<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>jengjeng matriphe! &#187; kraton</title>
	<atom:link href="http://jengjeng.matriphe.com/tag/kraton/feed" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://jengjeng.matriphe.com</link>
	<description>pengen jalan-jalan, makan-makan, dan lain-lain</description>
	<lastBuildDate>Tue, 02 Aug 2011 11:41:49 +0000</lastBuildDate>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<generator>http://wordpress.org/?v=3.2.1</generator>
	<atom:link rel='hub' href='http://jengjeng.matriphe.com/?pushpress=hub'/>
		<item>
		<title>Grebeg Maulud, Puncak Acara Sekaten</title>
		<link>http://jengjeng.matriphe.com/grebeg-maulud-puncak-acara-sekaten.html</link>
		<comments>http://jengjeng.matriphe.com/grebeg-maulud-puncak-acara-sekaten.html#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 20 Mar 2008 14:41:50 +0000</pubDate>
		<dc:creator>matriphe</dc:creator>
				<category><![CDATA[Destinasi]]></category>
		<category><![CDATA[Festival, Seni, Budaya]]></category>
		<category><![CDATA[grebeg]]></category>
		<category><![CDATA[kraton]]></category>
		<category><![CDATA[Sekaten]]></category>
		<category><![CDATA[Yogyakarta]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://jengjeng.matriphe.com/index.php/2008/03/20/grebeg-maulud-puncak-acara-sekaten.html</guid>
		<description><![CDATA[Acara Sekaten yang diadakan untuk memperingati Maulid Nabi Muhammad SAW diakhiri dengan acara Grebeg Maulud. Grebeg adalah upacara adat berupa sedekah yang dilakukan pihak kraton kepada masyarakat berupa gunungan. Kraton Yogyakarta dan Surakarta setiap tahun mengadakan upacara grebeg sebanyak 3 kali, yaitu Grebeg Syawal pada saat hari raya Idul Fitri, Grebeg Besar pada saat hari [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><img src="http://jengjeng.matriphe.com/wp-content/uploads/2008/03/gunungan1.jpg" alt="Abdi Dalem membawa Gunungan Jaler" title="Abdi Dalem membawa Gunungan Jaler" width="350" height="263" class="alignnone size-full wp-image-1186" /></p>
<p>Acara Sekaten yang diadakan untuk memperingati Maulid Nabi Muhammad SAW diakhiri dengan acara Grebeg Maulud.</p>
<p>Grebeg adalah upacara adat berupa sedekah yang dilakukan pihak kraton kepada masyarakat berupa gunungan.</p>
<p><span id="more-658"></span>Kraton Yogyakarta dan Surakarta setiap tahun mengadakan upacara grebeg sebanyak 3 kali, yaitu Grebeg Syawal pada saat hari raya Idul Fitri, Grebeg Besar pada saat hari raya Idul Adha, dan Grebeg Maulud atau sering disebut dengan Grebeg Sekaten pada peringatan Maulid Nabi Muhammad.</p>
<p>Menilik sejarah, kata &#8220;grebeg&#8221; berasal dari kata &#8220;gumrebeg&#8221; yang berarti riuh, ribut, dan ramai. Tentu saja ini menggambarkan suasana grebeg yang memang ramai dan riuh.</p>
<p>Gunungan pun memiliki makna filosofi tertentu. Gunungan yang berisi hasil bumi (sayur dan buah) dan jajanan (rengginang) ini merupakan simbol dari kemakmuran yang kemudian dibagikan kepada rakyat.</p>
<p>Pada upacara grebeg ini, gunungan yang digunakan bernama Gunungan Jaler (pria), Gunungan Estri (perempuan), serta Gepak dan Pawuhan.</p>
<p>Gunungan ini dibawa oleh para abdi dalem yang menggunakan pakaian dan peci berwarna merah marun dan berkain batik biru tua bermotif lingkaran putih dengan gambar bunga di tengah lingkarannya. Semua abdi dalem ini tanpa menggunakan alas kaki alias <em>nyeker</em>.</p>
<p>Gunungan diberangkatkan dari Kori Kamandungan dengan diiringi tembakan salvo dan dikawal sepuluh bregada prajurit kraton sekitar pukul 10 siang.</p>
<p>Dari Kamandungan, gunungan dibawa melintasi Sitihinggil lalu menuju Pagelaran di alun-alun utara untuk diletakkan di halaman Masjid Gedhe dengan melewati pintu regol.</p>
<p>Saat berangkat dari kraton, barisan terdepan adalah prajurit Wirabraja yang sering disebut dengan prajurit lombok abang karena pakaiannya yang khas berwarna merah-merah dan bertopi Kudhup Turi berbentuk seperti lombok.</p>
<p>Sebagai catatan, prajurit Wirabraja memang mempunyai tugas sebagai &#8220;cucuking laku&#8221;, alias pasukan garda terdepan di setiap upacara kraton.</p>
<p>Kemudian ketika acara serah terima gunungan di halaman Masjid Gedhe, prajurit yang mengawal adalah prajurit Bugis yang berseragam hitam-hitam dengan topinya yang khas serta prajurit Surakarsa yang berpakaian putih-putih.</p>
<p><img src='http://jengjeng.matriphe.com/wp-content/uploads/2008/03/surakarsa-bugis.jpg' alt='Prajurit Surakarsa dan Bugis' /></p>
<p>Setelah gunungan diserahkan kepada penghulu Masjid Gede untuk kemudian didoakan oleh penghulu tersebut, gunungan pun dibagikan.</p>
<p>Namun belum selesai doa diucapkan, gunungan pun sontak direbut oleh masyarakat yang datang dari seluruh penjuru Jogja. Yang memprihatinkan, banyak sekali nenek-nenek yang ikut berebut gunungan.</p>
<p>Memang ada kepercayaan dari masyarakat bahwa barangsiapa yang mendapat bagian apa pun dari gunungan tersebut, dia akan mendapat berkah.</p>
<p><img src='http://jengjeng.matriphe.com/wp-content/uploads/2008/03/rayah-gunungan.jpg' alt='Masyarakat berebut Gunungan Jaler' /></p>
<p>Filosofi berebut atau &#8220;ngrayah&#8221; ini menggambarkan bahwa untuk mencapai suatu tujuan, manusia harus &#8220;ngrayah&#8221; atau berusaha untuk mengambilnya.</p>
<p>Bahkan beberapa warga masih terlihat mengais sisa-sisa yang ada. Seorang mbah-mbah yang berasal dari Bantul mengatakan bahwa potongan kacang panjang yang didapatnya akan dia simpan untuk mendatangkan keamanan dan ketentraman di rumahnya.</p>
<p>Seorang pemuda yang hanya mendapatkan bambu-bambu sisa rangka gunungan berkata akan menyimpan bambu tersebut dalam gerobak mi ayamnya dengan tujuan untuk penglaris.</p>
<p>Acara rebutan gunungan inilah yang biasanya menjadi daya tarik para wisatawan, baik domestik maupun asing.</p>
<p>Di sekitar, banyak wartawan dari media elektronik maupun para fotografer dengan kamera berlensa pralon bertebaran. <img src='http://jengjeng.matriphe.com/smilies/yahoo_laughloud.gif' alt='&#58;&#41;&#41;' class='wp-smiley' width='18' height='18' title='&#58;&#41;&#41;' /></p>
<p>Fred, seorang turis asal Austalia yang saya tanya nampak antusias dan berkata, &#8220;it&#8217;s amazing! it&#8217;s beyond of my expectation..&#8221;, sambil menenteng kamera videonya.</p>
<p>Duh, saya ngiler sama bule cewek di sebelahnya yang pakaiannya.. <img src='http://jengjeng.matriphe.com/smilies/yahoo_drool.gif' alt='&#61;&#112;&#126;' class='wp-smiley' width='18' height='18' title='&#61;&#112;&#126;' /></p>
<p>Dengan berakhirnya acara Grebeg Maulud ini, usai sudah acara perayaan Maulud Nabi Muhammad yang diwujudkan dalam acara Sekaten.</p>
<p>Baca juga: <a href="http://jengjeng.matriphe.com/index.php/2008/03/19/tradisi-tradisi-acara-sekaten.html" title="Tradisi-Tradisi Acara Sekaten">Tradisi-Tradisi Acara Sekaten</a></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://jengjeng.matriphe.com/grebeg-maulud-puncak-acara-sekaten.html/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>28</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Tradisi-Tradisi Acara Sekaten</title>
		<link>http://jengjeng.matriphe.com/tradisi-tradisi-acara-sekaten.html</link>
		<comments>http://jengjeng.matriphe.com/tradisi-tradisi-acara-sekaten.html#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 19 Mar 2008 12:35:45 +0000</pubDate>
		<dc:creator>matriphe</dc:creator>
				<category><![CDATA[Asal Muasal & Sejarah]]></category>
		<category><![CDATA[Festival, Seni, Budaya]]></category>
		<category><![CDATA[kraton]]></category>
		<category><![CDATA[Sekaten]]></category>
		<category><![CDATA[Yogyakarta]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://jengjeng.matriphe.com/index.php/2008/03/19/tradisi-tradisi-acara-sekaten.html</guid>
		<description><![CDATA[Malam ini (19/3) merupakan malam terakhir perayaan Sekaten tahun ini, setelah selama sebulan acara Sekaten digelar di Alun-Alun Yogyakarta. Puncak acara Sekaten sendiri ditandai dengan dikeluarkannya 2 perangkat gamelan kraton yang diletakkan dan dimainkan di halaman Masjid Agung Yogyakarta selama seminggu sebelum puncak acara Grebeg Sekaten. Awal dari acara puncak Sekaten adalah dengan dikeluarkannya gamelan [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><img src="http://jengjeng.matriphe.com/wp-content/uploads/2008/03/kondur-gangsa1.jpg" alt="Prosesi Kondur Gangsa" title="Prosesi Kondur Gangsa" width="350" height="263" class="alignnone size-full wp-image-1187" /></p>
<p>Malam ini (19/3) merupakan malam terakhir perayaan Sekaten tahun ini, setelah selama sebulan acara Sekaten digelar di Alun-Alun Yogyakarta. </p>
<p>Puncak acara Sekaten sendiri ditandai dengan dikeluarkannya 2 perangkat gamelan kraton yang diletakkan dan dimainkan di halaman Masjid Agung Yogyakarta selama seminggu sebelum puncak acara Grebeg Sekaten.</p>
