<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>jengjeng matriphe! &#187; Klaten</title>
	<atom:link href="http://jengjeng.matriphe.com/tag/klaten/feed" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://jengjeng.matriphe.com</link>
	<description>pengen jalan-jalan, makan-makan, dan lain-lain</description>
	<lastBuildDate>Tue, 02 Aug 2011 11:41:49 +0000</lastBuildDate>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<generator>http://wordpress.org/?v=3.2.1</generator>
	<atom:link rel='hub' href='http://jengjeng.matriphe.com/?pushpress=hub'/>
		<item>
		<title>Apa Kabar di Sana?</title>
		<link>http://jengjeng.matriphe.com/apa-kabar-di-sana.html</link>
		<comments>http://jengjeng.matriphe.com/apa-kabar-di-sana.html#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 28 May 2008 04:16:04 +0000</pubDate>
		<dc:creator>matriphe</dc:creator>
				<category><![CDATA[Arkais]]></category>
		<category><![CDATA[even]]></category>
		<category><![CDATA[Klaten]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://jengjeng.matriphe.com/index.php/2008/05/28/apa-kabar-di-sana.html</guid>
		<description><![CDATA[Dua tahun yang lalu, cobaan itu datang. Memporak porandakan cita-cita dan harapan. Merenggut kebahagiaan kepala-kepala mungil itu. Namun Tuhan rupanya mempunyai rencana lain. Melalui cobaan itu rupanya skenario besar yang menjadi alur dasar kehidupan saya (dan kita) sekarang. Dari gempa itulah, solidaritas pun muncul. Bahkan di ranah blogosfer, ranah ghaib yang saat itu belum semeriah [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><img src="http://jengjeng.matriphe.com/wp-content/uploads/2008/05/ceria.jpg" alt="Keceriaan" title="Keceriaan" width="350" height="263" class="alignnone size-full wp-image-1170" /></p>
<p>Dua tahun yang lalu, cobaan itu datang. Memporak porandakan cita-cita dan harapan. Merenggut kebahagiaan kepala-kepala mungil itu.</p>
<p>Namun Tuhan rupanya mempunyai rencana lain. Melalui cobaan itu rupanya skenario besar yang menjadi alur dasar kehidupan saya (dan kita) sekarang.</p>
<p><span id="more-709"></span>Dari gempa itulah, solidaritas pun muncul. Bahkan di ranah blogosfer, ranah ghaib yang saat itu belum semeriah sekarang.</p>
<p>Bantuan mengalir deras ke Jogja. Termasuk dari para bloger. Mereka dengan tulus memberikan bantuan kepada kami, tanpa pernah mengenal siapa kami, yang hanya bertegur komen bersalam trackback.</p>
<p>Beberapa minggu berlalu, sebuah ide tercetus dari <a href="http://www.elzan.com/" title="Thuns" target="_blank">Kang Elzan</a>. Terpikir nasib anak-anak yang sekolahnya rubuh. Terpikir kondisi psikologis mereka yang rasanya terlalu pedih untuk mereka.</p>
<p>Berkumpullah beberapa gelintir bloger yang saat itu juga baru aja kenal melalui YM. Melalui <a href="http://chocoluv.elzan.com/" title="Chocoluv" target="_blank">Monik</a> (apa kabar, nduk?) saya dan beberapa rekan terhubung dengan Kang Elzan dan <a href="http://wedhouz.net/" title="Wedhouz" target="_blank">Kang Wedhouz</a>.</p>
<p>Koordinasi terjalin dan tertelorkanlah even bertajuk <a href="http://blog.matriphe.com/index.php/2006/07/28/klaten-ceria-jilid-satu/" title="Klaten Ceria jilid Satu" target="_blank">Klaten Ceria Satu</a> dan <a href="http://blog.matriphe.com/index.php/2006/08/03/klaten-ceria-jilid-dua/" title="Klaten Ceria jilid Dua" target="_blank">Dua</a>.</p>
<p>Senang rasanya dapat berbagi keceriaan bersama anak-anak SD tersebut. Tertawa, bergembira, dan bercanda bersama. Walau hanya beratapkan terpal tenda yang kalo siang masya Allah suhunya bisa bikin telor matang, mereka tetap ceria.</p>
<p><img src='http://jengjeng.matriphe.com/wp-content/uploads/2008/05/kacer.jpg' alt='Klaten Ceria' /></p>
<p>Sungguh mengenaskan. Di lain tempat, bantuan berlimpah ruah turah-turah, di sudut lain di Klaten, jangankan bantuan, perhatian pun sepertinya tiada. Maaf hanya itu yang bisa kami bantu, dik! <img src='http://jengjeng.matriphe.com/smilies/yahoo_smiley.gif' alt='&#58;&#41;' class='wp-smiley' width='18' height='18' title='&#58;&#41;' /></p>
<p>Setahun berlalu, kami sempat berkunjung kembali ke sana. SD Negeri Titang, Jogonalan, Klaten dan SD Negeri 1 Gentan, Gantiwarno, Klaten. Kedua sekolah itu sudah berdiri kembali walau belum sempurna benar.</p>
<p>Gempa kecil yang masih sering terjadi menyisakan garis-garis retakan-retakan di sana-sini. Ah, sungguh tega! Bantuan seperti ini kok ya masih sempat dikorupsi.</p>
<p>Berjumpa dengan mereka yang masih ingat dengan wajah kami. Lebih ceria dari setahun lalu. &#8220;<acronym title="Aku sekarang sudah kelas tiga, mas!">Aku saiki wis kelas telu, mas!</acronym>&#8220;, celetuk seorang anak sambil membawa pesawat kertas lipat dari sobekan buku bergaris ketika ditanya.</p>
<p>Berjumpa dengan kepala sekolah yang rupanya sudah berganti. Melihat ladang tebu di sekitar sekolah yang dibentengi bukit Seribu. Ah, begitu menenangkan.</p>
<p>Namun maaf ya, dik. Kakak saat ini ndak dapat berkunjung ke sana lagi. Kakak ndak bisa menjenguk sekolahmu lagi. Kakak hanya bisa berdoa dari sini, semoga kalian baik-baik saja. Belajarlah yang benar ya, dik. <img src='http://jengjeng.matriphe.com/smilies/yahoo_smiley.gif' alt='&#58;&#41;' class='wp-smiley' width='18' height='18' title='&#58;&#41;' /></p>
