<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>jengjeng matriphe! &#187; Jakarta</title>
	<atom:link href="http://jengjeng.matriphe.com/tag/jakarta/feed" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://jengjeng.matriphe.com</link>
	<description>pengen jalan-jalan, makan-makan, dan lain-lain</description>
	<lastBuildDate>Tue, 02 Aug 2011 11:41:49 +0000</lastBuildDate>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<generator>http://wordpress.org/?v=3.2.1</generator>
	<atom:link rel='hub' href='http://jengjeng.matriphe.com/?pushpress=hub'/>
		<item>
		<title>Jeng-Jeng Pulau Kelapa-Pulau Harapan, Kepulauan Seribu</title>
		<link>http://jengjeng.matriphe.com/jeng-jeng-pulau-kelapa-pulau-harapan-kepulauan-seribu.html</link>
		<comments>http://jengjeng.matriphe.com/jeng-jeng-pulau-kelapa-pulau-harapan-kepulauan-seribu.html#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 02 Jun 2010 05:09:02 +0000</pubDate>
		<dc:creator>matriphe</dc:creator>
				<category><![CDATA[Pulau, Laut, Pantai]]></category>
		<category><![CDATA[Travelogue]]></category>
		<category><![CDATA[Jakarta]]></category>
		<category><![CDATA[Kepulauan Seribu]]></category>
		<category><![CDATA[Kepulauan Seribu Utara]]></category>
		<category><![CDATA[Pulau Bira Kecil]]></category>
		<category><![CDATA[Pulau Harapan]]></category>
		<category><![CDATA[Pulau Kayu Angin]]></category>
		<category><![CDATA[Pulau Kelapa]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://jengjeng.matriphe.com/?p=1495</guid>
		<description><![CDATA[Kepulauan Seribu masih punya banyak pesona. Meski hanya berjumlah 342 buah pulau, rasanya masih ada saja hal unik dan menarik yang bisa ditemukan di sana. Kali ini saya mengunjungi Pulau Kelapa dan Pulau Harapan, di gugus utara Kepulauan Seribu. Pulau Kelapa? Ya, itu lah nama pulau yang konon bisa merayu, seperti dalam lagu ciptaan Ismail [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><img src="http://jengjeng.matriphe.com/wp-content/uploads/2010/04/selamat-datang.jpg" alt="Dermaga Pulau Harapan" width="350" height="263" class="alignnone size-full wp-image-1504" /></p>
<p>Kepulauan Seribu masih punya banyak pesona. Meski hanya berjumlah 342 buah pulau, rasanya masih ada saja hal unik dan menarik yang bisa ditemukan di sana.</p>
<p>Kali ini saya mengunjungi Pulau Kelapa dan Pulau Harapan, di gugus utara Kepulauan Seribu. Pulau Kelapa? Ya, itu lah nama pulau yang konon bisa merayu, seperti dalam lagu ciptaan Ismail Marzuki, &#8220;Rayuan Pulau Kelapa&#8221;, yang menjadi lagu nasional itu.</p>
<p>Walau dalam lirik lagu &#8220;<a href="http://www.youtube.com/watch?v=doKGDdW0r1Q" title="Rayuan Pulau Kelapa: Indonesia " target="_blank">Rayuan Pulau Kelapa</a>&#8221; berisi puji-pujian dan gambaran indahnya Indonesia, rupanya keadaan Pulau Kelapa tidak sepenuhnya sesuai dengan lirik lagu. Dalam pandangan umum saya, pulau ini terlihat lebih gersang daripada <a href="http://jengjeng.matriphe.com/jeng-jeng-pulau-pramuka-kepulauan-seribu.html" title="Jeng-Jeng Pulau Pramuka, Kepulauan Seribu">Pulau Pramuka</a> atau <a href="http://jengjeng.matriphe.com/jeng-jeng-pulau-tidung-kepulauan-seribu.html" title="Jeng-Jeng Pulau Tidung, Kepulauan Seribu">Pulau Tidung</a>.</p>
<p><span id="more-1495"></span>Tiba di dermaga Pulau Kelapa yang lautnya berwarna tosca, kami disambut oleh jajaran tukang becak yang menawarkan jasanya. Panas begitu terik, namun tak menyurutkan semangat kami ketika menginjakkan kaki setelah menempuh perjalanan cukup panjang, kurang lebih tiga setengah jam duduk terpanggang matahari di atas atap kapal motor yang berangkat dari dermaga Muara Baru, Muara Angke jam 7:30 pagi.</p>
<p>Dengan sopan kami menolak tawaran becak-becak tersebut dan memilih mampir di sebuah warung makan di ujung dermaga. Selain untuk mengisi perut, kami juga ingin mengorek informasi penginapan dari pemilik warung di pulau ini, karena memang lagi-lagi kami berangkat dengan nekat, tanpa rencana atau tujuan, pokoknya segera angkat pantat dari sumpeknya Jakarta.</p>
<p>La gimana tidak, kami cuma bermodal nanya ke tukang kapal, &#8220;Bang, ini kapal berangkat ke mana?&#8221;. Begitu mendengar mo ke Pulau Kelapa, kami pun langsung naik tanpa pikir panjang.</p>
<p>Saya menduga <a href="http://matriphe.posterous.com/becak-di-jakarta" title="Becak di Jakarta?" target="_blank">becak-becak</a> ini berasal dari Jakarta, yang dilarang beroperasi di Jakarta pada tahun 1994. Becak-becak itu sebagian besar ditenggelamkan di laut Jawa, namun sebagian yang tidak ditenggelamkan diangkut ke sini.</p>
<p>Dari keterangan pemilik warung, yang menunya sangat-sangat sederhana, yaitu hidangan ikan laut, kami mendapat keterangan untuk menginap dengan menyewa sebuah rumah milik Pak Haji Asmawi (08176662315) yang berada di Pulau Harapan.</p>
<p>Awalnya kami bingung ketika disarankan untuk naik becak atau berjalan kaki saja ke Pulau Harapan, karena kami kira kami harus menyeberang pulau menggunakan kapal. Ternyata ada sebuah jalan berpaving block yang sangat bagus yang menghubungkan kedua pulau, yang dibangun di atas karang yang telah direklamasi dengan menimbun batu-batu beton di atas karang.</p>
<p><img src="http://jengjeng.matriphe.com/wp-content/uploads/2010/05/deretan-becak.jpg" alt="Deretan becak di dermaga Pulau Kelapa" title="Deretan becak di dermaga Pulau Kelapa" width="350" height="263" class="alignnone size-full wp-image-1505" /></p>
<p>Hanya 10 menit dari dermaga Pulau Kelapa, kami sampai di gerbang Kelurahan Pulau Harapan, yang bersama dengan Pulau Kelapa masuk ke dalam wilayah Kecamatan Kepulauan Seribu Utara, Kab. Administratif Kepulauan Seribu, DKI Jakarta.</p>
<p>Di beberapa sudut pulau, saya mendengar dialek bahasa Bugis. Unik, karena meski masuk dalam wilayah DKI Jakarta, justru suku Bugis yang sejak dulu terkenal sebagai pelaut ulung, merupakan suku yang dominan mendiami pulau ini setelah suku Jawa dan Betawi.</p>
<p>Yang mengesankan lagi, meski berbeda pulau, penduduk di sini saling mengenal satu sama lain, sehingga ketika kami bertanya rumah Pak H. Asmawi yang akan kami inapi, penduduk sekitar dengan mudah menunjukkannya, bahkan mengantarkan kami.</p>
<p><img src="http://jengjeng.matriphe.com/wp-content/uploads/2010/05/instalasi-air-bersih.jpg" alt="Instalasi pengolahan air tawar di Pulau Kelapa" title="Instalasi pengolahan air tawar di Pulau Kelapa" width="350" height="263" class="alignnone size-full wp-image-1507" /></p>
<p>Kami menyewa sebuah rumah berdinding tembok yang baru selesai dibangun milik Pak Asmawi. Biayanya 250 ribu rupiah semalam dengan fasilitas AC, tempat tidur, televisi, kipas angin, dan sekardus air minum kemasan.</p>
<p>Namun meski ber-AC, listrik hanya nyala pada pukul 4 sore hingga pukul 7 pagi saja. Maklum, seperti di pulau-pulau di gugus utara lainnya, listrik di Pulau Kelapa dan Pulau Harapan berasal dari generator diesel yang menjadi sumber listrik untuk menerangi kedua pulau.</p>
<p>Secara umum sarana dan prasarana di pulau ini sudah lengkap. Sebuah bangunan SD yang kokoh, berdiri megah di Pulau Kelapa. Di SD Negeri Pulau Kelapa 01 Pagi, <a href="http://matriphe.posterous.com/sekolah-gratis" title="Sekolah Gratis?" target="_blank">biaya pendidikannya gratis</a>. Tidak ada pungutan apa pun yang dibebankan kepada siswa. Semua biaya sekolah mulai dari buku hingga seragam, dibebankan ke pemerintah melalui BOS.</p>
<p>Anak-anak cuma perlu baju seragam dan alat tulis, mereka pun bisa mengenyam pendidikan. Dana ini diperoleh dari BOS yang kebetulan ketua komite sekolah yang mewakili wali murid adalah Pak H. Asmawi. &#8220;Pokoknya sekolah tidak boleh memungut uang sepeser pun dari siswa,&#8221; tegas Pak H. Asmawi.</p>
<p>Selain gedung sekolah, terdapat instalasi penyulingan air <a href="http://matriphe.posterous.com/kompensasi-subsidi-bbm-menjadi-air-bersih" title="Kompensasi Subsidi BBM Menjadi Air Bersih" target="_blank">yang dibangun dengan biaya dari dana kompensasi pengurangan subsidi BBM</a>. Air payau yang diambil dari sumur kemudian disuling menjadi air tawar. Air-air ini kemudian dijual dalam jirigen yang dijajakan berkeliling menggunakan gerobak. Satu jirigen harganya 500 rupiah.</p>
<p>Oiya, meski disebut air &#8220;tawar&#8221;, air ini masih sedikit payau dan hanya bisa digunakan untuk keperluan mandi dan mencuci. Untuk minum, penduduk lebih banyak membeli air dalam kemasan.</p>
<p><img src="http://jengjeng.matriphe.com/wp-content/uploads/2010/05/melihat-foto.jpg" alt="Anak-anak antusias melihat foto" title="Anak-anak antusias melihat foto" width="200" height="267" class="alignnone size-full wp-image-1508" /></p>
<p>Tak jauh dari rumah tempat kami menginap, di bagian utara Pulau Harapan yang memanjang dari barat ke timur ini, terdapat sebuah taman dan dermaga yang cukup bagus.</p>
<p>Menurut informasi, dulunya sekitar dermaga ini akan dijadikan taman wisata untuk menarik wisatawan, bahkan dermaganya pun bisa dibilang lebih bagus daripada di Pulau Kelapa. Namun sayang seribu sayang, proyek yang dipegang oleh pemerintah ini pun mandeg, sehingga pembangunan taman yang hampir jadi ini pun terkesan terbengkalai.</p>
<p>Selepas beristirahat sejenak karena cuaca saat itu sangat terik, sore harinya kami jalan-jalan mengelilingi pulau. Setelah berfoto-foto di seputar dermaga Pulau Harapan yang bagus namun sayang tidak dijadikan sebagai dermaga utama, kami menuju ke barat, menuju ke ujung Pulau Kelapa untuk mengejar <em>sunset</em>.</p>
<p>Selama menelusuri jalan-jalan kampung di Pulau Harapan maupun Pulau Kelapa, saya menemukan banyak hal yang menarik, terutama <a href="http://muhammad.zamroni.net/menengok-keseharian-masyarakat-pulau-kelapa-pulau-harapan.html" title="Menengok Keseharian Masyarakat Pulau Kelapa-Pulau Harapan">mengamati kehidupan sehari-hari masyarakatnya</a> hingga <a href="http://matriphe.posterous.com/produk-lokal-unik" title="Produk Lokal Unik" target="_blank">benda-benda, produk, dan makanan lokal yang dijual</a>.</p>
<p>Anak-anak kecil yang bermain riuh di tengah jalan, para pemuda yang bermain sepak bola di lapangan di pinggir pantai, <a href="http://matriphe.posterous.com/cegat-kalo-terpikat" title="Cegat Kalo Terpikat" target="_blank">penjaja berbagai hal</a> yang menggunakan gerobak yang dimodifikasi untuk menjajakan barang dagangannya, penduduk yang membuat bubu (perangkap ikan dari bambu), hingga memperbaiki kapal, menjadi pemandangan menarik yang tak ditemukan di Jakarta.</p>
<p>Sapaan dan sambutan warga pulau ini terasa lebih ramah dari Pulau Pramuka, Pulau Tidung, dan Pulau Panggang. Saya merasa di pulau ini meski lebih gersang, rasanya lebih nyaman. Di malam hari pun, suasana masih cukup ramai bila dibandingkan di Pulau Pramuka atau Pulau Tidung.</p>
<p>Tak terasa kami sampai juga di ujung barat Pulau Kelapa, setelah sebelumnya sempat menerabas kompleks pemakaman kampung yang keliatan angker. Tak terasa, jarak 2 pulau yang masing-masing membentang dari timur ke barat sudah kami lahap tanpa lelah. Sepotong senja yang indah pun kami terima sebagai hadiah.</p>
<p><img src="http://jengjeng.matriphe.com/wp-content/uploads/2010/05/senja.jpg" alt="Sepasang di sepotong senja" title="Sepasang di sepotong senja" width="350" height="263" class="alignnone size-full wp-image-1509" /></p>
<p>Selepas Shubuh, kami sudah bersiap di dermaga Pulau Harapan. Perahu motor yang kami sewa seharga 300 rebu rupiah akan mengantarkan kami berkeliling pulau-pulau di sekitar. Tujuan kami adalah ke Pulau Manggaran yang terletak di sebelah utara. Namun tak ada yang cukup menarik, karena pulau ini hanya berupa hutan dan pohon bakau.</p>
<p>Kami berpindah ke Pulau Bulat, yang menurut penduduk setempat dimiliki oleh Tommy Soeharto. Di Pulau ini terlihat lebih bagus. Sebuah rumah yang cukup mewah, plus fasilitas pendukung, namun terkesan terbengkalai berdiri megah di situ. Sebuah bendungan mini yang digunakan untuk melabuhkan perahu motor dibangun di bibir pantai.</p>
<p>Kami pun memanfaatkan dermaga kayu Pulau Bulat untuk menggelar tikar, dan sarapan nasi uduk yang telah kami pesan di Pulau Harapan. Selesai sarapan, kami pun berenang-renang di dalam bendungan yang sedianya untuk berlabuh kapal tersebut. Tak berapa lama, romobongan diver dari Pulau Putri Resort juga datang ke sekitar pulau ini untuk bersiap menyelam.</p>
<p>Puas bermain air di Pulau Bulat, kami pun berpindah ke Pulau Bira Kecil, atau sering disebut dengan <a href="http://lathifulamri.com/pulau-kayu-angin-dan-pulau-tidung" title="Pulau Kayu Angin dan Pulau Tidung" target="_blank">Pulau Kayu Angin</a>. Pulau mungil ini sering dipakai untuk camping karena pantai berpasir putihnya cukup luas dan landai.</p>
<p><img src="http://jengjeng.matriphe.com/wp-content/uploads/2010/06/menyeberang-laut.jpg" alt="Menyeberang laut menuju ke perahu" title="Menyeberang laut menuju ke perahu" width="350" height="263" class="alignnone size-full wp-image-1512" /></p>
<p>Namun untuk menuju ke sini, perahu tidak bisa merapat karena terhalang karang yang membentang sejauh sekitar 100 meter (karang ini pula yang mencegah ombak besar mencapai pantai, sehingga relatif aman untuk membuka tenda).</p>
<p>Sayang, pasir pantai putih ini dikotori oleh mereka yang sebelumnya berkemah di sini. Saya menemukan abu bekas api unggun dan seonggok sampah berupa botol minuman dan plastik.</p>
<p><img src="http://jengjeng.matriphe.com/wp-content/uploads/2010/06/pantai-bira-kecil.jpg" alt="Pantai Pulau Bira Kecil" title="Pantai Pulau Bira Kecil" width="350" height="263" class="alignnone size-full wp-image-1511" /></p>
<p><img src="http://jengjeng.matriphe.com/wp-content/uploads/2010/06/pulau-bira-kecil.jpg" alt="Di Pulau Bira Kecil" title="Di Pulau Bira Kecil" width="350" height="263" class="alignnone size-full wp-image-1510" /></p>
<p>Di sekitar Pulau Bira Kecil, masih banyak ditemukan ubur-ubur kecil. Bila tidak berhati-hati, kita bisa tersengat ubur-ubur ini, karena ubur-ubur berwarna transparan.</p>
<p>Puas bermain-main di Pulau Bira Kecil, kami pun kembali ke Pulau Harapan untuk bersiap pulang menggunakan kapal terakhir ke Muara Angke dari Pulau Kelapa, yang berangkat jam 1 siang.</p>
<p>Ketika perjalanan pulang ke Pulau Harapan, kami sempat mampir ke sebuah pulau milik pengusaha Tommy Winata, namun kami diusir oleh penjaga pulau.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://jengjeng.matriphe.com/jeng-jeng-pulau-kelapa-pulau-harapan-kepulauan-seribu.html/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>43</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Pusat Primata Schmutzer: Pusat Primata Terbesar di Dunia</title>
		<link>http://jengjeng.matriphe.com/pusat-primata-schmutzer-pusat-primata-terbesar-di-dunia.html</link>
		<comments>http://jengjeng.matriphe.com/pusat-primata-schmutzer-pusat-primata-terbesar-di-dunia.html#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 26 Oct 2009 10:40:24 +0000</pubDate>
		<dc:creator>matriphe</dc:creator>
				<category><![CDATA[Destinasi]]></category>
		<category><![CDATA[Flora & Fauna]]></category>
		<category><![CDATA[Jakarta]]></category>
		<category><![CDATA[kebun binatang]]></category>
		<category><![CDATA[primata]]></category>
		<category><![CDATA[Ragunan]]></category>
		<category><![CDATA[Schmutzer]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://jengjeng.matriphe.com/?p=1400</guid>
		<description><![CDATA[Tahukah bahwa Indonesia memiliki pusat primata terbesar di dunia? Terletak di dalam kompleks kebun binatang Ragunan, Pusat Primata Schmutzer yang diresmikan pada tanggal 20 Agustus 2002 ini memiliki koleksi sekitar 25 spesies dari 5 famili dari ordo primata. Berkunjung ke Pusat Primata Schmutzer ini begitu mudah. Berbagai sarana transportasi umum bisa menjangkau lokasi ini. Tinggal [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><img src="http://jengjeng.matriphe.com/wp-content/uploads/2009/10/pusat-primata-schumtzer.jpg" alt="Pusat Primata Schmutzer" title="Pusat Primata Schmutzer" width="350" height="263" class="alignnone size-full wp-image-1401" /></p>
<p>Tahukah bahwa Indonesia memiliki pusat primata terbesar di dunia? Terletak di dalam kompleks kebun binatang Ragunan, Pusat Primata Schmutzer yang diresmikan pada tanggal 20 Agustus 2002 ini memiliki koleksi sekitar 25 spesies dari 5 famili dari ordo primata.</p>
<p><span id="more-1400"></span>Berkunjung ke Pusat Primata Schmutzer ini begitu mudah. Berbagai sarana transportasi umum bisa menjangkau lokasi ini. Tinggal naik kopaja, metromini, mikrolet, atau busway berjurusan Ragunan.</p>
<p>Lokasi Pusat Primata Schmutzer berada di dalam kompleks kebun binatang Ragunan. Pusat Primata Schmutzer dulunya dikelola oleh The Gibbon Foundation, pimpinan Dr. Willie Smits, namun kini pengelolanya adalah Pemda DKI.</p>
<p><img src="http://jengjeng.matriphe.com/wp-content/uploads/2009/10/lukisan-schmutzer.jpg" alt="Lukisan Nyonya Schmutzer" title="Lukisan Nyonya Schmutzer" width="200" height="267" class="alignright size-full wp-image-1411" /></p>
<p>Masuk ke kawasan ini, pengunjung ditarik ongkos 5 ribu rupiah untuk dewasa, ini di luar ongkos masuk kebun binatang Ragunan yang ongkosnya 4.500 rupiah (tiket plus asuransi). Keamanannya pun ketat, pengunjung tidak diperbolehkan membawa makanan dan minuman apapun, bahkan permen pun tidak boleh. Semua barang bawaan pengunjung yang berupa makanan harus dititipkan.</p>
<p>Ini untuk menghindari ulah iseng pengunjung yang suka memberi makan hewan-hewan. Padahal makanan manusia itu tidak cocok untuk makanan hewan. Di kebun binatang Ragunan, monyet saja sudah pintar merokok karena ulah manusia yang memberinya rokok. Mengenaskan.</p>
<p>Saya baru tahu, bahwa sebenernya pisang itu bukan makanan utama monyet (atau primata lain) seperti yang kita kira. Beberapa jenis primata seperti Simpanse, Gorila, dan Orangutan makanan utamanya adalah daun dan buah-buahan. Untuk memenuhi kebutuhan protein, mereka juga makan serangga.</p>
<p>Begitu masuk halaman, kita akan disambut gerbang besar bertulis Pusat Primata Schmutzer. Saya sempat terdiam sejenak karena bingung mau memulai dari mana. Akhirnya saya memutuskan untuk naik masuk ke gerbang dan memulai penjelajahan saya dengan menyusuri Gorilla Walk.</p>
<p>Dinamakan demikian karena kita akan menyusuri suatu jembatan khusus yang berada di atas enklosur (kandang yang dibuat mirip dengan habitat asli binatang) Gorila, sehingga kita bisa melihat aktivitas Gorila dari atas. Namun sayang, selama di atas ini, saya tidak melihat Gorila sama sekali. Mungkin mereka sedang beristirahat dan bersembunyi. Gorila-gorila ini mempunyai nama loh, antara lain Komu dan Kumbo.</p>
<p><img src="http://jengjeng.matriphe.com/wp-content/uploads/2009/10/gorilla-walk.jpg" alt="Gorilla Walk" title="Gorilla Walk" width="350" height="263" class="alignnone size-full wp-image-1402" /></p>
<p>Di beberapa sudut Gorilla Walk terdapat tulisan kepanjangan dari akronim GORILA, yang berisi trivia tentang Gorila, yaitu:</p>
<ul>
<li><strong>G</strong>orilla di Pusat Primata Schmutzer adalah jenis Gorila dataran rendah barat</li>