<p><span id="more-654"></span>Awal dari acara puncak Sekaten adalah dengan dikeluarkannya gamelan Kyai Guntur Madu dan Kyai Naga Wilaga (kalo di Solo adalah Kyai Guntur Madu dan Kyai Guntur Sari) pada tanggal 5 bulan Mulud, seminggu sebelum Maulid Nabi yang jatuh pada tanggal 12 Mulud Tahun Jawa.</p>
<p>Sekitar pukul 23.00, gamelan kraton dikeluarkan dari tempat penyimpanannya, di Bangsal Sri Manganti lalu disinggahkan di Bangsal Ponconiti yang kemudian dengan pengawalan para prajurit kraton, dibawa ke halaman Masjid Agung.</p>
<p>Gamelan Kyai Guntur Madu diletakkan di Pagongan Lor (utara) sedangkan Kyai Naga Wilaga diletakkan di Pagongan Kidul (selatan) halaman Masjid Agung. Prosesi ini disebut dengan upacara Mios Gangsa.</p>
<p>Selama sepekan, gamelan ini dibunyikan setiap hari, kecuali pada hari Kamis malam dan hari Jumat. Karena prosesi Mios Gangsa pada Sekaten tahun ini jatuh pada hari Kamis, maka gamelan ini ndak dibunyikan hari itu.</p>
<p>Gending-gending yang dimainkan memiliki nuansa magis yang kental. Menggunakan laras pelog namun berbeda dengan pelog biasa, gamelan ini dibunyikan dengan cara yang berbeda.</p>
<p>Seperangkat gamelan ini hanya terdiri atas bonang, saron, dan gong. Ndak seperti seperangkat gamelan lengkap lainnya.</p>
<p>Kalo menilik sejarah, tradisi ini diawali oleh Sunan Kalijaga yang menggunakan gamelan ini sebagai media dakwah. Untuk menarik perhatian masyarakat, Sunan Kalijaga memainkan gamelan ini dan ketika warga sudah berkumpul, Sunan Kalijaga memberikan pengajian.</p>
<p>Selama Sekaten berlangsung, memang di Masjid Gede setiap hari diadakan pengajian di sela-sela tabuhan gamelan.</p>
<p>Di sekitar halaman masjid banyak dijumpai para penjual kinang, telor merah, pecut, dan nasi gurih. Ada tradisi unik yang mendasari kenapa banyaknya penjual benda-benda ini.</p>
<p><img src='http://jengjeng.matriphe.com/wp-content/uploads/2008/03/penjual-kinang.jpg' alt='Penjual Kinang' /></p>
<p>Masyarakat percaya jika kita mendengar gamelan ini ditabuh, kemudian kita <em>nginang</em> (mengunyah daun sirih, gambir, tembakau, dan kapur) maka dipercaya kita akan awet muda dan mendapat berkah.</p>
<p>Ada kepercayaan kalo setelah nginang bibir dan gigi kita tidak berwarna merah, berarti kita sering bohong.</p>
<p>Selain tradisi nginang, ada tradisi membeli dan makan <em>sega gurih</em> (nasi gurih alias nasi uduk).</p>
<p>Tradisi ini adalah simbol bahwa kita mensyukuri apa-apa yang sudah kita dapatkan. Dengan makan nasi yang sudah diberi bumbu, diharapkan kehidupan kita akan semakin nikmat, seperti rasa nasi yang kita makan.</p>
<p>Ada pula tradisi membeli <em>endog abang</em> alias telur merah. Telur ini adalah telur rebus biasa yang kulitnya diberi warna merah. Telur ini kemudian ditusuk dengan menggunakan tusuk sate yang kemudian dihias.</p>
<p>Kalo di Solo, namanya <em>endog amal</em>, yaitu telor asin. Endog amal maksudnya agar kita menjadi orang yang suka beramal.</p>
<p>Telur adalah cikal bakal kehidupan. Sedangkan warna merah artinya keberuntungan, rejeki, berkah, dan keberanian.</p>
<p>Jadi diharapkan dengan memakan telur ini, kita bisa kembali lahir menjadi seseorang yang berjiwa bersih, pemberani, dan penuh keberkahan.</p>
<p>Sedangkan tusuk sate melambangkan bahwa kita semua memiliki poros kehidupan, yaitu Tuhan Yang Maha Esa.</p>
<p>Pecut juga banyak dijual di tempat ini. Pecut adalah alat yang digunakan untuk menggiring ternak agar berjalan pada jalan yang benar. Nah, makna membeli pecut di tempat ini adalah diharapkan kita bisa menggiring nafsu kita supaya berjalan ke jalan yang benar.</p>
<p>Sebelum upacara pengembalian gamelan ini ke Bangsal Sri Manganti dilaksanakan, di dalam serambi Masjid Agung diadakan acara pembacaan riwayat kehidupan Nabi Muhammad SAW dalam bahasa Jawa.</p>
<p>Pembacaan riwayat ini dihadiri oleh Ngarso Dalem Sri Sultan Hamengkubuwana X beserta keluarga dan abdi dalem.</p>
<p>Sekitar pukul 22.30, pembacaan riwayat Nabi selesai. Para pasukan bersiap, dan Ngarso Dalem pun berjalan keluar masjid untuk kembali ke kraton dengan diiringi para prajurit Wirabraja, yang sering disebut dengan pasukan lombok abang karena seragamnya mirip lombok ini, sebagai cucuk lampah.</p>
<p>Setelah Ngarsa Dalem kembali, gamelan Kyai Guntur Madu dan Kyai Naga Wilaga pun kemudian diangkat dan kemudian dikembalikan. Prosesi pengembalian ini disebut dengan Kondur Gangsa.</p>
<p>Besok pagi, puncak perayaan Maulid Nabi akan berlangsung, yaitu Grebeg Sekaten, yang dilakukan di halaman Masjid Agung juga.</p>
<p>Baca juga: <a href="http://jengjeng.matriphe.com/index.php/2008/03/20/grebeg-maulud-puncak-acara-sekaten.html" title="Grebeg Maulud, Puncak Acara Sekaten">Grebeg Maulud, Puncak Acara Sekaten</a>.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://jengjeng.matriphe.com/tradisi-tradisi-acara-sekaten.html/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>21</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>JengJeng dan JalanJalan di Solo</title>
		<link>http://jengjeng.matriphe.com/jengjeng-dan-jalanjalan-di-solo.html</link>
		<comments>http://jengjeng.matriphe.com/jengjeng-dan-jalanjalan-di-solo.html#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 23 Jan 2008 08:48:49 +0000</pubDate>
		<dc:creator>matriphe</dc:creator>
				<category><![CDATA[Travelogue]]></category>
		<category><![CDATA[batik]]></category>
		<category><![CDATA[kraton]]></category>
		<category><![CDATA[museum]]></category>
		<category><![CDATA[Solo]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://jengjeng.matriphe.com/index.php/2008/01/23/jengjeng-dan-jalanjalan-di-solo.html</guid>
		<description><![CDATA[Beberapa waktu yang lalu, sebuah nomer Jakarta nongol di layar henpon saya. Saya sempat berpikir mungkinkah ini panggilan interview dari sebuah perusahaan di kota laknat bernama Jakarta itu? Setelah saya pencet tombol OK untuk menjawab telepon, terdengar suara renyah seorang wanita yang menyapa. &#8220;Halo, ini bener Zam? Saya Ina dari Majalah JalanJalan, temennya Gita Aprikot. [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><img src="http://jengjeng.matriphe.com/wp-content/uploads/2008/01/zam-ina1.jpg" alt="Zam JengJeng dan Ina JalanJalan" title="Zam JengJeng dan Ina JalanJalan" width="350" height="263" class="alignnone size-full wp-image-1203" /></p>
<p>Beberapa waktu yang lalu, sebuah nomer Jakarta nongol di layar henpon saya.</p>
<p>Saya sempat berpikir mungkinkah ini panggilan interview dari sebuah perusahaan di kota laknat bernama Jakarta itu?</p>
<p>Setelah saya pencet tombol OK untuk menjawab telepon, terdengar suara renyah seorang wanita yang menyapa.</p>
<p>&#8220;Halo, ini bener Zam? Saya <a href="http://jalanjalan.co.id/contributors.php?id=43" title="Ina Hapsari" target="_blank">Ina</a> dari <a href="http://www.jalanjalan.co.id/" title="Majalah JalanJalan" target="_blank">Majalah JalanJalan</a>, temennya <a href="http://aprikot.wordpress.com/" title="Gita Aprikot" target="_blank">Gita Aprikot</a>. Kira-kira kamu bisa bantu saya?&#8221;</p>
<p><span id="more-598"></span>Rupanya Ina membutuhkan beberapa informasi mengenai Solo yang akan dia tulis di majalahnya edisi mendatang.</p>
<p>&#8220;Wah, kebetulan&#8221;, pikir saya. Sudah lama saya ndak keluyuran di Solo karena ndak ada temen jalan. Saya pun menawarkan diri untuk menemani kalo dia bener datang ke Solo.</p>
<p>Selama 3 hari 2 malam, saya dan Ina melakukan penjelajahan di Solo. Yang membuat saya sedikit malu, rupanya cukup banyak tempat menarik yang ada di Solo yang ndak saya ketahui.</p>
<p>Ternyata cukup menyenangkan juga bertemu dengan wartawan traveling macam Ina. Saya mendapat banyak sekali cerita dan pengalaman dia ketika ia berkunjung ke berbagai tempat di Indonesia dan dunia.</p>
<p>Saya langsung iri dengan kerjaan dia yang isinya ngeluyur ke tempat-tempat macam itu. Pengeeen!!! <img src='http://jengjeng.matriphe.com/smilies/yahoo_drool.gif' alt='&#61;&#112;&#126;' class='wp-smiley' width='18' height='18' title='&#61;&#112;&#126;' /></p>
<p>Laksana kopdar bloger pertama kali, saya langsung bisa akrab sama dia. Orangnya yang rame dan doyan bercerita membuat saya merasa nyaman dan &#8220;klik&#8221; jalan bareng dia.</p>
<p>Selain itu, Ina juga bukan tipe traveler pemilih. Saya ajak ndoyok pun dia setuju. What a nice travelmate! <img src='http://jengjeng.matriphe.com/smilies/yahoo_wink.gif' alt='&#59;&#41;' class='wp-smiley' width='18' height='18' title='&#59;&#41;' /></p>
<p>Saya banyak sekali mendapat pengetahuan, informasi, serta tips-tips dari Ina tentang traveling. Mulai dari yang nggembel (backpacking) hingga yang level mid-to-top traveling.</p>
