, karena ulah penduduknya sendiri. Satpam yang tentunya membela tamu penginapan akhirnya memutuskan kami yang menang. Ya memang seharusnya begitu.</p>
<p>Sumpah asli Ciwidey dingin sekali. Setelah masuk penginapan yang nyaman, kami enggan keluar. Bahkan untuk sekedar mencari makan. Untungnya lokasi penginapan kami terdapat restoran, sehingga kami tidak harus bersusah-susah mencari warung, tinggal ngesot ke depan.</p>
<p>Walau kami kehabisan menu, karena kami datang ke restoran cukup malam, sekitar jam 9, kami cukup beruntung. Suasana yang sunyi tentu menyulitkan menemukan tempat makan lainnya. Mana ada penjual pecel lele kaki lima di tempat ini?</p>
<p>Pagi-pagi kami segera nyegat angkot di depan penginapan. Ndak berbeda dengan angkot semalam, sopir angkot kami yang masih remaja menawarkan jasa menyewakan angkotnya, karena dari gerbang untuk sampai ke kawah masih cukup jauh. Tentu kami menolak dan meminta untuk turun di depan gerbang obyek wisata Kawah Putih.</p>
<p>Setiba di depan gerbang kami dipungut biaya resmi retribusi sebesar 12 ribu per orang. Awalnya kami hendak naik ontang-anting, kendaraan khas obyek wisata ini berupa mobil pickup yang dimodifikasi sedemikian rupa hingga mampu memuat 12 orang, urung karena lagi-lagi kami agak sedikit dipaksa untuk menyewa. Biaya sewa 100 ribu per orang. Cih!</p>
<p>Kalo dihitung-hitung oleh kami berempat, per orang membayar 25 ribu. Padahal seharusnya ontang-anting itu beroperasi layaknya angkot, mengantar penumpang dari gerbang ke kawah dengan biaya yang cukup murah. Tapi lagi-lagi sopir angkot nggak mau rugi. Mungkin karena sepi pengunjung yang menggunakan jasa mereka, karena rata-rata wisatawan di sini menggunakan kendaraan pribadi.</p>
<p>Kami pun memutuskan naik ojek saja. Tukang ojek awalnya memasang harga 25 ribu untuk diantar PP, dan kami menawar 20 ribu. Sebenernya bila kami lebih gigih lagi, kami bisa dapat harga 15 ribu. Tapi ya sudah lah, kami  udah malas berurusan dengan mobil, takutnya kejadian &#8220;angkot&#8221; semalam kembali terulang.</p>
<p>Sekitar 10 menit kami diantar menuju kawah. Walau medannya gak seganas ketika mencapai <a href="http://jengjeng.matriphe.com/jeng-jeng-garut.html" title="Jeng-Jeng Garut">Kawah Papandayan, Garut</a>, namun jalan yang kami lalui cukup mendebarkan.</p>
<p>Di sekitar kawah, banyak terdapat rambu peringatan untuk tidak berlama-lama di seputar kawah. Kandungan belerangnya yang sangat kuat memang bisa mengganggu kesehatan bila berlama-lama menghirup gasnya. Belum lagi bau belerang yang busuk.</p>
<p><img src="http://jengjeng.matriphe.com/wp-content/uploads/2010/01/kawah-putih.jpg" alt="Kawah Putih" title="Kawah Putih" width="350" height="263" class="alignnone size-full wp-image-1439" /></p>
<p>Kawah Putih merupakan salah satu dari dua kawah yang ada di Gunung Patuha. Kawah yang satunya adalah Kawah Saat (kata &#8220;saat&#8221; berarti &#8220;surut&#8221; dalam bahasa Sunda). Kedua kawah ini diperkirakan terbentuk pada abad ke-10 atau 12.</p>
<p>Kawah Putih terletak pada ketinggian 2.343 meter dpl sedangkan Kawah Saat terletak pada ketinggian 2.194 meter dpl.</p>