<li><strong>O</strong>rang sering menyebutnya King Kong</li>
<li><strong>R</strong>ambut di punggungnya berwarna keperakan (silver black) dan dimiliki oleh jantan dewasa</li>
<li><strong>I</strong>a adalah salah satu kera terbesar di dunia</li>
<li><strong>L</strong>arangan untuk tidak memburunya sering diabaikan</li>
<li><strong>A</strong>ncaman terhadap Gorila di alam antara lain hilangnya habitat, perburuan ilegal untuk dikonsumsi dagingnya, dan penyakit seperti Ebola</li>
</ul>
<p>Di beberapa sudut juga terdapat kursi-kursi yang bisa digunakan untuk beristirahat sambil melihat pemandangan. Bila melihat ke bawah, beberapa ubin dari kuningan tampak berukiran wajah-wajah Gorila.</p>
<p>Ketika turun dari Gorilla Walk, sayup-sayup saya melihat benda hitam bergerak-gerak dan berjalan dengan kedua kaki dan tangannya di enklosur di depan saya. Kemudian tepat di depan saya dia berhenti dan duduk sambil mengunyah rumput.</p>
<p>Omaigat-omaigat-omaigat! Itu Gorila besar banget! Saya ndak bisa membayangkan bila dihajar dengan tangannya yang panjang itu bagaimana. Bisa-bisa leher mluntir ndak bisa mbalik. Hihihihi..</p>
<p><img src="http://jengjeng.matriphe.com/wp-content/uploads/2009/10/gorilla.jpg" alt="Gorilla (Gorilla gorilla gorilla)" title="Gorilla (Gorilla gorilla gorilla)" width="200" height="267" class="alignright size-full wp-image-1403" /></p>
<p>Gorila yang ada di Schmutzer ini merupakan jenis Gorila yang hidup di hutan dataran rendah di Afrika. Beratnya bisa mencapai 200 kg lebih dan hidup berkelompok. Yang jantan memiliki rambut keperakan di bagian punggung dan suka menepuk dada untuk menunjukkan kekuatan. Namun begitu, <a href="http://ndobos.com/2009/10/14/mau-diadu-lawan-bebek/" target="_blank" title="Mau Diadu Lawan Bebek?">penis gorila itu kecil banget</a>. Hihihi..</p>
<p>Kalo dilihat dari cirinya, Gorila yang berada di depan saya itu adalah gorila jantan!</p>
<p>Dari enklosur Gorila, saya pun berjalan mengelilingi kawasan ini. Ada beberapa kandang Ungko, Owa Jawa, Wau-wau, Kera Hitam Sulawesi, Digo, Boti, Kelawat, dan Siamang. Kandang-kandang ini ada yang berupa kerangkeng besi, ada juga yang berupa kerangkeng besi dengan kaca.</p>
<p>Ordo primata terdiri atas 5 familia, yaitu Prosimian, Macaques (macaca/kera), Leaf Monkeys (monyet daun), Gibbon, dan Ape. Manusia sebenernya termasuk dalam orde primata, loh. <img src='http://jengjeng.matriphe.com/smilies/yahoo_bigsmile.gif' alt='&#58;&#68;' class='wp-smiley' width='18' height='18' title='&#58;&#68;' /></p>
<p>Prosimian adalah primata primitif. Di Indonesia terdapat Kukang dan Tarsius yang termasuk dalam familia ini. Kukang terkenal akan gerakannya yang lambat namun mempunyai cengkraman kuat, sedangkan Tarsius merupakan hewan mungil yang sangat tangkas. Kedua prosimian ini adalah makhluk nokturnal (aktif di malam hari).</p>
<p>Macaques memiliki ciri memiliki kantung pipi untuk menyimpan makanan. Kera-kera ini banyak tersebar di Indonesia, salah satunya adalah <em>Macaca fascicularis</em> (Monyet Ekor Panjang) yang sering dipakai untuk atraksi topeng monyet.</p>
<p><img src="http://jengjeng.matriphe.com/wp-content/uploads/2009/10/monyet-ekor-panjang.jpg" alt="Monyet ekor panjang (Macaca fascicularis)" title="Monyet ekor panjang (Macaca fascicularis)" width="350" height="263" class="alignnone size-full wp-image-1404" /></p>
<p>Leaf monkeys, seperti namanya biasanya hidup di atas pohon dan memakan daun-daunan. Di Indonesia, primata jenis ini sering disebut dengan Lutung. Primata jenis ini berpindah dari satu tempat ke tempat lainnya dengan meloncat menggunakan tungkai kaki belakang.</p>
<p>Gibbon beda lagi. Ciri khasnya adalah tangannya yang panjang karena digunakan untuk bergelantungan. Yang termasuk jenis ini adalah Siamang dan Owa.</p>
<p>Ape adalah jenis primata yang tidak berekor. Orangutan dan Wau-wau termasuk ke dalam jenis ini. </p>
<p>Melewati kandang Monyet daun, saya sampai di taman yang terdapat banyak patung monyet. Beberapa orang nampak berfoto-foto dengan pose merangkul patung monyet atau sekedar berdiri di samping patung tersebut.</p>
<p><img src="http://jengjeng.matriphe.com/wp-content/uploads/2009/10/taman-patung.jpg" alt="Di taman patung. Tebak, mana yang bukan patung?" title="Di taman patung. Tebak, mana yang bukan patung?" width="350" height="263" class="alignnone size-full wp-image-1409" /></p>
<p>Di beberapa tempat juga terdapat kursi-kursi namun sayangnya kursi-kursi ini dikuasai oleh pasangan yang sedang asyik pacaran!</p>
<p>Saya mengeilingi sisi ini hingga sampai ke suatu kolam dengan jembatan semen di atasnya. Di tengah kolam terdapat suatu &#8220;pulau&#8221; yang ternyata ini adalah enklosur dari Simpanse, primata tercerdas. Ketika saya melintas, simpanse-simpanse ini rupanya sedang tidur siang di dalam goa-goa buatan.</p>
<p>Di ujung jembatan, saya masuk ke dalam teater melalui pintu keluar. Hahaha! Saya pun masuk dan rupanya di dalam teater sedang diputar film dokumenter tentang kehidupan primata.</p>
<p><img src="http://jengjeng.matriphe.com/wp-content/uploads/2009/10/taman-buah-primata.jpg" alt="Melewati enklosur Simpanse" title="Melewati enklosur Simpanse" width="350" height="263" class="alignnone size-full wp-image-1406" /></p>
<p>Saya mengikuti 2 episode, yang bercerita tentang sistem sosial dalam kelompok Gibbon dan Macaca serta sistem alarm dari kelompok monyet daun.</p>
<p>Rupanya, sistem kasta juga dikenal di kalangan mereka. <em>Toque macaque</em> di Sri Lanka, contohnya. Di gerombolan ini, kera-kera berdarah ningrat memiliki keistimewaan di dalam kelompoknya, terutama dalam hal makanan dan pasangan ketika musim kawin.</p>
<p>Sistem alarm dari monyet daun ini begitu keren. Setiap monyet akan saling memperingatkan monyet lain bila ada bahaya. Suara-suara peringatan ini akan berbeda bunyi sesuai dengan bahaya apa yang mendekat. Contohnya ketika seekor elang mendekat, kera-kera ini akan berteriak dengan bunyi tertentu dan monyet-monyet lain akan segera berhamburan turun dari pohon untuk menghindari serangan elang.</p>
<p>Bunyi berbeda dikeluarkan ketika seekor Leopard lewat. Bukannya menghindar, monyet-monyet ini justru mendekat dan menampakkan diri sambil terus berteriak-teriak ketika melihat Leopard. Merasa ketahuan, Leopard yang biasanya menyerang secara tiba-tiba akhirnya mundur teratur.</p>
<p>Selesai melihat film, saya menuju ke museum. Di sini dipamerkan berbagai miniatur primata yang bisa menjadi wahana edukasi anak. Berbagai papan dengan penjelasan juga banyak terdapat di sini.</p>
<p><img src="http://jengjeng.matriphe.com/wp-content/uploads/2009/10/museum-primata.jpg" alt="Museum Primata" title="Museum Primata" width="350" height="263" class="alignnone size-full wp-image-1405" /></p>
<p>Dari museum, saya meluncur ke belakang, menuju ke Terowongan Orangutan. Terowongan ini mengelilingi enklosur Orangutan yang dapat kita lihat dari balik kaca.</p>
<p>Suasananya begitu gelap, di beberapa sudut terdapat rumbai-rumbai yang dibuat mirip seperti akar pohon, dan di dalamnya sejuk karena terdapat AC. Saya melihat beberapa Orangutan sedang bersantai-santai di atas kayu.</p>
<p><img src="http://jengjeng.matriphe.com/wp-content/uploads/2009/10/orangutan.jpg" alt="Orangutan sedang bersantai" title="Orangutan sedang bersantai" width="350" height="263" class="alignnone size-full wp-image-1407" /></p>
<p>Karena suasana gelap, di beberapa tempat terdapat pasangan yang sedang asyik pacaran. Padahal kalo jeli, di beberapa sudut terdapat kamera pengawas. Dasar pasangan dimabuk asmara yang tidak tau tempat!</p>
<p><img src="http://jengjeng.matriphe.com/wp-content/uploads/2009/10/terowongan-orangutan.jpg" alt="Terowongan Orangutan" title="Terowongan Orangutan" width="350" height="263" class="alignnone size-full wp-image-1408" /></p>
<p>Keluar dari Terowongan Orangutan, saya berada di bagian belakang. Saya menuju Jembatan Kanopi di mana kita bisa berjalan di atas jembatan yang dipasang di atas pohon, namun sayang ketika saya sampai, fasilitas ini ditutup. Saya ndak tau, mungkin karena dianggap berbahaya karena di beberapa bagian terlihat kayu-kayunya mulai lapuk.</p>
<p>Sebelum pulang, saya menyempatkan diri melihat Lutung Jawa dan Lutung Perak. Ada sebuah papan dengan siluet Gorila yang sedang merentangkan tangan. Rupanya ini digunakan untuk membandingkan ukuran tubuh manusia dengan ukuran tubuh Gorila.</p>
<p><img src="http://jengjeng.matriphe.com/wp-content/uploads/2009/10/rentang-gorilla.jpg" alt="Papan rentang Gorila" title="Papan rentang Gorila" width="350" height="263" class="alignnone size-full wp-image-1410" /></p>
<p>Selain itu ada cermin besar bertuliskan, &#8220;ayo, jadi sahabat primata!&#8221;, yang berarti ajakan kepada diri kita ketika berdiri di atas cermin tersebut.</p>
<p>Bila datang pada jam-jam memberi makan (jam 9, 12, dan 15), kita bisa melihat petugas memberi makan primata ini di sekitaran enklosur. Karena saya datang tidak pada jam-jam itu, saya tidak dapat melihat langsung proses ini.</p>
<p>Pusat Primata Schmutzer lahir dari kepedulian Pauline Antoinette Schmutzer-versteegh terhadap satwa terutama primata yang hampir punah. Melalui yayasan The Gibbon Foundation, Nyonya Scmutzer mewakafkan hartanya untuk pembangunan pusat primata ini.</p>
<p>Hampir semua primata yang terdapat di lokasi ini merupakan primata yang dilindungi, beberapa di antaranya merupakan hasil sitaan atau serahan dari masyarakat. Di dalam kawasan seluas 13 hektar ini juga terdapat lebih dari 84 jenis pohon yang menambah teduh kawasan Pusat Primata Schmutzer.</p>
<p>Namun sayang, di beberapa sudut nampak orang pacaran sangat mengganggu pemandangan. Di beberapa tempat terdapat pancuran air minum gratis, namun kondisinya sedikit memprihatinkan. Air yang keluar sangat kecil sehingga ada pengunjung yang mengakali dengan meminum dari kran menggunakan sedotan!kini</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://jengjeng.matriphe.com/pusat-primata-schmutzer-pusat-primata-terbesar-di-dunia.html/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>32</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Jeng-Jeng Pulau Tidung, Kepulauan Seribu</title>
		<link>http://jengjeng.matriphe.com/jeng-jeng-pulau-tidung-kepulauan-seribu.html</link>
		<comments>http://jengjeng.matriphe.com/jeng-jeng-pulau-tidung-kepulauan-seribu.html#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 12 Oct 2009 11:41:11 +0000</pubDate>
		<dc:creator>matriphe</dc:creator>
				<category><![CDATA[Destinasi]]></category>
		<category><![CDATA[Pulau, Laut, Pantai]]></category>
		<category><![CDATA[Travelogue]]></category>
		<category><![CDATA[Jakarta]]></category>
		<category><![CDATA[Kepulauan Seribu]]></category>
		<category><![CDATA[Pulau Air]]></category>
		<category><![CDATA[Pulau Karang Beras]]></category>
		<category><![CDATA[Pulau Tidung]]></category>
		<category><![CDATA[snorkeling]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://jengjeng.matriphe.com/?p=1356</guid>
		<description><![CDATA[Pulau Tidung merupakan pulau terbesar dari gugusan Kepulauan Seribu. Lokasinya yang berada di barat daya dari gugusan pulau-pulau lain, membuat pulau ini sedikit terpencil namun memiliki pesona tersendiri. Saya berkesempatan menginjakkan kaki ke pulau yang terdiri dari 2 pulau (Pulau Tidung Besar dan Tidung Kecil) ini. Salah satu pesona wisata yang menjadi unggulan dari pulau [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><img src="http://jengjeng.matriphe.com/wp-content/uploads/2009/10/at-tidung.jpg" alt="di jembatan menuju Pulau Tidung Kecil" title="di jembatan menuju Pulau Tidung Kecil" width="350" height="263" class="alignnone size-full wp-image-1357" /></p>
<p>Pulau Tidung merupakan pulau terbesar dari gugusan Kepulauan Seribu. Lokasinya yang berada di barat daya dari gugusan pulau-pulau lain, membuat pulau ini sedikit terpencil namun memiliki pesona tersendiri.</p>
<p>Saya berkesempatan menginjakkan kaki ke pulau yang terdiri dari 2 pulau (Pulau Tidung Besar dan Tidung Kecil) ini. Salah satu pesona wisata yang menjadi unggulan dari pulau ini adalah adanya jembatan yang menyeberangi lautan untuk menghubungkan pulau Tidung Besar dan Pulau Tidung Kecil.</p>
<p><span id="more-1356"></span>Kami berangkat menggunakan kapal motor dari Pelabuhan Muara Baru, Muara Angke, jakarta Utara, sekitar jam 7.15. Berbeda dengan kapal-kapal yang melayani rute ke Pulau Panggang dan Pulau Pramuka, kapal yang menuju Pulau Tidung lebih sedikit peminatnya. Kapalnya pun hanya beroperasi sekali sehari.</p>
<p>Perjalanan dari Muara Angke ke Pulau Tidung memakan waktu 2.5 sampai 3 jam dengan ongkos 33 ribu per orang. </p>
<p>Dermaga Pulau Tidung sedikit berbeda dengan dermaga di Pulau Pramuka. Di depan dermaga terdapat tembok batu memanjang yang membuat dermaga seperi berada di dalam teluk. Bangunan yang ada di kompleks pun sangat baik. Namun sayang, laut di sekitar dermaga kotor dan penuh dengan sampah.</p>
<p><img src="http://jengjeng.matriphe.com/wp-content/uploads/2009/10/dermaga-tidung-2.jpg" alt="Dermaga Pulau Tidung" title="Dermaga Pulau Tidung" width="350" height="263" class="alignnone size-full wp-image-1359" /></p>
<p>Secara umum, perkampungan di Pulau Tidung tidak jauh berbeda dengan di Pulau Pramuka. Namun di Pulau Pramuka lebih bersih dan tertata daripada di Pulau Tidung.</p>
<p>Yang membedakannya lagi, listrik PLN sudah masuk ke pulau ini, berbeda dengan listrik di Pulau Pramuka yang masih mengandalkan generator diesel untuk membangkitkan listrik sehingga hanya menyala dari jam 4 sore hingga jam 7 pagi itu.</p>
<p>Listrik PLN masuk ke Kepulauan Seribu pada tahun 2008 yang dialirkan dari pembangkit listrik Tanjung Pasir, Tangerang, melalui kabel bawah laut. Untuk sementara, hanya pulau-pulau di gugus selatan saja yang mendapat pasokan, salah satunya adalah Pulau Tidung.</p>
<p><img src="http://jengjeng.matriphe.com/wp-content/uploads/2009/10/begenzer.jpg" alt="kWH meter prabayar" title="kWH meter prabayar" width="350" height="263" class="alignnone size-full wp-image-1360" /></p>
<p>Listrik yang digunakan sistemnya prabayar. Seperti pada voucher ponsel, penduduk membeli sejumlah kWH yang kemudian &#8220;diisikan&#8221; ke <em>begenzer</em> (kWH meter). Cara ini dinilai lebih menguntungkan karena penduduk bisa menggunakan listrik seperlu mereka.</p>
<p>Melihat sekilas, saya menemukan banyak sekali pohon jambu air dan pohon sukun yang tumbuh di halaman rumah warga. Beberapa sepeda motor wira-wiri selain sepeda yang menjadi sarana transportasi warga. Gerobak juga rupanya menjadi salah satu alat transportasi alternatif, baik untuk menjajakan dagangan sayur atau untuk membawa beban berat.</p>
<p><img src="http://jengjeng.matriphe.com/wp-content/uploads/2009/10/gerobak.jpg" alt="Gerobak jualan di Pulau Tidung" title="Gerobak jualan di Pulau Tidung" width="350" height="263" class="alignnone size-full wp-image-1364" /></p>
<p>Penginapan untuk wisatawan sangat minim. Salah satu yang terkenal adalah homestay Lima Saudara milik pak H. Mid yang terkenal. Tinggal bertanya pada warga, dengan senang hati mereka akan menunjukkan jalan ke sana.</p>
<p>Untuk sewa penginapan, budget-nya sekitar 300-350 ribu per rumah (sistem rumah) atau 200 ribu per kamar (maksimal diisi 6 orang).</p>
<p>Selain di homestay tersebut, jika &#8220;supel&#8221;, bisa menginap di rumah warga. Biayanya juga bisa lebih murah dan fasilitasnya bisa lebih lengkap. Tentunya adanya interaksi dengan penghuni membuat suasana menjadi lebih akrab.</p>
<p><img src="http://jengjeng.matriphe.com/wp-content/uploads/2009/10/suasana-kampung-tidung.jpg" alt="Suasana kampung di Pulau Tidung" title="Suasana kampung di Pulau Tidung" width="350" height="263" class="alignnone size-full wp-image-1361" /></p>
<p>Minimnya sarana penginapan ini kemungkinan karena minimnya wisatawan yang datang ke pulau ini bila dibandingkan wisatawan yang datang ke Pulau Pramuka.</p>
<p>Setelah beristirahat sejenak, kami memutuskan untuk berkeliling pulau yang luasnya sekitar 106 hektar ini dengan menggunakan sepeda sewaan. Sepeda yang kami gunakan kondisinya kurang bagus, apalagi harga sewa yang cukup mahal menurut saya, 15 ribu per sepeda. Namun daripada tidak ada, kami pun akhirnya menyewanya juga.</p>
<p>Kami menyusuri jalan sepanjang pantai selatan menuju ke Timur, menuju ke arah jembatan Pulau Tidung Kecil. Jalan ber-paving-block dengan pemandangan laut di samping kanan membuat bersepeda menjadi menyenangkan. Sepanjang jalan tumbuh pohon cemara udang membuat suasana menjadi teduh.</p>
<p><img src="http://jengjeng.matriphe.com/wp-content/uploads/2009/10/bersepeda-ke-tidung-kecil.jpg" alt="Bersepeda ke jembatan Tidung Kecil" title="Bersepeda ke jembatan Tidung Kecil" width="350" height="263" class="alignnone size-full wp-image-1363" /></p>
<p>Sesampai di sana, kami sedikit kecewa karena jembatan sedang dalam perbaikan. Jembatan kayu yang sudah mulai lapuk ini akan diganti dengan jembatan yang terbuat dari besi.</p>
<p>Tak hilang akal, dengan modal nekat, kami menitipkan sepeda di tempat istirahat para pekerja jembatan, kemudian menyeberangi jembatan belum jadi itu. Kami menyebutnya jembatan <em>shiratal mustaqim</em>, karena kami harus meniti jalan beton setapak yang bila tidak hati-hati bisa nyemplung ke laut yang dalamnya sekitar 2-3 meter.</p>
<p><img src="http://jengjeng.matriphe.com/wp-content/uploads/2009/10/shiratal-mustaqim.jpg" alt="Shiratal mustaqim Pulau Tidung" title="Shiratal mustaqim Pulau Tidung" width="350" height="263" class="alignnone size-full wp-image-1362" /></p>
<p>Sebenernya Pulau Tidung Besar dan kecil ini masih berada dalam satu gugusan karang yang sama. Oleh karena itu, jembatan sepanjang sekitar 105 meter ini bisa dibuat di atas karang ini. Jembatan pun dibangun tidak lurus, namun berkelok-kelok demi mengikuti kontur karang yang dangkal.</p>
<p>Di satu bagian, ada bagian jembatan yang menanjak. Ini digunakan sebagai &#8220;terowongan&#8221; bila ada kapal yang hendak melintas di bawah jembatan ini.</p>
<p><img src="http://jengjeng.matriphe.com/wp-content/uploads/2009/10/jembatan-pulau-tidung.jpg" alt="Jembatan Pulau Tidung" title="Jembatan Pulau Tidung" width="350" height="263" class="alignnone size-full wp-image-1365" /></p>
<p>Di beberapa titik terdapat gazebo, sehingga kita bisa beristirahat sejenak untuk menikmati pemandangan laut yang indah lengkap dengan karang dan ikan-ikan yang bermain di air berwarna hijau tosca.</p>
<p>Saya heran. Padahal saya tidak bermasalah dengan keseimbangan dan ketinggian, ketika saya hendak melangkahkan kaki di <em>shiratal mustaqim</em> itu, tiba-tiba saja kaki ini tidak bisa digerakkan. Saya merasa ketakutan meniti balok beton tersebut.</p>
<p>Walau saya sudah menenangkan dan meyakinkan diri, saya tetap tidak bisa melangkah dan cuma meringis melihat teman-teman serombongan saya yang sudah sampai di ujung jembatan berkayu.</p>
<p>Mungkin angin yang bertiup cukup kencang membuat saya sedikit ketakutan nyemplung ke laut. Apalagi saya membawa kamera dan ponsel di dalam tas, sehingga dua benda itu menjadi pikiran saya.</p>