<p>Kebetulan tugas dia di Solo adalah mengupas beberapa tempat yang termasuk level mid-to-top traveling destination. Ini adalah ranah yang belum pernah saya coba karena tentunya keterbatasan finansial. <img src='http://jengjeng.matriphe.com/smilies/yahoo_laughloud.gif' alt='&#58;&#41;&#41;' class='wp-smiley' width='18' height='18' title='&#58;&#41;&#41;' /></p>
<p>Namun di luar tugas peliputan, dia justru mengajak saya untuk ndoyok. Hoho.. You got a right person, Na! <img src='http://jengjeng.matriphe.com/smilies/yahoo_wink.gif' alt='&#59;&#41;' class='wp-smiley' width='18' height='18' title='&#59;&#41;' /></p>
<p>Ina rencananya datang bersama fotografernya, seorang Belanda yang sudah cukup lama tinggal di Indonesia, <a href="http://jalanjalan.co.id/contributors.php?id=40" title="Jan Dekker" target="_blank">Jan Dekker</a>. Namun tiba-tiba fotografernya ndak bisa datang karena sakit.</p>
<p>Saya pun diminta sama Ina untuk jadi fotografernya selama liputan. Wah! Suatu kehormatan.</p>
<p>Maka jadilah saya menjadi fotografer sok-tau dan banyak nggaya karena memang saya ndak bakat jadi fotografer. Bakat saya kan sebenernya fotomodel! <img src='http://jengjeng.matriphe.com/smilies/yahoo_sunglas.gif' alt='&#98;&#45;&#41;' class='wp-smiley' width='18' height='18' title='&#98;&#45;&#41;' /></p>
<p>Lucunya, biasanya fotografer kan pake kamera SLR gitu, dengan segudang peralatan mulai dari tripod hingga lampu-lampu, la modal saya cuma kamera poket pinjaman. <img src='http://jengjeng.matriphe.com/smilies/yahoo_laughloud.gif' alt='&#58;&#41;&#41;' class='wp-smiley' width='18' height='18' title='&#58;&#41;&#41;' /></p>
<p>Ndak tau deh apakah foto-foto hasil jepretan saya itu layak cetak di majalah yang mengusung tema &#8220;travel in style&#8221; dan &#8220;style in travel&#8221; itu. <img src='http://jengjeng.matriphe.com/smilies/yahoo_giggle.gif' alt='&#59;&#41;&#41;' class='wp-smiley' width='18' height='18' title='&#59;&#41;&#41;' /></p>
<p>Our first destination adalah sebuah resto dan guesthouse yang sangat cantik bernama Roemahkoe, yang terletak di Jl. Dr. Rajiman 501, Laweyan, Solo.</p>
<p>Bangunan ini dibangun paa tahun 1938 bergaya &#8220;art deco&#8221; yang dulunya milik seorang saudagar batik.</p>
<p>Terang saja, dari belakang bangunan ini, ada sebuah pintu tembus ke Kampung Batik Laweyan.</p>
<p>Arsitektur Jawa yang berpadu Eropa begitu memukau saya yang suka melihat bangunan-bangunan tua.</p>
<p>Belum lagi interiornya yang khas Jawa berpadu dengan foto-foto jadul jaman Belanda.</p>
<p>Di restonya, saya bertugas memfoto dan mencicipi beberapa menu unggulan dari resto ini. Hohoho! <img src='http://jengjeng.matriphe.com/smilies/yahoo_devil.gif' alt='&#62;&#58;&#41;' class='wp-smiley' width='18' height='18' title='&#62;&#58;&#41;' /></p>
<p><img src='http://jengjeng.matriphe.com/wp-content/uploads/2008/01/roemahkoe.jpg' alt='Roemahkoe' /></p>
<p>Salah satu menu yang diunggulkan di resto ini adalah Lodoh Pindang yang konon merupakan makanan favorit Sri Sultan Pakubuwana X.</p>
<p>Untuk minuman, Pak Bondan Winarno pas acara Wisata Kuliner pernah mencoba Es Cemol yang jahenya berasa sangat nendang!</p>
<p>Tapi maafken, beberapa foto ndak bisa saya share di sini. <img src='http://jengjeng.matriphe.com/smilies/yahoo_bigsmile.gif' alt='&#58;&#68;' class='wp-smiley' width='18' height='18' title='&#58;&#68;' /></p>
<p>Habis dari Roemahkoe, Ina ngajakin ke kebun binatang. Motor Kaze pun saya arahkan ke Taman Satwa Taru Jurug yang berada di pinggir kali Bengawan Solo.</p>
<p>Hohoh.. Terakhir kali saya ke sini, kalo ndak salah pas TK. Sepertinya menarik juga menengok <strike>kerabat</strike> kondisi satwa di kebun binatang ini.</p>
<p>Setelah berputar dan melihat-lihat koleksi satwa di kebun binatang yang pengelolaannya kini dipegang pihak swasta ini, saya miris dan sedih.</p>
<p>Lepaskan saja semua binatang ini dan kembalikan ke habitatnya! <img src='http://jengjeng.matriphe.com/smilies/yahoo_angry.gif' alt='&#88;&#40;' class='wp-smiley' width='34' height='18' title='&#88;&#40;' /></p>
<p>Saya sedikit emosi, sedih, dan hanya bisa mengelus dada melihat kondisi satwa yang mengenaskan.</p>
<p><img src='http://jengjeng.matriphe.com/wp-content/uploads/2008/01/awas-buas.jpg' alt='Awas Binatang Buas' /></p>
<p>Malamnya saya mengajak Ina untuk mencicipi hidangan khas Solo, Nasi Liwet, di kawasan Keprabon.</p>
<p>Melalui Ina yang melakukan interview terhadap si penjual, saya baru tau kalo penjual Nasi Liwet di kawasan ini rupanya masih satu keluarga, keluarga Bu Wongso.</p>
<p>Pantes saja banyak warung yang menggunakan merk &#8220;Nasi Liwet Bu Wongso Lemu&#8221;. <img src='http://jengjeng.matriphe.com/smilies/yahoo_laughloud.gif' alt='&#58;&#41;&#41;' class='wp-smiley' width='18' height='18' title='&#58;&#41;&#41;' /></p>
<p>Dan uniknya, para penjual Nasi Liwet ini berasal dari daerah Baki, Sukoharjo. <img src='http://jengjeng.matriphe.com/smilies/yahoo_giggle.gif' alt='&#59;&#41;&#41;' class='wp-smiley' width='18' height='18' title='&#59;&#41;&#41;' /></p>
<p><img src='http://jengjeng.matriphe.com/wp-content/uploads/2008/01/wongso-lemu.jpg' alt='Warung Nasi Liwet Bu Wongso Lemu Keprabon' /></p>
<p>Tujuan kami esok harinya adalah ke Museum Batik Kuno Danar Hadi. Saya sendiri baru tau kalo ada museum ini ya dari si Ina.</p>
<p>Padahal museum ini bener-bener keren dan patoet dipoedjiken!</p>
<p>Museum ini menyimpan berbagai kain batik kuno koleksi Bapak Santoso Dullah, pemilik Danar Hadi.</p>
<p>Melihat-lihat koleksi batik dan mendengar penjelasan Asisten Manager museum ini, Bu Asti, semakin menguatkan bahwa batik sebenernya berawal dari Jawa.</p>
<p>Bahkan batik Pekalongan, batik Madura, hingga batik-batik Sumatra, semuanya berakar dari batik yang ada di Jawa, terutama dari masa kerajaan Pajang dan Mataram.</p>
<p>Batik rupanya juga menyerap berbagai kebudayaan yang masuk di masanya yang kemudian tertuang di dalam motifnya.</p>
<p>Ada motif Jawa Hokokai yang mendapat pengaruh Jepang, ada batik yang terpengaruh gaya Eropa, India, Cina, dan Arab.</p>
<p>Selain dari motif, daerah asal batik juga dapat dilihat dari warna yang mendominasi.</p>
<p>Warna coklat merupakan warna khas kraton, warna biru adalah warna batik khas daerah pesisir utara yang terpengaruh warna laut, warna merah yang terpengaruh kebudayaan Cina, dan lain-lain.</p>
<p>Ada juga motif batik pagi-sore di mana satu kain bisa dipakai 2 kali dengan motif berbeda. Juga batik yang untuk mewarnainya harus dibawa ke 3 tempat.</p>
<p>Segala hal mengenai batik sangat lengkap di museum ini.</p>
<p><img src='http://jengjeng.matriphe.com/wp-content/uploads/2008/01/membatik.jpg' alt='Membuat batik tulis' /></p>
<p>Selain itu, pengunjung juga bisa melihat secara langsung proses pembuatan batik tulis dan batik cap yang ada di lingkungan pabrik batik Danar Hadi.</p>
<p>Museum ini terletak di Jl. Slamet Riyadi, berada di seberang hotel Novotel Solo di samping Toko Sami Luwes. <img src='http://jengjeng.matriphe.com/smilies/yahoo_bigsmile.gif' alt='&#58;&#68;' class='wp-smiley' width='18' height='18' title='&#58;&#68;' /></p>
<p>Selama di dalam museum, pengunjung dilarang mengambil gambar. Tapi ketika di pabrik, pengunjung diperbolehkan mengambil gambar.</p>
<p>Tapi karena saat itu saya &#8220;bertugas&#8221; maka saya pun boleh jeprat-jepret mengambil gambar suasana museum. <img src='http://jengjeng.matriphe.com/smilies/yahoo_giggle.gif' alt='&#59;&#41;&#41;' class='wp-smiley' width='18' height='18' title='&#59;&#41;&#41;' /></p>
<p>Berlanjut perjalanan kami menelusuri segala hal tentang batik, kami pun menuju ke Kampung Batik Laweyan.</p>
<p>Secara umum, kampung batik ini rupanya lebih dulu ada jauh sebelum Kraton Surakarta ada.</p>
<p>Motif batik dari kampung ini lebih bervariatif dan cenderung mengikuti pasar daripada motif batik kraton yang mempunyai makna filosofi dan pakem-pakem tertentu.</p>
<p>Tata kota kampung dan bentuk bangunan di wilayah ini ini pun mengingatkan saya pada tata kota dan bangunan di <a href="http://jengjeng.matriphe.com/index.php/tag/kotagede" title="Tag: Kotagede">Kotagede</a> yang rupanya mempunyai alur sejarah yang saling bertautan.</p>
<p>Selain Laweyan, ada sebuah kampung batik lain di Solo, yaitu Kampung Batik Kauman yang lebih condong ke pemenuhan kebutuhan kraton.</p>
<p><img src='http://jengjeng.matriphe.com/wp-content/uploads/2008/01/laweyan.jpg' alt='Salah satu sudut di Kampung Batik Laweyan' /></p>
<p>Untuk Kampung Batik Laweyan ini, <strike>insya Allah akan</strike> sudah saya tulis di <a href="http://jengjeng.matriphe.com/index.php/2008/01/24/menelusuri-jejak-sejarah-kampung-batik-laweyan.html" title="Menelusuri Jejak Sejarah Kampung Batik Laweyan">postingan terpisah</a>. <img src='http://jengjeng.matriphe.com/smilies/yahoo_wink.gif' alt='&#59;&#41;' class='wp-smiley' width='18' height='18' title='&#59;&#41;' /></p>