<p>Berawal pada tahun 1837, seorang peneliti botanis Belanda kelahiran Jerman, Dr. Franz Wilhelm Junghuhn, menemukan kawah ini ketika melakukan ekspedisi.</p>
<p>Karena kandungan belerangnya yang sangat tinggi, bahkan burung pun tak ada yang melintas di atas kawah ini, zaman pemerintahan Belanda, sempat dibangun pabrik belerang dengan nama <em>Zwavel Ontgining Kawah Putih</em> di kawasan ini. Pada masa pendudukan Jepang, pabrik ini kemudian diberi nama <em>Kawah Putih Kenzanka Gokoya Ciwidey</em>.</p>
<p>Pada tahun 1987 PT Perhutani (Persero) Unit III Jabar dan Banten mengembangkan kawasan Kawah Putih ini menjadi kawasan obyek wisata.</p>
<p>Keunikan Kawah Putih terletak pada warna air di danau kawahnya. Warna air danau ini dapat berubah warna, kadangkala berwarna hijau apel kebiru-biruan bila siang hari dan cuaca terang, terkadang pula berwarna coklat susu, namun paling sering terlihat airnya berwarna putih disertai kabut asap tebal di atas permukaan kawah. Oleh karena itu kawah tersebut dinamakan Kawah Putih.</p>
<p>Di salah satu sisi tebing, terdapat goa kecil yang &#8220;disegel&#8221; dengan kayu bertuliskan &#8220;jangan mendekat&#8221;. Begitu lewat di depan goa ini, bau belerang yang menyengat begitu kuat dapat tercium hebat. Konon ini sisa-sisa pabrik belerang yang ada di sini.</p>
<p><img src="http://jengjeng.matriphe.com/wp-content/uploads/2010/01/goa-belerang.jpg" alt="Goa belerang Kawah Putih" title="Goa belerang Kawah Putih" width="350" height="263" class="alignnone size-full wp-image-1440" /></p>
<p>Cerita legenda pun rupanya juga menyelimuti kawasan ini. Konon di sekitar kawah ini terdapat beberapa makam keramat, antara lain makam Eyang Jaga Satru, Eyang Rongga Sadena, Eyang Camat, Eyang Ngabai, Eyang Barabak, Eyang Baskom, dan Eyang Jambrong.</p>
<p>Salah satu puncak Gunung Patuha yaitu Puncak Kapuk, konon merupakan tempat pertemuan para penunggu yang dipimpin oleh Eyang Jaga Satru. Konon, di tempat ini terkadang secara ghaib terlihat sekumpulan domba berbulu putih yang oleh masyarakat sekitar disebut <em>domba lukutan</em>.</p>
<p>Saya menemukan sebuah jalan setapak yang sepi menyusuri salah satu bibir danau. Dugaan saya, jalan setapak ini menuju ke makam yang dikeramatkan ini.</p>
<p>Kami pun tak mau berlama-lama. Selain hari makin siang, orang mulai ramai berdatangan, juga perut udah mual dan mata mulai pedih akibat terlalu lama menghirup bau belerang, kami pun meninggalkan kawah.</p>
<p>Fasilitas di kawasan ini bisa dibilang cukup bagus. Toilet bersih, mushola lumayan, plus banyak penjaja makanan yang bisa menjadi andalan untuk mengganjal perut yang keroncongan.</p>
<p>Salah satu makanan yang layak dicoba adalah Sate Strawberry Coklat. terdiri dari beberapa biji strawberry gemuk yang ditusuk-tusuk kemudian dilumuri coklat beraneka warna dan rasa. Harganya 10 ribu dapat 3 tusuk sate.</p>
<p><img src="http://jengjeng.matriphe.com/wp-content/uploads/2010/01/sate-strawberry.jpg" alt="Sate Strawberry" title="Sate Strawberry" width="350" height="263" class="alignnone size-full wp-image-1441" /></p>
<p>Kami kembali ke penginapan dan kemudian check-out. Masalah kembali datang. Karena mengandalkan stiker bertulis VISA, BCA, dan Mandiri Debet yang tertempel di depan ruang resepsionis, kami pun nyantai ketika harus membayar biaya kamar.</p>