<p>Andai kakak bisa ke sana, semoga kakak masih ingat rute menuju tempatmu.</p>
<p>Menerobos jalan tanah yang bila hujan menjadi becek-gak-ada-ojek, menyeberang sungai yang untungnya sedikit kering sehingga motor ndak tenggelam, menyusuri kaki bukit, bertegur sapa ramah dengan para petani bersepeda onthel yang bersahaja..</p>
<p>Kawan-kawanku jelata <a href="http://cahandong.org/" title="CahAndong" target="_blank">CahAndong</a>, sampaikan salamku untuk anak-anak itu.. <img src='http://jengjeng.matriphe.com/smilies/yahoo_huggs.gif' alt='&#62;&#58;&#68;&#60;' class='wp-smiley' width='42' height='18' title='&#62;&#58;&#68;&#60;' /></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://jengjeng.matriphe.com/apa-kabar-di-sana.html/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>44</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Kurban Pertama Saya</title>
		<link>http://jengjeng.matriphe.com/kurban-pertama-saya.html</link>
		<comments>http://jengjeng.matriphe.com/kurban-pertama-saya.html#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 20 Dec 2007 09:42:46 +0000</pubDate>
		<dc:creator>matriphe</dc:creator>
				<category><![CDATA[Arkais]]></category>
		<category><![CDATA[cahandong]]></category>
		<category><![CDATA[Klaten]]></category>
		<category><![CDATA[kopdar]]></category>
		<category><![CDATA[kurban]]></category>
		<category><![CDATA[lebaran]]></category>
		<category><![CDATA[tongseng]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://jengjeng.matriphe.com/index.php/2007/12/20/kurban-pertama-saya.html</guid>
		<description><![CDATA[Idul Adha 1428 H kali ini adalah pertama kalinya saya bisa berkurban. Alhamdullillah, saya ada rejeki. Dulu sih biasanya yang kurban bapak saya, pake atas nama saya. Tiap tahun gantian, kadang pake atas nama ibu saya, adik saya, atau bapak saya sendiri. Di-rolling. Sekarang ya pake duit saya sendiri, beli domba sendiri, tapi belum berani [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><img src="http://jengjeng.matriphe.com/wp-content/uploads/2007/12/saya-dan-domba1.jpg" alt="Saya dan Domba" title="Saya dan Domba" width="350" height="263" class="alignnone size-full wp-image-1218" /></p>
<p>Idul Adha 1428 H kali ini adalah pertama kalinya saya bisa berkurban. Alhamdullillah, saya ada rejeki. <img src='http://jengjeng.matriphe.com/smilies/yahoo_smiley.gif' alt='&#58;&#41;' class='wp-smiley' width='18' height='18' title='&#58;&#41;' /></p>
<p>Dulu sih biasanya yang kurban bapak saya, pake atas nama saya. Tiap tahun gantian, kadang pake atas nama ibu saya, adik saya, atau bapak saya sendiri. Di-rolling.</p>
<p>Sekarang ya pake duit saya sendiri, beli domba sendiri, tapi belum <strike>berani</strike> mampu untuk menyembelih sendiri (masih disembelihkan orang lain). <img src='http://jengjeng.matriphe.com/smilies/yahoo_bigsmile.gif' alt='&#58;&#68;' class='wp-smiley' width='18' height='18' title='&#58;&#68;' /></p>
<p><span id="more-508"></span>Bagi sebagian orang mungkin seekor domba ndak berarti. Namun bagi saya, itu sangat sangat berarti.</p>
<p>Demi berkurban ini, saya rela menyisihkan duit hasil nguli sedikit demi sedikit yang saya simpan dalam celengan babi. Alhamdulillah, duit yang saya kumpulkan selama setahunan lebih ini bisa cukup buat membeli seekor domba.</p>
<p>Kalo dipikir, berkurban itu rasanya berat banget. Godaanya banyak. Jangan dibandingkan dengan pengorbanan dan kerelaan Nabi Ibrahim, awalnya saya juga sedikit sayang sama duit yang terkumpul di celengan babi itu, je.</p>
<p>Bayangin aja, duit segitu kan bisa buat modal keluyuran, buat ngupgrade komputer kuda saya, buat beli hape baru, dan <strike><a href="http://blog.mysyam.net/index.php/2007/12/16/ketika-hari-yang-dinanti-itu-tiba/" title="Ketika hari yang dinanti itu tiba.." target="_blank">modal kawin</a>,</strike> barang-barang menggiurkan lainnya.</p>
<p>Namun saya berusaha membulatkan tekad. Sia-sia saja rasanya saya sudah menabung dikit-dikit, tapi akhirnya uang itu habis ke sesuatu yang melenceng dari tujuan awalnya. <img src='http://jengjeng.matriphe.com/smilies/yahoo_bigsmile.gif' alt='&#58;&#68;' class='wp-smiley' width='18' height='18' title='&#58;&#68;' /></p>
<p>Rasanya bener-bener menjadi pengorbanan buat saya. Saya harus mengorbankan masa liburan panjang seminggu ke depan cuma nglangut di rumah karena ndak ada duit buat keluyuran. Padahal di benak ini sudah tersusun banyak rencana keluyuran untuk mengisi liburan panjang esok itu. <img src='http://jengjeng.matriphe.com/smilies/yahoo_sighing.gif' alt='&#58;&#45;&#60;' class='wp-smiley' width='24' height='18' title='&#58;&#45;&#60;' /></p>
<p>Halah, gayamu, Zam! Cuma kurban seekor kambing aja nggaya, pake diposting segala! <img src='http://jengjeng.matriphe.com/smilies/yahoo_laughloud.gif' alt='&#58;&#41;&#41;' class='wp-smiley' width='18' height='18' title='&#58;&#41;&#41;' /></p>