<p>Agenda hari berikutnya, kami mengunjungi Kraton Kasunana Surakarta dan Istana Mangkunegaran.</p>
<p>Di Kraton Kasunanan, ndak banyak yang membuat saya tertarik.</p>
<p>Apalagi bapak abdi dalem yang menjadi guide kami saat itu menurut perasaan si Ina, kemungkinan dia naksir saya! <img src='http://jengjeng.matriphe.com/smilies/yahoo_ooooh.gif' alt='&#58;&#45;&#111;' class='wp-smiley' width='18' height='18' title='&#58;&#45;&#111;' /></p>
<p>Oh mai gat! Tidaaakkk!!! <img src='http://jengjeng.matriphe.com/smilies/yahoo_nailbiting.gif' alt='&#58;&#45;&#83;&#83;' class='wp-smiley' width='36' height='18' title='&#58;&#45;&#83;&#83;' /></p>
<p>Ina malah semakin menjadi dengan menggoda saya karena itu bapak dengan agresifnya menyerang saya. Kadal njengking, kecoak bunting!!</p>
<p><acronym title="karena sebenernya bukan kraton, sih">Istana</acronym> Mangkunegaran menjadi pengalaman terbaru saya. Jujur, selama saya besar dan tinggal di Solo, saya belum pernah mengunjungi tempat ini. <img src='http://jengjeng.matriphe.com/smilies/yahoo_blush.gif' alt='&#58;&#34;&#62;' class='wp-smiley' width='18' height='18' title='&#58;&#34;&#62;' /></p>
<p>Mangkunegara berpangkat setara adipati dari Kraton Kasunanan. Di Jogja, jabatan ini setara dengan Pakualam.</p>
<p>Mangkunegara sendiri lebih berfungsi semacam panglima perang, sehingga pantas saja kalo di sekitar istana ini ada banyak lapangan yang memang diperuntukkan untuk latihan berperang.</p>
<p>Bangunan istana ini menurut saya lebih bagus dan lebih terawat. Apalagi beberapa hari sebelumnya kraton ini mengadakan upacara <acronym title="peringatan ulang tahun">Wilujengan</acronym> <acronym title="kenaikan tahta">Jumenengan</acronym> <acronym title="Kanjeng Gusti Pangeran Adipati Aryo">KGPAA</acronym> Mangkunegara IX ke-20.</p>
<p>Bersama Pak Budi sang guide, kami diajak berkeliling ke beberapa ruang di Istana Mangkunegaran ini.</p>
<p><img src='http://jengjeng.matriphe.com/wp-content/uploads/2008/01/di-mangkunegaran.jpg' alt='di Istana Mangkunegaran' /></p>
<p>Di suatu ruangan kami melihat sebuah benda anti-selingkuh yang dipasang pada alat kelamin pria dan wanita yang kemudian dikunci dengan ritual khusus.</p>
<p>Bentuk pengaman untuk pria ini seperti kondom namun terbuat dari emas dan berujung terbuka mirip kelopak bunga tapi tajam.</p>
<p>Sedangkan pengaman untuk wanita berbentuk lempeng emas berbentuk V berukir yang ada lubang khusus untuk keluarnya air kencing. <img src='http://jengjeng.matriphe.com/smilies/yahoo_giggle.gif' alt='&#59;&#41;&#41;' class='wp-smiley' width='18' height='18' title='&#59;&#41;&#41;' /></p>
<p>Maaf banget karena selama di ruangan ini, pengunjung ndak diperbolehkan mengambil gambar. <img src='http://jengjeng.matriphe.com/smilies/yahoo_giggle.gif' alt='&#59;&#41;&#41;' class='wp-smiley' width='18' height='18' title='&#59;&#41;&#41;' /></p>
<p>Setelah lelah mengelilingi Mangkunegaran, kami pun menikmati hidangan khas Solo lainnya, Sate Kere!</p>
<p><img src='http://jengjeng.matriphe.com/wp-content/uploads/2008/01/penjual-sate-kere.jpg' alt='Penjual Sate Kere di Mangkunegaran' class="alignright" /></p>
<p>Sate kere adalah sate yang bahannya terdiri atas tempe gembus, tempe bacem, jeroan, kikil, dengan bumbu kacang, kecap, dan cabe yang puedes. <img src='http://jengjeng.matriphe.com/smilies/yahoo_bigsmile.gif' alt='&#58;&#68;' class='wp-smiley' width='18' height='18' title='&#58;&#68;' /></p>
<p>Yang unik, kami menikmati sate ini masih di dalam kawasan Istana Mangkunegaran.</p>
<p>Kami bertemu dengan sepasang suami-istri orang asing yang merupakan traveler.</p>
<p>Awalnya mereka hendak memesan sate seperti yang kami makan dan dari situlah obrolan pun berkembang.</p>
<p>Sang wanita yang kami sangka awalnya orang Indonesia rupanya berasal dari Filipina. <img src='http://jengjeng.matriphe.com/smilies/yahoo_laughloud.gif' alt='&#58;&#41;&#41;' class='wp-smiley' width='18' height='18' title='&#58;&#41;&#41;' /></p>
<p>Saya cuma ndomblong mendengarkan si Ina sama ini cewek Filipina ketika saling bercerita tentang pengalaman traveling mereka masing-masing. <img src='http://jengjeng.matriphe.com/smilies/yahoo_drool.gif' alt='&#61;&#112;&#126;' class='wp-smiley' width='18' height='18' title='&#61;&#112;&#126;' /></p>
<p>Melihat pasangan ini saya jadi iri dan pengen. Betapa bahagianya mereka bisa traveling dan ndoyok ke berbagai tempat di dunia bersama.</p>
<p>Yang saya pikirkan, mereka ini dapet duit dari mana? Lalu gimana dengan kerjaan mereka? Hampir setiap kehidupannya mereka menghabiskan waktu di berbagai tempat menarik.</p>
<p>Sedangkan saya? Mburuh sampai njengking pun pendapatan selalu habis buat menyambung hidup dan mbayar utang.</p>
<p>Duh Gusti, ampunilah dosa-dosa hamba-Mu ini.. <img src='http://jengjeng.matriphe.com/smilies/yahoo_pray.gif' alt='&#91;&#45;&#111;&#60;' class='wp-smiley' width='18' height='18' title='&#91;&#45;&#111;&#60;' /></p>
<p>Berkenalan dengan orang seperti Ina dan pasangan traveler itu, membuat saya malu.</p>
<p>Pengalaman perjalanan saya ini ndak ada apa-apanya dibanding mereka. Petualangan saya yang ndak mutu ini sepertinya kok ndak layak dibanggakan.</p>
<p>Ah, saya sendiri pun tersadar. Sebagai amateur traveler, rasanya saya masih perlu menimba banyak pengalaman dan menentukan jati diri traveling saya.</p>
<p>Mengenal wartawan seperti Ina, membuat saya mengerti bagaimana cara mencari informasi tentang tempat-tempat yang layak liput atau ndak.</p>
<p>Selain itu, berbagai cerita di belakang layar acara petualangan yang muncul di tivi itu rupanya sangat menarik.</p>
<p>Maklum saja, Ina juga mengenal beberapa host acara traveling di beberapa acara tivi. Kadang para presenter itu harus berakting di depan kamera ketika harus membawakan acara.</p>
<p>Ina pernah bercerita, saat pembuatan suatu acara traveling, si presenter disyuting dengan menceburkan diri ke dalam laut ketika meliput keindahan bawah laut padahal itu presenter sama sekali ndak bisa berenang! <img src='http://jengjeng.matriphe.com/smilies/yahoo_laughloud.gif' alt='&#58;&#41;&#41;' class='wp-smiley' width='18' height='18' title='&#58;&#41;&#41;' /></p>
<p>Mendengar ceritanya saja semakin membuat saya ngiri. <img src='http://jengjeng.matriphe.com/smilies/banghead.gif' alt='&#58;&#98;&#97;&#110;&#103;&#104;&#101;&#97;&#100;' class='wp-smiley' width='25' height='20' title='&#58;&#98;&#97;&#110;&#103;&#104;&#101;&#97;&#100;' /></p>
<p>Duh Gusti, apakah saya harus berpindah jalur dari kerjaan mburuh saya ini ke dunia yang sama sekali buta bagi saya itu? <img src='http://jengjeng.matriphe.com/smilies/yahoo_pray.gif' alt='&#91;&#45;&#111;&#60;' class='wp-smiley' width='18' height='18' title='&#91;&#45;&#111;&#60;' /></p>
<p>Selain itu, saya juga merasakan betapa susahnya jadi fotografer. Pantes saja si <a href="http://diditkurniawan.web.ugm.ac.id/" title="diditjogja" target="_blank">Didit</a> yang biasanya jadi fotografer saya itu kadang misuh-misuh karena ndak bisa ikut bernarsis ria. <img src='http://jengjeng.matriphe.com/smilies/yahoo_laughloud.gif' alt='&#58;&#41;&#41;' class='wp-smiley' width='18' height='18' title='&#58;&#41;&#41;' /></p>
<p>Ah, namun saya yakin. Setiap orang pasti punya jalur rejekinya masing-masing. <img src='http://jengjeng.matriphe.com/smilies/yahoo_wink.gif' alt='&#59;&#41;' class='wp-smiley' width='18' height='18' title='&#59;&#41;' /></p>
<p>Makasih banget, Ina Hapsari, atas semua cerita dan pengalaman serta pengaruh jahat travelingmu yang telah elo tularkan. <img src='http://jengjeng.matriphe.com/smilies/yahoo_devil.gif' alt='&#62;&#58;&#41;' class='wp-smiley' width='18' height='18' title='&#62;&#58;&#41;' /></p>
<p>It&#8217;s nice to have a travel mate like you! <img src='http://jengjeng.matriphe.com/smilies/yahoo_wink.gif' alt='&#59;&#41;' class='wp-smiley' width='18' height='18' title='&#59;&#41;' /></p>
<p>I hope I&#8217;ll go to the destination you&#8217;ve recommended soon! <img src='http://jengjeng.matriphe.com/smilies/yahoo_daydream.gif' alt='&#56;&#45;&#62;' class='wp-smiley' width='23' height='18' title='&#56;&#45;&#62;' /></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://jengjeng.matriphe.com/jengjeng-dan-jalanjalan-di-solo.html/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>53</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Situs Watu Gilang, Tonggak Sejarah Mataram Islam</title>
		<link>http://jengjeng.matriphe.com/situs-watu-gilang-tonggak-sejarah-mataram-islam.html</link>
		<comments>http://jengjeng.matriphe.com/situs-watu-gilang-tonggak-sejarah-mataram-islam.html#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 07 Jan 2008 08:10:32 +0000</pubDate>
