<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>jengjeng matriphe! &#187; masjid</title>
	<atom:link href="http://jengjeng.matriphe.com/tag/masjid/feed" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://jengjeng.matriphe.com</link>
	<description>pengen jalan-jalan, makan-makan, dan lain-lain</description>
	<lastBuildDate>Tue, 02 Aug 2011 11:41:49 +0000</lastBuildDate>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<generator>http://wordpress.org/?v=3.2.1</generator>
	<atom:link rel='hub' href='http://jengjeng.matriphe.com/?pushpress=hub'/>
		<item>
		<title>Masjid Hidayatullah, Perpaduan 4 Arsitektur</title>
		<link>http://jengjeng.matriphe.com/masjid-hidayatullah-perpaduan-4-arsitektur.html</link>
		<comments>http://jengjeng.matriphe.com/masjid-hidayatullah-perpaduan-4-arsitektur.html#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 09 Jun 2008 11:00:23 +0000</pubDate>
		<dc:creator>matriphe</dc:creator>
				<category><![CDATA[Candi & Tempat Ibadah]]></category>
		<category><![CDATA[Destinasi]]></category>
		<category><![CDATA[Jakarta]]></category>
		<category><![CDATA[masjid]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://jengjeng.matriphe.com/index.php/2008/06/09/masjid-hidayatullah-perpaduan-4-arsitektur.html</guid>
		<description><![CDATA[Di antara gedung-gedung pencakar langit Jakarta, rupanya ada sebuah masjid tua yang seolah-olah tenggelam di antara kaki-kaki gedung-gedung itu. Terletak di pusat kota, rupanya ndak banyak orang yang tau tentang keberadaan masjid yang memadukan corak Cina, Betawi, Hindu, dan Arab ini. Sore itu saya langsung tercengang ketika melihat siluet potongan atap berarsitektur Cina, terselip di [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><img src="http://jengjeng.matriphe.com/wp-content/uploads/2008/06/masjid-hidayatullah1.jpg" alt="Masjid Hidayatullah" title="Masjid Hidayatullah" width="350" height="263" class="alignnone size-full wp-image-1166" /></p>
<p>Di antara gedung-gedung pencakar langit Jakarta, rupanya ada sebuah masjid tua yang seolah-olah tenggelam di antara kaki-kaki gedung-gedung itu.</p>
<p>Terletak di pusat kota, rupanya ndak banyak orang yang tau tentang keberadaan masjid yang memadukan corak Cina, Betawi, Hindu, dan Arab ini.</p>
<p><span id="more-724"></span>Sore itu saya langsung tercengang ketika melihat siluet potongan atap berarsitektur Cina, terselip di antara kaki-kaki bangunan pencakar langit, di kawasan Karet Semanggi, Setia Budi, Jakarta Pusat.</p>
<p>Begitu mendekat, bangunan yang awalnya saya kira sebuah klenteng ini semakin mengagetkan saya. Rupanya bangunan beratap 3 susun ini adalah sebuah masjid!</p>
<p>Siapa menyangka, terjepit di antara Plaza Semanggi dan Gedung Sampoerna, tersembullah sebuah cagar budaya yang bernilai sejarah tinggi.</p>
<p>Masjid Hidayatullah, begitu nama masjid yang telah berdiri selama kurang lebih 250 tahun ini. Bahkan masjid ini menjadi saksi bisu perjuangan merebut kemerdekaan.</p>
<p>Masjid ini didirikan pada tahun 1747. Berawal dari seorang pengusaha Cina mualaf bernama Muhammad Yusuf yang mewakafkan tanah seluas 3.000 meter persegi kepada masyarakat Betawi, yang kemudian digunakan untuk mendirikan masjid ini.</p>
<p>Yang membuat geregetan, masjid ini hampir digusur pada tahun 1993. Padahal seharusnya masjid ini dijadikan cagar budaya untuk warisan anak-cucu!</p>
<p>Menurut historis, masjid ini dulunya digunakan oleh para pejuang Betawi untuk melakukan pertemuan menentukan strategi melawan Belanda. Selain itu, masjid ini kerap digunakan untuk melakukan pengiriman senjata ke Karawang dan Cikampek.</p>