<p>Sial! Rupanya saluran telepon hotel bermasalah sehingga pembayaran menggunakan berbagai jenis macam kartu tidak dapat dilakukan. Padahal uang cash kami sudah habis dan hanya cukup untuk ongkos pulang. Walau sudah menguras semua kantong, duit terkumpul masih kurang 400 rebu. Terpaksa saya turun ke bawah naik angkot untuk mencari ATM.</p>
<p>Mampus. Rupanya ATM sangat susah ditemui. Akhirnya saya mampir di Alfamart di daerah deket-deket &#8220;kota&#8221; Ciwidey yang ada tulisan &#8220;TUNAI BCA&#8221;-nya. Alhamdulillah! Kami pun bisa check-out!</p>
<p>Pelajaran yang bisa dipetik: bawa uang cash yang cukup banyak bila Anda bepergian ke lokasi pelosok. Segala macam kartu sakti tidak akan berfungsi di daerah macam ini.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://jengjeng.matriphe.com/jeng-jeng-ciwidey.html/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>36</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Jeng-Jeng Garut</title>
		<link>http://jengjeng.matriphe.com/jeng-jeng-garut.html</link>
		<comments>http://jengjeng.matriphe.com/jeng-jeng-garut.html#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 10 Nov 2009 08:43:47 +0000</pubDate>
		<dc:creator>matriphe</dc:creator>
				<category><![CDATA[Travelogue]]></category>
		<category><![CDATA[air panas]]></category>
		<category><![CDATA[candi]]></category>
		<category><![CDATA[Garut]]></category>
		<category><![CDATA[gunung]]></category>
		<category><![CDATA[kawah]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://jengjeng.matriphe.com/?p=1416</guid>
		<description><![CDATA[Sejak zaman VOC, Garut sudah terkenal dengan keindahan alamnya. Pada tahun 1910, Officieel Touristen Bureau, Weltevreden (Dinas Pariwisata VOC di Weltevreden, Batavia) menyebut Garut sebagai Paradijs van het Oosten (surga dari timur). Namun sayang, potensi ini kurang tergarap dengan baik. Garut memiliki banyak potensi wisata, karena lokasinya yang dikelilingi oleh rangkaian gunung berapi aktif seperti [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><img src="http://jengjeng.matriphe.com/wp-content/uploads/2009/11/jengjeng-garut.jpg" alt="Jeng-jeng Garut" title="Jeng-jeng Garut" width="350" height="263" class="alignnone size-full wp-image-1415" /></p>
<p>Sejak zaman VOC, Garut sudah terkenal dengan keindahan alamnya. Pada tahun 1910, <em>Officieel Touristen Bureau, Weltevreden</em> (Dinas Pariwisata VOC di Weltevreden, Batavia) menyebut Garut sebagai <em>Paradijs van het Oosten</em> (surga dari timur). Namun sayang, potensi ini kurang tergarap dengan baik.</p>
<p><span id="more-1416"></span>Garut memiliki banyak potensi wisata, karena lokasinya yang dikelilingi oleh rangkaian gunung berapi aktif seperti Gunung Guntur, Gunung Haruman, dan Gunung Kamojang di sebelah barat, Gunung Papandayan dan Gunung Cikuray di sebelah selatan/tenggara, Gunung Talagabodas dan Gunung Galunggung di sebelah timur. Di sebelah selatan, terdapat garis pantai sepanjang 80 Km.</p>