		<dc:creator>matriphe</dc:creator>
				<category><![CDATA[Asal Muasal & Sejarah]]></category>
		<category><![CDATA[Destinasi]]></category>
		<category><![CDATA[Museum & Bangunan Bersejarah]]></category>
		<category><![CDATA[Kota Gede]]></category>
		<category><![CDATA[kraton]]></category>
		<category><![CDATA[Yogyakarta]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://jengjeng.matriphe.com/index.php/2008/01/07/situs-watu-gilang-tonggak-sejarah-mataram-islam.html</guid>
		<description><![CDATA[Menyusuri Kotagede membawa kita seolah-olah terlempar ke masa lalu. Bangunan-bangunan tua yang bertebaran serta berbagai peninggalan kerajaan Mataram Islam menjadikan Kotagede layak untuk dijadikan obyek wisata budaya. Selain menyimpan berbagai heritage, Kotagede memiliki sejarah tersendiri. Konon Kotagede adalah kota tertua yang menjadi cikal bakal Kerajaan Mataram Islam yang kemudian berkembang menjadi Kraton Yogyakarta dan Surakarta. [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><img src="http://jengjeng.matriphe.com/wp-content/uploads/2008/01/situs-batu-gilang1.jpg" alt="Situs Batugilang di Kotagede" title="Situs Batugilang di Kotagede" width="350" height="263" class="alignnone size-full wp-image-1210" /></p>
<p>Menyusuri Kotagede membawa kita seolah-olah terlempar ke masa lalu. Bangunan-bangunan tua yang bertebaran serta berbagai peninggalan kerajaan Mataram Islam menjadikan Kotagede layak untuk dijadikan obyek wisata budaya.</p>
<p>Selain menyimpan berbagai heritage, Kotagede memiliki sejarah tersendiri. Konon Kotagede adalah kota tertua yang menjadi cikal bakal Kerajaan Mataram Islam yang kemudian berkembang menjadi Kraton Yogyakarta dan Surakarta.</p>
<p>Kali ini saya bersama <a href="http://annots.wordpress.com/" title="Annots" target="_blank">Annots</a> dan <a href="http://diditkurniawan.web.ugm.ac.id/" title="diditjogja" target="_blank">Didit</a> melakukan pendoyokan untuk menelusuri kembali jejak-jejak kerajaan Mataram Islam yang mungkin sudah terlupakan.</p>
<p><span id="more-554"></span>Ketika Ki Ageng Pemanahan berhasil mengalahkan <acronym title="pemberontak Kerajaan Pajang">Arya Penangsang</acronym> pada tahun 1558, <acronym title="raja Kerajaan Pajang">Sultan Hadiwijaya</acronym> menghadiahi sebuah tanah di daerah Hutan Mentaok, yang kini dikenal dengan kawasan Kotagede.</p>
<p>Ki Ageng Pemanahan membangun sebuah desa di hutan Mentaok yang kemudian berkembang menjadi sebuah kerajaan. Kerajaan ini kemudian semakin membesar dan menyaingi Kerajaan Pajang.</p>
<p>Setelah Ki Ageng Pemanahan wafat, <acronym title="putera Ki Ageng Pemanahan">Danang Sutawijaya</acronym> kemudian memberontak kepada Kerajaan Pajang dan mengangkat dirinya sebagai raja Mataram bergelar Panembahan Senopati.</p>
<p>Kerajaan Mataram yang berpusat di Kotagede pun makin membesar dan menguasai daerah kekuasaan Kerajaan Pajang setelah jatuh akibat perang saudara.</p>
<p>Nah, Situs Watu Gilang menjadi saksi atas kejayaan Kerajaan Mataram di bawah pimpinan Panembahan Senopati.</p>
<p>Situs ini bisa ditemukan dengan menyusuri jalan dari Pasar Gede ke arah selatan kurang lebih 500 meter, melewati Kompleks Makam dan Masjid Agung Kotagede hingga sampai pada sebuah bangunan yang berdiri di tengah jalan.</p>
<p>Bangunan ini juga dikelilingi pohon-pohon beringin dan sebuah pohon Mentaok rindang yang memberikan hawa sejuk. Di dalam bangunan inilah peninggalan bersejarah itu disimpan.</p>
<p>Ndak jauh dari bangunan ini, ada kompleks makam keluarga Hamengkubuwana VII, VIII, dan IX. Kompleks makam ini bernama Hasta Renggo.</p>
<p>Hasta berarti &#8220;delapan&#8221; sedangkan Renggo berarti &#8220;bangunan&#8221;. Artinya kompleks makam ini dibangun pada masa Hamengkubuwana VIII.</p>
<p>Kompleks situs Watu Gilang menyimpan peninggalan Kerajaan Mataram antara lain Watu Gilang, Watu Gatheng, dan Watu Genthong.</p>
<p><img src='http://jengjeng.matriphe.com/wp-content/uploads/2008/01/cekungan-watu-gilang.jpg' alt='Cekungan pada Watu Gilang' class="alignright" /></p>
<p>Watu Gilang dipercaya merupakan batu singgasana Panembahan Senopati. </p>
<p>Watu Gilang berbentuk persegi dengan ukuran sekitar 2 x 2 meter berwarna hitam.</p>
<p>Di atasnya terdapat pahatan-pahatan tulisan dalam <acronym title="yaitu Latin, Prancis, Belanda, dan Italia">beberapa bahasa</acronym> yang sudah ndak dapat terbaca lagi karena sudah terkikis.</p>
<p>Tulisan ini konon berisi tentang keluh kesah dan kepasrahan terhadap nasib. Istilah kerennya sih, curhat.</p>
<p>Konon di batu ini pula, Panembahan Senopati mendapat wangsit melalui <acronym title="bintang jatuh">Lintang Johar</acronym>.</p>
<p>Batu andesit hitam ini dibawa dari Hutan Lipuro yang kini dikenal dengan daerah Bambanglipuro, Kabupaten Bantul, DIY.</p>
<p>Di atas singgasana batu inilah Kerajaan Mataram digerakkan oleh Panembahan Senopati.</p>
<p>Pada sisi sebelah timur batu ini, terdapat cekungan. Cekungan ini konon muncul akibat dibenturkannya kepala Ki Ageng Mangir, musuh sekaligus menantu Panembahan Senopati, hingga tewas.</p>
<p>Ki Ageng Mangir sendiri merupakan musuh dari Panembahan Senopati. Untuk menaklukkannya, Panembahan Senopati melakukan taktik &#8220;Apus Krama&#8221; atas usulan dari Ki Juru Mertani.</p>
<p>Taktik &#8220;Apus Krama&#8221; ini adalah taktik dengan cara mengirimkan <acronym title="puteri Panembahan Senopati">Puteri Pembayun</acronym> menjadi penari tayub untuk memikat Ki Ageng Mangir.</p>
<p>Setelah Ki Ageng Mangir tertarik dan menikahi Puteri Pembayun, mau ndak mau dia harus menghadap ke mertuanya yang ndak lain adalah Panembahan Senopati.</p>
<p>Saat Ki Ageng Mangir sungkem inilah ia kemudian dibunuh oleh Panembahan Senopati dengan membenturkan kepalanya ke singgasana Watu Gilang hingga ia tewas seketika.</p>
<p>Makam Ki Ageng Mangir bisa ditemui di Kompleks Makam Kotagede yang memiliki keunikan tersendiri.</p>
<p>Makam Ki Ageng Mangir sebagian berada di dalam benteng makam, sedangkan sebagian lainnya berada di luar benteng. Ini terjadi karena Ki Ageng mangir yang dianggap musuh dalam selimut Kerajaan Mataram.</p>
<p><img src='http://jengjeng.matriphe.com/wp-content/uploads/2008/01/watu-gatheng.jpg' alt='Watu Gatheng' class="alignleft" /></p>
<p>Peninggalan lainnya adalah Watu Gatheng. Ingat, bukan Watu Ganteng, batu yang bisa bikin ganteng bila dilemparkan ke muka orang jelek. <img src='http://jengjeng.matriphe.com/smilies/yahoo_laughloud.gif' alt='&#58;&#41;&#41;' class='wp-smiley' width='18' height='18' title='&#58;&#41;&#41;' /></p>
<p>Batu Gatheng adalah  batu yang digunakan oleh <acronym title="putera Panembahan Senopati">Raden Ronggo</acronym> bermain lempar batu <strike>sembunyi tangan</strike> (bermain Gatheng).</p>
<p>Watu Gatheng sendiri merupakan hal yang cukup menakjubkan. Bayangkan saja, bola batu karsit berwarna kuning yang berat tersebut digunakan sebagai permainan Gatheng.</p>
<p>Permainan Gatheng sendiri dilakukan seperti kita bermain bola Bekel. Batu dilempar ke atas kemudian ditangkap kembali.</p>
<p>Ada 3 buah bola, sebuah berukuran agak kecil berdiameter 15 cm dan dua buah berukuran besar berdiameter 27 cm dan 31 cm.</p>
<p>Karena kesaktiannya inilah Raden Ronggo mampu menjadikan bola-bola batu ini sebagai mainan.</p>
<p>Bahkan ada mitos yang beredar, bila kita berhasil mengangkat batu ini maka keinginan kita akan terkabul.</p>
<p>Saya berhasil mengangkat batu ini meski cuma yang kecil dan berharap <strike>bisa jadi bintang sinetron</strike> mendapatkan kerjaan yang enak dengan gaji besar! <img src='http://jengjeng.matriphe.com/smilies/yahoo_pray.gif' alt='&#91;&#45;&#111;&#60;' class='wp-smiley' width='18' height='18' title='&#91;&#45;&#111;&#60;' /></p>
<p>Ada versi cerita lain yang mengatakan bahwa Watu Gatheng adalah peluru meriam berukuran besar yang bernama Pancawura yang berada di Pagelaran Kraton Surakarta.</p>
<p>Konon meriam Pancawura ini dulu hendak dibawa ke Batavia untuk menyerang <acronym title="Vereenigde Oost Indische Compagnie">VOC</acronym> ketika Mataram dalam pemerintahan Sultan Agung, namun karena prasarana yang kurang akhirnya urung.</p>
<p><img src='http://jengjeng.matriphe.com/wp-content/uploads/2008/01/watu-genthong.jpg' alt='Watu Genthong' class="alignright" /></p>
<p>Benda peninggalan terakhir yang ada di situs ini adalah Watu Genthong.</p>
<p>Watu Genthong terbuat dari batu andesit berbentuk seperti gentong padasan dengan diameter 57 cm yang digunakan oleh Ki Juru Mertani dan Ki Ageng Giring, penasehat Panembahan Senopati, untuk mengambil air wudlu.</p>
<p>Konon Watu Genthong ini ndak perlu diisi air. Dengan menggunakan kesaktiannya, Ki Juru Mertani dan Ki Ageng Giring hanya memegang dinding batu dan air pun akan muncul dengan sendirinya.</p>