<p>H. Saidi, merupakan salah satu pejuang Betawi dan aktivis masjid yang pernah tertangkap Belanda dan dibuang ke Digul. Setelah menjalani hukuman, beliau pun kembali ke masjid ini dan mengabdi hingga akhir hayatnya.</p>
<p>Makam H. Saidi dan para pejuang Betawi yang pernah menjadi saksi sejarah ini dimakamkan di sekitar halaman masjid. Rata-rata tahun yang tertera pada batu nisan memang sekitar tahun 50-60-an.</p>
<p>Pembangunan masjid ini rupanya melibatkan berbagai etnis dan suku bangsa yang tercermin dari bentuk arsitekturnya yang sangat menawan.</p>
<p>Arsitektur Cina langsung dapat dilihat dari bentuk atapnya. Bentuk atap prisma bersusun 3 ini begitu kental sekali budaya Cinanya. Seperti yang saya bilang, awalnya saya sempat mengira bangunan ini adalah klenteng! <img src='http://jengjeng.matriphe.com/smilies/yahoo_laughloud.gif' alt='&#58;&#41;&#41;' class='wp-smiley' width='18' height='18' title='&#58;&#41;&#41;' /></p>
<p>Arsitektur Betawi langsung terasa ketika kita melihat jendela dan pintu masuknya. Jendela berupa teralis kayu yang ditutup oleh tirai separo tinggi di bagian dalam, dengan daun jendela berkisi terbuka ke samping kiri-kanan, dapat kita jumpai pula di rumah-rumah tradisional Betawi.</p>
<p>Pintu yang lebar dan ukiran bunga mawar yang berada di atas 8 tiang penyangga juga menjadi ciri arsitektur Betawi yang bisa kita temukan.</p>
<p>Arsitektur Hindu dapat kita lihat dari 2 buah menara yang berada di depan pintu masjid. Sekilas saya seperti berada di <a href="http://cahandong.org/2007/02/27/pesona-tamansari.html" title="Pesona Tamansari" target="_blank">Taman Sari</a> ketika melihat menara ini.</p>
<p><img src='http://jengjeng.matriphe.com/wp-content/uploads/2008/06/menara-masjid-hidayatullah.jpg' alt='Menara Masjid Hidayatullah' /></p>
<p>Sedangkan arsitektur Arab, jelas dapat kita temukan dari pernak-pernik yang ada di bagian dalam masjid. Salah satunya dapat dilihat dari hiasan kaligrafi di atas dinding bagian mihrab. Mihrab-nya pun sangat kental nuansa Arabnya.</p>
<p>Suasana di dalam masjid ini begitu menyejukkan. Selepas Maghrib, para jamaah larut dalam kekhusyukan dzikir yang dipimpin oleh imam. Saya hampir mengalami disorientasi lokasi dan merasa berada di Masjid Ampel semasa saya kecil.</p>
<p>Meskipun kecil, namun rupanya masjid yang pernah dipugar sebanyak 2 kali ini cukup lega. Padahal kala itu shaf berjumlah 4 baris.</p>
<p><img src='http://jengjeng.matriphe.com/wp-content/uploads/2008/06/dalam-masjid-hidayatullah.jpg' alt='Suasana di dalam masjid' /></p>
<p>Selepas dzikir, saya pun keluar melihat ke halaman. Sebuah pohon kurma tumbuh di areal makam yang berada di halaman masjid. Makam yang disusun sedemikian rupa, ditutupi dengan rumput yang terawat, membuat saya sempat mengira gundukan tanah beruput hijau ini adalah taman.</p>
<p>Meski tua, namun masjid ini masih aktif digunakan untuk berbagai aktivitas kegiatan. Senja itu, saya menemukan banyak sekali sopir taksi Blue Bird yang singgah untuk sholat.</p>
<p>Ah, berada di masjid ini membawa saya seolah ndak berada di Jakarta..</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://jengjeng.matriphe.com/masjid-hidayatullah-perpaduan-4-arsitektur.html/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>50</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Masjid Perak, Masjid Tertua Kedua di Kotagede</title>
		<link>http://jengjeng.matriphe.com/masjid-perak-masjid-tertua-kedua-di-kotagede.html</link>
		<comments>http://jengjeng.matriphe.com/masjid-perak-masjid-tertua-kedua-di-kotagede.html#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 20 Jan 2008 14:47:47 +0000</pubDate>
		<dc:creator>matriphe</dc:creator>
