<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>jengjeng matriphe! &#187; museum</title>
	<atom:link href="http://jengjeng.matriphe.com/tag/museum/feed" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://jengjeng.matriphe.com</link>
	<description>pengen jalan-jalan, makan-makan, dan lain-lain</description>
	<lastBuildDate>Tue, 02 Aug 2011 11:41:49 +0000</lastBuildDate>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<generator>http://wordpress.org/?v=3.2.1</generator>
	<atom:link rel='hub' href='http://jengjeng.matriphe.com/?pushpress=hub'/>
		<item>
		<title>Museum Seni Rupa dan Keramik, Menyimpan Koleksi Benda Seni Berbagai Masa dan Bangsa</title>
		<link>http://jengjeng.matriphe.com/museum-seni-rupa-dan-keramik-menyimpan-koleksi-benda-seni-berbagai-masa-dan-bangsa.html</link>
		<comments>http://jengjeng.matriphe.com/museum-seni-rupa-dan-keramik-menyimpan-koleksi-benda-seni-berbagai-masa-dan-bangsa.html#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 19 Oct 2009 12:24:11 +0000</pubDate>
		<dc:creator>matriphe</dc:creator>
				<category><![CDATA[Destinasi]]></category>
		<category><![CDATA[Museum & Bangunan Bersejarah]]></category>
		<category><![CDATA[museum]]></category>
		<category><![CDATA[seni rupa]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://jengjeng.matriphe.com/?p=1391</guid>
		<description><![CDATA[Berkunjung ke Museum Seni Rupa dan Keramik yang terletak di Jalan Pos Kota No 2, Jakarta Barat (kompleks Kota Tua/Taman Fatahillah) rupanya mampu menambah wawasan saya tentang sejarah perkembangan seni rupa Indonesia. Sekitar 400-an karya seni rupa yang kebanyakan berupa keramik, lukisan, serta ukiran dari berbagai daerah dan berbagai periode dipamerkan di sini. Sekilas bila [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><img src="http://jengjeng.matriphe.com/wp-content/uploads/2009/10/museum-keramik.jpg" alt="Museum Seni Rupa dan Keramik" title="Museum Seni Rupa dan Keramik" width="350" height="263" class="alignnone size-full wp-image-1395" /></p>
<p>Berkunjung ke Museum Seni Rupa dan Keramik yang terletak di Jalan Pos Kota No 2, Jakarta Barat (kompleks Kota Tua/Taman Fatahillah) rupanya mampu menambah wawasan saya tentang sejarah perkembangan seni rupa Indonesia.</p>
<p>Sekitar 400-an karya seni rupa yang kebanyakan berupa keramik, lukisan, serta ukiran dari berbagai daerah dan berbagai periode dipamerkan di sini.</p>
<p><span id="more-1391"></span>Sekilas bila melihat gedung, gedung museum ini mirip dengan gedung-gedung peradilan. Pilar-pilar raksasa menopang kanopi berbentuk prisma memperkuat kesan ini. Terang saja, wong dulunya adalah gedung peradilan Hindia Belanda pada kompleks benteng Batavia (<em>Ordinaris Raad Van Justitie Binnen Het Kasteel Batavia</em>) yang dibangun pada tanggal 12 Januari 1870.</p>
<p>Tahun 1944, ketika masa pendudukan Jepang, gedung ini pernah dipakai sebagai asrama militer KNIL dan selanjutnya digunakan sebagai asrama TNI. Tanggal 10 Januari 1972, gedung ini dimasukkan dalam daftar bangunan bersejarah.</p>
<p>Pada tahun 1973-1976 gedung ini digunakan untuk kantor Walikota Jakarta Barat, dan pada tanggal 20 Agustus 1976 gedung ini diresmikan sebagai Balai Seni Rupa oleh presiden Soeharto. Tanggal 7 Juni 1977, gubernur Ali Sadikin meresmikan museum keramik yang sejak tahun 1990 berubah fungsi menjadi Museum Seni Rupa dan Keramik.</p>
<p>Terdapat pintu besar yang menuju sebuah hall besar (dugaan saya, dulu tempat ini adalah ruang sidang), dengan patung Sindudarsono Sudjojono, bapak seni lukis modern Indonesia, di sebelah kiri (sebelah utara) dan patung Raden Saleh Syarif Bustaman, perintis seni rupa Indonesia modern, di sebelah kanan (selatan).</p>
<p><img src="http://jengjeng.matriphe.com/wp-content/uploads/2009/10/gerbang-depan.jpg" alt="Pintu bagian depan" title="Pintu bagian depan" width="350" height="263" class="alignnone size-full wp-image-1392" /></p>
<p>Museum ini buka setiap hari Selasa-Minggu, mulai pukul 9 pagi hingga 3 sore. Tiketnya cukup murah, yaitu 2 ribu rupiah untuk orang dewasa dan seribu rupiah untuk mahasiswa.</p>
<p>Setelah membeli tiket, saya mendapatkan brosur berisi sekelumit cerita tentang museum ini. Benar saja, isi dari brosur ini memang sangat minim dan kurang informatif.</p>
<p>Saya memasuki ruangan pertama di sayap utara. Di ruangan ini dipamerkan berbagai benda keramik yang diambil dari sejumlah kapal dari berbagai bangsa yang tenggelam di perairan Indonesia.</p>
<p>Dari benda-benda yang dibawa oleh kapal-kapal ini bisa diketahui apa saja komoditas saat itu, jalur-jalur mana saja yang dilewati, dan periode kapal itu melintas di nusantara. Selain itu juga bisa diketahui adanya jaringan perdagangan yang terjadi di Asia pada abad 9-10.</p>
<p>Kebanyakan benda-benda yang dipamerkan di ruangan ini berupa guci-guci yang sudah lapuk dan ditempeli kerang di sana-sini. Selain itu ada juga semacam perhiasan yang berbentuk semacam kelereng yang sudah lapuk dan tidak berbentuk.</p>
<p>Di ruangan ketiga sayap uatara, ada sebuah tangga besi dengan ukiran yang sangat indah khas Eropa, berdiri menjulang di tengah ruangan.</p>
<p>Yang menarik dari ruangan ketiga ini adalah adanya penjelasan tentang situs <em>Intan shipwreck</em>, salah satu situs kapal tenggelam yang menyimpan ratusan artefak. Yang menarik dari penemuan ini adalah penjelasan tentang sistem pengemasan (<em>packaging</em>) yang dilakukan pada masa itu.</p>
<p>Guci-guci dan keramik lainnya disusun dan disimpan sedemikian rupa ke dalam suatu guci besar. Sistem ini disebut dengan sistem &#8220;wadah disimpan dalam wadah&#8221;.</p>
<p>Penasaran, saya pun naik ke lantai atas dan di sana terdapat ruangan yang menyimpan berbagai koleksi keramik dari Cina, Jepang, Arab, dan Eropa. Koleksi ini berupa piring-piring dan alat makan dengan hiasan pola tertentu yang dari situ bisa diketahui periode pembuatannya.</p>
<p><img src="http://jengjeng.matriphe.com/wp-content/uploads/2009/10/koleksi-cina-jepang-eropa.jpg" alt="Keramik dari Cina dan Eropa" title="Keramik dari Cina dan Eropa" width="350" height="263" class="alignnone size-full wp-image-1398" /></p>
<p>Keramik-keramik dari Dinasti Yuan (abad 14 M) dominan berwarna hijau, keramik dari Dinasti Ming (abad 15) yang bermotif dan dominan menggunakan warna biru, Dinasti Tang (abad 7-10 M) yang kebanyakan polos tanpa motif dengan dominan warna kuning, Dinasti Qing (abad 18 M), Dinastio Sung (abad 13 M), keramik dari Jepang, keramik dari Eropa bergambar hiraldik, hingga keramik Arab abad 19/20 bertuliskan huruf Arab dalam bahasa Melayu.</p>
<p>Karena ruangan ini buntu, maka saya pun kembali menuruni tangga dan menuju ke bagian belakang. Di bagian belakang ini merupakan ruang pamer lukisan-lukisan dari berbagai periode. Selama dalam ruangan ini, pengunjung tidak diperkenankan untuk memotret.</p>
<p>Saya tidak berani mencuri-curi mengambil foto karena di beberapa sudut saya melihat kamera pengawas yang diletakkan di sudut-sudut strategis, sehingga gerak-gerik pengunjung bisa terawasi.</p>
<p>Ruang-ruang pamer dibagi-bagi berdasarkan periodenya. Jadi lukisan yang dipamerkan itu merupakan hasil karya pelukis yang hidup di masa-masa itu. Ruang pertama adalah ruang di masa Raden Saleh hidup (periode 1880 &#8211; 1890). Salah satu yang terkenal adalah lukisan yang berjudul &#8220;Bupati Cianjur&#8221; karya Raden Saleh.</p>
<p>Berikutnya, ruangan-ruangan periode Hindia Jelita (periode 1920-an), Ruang Persagi (periode 1930-an), Ruang Masa Pendudukan Jepang (periode 1942 &#8211; 1945), Ruang Pendirian Sanggar (periode 1945 &#8211; 1950), Ruang Sekitar Kelahiran Akademis Realisme (periode 1950-an), yang berada di blok sebelah utara dan terakhir Ruang Seni Rupa Baru Indonesia (karya-karya periode 1960 &#8211; sekarang) yang berada di satu blok selatan.</p>
<p>Beberapa lukisan terkenal dipamerkan di ruangan ini, antara lain lukisan berjudul &#8220;Ibu Menyusui&#8221; karya Dullah, &#8220;Potret Diri&#8221; karya Affandi, &#8220;Laskar Tritura&#8221; karya S. Sudjojono, dan &#8220;Dancing in the Cloud&#8221; karya Antonio Blanco.</p>
<p><img src="http://jengjeng.matriphe.com/wp-content/uploads/2009/10/ukiran-totem.jpg" alt="Patung ukiran Tottem" title="Patung ukiran Tottem" width="350" height="263" class="alignnone size-full wp-image-1397" /></p>
<p>Di halaman belakang terdapat patung-patung kayu berukiran tottem besar. Pohon sawo dan melinjo nampak menghiasi halaman belakang ini membuat udara sedikit segar. Di sepanjang koridor juga disediakan bangku-bangku untuk beristirahat sambil menikmati kicauan burung yang hinggap di pohon-pohon di halaman belakang ini.</p>
<p>Kamar kecil dan musholla terletak di belakang dan semuanya kondisinya sangat baik dan terawat. Di kawasan ini juga tersedia wi-fi yang disediakan oleh Telkom, tapi saya tidak mencoba apakah koneksinya kencang. <img src='http://jengjeng.matriphe.com/smilies/yahoo_bigsmile.gif' alt='&#58;&#68;' class='wp-smiley' width='18' height='18' title='&#58;&#68;' /></p>
<p>Di sayap selatan, tepat di ujung ruang pamer lukisan, terdapat ruang keramik yang memamerkan keramik-keramik dari Asia semacam Thailand dan Vietnam. Di ruangan ini juga terdapat tangga ke atas.</p>
<p>Saya tertarik dengan koleksi yang disebut dengan kendi susu. Kendi ini unik karena di bagian moncong terdapat gelembung yang sekilas memang tampak seperti payudara (susu). Meski kendi ini berasal dari Thailand, namun masyarakat mengenalnya dengan nama kendi Majapahit. Mungkin kendi ini dipakai pada era Majapahit kali, ya?</p>
<p><img src="http://jengjeng.matriphe.com/wp-content/uploads/2009/10/kendi-susu.jpg" alt="kendi susu dari Thailand (kendi Majapahit)" title="kendi susu dari Thailand (kendi Majapahit)" width="350" height="263" class="alignnone size-full wp-image-1393" /></p>
<p>Di lantai atas, keramik-keramik yang dipamerkan berasal dari berbagai daerah di Indonesia. Mulai dari keramik kasongan, keramik Bandung, Kalimantan, dan sebagainya. Kebanyakan keramik-keramik ini terbuat dari tanah liat.</p>
<p>Selain keramik berupa peralatan rumah tangga, juga terdapat karya seni dari seniman-seniman Indonesia. Salah satunya adalah patung bertajuk &#8220;Urbanisasi&#8221; karya Sri Hartono yang terbuat dari tanah putih tanpa glasir. patung ini menggambarkan segerombolan orang yang menumpang bus untuk pergi ke kota (urbanisasi).</p>
<p><img src="http://jengjeng.matriphe.com/wp-content/uploads/2009/10/patung-urbanisasi.jpg" alt="Urbanisasi karya Sri Hartono" title="Urbanisasi karya Sri Hartono" width="350" height="263" class="alignnone size-full wp-image-1399" /></p>
<p>Tertarik mengunjungi museum ini?</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://jengjeng.matriphe.com/museum-seni-rupa-dan-keramik-menyimpan-koleksi-benda-seni-berbagai-masa-dan-bangsa.html/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>16</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Museum Bahari: Sejarah Maritim dan Titik 0 Km Jakarta</title>
		<link>http://jengjeng.matriphe.com/museum-bahari-sejarah-maritim-dan-titik-0-km-jakarta.html</link>
		<comments>http://jengjeng.matriphe.com/museum-bahari-sejarah-maritim-dan-titik-0-km-jakarta.html#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 26 Apr 2009 05:04:07 +0000</pubDate>
		<dc:creator>matriphe</dc:creator>
				<category><![CDATA[Destinasi]]></category>
		<category><![CDATA[Museum & Bangunan Bersejarah]]></category>
		<category><![CDATA[Jakarta]]></category>
		<category><![CDATA[museum]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://jengjeng.matriphe.com/?p=1091</guid>
		<description><![CDATA[Ada sebuah pertanyaan menarik yang pernah saya dengar, &#8220;Di manakah letak titik nol kilometer Jakarta?&#8221;. Aha! Pada jeng-jeng saya kali ini, saya mendapatkan wawasan baru mengenai titik nol kilometer Jakarta! Museum Bahari, selain menyimpan cerita sejarah perkembangan maritim dan kelautan Indonesia, rupanya mempunyai cerita lain yang menarik untuk diulik. Bersama Pelabuhan Sunda Kelapa, kawasan ini [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><img src="http://jengjeng.matriphe.com/wp-content/uploads/2009/04/museum-bahari.jpg" alt="Museum Bahari" title="Museum Bahari" width="350" height="263" class="alignnone size-full wp-image-1092" /></p>