<p>Loh, ha ya jelas. Nabi Ibrahim yang rela mengorbankan putranya, Nabi Ismail, saja bisa tercatat dalam sejarah dan menjadi tuntunan bagi umat Islam, la saya kan juga pengen narsis juga dan tercatat dalam blog. Siapa tau tahun depan bisa kurban sapi? <img src='http://jengjeng.matriphe.com/smilies/yahoo_tongue.gif' alt='&#58;&#112;' class='wp-smiley' width='18' height='18' title='&#58;&#112;' /></p>
<p>Nah, lokasi yang dipilih untuk penyembelihan adalah mushola di desanya <a href="http://annots.wordpress.com/" title="Annots" target="_blank">Annots</a>, di daerah Prambanan, Klaten.</p>
<p>Saya milih di tempat ini karena saya mikir kalo di kota, rasanya sudah banyak hewan yang dipotong. La, di mushola desanya Annots, hewannya cuma sedikit. Akhirnya bersama <a href="http://cahandong.org/" title="CahAndong" target="_blank">CahAndong</a>, kami mengadakan <a href="http://cahandong.org/2007/12/21/kurban-bersama-ca.html" title="Kurban Bersama CA" target="_blank">perayaan Idul Adha</a> di tempat itu.</p>
<p>Kebetulan CahAndong sendiri juga menyumbangkan seekor kambing, hasil urunan temen-temen juga. Selain itu, <a href="http://sebuahcatatan.wordpress.com/" title="Mas Is" target="_blank">Mas Is</a> juga menyalurkan seekor kambing dari kantornya. Total jendral, CahAndong menyumbangkan 3 ekor kambing, yaitu dari CahAndong, saya, dan Mas Is.</p>
<p>Setelah kambing dipotong dan dikuliti, bertempat di rumah Annots, para eblis dan ebliswati CahAndong akhirnya menyerbu tongseng ala Prambanan hasil masakan ibunya Annots! <img src='http://jengjeng.matriphe.com/smilies/yahoo_drool.gif' alt='&#61;&#112;&#126;' class='wp-smiley' width='18' height='18' title='&#61;&#112;&#126;' /></p>
<p><img src='http://jengjeng.matriphe.com/wp-content/uploads/2007/12/tongseng-kambing.jpg' alt='Tongseng Kambing' /></p>
<p>Tongseng bikinan ibunya Annots memang istimewa. Daging kambingnya bisa empuk banget. Bau kambingnya juga ndak tercium lagi, karena kalo ndak pintar mengolah, bau kambing biasanya masih terasa.</p>
<p>Pedasnya lada saya rasa cukup pas dan bumbunya juga meresap ke dalam daging dengan baik. Mungkin karena daging yang digunakan masih segar, sehingga daging mampu menyerap bumbu dengan sempurna.</p>
<p>Saking enaknya, saya sampai nambah beberapa kali. Dan saya harus menanggung akibatnya karena kini <strike>saya bingung mo menyalurkan hasrat saya ke siapa</strike> kepala saya langsung pusing dan <strike>bagian yang &#8220;itu&#8221;</strike> leher bagian belakang terasa tegang. <img src='http://jengjeng.matriphe.com/smilies/yahoo_laughloud.gif' alt='&#58;&#41;&#41;' class='wp-smiley' width='18' height='18' title='&#58;&#41;&#41;' /></p>
<p><img src='http://jengjeng.matriphe.com/wp-content/uploads/2007/12/pesta-kambing.jpg' alt='Pesta Kambing' /></p>
<p>Hoho.. Kapan lagi pesta kambing macam gini? <img src='http://jengjeng.matriphe.com/smilies/yahoo_giggle.gif' alt='&#59;&#41;&#41;' class='wp-smiley' width='18' height='18' title='&#59;&#41;&#41;' /></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://jengjeng.matriphe.com/kurban-pertama-saya.html/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>43</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Umbul Manten, Wejangan untuk Pengantin</title>
		<link>http://jengjeng.matriphe.com/umbul-manten-wejangan-untuk-pengantin.html</link>
		<comments>http://jengjeng.matriphe.com/umbul-manten-wejangan-untuk-pengantin.html#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 10 Sep 2007 12:00:22 +0000</pubDate>
		<dc:creator>matriphe</dc:creator>
				<category><![CDATA[Destinasi]]></category>
		<category><![CDATA[Gunung, Bukit, Mata Air]]></category>
		<category><![CDATA[Klaten]]></category>
		<category><![CDATA[sendang]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://jengjeng.matriphe.com/index.php/2007/09/10/umbul-manten-wejangan-untuk-pengantin.html</guid>
		<description><![CDATA[Sekitar seminggu yang lalu, tepatnya hari Ahad tanggal 2 September 2007, saya dan Didit melakukan perjalanan yang kami beri tajuk, &#8220;Petualangan Si BOLANG (Bocah Hilang)&#8221; lengkap dengan tas, syal, dan topi terbaliknya. Kali ini Si BOLANG akan menjelajah daerah Klaten, tepatnya Umbul Manten, tempat wisata alternatif yang mungkin cocok dikunjungi menjelang bulan puasa seperti ini. [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><img src="http://jengjeng.matriphe.com/wp-content/uploads/2007/09/bolang1.jpg" alt="Petualangan Si BOLANG (Bocah Hilang) di Umbul Manten" title="Petualangan Si BOLANG (Bocah Hilang) di Umbul Manten" width="350" height="263" class="alignnone size-full wp-image-1277" /></p>
<p>Sekitar seminggu yang lalu, tepatnya hari Ahad tanggal 2 September 2007, saya dan <a href="http://diditkurniawan.web.ugm.ac.id/" title="diditjogja" target="_blank">Didit</a> melakukan perjalanan yang kami beri tajuk, &#8220;Petualangan Si BOLANG (Bocah Hilang)&#8221; lengkap dengan tas, syal, dan topi terbaliknya. <img src='http://jengjeng.matriphe.com/smilies/yahoo_laughloud.gif' alt='&#58;&#41;&#41;' class='wp-smiley' width='18' height='18' title='&#58;&#41;&#41;' /></p>