<p>Kebetulan, ada teman dari rombongan lain yang mengalami hal yang sama dengan saya. Ketakutan menyeberangi <em>shiratal mustaqim</em> dan cuma bisa terdiam di tengah jembatan. Kami pun memutar akal supaya bisa mencapai ujung jembatan kayu. </p>
<p>Kami melihat seorang pekerja karamba yang tak jauh dari jembatan sedang  mendayung sampan. Kami pun berteriak-teriak memanggil dan meminta tolong untuk diseberangkan. Awalnya si empunya perahu meminta harga sewa 5 ribu per orang, kami pun menawar 10 ribu untuk menyeberangkan kami bertiga. Deal, kami pun menaiki sampan untuk menuju seberang!</p>
<p>Setelah menyusuri jembatan kayu yang memang terlihat lapuk di sana-sini, sampailah kami di Pulau Tidung Kecil. Di sekitar pulau terdapat segerombolan pohon bakau muda.</p>
<p>Pulau Tidung Kecil memang tidak dihuni. Memang, awalnya penduduk memang tinggal di pulau ini, namun seiring perkembangan jumlah penduduk, mereka pun pindah ke Pulau Tidung Besar.</p>
<p>Pulau Tidung Kecil digunakan sebagai pusat pembibitan dan pengembangbiakkan tanaman di Kaupaten Administrasi Kepulauan Seribu. Bibit pohon jambu air, sukun, bakau, dikembangbiakkan di pulau ini. Ndak heran kalo di Pulau Tidung Besar terdapat banyak pohon jambu air dan pohon sukun. </p>
<p>Terdapat jalan berpaving block membentang di sisi selatan pulau. Daun-daun berguguran menutupi sebagian jalan membuat saya seolah-olah berada di negeri yang sedang mengalami musim gugur.</p>
<p><img src="http://jengjeng.matriphe.com/wp-content/uploads/2009/10/jalan-tidung-kecil.jpg" alt="Jalan di Pulau Tidung Kecil" title="Jalan di Pulau Tidung Kecil" width="350" height="263" class="alignnone size-full wp-image-1366" /></p>
<p>Di ujung jalan, kami menemukan bangunan pusat pengembangan bibit tanaman. Terlihat bibit tanaman bakau tertata dengan cantik di halaman bangunan ini.</p>
<p><img src="http://jengjeng.matriphe.com/wp-content/uploads/2009/10/bibit-bakau.jpg" alt="Bibit bakau" title="Bibit bakau" width="350" height="263" class="alignnone size-full wp-image-1367" /></p>
<p>Karena penasaran dengan pantainya, kami nekad meneruskan perjalanan dengan mengikuti jalan setapak membelah ilalang dan rumput gajah. Saya bahkan tidak mempedulikan kulit tangan dan kaki yang tergores dedaunan rumput gajah.</p>
<p>Yang saya takutkan cuma satu, kaalu tiba-tiba ada ular nongol dan menggigit kaki kan sangat tidak lucu!</p>
<p><img src="http://jengjeng.matriphe.com/wp-content/uploads/2009/10/menembus-ilalang.jpg" alt="Menembus ilalang" title="Menembus ilalang" width="350" height="263" class="alignnone size-full wp-image-1370" /></p>
<p>Di tengah jalan, kami menemukan sebuah musholla kecil. Rupanya di situ terdapat makam Panglima Hitam dan sebuah sumur.</p>
<p><img src="http://jengjeng.matriphe.com/wp-content/uploads/2009/10/makam-panglima-hitam.jpg" alt="Makam Panglima Hitam" title="Makam Panglima Hitam" width="200" height="267" class="alignright size-full wp-image-1368" /></p>
<p>Tentang Panglima Hitam ini, ada banyak versi cerita. Salah satu versinya, menurut cerita masyarakat setempat,  Panglima Hitam adalah seorang sakti yang berasal dari Cirebon yang kalah perang melawan Belanda dan lari ke Pulau Tidung untuk berlindung. Dari kata &#8220;berlindung&#8221; inilah asal kata &#8220;tidung&#8221;.</p>
<p>Sumur yang terletak tak jauh dari makam itu disebut dengan sumur bawang, yang dikeramatkan dan dipercaya bisa menyembuhkan berbagai macam penyakit.</p>
<p>Seekor kucing kuning yang rupanya peliharan Abah Suharna, si juru kunci makam, datang ke arah saya begitu saya panggil. Saya terbelalak ketika mengelus-elus kucing tersebut melihat gigi taring kucing ini lebih panjang dari kucing-kucing normal ketika si kucing menguap.</p>
<p>Saya jadi tambah yakin dengan hawa-hawa &#8220;asing&#8221; yang langsung menyelimuti perasaan saya semenjak menginjakkan kaki di pulau ini.</p>
<p>Kami meneruskan perjalanan mencari pantai yang asyik. Tak lama kemudian kami pun tiba di pantai yang kami maksud. Apalagi yang tidak dilakukan kecuali foto-foto?</p>
<p><img src="http://jengjeng.matriphe.com/wp-content/uploads/2009/10/foto-foto-di-pantai.jpg" alt="Foto-foto di pantai" title="Foto-foto di pantai" width="350" height="263" class="alignnone size-full wp-image-1371" /></p>
<p>Saya pun karena tidak tahan melihat seorang teman yang udah duluan nyemplung, akhirnya melepaskan kaos dan bergabung dengan nyemplung cibang-cibung.. Sueger rasanya walau nantinya saya harus menerima konsekuensi kulit jadi pliket terkena garam dan menjadi semacam ikan asin berjalan. Hahaha!</p>
<p><img src="http://jengjeng.matriphe.com/wp-content/uploads/2009/10/nyemplung.jpg" alt="nyemplung di Pulau Tidung Kecil" title="nyemplung di Pulau Tidung Kecil" width="350" height="263" class="alignnone size-full wp-image-1378" /></p>
<p>Karena ingin mengejar sunset di pantai barat Tidung Besar, kami memutuskan untuk segera kembali ke Pulau Tidung Besar.</p>
<p>Kami bertemu rombongan lain yang sedang menikmati kelapa muda yang baru dipetik dari pohon, tepat di depan bangunan pusat pembibitan tanaman. Duh, enaknya! Kami bersepakat untuk menghemat biaya kapal untuk snorkeling besok pagi, kami akan bergabung dan menyewa satu kapal saja.</p>
<p>Setelah melewati jembatan dan sampai di ujung, kami harus meniti kembali <em>shiratal mustaqim</em>. Tidak seperti pas berangkat, kali ini saya melahap <em>shiratal mustaqim</em> dengan amat sangat lancar. Ketakutan saya tadi seketika sirna entah ke mana.</p>
<p><img src="http://jengjeng.matriphe.com/wp-content/uploads/2009/10/mengejar-sunset.jpg" alt="Mengejar sunset" title="Mengejar sunset" width="350" height="263" class="alignnone size-full wp-image-1373" /></p>
<p>Dengan menggunakan sepeda, kami mengayuh menuju pantai barat untuk mengejar sunset. Kami harus melewati jalan setapak yang membelah hutan pohon kelapa dengan pemandangan pantai di sebelah utara. Beberapa kali kami harus menuntun sepeda karena kami melewati jalan berpasir yang membuat sepeda kami selip.</p>
<p>Kami pun tiba di pantai yang dimaksud, tepat sebelum matahari terbenam!</p>
<p><img src="http://jengjeng.matriphe.com/wp-content/uploads/2009/10/sunset-pulau-tidung.jpg" alt="Sunset Pulau Tidung" title="Sunset Pulau Tidung" width="350" height="263" class="alignnone size-full wp-image-1372" /></p>
<p>Malamnya kami beristirahat di penginapan. Beberapa teman sedang berpesta barbekyu ikan di halaman, namun saya memutuskan untuk tidur guna menyusun tenaga yang terkuras karena seharian berkeliling untuk digunakan ber-snorkeling esok paginya. Apalagi kami berniat melihat sunrise di ujung pantai timur, di seputaran jembatan ke arah Pulau Tidung Kecil.</p>
<p>Saya terbangun mendengar alarm ponsel yang berteriak lantang. Teman-teman masih terkapar dan sayup-sayup saya mendengar suara pengajian dari masjid-masjid. Segera saya mengambil air wudhu yang payau dan sholat Shubuh. Selesai sholat, teman-teman sudah bangun.</p>
<p>Bergegas kami pun bersiap untuk mengejar sunrise. Sepeda kami kayuh membelah pagi yang masih gelap. Untungnya bulan yang separo masih nongol menerangi jalan kami. Sampai di ujung timur pulau, langit sudah mulai terang. Sayang, awan tebal menutupi matahari sehingga kami gagal melihat mentari menampakkan wajahnya.</p>
<p>Kami segera kembali ke penginapan karena pagi-pagi benar kami harus check-out dan segera naik kapal untuk snorkeling dan menuju ke Pulau Pramuka. Karena tidak ada kapal yang berangkat siang dari Pulau Tidung, kami kembali ke Jakarta melalui Pulau Pramuka yang mempunyai jadwal kapal berangkat siang hari.</p>
<p>Harga sewa kapal sekitar 250-350 ribu. Tapi karena si empunya kapal tau bahwa ada dua kelompok yang hendak berhemat dengan menyewa satu kapal, dia ndak mau rugi dan memasang harga yang sangat mahal. Tawar menawar terjadi dan akhirnya disepakati harga 500 ribu per kapal, yang menurut saya masih sangat mahal. Tapi karena biaya ditanggung 2 kelompok, jatuhnya tetap 250 ribu per kapal.</p>
<p><img src="http://jengjeng.matriphe.com/wp-content/uploads/2009/10/di-kapal.jpg" alt="di atas perahu berangkat snorkeling" title="di atas perahu berangkat snorkeling" width="350" height="263" class="alignnone size-full wp-image-1379" /></p>
<p>Kami pun menuju Pulau Karang Beras dan Pulau Air untuk snorkeling dan pemberhentian terakhir di Pulau Pramuka.</p>
<p>Saya banyak berbincang dengan si nakhoda yang ternyata anggota pemadam kebakaran Kepulauan Seribu. Saya bahkan diijinkan untuk memegang kemudi kapal dan mengendalikan kapal menuju ke Pulau Karang Beras.</p>
<p>Mengendalikan perahu itu tidak mudah. Kemudi harus diputar perlahan supaya berbelok dengan mulus. Bila tidak, kapal akan miring. Beberapa kali saya membuat kapal agak miring karena saya mengemudikan kapal masih kasar.</p>
<p>Sembari menuju Pulau Karang Beras, si nakhoda mengambil gulungan senar dengan umpan bulu ayam. Umpan tersebut kemudian direntangkan dan ditarik sambil kapal berjalan. &#8220;Siapa tau dapat tongkol&#8221;, demikian kata si nakhoda.</p>
<p><img src="http://jengjeng.matriphe.com/wp-content/uploads/2009/10/gulungan-senar-penangkap-ik.jpg" alt="Gulungan senar penangkap ikan" title="Gulungan senar penangkap ikan" width="350" height="263" class="alignnone size-full wp-image-1374" /></p>
<p>Tongkol memang banyak terdapat di laut sekitar Pulau Tidung. Pantas saja rekan-rekan serombongan sampai jenuh dengan hidangan makan yang tongkol-lagi-tongkol-lagi.</p>
<p>Kami snorkeling di sekitara pulau Karang Beras dan Pulau Air. Dari kedua spot ini, saya paling suka dengan spot di Pulau Air (yang merupakan kawasan resort yang dikelola oleh swasta).</p>
<p>Terumbu karang di kawasan Pulau Karang Beras relatif dangkal. Bahkan saking dangkalnya, beberapa kali kaki saya terantuk karang-karang tajam. Bila tidak berhati-hati, kita bisa menginjak karang tajam dan merusak terumbu karang yang ada di lingkungan ini.</p>
<p>Sayang kami tidak memiliki kamera bawah air, sehingga tidak ada yang bisa mengambil gambar indahnya terumbu karang di lokasi ini.</p>
<p>Di Pulau Karang Beras, banyak sekali terumbu karang berjenis acropora berbentuk cabang, acropora padat (mirip batu), acropora tabular (berbentuk seperti lembaran meja), dan acropora berjari (bentuk seperti sekumpulan jari). Namun yang paling dominan adalah acropora tabular, cabang, dan berjari.</p>
<p>Di Pulau Air, terumbu karangnya lebih bervariatif dan hampir merata. Selain seperti apa yang ada di Pulau Karang Beras, ikan-ikan yang ada pun lebih banyak dan beragam jenis. Bintang laut pun banyak ditemukan di Pulau Air.</p>
<p><img src="http://jengjeng.matriphe.com/wp-content/uploads/2009/10/snorkeling.jpg" alt="Snorkeling" title="Snorkeling" width="350" height="263" class="alignnone size-full wp-image-1376" /></p>
<p>Dalam perjalanan menuju Pulau Air, sepanjang perjalanan saya melihat ikan terbang sesekali melompat-lompat di atas permukaan air. Bahkan pas hampir sampai Pulau Air, seekor penyu sisik menampakkan wujudnya sebentar sebelum kembali masuk ke dalam laut.</p>
<p>Saya hampir tenggelam ketika snorkeling di Pulau Air ini. Karena kurangnya alat, kami memakai alat snorkel bergantian. Saya nekat turun ke laut tanpa menggunakan life-vest yang membuat kita tetap mengapung.</p>
<p>Awalnya lancar-lancar saja, saya bisa mengapung dengan baik sambil berenang menikmati pemandangan terumbu karang. Ketika saya berhenti sejenak dan hendak mengambil nafas, tiba-tiba saya meminum banyak air laut. Situasi demikian sempat membuat saya panik karena badan saya tidak mau mengapung.</p>
<p>Saya berusaha tenang dan mencoba mencapai permukaan, tapi karena air laut terus masuk melalui hidung dan tenggorokan, saya tidak bisa bernafas dan terus tenggelam perlahan. Untung saya masih bisa meraih teman yang menggunakan pelampung sehingga saya bisa mengambil nafas.</p>
<p>Sebuah pengalaman yang cukup mengerikan bagi saya, walau tidak sampai membuat saya kapok snorkeling.</p>
<p>Selesai snorkeling, kami singgah di Pulau Air untuk makan siang. Kami memang membawa bekal makan siang. Kami makan siang sambil duduk-duduk di pinggir laut dirindangi pohon cemara udang sambil melihat speedboat yang wira-wiri melintas.</p>
<p>Resort Pulau Air memang menyewakan speedboat untuk digunakan oleh wisatawan. Sebenernya Pulau Air merupakan wilayah privat, sehingga tidak sembarang orang bisa masuk. Terbukti dengan beberapa orang penjaga yang mendatangi kami untuk menanyakan keperluan. Untung awak kapal bisa menjelaskan dan penjaga tersebut memaklumi.</p>
<p><img src="http://jengjeng.matriphe.com/wp-content/uploads/2009/10/di-pulau-air.jpg" alt="di Pulau Air" title="di Pulau Air" width="350" height="263" class="alignnone size-full wp-image-1377" /></p>
<p>Ada cerita lucu. Ketika kami sedang asyik makan siang dan menikmati pemandangan speedboat yang berslieweran, tiba-tiba sebuah speedboat melaju kencang menimbulkan gelombang air yang cukup besar untuk memuncratkan air ke arah kami yang sedang makan.</p>
<p>Walhasil, kami seperti kehujanan dan nasi kami sedikit tercampur &#8220;garam alami&#8221; dari laut. Wakakakaka!</p>
<p>Selesai makan siang, kami pun menuju Pulau Pramuka untuk bebersih dan bersiap menuju kapal yang berangkat menuju Muara Angke sekitar jam 1 siang.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://jengjeng.matriphe.com/jeng-jeng-pulau-tidung-kepulauan-seribu.html/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>65</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Jeng-Jeng Pulau Pramuka, Kepulauan Seribu</title>
		<link>http://jengjeng.matriphe.com/jeng-jeng-pulau-pramuka-kepulauan-seribu.html</link>
		<comments>http://jengjeng.matriphe.com/jeng-jeng-pulau-pramuka-kepulauan-seribu.html#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 17 Jul 2009 09:46:51 +0000</pubDate>
		<dc:creator>matriphe</dc:creator>
				<category><![CDATA[Destinasi]]></category>
		<category><![CDATA[Pulau, Laut, Pantai]]></category>
		<category><![CDATA[Travelogue]]></category>
		<category><![CDATA[Jakarta]]></category>
		<category><![CDATA[Kepulauan Seribu]]></category>
		<category><![CDATA[Pulau Panggang]]></category>
		<category><![CDATA[Pulau Pramuka]]></category>
		<category><![CDATA[snorkeling]]></category>
		<category><![CDATA[Taman Nasional]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://jengjeng.matriphe.com/?p=1312</guid>
		<description><![CDATA[Hari itu saya bangun pagi sekali. Berbekal backpack yang baru semalam saya kemas, selepas Shubuh, saya segera menjejakkan kaki menuju terminal bus Blok M sembari menikmati udara dingin yang cukup segar. Jakarta memang baru bergeliat pagi itu, sang mentari pun masih dalam peraduannya. Saya akan berkunjung ke Kepulauan Seribu. Tiada rencana sebelumnya, hanya berbekal panduan [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><img src="http://jengjeng.matriphe.com/wp-content/uploads/2009/07/welcome-to-pramuka.jpg" alt="Di Pulau Pramuka, Kepulauan Seribu" title="Di Pulau Pramuka, Kepulauan Seribu" width="350" height="263" class="alignnone size-full wp-image-1320" /></p>
<p>Hari itu saya bangun pagi sekali. Berbekal backpack yang baru semalam saya kemas, selepas Shubuh, saya segera menjejakkan kaki menuju terminal bus Blok M sembari menikmati udara dingin yang cukup segar. Jakarta memang baru bergeliat pagi itu, sang mentari pun masih dalam peraduannya.</p>
<p>Saya akan berkunjung ke Kepulauan Seribu. Tiada rencana sebelumnya, hanya berbekal panduan dari beberapa orang rekan, saya, <a href="http://cyapila.com/blog" title="Famega Cyapila" target="_blank">Fame</a>, dan <a href="http://corniladesyana.wordpress.com" title="Cornila Desyana" target="_blank">Nila</a> langsung berangkat tanpa memikirkan apa yang akan dilakukan setibanya di sana, yang penting hengkang dari kota ini.</p>
<p><span id="more-1312"></span>Raut muka mengantuk masih terlihat jelas di muka kami. Tak berapa lama, bus PPD P-37 jurusan Blok M-Muara Angke muncul dan kami bergegas naik ke dalam bus yang hanya berisi beberapa gelintir manusia. Sang kondektur pun bahkan belum nongol dan baru naik di Bundaran Senayan. </p>
<p>Bus berjalan dengan sangat cepat. Dalam waktu sekitar 30 menit, kami sudah sampai di Mega Mall Pluit. Lalu lintas yang masih lengang sepertinya membuat Jakarta menjadi sangat dekat.</p>
<p>Dengan menggunakan angkot merah U-11, kami segera menuju ke Muara Angke. Rute ini sama persis ketika kami berkunjung ke <a href="http://jengjeng.matriphe.com/index.php/2009/05/26/suaka-margasatwa-muara-angke-hutan-mangrove-terakhir-jakarta.html" title="">Suaka Margasatwa Muara Angke</a> beberapa waktu yang lalu.</p>
<p>Dari terminal Muara Angke, kami berjalan sedikit menuju dermaga Muara Baru, Muara Angke. Melewati pasar ikan dengan bau yang membuat rasa kantuk kami sirna seketika karena begitu &#8220;sedapnya&#8221;, antara campuran bau ikan dan genangan air kotor dari got yang tersumbat.</p>
<p><img src="http://jengjeng.matriphe.com/wp-content/uploads/2009/07/dermaga-muara-angke.jpg" alt="Dermaga Muara Angke" title="Dermaga Muara Angke" width="350" height="263" class="alignnone size-full wp-image-1314" /></p>
<p>Dermaga ramai sekali. Rupanya banyak juga rombongan yang akan menyeberang. Beberapa nampak memanggul backpack besar dan sedang bergerombol.</p>
<p>Ada banyak kapal yang akan menuju ke Kepulauan Seribu. Hampir semua kapal akan singgah di Pulau Pramuka sebelum melanjutkan perjalanan ke pulau-pulau lain semacam Pulau Panggang, Pulau Tidung, bahkan hingga ke Pulau Kelapa.</p>
<p>Untuk menuju ke Kepulauan Seribu, ada berbagai macam rute yang bisa dipakai. Wisatawan yang berkocek tebal dan menginginkan kepraktisan bisa berangkat dari Pantai Marina, Ancol, dengan menggunakan kapal speedboat yang berangkat pukul 8-9 pagi dan kembali pukul 1-2 siang.</p>
<p>Biasanya layanan speedboat ini sudah termasuk dalam suatu paket wisata ke pulau-pulau tertentu semacam Pulau Bidadari, Pulau Sepa, dan Pulau Onrust. Untuk info lebih lanjut bisa bertanya pada agen perjalanan yang ada di seputaran Pantai Marina, Ancol.</p>
<p>Bila ingin bepergian ala backpacker atau budget traveler, bisa menggunakan rute dari Muara Angke eperti yang kami tempuh ini. Kapal-kapal dari Muara Angke berangkat setiap hari pada pukul 7-8 pagi. Pulau-pulau tujuan adalah pulau-pulau yang dihuni oleh penduduk, antara lain Pulau Pramuka, Pulau Panggang, Pulau Tidung, dan Pulau Kelapa.</p>
<p>Bila Pulau Untung Jawa menjadi tujuan, berangkatlah dari dermaga Tanjung Pasir di Tangerang. Kalo jadwal kapal ini biasanya sekitar pukul 1 siang.</p>
<p>Kami naik kapal motor Ksatria, dengan tujuan akhir Pulau Kelapa, yang tentunya akan singgah ke Pulau Pramuka. Di dalam kapal rupanya sudah sesak sehingga kami mendapat tempat di bagian buritan.</p>
<p>Selain manusia, kapal ini juga mengangkut berbagai macam bahan kebutuhan pokok. Mulai dari beras, sayur, telor, gula, bahkan sepeda motor pun bisa masuk. Para penumpang harus berbagi ruang dengan barang-barang ini.</p>