<p>Ada sebuah pertanyaan menarik yang pernah saya dengar, &#8220;Di manakah letak titik nol kilometer Jakarta?&#8221;. Aha! Pada jeng-jeng saya kali ini, saya mendapatkan wawasan baru mengenai titik nol kilometer Jakarta!</p>
<p>Museum Bahari, selain menyimpan cerita sejarah perkembangan maritim dan kelautan Indonesia, rupanya mempunyai cerita lain yang menarik untuk diulik. Bersama <a href="http://jengjeng.matriphe.com/index.php/2008/07/28/pelabuhan-sunda-kelapa-cikal-bakal-jakarta.html" title="Pelabuhan Sunda Kelapa, Cikal Bakal Jakarta">Pelabuhan Sunda Kelapa</a>, kawasan ini menjadi titik awal sejarah lahirnya Jakarta.</p>
<p><span id="more-1091"></span>Panas yang menyengat ndak menyurutkan niat saya untuk mengunjungi museum yang terletak di tepi muara Kali Ciliwung, tepatnya di Jalan Pasar Ikan No 1, Sunda Kelapa, Jakarta Utara.</p>
<p>Saya langsung terpukau dengan Menara Syahbandar (<em>Uitkijk Post</em>) yang dibangun pada tahun 1839, yang didirikan di bekas bastion (benteng) <em>Culemborg</em> yang merupakan tembok kota Batavia, ketika menjejakkan kaki di kawasan ini.</p>
<p>Menara setinggi 18 meter, dengan panjang 10 meter dan lebar 6 meter ini ternyata miring! Menurut pengukuran yang dilakukan pada tahun 2001, menara ini memang miring dengan sudut kemiringan 2&deg;15&#8217;54&#8243; ke arah selatan dan 0&deg;15&#8217;58&#8243; ke arah barat.</p>
<p><img src="http://jengjeng.matriphe.com/wp-content/uploads/2009/04/lookup-tower.jpg" alt="Menara Syahbandar" title="Menara Syahbandar" width="200" height="267" class="alignright size-full wp-image-1093" /></p>
<p>Di sekitar menara terdapat 3 bangunan lain, yaitu sebuah gedung yang dulunya dipakai untuk kantor urusan perdagangan, bangunan yang difungsikan sebagai gudang tepat di depan menara, dan bangunan di samping menara yang dulunya digunakan untuk urusan pabean.</p>
<p>Saya masuk ke dalam. Dengan tiket seharga 2 ribu rupiah kita bisa menjelajah museum. Kita bisa membelinya di Menara Syahbandar kemudian tiketnya bisa ditunjukkan ketika kita hendak memasuki bangunan utama museum.</p>
<p>Memasuki menara, tepat di bawah tangga terdapat sebuah prasasti bertulisan Cina. Tulisan ini bila diartikan berbunyi, &#8220;Tempat ini adalah kantor pengukuran dan penimbangan serta di sinilah titik nol Batavia&#8221;. Aha! Inilah jawaban pertanyaan mengenai di manakah titik nol kilometer Batavia!</p>
<p>Namun sekarang titik nol kilometer Jakarta dihitung dari Tugu Monas. Di seputaran fly-over Cawang, juga terdapat titik nol juga, namun titik ini digunakan untuk mengukur kilometer jalan tol.</p>
<p>Dengan melalui anak tangga, saya naik ke atas. Ada 3 ruangan yang ada di dalam menara. Sebuah ruangan di lantai dasar, sebuah ruangan di bagian tengah, dan sebuah ruangan lagi di bagian atas. Di bagian bawah lantai dasar, terdapat ruangan yang dulunya digunakan sebagai penjara.</p>
<p>Dari atas bangunan yang pernah menjadi bangunan tertinggi pada abad ke-18 ini, kita bisa melihat sekeliling dengan leluasa. Barisan perahu-perahu phinisi nampak rapi berderet di Pelabuhan Sunda Kelapa. Kafe Galangan VOC yang memang dulunya merupakan galangan kapal juga nampak dengan jelas.</p>
<p>Ada sebuah tangga kecil yang mengarah ke luar. Saya penasaran dan mencoba menaikinya untuk menuju ke teras di atas atap ini. Entah kenapa ketika berada di atas sini, saya yang biasanya tidak bermasalah dengan ketinggian, tiba-tiba merasa ketakutan. Mungkin  karena ruang yang sempit plus kondisi bangunan yang miring, membuat saya merasa ndak aman.</p>
<p>Di halaman, terdapat sebuah tugu peresmian museum ini. Museum ini diresmikan oleh gubernur Ali Sadikin pada tanggal 7 Juli 1977. Bila dicermati, angka tanggal ini cukup unik, bisa dibaca sebagai 7-7-77!</p>
<p>Pada tugu ini juga terdapat tulisan P126, yang merupakan titik meridian (pertemuan garis bujur dan garis lintang) Kota Jakarta. Selain itu, tugu ini juga didirikan tepat pada ketinggian 0 meter dari permukaan laut.</p>
<p>Dari Menara Syahbandar, saya menuju ke bangunan utama museum. Bau amis dan busuk langsung menyengat. Maklum saja, museum ini terletak persis di samping Pasar Ikan. Saya harus membiasakan diri dengan bau ini, setidaknya selama berada di kawasan museum.</p>
<p>Bangunan utama museum ini dulunya merupakan gudang VOC untuk menyimpan berbagai komoditi. Mulai dari rempah-rempah, pakaian, hingga benda-benda berharga. Pada masa pendudukan Jepang, bangunan ini digunakan untuk gudang penyimpanan senjata. Gedung ini juga pernah dipakai PLN dan PTT setelah Indonesia merdeka sebagai gudang penyimpanan.</p>
<p>Bangunan yang dibangun pada tahun 1652 dan mengalami beberapa kali pemugaran hingga tahun 1759 ini terdiri dari 2 bagian, <em>Westzijdsche Pakhuizen</em> di sebelah barat dan <em>Oostzijdsche Pakhuizen</em> di sebelah timur Kali Ciliwung. Gedung bagian timur tidak dipakai sedangkan gedung barat inilah yang kini dipakai sebagai Museum Bahari.</p>
<p><img src="http://jengjeng.matriphe.com/wp-content/uploads/2009/04/gedung-baru-lama.jpg" alt="Gedung barat dan gedung timur" title="Gedung barat dan gedung timur" width="350" height="263" class="alignnone size-full wp-image-1095" /></p>
<p>Gedung barat ini terdiri atas 2 blok, barat dan timur. Terdapat perbedaan mencolok antara blok barat dan timur. Gedung blok sebelah barat sudah direnovasi dan tampak lebih bagus, sedangkan blok gedung timur belum mendapat renovasi. Semoga saja renovasi ini bisa segera selesai dan bangunan museum menjadi lebih terawat.</p>
<p>Benteng yang mengelilingi gedung ini nampak kokoh walau terlihat renta. Begitu masuk bangunan, saya langsung menjelajah isi museum yang berada di dalam gedung bagian timur. Saya menjelajah sesuai urutan, dari depan kemudian ke atas dan berpindah ke gedung di bagian barat.</p>
<p>Ruangan pertama berisi berbagai panel yang bertuliskan sejarah pelayaran dan perkapalan di Nusantara, kedatangan VOC karena rempah, perkembangan pelabuhan, dan sebagainya. Selain panel-panel, dipamerkan juga berbagai miniatur kapal-kapal yang ada di seluruh penjuru nusantara.</p>
<p>Sebuah sirip kendali kapal dari kayu yang sangat panjang dan miniatur perahu Phinisi Nusantara, perahu tradisional Bugis, menarik perhatian saya di ruangan ini.</p>
<p><img src="http://jengjeng.matriphe.com/wp-content/uploads/2009/04/miniatur-phinisi.jpg" alt="Miniatur Kapal Phinisi Nusantara" title="Miniatur Kapal Phinisi Nusantara" width="350" height="263" class="alignnone size-full wp-image-1096" /></p>
<p>Melanjutkan ke ruangan berikutnya, masih memamerkan berbagai koleksi miniatur perahu-perahu dan kapal-kapal tradisional. Berbagai jenis kapal tradisional dari penjuru nusantara ada di sini. Ada perahu cadik dari Papua, miniatur perahu Phinisi dari Sulawesi, miniatur perahu Mayang dari Indramayu, miniatur perahu Londe dari Sulawesi, dan lain sebagainya.</p>
<p>Yang menarik perhatian saya di ruangan ini adalah adanya replika dari relief yang ada di Candi Borobudur. Relief ini menggambarkan kejayaan bahari pada masa Budha pada abad ke-8 M yang saat itu berpusat di Kerajaan Sriwijaya.</p>
<p>Dalam relief digambarkan sebuah perahu bercadik yang memiliki 2 tiang layar dengan konstruksi 3 kaki (tripod). Perahu ini pernah berlayar menyusuri <a href="http://asiapacificuniverse.com/pkm/spiceroutes.htm" title="The Spice and Cinnamon Route" target="_blank">Jalur Kayu Manis (The Cinnamon Route)</a> sejauh kurang lebih 11.000 mil laut.</p>
<p>Bahkan sebuah perjalanan napak tilas untuk menyusuri rute ini pernah dilakukan pada tahun 2003 oleh putera-putera terbaik Indonesia. Dengan merekonstruksi perahu seperti yang tergambar pada relief Candi Borobudur, 10 orang pemberani ini mengarungi samudera dari Jakarta menuju Ghana, Afrika.</p>
<p><img src="http://jengjeng.matriphe.com/wp-content/uploads/2009/04/replika-cadik-borobudur.jpg" alt="Replika relief Candi Borobudur" title="Replika relief Candi Borobudur" width="350" height="263" class="alignnone size-full wp-image-1097" /></p>
<p>Update info dari <a href="http://wijna.web.id/" title="Mawi Wijna" target="_blank">Mawi Wijna</a>, perahu yang digunakan napak tilas ini berada di Museum Candi Borobudur.</p>
<p>Ruangan berikutnya, selain masih berisi replika perahu juga berisi berbagai perabotan membuat perahu dan kapal kayu. Ada kerangka kayu perahu yang besar, sebuah batang pohon utuh yang dijadikan sebuah perahu, hingga alat-alat pertukangan.</p>
<p>Naik ke atas, di lantai dua saya memasuki ruangan yang memamerkan berbagai peralatan navigasi. Mulai dari miniatur berbagai macam bentuk mercusuar, pelampung rambu-rambu laut, rumah kompas, dan berbagai alat keperluan navigasi lainnya.</p>
<p>Sebuah replika ruang kemudi kapal menarik perhatian saya. Sebuah rumah kompas besar berada di depan kemudi dan di sampingnya terdapat pengendali kecepatan. Sewaktu saya mencoba menarik batang pengendali kecepatan, saya kaget karena ternyata alat tersebut berbunyi dengan nyaring, &#8220;ting! ting! ting!&#8221;.</p>
<p><img src="http://jengjeng.matriphe.com/wp-content/uploads/2009/04/miniatur-kemudi-kapal.jpg" alt="Miniatur kemudi kapal" title="Miniatur kemudi kapal" width="350" height="263" class="alignnone size-full wp-image-1098" /></p>
<p>Selanjutnya saya memasuki ruang biota laut. Seperti namanya, ruangan ini memamerkan beberapa contoh organisme laut. Beberapa merupakan hewan yang diawetkan.</p>
<p>Dari ruangan ini saya memasuki ruangan yang memamerkan berbagai alat untuk menangkap ikan. Mulai dari jala, joran, dan belat bambu. Yang menarik perhatian saya adalah belat bambu.</p>
<p>Belat bambu adalah alat penangkap ikan yang terbuat dari bambu, memiliki sistem pintu masuk searah. Ikan hanya bisa masuk ke dalam tapi tidak bisa keluar. Belat bambu ini dipasang menghadap ke hulu, sehingga ikan yang terbawa arus ke hilir akan masuk dengan mudah.</p>
<p><img src="http://jengjeng.matriphe.com/wp-content/uploads/2009/04/belat-bambu.jpg" alt="Belat Bambu" title="Belat Bambu" width="350" height="263" class="alignnone size-full wp-image-1099" /></p>
<p>Di antara beberapa ruangan terdapat ruang perpindahan di mana terdapat tangga dan terpasang foto-foto yang berhubungan dengan sejarah maritim. Saya tersenyum geli melihat foto jadul yang menggambarkan proses &#8220;pelantikan&#8221; alias perpeloncoan terhadap awak kapal yang baru melintasi garis katulistiwa untuk pertama kalinya. Mereka didandani dengan berbagai atribut yang lucu dan dilantik dalam suatu upacara yang khidmat dan konyol. Ternyata jaman dulu proses plonco itu sudah ada!</p>
<p>Dari ruangan ini saya pun turun dan berpindah ke gedung barat. Di bagian gedung yang sebagian masih kosong karena tahap renovasi, dipamerkan perahu-perahu besar. Perahu-perahu ini memang didatangkan dari berbagai penjuru nusantara.</p>
<p>Salah satu yang membuat saya takjub adalah sebuah perahu bercadik dari Papua yang terbuat dari sebatang pohon utuh yang dilubangi tengahnya. Perahu ini dibawa ke Jakarta pada tahun 1980 dengan cara dilayarkan dan dikemudikan oleh 15 orang secara bergantian sehingga totalnya ada 30 awak. Ketika 15 orang mendayung, 15 orang lainnya beristirahat. Perjalanan mereka dikawal oleh 2 kapal TNI AL dan helikopter selama 3 bulan.</p>
<p>Ukiran perahu ini juga menarik untuk dicermati, dengan relief menggambarkan rangkaian cerita kehidupan sehari-hari masyarakat Papua dan tak lupa hiasan kepala burung Cendrawasih terpasang di ujung-ujungnya. Warna-warna yang digunakan juga berasal dari alam. Warna hitam diperoleh dari tinta cumi-cumi sedangkan warna-warna lain diperoleh dari akar-akar dan dedaunan. Untuk perawatan perahu ini pun, harus dilakukan oleh orang Papua, dengan menggunakan semacam ritual adat.</p>
<p><img src="http://jengjeng.matriphe.com/wp-content/uploads/2009/04/perahu-papua.jpg" alt="Perahu cadik Papua" title="Perahu cadik Papua" width="350" height="263" class="alignnone size-full wp-image-1100" /></p>
<p>Ruangan perahu ini menjadi ruangan terakhir yang saya kunjungi. Berada di halaman di antara dua gedung, saya merasa ndak berada di Jakarta. Bentuk-bentuk arsitektur Eropa yang kental sangat terasa dengan memandang jendela-jendela kayu dengan teralis-teralis besi di dalamnya. Ndak heran kalo pemotretan pre-wedding juga kerap dilakukan di tempat ini.</p>
<p>Namun sayang, bau busuk yang menyengat dan hawa-hawa <em>pliket</em> laut begitu mengurangi kenyamanan. Belum lagi hawa panas yang tak mampu diusir oleh kipas angin yang terpasang di atap.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://jengjeng.matriphe.com/museum-bahari-sejarah-maritim-dan-titik-0-km-jakarta.html/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>38</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Museum Taman Prasasti, Bekas Makam Tertua Batavia</title>