				<category><![CDATA[Candi & Tempat Ibadah]]></category>
		<category><![CDATA[Destinasi]]></category>
		<category><![CDATA[Kota Gede]]></category>
		<category><![CDATA[masjid]]></category>
		<category><![CDATA[Yogyakarta]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://jengjeng.matriphe.com/index.php/2008/01/20/masjid-perak-masjid-tertua-kedua-di-kotagede.html</guid>
		<description><![CDATA[Selain Masjid Agung Kotagede, ada masjid tua lainnya yang berada di luar kompleks kraton Mataram Kotagede. Masjid ini adalah Masjid Perak. Masjid ini mempunya cerita sejarah yang ndak kalah menarik untuk ditelusuri. Latar belakang masyarakat Kotagede yang religius merupakan faktor utama mengapa masjid besar ini bisa berdiri. Semangat &#8220;memberontak&#8221; pakem-pakem kraton yang kaku juga ikut [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><img src="http://jengjeng.matriphe.com/wp-content/uploads/2008/01/masjid-perak1.jpg" alt="Masjid Perak, Kotagede" title="Masjid Perak, Kotagede" width="350" height="263" class="alignnone size-full wp-image-1204" /></p>
<p>Selain Masjid Agung Kotagede, ada masjid tua lainnya yang berada di luar kompleks kraton Mataram Kotagede. Masjid ini adalah Masjid Perak.</p>
<p>Masjid ini mempunya cerita sejarah yang ndak kalah menarik untuk ditelusuri.</p>
<p>Latar belakang masyarakat Kotagede yang religius merupakan faktor utama mengapa masjid besar ini bisa berdiri.</p>
<p>Semangat &#8220;memberontak&#8221; pakem-pakem kraton yang kaku juga ikut melatarbelakangi pembangunan masjid ini.</p>
<p><span id="more-582"></span>Masjid Perak dapat ditemukan di Jalan Mandarakan, Prenggan, Kotagede. Masjid ini berada di dalam kompleks SMA Muhammadiyah.</p>
<p>Berawal pada tahun 1937, Kyai Amir dan H. Masyhudi beserta beberapa ulama membuat gagasan untuk membangun masjid baru.</p>
<p>Gagasan ini muncul karena daya tampung Masjid Gede yang sudah ndak mencukupi karena pertumbuhan umat Islam yang sangat pesat sejak tahun 1910 setelah berdirinya organisasi <a href="http://www.muhammadiyah.or.id/" title="Muhammadiyah" target="_blank">Muhammadiyah</a>.</p>
<p>Selain secara fisik Masjid Gede yang ndak cukup untuk menampung jamaah sholat, khotbah Jumat ndak dapat terdengar dengan baik oleh para jamaah yang berada di luar masjid. Maklum, dulu kan ndak ada amplifier. <img src='http://jengjeng.matriphe.com/smilies/yahoo_bigsmile.gif' alt='&#58;&#68;' class='wp-smiley' width='18' height='18' title='&#58;&#68;' /></p>
<p>Sekitar tahun 1926-1927, rupanya Muhammadiyah sudah mempersiapkan sebuah mimbar baru yang rencananya akan diletakkan di bagian tengah Masjid Gede untuk memudahkan jemaah mendengarkan khotbah.</p>
<p><img src='http://jengjeng.matriphe.com/wp-content/uploads/2008/01/mimbar.jpg' alt='Mimbar Masjid Perak' class="alignright" /></p>
<p>Namun rencana ini ditentang oleh para abdi dalem pengurus Masjid Gede.</p>
<p>Selain alasan tersebut, masalah birokrasi kraton yang bertele-tele ketika hendak menggunakan Masjid Gede untuk melakukan kegiatan juga menjadi latar belakang masyarakat ingin membangun masjid baru.</p>
<p>Pembangunan Masjid Perak pun dimulai awalnya tanpa organisasi resmi. Dengan kata lain, masjid ini dibangun oleh masyarakat Kotagede.</p>
<p>Warga kaya dan para pengusaha perak menyumbangkan harta dan uang. Sedangkan warga yang miskin menyumbangkan tenaga dan ketrampilan. Kaum wanita ikut berperan dalam pengumpulan dana.</p>
<p>Kyai Amir yang menjadi penggagas pun akhirnya didapuk menjadi ketua pengurus Masjid Perak.</p>
<p>Masjid ini selesai dibangun pada tahun 1939 dan diresmikan pada tahun baru Hijriyah pada tahun 1940.</p>