<p>Saya mendatangi kota yang terkenal akan dodol dan dombanya ini. Seperti biasa, perjalan direncanakan sehari sebelum keberangkatan. Bahkan itinerary belum sempurna dibuat karena buta sama sekali dengan obyek wisata dan sistem transportasinya. Kami nekad berangkat dan bermodal &#8220;nanti di sana tanya-tanya saja soal transportasi dan akomodasinya&#8221;.</p>
<p>Untuk menuju kota ini sangat gampang karena banyaknya transportasi bus AKAP dari Jakarta maupun Bandung. Salah satunya dari Terminal Lebak Bulus menggunakan bus Primajasa dengan tarif 35 ribu rupiah. Perjalanan memakan waktu sekitar 4 jam dan berakhir di Terminal Guntur, Garut Kota.</p>
<p>Setelah beristirahat di sebuah masjid tak jauh dari terminal, kami bertanya ke penduduk yang kebetulan sedang akan melaksanakan ibadah sholat dhuhur. Calo-calo di terminal yang menawarkan trayek angkutan memang sedikit menyebalkan, maka kami memilih untuk menyingkir dari sana dan mencari petunjuk dari &#8220;pihak ketiga&#8221;.</p>
<p>Penginapan rupanya banyak ditemukan di daerah Cipanas. Di daerah Garut kota malah kesulitan. Ketika kami menghubungi 108 (terlebih dulu memberikan kode kota 0262 sebelum nomor 108) untuk bertanya penginapan, rupanya Telkom ndak memiliki database yang lengkap. Beberapa nomor yang diberikan pihak Telkom malah gagal tersambung.</p>
<p>Kami pun akhirnya mendapat kamar di Hotel Augusta (0262-238250), sebuah hotel bintang 2 yang terletak di Jalan Raya Cipanas dengan tarif sekitar 150-450 ribu per malam (tergantung tipe kamar dan wiken atau tidak).</p>
<p>Menuju Cipanas dari terminal Guntur bisa dilalui dengan angkot bernomor 04 jurusan Terminal Guntur-Cipanas berwarna coklat muda. Atau kalo naik bis, turun sebelum masuk terminal Guntur, tepatnya di Jalan Otista (Otto Iskandar Dinata) pertigaan Cipanas (Jl. Panday) sebelum simpang Tarogong, kemudian naik angkot 04 ke arah Cipanas.</p>
<p>Setelah meletakkan tas dan beristirahat sejenak di penginapan, kami melanjutkan perjalanan menuju Situ Cangkuang. Dengan menggunakan angkot nomor 10 berwarna hijau/abu-abu jurusan Leles, kami turun di alun-alun Leles, kemudian naik sejenis dokar di mana orang setempat menyebutnya <em>Kretek</em>. Tarif naik Kretek ini per orang sekitar 5 ribu rupiah.</p>
<p><img src="http://jengjeng.matriphe.com/wp-content/uploads/2009/11/dokar-kretek.jpg" alt="Dokar &quot;Kretek&quot;" title="Dokar &quot;Kretek&quot;" width="350" height="263" class="alignnone size-full wp-image-1417" /></p>
<p>Pemandangan menuju situ didominasi oleh sawah. Di utara kita akan melihat siluet Gunung Haruman, di sebelah barat akan nampak Gunung Mandalawangi dan Gunung Guntur.</p>
<p>Kontur naik dan turun membuat kusir kami harus mengendalikan kuda sesuai dengan perintahnya. Ketika jalan menanjak, kusir akan menghentakkan tali dan kuda pun akan berlari kencang, dan sebaliknya ketika jalan menurun, laju kuda diperlambat. &#8220;Supaya kuda tidak keseleo karena berlari kencang di jalan menurun&#8221;, ucap sang kusir. Untuk memperlambat, tali kekang agak ditarik dan kusir mengeluarkan semacam bunyi yang memberi isyarat agar kuda memperlambat jalan atau berhenti.</p>