		<link>http://jengjeng.matriphe.com/museum-taman-prasasti-bekas-makam-tertua-batavia.html</link>
		<comments>http://jengjeng.matriphe.com/museum-taman-prasasti-bekas-makam-tertua-batavia.html#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 23 Mar 2009 13:55:32 +0000</pubDate>
		<dc:creator>matriphe</dc:creator>
				<category><![CDATA[Destinasi]]></category>
		<category><![CDATA[Museum & Bangunan Bersejarah]]></category>
		<category><![CDATA[Batavia]]></category>
		<category><![CDATA[Jakarta]]></category>
		<category><![CDATA[museum]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://jengjeng.matriphe.com/?p=1054</guid>
		<description><![CDATA[Berkunjung ke Museum Taman Prasasti, yang terletak di Jl. Tanah Abang 1 No. 1, Jakarta Pusat, rupanya mampu melemparkan saya ke suasana yang sangat berbeda. Museum yang dulunya memang merupakan areal pemakaman kuno pada masa Batavia ini memang memberikan nuansa sepi, sejuk, dan tenang, terutama di tengah hiruk-pikuknya Jakarta. Suasana angker, kumuh, mengerikan, kotor, langsung [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><img src="http://jengjeng.matriphe.com/wp-content/uploads/2009/03/museum-taman-prasasti.jpg" alt="Museum Taman Prasasti" title="Museum Taman Prasasti" width="350" height="263" class="alignnone size-full wp-image-1055" /></p>
<p>Berkunjung ke Museum Taman Prasasti, yang terletak di Jl. Tanah Abang 1 No. 1, Jakarta Pusat, rupanya mampu melemparkan saya ke suasana yang sangat berbeda. Museum yang dulunya memang merupakan areal pemakaman kuno pada masa Batavia ini memang memberikan nuansa sepi, sejuk, dan tenang, terutama di tengah hiruk-pikuknya Jakarta.</p>
<p>Suasana angker, kumuh, mengerikan, kotor, langsung sirna begitu menjejakkan kaki ke areal yang luasnya sekitar 1,3 hektar ini. Memang kesan menakutkan masih sedikit terasa karena berbagai bentuk batu nisan yang berada di lokasi ini.</p>
<p><span id="more-1054"></span>Menuju ke tempat ini sangatlah mudah. Dengan menggunakan TransJakarta, saya turun di halte Monumen Nasional, tepat di depan gedung Museum Nasional (Museum Gajah).</p>
<p>Dari sini, saya berjalan sedikit ke arah utara, menuju ke sebuah jalan kecil di antara gedung Museum Nasional dan Gedung Depkominfo (Jl. Museum) ke arah barat, kemudian menyeberangi Kali Krukut menuju ke utara hingga menemukan Jl. Tanah Abang 1. Jika ogah repot, kita bisa naek ojek dari pertigaan dekat Depkominfo.</p>
<p>Suasana di sekitar sini sangat rapi dan bersih. Trotoar yang cukup lebar membuat saya lebih memilih berjalan kaki menikmati suasana.</p>
<p>Sebelum masuk areal museum, kita akan disambut oleh sebuah bangunan bergaya Doria yang dibangun pada tahun 1844 sebagai gerbang masuk. Di dalam bangunan ini terdapat ruangan di sayap kanan-kiri yang berfungsi untuk menyemayamkan jenazah.</p>
<p><img src="http://jengjeng.matriphe.com/wp-content/uploads/2009/03/gerbang-museum-taman-prasas.jpg" alt="Gerbang Museum Taman Prasasti" title="Gerbang Museum Taman Prasasti" width="350" height="263" class="alignnone size-full wp-image-1056" /></p>
<p>Di salah satu ruang bekas ruang penyemayaman jenazah inilah kita bisa membeli tiket untuk masuk ke museum ini. Dengan tiket seharga 2 ribu rupiah, kita bisa menjelajah setiap sudut area museum.</p>
<p>Seperti pada museum-museum lainnya di Jakarta, museum yang pengelolaannya berada dalam satu manajemen dengan pengelola Museum Sejarah Jakarta (Museum Fatahillah) ini beroperasi setiap Selasa hingga Minggu, mulai pukul 9 pagi hingga 3 sore. Museum ini juga tutup pada hari Senin dan hari libur nasional.</p>
<p>Makam kuno (<em>Kerkhof Laan</em>) ini awalnya bernama Kebon Jahe Kober, yang didirikan pada tanggal 28 September 1795. Saat itu kondisi Batavia sangat padat dan tidak sehat sehingga banyak warga yang terkena penyakit dan meninggal. Pemakaman di depan gereja pun tidak sanggup menampung sehingga pemkot Batavia kemudian mencari lahan di luar kota Batavia yang berada di sebelah selatan.</p>
<p>Areal makam ini dulunya sangat luas, mencapai sekitar 5,9 hektar. Posisinya yang dekat dengan Kali Krukut membuat posisi makam ini sangat strategis. Kali Krukut pada masa itu bahkan digunakan sebagai moda transportasi untuk mengangkut jenazah dan rombongan pengantar dengan menggunakan perahu.</p>
<p>Museum Taman Prasasti diresmikan pada tanggal 9 Juli 1977 oleh gubernur saat itu, Ali Sadikin, setelah selama 2 tahun jenazah-jenazah yang ada di makam ini direlokasi pada tahun 1975-1977. Sejak Agustus 2003, pengelolaan museum yang terletak persis di sebelah kantor Walikota Jakarta Pusat ini, bergabung dengan manajemen Museum Sejarah Jakarta.</p>
<p>Begitu masuk, kita akan mendapati beberapa pilar-pilar yang di tiap sisinya terdapat prasasti nisan. Gubernur Ali Sadikin yang saat itu mempunyai ide untuk menata prasasti-prasasti tersebut ke dalam pilar-pilar sehingga lebih rapi dan tertata, namun rupanya pemerintah Belanda tidak menyetujui ide ini, sehingga terkesan pembangunan pilar-pilar ini belum rampung.</p>
<p><img src="http://jengjeng.matriphe.com/wp-content/uploads/2009/03/pilar-pilar-prasasti.jpg" alt="Pilar-pilar prasasti" title="Pilar-pilar prasasti" width="350" height="263" class="alignnone size-full wp-image-1057" /></p>
<p>Meskipun di sini saya menyebutnya makam, namun semua jenazah yang ada di sini sudah dipindahkan. Ada yang dikembalikan ke keluarganya di negeri Belanda, sebagian dipindahkan ke pemakaman Menteng Pulo, dan beberapa dimakamkan di pemakaman umum lain semacam Tanah Kusir.</p>
<p>Kompleks makam ini terbagi atas 10 blok yang mengikuti kontur parit dan menyimpan hampir 1.500 koleksi. Bila bingung hendak ke mana, ikuti saja jalur semen yang mengelilingi kompleks ini. Sesekali keluar jalur untuk mengeksplorasi dan melihat-lihat nisan juga tak mengapa.</p>
<p>Nisan-nisan yang terdapat di sini beraneka rupa bentuk dan bahannya. Dari angka tahun yang tertulis di nisan, rata-rata berangka tahun wafat 1800-1900-an. Yang dimakamkan di sini pun beragam, awalnya hanya diperuntukkan oleh kaum bangsawan dan pejabat VOC/Batavia, namun seiring waktu masyarakat umum pun diterima, tentunya dengan membayar sejumlah tertentu.</p>
<p><img src="http://jengjeng.matriphe.com/wp-content/uploads/2009/03/heraldik.jpg" alt="Contoh Heraldik" title="Contoh Heraldik" width="200" height="267" class="alignright size-full wp-image-1058" /></p>
<p>Informasi dari batu nisan dan prasasti yang ada inilah kita bisa mengetahui komposisi penduduk Batavia pada saat itu. Dari bahasa yang tertulis di nisan, kita juga akan mendapati bangsa-bangsa yang ada. Bentuk-bentuk hiasan menunjukkan pola arsitektur yang berkembang saat itu, mulai dari arsitektur klasik, neo-gothic, dan Hindu-Jawa.</p>
<p>Logo <em>Heraldik</em> yang terpampang di nisan menunjukkan garis keturunan keluarga. Ada keturunan keluarga <em>Cornelis Breekpot</em> (militer), <em>Jonatan Michielsz</em> (saudagar Portugis, <em>mardjiker</em>), <em>Cornelis Lindius</em> (agamawan gereja), <em>Juffrow Sara Pedel</em> (saudagar), <em>Catharina van Doorn</em> (anggota dewan Hindia-Belanda), dan <em>Jacques de Bollan</em> (anggota dewan kota Batavia).</p>
<p>Logo Heraldik adalah semacam lambang status sosial, yang diberikan kepada suatu keluarga karena memiliki jasa-jasa tertentu. Logo ini biasanya dipasang di foto seseorang yang menunjukkan identitas keluarganya.</p>
<p>Tiap-tiap logo memiliki berbagai macam informasi yang disimbolkan dalam gambat-gambar penyusunnya. Biasanya simbol-simbol ini berisi falsafah hidup, semboyan, dan ajaran kebaikan.</p>
<p>Saya berniat untuk berjalan dengan mengikuti jalur ke arah kiri. Belum saya melangkah, pandangan mata saya tertahan pada sebuah dinding dengan prasasti di tengah dan ada hiasan tengkorak yang tertancap pedang. Inilah prasasti <em>Pieter Erbelrveld</em>, seorang campuran Jerman dan Thailand yang membenci orang-orang Belanda.</p>
<p><img src="http://jengjeng.matriphe.com/wp-content/uploads/2009/03/nisan-erberveld.jpg" alt="Monumen Pieter Erberveld" title="Monumen Pieter Erberveld" width="350" height="263" class="alignnone size-full wp-image-1059" /></p>
<p>Pieter Erberveld begitu membenci pemerintah Batavia yang sewenang-wenang. Beberapa kali Pieter Erbelverd melakukan perlawanan terhadap pemerintah dengan dibantu oleh Raden Kartadriya. Belanda menuduh Erbelverd hendak melakukan pemberontakan dan melakukan pembantaian terhadap etnis Belanda.</p>
<p>Ketika tertangkap, Erberveld diganjar hukuman yang sangat kejam. Tangan dan kakinya diikatkan ke 4 ekor kuda kemudian ditarik ke 4 arah yang berbeda. Tentu saja badannya robek dan berhamburan di jalan. Lokasi tempat eksekusi Erberveld yang terletak di tepi <em>Jacatra-weg</em> ini kini dikenal dengan Jalan (Kampung) Pecah Kulit, yang sekarang menjadi Jalan Pangeran Jayakarta.</p>
<p>Kepala Erberveld ini kemudian ditusuk dengan pedang dan dijadikan monumen sebagai peringatan kepada warga agar tidak melawan Belanda. Sebuah prasasti sepanjang sekitar 8 meter pun dibuat yang berisi peringatan dalam bahasa Belanda dan Jawa untuk tidak mendirikan bangunan atau menanam tumbuhan di sekitar monumen.</p>
<p>Prasasti yang terletak di Kampung Pecah Kulit ini kemudian dipindahkan ke Museum Taman Prasasti. Namun tengkorak dan pedang di prasasti ini tentu hanya replika. <img src='http://jengjeng.matriphe.com/smilies/yahoo_bigsmile.gif' alt='&#58;&#68;' class='wp-smiley' width='18' height='18' title='&#58;&#68;' /></p>
<p><img src="http://jengjeng.matriphe.com/wp-content/uploads/2009/03/makam-roll.jpg" alt="Nissan H.F. Roll" title="Nissan H.F. Roll" width="350" height="263" class="alignnone size-full wp-image-1060" /></p>
<p>Tak jauh saya melangkah dari prasasti Erberveld, saya menemukan nisan makam <em>H.F. Roll</em>, si pendiri STOVIA (<em>School tot Opleiding van Indische Artsen</em>), sekolah tinggi kedokteran untuk kaum pribumi. Nisannya dapat dengan mudah dikenali dari bentuk buku terbuka yang menjadi hiasan nisan.</p>
<p>Roll adalah seorang dokter Belanda yang berpikiran maju. Dia mengusulkan pendidikan kedokteran pribumi harus sama dengan pendidikan dokter di Belanda. Roll pun sempat menjadi direktur STOVIA, di mana pergerakan Budi Utomo lahir di sana.</p>
<p>Ndak jauh dari nissan H.F. Roll, ada sebuah bangunan mungil yang kini berfungsi sebagai gudang. Di bangunan itu dulunya ditemukan mumi dari keluarga keluarga <em>A.J.W. Van Delben</em>. Mumi itu sekarang entah berada di mana.</p>
<p><img src="http://jengjeng.matriphe.com/wp-content/uploads/2009/03/rumah-van-delben.jpg" alt="Rumah Van Delben" title="Rumah Van Delben" width="350" height="263" class="alignnone size-full wp-image-1061" /></p>
<p>Sebuah kereta yang terpajang tak jauh dari situ menarik perhatian saya. Rupanya itu adalah kereta jenazah yang pernah dipakai untuk mengangkut jenazah dari pelabuhan Kali Krukut ke pemakaman Kebon Jahe Kober.</p>
<p>Seperti yang saya ceritakan di awal, jenazah dibawa dari kota Batavia ke pemakaman dengan menggunakan perahu yang melalui Kali Krukut, kemudian jenazah dibawa ke pemakaman dengan menggunakan kereta kuda ini. Jumlah kuda yang menarik kereta menunjukkan status sosial si jenazah.</p>
<p>Dulu terdapat lonceng perunggu yang terpasang pada tiang besi setinggi 4 meter yang berada di pelabuhan, yang jaraknya kurang lebih 500 meter dari makam. Ketika jenazah tiba di pelabuhan, lonceng ini akan dibunyikan sebagai tanda jenazah telah tiba.</p>
<p><img src="http://jengjeng.matriphe.com/wp-content/uploads/2009/03/kereta-jenazah.jpg" alt="Kereta jenazah tua" title="Kereta jenazah tua" width="350" height="263" class="alignnone size-full wp-image-1062" /></p>
<p>Masih di blok yang sama, saya melihat batu nisan <em>Olivia Mariamne Raffles</em>, istri pertama <em>Thomas Stamford Raffless</em> saat masih menjabat jadi Gubernur Letnan Jawa ketika pemerintahan Inggris. Olivia begitu mencintai dunia tanaman dan dia lah yang mencetuskan ide pembangunan Kebun Raya Bogor. Saat Olivia meninggal pada usia 43 tahun, dibuatlah sebuah monumen di Kebun Raya Bogor yang dipersembahkan untuk Olivia Raffles.</p>