<p>Jejak-jejak penanggalan ini dapat kita temui pada keempat tiang-tiang soko guru masjid yang menjadi ciri khas masjid-masjid tua di Jawa.</p>
<p>Pada soko guru timur-laut terdapat lempeng perak berukir angka &#8220;9-2-1940&#8243;. Pada soko guru sebelah barat-daya terdapat tulisan &#8220;1-1-1871 D&#8221;. Sedangkan pada soko guru sebelah tenggara dan barat-laut terdapat angka &#8220;1-1-1359 H&#8221;.</p>
<p>Mimbar yang awalnya hendak diletakkan di tengah-tengah Masjid Gede akhirnya diletakkan di masjid ini.</p>
<p>Inilah keunikan dari masjid ini. Mimbarnya dibuat terlebih dahulu jauh sebelum masjidnya berdiri. <img src='http://jengjeng.matriphe.com/smilies/yahoo_bigsmile.gif' alt='&#58;&#68;' class='wp-smiley' width='18' height='18' title='&#58;&#68;' /></p>
<p>Penamaan Masjid Perak juga memiliki filosofi tersendiri. Selain karena sebagian besar penyumbang pembangunan masjid ini adalah para pengusaha perak, tetapi jaman itu perak sudah identik dengan Kotagede.</p>
<p>Konon kerajinan perak Kotagede sudah sangat termahsyur hingga ke Belanda dan Eropa sehingga perak menjadi suatu ikon dan identitas Kotagede.</p>
<p>Untuk mempertegas kesan perak, pada soko guru kayu berbentuk bulat ini dibebat dengan lempengan perak pada pangkalnya (bagian <em>umpak</em>).</p>
<p>Biasanya pada bagian ini pada masjid lainnya, lapisan yang digunakan adalah tembaga atau kuningan.</p>
<p>Selain itu, perak yang berwarna putih juga melambangkan kemurnian dan kesucian. Bisa juga berarti ketulusan dan keikhlasan manusia ketika menyerahkan diri kepada Sang Pencipta.</p>
<p>Jika kata &#8220;perak&#8221; ini dituliskan dengan huruf Arab, maka tulisannya berbunyi &#8220;firak&#8221;. Kata &#8220;firak&#8221; bila dilafalkan dalam Bahasa Jawa berbunyi &#8220;pirah&#8221; yang berarti &#8220;terpisah&#8221;.</p>
<p>Kata &#8220;terpisah&#8221; memiliki arti bahwa masjid ini terpisah dari kraton secara fisik dan juga bisa berarti mesjid yang bebas digunakan tanpa perlu melalui prosedur birokrasi.</p>
<p>Jika menelaah lebih jauh, makna &#8220;bebas&#8221; dari masjid ini juga bisa berarti membebaskan umat Islam dari kebodohan dan kejahiliyahan. Tsaahh.. <img src='http://jengjeng.matriphe.com/smilies/yahoo_youkiddingme.gif' alt='&#58;&#45;&#106;' class='wp-smiley' width='26' height='18' title='&#58;&#45;&#106;' /></p>
<p>Menjelajah lebih dalam, kami menemukan keunikan-keunikan yang ndak kami temukan di masjid-masjid lain.</p>
<p>Papan-papan tulis berwarna hitam yang penuh dengan tulisan tangan menggunakan kapur berisi doa-doa dan lirik lagu-lagu bernafaskan Islam menunjukkan bahwa aktivitas keagamaan di masjid ini begitu kental.</p>
<p>Salah satunya, kami juga mendapati papan tulis yang berisi jadwal khotib Jumat yang ditulis dalam tulisan latin dan tulisan Arab. Mulai dari nama muadzin dan khotib hingga nama hari dan pasarannya!</p>
<p><img src='http://jengjeng.matriphe.com/wp-content/uploads/2008/01/papan-tulis.jpg' alt='Papan tulis berisi Jadwal Khotib Jumat' /></p>
<p>Bentuk atap limas bertumpuk masjid ini meniru Masjid Agung Demak yang menjadi ciri khas masjid tua Jawa selain penggunaan 4 buah soko guru di bagian tengah.</p>
<p>Namun sayang. Semenjak gempa 27 Mei 2006, masjid ini mengalami kerusakan yang cukup parah. Di beberapa sisi dan sudut nampak retakan-retakan yang besar dan membahayakan.</p>
<p>Namun ketika takmir masjid yang ada di sana kami tanyai, mereka mengaku belum memperbaiki masjid ini karena keterbatasan dana.</p>
<p>Mungkin ada dermawan yang hendak membantu? <img src='http://jengjeng.matriphe.com/smilies/yahoo_wink.gif' alt='&#59;&#41;' class='wp-smiley' width='18' height='18' title='&#59;&#41;' /></p>