<p><img src="http://jengjeng.matriphe.com/wp-content/uploads/2009/07/di-dalam-kapal.jpg" alt="Di dalam kapal" title="Di dalam kapal" width="350" height="263" class="alignnone size-full wp-image-1324" /></p>
<p>Beberapa orang ada yang duduk di atas atap karena saking penuhnya. Betapa berbahayanya, apalagi peralatan keselamatan sangat minim. Indonesia memang sungguh inspiratif dalam urusan efisiensi! <img src='http://jengjeng.matriphe.com/smilies/yahoo_bigsmile.gif' alt='&#58;&#68;' class='wp-smiley' width='18' height='18' title='&#58;&#68;' /></p>
<p>Pukul 7.20 kapal yang kami tumpangi sudah melepas tali dan bergerak perlahan meninggalkan dermaga. Mesin diesel berteriak kencang membuat kapal bergetar-getar mengingatkan saya seperti naik bajaj.</p>
<p>Lepas dari Teluk Jakarta, kapal berhenti sejenak. Rupanya ada sampah yang nyangkut di baling-baling. Seorang awak kapal langsung nyebur dengan hanya bercelana kolor dan masker untuk menyingkirkan sampah-sampah ini.</p>
<p>Sepanjang perjalanan yang memakan waktu sekitar 2 jam ini, saya berusaha untuk tidur. Namun entah kenapa hidung saya terasa sangat gatal. Rasanya seperti mau pilek padahal tadi baik-baik saja. Rasa gatal ini begitu mengganggu sehingga selama perjalanan saya tidak bisa tidur.</p>
<p>Bermain hape untuk sekedar update Plurk atau status Facebook? Lah, kan di tengah laut. Mana ada sinyal? Bener-bener mati gaya! <img src='http://jengjeng.matriphe.com/smilies/yahoo_waiting.gif' alt='&#58;&#45;&#119;' class='wp-smiley' width='23' height='18' title='&#58;&#45;&#119;' /></p>
<p>Menjelang sampai tujuan, anak buah kapal menarik ongkos. Per orang ditarik ongkos 30 rebu rupiah. Herannya, rasa gatal di hidung tadi juga tiba-tiba lenyap beberapa saat sebelum kapal merapat di dermaga.</p>
<p>Kepulauan Seribu sendiri sebenernya merupakan sebuah Kabupaten Administrasi yang terbagi dalam dua kecamatan, Kepulauan Seribu Selatan dan Kecamatan Kepulauan Seribu Utara.</p>
<p>Di sebagian wilayah di Kepulauan Seribu, terutama di utara, terdapat zona konservasi alam yang disebut dengan Taman Nasional Kepulauan Seribu dengan luas mencapai 100.000 hektar lebih yang terdiri atas 44 buah pulau dan perairan di sekitarnya.</p>
<p>Kami akan turun di Pulau Pramuka, yang menjadi pusat pemerintahan Kabupaten Administrasi Kepulauan Seribu. Karena Pulau Pramuka adalah pusat kota, tentu lebih mudah dalam menemukan penginapan atau penyedia makanan. Apalagi kami sama sekali buta dan belum tau akan ngapain.</p>
<p>Dinamakan Pulau Pramuka, karena dulu pulau ini kotor dan tak terurus. Kemudian beberapa rombongan pramuka datang ke pulau ini dan membersihkan pulau ini. Untuk menghormati jasa para pramuka ini lah pulau ini dinamakan Pulau Pramuka.</p>
<p>Dari seorang peserta trip dari sebuah milis yang berada dalam satu kapal dengan kami tadi, kami mendapat informasi perkiraan biaya yang akan kami keluarkan, terutama untuk masalah penginapan dan transportasi.</p>
<p><img src="http://jengjeng.matriphe.com/wp-content/uploads/2009/07/dermaga-p-pramuka.jpg" alt="Dermaga Pulau Pramuka" title="Dermaga Pulau Pramuka" width="350" height="263" class="alignnone size-full wp-image-1323" /></p>
<p>Begitu tiba di Pulau Pramuka, kami segera mencari penginapan. Karena akhir pekan, hampir semua penginapan penuh. Setelah bertanya-tanya, akhirnya kami sampai di kantor Taman Nasional Kepulauan Seribu yang berada di bagian timur Pulau Pramuka.</p>
<p>Kawasan kantor ini rupanya menyewakan wisma seharga 300 ribu per malam. Kami mendapat wisma bernama Bruguiera, salah satu nama genus dari tanaman Bakau. </p>
<p>Wisma ini rupanya sering dipakai oleh para peneliti atau mereka yang melakukan riset di Taman Nasional Kepulauan Seribu. Beberapa orang nampak sedang berdiskusi dalam kelompok. Kantor ini juga menyewakan peralatan scuba dan snorkeling dengan harga 35 ribu rupiah sekali sewa.</p>
<p>Sebenernya tempat ini cukup nyaman, namun bapak penjaga yang kurang ramah membuat kami sedikit malas berada di sekitaran kantor ini. <img src='http://jengjeng.matriphe.com/smilies/yahoo_bigsmile.gif' alt='&#58;&#68;' class='wp-smiley' width='18' height='18' title='&#58;&#68;' /></p>
<p>Setelah beristirahat sejenak dan menaruh backpack, kami pun berkeliling untuk mengenali pulau. Kami menuju pantai timur yang jaraknya cuma selemparan cawat dari tempat kami menginap. Di pantai yang dilindungi karang sejauh sekitar 500 meter ini dibudidayakan tanaman Mangrove.</p>
<p><img src="http://jengjeng.matriphe.com/wp-content/uploads/2009/07/mangrove.jpg" alt="Tanaman Mangrove" title="Tanaman Mangrove" width="350" height="263" class="alignnone size-full wp-image-1321" /></p>
<p>Tak jauh dari kantor penginapan, kami melihat lokasi penangkaran Penyu Sisik (<em>Eretnochelys imbricata</em>). Di lokasi ini, penyu ditetaskan dari telur, kemudian ditangkarkan hingga cukup dewasa. Setelah dewasa, penyu-penyu ini kemudian dilepas lagi di laut.</p>
<p>Warna dan bentuk cangkang dari penyu ini unik, berbentuk seperti sisik yang bertumpuk teratur. Di bagian tepi sedikit tajam sehingga bila ndak berhati-hati memegangnya, tangan bisa terluka.</p>
<p><img src="http://jengjeng.matriphe.com/wp-content/uploads/2009/07/memegang-tukik.jpg" alt="Bermain bersama tukik Penyu Sisik" title="Bermain bersama tukik Penyu Sisik" width="200" height="267" class="alignright size-full wp-image-1322" /></p>
<p>Saya tertarik dengan sebuah ember besar berisi tukik-tukik. Saya pun mencelupkan tangan saya ke air dan tukik-tukik itu langsung mengerubungi tangan saya sehingga saya kegelian.</p>
<p>Tiba-tiba kelingking kanan saya merasa seperti dicubit. Ternyata seekor tukik menggigit kelingking saya dengan mulut mungilnya yang berbentuk seperti paruh burung.</p>
<p>Seekor penyu besar dengan cangkang yang bengkok berusaha menarik perhatian kami dengan menyiprat-nyipratkan air menggunakan kakinya. Setelah  kami datang melihat dan mengelus-elusnya, si penyu pun diam dan pasang tampang manja. <img src='http://jengjeng.matriphe.com/smilies/yahoo_bigsmile.gif' alt='&#58;&#68;' class='wp-smiley' width='18' height='18' title='&#58;&#68;' /></p>
<p><img src="http://jengjeng.matriphe.com/wp-content/uploads/2009/07/penyu-sisik.jpg" alt="Bermain bersama Penyu Sisik (Eretnochelys imbricata)" title="Bermain bersama Penyu Sisik (Eretnochelys imbricata)" width="350" height="263" class="alignnone size-full wp-image-1318" /></p>
<p>Kami meneruskan penjelajahan. Kami memasuki pemukiman penduduk. Jalan berpaving blok selebar 2 meter membuat pemukiman terlihat tertata rapih.</p>
<p>Sorak anak-anak bermain di tengah jalan pun mewarnai siang itu. Tanpa khawatir tertabrak kendaraan, karena memang jarang ada kendaraan bermotor, mereka berlari-lari sesukanya.</p>
<p><img src="http://jengjeng.matriphe.com/wp-content/uploads/2009/07/suasana-p-pramuka.jpg" alt="Suasana di Pulau Pramuka" title="Suasana di Pulau Pramuka" width="350" height="263" class="alignnone size-full wp-image-1319" /></p>
<p>Listrik memang hanya nyala mulai pukul 4 sore hingga 7 pagi. Beberapa generator diesel tampak di beberapa sudut sebagai pembangkit listrik yang sepertinya diset secara otomatis.</p>
<p>Pantas saja anak-anak itu bermain di luar karena di rumah tidak bisa menonton televisi. <img src='http://jengjeng.matriphe.com/smilies/yahoo_giggle.gif' alt='&#59;&#41;&#41;' class='wp-smiley' width='18' height='18' title='&#59;&#41;&#41;' /></p>
<p>Sayup-sayup terdengar suara musik pop ST12 yang makin lama makin nyaring. Rupanya lagu itu berasal dari sebuah ojek motor yang mempunyai rute berkeliling pulau.</p>
<p>Ojek ini cukup unik. Terbuat dari sepeda motor roda tiga yang biasa digunakan untuk mengangkut barang yang dimodifikasi sehingga bisa digunakan untuk mengangkut penumpang. Di bagian depan dipasang radio-tape yang memutar musik dengan kencang.</p>
<p><img src="http://jengjeng.matriphe.com/wp-content/uploads/2009/07/ojek-motor.jpg" alt="Ojek motor" title="Ojek motor" width="350" height="263" class="alignnone size-full wp-image-1317" /></p>
<p>Puas berkeliling kampung, kami menuju dermaga. Kami bingung hendak ke mana lagi. Tiba-tiba kami melihat rombongan yang akan pergi snorkeling. Kami pun minta izin untuk ikut dengan mereka dan untungnya diizinkan. <img src='http://jengjeng.matriphe.com/smilies/yahoo_bigsmile.gif' alt='&#58;&#68;' class='wp-smiley' width='18' height='18' title='&#58;&#68;' /></p>
<p>Dengan menyewa peralatan snorkeling seharga 35 ribu yang terdiri dari mask, snorkel, fin, dan lifevest, kami pun segera berangkat ke pulau yang dekat, yaitu Pulau Karya, yang terletak di sebelah utara Pulau Panggang.</p>
<p>Dengan menggunakan ojek kapal antar pulau dengan ongkos 3 ribu per orang sekali jalan, kami berangkat. Untuk snorkeling sebenernya lebih oke ke Pulau Sepa tapi karena ongkos sewa perahu yang mahal, 300 rebu (carter) dan jarak yang jauh, kami memilih yang dekat-dekat aja.</p>
<p><img src="http://jengjeng.matriphe.com/wp-content/uploads/2009/07/ojek-kapal.jpg" alt="Ojek Kapal" title="Ojek Kapal" width="350" height="263" class="alignnone size-full wp-image-1316" /></p>
<p>Ojek kapal ini merupakan sarana transportasi masyarakat untuk berpindah dari pulau satu ke pulau lain. Biasanya sih antara Pulau Pramuka dan Pulau Panggang.</p>
<p>Setiba di Pulau Karya, kami pun mengelilingi pulau ini dulu sembari mencari lokasi yang oke untuk snorkeling. Ada beberapa spot yang menarik, namun sayang banyak sekali Bulu Babi di dalamnya sehingga menjadi berbahaya.</p>
<p>Kami memutuskan untuk snorkeling dan bermain air di sekitar dermaga sebelah selatan Pulau Karya. Kedalamannya cukup dan Bulu Babi tak begitu banyak. Setelah mengenakan peralatan kami pun nyebur.</p>
<p>Ada beberapa insiden menyebalkan ketika kami snorkeling. Pas sedang enak-enaknya, tiba-tiba sebuah bungkusan putih yang ternyata popok berisi kotoran mengapung dengan tanpa dosa di hadapan kami. Sontak kami pun berenang menjauh. Kemungkinan benda itu berasal dari sampah yang dibuang oleh penduduk Pulau Panggang.</p>
<p>Begitu juga ketika saya sedang asyik mengamati segerombolan ikan yang berenang dan melewati saya, tiba-tiba sebungkus plastik Indomie nyelonong ke dalam kerumunan ikan dan merusak suasana. Kampret!!</p>
<p>Tiba-tiba beberapa rekan menjerit dan berteriak. Mereka bilang ada sesuatu yang menusuk-nusuk badan mereka. Panik, beberapa di antaranya menepi dan mentas.</p>
<p>Saya pun akhirnya merasakan juga. Clekit-clekit, badan serasa ditusuk-tusuk jarum. Apa ini?! </p>
<p>Awalnya kami mengira ini adalah ulah Bulu Babi, tapi setelh dipikir-pikir tidak mungkin karena Bulu Babi berada di dasar laut dan tidak bisa berenang.</p>
<p>Kami baru tau bahwa ini ulah salah satu jenis ubur-ubur yang karena saking kecil dan transparannya hingga tidak terlihat, yang menyengat. Oh, pantas! Untungnya tidak beracun dan hanya menimbulkan rasa gatal-gatal saja.</p>
<p>Sekitar 2 jam kami puas snorkeling, kami memutuskan untuk mengakhiri. Kami kembali ke Pulau Pramuka dengan menggunakan ojek perahu.</p>
<p><img src="http://jengjeng.matriphe.com/wp-content/uploads/2009/07/berfoto-sebelum-snorkeling.jpg" alt="Berfoto di dermaga Pulau Karya" title="Berfoto di dermaga Pulau Karya" width="350" height="263" class="alignnone size-full wp-image-1313" /></p>
<p>Menjelang senja dan setelah membersihkan diri, kami bertiga menikmati suasana di dermaga. Karena dorongan cacing perut, kami berencana mencari makan sekalian. Apalagi sejak pagi kami belom makan.</p>
<p>Dengan menggunakan ojek perahu, kami menyeberang ke Nusa Cafe, sebuah restoran yang berada di tengah laut dan membudidayakan ikan-ikannya di dalam keramba. Restoran ini dikenal dengan restoran keramba.</p>
<p>Sayangnya, menu seafood yang ada di restoran ini kurang lengkap. Cumi, kepiting, atau kerang tidak ada, kebanyakan berupa ikan. Mungkin karena budidaya cumi, kerang, dan kepiting tidak dapat dilakukan di dalam keramba? <img src='http://jengjeng.matriphe.com/smilies/yahoo_bigsmile.gif' alt='&#58;&#68;' class='wp-smiley' width='18' height='18' title='&#58;&#68;' /></p>
<p><img src="http://jengjeng.matriphe.com/wp-content/uploads/2009/07/nusa-cafe-karamba.jpg" alt="Nusa Cafe" title="Nusa Cafe" width="350" height="263" class="alignnone size-full wp-image-1315" /></p>
<p>Karena Fame ultah hari itu, kami bertiga merayakan ultah Fame di resto itu. Met ultah, Fame! <img src='http://jengjeng.matriphe.com/smilies/yahoo_party.gif' alt='&#60;&#58;&#45;&#112;' class='wp-smiley' width='38' height='18' title='&#60;&#58;&#45;&#112;' /></p>
<p>Keesokan harinya, kami berencana hendak mengeksplorasi lebih lanjut Pulau Pramuka dan Pulau Panggang.</p>
<p>Kami berkeliling menyusuri pesisir Pulau Pramuka berjalan ke selatan. Makin ke selatan, pemukiman makin sedikit. Kami juga menemukan lokasi penangkaran dan budidaya terumbu karang. Karang-karang ini dibudidayakan dengan cara transplantasi.</p>
<p>Di dalam bak-bak terdapat beberapa induk terumbu karang yang akan dipotong beberapa cabangnya. Di bak-bak yang lain terdapat anakan karang yang sudah ditanam dalam substrat beton. Di luar, terdapat rangka beton yang digunakan untuk &#8220;menanam&#8221; terumbu karang ini nampak tersusun rapi.</p>
<p>Puas mengelilingi Pulau Pramuka, kami berpindah ke Pulau Panggang dengan menggunakan ojek perahu. Pulau Panggang adalah pulau dengan kepadatan penduduk paling tinggi di kabupaten ini.</p>
<p>Benar saja, terlihat dari bentuk pemukimannya, mengingatkan saya akan pemukiman serupa di beberapa sudut Jakarta yang kumuh, hanya ditambahi kapal yang tertambat. <img src='http://jengjeng.matriphe.com/smilies/yahoo_bigsmile.gif' alt='&#58;&#68;' class='wp-smiley' width='18' height='18' title='&#58;&#68;' /></p>
<p><img src="http://jengjeng.matriphe.com/wp-content/uploads/2009/07/sudut-p-panggang.jpg" alt="Salah satu sudut Pulau Panggang" title="Salah satu sudut Pulau Panggang" width="350" height="263" class="alignnone size-full wp-image-1325" /></p>
<p>Bila diperhatikan, bangunan-bangunan rumah penduduk ini pondasinya menggunakan batu-batu karang. Pasir yang digunakan untuk menyemen pun adalah pasir pantai yang terdiri dari pecahan karang. </p>
<p>Kami berjalan menuju ke selatan. Kami menemukan kompleks makam kecil yang terletak persis di tepi pantai dinaungi pohon cemara.</p>
<p>Seorang bapak nampak sibuk membongkar bangkai kapal yang teronggok di pinggir pantai. &#8220;Mau diambil besinya. Lumayan buat dikilokan&#8221;, begitu katanya ketika saya tanya.</p>
<p><img src="http://jengjeng.matriphe.com/wp-content/uploads/2009/07/pantai-p-panggang.jpg" alt="Pantai di Pulau Panggang" title="Pantai di Pulau Panggang" width="350" height="263" class="alignnone size-full wp-image-1326" /></p>
<p>Memandang pantai dengan warna air laut tosca-biru memang menyenangkan. Ditambah sepoi-sepoi angin membuat mata menjai ngantuk. Kalo saja kami tidak ingat jadwal kapal terakhir menuju Muara Angke, kami pasti sudah terlelap.</p>
<p>Benar saja, ketika kami kembali dari Pulau Panggang, KM Cinta Alam yang akan membawa kami kembali ke Muara Angke sudah merapat. Dermaga juga sudah dipenuhi calon penumpang yang juga hendak kembali.</p>
<p>Dengan sedikit panik kami segera berkemas seadanya. Dari penginapan kami berlari-lari kecil karena takut ketinggalan kapal karena kapal ini satu-satunya yang membawa kami ke Muara Angke. Untung ketika kami sampai kami masih bisa naik walau tempat sudah sangat penuh.</p>
<p>Perjalanan pulang memakan waktu lebih lama. Selain karena ombak sedang besar, kapal ini juga mampir sebentar di Pulau Untung Jawa sebelum merapat ke Muara Angke.</p>
<p>Memasuki Teluk Jakarta, warna laut yang semula biru berubah menjadi berwarna coklat. Ah, rasanya liburan saya berlalu dengan sangat cepat.</p>
<p>Begitu menjejakkan kaki di dermaga Muara Baru, Muara Angke dan disambut oleh bau khasnya, saya cuma tersenyum kecut. </p>
<p>Welcome to Jakarta! <img src='http://jengjeng.matriphe.com/smilies/yahoo_sighing.gif' alt='&#58;&#45;&#60;' class='wp-smiley' width='24' height='18' title='&#58;&#45;&#60;' /></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://jengjeng.matriphe.com/jeng-jeng-pulau-pramuka-kepulauan-seribu.html/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>60</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Perkampungan Budaya Betawi Situ Babakan</title>
		<link>http://jengjeng.matriphe.com/perkampungan-budaya-betawi-situ-babakan.html</link>
		<comments>http://jengjeng.matriphe.com/perkampungan-budaya-betawi-situ-babakan.html#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 22 Jun 2009 22:57:13 +0000</pubDate>
		<dc:creator>matriphe</dc:creator>
				<category><![CDATA[Destinasi]]></category>
		<category><![CDATA[Festival, Seni, Budaya]]></category>
		<category><![CDATA[betawi]]></category>
		<category><![CDATA[Jakarta]]></category>
		<category><![CDATA[kampung]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://jengjeng.matriphe.com/?p=1290</guid>
		<description><![CDATA[Bulan Juni merupakan bulan ulang tahun Jakarta. Biasanya banyak acara yang diadakan untuk menyambut ulang tahun Jakarta ini. Acara tahunan yang biasanya diadakan adalah Jakarta Fair yang diselenggarakan di Arena Pekan Raya Jakarta (PRJ) Kemayoran. Bila bosan dengan acara Jakarta Fair yang itu-itu saja, ada sebuah tempat wisata alternatif untuk melihat lebih dekat kebudayaan asli [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><img src="http://jengjeng.matriphe.com/wp-content/uploads/2009/06/rumah-betawi.jpg" alt="Perkampungan Budaya Betawi" title="Perkampungan Budaya Betawi" width="350" height="263" class="alignnone size-full wp-image-1294" /></p>
<p>Bulan Juni merupakan bulan ulang tahun Jakarta. Biasanya banyak acara yang diadakan untuk menyambut ulang tahun Jakarta ini. Acara tahunan yang biasanya diadakan adalah <a href="http://www.jakartafair.biz/" title="Jakarta Fair" target="_blank">Jakarta Fair</a> yang diselenggarakan di Arena Pekan Raya Jakarta (PRJ) Kemayoran.</p>
<p>Bila bosan dengan acara Jakarta Fair yang itu-itu saja, ada sebuah tempat wisata alternatif untuk melihat lebih dekat kebudayaan asli Betawi, yaitu Perkampungan Budaya Betawi Situ Babakan, yang terletak di Kelurahan Srengseng Sawah, Kecamatan Jagakarsa, Jakarta Selatan.</p>
<p><span id="more-1290"></span>Situ Babakan sendiri sebenernya nama sebuah danau buatan yang luasnya mencapai 32 hektar. Namun karena letak perkampungan ini sangat dekat dengan danau ini, orang lebih mengenal perkampungan ini dengan nama Situ Babakan.</p>
<p>Lokasi yang diresmikan menjadi kawasan wisata cagar budaya pada bulan Desember 2001 ini menggantikan perkampungan Betawi di Condet, Jakarta Timur, yang tergerus zaman.</p>
<p>Di kawasan ini kita bisa melihat kehidupan masyarakat Betawi asli lengkap dengan tradisi dan keseniannya, mulai dari bentuk arsitektur rumah, makanan khas, hingga kesenian ada semua di sini.</p>
<p>Saya menuju ke kawasan ini dengan menggunakan bus Kopaja S.616 jurusan Blok M-Pasar Minggu-Cipedak dan turun tepat di gerbang utama yang diberi nama Gerbang Bang Pitung.</p>
<p><img src="http://jengjeng.matriphe.com/wp-content/uploads/2009/06/gerbang-bang-pitung.jpg" alt="Gerbang I Bang Pitung" title="Gerbang I Bang Pitung" width="350" height="263" class="alignnone size-full wp-image-1295" /></p>