<p>Kretek sendiri cuma bisa ditumpangi oleh maksimal 4 penumpang dengan 2 tempat duduk menyamping di belakang tempat duduk kusir. Sepanjang jalan badan kami terguncang-guncang, sehingga bila tidak berpegangan, kita bisa terlempar keluar.</p>
<p>Masuk ke kawasan Situ Cangkuang, kami dipungut biaya 2 ribu rupiah per orang. Untuk menyeberang ke Pualu Ageung di tengah situ, kami naik semacam rakit sepanjang sekitar 20 meter. Tarif &#8220;resminya&#8221; sih 2 ribu rupiah per orang, tapi si pengemudi rakit mematok harga &#8220;borongan&#8221; seenaknya. Setelah negosiasi, disepakati tarifnya jadi 5 ribu per orang bolak-balik.</p>
<p><img src="http://jengjeng.matriphe.com/wp-content/uploads/2009/11/situ-cangkuang.jpg" alt="Rakit penyeberangan di Situ Cangkuang" title="Rakit penyeberangan di Situ Cangkuang" width="350" height="263" class="alignnone size-full wp-image-1418" /></p>
<p>Rakit digerakkan dengan menggunakan sebilah bambu yang ditancapkan ke dasar situ, kemudian si &#8220;nakhoda&#8221; akan berjalan di sepanjang rakit dengan bertumpu pada bambu tadi untuk mendorong rakit. Di tengah-tengah situ, terdapat banyak nelayan yang menjala dan memancing ikan.</p>
<p>Situ Cangkuang dulu mempunyai luas sekitar 25 hektar, namun karena proses sedimentasi, luasnya menyusut hingga menjadi sekitar 15 hektar saja. Di tengah situ terdapat Pulau Ageung dan Pulau Alit, yang karena sedimentasi pula, kedua pulau ini akhirnya &#8220;menyatu&#8221;.</p>
<p>Dinamakan Cangkuang karena dulu di daerah ini terdapat banyak pohon cangkuang (<em>Pandanus furcatus</em>) semacam pandan yang dimanfaatkan warga untuk anyam-anyaman. Air situ berasal dari sebuah mata air yang kemudian dibendung oleh Embah Dalem Arif Muhammad, seorang tokoh dari Mataram yang menjadi awal mula keberadaan tempat ini.</p>
<p>Di tengah Pulau Ageung, terdapat candi Hindu yang bernama Candi Cangkuang. Tak jauh dari kompleks candi, terdapat makam Embah Dalem Arif Muhammad dan kampung adat Kampung Pulo (pulau).</p>
<p><img src="http://jengjeng.matriphe.com/wp-content/uploads/2009/11/candi-cangkuang.jpg" alt="Candi Cangkuang" title="Candi Cangkuang" width="350" height="263" class="alignnone size-full wp-image-1419" /></p>
<p>Candi Cangkuang yang diperkirakan dibangun pada abad ke-8 ini seolah-olah menjadi saksi akulturasi kebudayaan dan agama yang dialami desa ini. Konon dulu penghuni Desa Cangkuang beragama Hindu (dibuktikan dengan berdirinya candi Hindu), kemudian Arif Muhammad datang ke desa ini dan menyebarkan agama Islam. </p>
<p>Kampung Pulo yang terletak tak jauh dari candi juga memiliki keunikan tersendiri. Di kampung ini cuma terdiri atas 6 rumah adat yang dihuni oleh 6 kepala keluarga dan sebuah masjid di tengah-tengah gang. Jumlah dari rumah tersebut tidak boleh ditambah atau dikurangi, begitu juga dengan keluarga yang mendiami di rumah tersebut tidak boleh lebih dari 6 kepala keluarga. Penduduk kampung ini dipercaya merupakan keturunan dari Embah Dalem Arif Muhammad.</p>
<p>Keunikan lain, meski penduduk Kampung Pulo memeluk agama Islam, namun beberapa ritual agama Hindu masih dilakukan. Selain itu, ada larangan bagi penduduk Kampung Pulo memelihara ternak berkaki empat seperti sapi, kambing, dan sebagainya.</p>