<p><strong>Update:</strong> <a href="http://elantowow.wordpress.com/2009/03/15/?robohnya-masjid-kami/" target='_blank' title="?Robohnya Masjid Kami">Bangunan masjid ini sudah dirobohkan</a> pada tanggal 15 Februari 2009. Sangat disayangkan. <img src='http://jengjeng.matriphe.com/smilies/yahoo_sad.gif' alt='&#58;&#40;' class='wp-smiley' width='18' height='18' title='&#58;&#40;' /></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://jengjeng.matriphe.com/masjid-perak-masjid-tertua-kedua-di-kotagede.html/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>39</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Langgar Dhuwur Boharen, Kotagede</title>
		<link>http://jengjeng.matriphe.com/langgar-dhuwur-boharen-kotagede.html</link>
		<comments>http://jengjeng.matriphe.com/langgar-dhuwur-boharen-kotagede.html#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 18 Jan 2008 19:36:29 +0000</pubDate>
		<dc:creator>matriphe</dc:creator>
				<category><![CDATA[Destinasi]]></category>
		<category><![CDATA[Museum & Bangunan Bersejarah]]></category>
		<category><![CDATA[Kota Gede]]></category>
		<category><![CDATA[masjid]]></category>
		<category><![CDATA[Yogyakarta]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://jengjeng.matriphe.com/index.php/2008/01/19/langgar-dhuwur-boharen-kotagede.html</guid>
		<description><![CDATA[Masyarakat Kotagede yang religius tercermin dari kehidupan sehari-hari mereka. Nafas-nafas religi yang begitu kuat ini bisa dimaklumi karena Kotagede merupakan salah satu basis organisasi Muhammadiyah sejak dulu. Masyarakat Jawa jaman dulu yang terkenal memegang teguh tradisi dan ajaran Kejawen yang banyak bernuansa klenik, di Kotagede justru banyak ditinggalkan dan banyak memegang nilai-nilai keagamaan. Selain terlihat [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><img src="http://jengjeng.matriphe.com/wp-content/uploads/2008/01/langgar-dhuwur-belakang1.jpg" alt="Langgar Dhuwur tampak belakang" title="Langgar Dhuwur tampak belakang" width="350" height="263" class="alignnone size-full wp-image-1205" /></p>
<p>Masyarakat Kotagede yang religius tercermin dari kehidupan sehari-hari mereka.</p>
<p>Nafas-nafas religi yang begitu kuat ini bisa dimaklumi karena Kotagede merupakan salah satu basis organisasi <a href="http://www.muhammadiyah.or.id/" title="Muhammadiyah" target="_blank">Muhammadiyah</a> sejak dulu.</p>
<p>Masyarakat Jawa jaman dulu yang terkenal memegang teguh tradisi dan ajaran Kejawen yang banyak bernuansa klenik, di Kotagede justru banyak ditinggalkan dan banyak memegang nilai-nilai keagamaan.</p>
<p>Selain terlihat dari kehidupan sehari-hari, kereligiusan itu bahkan bisa terlihat dari corak dan fungsi beberapa bangunan tua yang ada di sini.</p>
<p><span id="more-578"></span>Banyaknya masjid, mushola, dan langgar yang berada di kawasan ini merupakan perkembangan yang cukup pesat. Konon dulu, masjid dan tempat ibadah seperti ini amat sangat sedikit.</p>
<p>Masjid hanya ada di lingkungan kraton yang tentunya kapasitasnya ndak mencukupi untuk menampung jamaah.</p>
<p>Maka kemunculan masjid, mushola, dan langgar kecil di seputaran kawasan ini tentu menjadi solusi untuk mengatasi ketidakmampuan Masjid Gede menampung jamaah.</p>
<p>Tentunya menelusuri keberadaan masjid, mushola, atau langgar tua di kawasan ini akan sangat menyenangkan.</p>
<p>Salah satu yang kami temukan adalah keberadaan Langgar Dhuwur yang berumur sangat tua dan langka.</p>
<p>Langgar Dhuwur sendiri merupakan bentuk bangunan yang ndak lazim terutama di dalam arsitektur rumah Jawa.</p>