<p>Dari pintu gerbang ini saya berjalan kaki melalui jalan Moh. Kahfi II yang berpaving-blok sejauh kurang lebih 300 meter untuk mencapai danau, kemudian dilanjutkan dengan berjalan lagi sejauh 300 meter dari danau untuk mencapai Perkampungan Budaya Betawi.</p>
<p>Rumah-rumah di sekitar tempat ini sebagian besar berarsitektur Betawi. Memang ada aturan kepada warga di sini untuk membentuk rumahnya dengan arsitektur Betawi. Bahkan ketika saya mampir di masjid At-Taubah untuk melakukan sholat, saya terkagum-kagum dengan arsitektur masjid yang juga bercorak Betawi.</p>
<p>Mungkin karena akhir pekan, kawasan ini sangat ramai. Motor yang kebanyakan berisi pasangan muda-mudi banyak lalu lalang. Di lapangan tanah saya melihat anak-anak kecil sedang bermain sepak bola seperti melontarkan saya ke sisi lain Jakarta yang lebih membumi.</p>
<p>Saya pun mencapai danau. Wuih, rame banget! Para pengunjung pun terlihat asyik menikmati pemandangan danau yang bersih ini. Di tengah danau rupanya ada orang sedang bermain kano dan di pinggir-pinggir danau tampak beberapa orang sedang memancing.</p>
<p>Pengunjung juga bisa menyewa perahu bebek yang harus dikayuh untuk menggerakannya. Ongkosnya lima ribu rupiah per orang.</p>
<p>Berbagai makanan dan jajanan khas Betawi banyak dijajakan di sini. Hampir setiap 5 meter saya menemukan penjual Kerak Telor. Selain Kerak Telor, makanan lain yang bisa dijumpai adalah Soto Betawi, Bir Pletok, Roti Buaya, Dodol Betawi, dan lain sebagainya.</p>
<p><img src="http://jengjeng.matriphe.com/wp-content/uploads/2009/06/penjual-kerak-telor.jpg" alt="Penjual kerak telor" title="Penjual kerak telor" width="350" height="263" class="alignnone size-full wp-image-1293" /></p>
<p>Konon Roti Buaya merupakan salah satu syarat makanan yang harus ada pada upacara penganten Betawi. Buaya sendiri merupakan hewan yang paling setia. Mungkin sikap kesetiaan inilah yang disimbolkan dalam Roti Buaya yang disuguhkan pas acara penganten. <img src='http://jengjeng.matriphe.com/smilies/yahoo_bigsmile.gif' alt='&#58;&#68;' class='wp-smiley' width='18' height='18' title='&#58;&#68;' /></p>
<p>Selain makanan, saya juga menemukan penjual suvenir lucu dan unik. Kaos-kaos bergaya Betawi dan bergambar wajah legenda Betawi, alamarhum Benyamin S. juga dijual di sini. Lantunan lagu <em>Kompor Mleduk</em> yang dinyanyikan Bang Ben lantang terdengar dari VCD player yang diputar dari lapak penjual VCD lagu-lagu Bang Ben.</p>
<p>Untuk masuk kawasan ini gratis, hanya saja bagi pengguna motor akan diminta membayar biaya parkir sebesar seribu rupiah.</p>
<p>Sayang sekali jalanan paving blok hanya berakhir hingga ke danau. Mungkin jalan menuju ke kawasan perkampungan budaya ini masih dalam tahap pembangunan karena ketika saya ke sana, jalanan masih rusak berbatu.</p>
<p>Ndak berapa lama, saya pun sampai di gerbang perkampungan budaya. Sebuah tangga pendek dengan sebuah gerbang menyambut saya. Di sekitar gerbang nampak beberapa pemuda berpakaian hitam-hitam plus peci dengan berkalung kain sarung di leher ala si Pitung.</p>
<p><img src="http://jengjeng.matriphe.com/wp-content/uploads/2009/06/gerbang-kampung.jpg" alt="Gerbang perkampungan budaya" title="Gerbang perkampungan budaya" width="350" height="263" class="alignnone size-full wp-image-1296" /></p>
<p>Ada beberapa rumah yang berada di kompleks ini. Semuanya bercorak Betawi modern, karena rumah asli Betawi semua terbuat dari kayu, sedangkan rumah Betawi modern sudah menggunakan semen.</p>
<p>Rumah-rumah Betawi ini sebenernya ndak jauh berbeda dengan rumah Joglo. Rumah-rumah ini terbagi menjadi 3 bagian, yaitu wilayah publik (beranda untuk menerima tamu), wilayah semi publik (ruang keluarga), dan wilayah privat (kamar tidur dan dapur).</p>
<p>Ciri masyarakat Betawi yang terbuka dan gemar bergaul dituangkan dalam bentuk beranda rumah yang dipakai untuk menerima tamu. Seperangkat meja-kursi kecil nampak tertata rapi di beranda. Di beberapa rumah nampak juga sebuah lincak lebar yang kadang juga dipakai untuk menerima tamu, umumnya tamu yang sudah dekat semacam kerabat.</p>
<p>Duduk di atas lincak ini mengingatkan saya adegan Bang Benyamin yang suka tiduran di atas lincak bambu di sinetron Si Doel Anak Sekolahan.</p>
<p><img src="http://jengjeng.matriphe.com/wp-content/uploads/2009/06/lincak-betawai.jpg" alt="Lincak Betawi" title="Lincak Betawi" width="350" height="263" class="alignnone size-full wp-image-1291" /></p>
<p>Karena semua rumah yang ada di kompleks ini adalah rumah pribadi, saya ndak dapat masuk lebih ke dalam dan cuma bisa masuk sampai beranda.</p>
<p>Bila memperhatikan, pola-pola ornamen dan hiasan yang ada di rumah-rumah Betawi ini sangat terpengaruh dari berbagai corak, yaitu Arab, Portugis, Cina dan Belanda.</p>
<p>Bentuk pintu dan jendela berdaun sirip-sirip horisontal merupakan pola khas yang ada di rumah Betawi. Daun jendela yang dibuka ke samping kanan-kiri dengan teralis kayu bulat bertirai separo di bagian dalam, selalu ada di samping kanan dan kiri rumah.</p>
<p>Di beberapa rumah yang memiliki halaman cukup luas, berbagai pohon buah yang tumbuh di halaman juga menjadi ciri khas rumah Betawi. Pohon belimbing, nangka, rambutan, melinjo, duku, kecapi, jambu air, bisa ditemui di beberapa halaman rumah.</p>
<p><img src="http://jengjeng.matriphe.com/wp-content/uploads/2009/06/nemplok.jpg" alt="Nemplok di pohon belimbing" title="Nemplok di pohon belimbing" width="350" height="263" class="alignnone size-full wp-image-1292" /></p>
<p>Sayang sekali, saya melihat beberapa motor nampak parkir seenaknya sehingga menggangu kerapihan yang ada. </p>
<p>Di kawasan ini terdapat sebuah panggung yang sering dipakai untuk pertunjukkan seni, mulai dari tari-tarian, pencak silat, Lenong, Gambang Kromong, dan Topeng Betawi, setiap hari Minggu jam 2 siang sampai jam 5 sore. Pada hari-hari tertentu, wisatawan juga bisa melihat latihan tari anak-anak dan remaja.</p>
<p>Karena saya datang kesorean, saya kelewatan berbagai acara seni yang menarik tersebut. <img src='http://jengjeng.matriphe.com/smilies/yahoo_sad.gif' alt='&#58;&#40;' class='wp-smiley' width='18' height='18' title='&#58;&#40;' /></p>
<p>Pada bulan-bulan tertentu, terutama bulan Juli, wisatawan bisa melihat ritual budaya seperti upacara pernikahan, akekahan, sunatan, khataman Quran, dan sebagainya.</p>
<p>Perkampungan ini juga terbuka bagi wisatawan yang hendak menginap dan merasakan kehidupan masyarakat Betawi. Ada sekitar 67 homestay (rumah penduduk) yang siap ditinggali wisatawan. Bahkan pada bulan Ramadhan, wisatawan juga bisa merasakan suasana berpuasa hingga Lebaran di kampung ini.</p>
<p><img src="http://jengjeng.matriphe.com/wp-content/uploads/2009/06/lompat.jpg" alt="Perkampungan Budaya Betawi keren!" title="Perkampungan Budaya Betawi keren!" width="350" height="263" class="alignnone size-full wp-image-1297" /></p>
<p>Namun ada satu hal yang menjadi pemikiran saya. Mengingat lokasi yang cukup &#8220;terpencil&#8221; ini, apakah ini menandakan bahwa masyarakat Betawi mulai &#8220;tersingkir&#8221; dari kawasan pusat Kota Jakarta yang makin dipadati oleh pendatang, sehingga harus &#8220;dikumpulkan&#8221; di suatu kawasan? <img src='http://jengjeng.matriphe.com/smilies/yahoo_think.gif' alt='&#58;&#45;&#63;' class='wp-smiley' width='18' height='18' title='&#58;&#45;&#63;' /></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://jengjeng.matriphe.com/perkampungan-budaya-betawi-situ-babakan.html/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>53</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Suaka Margasatwa Muara Angke, Hutan Mangrove Terakhir Jakarta</title>
		<link>http://jengjeng.matriphe.com/suaka-margasatwa-muara-angke-hutan-mangrove-terakhir-jakarta.html</link>
		<comments>http://jengjeng.matriphe.com/suaka-margasatwa-muara-angke-hutan-mangrove-terakhir-jakarta.html#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 26 May 2009 11:28:17 +0000</pubDate>
		<dc:creator>matriphe</dc:creator>
				<category><![CDATA[Destinasi]]></category>
		<category><![CDATA[Flora & Fauna]]></category>
		<category><![CDATA[Jakarta]]></category>
		<category><![CDATA[mangrove]]></category>
		<category><![CDATA[Muara Angke]]></category>
		<category><![CDATA[Suaka Margasatwa]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://jengjeng.matriphe.com/?p=1232</guid>
		<description><![CDATA[Mungkin ndak banyak yang tahu bahwa Jakarta mempunyai suaka margasatwa yang sekaligus menjadi hutan mangrove dan lahan basah yang menjadi benteng terakhir untuk melawan abrasi. Walau suaka margasatwa yang terletak berdampingan dengan kawasan pemukiman elit Pantai Indah Kapuk ini merupakan suaka margasatwa terkecil di Indonesia, Suaka Margasatwa Muara Angke memiliki sekitar 30 jenis vegetasi berupa [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><img src="http://jengjeng.matriphe.com/wp-content/uploads/2009/05/suaka-margasatwa-muara-angk.jpg" alt="Di Suaka Margastwa Muara Angke" title="Di Suaka Margastwa Muara Angke" width="350" height="263" class="alignnone size-full wp-image-1239" /></p>
<p>Mungkin ndak banyak yang tahu bahwa Jakarta mempunyai suaka margasatwa yang sekaligus menjadi hutan mangrove dan lahan basah yang menjadi benteng terakhir untuk melawan abrasi.</p>
<p>Walau suaka margasatwa yang terletak berdampingan dengan kawasan pemukiman elit Pantai Indah Kapuk ini merupakan suaka margasatwa terkecil di Indonesia, Suaka Margasatwa Muara Angke memiliki sekitar 30 jenis vegetasi berupa mangrove dan tumbuhan lainnya, 91 jenis burung air dan burung hutan, serta satwa lain seperti monyet dan biawak.</p>
<p><span id="more-1232"></span>Bersama <a href="http://www.facebook.com/profile.php?id=643418838" title="Taufiq Ismail" target="_blank">Tupic</a>, <a href="http://www.facebook.com/profile.php?id=1577900179" title="Wahyu Ardi Kurniawan" target="_blank">Didit</a>, <a href="http://www.facebook.com/profile.php?id=531469679" title="Arsyad M Fajri" target="_blank" target="_blank">Aad</a>, <a href="http://www.facebook.com/profile.php?id=1320197433" title="Cornila Desyana" target="_blank">Nila</a>, dan <a href="http://www.facebook.com/profile.php?id=1074934683" title="Widi Astuti Ari Setiyaningsih" target="_blank">Widi</a>, saya berkesempatan mengunjungi suaka margasatwa yang sejak tahun 1939 sudah diresmikan oleh pemerintah Hindia Belanda ini.</p>
<p>Menuju lokasi yang secara administratif terletak di wilayah Kelurahan Kapuk Muara, Kecamatan Penjaringan, Jakarta Utara ini cukup mudah dijangkau dengan kendaraan umum.</p>
<p>Dari terminal Blok M, kami naik bus PPD 37 jurusan Blok M-Muara Angke yang cuma berhenti sampai Mega Mall Pluit. Dari depan Mega Mall ini, kami naik angkot merah U11 dan turun di perempatan gerbang masuk Pantai Indah Kapuk.</p>
<p>Kemudian kami berjalan masuk ke arah PIK, melewati gerbang dan setelah menyeberang Sungai Angke berbelok ke kanan menyusuri trotoar di seberang kompleks ruko Mediterania Niaga. Gerbang Suaka Margasatwa Muara Angke terletak sekitar 300 meter dari jembatan ini.</p>
<p>Selain dari Blok M, bisa juga ditempuh dari Terminal Grogol. Dari Terminal Grogol, naik angkot merah B01 yang mempunyai jurusan Grogol-Muara Angke, kemudian turun di perempatan Pantai Indah Kapuk.</p>
<p><img src="http://jengjeng.matriphe.com/wp-content/uploads/2009/05/gerbang-suaka-margasatwa.jpg" alt="Gerbang Suaka Margasatwa Muara Angke" title="Gerbang Suaka Margasatwa Muara Angke" width="350" height="263" class="alignnone size-full wp-image-1241" /></p>
<p>Di dalam, rupanya rombongan dari <a href="http://www.jgm.or.id/" title="Jakarta Green Monser" target="_blank">Jakarta Green Monster</a> sedang mengadakan acara. Kru TransTV juga nampak sedang melakukan liputan.</p>
<p>Seorang penjaga langsung menyambut kami dengan tatapan yang kurang menyenangkan. Untuk masuk, kami ditanyai mengenai Simaksi (Surat Ijin Masuk Kawasan Konservasi) yang harus dibuat sehari sebelumnya di Departemen Kehutanan. Blah! Apa-apaan ini? <img src='http://jengjeng.matriphe.com/smilies/yahoo_waiting.gif' alt='&#58;&#45;&#119;' class='wp-smiley' width='23' height='18' title='&#58;&#45;&#119;' /></p>
<p>Kami kan cuma berniat berwisata, kenapa harus menggunakan surat ijin? Belum lagi si petugas meminta ongkos untuk penggunaan kamera yang saya rasa tidak masuk akal, 100 ribu rupiah! Udah gitu si petugas meminta uang rokok.</p>
<p>Namun setelah melalui proses negosiasi, kami akhirnya diijinkan masuk juga. Kami bahkan tidak mengeluarkan uang sepeser pun untuk &#8220;uang rokok&#8221;. <img src='http://jengjeng.matriphe.com/smilies/yahoo_tongue.gif' alt='&#58;&#112;' class='wp-smiley' width='18' height='18' title='&#58;&#112;' /></p>
<p>Saya sebenernya lebih sreg kalo ada semacam retribusi, dengan diberi karcis tanda masuk resmi, sehingga uang yang masuk juga jelas. Kalo pun harus ijin, kenapa harus ke Departemen Kehutanan yang lokasinya sangat jauh itu?</p>
<p>Kalo untuk melakukan kegiatan, boleh lah. La kalo cuma pengen berwisata biasa? Kasihan buat yang datang jauh-jauh dan tidak mengetahui adanya aturan Simaksi ini. Minimal dibuatkan Simaksi sementara di tempat gitu.</p>
<p>Namun untuk menghindari masalah, sebelum berkunjung ke tempat-tempat yang termasuk kawasan konservasi semacam cagar alam, suaka margasatwa, dan taman nasional, sebaiknya kita mengurus Simaksi di Departemen Kehutanan, meski hanya berwisata.</p>
<p>Departemen Kehutanan juga sebaiknya memberikan informasi mengenai syarat-syarat dan tata cara mengurus Simaksi ini. Bahkan ketika saya googling, saya belum nemu informasi yang oke mengenai pengurusan Simaksi ini.</p>
<p>Harus diakui, kami cukup beruntung bisa masuk ke sana tanpa Simaksi. Hehehe. <img src='http://jengjeng.matriphe.com/smilies/yahoo_whistling.gif' alt='&#58;&#45;&#34;' class='wp-smiley' width='22' height='18' title='&#58;&#45;&#34;' /></p>
<p>Selesai urusan di pintu masuk dan Simaksi, kami pun mulai meniti jembatan-jembatan kayu yang menjadi track penjelajahan sepanjang kurang lebih 1 km ini. Di awal, track masih rindang karena banyaknya pohon Pidada (<em>Sonneratia caseolaris</em>) yang menaungi. Bila &#8220;beruntung&#8221;, kepala bisa kejatuhan buah Pidada dari atas, jadi berwaspadalah.</p>
<p>Buah Pidada menjadi makanan favorit Monyet Ekor Panjang (<em>Macaca fascicularis</em>) yang merupakan salah satu satwa penghuni suaka margasatwa ini. Pohon Pidada mempunyai ciri akar nafas berbentuk seperti tombak yang menancap ke dalam lumpur dengan air yang memiliki kadar garam rendah.</p>
<p><img src="http://jengjeng.matriphe.com/wp-content/uploads/2009/05/buah-pidada.jpg" alt="Buah Pidada (Sonneratia cesolaris)" title="Buah Pidada (Sonneratia cesolaris)" width="350" height="263" class="alignnone size-full wp-image-1234" /></p>
<p>Buah Pidada berbentuk bulat dengan bagian tengah buah ada semacam tangkai, bila dimakan rasanya masam. Bunga Pidada mekar pada dini hari.</p>
<p>Di kawasan yang masih rimbun ini terdapat pula sebuah menara pengawas yang tampaknya sudah tidak dipakai. Warna coklat karat yang menempel di batang-batang besi mengukuhkan hal ini.</p>
<p>Lepas dari kawasan Pidada, kami memasuki kawasan rawa dengan vegetasi berupa Gelagah (<em>Saccharum spontaneum</em>) dan Eceng Gondok (<em>Eichchornia crassipes</em>). Di kejauhan, terlihat bangunan-bangunan megah pemukiman PIK.</p>
<p>Di tengah track terdapat semacam bangunan untuk beristirahat. Ketika kami tiba, tampak seorang bule yang dari perawakannya saya menduga seorang backpacker, sedang duduk beristirahat.</p>
<p>Dua orang fotografer sedang memotret model wanita yang sedang berpose di atas track kayu. Lokasi ini rupanya juga dipakai untuk pemotretan.</p>
<p>Kami meneruskan perjalanan dan di kejauhan nampak beberapa ekor burung Cangak Abu (<em>Ardea cinerea</em>) sedang terbang dan seekor tampak sedang bertengger yang seolah-olah sedang berdiri di atas permukaan rawa.</p>
<p><img src="http://jengjeng.matriphe.com/wp-content/uploads/2009/05/ardea-cinerea.jpg" alt="Cangak Abu/Grey Heron (Ardea cinerea)" title="Cangak Abu/Grey Heron (Ardea cinerea)" width="350" height="263" class="alignnone size-full wp-image-1233" /></p>
<p>Di tengah penjelajahan, sayup-sayup saya mendengar suara &#8220;koak-koak&#8221; di antara rerimbunan semak. Kemungkinan itu suara burung Kowak Malam Kelabu (<em>Nycticorax nycticorax</em>).</p>
<p>Panas mentari semakin menyengat ditambah bau amis membuat keringat bercucuran dan badan terasa lengket. Setelah melewati area yang banyak ditumbuhi Api-api (<em>Avicennia marina</em>) dan Nipah (<em>Nypa fruticans</em>), kami pun beristirahat sejenak di bawah pohon Pidada besar.</p>
<p>Semilir angin begitu sejuk membuat kami betah berlama-lama duduk ngemper sambil menikmati bekal logistik yang kami bawa. Saya mengamati sekitar dan tampak seekor pelatuk Caladi Ulam (<em>Picoides macei</em>) sedang mematuk-matuk batang Pidada.</p>
<p><img src="http://jengjeng.matriphe.com/wp-content/uploads/2009/05/picoides-macei.jpg" alt="Caladi Ulam/Fulvous-breasted Woodpecker (Picoides macei)" title="Caladi Ulam/Fulvous-breasted Woodpecker (Picoides macei)" width="350" height="263" class="alignnone size-full wp-image-1238" /></p>
<p>Ndak jauh dari situ, nampak burung kecil berwarna kuning, yang sepertinya burung madu Sriganti (<em>Nectarinia jugularis</em>) betina.</p>
<p><img src="http://jengjeng.matriphe.com/wp-content/uploads/2009/05/nectarinia-jugularis-betina.jpg" alt="nectarinia-jugularis-betinaBurung Madu Sriganti/Olive-backed Sunbird (Nectarinia jugularis) betina" title="nectarinia-jugularis-betinaBurung Madu Sriganti/Olive-backed Sunbird (Nectarinia jugularis) betina" width="350" height="263" class="alignnone size-full wp-image-1237" /></p>
<p>Setelah puas ngaso, kami pun beranjak untuk meneruskan perjalanan. Masih didominasi pohon Nipah, kami harus menghalau beberapa daun Nipah yang menutupi jalan hingga kami sampai di ujung jembatan.</p>
<p>Awalnya kami mengira jembatan ini akan mengarah kembali ke gerbang masuk, tapi ternyata tidak. Untuk kembali, kami harus melalui rute yang sama dengan rute kami tadi. Apa boleh buat, kami memang tidak bisa ke mana-mana lagi.</p>
<p>Ketika kami kembali, Widi berteriak karena melihat seekor Biawak (<em>Varanus salvator</em>) kecil sepanjang sekitar 30 cm sedang berenang di atas rawa. Kami pun segera menghampiri dan rupanya si Biawak kecil ini sedang memanjat tiang jembatan kayu. Setelah menungu sebentar, Biawak ini kemudian nongol dan nampak sedang berjemur sebentar.</p>
<p><img src="http://jengjeng.matriphe.com/wp-content/uploads/2009/05/varanus-salvator.jpg" alt="Biawak (Varanus salvator)" title="Biawak (Varanus salvator)" width="350" height="263" class="alignnone size-full wp-image-1240" /></p>
<p>Sepanjang perjalanan, saya masih penasaran dengan kehadiran Monyet Ekor Panjang yang menjadi primadona suaka margasatwa ini. Namun sepanjang perjalanan saya tidak melihatnya.</p>