<p>Kali ini Si BOLANG akan menjelajah daerah Klaten, tepatnya Umbul Manten, tempat wisata alternatif yang mungkin cocok dikunjungi menjelang bulan puasa seperti ini.</p>
<p><span id="more-376"></span>Pada masyarakat Jawa, setiap kali menjelang bulan Ramadhan seperti sekarang ini, ada suatu tradisi tahunan yang dilakukan selain <a href="http://fanabis.blogsome.com/2007/09/09/nadran/" title="nadran" target="_blank">Nyadran</a> (berziarah ke makam). Tradisi tersebut adalah Padusan.</p>
<p>Padusan berasal dari kata &#8220;adus&#8221; yang berarti mandi. Padusan bertujuan untuk mensucikan diri baik lahir maupun batin untuk menyambut bulan Ramadhan dengan cara melakukan &#8220;mandi&#8221;.</p>
<p>Biasanya, Padusan dilakukan pada sumber-sumber air. Sumber air dalam bahasa Jawa sering disebut dengan &#8220;umbul&#8221;.</p>
<p>Kenapa menggunakan umbul untuk lokasi padusan? Filosofinya jelas, air dari sumbernya kan masih bersih, diharapkan dengan mensucikan diri dengan air dari umbul tersebut jiwa dan raga menjadi bersih sebersih air dari umbul tersebut.</p>
<p>Biasanya masyarakat berduyun-duyun datang ke sumber-sumber air untuk melakukan Padusan, mandi bersama, berendam bersama, di sumber-sumber air tersebut.</p>
<p>Namun filosofi dan makna Padusan kini banyak bergeser. Jangankan mensucikan diri, ajang Padusan sering menjadi ajang-ajang maksiat.</p>
<p>Bayangkan saja, biasanya di umbul-umbul tersebut tidak dipisahkan tempat untuk laki dan perempuan, tumpek blek jadi satu. Belum lagi adanya panggung hiburan dangdut yang goyangan dan pakaian penyanyinya bener-bener &#8220;mahadahsyat&#8221;. <img src='http://jengjeng.matriphe.com/smilies/yahoo_devil.gif' alt='&#62;&#58;&#41;' class='wp-smiley' width='18' height='18' title='&#62;&#58;&#41;' /></p>
<p>Otomatis, tau sendiri kan tujuan masyarakat ke tempat-tempat Padusan? <img src='http://jengjeng.matriphe.com/smilies/yahoo_devil.gif' alt='&#62;&#58;&#41;' class='wp-smiley' width='18' height='18' title='&#62;&#58;&#41;' /></p>
<p>Saya ndak akan membahas lebih lanjut soal Padusan ini, tapi akan membahas Umbul Manten yang mungkin bisa dijadikan alternatif tempat untuk melakukan Padusan, atau hanya tempat rekreasi saja bersama keluarga.</p>
<p>Umbul Manten terletak di daerah Tulung, Klaten, di tepi perbatasan Boyolali-Klaten. Alamat persisnya kurang saya ketahui, tapi lokasinya gampang dicapai.</p>
<p>Dari jalan Solo-Jogja, sebelum masuk pertigaan Pakis, Delanggu, bila dari timur (Solo) akan ada papan petunjuk ke obyek wisata pemancingan ikan Janti. Masuk dan ikuti jalan menuju ke obyek wisata Janti tersebut, namun ketika sampa di pertigaan di mana ada petunjuk obyek wisata Janti belok ke kiri, ambil jalan yang lurus.</p>
<p>Ikuti terus jalan lurus tersebut. Umbul Manten terletak di pinggir jalan sehingga mudah ditemukan. Kalo pun ndak ketemu, tanya saja kepada penduduk sekitar, pasti mereka tahu dan dengan senang hati akan menunjukkan arahnya. <img src='http://jengjeng.matriphe.com/smilies/yahoo_wink.gif' alt='&#59;&#41;' class='wp-smiley' width='18' height='18' title='&#59;&#41;' /></p>
<p>Di kawasan ini, ada sekitar 7 buah umbul. Salah satu umbul yang terkenal adalah Umbul Cokro yang sering juga disebut dengan Cokro Tulung. Air-air dari umbul-umbul yang terletak di kawasan ini sering digunakan untuk bahan minuman air mineral atau suplai air <acronym title="Perusahaan Daerah Air Minum">PDAM</acronym>.</p>
<p>Umbul Manten sendiri terdiri dari 2 buah sumber air. Kedua sumber air ini disebut dengan Umbul Peteng dan Umbul Pelem. Masyarakat sekitar lebih sering menyebut Umbul Lanang (laki-laki) dan Umbul Wadon (perempuan).</p>
<p>Ada beberapa versi cerita dari masyarakat tentang yang manakah yang disebut Umbul Lanang dan mana Umbul Wadon. Ada yang bilang Umbul Lanang adalah Umbul Pelem, atau sebaliknya, Umbul Lanang adalah Umbul Peteng. Tetapi menurut seorang bapak tua penduduk sekitar, Umbul Lanang adalah Umbul Pelem sedangkan Umbul Wadon adalah Umbul Peteng.</p>
<p>Umbul Pelem lokasinya berada persis di tepi jalan, sedangkan Umbul Peteng berada agak jauh dari tepi jalan. Umbul Peteng berada di sebelah selatan umbul Pelem. Di sekitar kedua umbul ini kita akan menemukan sawah yang ditanami tanaman Cenil.</p>
<p><img src='http://jengjeng.matriphe.com/wp-content/uploads/2007/09/umbul-pelem.jpg' alt='Umbul Pelem (Umbul Lanang)' /></p>
<p>Disebut Umbul Pelem karena konon dahulu di situ tumbuh pohon Pelem (mangga) yang besar di sekitar umbul. Tetapi pohon itu kini sudah ndak ada, yang ada cuma pohon Beringin besar yang membuat lokasi sekitar umbul menjadi teduh. Umbul ini ukurannya lebih kecil daripada Umbul Peteng.</p>
<p><img src='http://jengjeng.matriphe.com/wp-content/uploads/2007/09/umbul-peteng.jpg' alt='Umbul Peteng (Umbul Wadon)' /></p>
<p>Disebut Umbul Peteng karena lokasi umbul ini peteng (gelap). Di sekeliling umbul ditumbuhi pohon Ipik (mirip-mirip Beringin) sehingga karena saking teduhnya, umbul ini menjadi gelap. Umbul inilah yang paling sering dipakai mandi karena memang cukup luas dan asyik untuk berenang-renang atau sekedar berendam.</p>