<p>Ki Ageng Giring merupakan sahabat dari Ki Ageng Pemanahan. Awalnya yang mendapat wangsit untuk menjadi raja adalah Ki Ageng Giring namun ternyata pada perjalanannya justru Ki Ageng Pemanahan yang naik tahta menjadi raja.</p>
<p>Ki Ageng Giring akhirnya bisa menjadi raja pada keturunannya yang ketujuh. Keturunan ketujuh Ki Ageng Giring adalah Pangeran Puger yang kemudian menjadi Pakubuwana I.</p>
<p>Kompleks situs ini berada di kampung Kedathon yang dipercaya merupakan pusat dari kerajaan Mataram Islam. Sehingga bisa dibilang kalo situs ini adalah pusat dari Kerajaan Mataram Islam.</p>
<p>Awalnya situs ini berada pada ruang terbuka, namun untuk melindungi situs ini dibangunlah suatu bangunan yang melindungi situs ini pada tahun 1934 atas perintah Hamengkubuwana VIII.</p>
<p>Pada masa Sultan Agung Hanyokrokusumo, ibukota Kerajaan Mataram dipindahkan dari Kotagede ke Kerta, sekitar 4 km sebelah selatan Kotagede.</p>
<p>Kemudian pada masa Amangkurat I, ibukota Kerajaan Mataram dipindahkan ke Pleret, ndak jauh dari ibukota lama di Kerta.</p>
<p>Daerah Kerta dan Pleret ini kini dikenal dengan daerah Pleret, Kabupaten Bantul, DIY.</p>
<p>Setelah pemberontakan Trunojoyo tahun 1674, Amangkurat II memindahkan kerajaan ke daerah Kartasura sehingga dikenal dengan Kerajaan Kartasura.</p>
<p>Pada masa pemerintahan Pakubuwana II, Kraton Katasura dipindahkan ke desa Sala dan terbentuklah Kraton Surakarta atas bantuan VOC.</p>
<p>VOC mengetahui kekuatan Mataram dapat mengancam keberadaannya hingga melalui politik <em>devide et impera</em>, VOC memecah Mataram melalui Perjanjian Giyanti tahun 1755.</p>
<p>Berdasarkan Perjanjian Giyanti, Kerajaan Mataram dibagi menjadi 2 yaitu Kraton Surakarta di bawah pimpinan Pakubuwana III dan Kraton Yogyakarta di bawah pimpinan Pangeran Mangkubumi yang kemudian bergelar Hamengkubuwana I.</p>
<p>Kedua kerajaan ini dirasa masih cukup kuat, sehingga VOC kembali memecah kedua kerajaan melalui Perjanjian Salatiga pada tahun 1757 yang hasilnya Kraton Surakarta memberikan sebagian wilayahnya kepada Mangkunegara sebagai adipati dan Kraton Yogyakarta memberikan sebagian wilayahnya kepada Pakualam sebagai adipati.</p>
<p>Menarik bukan? <img src='http://jengjeng.matriphe.com/smilies/yahoo_giggle.gif' alt='&#59;&#41;&#41;' class='wp-smiley' width='18' height='18' title='&#59;&#41;&#41;' /></p>
<p>Hanya dengan mengunjungi satu situs cagar budaya saja kita bisa mengetahui sedikit sejarah yang sangat panjang.</p>
<p>Penelusuran sejarah kami ndak berhenti sampai di sini. Kami pun meneruskan perjalanan menyusuri tempat-tempat bersejarah lainnya di seputar Kotagede.</p>
<p>Sekian dulu pelajaran Sejarah hari ini. Jangan lupa, besok ulangan ya, anak-anak.. <img src='http://jengjeng.matriphe.com/smilies/yahoo_giggle.gif' alt='&#59;&#41;&#41;' class='wp-smiley' width='18' height='18' title='&#59;&#41;&#41;' /></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://jengjeng.matriphe.com/situs-watu-gilang-tonggak-sejarah-mataram-islam.html/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>65</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Grebeg LOENPIA Sekaten</title>
		<link>http://jengjeng.matriphe.com/grebeg-loenpia-sekaten.html</link>
		<comments>http://jengjeng.matriphe.com/grebeg-loenpia-sekaten.html#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 03 Apr 2007 12:37:09 +0000</pubDate>
		<dc:creator>matriphe</dc:creator>
				<category><![CDATA[Travelogue]]></category>
		<category><![CDATA[kraton]]></category>
		<category><![CDATA[Sekaten]]></category>
		<category><![CDATA[Yogyakarta]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://jengjeng.matriphe.com/?p=151</guid>
		<description><![CDATA[Hari Jumat, 30 Maret 2007, Jogja kembali geger genjik udan kirik. Setelah musibah jatuhnya Garuda beberapa waktu yang lalu, Jogja kini diserang oleh para tukang Loenpia!! Kali ini pasukan Loenpia datang tak tanggung-tanggung. Dengan mengendarai sebuah panser abu-abu, berjumlah 9 ribu trilyun pasukan, mereka meng-gruduk markas CahAndong. Setelah mendapat informasi dari intelejen dan mata-mata, kami [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><img src="http://jengjeng.matriphe.com/wp-content/uploads/2007/04/loenpia-attacks1.jpg" alt="Loenpia vs CahAndong" title="Loenpia vs CahAndong" width="350" height="263" class="alignnone size-full wp-image-1121" /></p>
<p>Hari Jumat, 30 Maret 2007, Jogja kembali geger genjik udan kirik. Setelah <a href="http://sandbox.cahandong.org/2007/03/08/jogja-berduka-lagi.html" title="Jogja berduka lagi" target="_blank">musibah jatuhnya Garuda</a> beberapa waktu yang lalu, Jogja kini diserang oleh para tukang <a href="http://loenpia.net/" title="Komunitas Blogger Semarang" target="_blank">Loenpia</a>!!</p>
<p>Kali ini pasukan <a href="http://loenpia.net/" title="Komunitas Blogger Semarang" target="_blank">Loenpia</a> datang tak tanggung-tanggung. Dengan mengendarai sebuah panser abu-abu, berjumlah 9 ribu trilyun pasukan, mereka meng-<em>gruduk</em> markas <a href="http://sandbox.cahandong.org/2007/04/02/andong-vs-loenpia.html" title="Andong vs Loenpia" target="_blank">CahAndong</a>.</p>
<p>Setelah mendapat informasi dari intelejen dan mata-mata, kami mendapatkan informasi mengenai target operasi, waktu, dan estimasi kekuatan yang akan dikerahkan <a href="http://loenpia.net/" title="Komunitas Blogger Semarang" target="_blank">Loenpia</a>.</p>
<p>Ciloko mencit!! Pasukan <a href="http://sandbox.cahandong.org/" title="Andong" target="_blank">CahAndong</a> malah banyak yang lagi hiatus. Dengan segera kami menyusun startegi dan persiapan serangan balasan.</p>
<p>Tim-tim elit pun dipanggil. Prajurit-prajurit tangguh pun direkrut. Dari sekian banyak pasukan <a href="http://sandbox.cahandong.org/" title="Andong" target="_blank">Andong</a>, ternyata hanya mereka-mereka yang terpilih lah yang siap sedia membela bangsa, negara, dan tanah air.</p>
<p>Kali ini target operasi kita adalah <a href="http://jengjeng.matriphe.com/index.php/2007/04/03/grebeg-loenpia-sekaten.html#kondur" title="Kondur Gangsa">Prosesi Kondur Gangsa</a>, <a href="http://jengjeng.matriphe.com/index.php/2007/04/03/grebeg-loenpia-sekaten.html#grebeg" title="Grebeg Sekaten">Grebeg Sekaten</a>, dan <a href="http://jengjeng.matriphe.com/index.php/2007/04/03/grebeg-loenpia-sekaten.html#tamansari" title="Taman Sari">Taman Sari</a> (lagi).</p>
<p><span id="more-151"></span><strong><a name="kondur"></a>SEKATEN: KONDUR GANGSA</strong></p>
<p>Setelah mengetahui lokasi dan koordinat pendaratan <a href="http://loenpia.net/" title="Komunitas Blogger Semarang" target="_blank">Loenpia</a> yaitu di <a href="http://sandbox.cahandong.org/2006/11/02/kelezatan-tengkleng-mak-zam.html" title="Kelezatan Tengkleng Mak Zam" target="_blank">Warung Mak Zam</a>, pasukan elit <acronym title="Anti-Loenpia: LEt's KIck Their Ass">AL-LEKITA</acronym> bentukan <a href="http://sandbox.cahandong.org/" title="Andong" target="_blank">Andong</a> segera menuju lokasi dan melakukan pengintaian.</p>
<p>Blaik! Ternyata setelah lama menunggu, pasukan <a href="http://loenpia.net/" title="Komunitas Blogger Semarang" target="_blank">Loenpia</a> tak kunjung mendarat. Akhirnya, kami semua malah <em>ngelencer</em> ke Sekaten untuk melihat prosesi <strong>Kondur Gangsa</strong> yang menjadi awal dari acara puncak Grebeg Sekaten.</p>
<p>Untuk diketahui, acara Sekaten adalah acara tahunan yang diadakan oleh Kraton Surakarta dan Kraton Yogyakarta untuk memperingati Maulid Nabi Muhammad SAW. Kata Sekaten berasal dari kata &#8220;Syahadat Ain&#8221;, yang oleh lidah orang Jawa, lama-lama menjadi kata &#8220;Sekaten&#8221;. Acara puncak dari Sekaten ini adalah Grebeg Sekaten, setelah selama sebulan penuh ada acara pasar malam di alun-alun utara.</p>
<p>Grebeg berasal dari kata bahasa Jawa &#8220;<em>brebeg</em>&#8221; atau &#8220;<em>gumrebeg</em>&#8221; yang berarti bising, ribut, gaduh. Ya, grebeg sendiri adalah prosesi yang gaduh, bising, karena banyaknya penonton yang datang.</p>
<p>Prosesi Kondur Gangsa adalah prosesi dikembalikannya 2 perangkat gamelan Kanjeng Kyai Guntur Madu dan Kanjeng Kyai Naga Wilaga dari halaman Masjid Gede Kauman, ke Pendapa Pancaniti setelah selama seminggu berada di halaman Masjid Kauman.</p>
<p>Awal dari acara puncak Grebeg Sekaten adalah dengan dikeluarkannya gamelan Kyai Guntur Madu dan Kyai Naga Wilaga (kalo di Solo adalah Kyai Guntur Madu dan Kyai Guntur Sari) pada tanggal 5 bulan Mulud, seminggu sebelum Maulid Nabi yang jatuh pada tanggal 12 Mulud Tahun Jawa.</p>
<p>Kedua gamelan ini dipindahkan dari tempat penyimpanannya di Bangsal Sri Manganti yang kemudian disinggahkan ke Pendapa Pancaniti, lalu dengan disertai iring-iringan abdi dalem dan prajurit kraton, dibawa menuju halaman Masjid Gede Kauman untuk diletakkan di Kagungan Dalem Pagongan Masjid. Gamelan Kyai Guntur Madu diletakkan di Pagongan Lor (utara) sedangkan Kyai Naga Wilaga diletakkan di Pagongan Kidul (selatan).</p>