<p><img src="http://jengjeng.matriphe.com/wp-content/uploads/2009/03/nisan-olivia-raffles.jpg" alt="Nisan Olivia Mariamne Raffless" title="Nisan Olivia Mariamne Raffless" width="350" height="263" class="alignnone size-full wp-image-1063" /></p>
<p>Masih di sekitar situ, ada sebuah nisan yang unik menurut saya, berada tepat di bawah sebuah pohon. Hanya sebuah tulisan yang ada di batu nisan yang berbunyi, Kapiten Jas. Siapakah dia?</p>
<p>Kapiten Jas adalah sebuah legenda. Diduga nama ini berhubungan dengan <em>Jassen Kerk</em>, sebuah gereja Portugis di luar kota lama. Pada abad ke-17, karena kondisi Batavia yang tidak sehat, banyak warga meninggal dan dimakamkan di halaman gereja ini. Tanah pemakaman di halaman gereja inilah yang disebut dengan &#8220;tanah Kapiten Jas&#8221;.</p>
<p>Lantas, siapakah yang dimakamkan di sana? Entah lah, namun menurut salah seorang penjaga museum, jasad yang ada di situ ketika direlokasi mengalami hambatan, yaitu peti matinya terlilit akar pohon yang tumbuh di sampingnya.</p>
<p><img src="http://jengjeng.matriphe.com/wp-content/uploads/2009/03/nisan-kapiten-jas.jpg" alt="Nisan Kapiten Jas" title="Nisan Kapiten Jas" width="350" height="263" class="alignnone size-full wp-image-1065" /></p>
<p>Mengikuti jalur yang ada, saya pun berkeliling. Batu nisan berbagai bentuk rupanya menarik perhatian serombongan anak SMA untuk berfoto-foto. Dengan menggunakan kostum ala <em>vintage</em>, mereka berpose di atas nisan atau berlatar belakang suasana makam.</p>
<p>Memang di beberapa tempat terdapat hiasan-hiasan berupa malaikat, manusia bersayap, wanita cantik, dan sebagainya. Ada juga bentuk-bentuk bangunan dengan arsitektur yang indah. Ndak heran banyak syuting, pemotretan pre-wedding yang mengambil lokasi ini.</p>
<p>Di beberapa sudut tersedia bangku-bangku taman. Sesuai dengan namanya, Museum Taman Prasasti ini memang layak dijadikan taman tempat berekreasi. Sembari duduk-duduk menikmati keteduhan suasana karena di sini tumbuh berbagai jenis pohon yang rindang.</p>
<p><img src="http://jengjeng.matriphe.com/wp-content/uploads/2009/03/nisan-gie.jpg" alt="Nisan Soe Hok Gie" title="Nisan Soe Hok Gie" width="200" height="267" class="alignright size-full wp-image-1067" /></p>
<p>Rupanya tidak hanya tokoh-tokoh Belanda saja yang dimakamkan di sini. Di luar jalur semen, saya melihat nisan <em>Soe Hok Gie</em>, tokoh pergerakan mahasiswa era tahun 1967-1969, yang meninggal menghirup gas beracun di Gunung Semeru.</p>
<p>Selain Soe Hok Gie, ada juga nisan <em>Miss Riboet</em>. Miss Riboet adalah penyanyi dan penari terkenal dari kelompok seni Orion Junior yang didirikan oleh suaminya, <em>Tio Tek Djien</em>, pada tahun 1925. Selain menari, Miss Riboet piawai memainkan pedang.</p>
<p>Karir Miss Riboet makin terkenal ketika dia memainkan peran sebagai perampok wanita dalam lakon berjudul <em>Juanita de Vega</em> karya <em>Antoimette de Zema</em>. Namun karir kelompok seni ini berakhir pada tahun 1934 ketika dua orang penulis naskah mereka, <em>Njoo Cheong Seng</em> dan <em>Fifi Young</em>, pindah ke kelompok sandiwara asal Surabaya yang menjadi saingan berat Orion. Miss Riboet meninggal di Jakarta pada tahun 1965.</p>
<p><img src="http://jengjeng.matriphe.com/wp-content/uploads/2009/03/nisan-riboet.jpg" alt="Nisan Miss Riboet" title="Nisan Miss Riboet" width="350" height="263" class="alignnone size-full wp-image-1068" /></p>
<p>Melanjutkan penelusuran saya, berbagai tokoh pun saya lihat nisannya. Ada nisan <em>Dr. J.L. Andries Brandes</em>, seorang arkeolog yang menguasai sastra Jawa kuno. Sejarah Indonesia banyak sekali yang dia ungkap, mulai dari Kitab Pararaton, naskah raja-raja Tumapel hingga Majapahit.</p>
<p>Batu nisannya unik. Sekilas bentuknya seperti lingga, dengan ukiran <em>antefix</em> seperti yang dapat ditemukan pada hiasan beberapa candi di Jogja.</p>
<p><img src="http://jengjeng.matriphe.com/wp-content/uploads/2009/03/nisan-brandes.jpg" alt="Nisan Dr. J.L. Andries Brandes" title="Nisan Dr. J.L. Andries Brandes" width="200" height="267" class="alignright size-full wp-image-1069" /></p>
<p>Masih banyak tokoh-tokoh lain yang nisannya berada di museum ini. Ada nisan <em>Adami Caroli Claessens</em>, seorang pastur Katholik yang datang ke Hindia Belanda pada tahun 1847. Salah satu jasa Claessens adalah membangun kembali Gereja Katedral yang roboh pada tahun 1890.</p>
<p>Ada juga nisan <em>J.H.R. Kohler</em>, seorang panglima tinggi militer Batavia yang gugur ketika melakukan ekspedisi ke Aceh. Kohler gugur karena salah sasaran, seharusnya menyerang Kerajaan Aceh, namun justru menyerang sebuah masjid. Masyarakat pun melakukan perlawanan dan Kohler tewas tertembak di dada pada tahun 1879.</p>
<p>Ketika hendak mengakhiri kunjungan, saya tertarik dengan sebuah bangunan di sebelah selatan gerbang masuk. Sebuah aula yang tertutup rapat mengusik rasa penasaran saya. Ketika saya bertanya kepada penjaga museum, dia malah mengajak saya masuk ke dalam melalui jendela karena pintu utamanya rusak.</p>
<p>Rupanya aula ini tempat menyimpan peti jenazah proklamator kita, Bung Karno dan Bung Hatta. Peti bung Hatta di sebelah utara (kiri) dan peti Bung Karno di sebelah selatan (kanan).</p>
<p>Si penjaga pun mengijinkan saya melihat isi peti. &#8220;Semua masih asli&#8221;, kata penjaga itu. Saya melihat isi peti yang mulai lapuk kain dan bantalan di dalamnya karena dimakan usia.</p>
<p><img src="http://jengjeng.matriphe.com/wp-content/uploads/2009/03/peti-sukarno-hatta.jpg" alt="Peti jenazah Bung Karno dan Bung Hatta" title="Peti jenazah Bung Karno dan Bung Hatta" width="350" height="263" class="alignnone size-full wp-image-1070" /></p>
<p>Mengunjungi Museum Taman Prasasti dapat menjadi wisata alternatif. Selain menikmati kesejukan udara dan kicauan burung yang hinggap di sela-sela pepohonannya yang rindang, kita juga bisa mengenal berbagai tokoh yang hidup di masa silam.</p>
<p>Yang menarik, makam Kebon Jahe Kober (1795) bahkan bisa dibilang salah satu makam tertua di dunia. Lebih tua dari <em>Fort Cannin Park</em> (1926) di Singapura, <em>Gore Hill Cemetery</em> (1868) di Sidney, <em>La Chaise Cemetery</em> (1803) di Paris, <em>Mount Auburn Cemetery</em> (1831) di Cambridge yang diklaim sebagai makam modern pertama di dunia, atau <em>Arlington National Cemetery</em> (1864) di Washington DC.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://jengjeng.matriphe.com/museum-taman-prasasti-bekas-makam-tertua-batavia.html/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>66</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Museum Wayang: Menyimpan Koleksi Wayang Berbagai Daerah</title>
		<link>http://jengjeng.matriphe.com/museum-wayang-menyimpan-koleksi-wayang-berbagai-daerah.html</link>
		<comments>http://jengjeng.matriphe.com/museum-wayang-menyimpan-koleksi-wayang-berbagai-daerah.html#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 03 Feb 2009 14:26:41 +0000</pubDate>
		<dc:creator>matriphe</dc:creator>
				<category><![CDATA[Destinasi]]></category>
		<category><![CDATA[Museum & Bangunan Bersejarah]]></category>
		<category><![CDATA[Jakarta]]></category>
		<category><![CDATA[museum]]></category>
		<category><![CDATA[wayang]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://jengjeng.matriphe.com/?p=1026</guid>
		<description><![CDATA[Kota tua Jakarta memang masih memesona. Melanjutkan perjalanan penjelajahan museum, kali ini saya mengunjungi Museum Wayang, yang beralamat di Jl. Pintu Besar Utara No. 27, Jakarta. Terletak di kawasan Taman Fatahillah, museum ini merupakan salah satu museum dari beberapa museum yang ada di kawasan ini. Gedung ini begitu mudah ditemui karena cat temboknya yang berbeda [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><img src="http://jengjeng.matriphe.com/wp-content/uploads/2009/02/museum-wayang.jpg" alt="Prasasti Museum Wayang" title="Prasasti Museum Wayang" width="350" height="263" class="alignnone size-full wp-image-1027" /></p>
<p>Kota tua Jakarta memang masih memesona. Melanjutkan perjalanan penjelajahan museum, kali ini saya mengunjungi Museum Wayang, yang beralamat di Jl. Pintu Besar Utara No. 27, Jakarta. Terletak di kawasan Taman Fatahillah, museum ini merupakan salah satu museum dari beberapa museum yang ada di kawasan ini.</p>
<p>Gedung ini begitu mudah ditemui karena cat temboknya yang berbeda warna. Warna coklat yang dominan di antara gedung-gedung lain berwarna putih membuat gedung museum ini mudah ditemukan.</p>
<p><span id="more-1026"></span>Siapa yang menyangka kalo gedung mungil ini menyimpan hampir 6 ribu koleksi wayang dari seluruh Indonesia bahkan beberapa dari dunia. Museum yang diresmikan oleh gubernur saat itu, Ali Sadikin, pada tanggal 13 Agustus 1975 ini usianya hampir sama dengan Museum Sejarah Jakarta (Museum Fatahillah).</p>
<p><img src="http://jengjeng.matriphe.com/wp-content/uploads/2009/02/gedung-museum-wayang.jpg" alt="Gedung Museum Wayang" title="Gedung Museum Wayang" width="350" height="263" class="alignnone size-full wp-image-1029" /></p>
<p>Arsitekturnya sekilas memang berbeda dengan arsitektur gedung-gedung di sampingnya. Maklum saja karena gedung bercorak <em>neo-renaisance</em> ini memang beberapa kali mengalami pemugaran.</p>
<p>Awalnya gedung ini adalah gedung <em>De Oude Hollandsche Kerk</em> (Gereja Lama Belanda) dan dibangun pertama kali pada tahun 1640. Tahun 1732 diperbaiki dan berganti nama <em>De Nieuwe Hollandse Kerk</em> (Gereja Baru Belanda), namun sayangnya hancur oleh gempa bumi pada tahun 1808. Di atas puing-puing bangunan ini kemudian dibangunlah sebuah museum yang disebut Museum Batavia yang dibuka pada 1939 oleh Gubernur Jenderal Belanda saat itu, <em>Tjarda Van Starkenborgh Stachhouwer</em>. Museum inilah yang kemudian menjadi Museum Wayang.</p>
<p>Dengan tiket sebesar 2 ribu rupiah, kita bisa menikmati koleksi wayang dari berbagai corak, bentuk, dan daerah. Sayangnya selama berada di museum ini kita tidak diperkenankan untuk mengambil gambar, walau ada beberapa pengunjung yang nekat mengambil gambar meski hanya menggunakan kamera handphone.</p>
<p>Menuju ke ruangan atas, di mana ruang pamer berada, kita akan disambut oleh sebuah fragmen wayang yang menceritakan peristiwa proklamasi kemerdekaan. Terdapat sosok Bung Karno dan Bung Hatta di dalam fragmen tersebut. Wayang ini sempat dibawa ke Belanda sebelum akhirnya dikembalikan lagi dan menjadi koleksi museum ini.</p>
<p>Memasuki koridor, kita akan mendapati berbagai bentuk rupa, mulai dari wayang kulit, wayang beber, wayang golek, wayang klitik, dan sebagainya. Asal daerahnya pun ada yang berasal dari Surakarta, Yogyakarta, Cireebon, Sunda, Betawi, Banyumas, Banjarmasin, bahkan dari Eropa, India, Amerika, Kamboja, dan Thailand.</p>
<p><img src="http://jengjeng.matriphe.com/wp-content/uploads/2009/02/dalam-museum-wayang.jpg" alt="Suasana di dalam Museum Wayang" title="Suasana di dalam Museum Wayang" width="350" height="263" class="alignnone size-full wp-image-1028" /></p>
<p>Ada beberapa koleksi yang memukau saya, antara lain wayang intan. Wayang intan adalah wayang kulit yang di bagian-bagian tertentu terdapat intan-intan. Wayang yang dibuat oleh Ki Guno Kerti Wondo ini dibuat pada tahun 1878.</p>
<p>Wayang lainnya yang ukup unik adalah wayang klithik. Wayang ini badannya terbuat dari kayu, namun pada bagian tangan menggunakan kulit. Ketika dimainkan, wayang ini akan berbunyi &#8220;klithik-klithik&#8221; akibat badan wayang bersentuhan dengan gagang wayang yang menggerakkan tangan, jadilah namanya wayang klithik. Cara memainkannya pun mirip dengan wayang golek.</p>
<p>Ada juga wayang Betawi, di mana bentuknya seperti wayang golek, namun tokoh-tokohnya adalah tokoh-tokoh Betawi pada masa penjajahan. Kita bia melihat tokoh seperti Si Pitung, Centeng Belanda, Pak Haji, Jenderal Belanda, dan sebagainya.</p>
<p>Ada juga boneka Si Gale-Gale, boneka dari Pulau Samosir, Sumatera Utara yang konon dulu berisi roh putera raja Si Gale-Gale sehingga bisa menari-nari ini juga dipamerkan. Beberapa wayang berbentuk boneka dari Eropa, Malaysia, dan Thailand juga dapat kita lihat.</p>
<p>Saya terpukau melihat sebuah blencong (lampu minyak yang digunakan sebagai sumber cahaya pada pertunjukkan wayang kulit) besar berbentuk garuda yang pernah &#8220;piknik&#8221; hingga negeri Belanda. Namun oleh Kolonel Karel Heshusius, blencong ini dikembalikan ke Indonesia pada tahun 1975.</p>