<p>Ada cerita rakyat yang beredar di masyarakat mengenai asal muasal umbul ini. Konon dahulu ada sepasang pengantin baru. Pengantin ini diberi wejangan oleh orang tuanya, &#8220;kalo pengantin baru itu, dilarang keluar rumah bersama-sama menjelang senja (maghrib) sebelum 40 hari&#8221;.</p>
<p>Pasangan pengantin tersebut bertanya mengapa mereka dilarang keluar rumah menjelang senja sebelum 40 hari. Dijawab oleh orang tua tersebut, &#8220;kalian ndak perlu membantah. turuti saja dan kalian akan selamat&#8221;, dengan nada sedikit marah karena nasehatnya dibantah.</p>
<p>Pengantin tersebut suatu hari sebelum 40 hari keluar rumah bersama-sama. Saat itu menjelang senja. Sang suami berjalan mendahului istrinya. Setelah berjalan lama, sang suami menengok ke belakang dan menemukan istrinya lenyap. Begitu juga dengan sang istri, ketika dia mengejar sang suami ternyata suaminya lenyap. Nah, letak kedua umbul inilah disinyalir sebagai lokasi di mana kedua suami istri itu lenyap.</p>
<p>Namanya juga cerita rakyat. Boleh percaya boleh tidak. Tapi ada pelajaran yang bisa dipetik dari cerita tersebut. Ini lagi-lagi menurut analisis ala kadarnya saya lo, ya. <img src='http://jengjeng.matriphe.com/smilies/yahoo_bigsmile.gif' alt='&#58;&#68;' class='wp-smiley' width='18' height='18' title='&#58;&#68;' /></p>
<p>Pertama jangan membantah nasehat orang tua. Kedua, sepasang suami istri hendaknya selama masa-masa awal menikah (40 hari pertama) harus menata rumah tangganya dengan baik terlebih dulu. Dilarang keluar rumah bersama-sama dimaksudkan agar ada salah satu di antara mereka yang tetap berada di rumah untuk menjaga rumah tersebut. Ketiga, sepasang suami istri hendaknya selalu berjalan beriringan, baik dalam suka maupun duka.</p>
<p>Umbul Manten ini masih cukup asyik dikunjungi bagi kita yang ndak begitu suka dengan keramaian dan merindukan suasana natural. Datanglah pas hari kerja, niscaya umbul ini akan jadi milik anda. Dan karena itulah lokasi ini sering digunakan untuk pacaran para abege. <img src='http://jengjeng.matriphe.com/smilies/yahoo_laughloud.gif' alt='&#58;&#41;&#41;' class='wp-smiley' width='18' height='18' title='&#58;&#41;&#41;' /></p>
<p>Awalnya saya ndak ngerti dengan tanaman-tanaman yang tumbuh di sekitar umbul. Terdapat pula papan peringatan untuk tidak menginjak tanaman. Saya penasaran dan bertanya pada penduduk sekitar tentang tanaman ini.</p>
<p>&#8220;Itu tanaman Cenil, mas. Biasanya digunakan sebagai sayur pecel. Diambil pada sore hari kalo ingin digunakan keesokan harinya&#8221;, ujar salah satu penduduk di situ.</p>
<p>Saya pun tertarik mendengar kata &#8220;Pecel Cenil&#8221;. Seperti slogan <a href="http://yahoogroups.com/group/jalansutra" title="Komunitas Jalansutra" target="_blank">Jalansutra</a>, &#8220;sekali jalan-jalan terus makan-makan&#8221;, membuat saya penasaran untuk mencoba makanan tersebut. <img src='http://jengjeng.matriphe.com/smilies/yahoo_drool.gif' alt='&#61;&#112;&#126;' class='wp-smiley' width='18' height='18' title='&#61;&#112;&#126;' /></p>
<p>Alhamdulillah. Di lapak-lapak penjual makanan di sekitar lokasi, ada yang menjual pecel ini. Kalo pecel biasanya terdiri dari berbagai macam sayuran, Pecel Cenil ini hanya menggunakan tanaman Cenil yang sudah direbus.</p>
<p>Sebagai sumber energi, kita bisa mengunakan bakmi atau nasi. Dilengkapi kerupuk sambil bersantap di tepi sawah dan ditemani angin sejuk sepoi-sepoi pasti mak nyus!! <img src='http://jengjeng.matriphe.com/smilies/yahoo_drool.gif' alt='&#61;&#112;&#126;' class='wp-smiley' width='18' height='18' title='&#61;&#112;&#126;' /></p>
<p><img src='http://jengjeng.matriphe.com/wp-content/uploads/2007/09/pecel-cenil.jpg' alt='Menu santap siang Pecel Cenil' /></p>
<p>Tanaman Cenil merupakan tanaman air. Dia tumbuh sambung-menyambung satu sama lainnya. Macam Eceng Gondok gitu lah. Eh, tapi beda jauh ding, sama Eceng Gondok. <img src='http://jengjeng.matriphe.com/smilies/yahoo_think.gif' alt='&#58;&#45;&#63;' class='wp-smiley' width='18' height='18' title='&#58;&#45;&#63;' /></p>
<p>Tanaman Cenil harus mendapat suplai air yang cukup. Bila kekurangan air ia akan mati tapi bila terlalu banyak air ia akan busuk. Petak-petak tanaman cenil dibatasi oleh batu-batu yang disusun sedemikian rupa agar suplai air dari umbul dapat terdistribusi secara merata.</p>
<p><img src='http://jengjeng.matriphe.com/wp-content/uploads/2007/09/tanaman-cenil.jpg' alt='Tanaman Cenil' /></p>
<p>Sekian dulu Petualangan Si BOLANG. Nantikan petualangan berikutnya! <img src='http://jengjeng.matriphe.com/smilies/yahoo_wink.gif' alt='&#59;&#41;' class='wp-smiley' width='18' height='18' title='&#59;&#41;' /></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://jengjeng.matriphe.com/umbul-manten-wejangan-untuk-pengantin.html/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>30</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Suiker Fabriek Gondang Winangoen</title>
		<link>http://jengjeng.matriphe.com/suiker-fabriek-gondang-winangoen.html</link>
		<comments>http://jengjeng.matriphe.com/suiker-fabriek-gondang-winangoen.html#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 22 Jul 2007 04:31:48 +0000</pubDate>