<p>Semua rumahnya pun memiliki pola yang unik, memanjang dari timur ke barat (jolopong). Beberapa rumah bahkan atapnya masih menggunakan atap ijuk.</p>
<p><img src="http://jengjeng.matriphe.com/wp-content/uploads/2009/11/rumah-adat-kampung-pulo.jpg" alt="Rumah adat Kampung Pulo" title="Rumah adat Kampung Pulo" width="350" height="263" class="alignnone size-full wp-image-1420" /></p>
<p>Informasi soal Candi Cangkuang juga bisa dibaca di <a href="http://wijna.web.id/260-Candi-Cangkuang.html" title="Candi Cangkuang" target="_blank">blognya Wijna</a>.</p>
<p>Malamnya kami mencari makan di sekitaran Simpang Lima Garut. Informasi ini kami dapatkan dari sopir angkot yang kami tumpangi. Secara umum, Kota Garut itu sepi sekali.</p>
<p>Sejak menginjakkan kaki di Garut, saya mengamati jarang sekali terlihat pemuda berusia belasan. Dugaan saya, pemuda-pemuda berusia produktif ini kebanyakan merantau ke luar Garut seperti Jakarta atau Bandung, entah untuk sekolah atau bekerja.</p>
<p>Kami makan di Simlim, semacam foodcourt kecil-kecilan di pinggir jalan. Banyak menu yang ditawarkan, namun saya memesan Mie Kocok, karena penasaran dengan bentuknya. Selain dodol, sepertinya Garut ndak mempunyai kuliner khas yang bisa dicoba.</p>
<p>Mie Kocok sendiri sangat sederhana, terdiri dari mie kuning, kecambah mentah (yak, saya kurang suka dengan kecambah yang dicampur dengan mie), kemudian ditabur potongan kikil sapi. Kuahnya pun standar banget, kuah kaldu tanpa bumbu yang berarti.</p>
<p><img src="http://jengjeng.matriphe.com/wp-content/uploads/2009/11/mie-kocok.jpg" alt="Mie Kocok Garut" title="Mie Kocok Garut" width="350" height="263" class="alignnone size-full wp-image-1421" /></p>
<p>Disebut mie kocok karena mie dimasak dengan dimasukkan ke dalam semacam sendok khusus, kemudian dicelup-celupkan ke dalam air mendidih. Proses memasak mie kayak gini mengingatkan saya akan Mie Ongklok dari Wonosobo.</p>
<p>Pagi-pagi benar kami bersiap menuju ke Kawah Papandayan. Dengan menumpang angkot 04 kemudian disambung dengan Elf (minibus). Untuk menuju ke Kawah Papandayan juga bisa langsung dicapai dengan menggunakan Elf jurusan Cikajang dari Terminal Guntur.</p>
<p>Kami turun di pintu gerbang obyek wisata di daerah Cisurupan. Ongkos Elf sekitar 5 ribu rupiah. Begitu turun, kami langsung disambut dengan tawaran tukang ojek. Menuju ke kawah memang bisa ditempun dengan menggunakan ojek, ndak perlu susah-susah mendaki. He he he.</p>
<p>Setelah tawar menawar, disepakati harga 15 ribu untuk naik dan 15 ribu rupiah lagi untuk turun. Jalan menuju kawah beraspal namun sedikit rusak di sana-sini. Motor mio yang saya tumpangi mengerang-erang ketika melahap tanjakan yang cukup curam.</p>
<p>Sekitar 10 menit, kami sampai di pos untuk melapor. Di sini dikenakan biaya per orang 2 ribu rupiah plus sumbangan sukarela. Bila ingin menyewa pemandu, ongkosnya 50 ribu per jam.</p>
<p>Karena jalur lama tertutup longsoran akibat letusan pada tahun 2002 dan si pemandu menjanjikan track yang ndak biasa, kami pun sepakat menggunakan pemandu, juga untuk menggali informasi.</p>