<p>Monyet yang sering dipakai untuk pertunjukan topeng monyet ini mempunyai peranan penting dalam penyebaran biji-bijian tumbuhan hutan di Suaka Margasatwa Muara Angke melalui fecesnya.</p>
<p><img src="http://jengjeng.matriphe.com/wp-content/uploads/2009/05/bukan-monyet.jpg" alt="Ini bukan Monyet Ekor Panjang (Macaca fascicularis)" title="Ini bukan Monyet Ekor Panjang (Macaca fascicularis)" width="350" height="263" class="alignnone size-full wp-image-1235" /></p>
<p>Mengunjungi Suaka Margasatwa Muara Angke memang menyenangkan. Namun sayangnya pengelolaannya yang kurang maksimal serta ribetnya jalur birokrasi membuat potensi tempat wisata edukasi ini menjadi kurang terekspos.</p>
<p>Beberapa sampah plastik juga menjadi keprihatinan tersendiri. Lokasinya yang memang berdekatan dengan lokasi pemukiman kumuh nelayan Muara Angke menjadikan lokasi ini kerap menjadi penampungan sampah yang mengalir dari Sungai Angke.</p>
<p>Padahal suaka margasatwa ini menjadi lahan basah dan benteng terakhir Jakarta dari ancaman abrasi. <img src='http://jengjeng.matriphe.com/smilies/yahoo_sad.gif' alt='&#58;&#40;' class='wp-smiley' width='18' height='18' title='&#58;&#40;' /></p>
<p><img src="http://jengjeng.matriphe.com/wp-content/uploads/2009/05/jembatan-kayu.jpg" alt="Jembatan kayu di Suaka Margasatwa Muara Angke" title="Jembatan kayu di Suaka Margasatwa Muara Angke" width="350" height="263" class="alignnone size-full wp-image-1236" /></p>
<p>Terima kasih kepada <a href="http://ndobos.com/" title="Pakde Rudyanto" target="_blank">Pakde Mbilung</a> atas bantuan identifikasi beberapa spesies burung yang saya temui. <img src='http://jengjeng.matriphe.com/smilies/yahoo_bigsmile.gif' alt='&#58;&#68;' class='wp-smiley' width='18' height='18' title='&#58;&#68;' /></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://jengjeng.matriphe.com/suaka-margasatwa-muara-angke-hutan-mangrove-terakhir-jakarta.html/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>82</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Museum Bahari: Sejarah Maritim dan Titik 0 Km Jakarta</title>
		<link>http://jengjeng.matriphe.com/museum-bahari-sejarah-maritim-dan-titik-0-km-jakarta.html</link>
		<comments>http://jengjeng.matriphe.com/museum-bahari-sejarah-maritim-dan-titik-0-km-jakarta.html#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 26 Apr 2009 05:04:07 +0000</pubDate>
		<dc:creator>matriphe</dc:creator>
				<category><![CDATA[Destinasi]]></category>
		<category><![CDATA[Museum & Bangunan Bersejarah]]></category>
		<category><![CDATA[Jakarta]]></category>
		<category><![CDATA[museum]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://jengjeng.matriphe.com/?p=1091</guid>
		<description><![CDATA[Ada sebuah pertanyaan menarik yang pernah saya dengar, &#8220;Di manakah letak titik nol kilometer Jakarta?&#8221;. Aha! Pada jeng-jeng saya kali ini, saya mendapatkan wawasan baru mengenai titik nol kilometer Jakarta! Museum Bahari, selain menyimpan cerita sejarah perkembangan maritim dan kelautan Indonesia, rupanya mempunyai cerita lain yang menarik untuk diulik. Bersama Pelabuhan Sunda Kelapa, kawasan ini [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><img src="http://jengjeng.matriphe.com/wp-content/uploads/2009/04/museum-bahari.jpg" alt="Museum Bahari" title="Museum Bahari" width="350" height="263" class="alignnone size-full wp-image-1092" /></p>
<p>Ada sebuah pertanyaan menarik yang pernah saya dengar, &#8220;Di manakah letak titik nol kilometer Jakarta?&#8221;. Aha! Pada jeng-jeng saya kali ini, saya mendapatkan wawasan baru mengenai titik nol kilometer Jakarta!</p>
<p>Museum Bahari, selain menyimpan cerita sejarah perkembangan maritim dan kelautan Indonesia, rupanya mempunyai cerita lain yang menarik untuk diulik. Bersama <a href="http://jengjeng.matriphe.com/index.php/2008/07/28/pelabuhan-sunda-kelapa-cikal-bakal-jakarta.html" title="Pelabuhan Sunda Kelapa, Cikal Bakal Jakarta">Pelabuhan Sunda Kelapa</a>, kawasan ini menjadi titik awal sejarah lahirnya Jakarta.</p>
<p><span id="more-1091"></span>Panas yang menyengat ndak menyurutkan niat saya untuk mengunjungi museum yang terletak di tepi muara Kali Ciliwung, tepatnya di Jalan Pasar Ikan No 1, Sunda Kelapa, Jakarta Utara.</p>
<p>Saya langsung terpukau dengan Menara Syahbandar (<em>Uitkijk Post</em>) yang dibangun pada tahun 1839, yang didirikan di bekas bastion (benteng) <em>Culemborg</em> yang merupakan tembok kota Batavia, ketika menjejakkan kaki di kawasan ini.</p>
<p>Menara setinggi 18 meter, dengan panjang 10 meter dan lebar 6 meter ini ternyata miring! Menurut pengukuran yang dilakukan pada tahun 2001, menara ini memang miring dengan sudut kemiringan 2&deg;15&#8217;54&#8243; ke arah selatan dan 0&deg;15&#8217;58&#8243; ke arah barat.</p>
<p><img src="http://jengjeng.matriphe.com/wp-content/uploads/2009/04/lookup-tower.jpg" alt="Menara Syahbandar" title="Menara Syahbandar" width="200" height="267" class="alignright size-full wp-image-1093" /></p>
<p>Di sekitar menara terdapat 3 bangunan lain, yaitu sebuah gedung yang dulunya dipakai untuk kantor urusan perdagangan, bangunan yang difungsikan sebagai gudang tepat di depan menara, dan bangunan di samping menara yang dulunya digunakan untuk urusan pabean.</p>
<p>Saya masuk ke dalam. Dengan tiket seharga 2 ribu rupiah kita bisa menjelajah museum. Kita bisa membelinya di Menara Syahbandar kemudian tiketnya bisa ditunjukkan ketika kita hendak memasuki bangunan utama museum.</p>
<p>Memasuki menara, tepat di bawah tangga terdapat sebuah prasasti bertulisan Cina. Tulisan ini bila diartikan berbunyi, &#8220;Tempat ini adalah kantor pengukuran dan penimbangan serta di sinilah titik nol Batavia&#8221;. Aha! Inilah jawaban pertanyaan mengenai di manakah titik nol kilometer Batavia!</p>
<p>Namun sekarang titik nol kilometer Jakarta dihitung dari Tugu Monas. Di seputaran fly-over Cawang, juga terdapat titik nol juga, namun titik ini digunakan untuk mengukur kilometer jalan tol.</p>
<p>Dengan melalui anak tangga, saya naik ke atas. Ada 3 ruangan yang ada di dalam menara. Sebuah ruangan di lantai dasar, sebuah ruangan di bagian tengah, dan sebuah ruangan lagi di bagian atas. Di bagian bawah lantai dasar, terdapat ruangan yang dulunya digunakan sebagai penjara.</p>
<p>Dari atas bangunan yang pernah menjadi bangunan tertinggi pada abad ke-18 ini, kita bisa melihat sekeliling dengan leluasa. Barisan perahu-perahu phinisi nampak rapi berderet di Pelabuhan Sunda Kelapa. Kafe Galangan VOC yang memang dulunya merupakan galangan kapal juga nampak dengan jelas.</p>
<p>Ada sebuah tangga kecil yang mengarah ke luar. Saya penasaran dan mencoba menaikinya untuk menuju ke teras di atas atap ini. Entah kenapa ketika berada di atas sini, saya yang biasanya tidak bermasalah dengan ketinggian, tiba-tiba merasa ketakutan. Mungkin  karena ruang yang sempit plus kondisi bangunan yang miring, membuat saya merasa ndak aman.</p>
<p>Di halaman, terdapat sebuah tugu peresmian museum ini. Museum ini diresmikan oleh gubernur Ali Sadikin pada tanggal 7 Juli 1977. Bila dicermati, angka tanggal ini cukup unik, bisa dibaca sebagai 7-7-77!</p>
<p>Pada tugu ini juga terdapat tulisan P126, yang merupakan titik meridian (pertemuan garis bujur dan garis lintang) Kota Jakarta. Selain itu, tugu ini juga didirikan tepat pada ketinggian 0 meter dari permukaan laut.</p>
<p>Dari Menara Syahbandar, saya menuju ke bangunan utama museum. Bau amis dan busuk langsung menyengat. Maklum saja, museum ini terletak persis di samping Pasar Ikan. Saya harus membiasakan diri dengan bau ini, setidaknya selama berada di kawasan museum.</p>
<p>Bangunan utama museum ini dulunya merupakan gudang VOC untuk menyimpan berbagai komoditi. Mulai dari rempah-rempah, pakaian, hingga benda-benda berharga. Pada masa pendudukan Jepang, bangunan ini digunakan untuk gudang penyimpanan senjata. Gedung ini juga pernah dipakai PLN dan PTT setelah Indonesia merdeka sebagai gudang penyimpanan.</p>
<p>Bangunan yang dibangun pada tahun 1652 dan mengalami beberapa kali pemugaran hingga tahun 1759 ini terdiri dari 2 bagian, <em>Westzijdsche Pakhuizen</em> di sebelah barat dan <em>Oostzijdsche Pakhuizen</em> di sebelah timur Kali Ciliwung. Gedung bagian timur tidak dipakai sedangkan gedung barat inilah yang kini dipakai sebagai Museum Bahari.</p>
<p><img src="http://jengjeng.matriphe.com/wp-content/uploads/2009/04/gedung-baru-lama.jpg" alt="Gedung barat dan gedung timur" title="Gedung barat dan gedung timur" width="350" height="263" class="alignnone size-full wp-image-1095" /></p>
<p>Gedung barat ini terdiri atas 2 blok, barat dan timur. Terdapat perbedaan mencolok antara blok barat dan timur. Gedung blok sebelah barat sudah direnovasi dan tampak lebih bagus, sedangkan blok gedung timur belum mendapat renovasi. Semoga saja renovasi ini bisa segera selesai dan bangunan museum menjadi lebih terawat.</p>
<p>Benteng yang mengelilingi gedung ini nampak kokoh walau terlihat renta. Begitu masuk bangunan, saya langsung menjelajah isi museum yang berada di dalam gedung bagian timur. Saya menjelajah sesuai urutan, dari depan kemudian ke atas dan berpindah ke gedung di bagian barat.</p>
<p>Ruangan pertama berisi berbagai panel yang bertuliskan sejarah pelayaran dan perkapalan di Nusantara, kedatangan VOC karena rempah, perkembangan pelabuhan, dan sebagainya. Selain panel-panel, dipamerkan juga berbagai miniatur kapal-kapal yang ada di seluruh penjuru nusantara.</p>
<p>Sebuah sirip kendali kapal dari kayu yang sangat panjang dan miniatur perahu Phinisi Nusantara, perahu tradisional Bugis, menarik perhatian saya di ruangan ini.</p>
<p><img src="http://jengjeng.matriphe.com/wp-content/uploads/2009/04/miniatur-phinisi.jpg" alt="Miniatur Kapal Phinisi Nusantara" title="Miniatur Kapal Phinisi Nusantara" width="350" height="263" class="alignnone size-full wp-image-1096" /></p>
<p>Melanjutkan ke ruangan berikutnya, masih memamerkan berbagai koleksi miniatur perahu-perahu dan kapal-kapal tradisional. Berbagai jenis kapal tradisional dari penjuru nusantara ada di sini. Ada perahu cadik dari Papua, miniatur perahu Phinisi dari Sulawesi, miniatur perahu Mayang dari Indramayu, miniatur perahu Londe dari Sulawesi, dan lain sebagainya.</p>
<p>Yang menarik perhatian saya di ruangan ini adalah adanya replika dari relief yang ada di Candi Borobudur. Relief ini menggambarkan kejayaan bahari pada masa Budha pada abad ke-8 M yang saat itu berpusat di Kerajaan Sriwijaya.</p>
<p>Dalam relief digambarkan sebuah perahu bercadik yang memiliki 2 tiang layar dengan konstruksi 3 kaki (tripod). Perahu ini pernah berlayar menyusuri <a href="http://asiapacificuniverse.com/pkm/spiceroutes.htm" title="The Spice and Cinnamon Route" target="_blank">Jalur Kayu Manis (The Cinnamon Route)</a> sejauh kurang lebih 11.000 mil laut.</p>
<p>Bahkan sebuah perjalanan napak tilas untuk menyusuri rute ini pernah dilakukan pada tahun 2003 oleh putera-putera terbaik Indonesia. Dengan merekonstruksi perahu seperti yang tergambar pada relief Candi Borobudur, 10 orang pemberani ini mengarungi samudera dari Jakarta menuju Ghana, Afrika.</p>
<p><img src="http://jengjeng.matriphe.com/wp-content/uploads/2009/04/replika-cadik-borobudur.jpg" alt="Replika relief Candi Borobudur" title="Replika relief Candi Borobudur" width="350" height="263" class="alignnone size-full wp-image-1097" /></p>
<p>Update info dari <a href="http://wijna.web.id/" title="Mawi Wijna" target="_blank">Mawi Wijna</a>, perahu yang digunakan napak tilas ini berada di Museum Candi Borobudur.</p>
<p>Ruangan berikutnya, selain masih berisi replika perahu juga berisi berbagai perabotan membuat perahu dan kapal kayu. Ada kerangka kayu perahu yang besar, sebuah batang pohon utuh yang dijadikan sebuah perahu, hingga alat-alat pertukangan.</p>
<p>Naik ke atas, di lantai dua saya memasuki ruangan yang memamerkan berbagai peralatan navigasi. Mulai dari miniatur berbagai macam bentuk mercusuar, pelampung rambu-rambu laut, rumah kompas, dan berbagai alat keperluan navigasi lainnya.</p>
<p>Sebuah replika ruang kemudi kapal menarik perhatian saya. Sebuah rumah kompas besar berada di depan kemudi dan di sampingnya terdapat pengendali kecepatan. Sewaktu saya mencoba menarik batang pengendali kecepatan, saya kaget karena ternyata alat tersebut berbunyi dengan nyaring, &#8220;ting! ting! ting!&#8221;.</p>
<p><img src="http://jengjeng.matriphe.com/wp-content/uploads/2009/04/miniatur-kemudi-kapal.jpg" alt="Miniatur kemudi kapal" title="Miniatur kemudi kapal" width="350" height="263" class="alignnone size-full wp-image-1098" /></p>
<p>Selanjutnya saya memasuki ruang biota laut. Seperti namanya, ruangan ini memamerkan beberapa contoh organisme laut. Beberapa merupakan hewan yang diawetkan.</p>
<p>Dari ruangan ini saya memasuki ruangan yang memamerkan berbagai alat untuk menangkap ikan. Mulai dari jala, joran, dan belat bambu. Yang menarik perhatian saya adalah belat bambu.</p>
<p>Belat bambu adalah alat penangkap ikan yang terbuat dari bambu, memiliki sistem pintu masuk searah. Ikan hanya bisa masuk ke dalam tapi tidak bisa keluar. Belat bambu ini dipasang menghadap ke hulu, sehingga ikan yang terbawa arus ke hilir akan masuk dengan mudah.</p>
<p><img src="http://jengjeng.matriphe.com/wp-content/uploads/2009/04/belat-bambu.jpg" alt="Belat Bambu" title="Belat Bambu" width="350" height="263" class="alignnone size-full wp-image-1099" /></p>
<p>Di antara beberapa ruangan terdapat ruang perpindahan di mana terdapat tangga dan terpasang foto-foto yang berhubungan dengan sejarah maritim. Saya tersenyum geli melihat foto jadul yang menggambarkan proses &#8220;pelantikan&#8221; alias perpeloncoan terhadap awak kapal yang baru melintasi garis katulistiwa untuk pertama kalinya. Mereka didandani dengan berbagai atribut yang lucu dan dilantik dalam suatu upacara yang khidmat dan konyol. Ternyata jaman dulu proses plonco itu sudah ada!</p>
<p>Dari ruangan ini saya pun turun dan berpindah ke gedung barat. Di bagian gedung yang sebagian masih kosong karena tahap renovasi, dipamerkan perahu-perahu besar. Perahu-perahu ini memang didatangkan dari berbagai penjuru nusantara.</p>
<p>Salah satu yang membuat saya takjub adalah sebuah perahu bercadik dari Papua yang terbuat dari sebatang pohon utuh yang dilubangi tengahnya. Perahu ini dibawa ke Jakarta pada tahun 1980 dengan cara dilayarkan dan dikemudikan oleh 15 orang secara bergantian sehingga totalnya ada 30 awak. Ketika 15 orang mendayung, 15 orang lainnya beristirahat. Perjalanan mereka dikawal oleh 2 kapal TNI AL dan helikopter selama 3 bulan.</p>
<p>Ukiran perahu ini juga menarik untuk dicermati, dengan relief menggambarkan rangkaian cerita kehidupan sehari-hari masyarakat Papua dan tak lupa hiasan kepala burung Cendrawasih terpasang di ujung-ujungnya. Warna-warna yang digunakan juga berasal dari alam. Warna hitam diperoleh dari tinta cumi-cumi sedangkan warna-warna lain diperoleh dari akar-akar dan dedaunan. Untuk perawatan perahu ini pun, harus dilakukan oleh orang Papua, dengan menggunakan semacam ritual adat.</p>
<p><img src="http://jengjeng.matriphe.com/wp-content/uploads/2009/04/perahu-papua.jpg" alt="Perahu cadik Papua" title="Perahu cadik Papua" width="350" height="263" class="alignnone size-full wp-image-1100" /></p>
<p>Ruangan perahu ini menjadi ruangan terakhir yang saya kunjungi. Berada di halaman di antara dua gedung, saya merasa ndak berada di Jakarta. Bentuk-bentuk arsitektur Eropa yang kental sangat terasa dengan memandang jendela-jendela kayu dengan teralis-teralis besi di dalamnya. Ndak heran kalo pemotretan pre-wedding juga kerap dilakukan di tempat ini.</p>
<p>Namun sayang, bau busuk yang menyengat dan hawa-hawa <em>pliket</em> laut begitu mengurangi kenyamanan. Belum lagi hawa panas yang tak mampu diusir oleh kipas angin yang terpasang di atap.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://jengjeng.matriphe.com/museum-bahari-sejarah-maritim-dan-titik-0-km-jakarta.html/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>38</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Museum Taman Prasasti, Bekas Makam Tertua Batavia</title>
		<link>http://jengjeng.matriphe.com/museum-taman-prasasti-bekas-makam-tertua-batavia.html</link>
		<comments>http://jengjeng.matriphe.com/museum-taman-prasasti-bekas-makam-tertua-batavia.html#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 23 Mar 2009 13:55:32 +0000</pubDate>
		<dc:creator>matriphe</dc:creator>
				<category><![CDATA[Destinasi]]></category>
		<category><![CDATA[Museum & Bangunan Bersejarah]]></category>
		<category><![CDATA[Batavia]]></category>
		<category><![CDATA[Jakarta]]></category>
		<category><![CDATA[museum]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://jengjeng.matriphe.com/?p=1054</guid>
		<description><![CDATA[Berkunjung ke Museum Taman Prasasti, yang terletak di Jl. Tanah Abang 1 No. 1, Jakarta Pusat, rupanya mampu melemparkan saya ke suasana yang sangat berbeda. Museum yang dulunya memang merupakan areal pemakaman kuno pada masa Batavia ini memang memberikan nuansa sepi, sejuk, dan tenang, terutama di tengah hiruk-pikuknya Jakarta. Suasana angker, kumuh, mengerikan, kotor, langsung [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><img src="http://jengjeng.matriphe.com/wp-content/uploads/2009/03/museum-taman-prasasti.jpg" alt="Museum Taman Prasasti" title="Museum Taman Prasasti" width="350" height="263" class="alignnone size-full wp-image-1055" /></p>
<p>Berkunjung ke Museum Taman Prasasti, yang terletak di Jl. Tanah Abang 1 No. 1, Jakarta Pusat, rupanya mampu melemparkan saya ke suasana yang sangat berbeda. Museum yang dulunya memang merupakan areal pemakaman kuno pada masa Batavia ini memang memberikan nuansa sepi, sejuk, dan tenang, terutama di tengah hiruk-pikuknya Jakarta.</p>
<p>Suasana angker, kumuh, mengerikan, kotor, langsung sirna begitu menjejakkan kaki ke areal yang luasnya sekitar 1,3 hektar ini. Memang kesan menakutkan masih sedikit terasa karena berbagai bentuk batu nisan yang berada di lokasi ini.</p>
<p><span id="more-1054"></span>Menuju ke tempat ini sangatlah mudah. Dengan menggunakan TransJakarta, saya turun di halte Monumen Nasional, tepat di depan gedung Museum Nasional (Museum Gajah).</p>
<p>Dari sini, saya berjalan sedikit ke arah utara, menuju ke sebuah jalan kecil di antara gedung Museum Nasional dan Gedung Depkominfo (Jl. Museum) ke arah barat, kemudian menyeberangi Kali Krukut menuju ke utara hingga menemukan Jl. Tanah Abang 1. Jika ogah repot, kita bisa naek ojek dari pertigaan dekat Depkominfo.</p>
<p>Suasana di sekitar sini sangat rapi dan bersih. Trotoar yang cukup lebar membuat saya lebih memilih berjalan kaki menikmati suasana.</p>
<p>Sebelum masuk areal museum, kita akan disambut oleh sebuah bangunan bergaya Doria yang dibangun pada tahun 1844 sebagai gerbang masuk. Di dalam bangunan ini terdapat ruangan di sayap kanan-kiri yang berfungsi untuk menyemayamkan jenazah.</p>
<p><img src="http://jengjeng.matriphe.com/wp-content/uploads/2009/03/gerbang-museum-taman-prasas.jpg" alt="Gerbang Museum Taman Prasasti" title="Gerbang Museum Taman Prasasti" width="350" height="263" class="alignnone size-full wp-image-1056" /></p>