<p>Tujuan diletakkannya gamelan di masjid adalah untuk menarik perhatian masyarakat. Jaman dulu, bila ada tabuhan gamelan, maka masyarakat akan berbondong-bondong datang ke arah sumber suara. Nah, untuk menarik perhatian warga agar datang mendengarkan pengajian yang dilakukan di masjid, digunakanlah tabuhan gamelan tersebut. Gamelan ini ditabuh setiap hari, kecuali pada hari Jumat.</p>
<p>Ada tradisi unik saat kedua gamelan ini ditabuh, yang mungkin &#8220;menyimpang&#8221; dari tujuan ditabuhnya gamelan di atas. Masyarakat percaya jika kita mendengar gamelan ini ditabuh, kemudian kita mengunyah daun sirih, gambir, tembakau, dan kapur, maka dipercaya kita akan awet muda dan mendapat berkah. Tak heran banyak sekali penjual sirih, injet, gambir, ini di sekitar masjid.</p>
<p>Saya, <a href="http://kailani.web.ugm.ac.id/" title="KucingListrik" target="_blank">Kailani</a>, dan <a href="http://thestopid.fluxide.com/" title="thestoopid" target="_blank">Adi</a> pun mencoba <acronym title="mengunyah sirih">nginang</acronym>. Ada kepercayaan kalo setelah nginang bibir dan gigi kita tidak berwarna merah, berarti kita sering bohong. Untung saja gigi, bibir, dan mulut saya berwarna merah.. <img src='http://jengjeng.matriphe.com/smilies/yahoo_bigsmile.gif' alt='&#58;&#68;' class='wp-smiley' width='18' height='18' title='&#58;&#68;' /></p>
<p><img src='http://jengjeng.matriphe.com/wp-content/uploads/2007/04/nginang.jpg' alt='Saya, Adi, dan Kailani mengunyah sirih biar cepet lulus kuliah' /></p>
<p>Rasanya? <img src='http://jengjeng.matriphe.com/smilies/yahoo_madtongue.gif' alt='&#62;&#58;&#112;' class='wp-smiley' width='18' height='18' title='&#62;&#58;&#112;' /> PAIT!! Gak enak!! Ndak percaya? Silakan nanya <a href="http://blog.budiyono.net/" title="Budiyono" target="_blank">Budiyono</a>, <a href="http://ple-q.com/" target="_blank" title="Yogie">Kang Yogie</a>, dan <a href="http://fiandigital.wordpress.com/" title="Fian" target="_blank">Kang Fian</a> yang sudah merasakan dahsyatnya kinang! <img src='http://jengjeng.matriphe.com/smilies/yahoo_laughloud.gif' alt='&#58;&#41;&#41;' class='wp-smiley' width='18' height='18' title='&#58;&#41;&#41;' /></p>
<p>Selain tradisi <em>nginang</em>, ada tradisi membeli dan makan sega gurih (nasi gurih alias nasi uduk). Tradisi ini adalah simbol bahwa kita mensyukuri apa-apa yang sudah kita dapatkan. Dengan makan nasi yang sudah diberi bumbu, diharapkan kehidupan kita akan semakin nikmat, seperti rasa nasi yang kita makan.</p>
<p>Ada pula tradisi membeli <em>endog abang</em> alias telur merah. Telur ini adalah telur rebus biasa yang kulitnya diberi warna merah. Telur ini kemudian ditusuk dengan menggunakan tusuk sate yang kemudian dihias. Kalo di Solo, namanya <em>endog amal</em>, yaitu telor asin. <em>Endog amal</em> maksudnya agar kita menjadi orang yang suka beramal.</p>
<p><img src='http://jengjeng.matriphe.com/wp-content/uploads/2007/04/endog-abang.jpg' alt='Membeli Endog Abang' /></p>
<p>Telur adalah cikal bakal kehidupan. Sedangkan warna merah artinya keberuntungan, rejeki, berkah, dan keberanian. Jadi diharapkan dengan memakan telur ini, kita bisa kembali lahir menjadi seseorang yang berjiwa bersih, pemberani, dan penuh keberkahan. Sedangkan tusuk sate melambangkan bahwa kita semua memiliki poros kehidupan, yaitu Tuhan Yang Maha Esa.</p>
<p>Pecut juga banyak dijual di tempat ini. Pecut adalah alat yang digunakan untuk menggiring ternak agar berjalan pada jalan yang benar. Nah, makna membeli pecut di tempat ini adalah diharapkan kita bisa menggiring nafsu kita supaya berjalan ke jalan yang benar.</p>
<p>Di dalam serambi masjid, sedang diadakan pembacaan riwayat kehidupan Nabi Muhammad SAW dalam bahasa Jawa. Pembacaan riwayat ini diikuti oleh Ngarso Dalem Sri Sultan Hamengkubuwana X beserta keluarga dan abdi dalem.</p>
<p>Selama menunggu prosesi pembacaan riwayat Nabi ini selesai, kami semua berfoto-foto. Kebtulan di situ ada 4 pasukan kraton berpakaian lengkap yang mengawal Sri Sultan. Keempat pasukan kraton itu adalah Wirabraja, Patangpuluh, Prawiratama, dan Mantrijero. Sebenarnya ada 6 pasukan lagi, sehingga jumlah pasukannya ada 10. Keenam pasukan kraton yang tidak kelihatan malam itu adalah, Dhaeng, Jagakarya, Nyutra, Ketanggung, Surakarsa, dan Bugis.</p>
<p><img src='http://jengjeng.matriphe.com/wp-content/uploads/2007/04/wirabraja.jpg' alt='Prajurit Wirabraja' /></p>
<p><img src='http://jengjeng.matriphe.com/wp-content/uploads/2007/04/prawiratama1.jpg' alt='Bersama Prajurit Prawiratama' /></p>
<p><img src='http://jengjeng.matriphe.com/wp-content/uploads/2007/04/prajurit.jpg' alt='Perwakilan dari pasukan kraton lainnya' /></p>
<p>Sekitar pukul 22.30, pembacaan riwayat Nabi selesai. Para pasukan bersiap, dan Ngarso Dalem pun berjalan keluar masjid untuk kembali ke kraton dengan diiringi para prajurit yang tadi dengan pasukan Wirabraja, yang sering disebut dengan pasukan lombok abang karena seragamnya mirip lombok ini, sebagai cucuk lampah. Setelah Ngarsa Dalem kembali, gamelan Kyai Guntur Madu dan Kyai Naga Wilaga pun kemudian diangkat dan kemudian dikembalikan.</p>
<p><img src='http://jengjeng.matriphe.com/wp-content/uploads/2007/04/ngarsa-dalem.jpg' alt='Ngarsa Dalem meninggalkan masjid' /></p>
<p><img src='http://jengjeng.matriphe.com/wp-content/uploads/2007/04/kondur.jpg' alt='Prosesi Kondur Gangsa' /></p>
<p>Pada jam-jam inilah, tim pengintai memberikan informasi bahwa pasukan <a href="http://loenpia.net/" title="Komunitas Blogger Semarang" target="_blank">Loenpia</a> sudah datang dan siap menyerbu. Dengan sigap kami pun segera merespon dan kembali ke titik penyerangan. Fire in the hole!! <img src='http://jengjeng.matriphe.com/smilies/rock.gif' alt='&#58;&#114;&#111;&#99;&#107;' class='wp-smiley' width='29' height='25' title='&#58;&#114;&#111;&#99;&#107;' /></p>
<p>Senjata pun kami kokang. Flashbang, nightgoogle, AK-47 sudah siap. Tapi ternyata?!! Pasukan <a href="http://loenpia.net/" title="Komunitas Blogger Semarang" target="_blank">Loenpia</a> cuma 8 biji!! <img src='http://jengjeng.matriphe.com/smilies/yahoo_waiting.gif' alt='&#58;&#45;&#119;' class='wp-smiley' width='23' height='18' title='&#58;&#45;&#119;' /> Terdiri dari 6 bathangan <a href="http://escoret.net/blog/" title="eskopret enterprize" target="_blank">Pepeng</a>, <a href="http://blog.budiyono.net/" title="Boku_Baka" target="_blank">Budioyono</a>, <a href="http://ple-q.com/" title="heker seleb" target="_blank">Yogie</a>, <a href="http://fiandigital.wordpress.com/" title="Fian" target="_blank">Fian</a>, <a href="http://cordiaz.com/" title="Cordiaz" target="_blank">Cordiaz</a>, dan <a href="http://traju.wordpress.com/" title="traju" target="_blank">Traju</a>. Sedangkan womennya ada 2 ekor (eh, women kok berekor?), yaitu <a href="http://niea.web.id/" title="Niea" target="_blank">Niea</a> sama <a href="http://saint33.blogsome.com/" title="Sessy" target="_blank">Sessy</a>. Dan ternyatanya lagi, ada seorang women lagi tapi ndak nongol malam itu, yaitu si <a href="http://argunan.blogspot.com/" title="argunan" target="_blank">Ari</a>, sehingga total jendral 9 orang.</p>
<p>Setelah sambutan yang tidak meriah sama sekali, karena hidangan tengkleng sudah habis, akhirnya kami menjalin kemesraan di angkringan mbak cantik di kawasan Wijilan.</p>
<p><strong><a name="grebeg"></a>SEKATEN: GREBEG SEKATEN</strong></p>
<p>Sabtu, 31 Maret 2007 pagi, kami semua sudah siap sedia di hotel Dirgahayu, di jalan Ahmad Dahlan, tempat pasukan <a href="http://loenpia.net/" title="Komunitas Blogger Semarang" target="_blank">Loenpia</a> nginep.</p>
<p>Kami berencana menuju ke Masjid Gedhe berjalan kaki dengan menyusuri kampung Kauman, yang merupakan kampung di mana organisasi <a href="http://www.muhammadiyah.or.id/" title="Muhammadiyah" target="_blank">Muhammadiyah</a> didirikan.</p>
<p>Kira-kira pukul 9 kami sampai di halaman masjid yang sudah penuh sesak manusia itu. Sebelumnya saya sempat mampir ke yang mbaureksa Kauman, <a href="http://arnato.web.ugm.ac.id/" title="Prince PriyayiSae" target="_blank">Prince PriyayiSae</a>. Tapi ternyata, beliaunya sedang kungkum, mandi besar. <img src='http://jengjeng.matriphe.com/smilies/yahoo_laughloud.gif' alt='&#58;&#41;&#41;' class='wp-smiley' width='18' height='18' title='&#58;&#41;&#41;' /></p>