<p>Namun dari sekian jenis wayang, saya ndak menemukan <a href="http://jengjeng.matriphe.com/index.php/2008/02/10/wayang-potehi-wayang-cina-yang-berakulturasi.html" title="Wayang Potehi, Wayang Cina yang Berakulturasi">wayang potehi</a>. <img src='http://jengjeng.matriphe.com/smilies/yahoo_bigsmile.gif' alt='&#58;&#68;' class='wp-smiley' width='18' height='18' title='&#58;&#68;' /> Selain berbagai jenis wayang, ada juga seperangkat gamelan yang dipamerkan di sini.</p>
<p>Keunikan lain dari museum ini adalah adanya taman di bagian bawah di mana terdapat prasasti-prasasti yang merupakan bagian dari bangunan sebelumnya. Sekilas memang bentuk taman ini semacam makam, sehingga banyak yang mengira taman ini adalah makam. <img src='http://jengjeng.matriphe.com/smilies/yahoo_bigsmile.gif' alt='&#58;&#68;' class='wp-smiley' width='18' height='18' title='&#58;&#68;' /> Dari sekian buah nama yang tertulis, saya hanya bisa mengenali nama Jan Pieterzoon Coen, sang pendiri Batavia.</p>
<p>Sayangnya ketika ke sana, koleksi yang dipamerkan tidak banyak mengingat keterbatasan tempat. Namun menurut informasi, gedung ini akan diperluas sehingga di beberapa tempat masih terpampang tulisan &#8220;dalam renovasi&#8221;. <img src='http://jengjeng.matriphe.com/smilies/yahoo_smiley.gif' alt='&#58;&#41;' class='wp-smiley' width='18' height='18' title='&#58;&#41;' /></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://jengjeng.matriphe.com/museum-wayang-menyimpan-koleksi-wayang-berbagai-daerah.html/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>29</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Museum Bank Indonesia, Museum Bermultimedia</title>
		<link>http://jengjeng.matriphe.com/museum-bank-indonesia-museum-bermultimedia.html</link>
		<comments>http://jengjeng.matriphe.com/museum-bank-indonesia-museum-bermultimedia.html#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 18 Jul 2008 04:48:44 +0000</pubDate>
		<dc:creator>matriphe</dc:creator>
				<category><![CDATA[Destinasi]]></category>
		<category><![CDATA[Museum & Bangunan Bersejarah]]></category>
		<category><![CDATA[Jakarta]]></category>
		<category><![CDATA[museum]]></category>
		<category><![CDATA[perbankan]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://jengjeng.matriphe.com/index.php/2008/07/18/museum-bank-indonesia-museum-bermultimedia.html</guid>
		<description><![CDATA[Masih di seputaran Kota Tua, saya pun mengunjungi Museum Bank Indonesia, yang terletak di Jl. Pintu Besar Utara No. 3, Jakarta Barat. Museum ini kembali membuat saya takjub. Konsep museum yang ditawarkan oleh Museum BI ini sangat keren dan berbeda dengan museum-museum lainnya. Walau dari luar, bangunan bekas De Javasche Bank ini nampak tua, namun [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><img src="http://jengjeng.matriphe.com/wp-content/uploads/2008/07/museum-bi1.jpg" alt="Museum Bank Indonesia" title="Museum Bank Indonesia" width="350" height="263" class="alignnone size-full wp-image-1153" /></p>
<p>Masih di seputaran Kota Tua, saya pun mengunjungi Museum Bank Indonesia, yang terletak di Jl. Pintu Besar Utara No. 3, Jakarta Barat.</p>
<p>Museum ini kembali membuat saya takjub. Konsep museum yang ditawarkan oleh Museum BI ini sangat keren dan berbeda dengan museum-museum lainnya.</p>
<p><span id="more-764"></span>Walau dari luar, bangunan bekas De Javasche Bank ini nampak tua, namun jangan berharap menemukan kesan kuno bila masuk ke dalamnya. Saya serasa masuk ke dalam hotel berbintang!</p>
<p>Awalnya saya clingak-clinguk mencari di mana pintu masuknya. Ah, rupanya pintu kaca bersensor yang akan terbuka otomatis bila kita mendekat mengagetkan saya. Saya sempat bingung, ini museum atau mall?</p>
<p>Masuk ke lobi, saya kembali melongo, ini penjaganya di mana? Kok sepi? Oh, rupanya meja resepsionis berada di ruangan sebelah utara, setelah masuk melalui sebuah pintu putar kuno yang terbuat dari baja.</p>
<p>Lagi-lagi saya tercengang, ruang resepsionisnya pun nampak modern. Mbak-mbak penjaga resepsionis menyapa saya ramah dan mempersilakan saya mengisi buku tamu dan menitipkan tas.</p>
<p>&#8220;Mohon nanti di ruang Peralihan dan Numismatik, blitz-nya tidak dinyalakan, karena akan mengganggu..&#8221;, mbak resepsionis memperingatkan saya dengan tersenyum ketika melihat saya mengeluarkan kamera dari tas.</p>
<p><img src='http://jengjeng.matriphe.com/wp-content/uploads/2008/07/resepsionis.jpg' alt='Ruang Resepsionis' /></p>
<p>Saat saya hendak mengeluarkan uang untuk membayar tiket masuk, lagi-lagi saya terkejut. &#8220;Hah?! Masuk museum sekeren ini, GRATIS?!!&#8221;, teriak saya hampir tak percaya.</p>
<p>Ruang resepsionis ini begitu keren. Sepanjang koridor di mana ruang resepsionis ini berada, terdapat ruang-ruang berteralis yang digunakan untuk melakukan transaksi dengan teller. Privasi sangat dijaga sekali.</p>
<p>Konon bangunan 2 lantai ini dulunya digunakan sebagai rumah sakit Binnen Hospital, sebelum digunakan untuk kantor De Javasche Bank.</p>
<p>De Javasche Bank didirikan pada tahun 1828. DJB saat itu sangat berperan dalam peredaran komoditi hasil bumi dari seluruh penjuru Hindia Belanda.</p>
<p>Gedung ini pun sempat mengalami 5 tahap renovasi. Renovasi pertama dilakukan pada tahun 1909 hingga 1912 yang dilakukan oleh biro arsitektur terkemuka dari Belanda saat itu, Biro Arsitek Ed Cuypers en Hulswit.</p>
<p>Renovasi pertama ini menambahkan elemen dekoratif Neoklasik yang terpengaruh oleh arsitektur Beaux Arts yang sedang berkembang di Eropa. Selain itu, unsur-unsur lokal dapat kita temukan pula pada beberapa hiasan dekoratifnya, sehingga gedung ini menjadi gedung bergaya Eropa pertama yang memadukan unsur Eropa dan lokal di Hindia Belanda.</p>
<p>Renovasi kedua dilakukan pada tahun 1922 oleh Biro Arsitek NV Architecten-Ingenieursbureau Fermont-Cuypers, dengan menambahkan ruang rapat berkeramik hijau dari Belanda yang disebut dengan Ruang Hijau.</p>
<p>Pada tahap ini pula, ruang Kluis (penyimpanan uang dan benda beharga) lapis baja dengan tembok beton setebal 65 cm dibangun oleh perusahaan LIPS dari Dordrecht.</p>
<p>Renovasi tahap ketiga pada tahun 1924 hanya menyelesaikan pembangunan di sepanjang Javabank Straat (sekarang Jl. Bank) dan bangunan sayap belakang sepanjang kali.</p>
<p>Tahap keempat (1933) dan tahap kelima (1935) hanya melakukan penambahan beberapa gedung dan merombak beberapa bagian gedung.</p>
<p>Sebelum masuk ke ruang pertama museum, yaitu Ruang Peralihan, terpampang layar <em>touchscreen</em> yang memberikan informasi lengkap soal museum ini. Beberapa layar monitor LCD widescreen juga terpampang memberikan informasi berupa video.</p>
<p><img src='http://jengjeng.matriphe.com/wp-content/uploads/2008/07/touchscreen.jpg' alt='Layar Informasi Touchscreen' /></p>
<p>Sejarah perkembangan logo BI yang telah mengalami perubahan 7 kali sejak tahun 1953 hingga 2005 pun terpampang jelas. Logo BI yang sekarang ini ternyata mengadaptasi logo De Javasche Bank dengan mengubah huruf J menjadi huruf I.</p>
<p>Saya pun memasuki Ruang Peralihan. Label larangan memotret menggunakan blitz terpampang sebelum pintu masuk. Rupanya penggunaan blitz dikhawatirkan akan mengganggu sensor cahaya yang ada di ruangan ini.</p>
<p>Ruangan ini adalah ruangan multimedia interaktif. Di sini sebuah proyektor khusus menampilkan kepingan uang logam berbagai nilai yang melayang-layang pada sebuah layar putih melengkung.</p>
<p>Bila kita bisa &#8220;menangkap&#8221; kepingan uang logam ini, yaitu dengan mengurung uang tersebut di dalam lingkaran tangan, maka akan muncul semacam pop-up yang berisi informasi mengenai uang logam tersebut.</p>
<p><img src='http://jengjeng.matriphe.com/wp-content/uploads/2008/07/ruang-peralihan.jpg' alt='Ruang Peralihan' /></p>
<p>Keluar dari Ruang Peralihan, saya memasuki Ruang Teater berkapasitas 45 tempat duduk yang digunakan untuk memutar film sejarah Bank Indonesia selama 30 menit.</p>
<p>Ruangan berikutnya adalah Ruang Sejarah Bank Indonesia. Di sini terdapat berbagai diorama dan papan informasi besar yang menceritakan sejarah Bank Indonesia dari tahun 1953 hingga tahun 2005.</p>
<p>Sejarah Bank Indonesia sendiri menampilkan 3 fungsi Bank Indonesia yaitu sebagai lembaga moneter, perbankan, dan sistem pembayaran.</p>
<p>Lagi-lagi unsur multimedia tak lepas dari ruangan ini. Speaker berbentuk khusus yang terletak menggantung di langit-langit tepat di atas monitor touchscreen membuat suara menjadi lebih bagus.</p>
<p>Yang saya sukai dari ruangan ini adalah panel &#8220;Yang Seru, Yang Lucu&#8221;, yang menampilkan beberapa asal mula istilah-istilah perbankan yang akrab di telinga kita.</p>
<p>Tampilannya pun dibuat interaktif. Pertanyaan dan gambar ilustrasi ditulis pada papan persegi semacam jendela, kemudian untuk mengetahui jawabannya, kotak pertanyaan ini digeser ke kanan dan akan muncullah jawaban dari pertanyaan tersebut.</p>
<p><img src='http://jengjeng.matriphe.com/wp-content/uploads/2008/07/yang-seru-lucu.jpg' alt='Panel “Yang Seru, Yang Lucu”' /></p>
<p>Berbagai macam asal usul istilah perbankan ada di sana. Mulai dari asal usul uang kertas, kata &#8220;dollar&#8221;, kata &#8220;money&#8221;, celengan, kata &#8220;matre&#8221;, kata &#8220;bangkrut&#8221;, kata &#8220;bank&#8221;, beberapa istilah bursa semacam &#8220;bull market&#8221; dan &#8220;bear market&#8221;, serta masih banyak lagi.</p>
<p>Dari panel-panel ini saya jadi tau asal kata &#8220;money&#8221; yang berasal dari kata &#8220;moneta&#8221; (memperingatkan) dalam mitologi Yunani, kemudian kata &#8220;dollar&#8221; yang berasal dari kata &#8220;thaler&#8221; (koin perak) di Bohemia (Cekoslovakia), kata &#8220;bank&#8221; yang berasal dari kata &#8220;banca&#8221; (bangku) di Italia, serta banyak hal menarik dan lucu lainnya.</p>
<p>Keluar dari ruang ini, saya lantas menuju ke lantai atas. Di sana terdapat Ruang Numismatik. Sebelum masuk ke ruangan ini, kita harus melalui ruang koridor Numismatik.</p>
<p>Di sini, terdapat sebuah panel gambar uang pecahan 10 ribu rupiah tahun emisi 1985 yang pada wajah Ibu Kartini terdapat lubang untuk kita berpose. Jadi kita seolah-olah menjadi tokoh dalam uang tersebut. Saya pun tak menyia-nyiakan kesempatan ini! <img src='http://jengjeng.matriphe.com/smilies/yahoo_giggle.gif' alt='&#59;&#41;&#41;' class='wp-smiley' width='18' height='18' title='&#59;&#41;&#41;' /></p>
<p><img src='http://jengjeng.matriphe.com/wp-content/uploads/2008/07/duit-aneh.jpg' alt='Duit Edisi Aneh' /></p>
<p>Sebelum masuk ke ruang Numismatik, yang merupakan bekas ruang Kluis dengan pintu baja, seorang guide wanita kembali memperingatkan saya untuk tidak menyalakan blitz, karena di ruangan ini terdapat koleksi mata uang kuno yang dikhawatirkan bila terkena cahaya berlebihan, bisa merusak uang-uang tersebut.</p>
<p>Di ruang ini, display uang kuno dibagi dalam beberapa periode masa, mulai dari masa kerajaan hingga masa sekarang. Selain itu, terdapat informasi mengenai uang-uang khusus semacam uang bersambung dan uang token.</p>
<p>Saya takjub melihat <a href="http://www.bi.go.id/msmbiweb/koleksi_content.asp?id=274&#038;tipe=" title="Kampua" target="_blank">Kampua</a>, uang dari kerajaan Buton, Sulawesi Tenggara yang diperkirakan berasal dari abad ke-14 hingga 19. uang ini terbuat dari anyaman benang yang dianyam oleh putri raja Buton.</p>
<p>Satuan uang ini ditentukan oleh luas kain selebar telapak tangan raja Buton yang berkuasa saat itu. Satu satuan uang adalah sama harganya dengan satu butir telur.</p>
<p>Kemudian ada lagi yang namanya Uang Bersambung. Jadi, uang ini sengaja dicetak tanpa dipotong, sehingga uang tersebut tetap bergandengan. Uang ini dicetak dalam jumlah terbatas untuk konsumsi para kolektor dan tidak digunakan untuk keperluan sehari-hari, meski bila uang ini kemudian kita potong, tetep saja uang ini sah digunakan sebagai alat pembayaran.</p>
<p>Ada juga Uang Token, yaitu uang yang mempunyai nilai nominalnya lebih tinggi dari nilai materinya. Uang ini biasanya dikeluarkan oleh badan tertentu dan hanya berlaku di lokasi tertentu saja. Contohnya ya koin-koin pada casino, di mana koin tersebut hanya berlaku di dalam casino tersebut.</p>
<p><img src='http://jengjeng.matriphe.com/wp-content/uploads/2008/07/ruang-numismatik.jpg' alt='Ruang Numismatik' /></p>
<p>Sayangnya ruang ini menjadi ruang terakhir yang saya jelajah, karena museum ini rupanya baru aja soft-launching pada tanggal 15 Desember 2005 lalu dan masih dalam taraf pembangunan.</p>