<p>Di salah satu ruang bekas ruang penyemayaman jenazah inilah kita bisa membeli tiket untuk masuk ke museum ini. Dengan tiket seharga 2 ribu rupiah, kita bisa menjelajah setiap sudut area museum.</p>
<p>Seperti pada museum-museum lainnya di Jakarta, museum yang pengelolaannya berada dalam satu manajemen dengan pengelola Museum Sejarah Jakarta (Museum Fatahillah) ini beroperasi setiap Selasa hingga Minggu, mulai pukul 9 pagi hingga 3 sore. Museum ini juga tutup pada hari Senin dan hari libur nasional.</p>
<p>Makam kuno (<em>Kerkhof Laan</em>) ini awalnya bernama Kebon Jahe Kober, yang didirikan pada tanggal 28 September 1795. Saat itu kondisi Batavia sangat padat dan tidak sehat sehingga banyak warga yang terkena penyakit dan meninggal. Pemakaman di depan gereja pun tidak sanggup menampung sehingga pemkot Batavia kemudian mencari lahan di luar kota Batavia yang berada di sebelah selatan.</p>
<p>Areal makam ini dulunya sangat luas, mencapai sekitar 5,9 hektar. Posisinya yang dekat dengan Kali Krukut membuat posisi makam ini sangat strategis. Kali Krukut pada masa itu bahkan digunakan sebagai moda transportasi untuk mengangkut jenazah dan rombongan pengantar dengan menggunakan perahu.</p>
<p>Museum Taman Prasasti diresmikan pada tanggal 9 Juli 1977 oleh gubernur saat itu, Ali Sadikin, setelah selama 2 tahun jenazah-jenazah yang ada di makam ini direlokasi pada tahun 1975-1977. Sejak Agustus 2003, pengelolaan museum yang terletak persis di sebelah kantor Walikota Jakarta Pusat ini, bergabung dengan manajemen Museum Sejarah Jakarta.</p>
<p>Begitu masuk, kita akan mendapati beberapa pilar-pilar yang di tiap sisinya terdapat prasasti nisan. Gubernur Ali Sadikin yang saat itu mempunyai ide untuk menata prasasti-prasasti tersebut ke dalam pilar-pilar sehingga lebih rapi dan tertata, namun rupanya pemerintah Belanda tidak menyetujui ide ini, sehingga terkesan pembangunan pilar-pilar ini belum rampung.</p>
<p><img src="http://jengjeng.matriphe.com/wp-content/uploads/2009/03/pilar-pilar-prasasti.jpg" alt="Pilar-pilar prasasti" title="Pilar-pilar prasasti" width="350" height="263" class="alignnone size-full wp-image-1057" /></p>
<p>Meskipun di sini saya menyebutnya makam, namun semua jenazah yang ada di sini sudah dipindahkan. Ada yang dikembalikan ke keluarganya di negeri Belanda, sebagian dipindahkan ke pemakaman Menteng Pulo, dan beberapa dimakamkan di pemakaman umum lain semacam Tanah Kusir.</p>
<p>Kompleks makam ini terbagi atas 10 blok yang mengikuti kontur parit dan menyimpan hampir 1.500 koleksi. Bila bingung hendak ke mana, ikuti saja jalur semen yang mengelilingi kompleks ini. Sesekali keluar jalur untuk mengeksplorasi dan melihat-lihat nisan juga tak mengapa.</p>
<p>Nisan-nisan yang terdapat di sini beraneka rupa bentuk dan bahannya. Dari angka tahun yang tertulis di nisan, rata-rata berangka tahun wafat 1800-1900-an. Yang dimakamkan di sini pun beragam, awalnya hanya diperuntukkan oleh kaum bangsawan dan pejabat VOC/Batavia, namun seiring waktu masyarakat umum pun diterima, tentunya dengan membayar sejumlah tertentu.</p>
<p><img src="http://jengjeng.matriphe.com/wp-content/uploads/2009/03/heraldik.jpg" alt="Contoh Heraldik" title="Contoh Heraldik" width="200" height="267" class="alignright size-full wp-image-1058" /></p>
<p>Informasi dari batu nisan dan prasasti yang ada inilah kita bisa mengetahui komposisi penduduk Batavia pada saat itu. Dari bahasa yang tertulis di nisan, kita juga akan mendapati bangsa-bangsa yang ada. Bentuk-bentuk hiasan menunjukkan pola arsitektur yang berkembang saat itu, mulai dari arsitektur klasik, neo-gothic, dan Hindu-Jawa.</p>
<p>Logo <em>Heraldik</em> yang terpampang di nisan menunjukkan garis keturunan keluarga. Ada keturunan keluarga <em>Cornelis Breekpot</em> (militer), <em>Jonatan Michielsz</em> (saudagar Portugis, <em>mardjiker</em>), <em>Cornelis Lindius</em> (agamawan gereja), <em>Juffrow Sara Pedel</em> (saudagar), <em>Catharina van Doorn</em> (anggota dewan Hindia-Belanda), dan <em>Jacques de Bollan</em> (anggota dewan kota Batavia).</p>
<p>Logo Heraldik adalah semacam lambang status sosial, yang diberikan kepada suatu keluarga karena memiliki jasa-jasa tertentu. Logo ini biasanya dipasang di foto seseorang yang menunjukkan identitas keluarganya.</p>
<p>Tiap-tiap logo memiliki berbagai macam informasi yang disimbolkan dalam gambat-gambar penyusunnya. Biasanya simbol-simbol ini berisi falsafah hidup, semboyan, dan ajaran kebaikan.</p>
<p>Saya berniat untuk berjalan dengan mengikuti jalur ke arah kiri. Belum saya melangkah, pandangan mata saya tertahan pada sebuah dinding dengan prasasti di tengah dan ada hiasan tengkorak yang tertancap pedang. Inilah prasasti <em>Pieter Erbelrveld</em>, seorang campuran Jerman dan Thailand yang membenci orang-orang Belanda.</p>
<p><img src="http://jengjeng.matriphe.com/wp-content/uploads/2009/03/nisan-erberveld.jpg" alt="Monumen Pieter Erberveld" title="Monumen Pieter Erberveld" width="350" height="263" class="alignnone size-full wp-image-1059" /></p>
<p>Pieter Erberveld begitu membenci pemerintah Batavia yang sewenang-wenang. Beberapa kali Pieter Erbelverd melakukan perlawanan terhadap pemerintah dengan dibantu oleh Raden Kartadriya. Belanda menuduh Erbelverd hendak melakukan pemberontakan dan melakukan pembantaian terhadap etnis Belanda.</p>
<p>Ketika tertangkap, Erberveld diganjar hukuman yang sangat kejam. Tangan dan kakinya diikatkan ke 4 ekor kuda kemudian ditarik ke 4 arah yang berbeda. Tentu saja badannya robek dan berhamburan di jalan. Lokasi tempat eksekusi Erberveld yang terletak di tepi <em>Jacatra-weg</em> ini kini dikenal dengan Jalan (Kampung) Pecah Kulit, yang sekarang menjadi Jalan Pangeran Jayakarta.</p>
<p>Kepala Erberveld ini kemudian ditusuk dengan pedang dan dijadikan monumen sebagai peringatan kepada warga agar tidak melawan Belanda. Sebuah prasasti sepanjang sekitar 8 meter pun dibuat yang berisi peringatan dalam bahasa Belanda dan Jawa untuk tidak mendirikan bangunan atau menanam tumbuhan di sekitar monumen.</p>
<p>Prasasti yang terletak di Kampung Pecah Kulit ini kemudian dipindahkan ke Museum Taman Prasasti. Namun tengkorak dan pedang di prasasti ini tentu hanya replika. <img src='http://jengjeng.matriphe.com/smilies/yahoo_bigsmile.gif' alt='&#58;&#68;' class='wp-smiley' width='18' height='18' title='&#58;&#68;' /></p>
<p><img src="http://jengjeng.matriphe.com/wp-content/uploads/2009/03/makam-roll.jpg" alt="Nissan H.F. Roll" title="Nissan H.F. Roll" width="350" height="263" class="alignnone size-full wp-image-1060" /></p>
<p>Tak jauh saya melangkah dari prasasti Erberveld, saya menemukan nisan makam <em>H.F. Roll</em>, si pendiri STOVIA (<em>School tot Opleiding van Indische Artsen</em>), sekolah tinggi kedokteran untuk kaum pribumi. Nisannya dapat dengan mudah dikenali dari bentuk buku terbuka yang menjadi hiasan nisan.</p>
<p>Roll adalah seorang dokter Belanda yang berpikiran maju. Dia mengusulkan pendidikan kedokteran pribumi harus sama dengan pendidikan dokter di Belanda. Roll pun sempat menjadi direktur STOVIA, di mana pergerakan Budi Utomo lahir di sana.</p>
<p>Ndak jauh dari nissan H.F. Roll, ada sebuah bangunan mungil yang kini berfungsi sebagai gudang. Di bangunan itu dulunya ditemukan mumi dari keluarga keluarga <em>A.J.W. Van Delben</em>. Mumi itu sekarang entah berada di mana.</p>
<p><img src="http://jengjeng.matriphe.com/wp-content/uploads/2009/03/rumah-van-delben.jpg" alt="Rumah Van Delben" title="Rumah Van Delben" width="350" height="263" class="alignnone size-full wp-image-1061" /></p>
<p>Sebuah kereta yang terpajang tak jauh dari situ menarik perhatian saya. Rupanya itu adalah kereta jenazah yang pernah dipakai untuk mengangkut jenazah dari pelabuhan Kali Krukut ke pemakaman Kebon Jahe Kober.</p>
<p>Seperti yang saya ceritakan di awal, jenazah dibawa dari kota Batavia ke pemakaman dengan menggunakan perahu yang melalui Kali Krukut, kemudian jenazah dibawa ke pemakaman dengan menggunakan kereta kuda ini. Jumlah kuda yang menarik kereta menunjukkan status sosial si jenazah.</p>
<p>Dulu terdapat lonceng perunggu yang terpasang pada tiang besi setinggi 4 meter yang berada di pelabuhan, yang jaraknya kurang lebih 500 meter dari makam. Ketika jenazah tiba di pelabuhan, lonceng ini akan dibunyikan sebagai tanda jenazah telah tiba.</p>
<p><img src="http://jengjeng.matriphe.com/wp-content/uploads/2009/03/kereta-jenazah.jpg" alt="Kereta jenazah tua" title="Kereta jenazah tua" width="350" height="263" class="alignnone size-full wp-image-1062" /></p>
<p>Masih di blok yang sama, saya melihat batu nisan <em>Olivia Mariamne Raffles</em>, istri pertama <em>Thomas Stamford Raffless</em> saat masih menjabat jadi Gubernur Letnan Jawa ketika pemerintahan Inggris. Olivia begitu mencintai dunia tanaman dan dia lah yang mencetuskan ide pembangunan Kebun Raya Bogor. Saat Olivia meninggal pada usia 43 tahun, dibuatlah sebuah monumen di Kebun Raya Bogor yang dipersembahkan untuk Olivia Raffles.</p>
<p><img src="http://jengjeng.matriphe.com/wp-content/uploads/2009/03/nisan-olivia-raffles.jpg" alt="Nisan Olivia Mariamne Raffless" title="Nisan Olivia Mariamne Raffless" width="350" height="263" class="alignnone size-full wp-image-1063" /></p>
<p>Masih di sekitar situ, ada sebuah nisan yang unik menurut saya, berada tepat di bawah sebuah pohon. Hanya sebuah tulisan yang ada di batu nisan yang berbunyi, Kapiten Jas. Siapakah dia?</p>
<p>Kapiten Jas adalah sebuah legenda. Diduga nama ini berhubungan dengan <em>Jassen Kerk</em>, sebuah gereja Portugis di luar kota lama. Pada abad ke-17, karena kondisi Batavia yang tidak sehat, banyak warga meninggal dan dimakamkan di halaman gereja ini. Tanah pemakaman di halaman gereja inilah yang disebut dengan &#8220;tanah Kapiten Jas&#8221;.</p>
<p>Lantas, siapakah yang dimakamkan di sana? Entah lah, namun menurut salah seorang penjaga museum, jasad yang ada di situ ketika direlokasi mengalami hambatan, yaitu peti matinya terlilit akar pohon yang tumbuh di sampingnya.</p>
<p><img src="http://jengjeng.matriphe.com/wp-content/uploads/2009/03/nisan-kapiten-jas.jpg" alt="Nisan Kapiten Jas" title="Nisan Kapiten Jas" width="350" height="263" class="alignnone size-full wp-image-1065" /></p>
<p>Mengikuti jalur yang ada, saya pun berkeliling. Batu nisan berbagai bentuk rupanya menarik perhatian serombongan anak SMA untuk berfoto-foto. Dengan menggunakan kostum ala <em>vintage</em>, mereka berpose di atas nisan atau berlatar belakang suasana makam.</p>
<p>Memang di beberapa tempat terdapat hiasan-hiasan berupa malaikat, manusia bersayap, wanita cantik, dan sebagainya. Ada juga bentuk-bentuk bangunan dengan arsitektur yang indah. Ndak heran banyak syuting, pemotretan pre-wedding yang mengambil lokasi ini.</p>
<p>Di beberapa sudut tersedia bangku-bangku taman. Sesuai dengan namanya, Museum Taman Prasasti ini memang layak dijadikan taman tempat berekreasi. Sembari duduk-duduk menikmati keteduhan suasana karena di sini tumbuh berbagai jenis pohon yang rindang.</p>
<p><img src="http://jengjeng.matriphe.com/wp-content/uploads/2009/03/nisan-gie.jpg" alt="Nisan Soe Hok Gie" title="Nisan Soe Hok Gie" width="200" height="267" class="alignright size-full wp-image-1067" /></p>
<p>Rupanya tidak hanya tokoh-tokoh Belanda saja yang dimakamkan di sini. Di luar jalur semen, saya melihat nisan <em>Soe Hok Gie</em>, tokoh pergerakan mahasiswa era tahun 1967-1969, yang meninggal menghirup gas beracun di Gunung Semeru.</p>
<p>Selain Soe Hok Gie, ada juga nisan <em>Miss Riboet</em>. Miss Riboet adalah penyanyi dan penari terkenal dari kelompok seni Orion Junior yang didirikan oleh suaminya, <em>Tio Tek Djien</em>, pada tahun 1925. Selain menari, Miss Riboet piawai memainkan pedang.</p>
<p>Karir Miss Riboet makin terkenal ketika dia memainkan peran sebagai perampok wanita dalam lakon berjudul <em>Juanita de Vega</em> karya <em>Antoimette de Zema</em>. Namun karir kelompok seni ini berakhir pada tahun 1934 ketika dua orang penulis naskah mereka, <em>Njoo Cheong Seng</em> dan <em>Fifi Young</em>, pindah ke kelompok sandiwara asal Surabaya yang menjadi saingan berat Orion. Miss Riboet meninggal di Jakarta pada tahun 1965.</p>
<p><img src="http://jengjeng.matriphe.com/wp-content/uploads/2009/03/nisan-riboet.jpg" alt="Nisan Miss Riboet" title="Nisan Miss Riboet" width="350" height="263" class="alignnone size-full wp-image-1068" /></p>
<p>Melanjutkan penelusuran saya, berbagai tokoh pun saya lihat nisannya. Ada nisan <em>Dr. J.L. Andries Brandes</em>, seorang arkeolog yang menguasai sastra Jawa kuno. Sejarah Indonesia banyak sekali yang dia ungkap, mulai dari Kitab Pararaton, naskah raja-raja Tumapel hingga Majapahit.</p>
<p>Batu nisannya unik. Sekilas bentuknya seperti lingga, dengan ukiran <em>antefix</em> seperti yang dapat ditemukan pada hiasan beberapa candi di Jogja.</p>
<p><img src="http://jengjeng.matriphe.com/wp-content/uploads/2009/03/nisan-brandes.jpg" alt="Nisan Dr. J.L. Andries Brandes" title="Nisan Dr. J.L. Andries Brandes" width="200" height="267" class="alignright size-full wp-image-1069" /></p>
<p>Masih banyak tokoh-tokoh lain yang nisannya berada di museum ini. Ada nisan <em>Adami Caroli Claessens</em>, seorang pastur Katholik yang datang ke Hindia Belanda pada tahun 1847. Salah satu jasa Claessens adalah membangun kembali Gereja Katedral yang roboh pada tahun 1890.</p>
<p>Ada juga nisan <em>J.H.R. Kohler</em>, seorang panglima tinggi militer Batavia yang gugur ketika melakukan ekspedisi ke Aceh. Kohler gugur karena salah sasaran, seharusnya menyerang Kerajaan Aceh, namun justru menyerang sebuah masjid. Masyarakat pun melakukan perlawanan dan Kohler tewas tertembak di dada pada tahun 1879.</p>
<p>Ketika hendak mengakhiri kunjungan, saya tertarik dengan sebuah bangunan di sebelah selatan gerbang masuk. Sebuah aula yang tertutup rapat mengusik rasa penasaran saya. Ketika saya bertanya kepada penjaga museum, dia malah mengajak saya masuk ke dalam melalui jendela karena pintu utamanya rusak.</p>
<p>Rupanya aula ini tempat menyimpan peti jenazah proklamator kita, Bung Karno dan Bung Hatta. Peti bung Hatta di sebelah utara (kiri) dan peti Bung Karno di sebelah selatan (kanan).</p>
<p>Si penjaga pun mengijinkan saya melihat isi peti. &#8220;Semua masih asli&#8221;, kata penjaga itu. Saya melihat isi peti yang mulai lapuk kain dan bantalan di dalamnya karena dimakan usia.</p>
<p><img src="http://jengjeng.matriphe.com/wp-content/uploads/2009/03/peti-sukarno-hatta.jpg" alt="Peti jenazah Bung Karno dan Bung Hatta" title="Peti jenazah Bung Karno dan Bung Hatta" width="350" height="263" class="alignnone size-full wp-image-1070" /></p>
<p>Mengunjungi Museum Taman Prasasti dapat menjadi wisata alternatif. Selain menikmati kesejukan udara dan kicauan burung yang hinggap di sela-sela pepohonannya yang rindang, kita juga bisa mengenal berbagai tokoh yang hidup di masa silam.</p>
<p>Yang menarik, makam Kebon Jahe Kober (1795) bahkan bisa dibilang salah satu makam tertua di dunia. Lebih tua dari <em>Fort Cannin Park</em> (1926) di Singapura, <em>Gore Hill Cemetery</em> (1868) di Sidney, <em>La Chaise Cemetery</em> (1803) di Paris, <em>Mount Auburn Cemetery</em> (1831) di Cambridge yang diklaim sebagai makam modern pertama di dunia, atau <em>Arlington National Cemetery</em> (1864) di Washington DC.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://jengjeng.matriphe.com/museum-taman-prasasti-bekas-makam-tertua-batavia.html/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>66</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Ramen 38, Kedai Ramen Bernuansa Jepang</title>
		<link>http://jengjeng.matriphe.com/ramen-38-kedai-ramen-bernuansa-jepang.html</link>
		<comments>http://jengjeng.matriphe.com/ramen-38-kedai-ramen-bernuansa-jepang.html#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 12 Mar 2009 09:09:25 +0000</pubDate>
		<dc:creator>matriphe</dc:creator>
				<category><![CDATA[Kuliner]]></category>
		<category><![CDATA[Jakarta]]></category>
		<category><![CDATA[mie]]></category>
		<category><![CDATA[ramen]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://jengjeng.matriphe.com/?p=1048</guid>
		<description><![CDATA[Pas di Jogja, saya menemukan sebuah kedai yang menyediakan ramen, namun rasa dan suasanya sudah amat sangat terlokalisasi. Ramen &#8220;njawani&#8221; kalo saya bilang. Nah, beberapa waktu yang lalu, saya berkunjung ke Ramen 38 (Ramen Sanpachi) yang terletak di dalam Gedung Kamome, Jl. Melawai Raya No. 189 B, Kebayoran Baru, Jakarta Selatan. Tepatnya berada di atas [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><img src="http://jengjeng.matriphe.com/wp-content/uploads/2009/03/ramen-38.jpg" alt="Kedai Ramen 38 (Ramen Sanpachi)" title="Kedai Ramen 38 (Ramen Sanpachi)" width="350" height="263" class="alignnone size-full wp-image-1049" /></p>
<p>Pas di Jogja, saya menemukan <a href="http://jengjeng.matriphe.com/index.php/2007/11/16/porsi-romusha-shoyu-ramen.html" title="Porsi Romusha Shoyu Ramen">sebuah kedai yang menyediakan ramen</a>, namun rasa dan suasanya sudah amat sangat terlokalisasi. Ramen &#8220;njawani&#8221; kalo saya bilang. <img src='http://jengjeng.matriphe.com/smilies/yahoo_bigsmile.gif' alt='&#58;&#68;' class='wp-smiley' width='18' height='18' title='&#58;&#68;' /></p>
<p>Nah, beberapa waktu yang lalu, saya berkunjung ke <a href="http://www.ramen38.com/" title="Ramen 38" target="_blank">Ramen 38 (Ramen Sanpachi)</a> yang terletak di dalam Gedung Kamome, Jl. Melawai Raya No. 189 B, Kebayoran Baru, Jakarta Selatan. Tepatnya berada di atas Starbuck Melawai.</p>
<p><span id="more-1048"></span>Begitu masuk ke dalam gedung ini, terutama di lantai atas, nuansa &#8220;nJepang&#8221;-nya akan langsung terasa. Memang, di kawasan Melawai ini ada tempat yang sering disebut dengan &#8220;Little Tokyo&#8221;.</p>
<p>Little Tokyo, tempat ini disebut demikian karena memang di tempat itu sering dijadikan tongkrongan orang-orang Jepang. Beberapa toko, kedai, kafe, restoran pun kebanyakan dikunjungi oleh orang Jepang dan menyediakan makanan Jepang. Suasananya dibuat semirip mungkin dengan di Jepang, mulai dari arsitektur ruang, interior, gaya berpakaian pramuniaganya, hingga ucapan &#8220;selamat datang&#8221; dan &#8220;terima kasih&#8221;-nya pun diucapkan dalam Bahasa Jepang, walau si pramuniaga ini orang Indonesia. <img src='http://jengjeng.matriphe.com/smilies/yahoo_bigsmile.gif' alt='&#58;&#68;' class='wp-smiley' width='18' height='18' title='&#58;&#68;' /></p>
<p>Gedung Kamome ini terletak ndak jauh dari Little Tokyo, sehingga hawa-hawa Jepangnya masih terasa. Kesan sepi cukup terasa begitu sampai di lantai 2, namun kesan sepi tersebut akan sirna ketika masuk ke dalam kedai.</p>
<p>&#8220;Irasshaimase!&#8221;, teriak pramuniaga cukup mengagetkan ketika saya memasuki kedai menyirnakan kesan sepi plus mendatangkan kesan nJepang. Benar saja, saya seperti kehilangan orientasi begitu menikmati suasananya. Hanya pramuniaga yang bukan orang Jepang lah yang membuat saya tersadar kembali bahwa saya tidak berada di Jepang.</p>