		<dc:creator>matriphe</dc:creator>
				<category><![CDATA[Destinasi]]></category>
		<category><![CDATA[Museum & Bangunan Bersejarah]]></category>
		<category><![CDATA[Klaten]]></category>
		<category><![CDATA[museum]]></category>
		<category><![CDATA[pabrik]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://jengjeng.matriphe.com/index.php/2007/07/22/suiker-fabriek-gondang-winangoen.html</guid>
		<description><![CDATA[Trio Tolol kembali beraksi! Setelah berpetualang mematahkan kaki memandulkan sperma ke Ratu Boko beberapa waktu yang lalu, kini Trio Tolol melanjutkan jeng-jeng ke Museum Gula Gondang Baru, Klaten. Sekali lagi, dengan perencanaan yang tiada, jeng-jeng kali ini sedikit lebih bermutu dan tentunya postingannya akan sangat panjang. Ide tolol ini terbersit karena selama perjalanan saya dari [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><img src="http://jengjeng.matriphe.com/wp-content/uploads/2007/07/museum-gula1.jpg" alt="Museum Gula Gondang Baru" title="Museum Gula Gondang Baru" width="350" height="263" class="alignnone size-full wp-image-1389" /></p>
<p>Trio Tolol kembali beraksi! Setelah <a href="http://jengjeng.matriphe.com/index.php/2007/07/17/sunset-hunting-at-ratu-boko-by-bike.html" title="Sunset Hunting at Ratu Boko by Bike!">berpetualang mematahkan kaki memandulkan sperma ke Ratu Boko</a> beberapa waktu yang lalu, kini Trio Tolol melanjutkan jeng-jeng ke Museum Gula Gondang Baru, Klaten. Sekali lagi, dengan perencanaan yang tiada, jeng-jeng kali ini sedikit lebih bermutu dan tentunya postingannya akan sangat panjang. <img src='http://jengjeng.matriphe.com/smilies/yahoo_bigsmile.gif' alt='&#58;&#68;' class='wp-smiley' width='18' height='18' title='&#58;&#68;' /></p>
<p>Ide tolol ini terbersit karena selama perjalanan saya dari Solo ke Jogja atau sebaliknya, selalu melewati kawasan ini. Apalagi Museum Gula ini merupakan bagian dari kompleks Pabrik Gula Gondang Baru yang merupakan pabrik peninggalan jaman Belanda yang masih aktif. Kebetulan musim ini merupakan musim giling tebu, maka hasrat keingintahuan kami pun semakin bertambah.</p>
<p>Selain berkunjung ke Museum Gula yang sepi, kami juga mengunjungi pabrik gula untuk melihat langsung proses penggilingan tebu hingga menjadi gula pasir.</p>
<p><span id="more-319"></span><strong>Museum Gula: Sepi!</strong></p>
<p>Museum Gula ini didirikan atas prakarsa dan diresmikan sendiri oleh Gubernur Jawa Tengah saat itu, Bapak Soepardjo Roestam, pada tanggal 11 September 1982. Museum ini menyimpan berbagai benda yang berkaitan dengan pemrosesan tebu hingga menjadi gula.</p>
<p>Memasuki museum ini, kami diwajibkan menuliskan buku tamu dan membayar dana sukarela. Dari buku tamu, kami melihat beberapa wisatawan dari Belanda, Belgia, dan Jepang pernah mengunjungi museum ini.</p>
<p>Setelah urusan administrasi selesai, kami pun memasuki museum ditemani oleh Mas Bimo, pemandu dan satu-satunya orang yang dapat kami temui di museum itu.</p>
<p>Memasuki ruangan pertama, kami menemukan miniatur kompleks Pabrik Gula Gondang Baru. Sebuah peta Jawa Tengah dengan titik-titik lokasi pabrik gula di Jawa Tengah terpampang jelas di ruangan ini.</p>
<p>Pabrik ini merupakan pabrik yang dibangun pada masa Belanda dan bernama Gondang Winangoen saat itu. PG Gondang Baru merupakan salah satu di antara 180 pabrik gula lain di Pulau Jawa yang masih aktif. Nama Gondang Baru diberikan pada tahun 1960-an.</p>
<p>Pada masa pendudukan Jepang, pabrik-pabrik gula di Jawa banyak yang berubah fungsi menjadi pabrik dan gudang senjata Jepang. Setelah Jepang angkat kaki dari Indonesia, pabrik-pabrik dan gudang ini mangkrak. Beruntung, pabrik ini masih berfungsi dengan baik hingga saat ini.</p>
<p>Ruangan kedua, kami melihat koleksi alat-alat pertanian yang digunakan untuk menanam tebu. Mulai dari cangkul sederhana, contoh jenis tebu, hama pengganggu tanaman tebu, terletak di ruangan ini.</p>
<p>Memasuki ruangan ketiga, kami melihat alat-alat produksi gula jaman dulu. Amperemeter, sekering, trafo, mesin jahit karung, timbangan, pokoknya komponen-komponen pabrik jaman dulu ada di sini.</p>
<p>Kemudian kami memasuki ruangan berikutnya. Di sini dipajang foto-foto upacara selamatan ketika akan memulai musim giling di beberapa pabrik gula.</p>
<p>Kebiasaan masyarakat Jawa, setiap kali ada acara selalu diawali dengan upacara selamatan. Biasanya upacara selamatan awal musim giling ini diawali dengan &#8220;mengawinkan&#8221; sepasang tebu. Acara ini mirip dengan acara perkawinan, tetapi yang dikawinkan adalah sepasang tebu. Sepasang tebu yang sudah &#8220;dikawinkan&#8221; ini kemudian dimasukkan ke dalam mesin penggiling, sebagai tanda dimulainya musim giling.</p>
<p>Selain &#8220;perkawinan&#8221; tebu, biasanya acara selamatan semacam ini dimeriahkan dengan acara pagelaran wayang kulit. Sesaji yang digunakan biasanya menggunakan kepala kerbau atau kepala sapi.</p>
<p>Di ruangan ini pula, dapat dilihat miniatur PG Tasikmadu, Karanganyar, serta foto-foto jadul beberapa pabrik gula di Jawa Tengah.</p>