<p>Rencana grand-launching adalah pada akhir tahun 2008 ini. Saya pun berharap bisa melihat berbagai macam koleksi yang ada di museum ini. Tentu dengan penataan yang sangat baik dan menyenangkan semacam ini.</p>
<p>Selain itu, museum ini juga mempunyai website yang cukup informatif. Beralamat di <a href="http://www.bi.go.id/msmbiweb/" title="Cyber Museum Bank Indonesia" target="_blank">http://www.bi.go.id/msmbiweb/</a>, website ini bisa dibilang cukup lengkap. Desainnya pun bisa dibilang keren bila dibandingkan dengan website-website museum lain di Indonesia. <img src='http://jengjeng.matriphe.com/smilies/yahoo_bigsmile.gif' alt='&#58;&#68;' class='wp-smiley' width='18' height='18' title='&#58;&#68;' /></p>
<p>Sekali lagi, saya menemukan museum yang menyenangkan untuk dikunjungi di Indonesia! <img src='http://jengjeng.matriphe.com/smilies/top.gif' alt='&#58;&#116;&#111;&#112;' class='wp-smiley' width='29' height='19' title='&#58;&#116;&#111;&#112;' /></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://jengjeng.matriphe.com/museum-bank-indonesia-museum-bermultimedia.html/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>73</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Museum Bank Mandiri, Potret Perbankan Masa Lalu</title>
		<link>http://jengjeng.matriphe.com/museum-bank-mandiri-potret-perbankan-masa-lalu.html</link>
		<comments>http://jengjeng.matriphe.com/museum-bank-mandiri-potret-perbankan-masa-lalu.html#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 14 Jul 2008 11:39:52 +0000</pubDate>
		<dc:creator>matriphe</dc:creator>
				<category><![CDATA[Destinasi]]></category>
		<category><![CDATA[Museum & Bangunan Bersejarah]]></category>
		<category><![CDATA[Jakarta]]></category>
		<category><![CDATA[museum]]></category>
		<category><![CDATA[perbankan]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://jengjeng.matriphe.com/index.php/2008/07/14/museum-bank-mandiri-potret-perbankan-masa-lalu.html</guid>
		<description><![CDATA[Rasa penasaran saya terhadap bangunan berarsitektur Indische dengan gaya Nieuw-Zakelijk yang terletak di depan Stasiun BEOS (Jakarta Kota) tertuntaskan sudah. Museum Bank Mandiri, nama gedung itu benar-benar membuat saya puas dan merasakan nuansa berbeda dari museum-museum yang saya kunjungi sebelumnya. Saya termasuk orang yang suka dengan museum, bangunan tua, heritage, dan sesuatu yang menyimpan cerita [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><img src="http://jengjeng.matriphe.com/wp-content/uploads/2008/07/lobi-museum1.jpg" alt="Lobi Museum Bank Mandiri" title="Lobi Museum Bank Mandiri" width="350" height="263" class="alignnone size-full wp-image-1154" /></p>
<p>Rasa penasaran saya terhadap bangunan berarsitektur <em>Indische</em> dengan gaya <em>Nieuw-Zakelijk</em> yang terletak di depan Stasiun BEOS (Jakarta Kota) tertuntaskan sudah.</p>
<p>Museum Bank Mandiri, nama gedung itu benar-benar membuat saya puas dan merasakan nuansa berbeda dari museum-museum yang saya kunjungi sebelumnya.</p>
<p><span id="more-759"></span>Saya termasuk orang yang suka dengan museum, bangunan tua, heritage, dan sesuatu yang menyimpan cerita sejarah.</p>
<p>Berkunjung ke kawasan Kota Tua Jakarta menjadi aktivitas di akhir pekan bila saya bingung hendak jeng-jeng ke mana. Kawasan itu menjadi semacam surga buat saya, selain karena banyaknya bangunan tua peninggalan Belanda, juga banyak museum!</p>
<p>Saya akhirnya memutuskan mengunjungi Museum Bank Mandiri, yang beralamat di Jl. Lapangan Stasiun No. 1, Jakarta Barat.</p>
<p>Akses menuju tempat ini sangat mudah, hanya dengan mengandalkan busway, saya turun di halte Stasiun Kota, masuk ke terowongan dan mengambil arah Pasar Pagi.</p>
<p>Museum ini buka setiap hari kecuali hari Senin (hari libur bagi seluruh museum) dan hari libur nasional, mulai pukul 9 pagi hingga pukul 4 sore.</p>
<p>Begitu masuk, saya langsung terpesona dengan isi dari museum. Kesan <em>wingit</em>, sepi, berdebu, seketika langsung sirna. Suasana yang adem, bersih, dan terawat adalah kesan yang saya tangkap ketika memasuki museum ini.</p>
<p>Dengan tiket seharga 2 ribu rupiah, bahkan bila kita mempunyai Kartu Mandiri kita bisa gratis masuk, bebas berfoto-foto, membuat saya merasa ini adalah lokasi yang sangat menyenangkan!</p>
<p>Saya jadi teringat dengan museum <a href="http://blog.faniez.net/2007/07/20/4-nights-in-jogja-2/" title="4 Nights in Jogja (2)" target="_blank">Ulen Sentalu</a> di Jogja, yang menarik harga mahal bila ingin melihat isi museum itu. Ternyata museum yang bagus dan keren itu ndak harus mahal!</p>
<p>Setelah urusan administrasi selesai, yaitu cuma menulis buku tamu dan menitipkan tas, saya dengan kalap langsung masuk menjelajah isi musem.</p>
<p>Gedung ini memiliki bentuk arsitektur yang sederhana, yang dirancang oleh 3 orang arsitek asal Belanda, yaitu J.J.J. de Bruyn, A.P. Smits, dan C. Van de Linde.</p>
<p>Bangunan yang dulu beralamat di <em>Stasionsplein 1, Binnen Nieuwpoortstraat</em>, ini digunakan sebagai kantor <em>Nederlandsche Handel Maatschappij</em> (NHM), kongsi dagang Belanda yang menggantikan VOC.</p>
<p>Memasuki lantai satu, saya seperti terlempar ke jaman kolonial. Sinyo dan Noni Belanda terlihat wara-wiri melakukan transaksi. Suara-suara mesin hitung yang klak-klik terdengar dari penjuru ruangan.</p>
<p>Ah, namun rupanya itu semua hanya dalam imajinasi saya ketika melihat rekonstruksi ruang Kasir Tjina.</p>
<p><img src='http://jengjeng.matriphe.com/wp-content/uploads/2008/07/ruang-kasir-tjina.jpg' alt='Ruang Kasir Tjina' /></p>
<p>Berbagai benda dan tata letak di ruang ini pun hampir sama dengan bila kita masuk ke bank biasa. Yang membedakan hanya usia dan bentuk benda-benda tersebut.</p>
<p>Saya terpana melihat sebuah mesin hitung kuno yang berbentuk seperti mesin ketik bermerk Oliver. Belum selesai kekaguman saya, berbagai benda-benda lainnya hampir membuat saya pingsan karena kagum!</p>
<p>Sebuah buku yang diberi nama &#8220;Buku Besar (Grootboek)&#8221; rupanya ukurannya benar-benar besar! Buku setebal 1503 lembar dengan ukuran panjang dan lebar hampir setengah meter dengan tebal hampir 20 cm ini digunakan untuk mencatat laporan keuangan NHM yang berisi soal hasil kebun dan komoditi pada tahun 1935-1936!</p>
<p>Turun ke lantai bawah membuat saya semakin takjub. Rupanya ruangan ini digunakan untuk menyimpan barang-barang berharga yang disebut dengan Kluis atau Khasanah (<em>vault</em> / <em>strong room</em>). Ruangan ini berukuran 924 m<sup>2</sup> dan terbagi atas 3 ruangan.</p>
<p>Untuk memasuki ruangan ini, kita harus melewati sebuah pintu yang terbuat dari baja berwarna hijau setebal 10 cm dengan berat 5 ton yang langsung dibawa dari Amsterdam. Sistem pengaman pintu ini menggunakan sistem waktu dan kombinasi angka. Sebuah teknologi hebat di masa itu! <img src='http://jengjeng.matriphe.com/smilies/yahoo_clap.gif' alt='&#61;&#68;&#62;' class='wp-smiley' width='18' height='18' title='&#61;&#68;&#62;' /></p>
<p>Saya membayangkan, bila dulu hendak merampok bank ini, kita ndak perlu membobol pintu, namun dengan membobol temboknya! <img src='http://jengjeng.matriphe.com/smilies/yahoo_laughloud.gif' alt='&#58;&#41;&#41;' class='wp-smiley' width='18' height='18' title='&#58;&#41;&#41;' /></p>
<p>Dari pintu utama ini, terdapat ruangan yang penuh dengan teralis. Sekilas ruangan ini memang mirip penjara. Rupanya tempat ini digunakan untuk menyimpan berbagai surat berharga, yang disebut dengan <em>Efecteen Kluis</em>.</p>
<p>Ruang kedua atau ruang tengah berisi berbagai jenis <em>Brandkast</em> segede kulkas. Brankas-brankas baja ini digunakan untuk menyimpan uang dan emas (<em>Kast Kluis</em>).</p>
<p>Ruangan ketiga merupakan ruang penyimpan Safe Deposit Box (SDB) yang digunakan untuk menyimpan benda-benda berharga lain semacam perhiasan. Dari ketiga ruang di dalam Kluis ini, hanya ruang penyimpan SDB yang kala itu bisa dimasuki oleh nasabah penyewa SDB.</p>
<p><img src='http://jengjeng.matriphe.com/wp-content/uploads/2008/07/ruang-sdb-kluis.jpg' alt='Ruang Safe Deposit Box' /></p>
<p>Uniknya, bila diperhatikan, semua brankas dan peti penyimpanan ini tidak ada yang diletakkan mepet ke tembok. Selalu saja ada ruangan di antara lemari dan tembok. Rupanya ini merupakan salah satu sistem keamanan yang diterapkan pada masa itu.</p>
<p>Saya menemukan sebuah lift kuno di bagian belakang. Desain interior lift yang jadul banget, dengan pintu kaca membuat saya penasaran untuk mencoba. Meski kuno, namun mesin lift ini sudah menggunakan mesin modern. <img src='http://jengjeng.matriphe.com/smilies/yahoo_wink.gif' alt='&#59;&#41;' class='wp-smiley' width='18' height='18' title='&#59;&#41;' /></p>
<p>Saya pun mencoba naik ke lantai 2. Di sini terdapat ruang penyimpanan berbagai benda pendukung aktivitas perbankan, mulai dari perkembangan teknologi informasi hingga sistem keamanan bank!</p>
<p>Di ruang perkembangan teknologi informasi, saya melihat komputer-komputer server jaman dulu yang segede gaban. Printer-printer yang lebih mirip mesin fotokopi, hingga media penyimpan data nasabah yang masih berupa pita magnetik! Buset!</p>
<p>Di ruang yang menyimpan benda-benda sistem keamanan bank juga lucu. Saya menemukan berbagai pakaian seragam satpam lengkap dengan tanda kepangkatannya hingga senjata-senjata yang digunakan. Saya melihat <em>shuriken</em> dan paku lempar yang dimasukkan ke dalam kategori senjata satpam selain pentungan!</p>
<p>Dari ruang-ruang penyimpan ini, saya menuju ke bagian depan. Sebuah ruang rapat yang begitu bagus mengingatkan saya pada ruang rapat pada film-film mafia. Pantas saja, beberapa bahan terutama ubin menggunakan bahan mozaik keramik bercampur kaca, yang merupakan material impor dari Vinencia, Italia.</p>
<p><img src='http://jengjeng.matriphe.com/wp-content/uploads/2008/07/kaca-patri.jpg' alt='Kaca Patri' class="alignright" /></p>
<p>Ketika hendak turun ke bawah menggunakan tangga, saya terkesima begitu melihat kaca patri di depan tangga. Inilah bagian yang hampir selalu ada di bangunan-bangunan bercorak <em>Indische</em>. Lokasinya pun, selalu di depan tangga utama.</p>
<p>Corak-corak kaca patri ini menggambarkan 4 musim di Belanda dan seorang nakhoda yang mendarat di Banten tahun 1596, Cornelis de Houtman.</p>
<p>Begitu turun ke lantai 1, saya menuju ke toko suvenir yang berada di sayap selatan. Di ruang sebelahnya lagi, saya menemukan berbagai mesin-mesin ATM jaman dulu.</p>
<p>Kebelet pipis, saya menuju ke toilet. Menarik, di depan pintu masuk toilet, terdapat sebuah papan keterangan yang menyatakan bahwa toilet itu dulu merupakan toilet khusus untuk para <em>Inlander</em>!</p>
<p>Bentuk toilet ini sengaja dipertahankan sesuai dengan aslinya, namun diberi sekat-sekat dari kayu untuk memisahkan toliet pria dan wanita. Pispotnya pun sudah berubah, mungkin karena pispot asli sudah rusak dimakan jaman.</p>
<p>Menjelajah museum yang dikelola oleh Bank Mandiri ini ndak ada habisnya. Saya ketika menulis postingan ini merasa ada beberapa bagian yang belum terkunjungi.</p>
<p>Bila njenengan datang ke sini, cobalah anda berkeliling museum. Menyusuri setiap lorong dan ruangan-ruangannya, kita akan menemukan hal-hal menarik, meski sebenernya ruang itu bukanlah bagian dari museum. <img src='http://jengjeng.matriphe.com/smilies/yahoo_giggle.gif' alt='&#59;&#41;&#41;' class='wp-smiley' width='18' height='18' title='&#59;&#41;&#41;' /></p>
<p>Pokoke ini museum lajak dikoendjoengi, teroetama oentoek rekreasi keloearga.. <img src='http://jengjeng.matriphe.com/smilies/top.gif' alt='&#58;&#116;&#111;&#112;' class='wp-smiley' width='29' height='19' title='&#58;&#116;&#111;&#112;' /></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://jengjeng.matriphe.com/museum-bank-mandiri-potret-perbankan-masa-lalu.html/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>53</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>JengJeng dan JalanJalan di Solo</title>
		<link>http://jengjeng.matriphe.com/jengjeng-dan-jalanjalan-di-solo.html</link>
		<comments>http://jengjeng.matriphe.com/jengjeng-dan-jalanjalan-di-solo.html#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 23 Jan 2008 08:48:49 +0000</pubDate>
		<dc:creator>matriphe</dc:creator>
				<category><![CDATA[Travelogue]]></category>
		<category><![CDATA[batik]]></category>
		<category><![CDATA[kraton]]></category>