<p><img src="http://jengjeng.matriphe.com/wp-content/uploads/2009/03/suasana-ramen-38.jpg" alt="Suasana kedai yang Jepang banget" title="Suasana kedai yang Jepang banget" width="350" height="263" class="alignnone size-full wp-image-1050" /></p>
<p>Duduk di meja dan dingklik kayu beralas bantal duduk, dengan pernak-pernik meja dan dekorasi ruangan ala Jepang, plus sebuah daftar menu berhuruf kanji, membuat saya seperti hilang konsentrasi antara memilih menu atau mengamati suasana.</p>
<p>Sebuah meja bar panjang berada di sisi lain. Sang koki pria (lebih tepatnya si peracik ramen) nampak memukul-mukulkan pisaunya seperti sedang mencacah sesuatu secara bergantian sehingga muncul bunyi berisik &#8220;tok-tok-tok-tok&#8221; dinamis, padahal tiada apa pun yang dicacah.</p>
<p>Dua buah televisi yang menayangkan acara TV Jepang, entah rekaman atau memang live dari TV kabel, memper-jepang-kan suasana. Iklan-iklan Jepang yang lucu dan kreatif mampu membuat saya tersenyum karena iklan-iklan ini begitu ekspresif, sehingga saya yang ndak bisa berbahasa Jepang pun bisa menangkap apa maksud iklan tersebut.</p>
<p>Seorang pria nampak lahap menikmati ramen yang ada di depannya. Pramuniaga wanita berseragam dengan nama dan nomor di punggung, mirip dengan seragam sepak bola, nampak berdiri menunggu di ujung meja bar. </p>
<p>Saya bingung ketika hendak memilih menu. Berbagai menu dengan tulisan kanji, walau dilengkapi dengan romanjinya, membuat saya tetap saja bingung karena benar-benar merasa asing dengan menu-menu yang ditawarkan. Belum lagi label &#8220;kehalalan&#8221; membuat saya makin bingung menentukan pilihan.</p>
<p>Daftar menu memang memberikan informasi berupa tanda lingkaran berwarna merah untuk menu yang mengandung babi, tanda kuning untuk menu yang daging dan minyaknya bisa diganti dengan selain babi, dan tanda berwarna biru yang benar-benar halal.</p>
<p><img src="http://jengjeng.matriphe.com/wp-content/uploads/2009/03/menu-ramen-38.jpg" alt="Daftar menu Ramen 38" title="Daftar menu Ramen 38" width="350" height="263" class="alignnone size-full wp-image-1052" /> </p>
<p>Saya pun pasrah dan akhirnya menyerahkan pemilihan menu sesuai rekomendasi si pramuniaga, dengan syarat menu tersebut harus halal. <img src='http://jengjeng.matriphe.com/smilies/yahoo_bigsmile.gif' alt='&#58;&#68;' class='wp-smiley' width='18' height='18' title='&#58;&#68;' /> Setelah memilih-milih menu rekomendasi dari si pramuniaga, saya pun memilih Tan-men.</p>
<p>Setelah menu dipesan, kita akan disuguhi gelas kecil berisi air putih sebagai &#8220;welcome drink&#8221;. Bila air di dalam gelas ini habis, pramuniaga akan mengisinya lagi. Sambil menunggu, saya mengamati peta jalur kereta bawah tanah di Jepang yang terpampang. Tak jelas daerah mana karena semuanya berhuruf kanji.</p>
<p>Mengamati peta yang jalurnya mbundet ini membuat saya berpikir, betapa rumitnya pengaturan jalur-jalur kereta di sana. Hampir setiap sudut dapat dijangkau hanya dengan menggunakan kereta yang jalurnya saling menyilang dan tumpang tindih ini. Namun kerennya, meskipun njlimet, semuanya serba teratur dan tepat waktu! <img src='http://jengjeng.matriphe.com/smilies/top.gif' alt='&#58;&#116;&#111;&#112;' class='wp-smiley' width='29' height='19' title='&#58;&#116;&#111;&#112;' /></p>
<p>Iklan sebuah produk pemutih kulit yang ditayangkan di TV juga menarik perhatian saya. Bayangkan, di Jepang yang cewek-ceweknya udah putih, kok masih butuh produk pemutih kulit? Mau seputih apa? <img src='http://jengjeng.matriphe.com/smilies/yahoo_laughloud.gif' alt='&#58;&#41;&#41;' class='wp-smiley' width='18' height='18' title='&#58;&#41;&#41;' /></p>
<p>Tak lama pesanan saya pun datang. Saya sudah menduga sebesar apa porsinya, sehingga ketika pesanan saya datang, saya ndak begitu kaget. <img src='http://jengjeng.matriphe.com/smilies/yahoo_bigsmile.gif' alt='&#58;&#68;' class='wp-smiley' width='18' height='18' title='&#58;&#68;' /></p>
<p><img src="http://jengjeng.matriphe.com/wp-content/uploads/2009/03/tanmen-ramen.jpg" alt="Tanmen Ramen" title="Tanmen Ramen" width="350" height="263" class="alignnone size-full wp-image-1051" /></p>
<p>Tan-men, yang konon berasal dari Schezwan di Tiongkok ini, berisi ramen, potongan daging sapi (aslinya menggunakan daging babi) yang direbus tak terlalu lama sehingga berwarna coklat muda-kemerahan, sayuran berupa kubis, tauge, wortel, dan buncis. Kuahnya menggunakan miso (tauco Jepang) dan minyak wijen yang di lidah saya rupanya masih kurang berasa &#8220;nendang&#8221; karena terbiasa dengan masakan Indonesia yang berempah.</p>
<p>Porsinya rupanya cukup menipu, karena ternyata isi mie-nya tidak sebesar mangkoknya. Jadi jangan khawatir dan keder duluan ketika melihat mangkuk segede baskom terhidang di depan hadapan Anda. <img src='http://jengjeng.matriphe.com/smilies/yahoo_bigsmile.gif' alt='&#58;&#68;' class='wp-smiley' width='18' height='18' title='&#58;&#68;' /></p>
<p>Jika sudah selesai, pramuniaga akan memberikan bonus berupa segelas kecil berisi potongan agar-agar sebagai pencuci mulut. Tak lupa ucapan &#8220;arigatou gozaimash&#8221;, diiringi bungkukan dari pramuniaga mengiringi saya keluar dari kedai.</p>
<p>Menurut website resminya, kedai Ramen 38 ini juga ada di Wisma Hoka Jl. Wahid Hasyim, Cikarang, Mall Pondok Indah 2, Mall Artha Gading, dan di FX (Kuishinbo).</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://jengjeng.matriphe.com/ramen-38-kedai-ramen-bernuansa-jepang.html/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>60</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Klenteng Jin De Yuan, Petak 9: Klenteng Multi Agama</title>
		<link>http://jengjeng.matriphe.com/klenteng-jin-de-yuan-petak-sembilan-klenteng-multi-agama.html</link>
		<comments>http://jengjeng.matriphe.com/klenteng-jin-de-yuan-petak-sembilan-klenteng-multi-agama.html#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 17 Feb 2009 06:14:56 +0000</pubDate>
		<dc:creator>matriphe</dc:creator>
				<category><![CDATA[Candi & Tempat Ibadah]]></category>
		<category><![CDATA[Destinasi]]></category>
		<category><![CDATA[Glodok]]></category>
		<category><![CDATA[Jakarta]]></category>
		<category><![CDATA[klenteng]]></category>
		<category><![CDATA[Petak Sembilan]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://jengjeng.matriphe.com/?p=1032</guid>
		<description><![CDATA[Kawasan Glodok, Jakarta Barat, selain terkenal dengan pusat perdagangan elektronik dan kawasan pemukiman kaum Tionghoa, rupanya juga mempunyai cerita unik tersendiri. Petak Sembilan, sebuah kawasan pecinan tua yang mempunyai sejarah panjang yang sampai kini masih bertahan. Sisa-sisa kejayaan perdagangan ini masih dapat kita lihat dari bangunan-bangunan bekas rumah toko yang sepi dan tak terawat. Beberapa [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><img src="http://jengjeng.matriphe.com/wp-content/uploads/2009/02/lilin-gede.jpg" alt="Di Petak Sembilan" title="Di Petak Sembilan" width="350" height="263" class="alignnone size-full wp-image-1033" /></p>
<p>Kawasan Glodok, Jakarta Barat, selain terkenal dengan pusat perdagangan elektronik dan kawasan pemukiman kaum Tionghoa, rupanya juga mempunyai cerita unik tersendiri. </p>
<p>Petak Sembilan, sebuah kawasan pecinan tua yang mempunyai sejarah panjang yang sampai kini masih bertahan. Sisa-sisa kejayaan perdagangan ini masih dapat kita lihat dari bangunan-bangunan bekas rumah toko yang sepi dan tak terawat. Beberapa masih beroperasi walau jumlahnya masih bisa dihitung dengan jari.</p>
<p><span id="more-1032"></span>Saya selalu tertarik dengan kebudayaan Tionghoa. Bentuk-bentuk bangunan dan tradisi-tradisi mereka begitu unik dan tetap menarik untuk dinikmati. Keinginan ini lah yang membuat saya mendatangi kawasan Petak Sembilan, Glodok, Jakarta Barat, beberapa hari setelah perayaan Cap Go Meh. Saya sengaja datang pada hari biasa karena memang ingin melihat lebih dekat aktivitas keseharian warga Petak Sembilan.</p>
<p>Menuju ke kawasan ini sangatlah mudah. Dengan menggunakan busway TransJakarta, kita turun di halte Glodok, kemudian keluar dan berbelok ke arah kiri (ke barat) dan menelusuri jalan gang sempit yang terlihat. Bila masih bingung, tanya saja kepada orang-orang di sekitar dan mereka akan menunjukkannya.</p>
<p>Sebuah bangunan klenteng besar langsung menyita perhatian saya ketika sampai di kawasan ini. Klenteng Dharma Bhakti yang merupakan salah satu klenteng besar dan tua di kawasan ini seakan memanggil-manggil saya untuk segera masuk.</p>
<p><img src="http://jengjeng.matriphe.com/wp-content/uploads/2009/02/klenteng-jin-de-yuan.jpg" alt="Klenteng Jin De Yuan (Dharma Bhakti)" title="Klenteng Jin De Yuan (Dharma Bhakti)" width="350" height="263" class="alignnone size-full wp-image-1034" /></p>
<p>Klenteng yang dulunya bernama Klenteng Jin De Yuan (Kim Tek Ie) dan dikelola oleh Gong Guan, semacam dewan opsir Tionghoa di Batavia. Bahkan pada masanya, bersama dengan 3 klenteng lainnya, yaitu Kelenteng Da Bo Gong di Ancol, Kelenteng Tanjung (sudah tidak ada lagi), dan Kelenteng Wan Ji Sie (Wan Kiap Si) di Jalan Lautze, keempat klenteng ini sering disebut dengan &#8220;Empat Klenteng Besar&#8221;.</p>
<p>Klenteng ini bisa dikatakan sangat tua karena menurut Adolf Heuken pada tulisan <em>Historical Sites of Jakarta</em> (1989) yang mengutip dari catatan <em>Les Chinois de Jakarta: Temples et Vie Collectives</em> (1977) tulisan Claudine Salmon dan Denys Lombard, menyatakan bahwa pada sekitar tahun 1650, seorang letnan Tionghoa bernama Guo Xun Guan (Kwee Hoen) mendirikan sebuah klenteng untuk menghormati Guan Yin (Dewi Kwan Im) di Glodok.</p>
<p>Awalnya klenteng ini disebut dengan Klenteng Guan Yin Ting (Kwan Im Teng) atau berarti kediaman Guan Yin. Namun sayangnya hampir seabad kemudian klenteng ini dirusak serta dibakar dalam peristiwa Tragedi Pembantaian Angke pada tahun 1740. Pada tahun 1755 seorang kapten Tionghoa menamai kembali klenteng yang sempat dirusak lalu dipugar kembali ini dengan nama Jin De Yuan (Kim Tek Ie) yang berarti &#8220;Klenteng Kebajikan Emas&#8221;.</p>
<p>Ada sejarah kecil yang menarik mengenai asal kata Glodok. Konon kata Glodok berasal dari kesalahan ucap orang Tionghoa untuk menyebut kata &#8220;grojok&#8221; karena daerah ini dulunya merupakan daerah reservoir air milik pemerintah Batavia dan sering terdengar suara air mengalir yang berbunyi &#8220;grojok-grojok&#8221;. Kata &#8220;grojok&#8221; diucapkan &#8220;glodok&#8221; sehingga sekarang dijadikan nama tempat.</p>
<p>Kompleks klenteng ini cukup luas, sekitar 3000 meter persegi dan menghadap ke selatan yang secara Fengshui berarti membelakangi laut dan menghadap gunung. Di kompleks ini juga ada 3 buah klenteng kecil yang menjadi semacam klenteng pendahulu sebelum masuk ke klenteng utama jika kita masuk dari arah selatan.</p>
<p>Memasuki halaman klenteng utama, saya melihat ada 2 patung singa Bao Gu Shi yang berasal dari Provinsi Kwangtung di Tiongkok Selatan yang didatangkan pada tahun 1812. Sebuah tempat pembakaran uang-uangan kertas yang disebut dengan Jin Lu dengan bentuk atap dan hiasan pada dasarnya berbentuk bunga Lotus yang begitu cantik. Jin Lu ini adalah Jin Lu pengganti dari Jin Lu tua yang dibuat di Kwangtung pada tahun yang sama dengan singa Bao Gu Shi. Jin Lu tua yang asli ini lalu dipindahkan letaknya di halaman belakang.</p>
<p><img src="http://jengjeng.matriphe.com/wp-content/uploads/2009/02/jin-lu-bao-gu-shi.jpg" alt="Jin Lu dan singa Bao Gu Shi" title="Jin Lu dan singa Bao Gu Shi" width="350" height="263" class="alignnone size-full wp-image-1037" /></p>
<p>Sebelum masuk, saya mengamati dengan cermat bangunan klenteng ini. Ujung-ujung atapnya dibuat melengkung dengan hiasan naga dan ornamen-ornamen dari porselen dengan genteng mengkilap berbentuk seperti ombak. Bila kita melihat ke arah kanan dan kiri sebelum masuk melalui pintu, kita akan menemukan gambar Men Shen, sang dewa penjaga pintu. Dua buah jendela kayu berbentuk lingkaran dengan ukiran Qi Lin, binatang seperti kuda namun mempunyai cula, sebagai lambang hewan keberuntungan.</p>
<p>Di samping pintu, terdapat ukiran burung phoenix dan naga, simbol kaisar dan ratu. Empat lentera kayu menggantung nampak menghiasi pintu depan klenteng ini. Tulisan pada papan kayu diatas pintu masuk yang menunjukan nama kelenteng ini ditulis oleh ketua klenteng pada saat itu. Begitu pula dengan tulisan di kanan dan kiri pintu masuk yang merupakan sebuah syair.</p>
<p>Saya pun memasuki bangunan klenteng utama. Asap hio dan lilin serta lampu minyak langsung menyeruak. Buat yang tidak tahan dengan asap pasti tidak akan betah berlama-lama di dalamnya. Berpuluh-puluh lilin raksasa berdiameter sepelukan orang dewasa tampak berdiri gagah dengan api yang menjilat-jilat. Belum lagi ukuran hio mulai dari seukuran lidi hingga yang sebesar jempol tangan orang dewasa juga menancap di pot khusus.</p>
<p><img src="http://jengjeng.matriphe.com/wp-content/uploads/2009/02/sembahyang.jpg" alt="Sembahyang" title="Sembahyang" width="200" height="267" class="alignright size-full wp-image-1036" /></p>
<p>Beberapa meja dan altar dengan berbagai dewa dan persembahan juga tampak memenuhi ruangan. Maklum saja karena klenteng ini merupakan klenteng dari berbagai aliran agama, yaitu Tao, Konghucu, dan Budha. Inilah keunikan dari klenteng ini, meski berada di dalam satu ruangan, namun berbagai ibadah agama dilakukan bersamaan tanpa saling mengganggu.</p>
<p>Ada beberapa patung dewa di dalam klenteng ini. Begitu masuk, kita akan bertemu dengan dewa yang dari sosoknya saya menduga dewa ini adalah dewa kekayaan. Kemudian kita bisa melihat patung dewa San Yuan yang diduga berasal dari abad ke-17, patung dewi Guan Yi (Kwan Im), dan 3 buah patung di tembok paling belakang yang melambangkan San Zun Fo Zu, semacam tritunggal dalam agama Budha, yang disertai sejumlah patung lebih kecil, yang sebagian berasal dari abad ke-18. Di samping kanan dan kiri, ada berderet patung dalam kotak kaca yang bila dihitung berjumlah 18 buah.</p>
<p>Beberapa orang nampak khusyuk beribadah, memejamkan mata sambil menunduk dengan tangan memegang dan sesekali menggoyang-goyangkan hio yang dibakar ujungnya sebelum menancapkannya ke dalam pot berwarna emas di depan altar. Beberapa lagi sedang melakukan tradisi Tjiamsi, yaitu tradisi meminta petunjuk kepada dewa. Tak ketinggalan, saya pun mencoba Tjiamsi dan menurut ramalan Tjiamsi tersebut, nasib saya sedang baik. <img src='http://jengjeng.matriphe.com/smilies/yahoo_bigsmile.gif' alt='&#58;&#68;' class='wp-smiley' width='18' height='18' title='&#58;&#68;' /></p>
<p>Tjiamsi dilakukan dengan mengocok 32 buah batang bambu bernomor di dalam sebuah kotak bambu hingga jatuh sebuah batang. Kemudian setelah mendapatkan nomor, kita harus &#8220;bertanya&#8221; kepada dewa apakah nomor Tjiamsi kita cocok dengan menjatuhkan sepasang <em>pueh</em>. Jika pueh jatuh dalam posisi tertelungkup dan terbuka, maka nomor tersebut cocok, namun bila kedua pueh jatuh dalam posisi terbuka semua atau telungkup semua maka nomor itu tidak cocok dan kita bisa mengulangi lagi. Setelah nomor cocok, kita akan diberi kertas berisi ramalan sesuai dengan nomor yang kita dapatkan tadi.</p>
<p><img src="http://jengjeng.matriphe.com/wp-content/uploads/2009/02/ramalan-tjiamsi.jpg" alt="Ramalan Tjiamsie" title="Ramalan Tjiamsie" width="350" height="263" class="alignnone size-full wp-image-1035" /></p>
<p>Karena saya ndak tahan dengan asap yang ada di dalam ruangan, saya pun keluar melalui pintu samping kiri klenteng. Menarik, rupanya masih ada bangunan lain mengelilingi bangunan klenteng utama yang berada di sisi barat, utara, dan timur. Bangunan-bangunan ini ujung bumbungannya mencuat ke atas dan terbelah dua dalam gaya yang disebut &#8220;gaya ekor walet&#8221;, karena bentuknya mirip ekor burung walet yang ujung ekornya terbelah dua. Dulu bentuk ujung bumbungan seperti ini, bersama sepasang singa batu, hanya boleh dipakai untuk menghiasi bangunan klenteng dan gedung-gedung para pemuka masyarakat Tionghoa. Makanya jumlah gedung dengan gaya ekor walet seperti ini ndak banyak ditemukan.</p>
<p>Dalam gedung samping kiri (barat) terdapat bekas kamar-kamar para rahib. Beberapa nama mereka masih tertulis pada beberapa lempeng batu. Dalam kamar pertama terdapat altar paling tua dari seluruh klenteng. Kamar kedua diisi patung dewa Tao Fu De Zheng Shen (Hok Tek Tjen Sin), dewa bumi dan kekayaan.</p>
<p>Di gedung belakang (utara), di dalam ruangan tengah, terdapat patung dewa setempat yang dihormati yang bernama Ze Hai Zhen Ren (Cek Hay Cen Ren). Namun nama sesungguhnya adalah Guo Liuk Kwan (Kwee Lak Kwa). Selain itu sebuah lonceng buatan tahun 1825 nampak teronggok manis di pojok kanan halaman belakang yang merupakan lonceng tertua dari semua klenteng di Jakarta.</p>
<p>Akhirnya di sayap kanan (timur), ada 2 ruangan yang berisi altar untuk menghormati Qing Shui Zu Shi, yang berarti &#8220;tuan karang terjal yang disebut Qing Shui Yan&#8221;. Nama sesungguhnya Chen Pu Zu dan dihormati juga di kelenteng Tanjungkait di utara Tangerang. Di sayap timur ini banyak orang sedang mempersiapkan persembahan, mulai dari buah apel, telor asin, hingga kertas-kertas bertuliskan huruf-huruf cina.</p>
<p><img src="http://jengjeng.matriphe.com/wp-content/uploads/2009/02/petak-9.jpg" alt="Suasana Petak Sembilan" title="Suasana Petak Sembilan" width="200" height="267" class="alignright size-full wp-image-1038" /></p>
<p>Saya kembali masuk ke bangunan klenteng utama untuk keluar dari pintu gerbang utama di mana saya masuk tadi. Saya sempat melihat sebuah pinggan yang berisi kue kranjang yang sudah digoreng berbalur telur. Kue ini boleh diambil dan dimakan, namun karena khawatir dengan kehalalannya, saya ndak mengambil dan hanya mengamati.</p>
<p>Saya keluar menuju ke 3 klenteng pendamping di depan. Masing-masing klenteng ini dipersembahkan kepada 3 dewa, yaitu Hui Ze Miao (kelenteng untuk leluhur Hakka), Di Cang Wang Miao (dipersembahkan kepada dewa neraka), dan Xuan Tan Gong, yang dipersembahkan kepada dewa pemberi kekayaan.</p>
<p>Di luar klenteng saya menemukan banyak penjual burung. Berbagai burung dijual di sini, mulai dari burung gereja hingga burung gelatik. Ada kepercayaan dari kaum Tionghoa, yaitu jika kita membebaskan burung sejumlah usia kita maka usia kita akan dipanjangkan dan harapan kita akan dikabulkan.</p>
<p>Saya pun pulang dengan menyusuri kembali kawasan Petak Sembilan. Transaksi ala pasar nampak terlihat di beberapa sudut. Beberapa hiasan sisa-sisa perayaan imlek masih nampak tergantung di beberapa sudut. Bau masakan yang menggoda membuat perut menjadi lapar. Namun saya mengurungkan niat karena di kawasan ini banyak makanan yang berbahan dasar babi.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://jengjeng.matriphe.com/klenteng-jin-de-yuan-petak-sembilan-klenteng-multi-agama.html/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>38</slash:comments>
		</item>
	</channel>
</rss>