<p>Langgar ini terdiri atas konstruksi kayu yang berada di atas bangunan tembok. Biasanya letak langgar ini berada di pekarangan rumah sebelah depan sisi barat.</p>
<p>Penempatan depan-barat rumah utama ini mempunyai maksud tertentu. Bagian depan dianggap merupakan bagian yang suci dan terhormat. Sedangkan barat tentunya menyesuaikan dengan arah kiblat.</p>
<p>Peletakkan langgar berada di atas (dhuwur dalam Bahasa Jawa) juga mempunyai maksud untuk meninggikan proses ibadah manusia kepada Tuhan Yang Maha Tinggi.</p>
<p>Keberadaan Langgar Dhuwur macam ini dulu cukup banyak. Pemilik Langgar Dhuwur ini biasanya orang-orang dari <acronym title="kalangan ulama yang kaya dan sejenisnya">kalangan tertentu</acronym> karena tentu saja ndak semua orang mampu membangun langgar ini.</p>
<p><img src='http://jengjeng.matriphe.com/wp-content/uploads/2008/01/langgar-dhuwur-depan.jpg' alt='Langgar Dhuwur tampak depan' /></p>
<p>Biasanya satu langgar ini digunakan oleh masyarakat satu kampung. Yah, digunakan bersama gitu deh.</p>
<p>Letak langgar-langgar ini melingkari Kraton dan Masjid Agung Mataram Kotagede.</p>
<p>Formasi ini konon kemudian diaplikasikan pada formasi masjid-masjid &#8220;pathok negara&#8221; yang mengelilingi Kraton dan Masjid Agung Yogyakarta.</p>
<p>Namun dari banyaknya langar-langgar ini hanya satu Langgar Dhuwur yang berhasil kami temukan. Itu pun saya dan <a href="http://diditkurniawan.web.ugm.ac.id/" title="diditjogja" target="_blank">Didit</a> harus mengerahkan seluruh kemampuan ndoyok kami.</p>
<p>Dengan berbekal secuil informasi, kami pun mulai menyisir dan menjelajah tiap jengkal daerah di Kotagede.</p>
<p>Menyusuri lorong-lorong sempit bak labirin, dengan tetep istiqomah dan kaffah, akhirnya kami menemukan langgar ini di Kampung Boharen, Kotagede.</p>
<p>Terima kasih kepada warga Kotagede nan ramah yang dengan senang hati menawarkan bantuan begitu melihat tampang kami yang kebingungan karena tersesat.</p>
<p>La bayangkan, belum sempet kami bertanya, mereka malah bertanya duluan, &#8220;mau ke mana, mas?&#8221; atau &#8220;cari siapa, mas?&#8221;. <img src='http://jengjeng.matriphe.com/smilies/top.gif' alt='&#58;&#116;&#111;&#112;' class='wp-smiley' width='29' height='19' title='&#58;&#116;&#111;&#112;' /></p>
<p>Kampung Boharen sendiri konon dulu merupakan tempat tinggal salah satu ulama terkenal bernama Kyai Buchari.</p>
<p>Nama Boharen muncul karena lidah orang Jawa yang agak melintir ketika menyebut &#8220;Buchari&#8221; menjadi &#8220;Bohari&#8221;. Nah, nama kampung pun berubah menjadi Boharen.</p>
<p>Langgar Dhuwur yang kami temukan berada di dalam perkarangan rumah keluarga Charis Zubair yang juga merupakan kantor sekretariat Pusat Studi Dokumentasi dan Pengembangan Budaya (PUSDOK) Kotagede.</p>
<p>Namun sayang, ketika kami ke sana, rumah tersebut sepi karena menurut tetangganya, Pak Charis sedang tidak di rumah, sehingga kami ndak bisa masuk ke dalam.</p>
<p>Melihat keadaan langgar ini, kami sangat takjub sekaligus prihatin. Kesan &#8220;angker&#8221; pun sempat terbersit karena mungkin kondisi fisik dari bangunan yang kurang terawat.</p>
<p>Alhamdulillah-nya lagi, langgar ini masih berdiri kokoh dan ndak roboh karena gempa 27 Mei dua tahun lalu.</p>
<p>Semoga saja peninggalan semacam ini masih dapat terawat dengan baik. <img src='http://jengjeng.matriphe.com/smilies/yahoo_smiley.gif' alt='&#58;&#41;' class='wp-smiley' width='18' height='18' title='&#58;&#41;' /></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://jengjeng.matriphe.com/langgar-dhuwur-boharen-kotagede.html/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>24</slash:comments>
		</item>
	</channel>
</rss>