		<category><![CDATA[museum]]></category>
		<category><![CDATA[Solo]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://jengjeng.matriphe.com/index.php/2008/01/23/jengjeng-dan-jalanjalan-di-solo.html</guid>
		<description><![CDATA[Beberapa waktu yang lalu, sebuah nomer Jakarta nongol di layar henpon saya. Saya sempat berpikir mungkinkah ini panggilan interview dari sebuah perusahaan di kota laknat bernama Jakarta itu? Setelah saya pencet tombol OK untuk menjawab telepon, terdengar suara renyah seorang wanita yang menyapa. &#8220;Halo, ini bener Zam? Saya Ina dari Majalah JalanJalan, temennya Gita Aprikot. [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><img src="http://jengjeng.matriphe.com/wp-content/uploads/2008/01/zam-ina1.jpg" alt="Zam JengJeng dan Ina JalanJalan" title="Zam JengJeng dan Ina JalanJalan" width="350" height="263" class="alignnone size-full wp-image-1203" /></p>
<p>Beberapa waktu yang lalu, sebuah nomer Jakarta nongol di layar henpon saya.</p>
<p>Saya sempat berpikir mungkinkah ini panggilan interview dari sebuah perusahaan di kota laknat bernama Jakarta itu?</p>
<p>Setelah saya pencet tombol OK untuk menjawab telepon, terdengar suara renyah seorang wanita yang menyapa.</p>
<p>&#8220;Halo, ini bener Zam? Saya <a href="http://jalanjalan.co.id/contributors.php?id=43" title="Ina Hapsari" target="_blank">Ina</a> dari <a href="http://www.jalanjalan.co.id/" title="Majalah JalanJalan" target="_blank">Majalah JalanJalan</a>, temennya <a href="http://aprikot.wordpress.com/" title="Gita Aprikot" target="_blank">Gita Aprikot</a>. Kira-kira kamu bisa bantu saya?&#8221;</p>
<p><span id="more-598"></span>Rupanya Ina membutuhkan beberapa informasi mengenai Solo yang akan dia tulis di majalahnya edisi mendatang.</p>
<p>&#8220;Wah, kebetulan&#8221;, pikir saya. Sudah lama saya ndak keluyuran di Solo karena ndak ada temen jalan. Saya pun menawarkan diri untuk menemani kalo dia bener datang ke Solo.</p>
<p>Selama 3 hari 2 malam, saya dan Ina melakukan penjelajahan di Solo. Yang membuat saya sedikit malu, rupanya cukup banyak tempat menarik yang ada di Solo yang ndak saya ketahui.</p>
<p>Ternyata cukup menyenangkan juga bertemu dengan wartawan traveling macam Ina. Saya mendapat banyak sekali cerita dan pengalaman dia ketika ia berkunjung ke berbagai tempat di Indonesia dan dunia.</p>
<p>Saya langsung iri dengan kerjaan dia yang isinya ngeluyur ke tempat-tempat macam itu. Pengeeen!!! <img src='http://jengjeng.matriphe.com/smilies/yahoo_drool.gif' alt='&#61;&#112;&#126;' class='wp-smiley' width='18' height='18' title='&#61;&#112;&#126;' /></p>
<p>Laksana kopdar bloger pertama kali, saya langsung bisa akrab sama dia. Orangnya yang rame dan doyan bercerita membuat saya merasa nyaman dan &#8220;klik&#8221; jalan bareng dia.</p>
<p>Selain itu, Ina juga bukan tipe traveler pemilih. Saya ajak ndoyok pun dia setuju. What a nice travelmate! <img src='http://jengjeng.matriphe.com/smilies/yahoo_wink.gif' alt='&#59;&#41;' class='wp-smiley' width='18' height='18' title='&#59;&#41;' /></p>
<p>Saya banyak sekali mendapat pengetahuan, informasi, serta tips-tips dari Ina tentang traveling. Mulai dari yang nggembel (backpacking) hingga yang level mid-to-top traveling.</p>
<p>Kebetulan tugas dia di Solo adalah mengupas beberapa tempat yang termasuk level mid-to-top traveling destination. Ini adalah ranah yang belum pernah saya coba karena tentunya keterbatasan finansial. <img src='http://jengjeng.matriphe.com/smilies/yahoo_laughloud.gif' alt='&#58;&#41;&#41;' class='wp-smiley' width='18' height='18' title='&#58;&#41;&#41;' /></p>
<p>Namun di luar tugas peliputan, dia justru mengajak saya untuk ndoyok. Hoho.. You got a right person, Na! <img src='http://jengjeng.matriphe.com/smilies/yahoo_wink.gif' alt='&#59;&#41;' class='wp-smiley' width='18' height='18' title='&#59;&#41;' /></p>
<p>Ina rencananya datang bersama fotografernya, seorang Belanda yang sudah cukup lama tinggal di Indonesia, <a href="http://jalanjalan.co.id/contributors.php?id=40" title="Jan Dekker" target="_blank">Jan Dekker</a>. Namun tiba-tiba fotografernya ndak bisa datang karena sakit.</p>
<p>Saya pun diminta sama Ina untuk jadi fotografernya selama liputan. Wah! Suatu kehormatan.</p>
<p>Maka jadilah saya menjadi fotografer sok-tau dan banyak nggaya karena memang saya ndak bakat jadi fotografer. Bakat saya kan sebenernya fotomodel! <img src='http://jengjeng.matriphe.com/smilies/yahoo_sunglas.gif' alt='&#98;&#45;&#41;' class='wp-smiley' width='18' height='18' title='&#98;&#45;&#41;' /></p>
<p>Lucunya, biasanya fotografer kan pake kamera SLR gitu, dengan segudang peralatan mulai dari tripod hingga lampu-lampu, la modal saya cuma kamera poket pinjaman. <img src='http://jengjeng.matriphe.com/smilies/yahoo_laughloud.gif' alt='&#58;&#41;&#41;' class='wp-smiley' width='18' height='18' title='&#58;&#41;&#41;' /></p>
<p>Ndak tau deh apakah foto-foto hasil jepretan saya itu layak cetak di majalah yang mengusung tema &#8220;travel in style&#8221; dan &#8220;style in travel&#8221; itu. <img src='http://jengjeng.matriphe.com/smilies/yahoo_giggle.gif' alt='&#59;&#41;&#41;' class='wp-smiley' width='18' height='18' title='&#59;&#41;&#41;' /></p>
<p>Our first destination adalah sebuah resto dan guesthouse yang sangat cantik bernama Roemahkoe, yang terletak di Jl. Dr. Rajiman 501, Laweyan, Solo.</p>
<p>Bangunan ini dibangun paa tahun 1938 bergaya &#8220;art deco&#8221; yang dulunya milik seorang saudagar batik.</p>
<p>Terang saja, dari belakang bangunan ini, ada sebuah pintu tembus ke Kampung Batik Laweyan.</p>
<p>Arsitektur Jawa yang berpadu Eropa begitu memukau saya yang suka melihat bangunan-bangunan tua.</p>
<p>Belum lagi interiornya yang khas Jawa berpadu dengan foto-foto jadul jaman Belanda.</p>
<p>Di restonya, saya bertugas memfoto dan mencicipi beberapa menu unggulan dari resto ini. Hohoho! <img src='http://jengjeng.matriphe.com/smilies/yahoo_devil.gif' alt='&#62;&#58;&#41;' class='wp-smiley' width='18' height='18' title='&#62;&#58;&#41;' /></p>
<p><img src='http://jengjeng.matriphe.com/wp-content/uploads/2008/01/roemahkoe.jpg' alt='Roemahkoe' /></p>
<p>Salah satu menu yang diunggulkan di resto ini adalah Lodoh Pindang yang konon merupakan makanan favorit Sri Sultan Pakubuwana X.</p>
<p>Untuk minuman, Pak Bondan Winarno pas acara Wisata Kuliner pernah mencoba Es Cemol yang jahenya berasa sangat nendang!</p>
<p>Tapi maafken, beberapa foto ndak bisa saya share di sini. <img src='http://jengjeng.matriphe.com/smilies/yahoo_bigsmile.gif' alt='&#58;&#68;' class='wp-smiley' width='18' height='18' title='&#58;&#68;' /></p>
<p>Habis dari Roemahkoe, Ina ngajakin ke kebun binatang. Motor Kaze pun saya arahkan ke Taman Satwa Taru Jurug yang berada di pinggir kali Bengawan Solo.</p>
<p>Hohoh.. Terakhir kali saya ke sini, kalo ndak salah pas TK. Sepertinya menarik juga menengok <strike>kerabat</strike> kondisi satwa di kebun binatang ini.</p>
<p>Setelah berputar dan melihat-lihat koleksi satwa di kebun binatang yang pengelolaannya kini dipegang pihak swasta ini, saya miris dan sedih.</p>
<p>Lepaskan saja semua binatang ini dan kembalikan ke habitatnya! <img src='http://jengjeng.matriphe.com/smilies/yahoo_angry.gif' alt='&#88;&#40;' class='wp-smiley' width='34' height='18' title='&#88;&#40;' /></p>
<p>Saya sedikit emosi, sedih, dan hanya bisa mengelus dada melihat kondisi satwa yang mengenaskan.</p>
<p><img src='http://jengjeng.matriphe.com/wp-content/uploads/2008/01/awas-buas.jpg' alt='Awas Binatang Buas' /></p>
<p>Malamnya saya mengajak Ina untuk mencicipi hidangan khas Solo, Nasi Liwet, di kawasan Keprabon.</p>
<p>Melalui Ina yang melakukan interview terhadap si penjual, saya baru tau kalo penjual Nasi Liwet di kawasan ini rupanya masih satu keluarga, keluarga Bu Wongso.</p>
<p>Pantes saja banyak warung yang menggunakan merk &#8220;Nasi Liwet Bu Wongso Lemu&#8221;. <img src='http://jengjeng.matriphe.com/smilies/yahoo_laughloud.gif' alt='&#58;&#41;&#41;' class='wp-smiley' width='18' height='18' title='&#58;&#41;&#41;' /></p>
<p>Dan uniknya, para penjual Nasi Liwet ini berasal dari daerah Baki, Sukoharjo. <img src='http://jengjeng.matriphe.com/smilies/yahoo_giggle.gif' alt='&#59;&#41;&#41;' class='wp-smiley' width='18' height='18' title='&#59;&#41;&#41;' /></p>
<p><img src='http://jengjeng.matriphe.com/wp-content/uploads/2008/01/wongso-lemu.jpg' alt='Warung Nasi Liwet Bu Wongso Lemu Keprabon' /></p>
<p>Tujuan kami esok harinya adalah ke Museum Batik Kuno Danar Hadi. Saya sendiri baru tau kalo ada museum ini ya dari si Ina.</p>
<p>Padahal museum ini bener-bener keren dan patoet dipoedjiken!</p>
<p>Museum ini menyimpan berbagai kain batik kuno koleksi Bapak Santoso Dullah, pemilik Danar Hadi.</p>
<p>Melihat-lihat koleksi batik dan mendengar penjelasan Asisten Manager museum ini, Bu Asti, semakin menguatkan bahwa batik sebenernya berawal dari Jawa.</p>
<p>Bahkan batik Pekalongan, batik Madura, hingga batik-batik Sumatra, semuanya berakar dari batik yang ada di Jawa, terutama dari masa kerajaan Pajang dan Mataram.</p>
<p>Batik rupanya juga menyerap berbagai kebudayaan yang masuk di masanya yang kemudian tertuang di dalam motifnya.</p>
<p>Ada motif Jawa Hokokai yang mendapat pengaruh Jepang, ada batik yang terpengaruh gaya Eropa, India, Cina, dan Arab.</p>
<p>Selain dari motif, daerah asal batik juga dapat dilihat dari warna yang mendominasi.</p>
<p>Warna coklat merupakan warna khas kraton, warna biru adalah warna batik khas daerah pesisir utara yang terpengaruh warna laut, warna merah yang terpengaruh kebudayaan Cina, dan lain-lain.</p>
<p>Ada juga motif batik pagi-sore di mana satu kain bisa dipakai 2 kali dengan motif berbeda. Juga batik yang untuk mewarnainya harus dibawa ke 3 tempat.</p>
<p>Segala hal mengenai batik sangat lengkap di museum ini.</p>
<p><img src='http://jengjeng.matriphe.com/wp-content/uploads/2008/01/membatik.jpg' alt='Membuat batik tulis' /></p>
<p>Selain itu, pengunjung juga bisa melihat secara langsung proses pembuatan batik tulis dan batik cap yang ada di lingkungan pabrik batik Danar Hadi.</p>
<p>Museum ini terletak di Jl. Slamet Riyadi, berada di seberang hotel Novotel Solo di samping Toko Sami Luwes. <img src='http://jengjeng.matriphe.com/smilies/yahoo_bigsmile.gif' alt='&#58;&#68;' class='wp-smiley' width='18' height='18' title='&#58;&#68;' /></p>
<p>Selama di dalam museum, pengunjung dilarang mengambil gambar. Tapi ketika di pabrik, pengunjung diperbolehkan mengambil gambar.</p>
<p>Tapi karena saat itu saya &#8220;bertugas&#8221; maka saya pun boleh jeprat-jepret mengambil gambar suasana museum. <img src='http://jengjeng.matriphe.com/smilies/yahoo_giggle.gif' alt='&#59;&#41;&#41;' class='wp-smiley' width='18' height='18' title='&#59;&#41;&#41;' /></p>
<p>Berlanjut perjalanan kami menelusuri segala hal tentang batik, kami pun menuju ke Kampung Batik Laweyan.</p>
<p>Secara umum, kampung batik ini rupanya lebih dulu ada jauh sebelum Kraton Surakarta ada.</p>
<p>Motif batik dari kampung ini lebih bervariatif dan cenderung mengikuti pasar daripada motif batik kraton yang mempunyai makna filosofi dan pakem-pakem tertentu.</p>
<p>Tata kota kampung dan bentuk bangunan di wilayah ini ini pun mengingatkan saya pada tata kota dan bangunan di <a href="http://jengjeng.matriphe.com/index.php/tag/kotagede" title="Tag: Kotagede">Kotagede</a> yang rupanya mempunyai alur sejarah yang saling bertautan.</p>
<p>Selain Laweyan, ada sebuah kampung batik lain di Solo, yaitu Kampung Batik Kauman yang lebih condong ke pemenuhan kebutuhan kraton.</p>
<p><img src='http://jengjeng.matriphe.com/wp-content/uploads/2008/01/laweyan.jpg' alt='Salah satu sudut di Kampung Batik Laweyan' /></p>
<p>Untuk Kampung Batik Laweyan ini, <strike>insya Allah akan</strike> sudah saya tulis di <a href="http://jengjeng.matriphe.com/index.php/2008/01/24/menelusuri-jejak-sejarah-kampung-batik-laweyan.html" title="Menelusuri Jejak Sejarah Kampung Batik Laweyan">postingan terpisah</a>. <img src='http://jengjeng.matriphe.com/smilies/yahoo_wink.gif' alt='&#59;&#41;' class='wp-smiley' width='18' height='18' title='&#59;&#41;' /></p>
<p>Agenda hari berikutnya, kami mengunjungi Kraton Kasunana Surakarta dan Istana Mangkunegaran.</p>
<p>Di Kraton Kasunanan, ndak banyak yang membuat saya tertarik.</p>