<p>Ruangan berikutnya adalah miniatur ruang administratif kantor pengurus pabrik. Ada mesin ketik kuno, mesin hitung kuno, kamera kuno, dan foto-foto para pejabat yang pernah menjabat di pabrik ini.</p>
<p>Kemudian ruangan terakhir yang kami kunjungi berisi miniatur pabrik gula. Ternyata proses pembuatan gula ini diibaratkan dengan kereta api. Tiap-tiap bagian proses disebut dengan &#8220;stasiun&#8221; dan orang yang bertanggung jawab atas proses tersebut disebut dengan &#8220;masinis&#8221;.</p>
<p><img src='http://jengjeng.matriphe.com/wp-content/uploads/2007/07/miniatur-pg.jpg' alt='Miniatur Pabrik Gula' /></p>
<p>Usai berkeliling museum, kami pun keluar ke halaman. Di halaman kami menemukan lokomotif kereta lori yang sudah tidak dipakai. Kereta lori merupakan sarana angkutan yang digunakan untuk mengangkut tebu dari kebun ke pabrik. Tapi kini lori sudah tidak dipakai lagi untuk mengangkut tebu dari kebun, tapi hanya digunakan untuk mengangkut tebu menuju ke stasiun penggilingan.</p>
<p>Ada salah satu lokomotif uap yang diberi nama &#8220;simbah&#8221;. Lokomotif ini adalah lokomotif pertama yang digunakan di pabrik ini. Lokomotif bertenaga uap ini merupakan lokomotif buatan Jerman pada tahun 1818. Di samping &#8220;simbah&#8221; ada gerbong lori pengangkut tebu. Pada masanya, &#8220;simbah&#8221; digunakan untuk mengangkut tetes tebu dari Gondang Baru ke Stasiun Srowot untuk selanjutnya dibawa ke Semarang atau Surabaya.</p>
<p>Tak jauh dari &#8220;simbah&#8221; ada pedati yang digunakan untuk mengangkut tebu dari kebun dan lokomotif diesel buatan Belanda yang diberi nama &#8220;ajax&#8221;.</p>
<p><img src='http://jengjeng.matriphe.com/wp-content/uploads/2007/07/loko-lori.jpg' alt='Lokomotif Tua dan Gerbong Lori' /></p>
<p>Sebenernya di pabrik ini ada kereta wisata, yaitu para pengunjung diajak berkeliling kompleks pabrik menggunakan lori. Tapi sayang, paket wisata ini hanya diadakan di luar musim giling karena pas musim giling begini itu lori dipake untuk proses produksi. Berhubung saat kami berkunjung adalah saat musim giling, kami tidak dapat menikmati perjalanan mengunakan lori.</p>
<p><strong>MELIHAT PROSES PEMBUATAN GULA PASIR</strong></p>
<p>Pak Bimo mengajak kami mengunjungi pabrik. Loh, apa boleh? Ya tentu saja boleh, asal ada pemandu yang mendampingi. Tapi sayangnya, selama di dalam pabrik kami tidak diperkenankan berfoto-foto. Mungkin dapat mengganggu kali ya? <img src='http://jengjeng.matriphe.com/smilies/yahoo_bigsmile.gif' alt='&#58;&#68;' class='wp-smiley' width='18' height='18' title='&#58;&#68;' /></p>
<p>Kami berjalan memasuki pabrik dengan gedung tua yang kental sekali arsitektur Belandanya. Di tempat ini juga disewakan sebuah guesthouse bercorak Belanda yang keren banget. Guesthouse ini dulu adalah rumah dinas dari kepala pengelola pabrik. Pokoke kalo masuk rumah ini, serasa jadi meneer Belanda gitu lah. <img src='http://jengjeng.matriphe.com/smilies/yahoo_bigsmile.gif' alt='&#58;&#68;' class='wp-smiley' width='18' height='18' title='&#58;&#68;' /></p>
<p><img src='http://jengjeng.matriphe.com/wp-content/uploads/2007/07/guesthouse.jpg' alt='Guesthouse bercorak Belanda' /></p>
<p>Kami pun smpai di area pabrik. Stasiun pertama yang kami temui adalah stasiun penggilingan. Di sini, tebu diangkut dari truk atau lori menggunakan crane kemudian dimasukkan ke mesin penggiling. Kami melihat sendiri mesin-mesin uap yang masih bekerja dengan baik.</p>
<p>Dari plakat yang tertempel pada tubuh mesin, tertulis: 1879. Roda-roda besar dengan gerigi-gerigi mesin uap ini digunakan sebagai sumber tenaga mesin-mesin penggiling dan seluruh stasiun.</p>
<p>Suara bising memekakkan telinga membuat kami harus setengah berteriak untuk berkomunikasi. Lantai bergetar serasa gempa membuat kami harus berhati-hati selama berada di pabrik ini. Udara panas akibat mesin-mesin uap membuat suasana serasa di sauna. Ditambah harum air tebu dan senyuman ramah para pekerja di pabrik ini membuat kami menikmati tour de fabriek ini.</p>
<p>Menuju stasiun penggilingan, kami melihat bagaimana batang-batang tebu dipotong dan digiling untuk diambil airnya. Batang tebu harus melewati beberapa proses pemerasan agar air tebu dapat diperoleh secara maksimal dan ampasnya menjadi kering.</p>
<p>Air tebu, atau yang disebut dengan nira kemudian ditampung untuk kemudian disalurkan ke stasiun penyaringan. Ampas-ampas tebu yang kering disalurkan ke ruang ketel untuk menjadi bahan bakar mesin-mesin uap. Nah, cerobong besar di pabrik ini mengeluarkan asap sisa pembakaran ini.</p>
<p>Nira kemudian dibersihkan dari kotoran. Caranya dengan mencampurkan nira dengan susu kapur, yaitu campuran air kapur (kalsium oksida) dari gamping dan gas belerang dioksida. Kotoran akan mengendap karena terikat secara kimia oleh kapur dan belerang ini. Hehe, CMIIW ya. <img src='http://jengjeng.matriphe.com/smilies/yahoo_bigsmile.gif' alt='&#58;&#68;' class='wp-smiley' width='18' height='18' title='&#58;&#68;' /></p>
