Meskipun sekarang jamannya serba digital, rupanya metode memperkenalkan diri menggunakan kartu nama masih ditemui. Terbukti pada event WordCamp dan FreSh kemarin, peserta banyak yang membawa kartu nama untuk ditukarkan atau sekedar diundi untuk mendapatkan door-prize. Begitu pun dengan bloger. Selain giat menyebar link, trackback, komentar, bloger juga bisa melebarkan sayap publikasinya dengan menyebarkannya lewat kartu nama. Tujuannya tentu tak lain dan tak bukan adalah untuk menjaring mereka yang kurang akrab dengan media blog.
Beberapa waktu yang lalu saya mendapatkan kiriman kaos dari YogYes. Kalo dihitung-hitung, ada 3 kali saya dapet kaos dari YogYes, termasuk yang sekarang. Kaos-kaos berdesain keren namun nJogja ini bener-bener berguna untuk mengobati kerinduan saya akan Jogja sekaligus mempromosikan pariwisata Jogja. .
Beberapa waktu lalu saya mendapat email yang beredar melalui milis soal keawetan donat. Intinya sih menyebutkan merk salah satu donat yang rupanya bisa awet hingga beberapa bulan. Pada awalnya saya menyimpulkan bahwa donat yang umumnya menggunakan merk "luar negeri" itu menggunakan pengawet. Namun ternyata saya salah. :-.
Dalam beberapa postingan, saya sering menyebutkan istilah "ndoyok". Pun banyak juga yang bertanya tentang arti kata "ndoyok" itu tadi. Ndoyok sering disebut bersamaan dengan jeng-jeng. Walau artinya mirip-mirip, namun ada perbedaannya. Kata "ndoyok" bukan merupakan salah satu kata gaul ala Jogja.
Menutup tahun 2007 dengan kopdar, menjadi catatan tersendiri buat saya. Bayangkan, menjelang akhir tahun, banyak agenda kopdar datang menghajar bertubi-tubi. Bagi sebagian blogger, kopdar menjadi ritual yang mengasyikkan. Bahkan boleh dikata, kopdar menjadi salah satu Rukun Blogger setelah punya blog, posting, dan blogwalking. Nah, mungkin banyak temen-temen yang ndak sempet ikutan kopdar atau mau mbikin kopdar sendiri yang ndak kalah gegap gempitanya, saya akan berbagi pengalaman tentang bagaimana membuat kopdar yang sukses.
Pernah denger slogan "Ultimate in Diversity". Basbang. Mungkin. Tapi kalo belum, berarti kita kudu tos dulu. :drunk Sudah lama saya ndak ngangsu pengalaman dari temen-temen Jalansutra.
Setelah wisuda lalu foto-foto. Itu sih udah pasti. Tapi di Jogja, ada beberapa ritual unik yang sering dilakukan setelah wisuda. Ritual-ritual yang entah kapan mulainya dan dari mana asalnya ini seakan-akan hal yang wajar mengingat status Yogyakarta sebagai kota pelajar. Ritual-ritual ini seakan-akan menjadi wujud ekspresi gembira kelulusan dan kecintaan para lulusan baru yang akan meninggalkan Jogja, yang mungkin sangat dicintainya dan memberikan kenangan tersendiri.
Kali ini kita jeng-jeng ke yang serius-serius. Kita akan jeng-jeng ke kantor SAMSAT. La ngapain. Berhubung sepeda motor adalah sarana transportasi yang mendukung aktivitas per-jeng-jeng-an saya, maka sebagai warga negara yang baik, tertib administrasi merupakan sesuatu yang harus dipatuhi. Kebetulan, beberapa hari ke depan STNK sepeda motor tunggangan saya akan habis masa berlakunya, maka saya pun mengajukan perpanjangan STNK.