<p>Kami pun akhirnya terpencar. Saya mengikuti <a href="http://mentaree.blogspot.com/" title="Bunda Unai" target="_blank">Bunda</a> untuk masuk ke halaman Masjid Gedhe yang memang seharusnya steril dan hanya orang-orang tertentu saja yang boleh masuk. Dengan pede dan berlagak sok wartawan, akhirnya saya dan <a href="http://mentaree.blogspot.com/" title="Bunda Unai" target="_blank">Bunda</a> berhasil masuk. Kemudian diikuti Kang <a href="http://fiandigital.wordpress.com/" title="Fian" target="_blank">Fian</a> dan <a href="http://saint33.blogsome.com/" title="Sessy" target="_blank">Sessy</a>, di mana Kang <a href="http://fiandigital.wordpress.com/" title="Fian" target="_blank">Fian</a> harus menunjukkan anunya agar bisa masuk. Hus! Maksudnya kartu pers-nya! <img src='http://jengjeng.matriphe.com/smilies/yahoo_bigsmile.gif' alt='&#58;&#68;' class='wp-smiley' width='18' height='18' title='&#58;&#68;' /></p>
<p>Yang lainnya entah ke mana karena tidak diperkenankan masuk ke halaman Masjid Gedhe. Wah, dari halaman sini, pemandangan lebih leluasa. Saya pun bertanya-tanya kepada seorang panitia yang berada di situ tentang kira-kira gimana nanti prosesi acaranya.</p>
<p>Acara Grebeg dimulai kira-kira pada pukul 10.00. Parade dimulai dari halaman utara Kamandungan, menyeberangi Sitihinggil, lalu menuju Pagelaran di alun-alun utara. Dengan diawali dengan tembakan salvo, arak-arakan gunungan yang terdiri dari <strike>4 buah</strike> 3 buah gunungan yaitu, Gunungan Kakung, Estri, <strike>Gepak, dan Pawuhan</strike> Gepak dan Pawuhan(?), yang berisi hasil bumi dan jajan pasar dibawa menuju ke halaman Masjid Gedhe. Arak-arakan tersebut dikawal oleh kesepuluh prajurit kraton, dengan pasukan Bugis dan Surakarsa di depan.</p>
<p>Gunungan sendiri merupakan simbol dari sedekah kraton kepada rakyat. Gunungan ini lantas diserahkan ke  Masjid Gedhe dan didoakan sebelum dibagikan kepada rakyat dengan cara <em>rayahan</em> (berebut). Maksud dari <em>rayahan</em> di sini adalah, bahwa untuk mendapatkan sesuatu, kita harus <em>ngrayah</em> atau berebut, yang merupakan simbol dari berusaha.</p>
<p>Menurut kepercayaan, bagi siapa pun yang bisa mendapatkan hasil dari gunungan, entah itu sayur, jajan pasar, hingga kerangka penyusunnya, akan mendapat berkah. Dan peristiwa rebutan inilah yang menjadi daya tarik dan acara puncak Grebeg Sekaten.</p>
<p>Banyak warga datang dari seluruh penjuru Jogja. Bahkan warga dari luar Jogja pun datang hanya untuk <em>ngalap berkah</em> dari gunungan ini. Yang saya cukup salut tapi juga prihatin, kebanyakan warga yang datang adalah orang-orang sepuh dan wanita. Mereka tidak gentar menghadapi saingan mereka yang muda-muda. Salut! <img src='http://jengjeng.matriphe.com/smilies/yahoo_clap.gif' alt='&#61;&#68;&#62;' class='wp-smiley' width='18' height='18' title='&#61;&#68;&#62;' /></p>
<p>Akhirnya saat-saat yang ditunggu itu tiba. Pasukan Bugis berpakaian hitam-hitam dan disusul Surakarsa berpakaian putih-putih pun masuk <acronym title="pintu gerbang Masjid Gedhe">regol</acronym>. Gunungan Kakung diletakkan di halaman sisi utara, sedangkan Gunungan Estri diletakkan di sisi selatan. Sedangkan Gunungan Gepak dan Pawuhan berada di tengah-tengah.</p>
<p><img src='http://jengjeng.matriphe.com/wp-content/uploads/2007/04/gunungan.jpg' alt='Gunungan Estri dibawa masuk halaman masjid' /></p>
<p>Para warga pun tak sabar untuk <em>ngrayah</em>. Panitia pun berkali-kali meredakan masa agar bersabar dan menunggu hingga prosesi doa selesai. Tetapi massa seperti tidak menggubris. Tanpa dikomando, ketika perwakilan kraton menghadap Penghulu Kraton, <strike>KRMT Roy Suryo</strike> <acronym title="Kanjeng Raden Tumenggung">KRT</acronym> Suryo Diponingrat, dan sang Penghulu membaca doa, gunungan pun langsung ludes diserbu warga.</p>
<p><img src='http://jengjeng.matriphe.com/wp-content/uploads/2007/04/rebut-gunungan.jpg' alt='Massa berebut Gunungan Estri' /></p>
<p>Saya yang saat itu mencari posisi yang tepat untuk mengabadikan gambar melalui kamera <a href="http://www.dpreview.com/reviews/canoneos20d/" title="Canon EOS 20D" target="_blank">Canon EOS 20D</a> pinjaman milik <a href="http://mentaree.blogspot.com/" title="Bunda Unai" target="_blank">Bunda</a>, segera memanjat ke pagar masjid sebelah utara.</p>
<p>Anjrit!! <img src='http://jengjeng.matriphe.com/smilies/yahoo_ooooh.gif' alt='&#58;&#45;&#111;' class='wp-smiley' width='18' height='18' title='&#58;&#45;&#111;' /> Massa begitu beringas ketika memperebutkan gunungan. Aje gile!! Dengan sigap dan sok nggaya, saya pun segera menjeprat-jepret momen itu. Namun sayang, hasil jepretan saya masih di tangan <a href="http://mentaree.blogspot.com/" title="Bunda Unai" target="_blank">Bunda</a>. Jadi yang saya tampilkan di sini adalah hasil jepretan dari <a href="http://thestoopid.fluxide.com/" title="thestoopid" target="_blank">Adi</a>.</p>
<p>Dalam waktu beberapa menit saja, semua gunungan ludes. Bahkan sisa-sisa gunungan pun masih dikais-kais. Dan <a href="http://blog.budiyono.net/" title="oknum berinisial B" target="_blank">salah satu oknum LOENPIA berinisial B</a> tertangkap kamera dan <a href="http://foto.detik.com/index.php/home.readfoto/tahun/2007/bulan/03/tgl/31/time/135804/idnews/761244/idkanal/157/id/6" title="Oknum LOENPIA masuk Detik" target="_blank">masuk Detik</a> sedang mengais-ais <strike>sampah</strike> sisa-sisa gunungan! <img src='http://jengjeng.matriphe.com/smilies/yahoo_laughloud.gif' alt='&#58;&#41;&#41;' class='wp-smiley' width='18' height='18' title='&#58;&#41;&#41;' /> Cari berkah biar enteng jodoh, ya kang?</p>
<p>Ludesnya gunungan menjadi tanda ludesnya puncak acara Sekaten tahun ini. Masyarakat pun kembali pulang, sedangkan saya yang masih berada di halaman masjid, masih mengikuti prosesi serah terima gunungan. Lucu juga sih, la wong gunungannya sudah ludes direbut, tapi proses serah terimanya belum usai. <img src='http://jengjeng.matriphe.com/smilies/yahoo_smiley.gif' alt='&#58;&#41;' class='wp-smiley' width='18' height='18' title='&#58;&#41;' /></p>
<p>Setelah berisitrahat sejenak, kami pun kembali pulang ke hotel Dirgahayu dengan menyusuri kembali kampung Kauman.</p>
<p><strong><a name="tamansari"></a>TAMAN SARI</strong></p>
<p><img src='http://jengjeng.matriphe.com/wp-content/uploads/2007/04/tamansari.jpg' alt='Andong-Loenpia di Taman Sari' /></p>
<p>Setelah makan di Warung Soto Pak Marto, tim pun meluncur ke Taman Sari. Untuk Taman Sari ini sudah pernah dibahas. Silakan baca di <a href="http://sandbox.cahandong.org/2007/02/27/pesona-tamansari.html" title="Pesona Tamansari" target="_blank">blognya CahAndong berikut</a>.</p>
<p>Yang unik dari kompleks ini, adalah adanya sebuah masjid bernama Soko Tunggal. Sesuai namanya, masjid yang selesai dibangun pada tahun 1972 ini hanya memiliki satu tiang penyangga saja. Tiang penyangga ini tepat berada di tengah bangunan. Biasanya, masjid-masjid memiliki minimal 4 tiang. Masjid berarsitektur tua ini memang benar-benar menggambarkan nuansa tempo doeloe! Di masjid inilah kami sejenak melepas lelah dan beribadah sholat Dhuhur dan Ashar.</p>
<p><strong>WAR IS OVER?</strong></p>
<p>Setelah capek mengelilingi kompleks Taman Sari, akhirnya diputuskan untuk mencari es buah sueger <em>mbegedher</em>. Pilihan jatuh pada Es Buah Mandala Krida.</p>
<p>Hari telah sore, dan berhubung badan udah capek, akhirnya diputuskan untuk menyelesaikan perjalanan. Tukang <a href="http://loenpia.net/" title="Komunitas Blogger Semarang" target="_blank">Loenpia</a> pindah ke hotel <strike>Pasar</strike> Cakra Kembang, sedangkan tim <a href="http://sandbox.cahandong.org/" title="Andong" target="_blank">Andong</a> pun bersiap untuk acara malam.</p>
<p>Karena saya sudah ada janji mau dateng ke resepsi pernikahan seorang temen, akhirnya saya ijin untuk meninggalkan medan pertempuran. Mohon maaf, teman-teman!</p>
<p>Mohon maaf pula buat temen-temen <a href="http://sandbox.cahandong.org/" title="Andong" target="_blank">CahAndong</a> karena kabar kedatangan <a href="http://loenpia.net/" title="Komunitas Blogger Semarang" target="_blank">Loenpia</a> telad. Juga buat temen-temen <a href="http://loenpia.net/" title="Komunitas Blogger Semarang" target="_blank">Loenpia</a>, maaf kalo sambutannya masih banyak kekurangan. <img src='http://jengjeng.matriphe.com/smilies/yahoo_worship.gif' alt='&#94;&#58;&#41;&#94;' class='wp-smiley' width='32' height='18' title='&#94;&#58;&#41;&#94;' /></p>
<p>Info lengkapnya bisa dibaca di blog <a href="http://sandbox.cahandong.org/2007/04/02/andong-vs-loenpia.html" title="Andong vs Loenpia" target="_blank">CahAndong</a>.</p>
<p>Jadi, <a href="http://diditkurniawan.web.ugm.ac.id/2007/04/02/character-assassination/" title="Character Assasination" target="_blank">para blogger memang pembohong</a>, ya?</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://jengjeng.matriphe.com/grebeg-loenpia-sekaten.html/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>27</slash:comments>
		</item>
	</channel>
</rss>