<p>Hehe, saya jadi ingat matakuliah Pengantar Instrumentasi yang diberikan oleh dosen saya, Pak Bambang Purwadi tentang proses otomatisasi pengatur campuran pada proses pemurnian nira ini. <img src='http://jengjeng.matriphe.com/smilies/yahoo_bigsmile.gif' alt='&#58;&#68;' class='wp-smiley' width='18' height='18' title='&#58;&#68;' /></p>
<p>Lanjut. Setelah nira bersih, lalu nira dipanaskan. Fungsinya jelas, menguapkan air sehingga yang tertinggal adalah tetes tebunya (molase) dan endapan gula. Tetes tebu ini kemudian dipisahkan dari endapan gula, sedangkan endapan gula lalu dijadikan kristal dengan cara diputar dengan menggunakan mesin sentrifugal.</p>
<p>Mesin sentrifugal ini bentuknya kek mesin pembuat arum manis. Jadi endapan gula diputar dengan kecepatan tinggi hingga terbentuklah kristal-krisatal gula. Kalo endapan gula tidak diproses dengan putaran, maka akan diperoleh gula kental.</p>
<p>Pernah liat gula jawa atau gula merah? Nah begitulah bentuk dari endapan gula yang sudah dingin bila tidak diproses dengan putaran. <img src='http://jengjeng.matriphe.com/smilies/yahoo_wink.gif' alt='&#59;&#41;' class='wp-smiley' width='18' height='18' title='&#59;&#41;' /></p>
<p>Setelah kristal-kristal gula terbentuk, masuk ke proses pendinginan dan pengayakan. Kalo pengen hasilnya lebih putih, kristal gula diproses lagi hingga menjadi warna lebih putih. Tentu saja rasa manisnya juga berkurang. Jadi jangan heran kalo gula yang berwarna putih dan yang berwarna agak kekuningan itu rasa manisnya beda.</p>
<p>Setelah gula selesai diayak, gula pun dikemas ke dalam karung-karung berukuran 1 kuintal dan dijahit. Setelah dikemas, gula disimpan di dalam gudang dan siap didistribusikan. <img src='http://jengjeng.matriphe.com/smilies/yahoo_bigsmile.gif' alt='&#58;&#68;' class='wp-smiley' width='18' height='18' title='&#58;&#68;' /></p>
<p>Oiya, meskipun di gudang gula ini banyak tersimpan gula, anehnya tidak ditemukan semut di tempat ini. Mungkin tu semut mabok kali ya, kebanyakan makan gula? <img src='http://jengjeng.matriphe.com/smilies/yahoo_laughloud.gif' alt='&#58;&#41;&#41;' class='wp-smiley' width='18' height='18' title='&#58;&#41;&#41;' /></p>
<p>Uh, capek deh. <img src='http://jengjeng.matriphe.com/smilies/yahoo_sweating.gif' alt='&#35;&#58;&#45;&#83;' class='wp-smiley' width='34' height='18' title='&#35;&#58;&#45;&#83;' /></p>
<p>Ternyata bikin gula tu susah juga. Tapi yang membuat saya kagum, pabrik ini masih menggunakan mesin-mesin tua jaman peninggalan Belanda yang semuanya masih berfungsi dengan baik! <img src='http://jengjeng.matriphe.com/smilies/top.gif' alt='&#58;&#116;&#111;&#112;' class='wp-smiley' width='29' height='19' title='&#58;&#116;&#111;&#112;' /></p>
<p><strong>INGAT MASA KECIL</strong></p>
<p><img src='http://jengjeng.matriphe.com/wp-content/uploads/2007/07/kebun-tebu.jpg' alt='Kebun Tebu' class="alignright" /></p>
<p>Saya jadi teringat masa kecil saya. Mencuri tebu di ladang tebu lalu menikmati setiap gigitan batang tebu bersama kawan-kawan. Badan gatel karena terkena <acronym title="serbuk kecil di batang yang bikin gatel">lugut</acronym>, suasana menegangkan karena kucing-kucingan dengan <acronym title="istilah untuk penjaga ladang tebu">sebe</acronym>, numpang gerbong lori yang membawa tebu, ah senangnya.. <img src='http://jengjeng.matriphe.com/smilies/yahoo_daydream.gif' alt='&#56;&#45;&#62;' class='wp-smiley' width='23' height='18' title='&#56;&#45;&#62;' /></p>
<p>Dulu di deket rumah saya ada banyak ladang tebu. Tapi kini udah berubah jadi ladang rumah. Kalo pas musim panen gitu, wah dipastikan banyak anak-anak sebaya yang berbondong-bondong menyerbu ladang. Para sebe pun pasti kewalahan menghadapi kami yang kecil dan lincah berlari menerobos ladang-ladang tebu. <img src='http://jengjeng.matriphe.com/smilies/yahoo_laughloud.gif' alt='&#58;&#41;&#41;' class='wp-smiley' width='18' height='18' title='&#58;&#41;&#41;' /></p>
<p>Tebu sendiri membutuhkan waktu sekitar setahun untuk dapat dipanen. Seingat saya, tebu jaman dulu tuh gede-gede batangnya. Manisnya pun bener-bener mantab. Batangnya kuning, kulitnya tipis, sekali brakot, wah.. Kalo gigi ndak kuat bisa mringis-mringis kesakitan. Kalo tebu sekarang mah kecil-kecil.</p>
<p>Selain tebu, bunga tebu (glagah) juga sering kami jadikan mainan. Batang glagah dibentuk sedemikian rupa menjadi senapan mainan sedangkan bunganya dijadikan aksesoris dengan menyelipkan pada belakang kepala yang diikat karet gelang kek suku indian. Setelah atribut lengkap, kami pun bermain perang-perangan di ladang tebu.. Fire in the hole! <img src='http://jengjeng.matriphe.com/smilies/yahoo_laughloud.gif' alt='&#58;&#41;&#41;' class='wp-smiley' width='18' height='18' title='&#58;&#41;&#41;' /></p>
<p>Huhuh.. Manisnya tebu membuatku teringat manisnya masa kecil.. <img src='http://jengjeng.matriphe.com/smilies/yahoo_smiley.gif' alt='&#58;&#41;' class='wp-smiley' width='18' height='18' title='&#58;&#41;' /></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://jengjeng.matriphe.com/suiker-fabriek-gondang-winangoen.html/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>60</slash:comments>
		</item>
	</channel>
</rss>