<p>Kawah Papandayan sebenernya sebuah kaldera dengan bentangan mencapai 3 Km. Gunung ini masih aktif sehingga asap-asap yang muncul dari beberapa kawahnya merupakan tanda-tanda aktivitasnya. Pengunjung harus berhati-hati karena ada beberapa kandungan gas yang cukup berbahaya, antara lain gas belerang (yang baunya busuk banget).</p>
<p><img src="http://jengjeng.matriphe.com/wp-content/uploads/2009/11/kawah-papandayan.jpg" alt="Kawah Papandayan" title="Kawah Papandayan" width="350" height="263" class="alignnone size-full wp-image-1422" /></p>
<p>Kami melewati rute yang berbeda seperti yang dijanjikan pemandu. Kami mendaki dulu ke atas, menuju ke bibir kaldera sehingga pemandangannya pun lebih menakjubkan. Tepat di salah satu puncak di bibir kaldera, saya melihat seismograf yang dipasang untuk memantau aktivitas kegempaan kawah ini.</p>
<p>Dari atas sini pula, saya lebih leluasa melihat Kawah Baru, yang merupakan hasil letusan pada tahun 2002. Letusan ini juga mengakibatkan longsorannya menutupi Kawah Nagrak dan akses jalan aspal yang menuju kawah ini.</p>
<p>Puas menikmati pemandangan, kami memutuskan untuk turun dan menuju ke obyek wisata Cipanas untuk berendam air panas sebelum kembali ke Jakarta.</p>
<p>Begitu turun dari ojek dan hendak menunggu Elf, kami sempat bersitegang dengan sopir angkot yang memaksa-maksa kami naik ke angkotnya. Naik angkot dari Cisurupan menuju Garut tentu akan dipatok dengan harga sangat mahal. Tukang ojek yang rese juga seolah-olah menyuruh kami untuk masuk ke angkotnya.</p>
<p>Untung sebuah Elf lewat dan kami segera naik ke dalam meski si kenek Elf sempat diintimidasi oleh si sopir angkot, untungnya tidak terjadi masalah berarti.</p>
<p>Dari Elf, kami turun di persimpangan Tarogong untuk kemudian naik angkot 04 favorit kami. Kami memilih mandi air panas di <a href="http://www.tirtagangga-hotel.com/" title="Hotel Tirtagangga" target="_blank">Hotel Tirtagangga</a> dengan tarif 25 ribu rupiah per orang karena dengan alasan kenyamanan.</p>
<p>Di Hotel Tirtagangga, terdapat 2 kolam air panas dengan suhu yang berbeda plus sebuah shower air panas.</p>
<p><img src="http://jengjeng.matriphe.com/wp-content/uploads/2009/11/kolam-air-panas.jpg" alt="Kolam air panas Hotel Tirtagangga" title="Kolam air panas Hotel Tirtagangga" width="350" height="263" class="alignnone size-full wp-image-1423" /></p>
<p>Di kawasan pemandian air panas Cipanas, memang banyak terdapat pemandian umum, namun kondisinya sangat memprihatinkan. Beberapa penginapan, terutama penginapan berbintang, biasanya mempunyai fasilitas kolam air panas tersendiri.</p>
<p>Air panas di kawasan ini berasal dari 4 sumber mata air panas yang merupakan hasil aktivitas dari Gunung Guntur. Air panas dari Gunung Guntur konon merupakan air panas alami terjernih, dengan kandungan belerang cukup rendah, bersuhu hingga mencapai suhu 49&deg; ini baik untuk terapi penyakit kulit atau penyakit lainnya.</p>
<p>Sejak dulu, Cipanas memang terkenal dan menjadi favorit para pejabat VOC di Batavia. Konon komedian film bisu Charlie Caplin pun pernah singgah di kawasan ini.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://jengjeng.matriphe.com/jeng-jeng-garut.html/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>38</slash:comments>
		</item>
	</channel>
</rss>