<p>Apalagi bapak abdi dalem yang menjadi guide kami saat itu menurut perasaan si Ina, kemungkinan dia naksir saya! <img src='http://jengjeng.matriphe.com/smilies/yahoo_ooooh.gif' alt='&#58;&#45;&#111;' class='wp-smiley' width='18' height='18' title='&#58;&#45;&#111;' /></p>
<p>Oh mai gat! Tidaaakkk!!! <img src='http://jengjeng.matriphe.com/smilies/yahoo_nailbiting.gif' alt='&#58;&#45;&#83;&#83;' class='wp-smiley' width='36' height='18' title='&#58;&#45;&#83;&#83;' /></p>
<p>Ina malah semakin menjadi dengan menggoda saya karena itu bapak dengan agresifnya menyerang saya. Kadal njengking, kecoak bunting!!</p>
<p><acronym title="karena sebenernya bukan kraton, sih">Istana</acronym> Mangkunegaran menjadi pengalaman terbaru saya. Jujur, selama saya besar dan tinggal di Solo, saya belum pernah mengunjungi tempat ini. <img src='http://jengjeng.matriphe.com/smilies/yahoo_blush.gif' alt='&#58;&#34;&#62;' class='wp-smiley' width='18' height='18' title='&#58;&#34;&#62;' /></p>
<p>Mangkunegara berpangkat setara adipati dari Kraton Kasunanan. Di Jogja, jabatan ini setara dengan Pakualam.</p>
<p>Mangkunegara sendiri lebih berfungsi semacam panglima perang, sehingga pantas saja kalo di sekitar istana ini ada banyak lapangan yang memang diperuntukkan untuk latihan berperang.</p>
<p>Bangunan istana ini menurut saya lebih bagus dan lebih terawat. Apalagi beberapa hari sebelumnya kraton ini mengadakan upacara <acronym title="peringatan ulang tahun">Wilujengan</acronym> <acronym title="kenaikan tahta">Jumenengan</acronym> <acronym title="Kanjeng Gusti Pangeran Adipati Aryo">KGPAA</acronym> Mangkunegara IX ke-20.</p>
<p>Bersama Pak Budi sang guide, kami diajak berkeliling ke beberapa ruang di Istana Mangkunegaran ini.</p>
<p><img src='http://jengjeng.matriphe.com/wp-content/uploads/2008/01/di-mangkunegaran.jpg' alt='di Istana Mangkunegaran' /></p>
<p>Di suatu ruangan kami melihat sebuah benda anti-selingkuh yang dipasang pada alat kelamin pria dan wanita yang kemudian dikunci dengan ritual khusus.</p>
<p>Bentuk pengaman untuk pria ini seperti kondom namun terbuat dari emas dan berujung terbuka mirip kelopak bunga tapi tajam.</p>
<p>Sedangkan pengaman untuk wanita berbentuk lempeng emas berbentuk V berukir yang ada lubang khusus untuk keluarnya air kencing. <img src='http://jengjeng.matriphe.com/smilies/yahoo_giggle.gif' alt='&#59;&#41;&#41;' class='wp-smiley' width='18' height='18' title='&#59;&#41;&#41;' /></p>
<p>Maaf banget karena selama di ruangan ini, pengunjung ndak diperbolehkan mengambil gambar. <img src='http://jengjeng.matriphe.com/smilies/yahoo_giggle.gif' alt='&#59;&#41;&#41;' class='wp-smiley' width='18' height='18' title='&#59;&#41;&#41;' /></p>
<p>Setelah lelah mengelilingi Mangkunegaran, kami pun menikmati hidangan khas Solo lainnya, Sate Kere!</p>
<p><img src='http://jengjeng.matriphe.com/wp-content/uploads/2008/01/penjual-sate-kere.jpg' alt='Penjual Sate Kere di Mangkunegaran' class="alignright" /></p>
<p>Sate kere adalah sate yang bahannya terdiri atas tempe gembus, tempe bacem, jeroan, kikil, dengan bumbu kacang, kecap, dan cabe yang puedes. <img src='http://jengjeng.matriphe.com/smilies/yahoo_bigsmile.gif' alt='&#58;&#68;' class='wp-smiley' width='18' height='18' title='&#58;&#68;' /></p>
<p>Yang unik, kami menikmati sate ini masih di dalam kawasan Istana Mangkunegaran.</p>
<p>Kami bertemu dengan sepasang suami-istri orang asing yang merupakan traveler.</p>
<p>Awalnya mereka hendak memesan sate seperti yang kami makan dan dari situlah obrolan pun berkembang.</p>
<p>Sang wanita yang kami sangka awalnya orang Indonesia rupanya berasal dari Filipina. <img src='http://jengjeng.matriphe.com/smilies/yahoo_laughloud.gif' alt='&#58;&#41;&#41;' class='wp-smiley' width='18' height='18' title='&#58;&#41;&#41;' /></p>
<p>Saya cuma ndomblong mendengarkan si Ina sama ini cewek Filipina ketika saling bercerita tentang pengalaman traveling mereka masing-masing. <img src='http://jengjeng.matriphe.com/smilies/yahoo_drool.gif' alt='&#61;&#112;&#126;' class='wp-smiley' width='18' height='18' title='&#61;&#112;&#126;' /></p>
<p>Melihat pasangan ini saya jadi iri dan pengen. Betapa bahagianya mereka bisa traveling dan ndoyok ke berbagai tempat di dunia bersama.</p>
<p>Yang saya pikirkan, mereka ini dapet duit dari mana? Lalu gimana dengan kerjaan mereka? Hampir setiap kehidupannya mereka menghabiskan waktu di berbagai tempat menarik.</p>
<p>Sedangkan saya? Mburuh sampai njengking pun pendapatan selalu habis buat menyambung hidup dan mbayar utang.</p>
<p>Duh Gusti, ampunilah dosa-dosa hamba-Mu ini.. <img src='http://jengjeng.matriphe.com/smilies/yahoo_pray.gif' alt='&#91;&#45;&#111;&#60;' class='wp-smiley' width='18' height='18' title='&#91;&#45;&#111;&#60;' /></p>
<p>Berkenalan dengan orang seperti Ina dan pasangan traveler itu, membuat saya malu.</p>
<p>Pengalaman perjalanan saya ini ndak ada apa-apanya dibanding mereka. Petualangan saya yang ndak mutu ini sepertinya kok ndak layak dibanggakan.</p>
<p>Ah, saya sendiri pun tersadar. Sebagai amateur traveler, rasanya saya masih perlu menimba banyak pengalaman dan menentukan jati diri traveling saya.</p>
<p>Mengenal wartawan seperti Ina, membuat saya mengerti bagaimana cara mencari informasi tentang tempat-tempat yang layak liput atau ndak.</p>
<p>Selain itu, berbagai cerita di belakang layar acara petualangan yang muncul di tivi itu rupanya sangat menarik.</p>
<p>Maklum saja, Ina juga mengenal beberapa host acara traveling di beberapa acara tivi. Kadang para presenter itu harus berakting di depan kamera ketika harus membawakan acara.</p>
<p>Ina pernah bercerita, saat pembuatan suatu acara traveling, si presenter disyuting dengan menceburkan diri ke dalam laut ketika meliput keindahan bawah laut padahal itu presenter sama sekali ndak bisa berenang! <img src='http://jengjeng.matriphe.com/smilies/yahoo_laughloud.gif' alt='&#58;&#41;&#41;' class='wp-smiley' width='18' height='18' title='&#58;&#41;&#41;' /></p>
<p>Mendengar ceritanya saja semakin membuat saya ngiri. <img src='http://jengjeng.matriphe.com/smilies/banghead.gif' alt='&#58;&#98;&#97;&#110;&#103;&#104;&#101;&#97;&#100;' class='wp-smiley' width='25' height='20' title='&#58;&#98;&#97;&#110;&#103;&#104;&#101;&#97;&#100;' /></p>
<p>Duh Gusti, apakah saya harus berpindah jalur dari kerjaan mburuh saya ini ke dunia yang sama sekali buta bagi saya itu? <img src='http://jengjeng.matriphe.com/smilies/yahoo_pray.gif' alt='&#91;&#45;&#111;&#60;' class='wp-smiley' width='18' height='18' title='&#91;&#45;&#111;&#60;' /></p>
<p>Selain itu, saya juga merasakan betapa susahnya jadi fotografer. Pantes saja si <a href="http://diditkurniawan.web.ugm.ac.id/" title="diditjogja" target="_blank">Didit</a> yang biasanya jadi fotografer saya itu kadang misuh-misuh karena ndak bisa ikut bernarsis ria. <img src='http://jengjeng.matriphe.com/smilies/yahoo_laughloud.gif' alt='&#58;&#41;&#41;' class='wp-smiley' width='18' height='18' title='&#58;&#41;&#41;' /></p>
<p>Ah, namun saya yakin. Setiap orang pasti punya jalur rejekinya masing-masing. <img src='http://jengjeng.matriphe.com/smilies/yahoo_wink.gif' alt='&#59;&#41;' class='wp-smiley' width='18' height='18' title='&#59;&#41;' /></p>
<p>Makasih banget, Ina Hapsari, atas semua cerita dan pengalaman serta pengaruh jahat travelingmu yang telah elo tularkan. <img src='http://jengjeng.matriphe.com/smilies/yahoo_devil.gif' alt='&#62;&#58;&#41;' class='wp-smiley' width='18' height='18' title='&#62;&#58;&#41;' /></p>
<p>It&#8217;s nice to have a travel mate like you! <img src='http://jengjeng.matriphe.com/smilies/yahoo_wink.gif' alt='&#59;&#41;' class='wp-smiley' width='18' height='18' title='&#59;&#41;' /></p>
<p>I hope I&#8217;ll go to the destination you&#8217;ve recommended soon! <img src='http://jengjeng.matriphe.com/smilies/yahoo_daydream.gif' alt='&#56;&#45;&#62;' class='wp-smiley' width='23' height='18' title='&#56;&#45;&#62;' /></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://jengjeng.matriphe.com/jengjeng-dan-jalanjalan-di-solo.html/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>53</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Mengingat Kembali Sejarah Hari Ibu</title>
		<link>http://jengjeng.matriphe.com/mengingat-kembali-sejarah-hari-ibu.html</link>
		<comments>http://jengjeng.matriphe.com/mengingat-kembali-sejarah-hari-ibu.html#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 22 Dec 2007 13:30:54 +0000</pubDate>
		<dc:creator>matriphe</dc:creator>
				<category><![CDATA[Asal Muasal & Sejarah]]></category>
		<category><![CDATA[Destinasi]]></category>
		<category><![CDATA[Museum & Bangunan Bersejarah]]></category>
		<category><![CDATA[museum]]></category>
		<category><![CDATA[sejarah]]></category>
		<category><![CDATA[Yogyakarta]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://jengjeng.matriphe.com/index.php/2007/12/22/mengingat-kembali-sejarah-hari-ibu.html</guid>
		<description><![CDATA[Hari Ibu mengingatkan saya pada sebuah bangunan yang berkaitan erat dengan peringatan Hari Ibu ini, namun sering kita lupakan. Mungkin ndak banyak yang tau kalo ternyata Jogja punya peranan yang amat penting atas tercetusnya tanggal 22 Desember sebagai Hari Ibu. Nah, di Jogja ada sebuah bangunan yang menjadi monumen untuk mengingat peristiwa sejarah lahirnya Hari [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><img src="http://jengjeng.matriphe.com/wp-content/uploads/2007/12/mandala-bakti-wanitatama1.jpg" alt="Mandala Bakti Wanitatama" title="Mandala Bakti Wanitatama" width="350" height="263" class="alignnone size-full wp-image-1217" /></p>
<p>Hari Ibu mengingatkan saya pada sebuah bangunan yang berkaitan erat dengan peringatan Hari Ibu ini, namun sering kita lupakan.</p>
<p>Mungkin ndak banyak yang tau kalo ternyata Jogja punya peranan yang amat penting atas tercetusnya tanggal 22 Desember sebagai Hari Ibu.</p>
<p>Nah, di Jogja ada sebuah bangunan yang menjadi monumen untuk mengingat peristiwa sejarah lahirnya Hari Ibu.</p>
<p>Bangunan ini mungkin banyak yang ndak menyangka, karena seringnya bangunan ini digunakan untuk acara resepsi pernikahan dan pameran, kalo punya kisah sejarah tersendiri.</p>
<p>Bangunan ini adalah gedung Mandala Bhakti Wanitatama!</p>
<p><span id="more-512"></span>Tau ndak kenapa tanggal 22 Desember ditetapkan sebagai Hari Ibu?</p>
<p>Ternyata Hari Ibu ini ada sejarahnya. Pada tahun 1928, bertepatan dengan tahun diadakannya Kongres Pemuda, organisasi-organisasi wanita saat itu ndak mau kalah. Mereka bikin kongres juga di Yogyakarta.</p>
<p>Pada tanggal 22-25 Desember 1928 kongres wanita pertama diadakan, yang kini dikenal dengan nama Kongres Wanita Indonesia (<a href="http://www.kowani.or.id/" title="Kongres Wanita Indonesia" target="_blank">KOWANI</a>).</p>
<p>Saat itu ada 30 organisasi wanita dari 12 kota di Jawa dan Sumatra yang ikut serta. Mereka saat itu berkumpul untuk mempersatukan organisasi-organisasi wanita ke dalam satu wadah demi mencapai kesatuan gerak perjuangan untuk kemajuan wanita bersama dengan pria dalam mewujudkan Indonesia merdeka. Hayah. <img src='http://jengjeng.matriphe.com/smilies/yahoo_laughloud.gif' alt='&#58;&#41;&#41;' class='wp-smiley' width='18' height='18' title='&#58;&#41;&#41;' /></p>
<p>Penetapan tanggal 22 Desember sebagai Hari Ibu ditetapkan pada Kongres Wanita ke-3 yang diadakan di Bandung pada tanggal 22 Desember 1938.</p>
<p>Penetapan tanggal ini bertujuan untuk menjaga semangat kebangkitan wanita Indonesia secara terorganisasi dan bergerak sejajar dengan kaum pria.</p>
<p>Mengingat pentingnya makna Hari Ibu tersebut, Presiden Sukarno mengeluarkan Dekrit No. 316 Tahun 1959 pada tanggal 16 Desember 1959 yang menetapkan Hari Ibu sebagai Hari Nasional namun sayangnya bukan hari libur. <img src='http://jengjeng.matriphe.com/smilies/yahoo_giggle.gif' alt='&#59;&#41;&#41;' class='wp-smiley' width='18' height='18' title='&#59;&#41;&#41;' /></p>
<p>Pada kongres yang diadakan di Bandung pada tahun 1952, Ibu Sri Mangunsarkoro mengusulkan untuk dibangun sebuah monumen untuk memperingati kongres pertama tersebut.</p>
<p>Pada tanggal 20 Mei 1956 dibangunlah Balai Srikandi yang peletakan batu pertamanya dilakukan oleh menteri wanita pertama di Indonesia, Maria Ulfah.</p>
<p>Kemudian seluruh kompleks bangunan pun dibangun dan akhirnya diresmikan oleh Presiden Suharto menjadi kompleks gedung Mandala Bhakti Wanitatama pada tanggal 22 Desember 1983.</p>
<p>Ada beberapa bangunan pada kompleks ini. Museum terletak pada salah satu bagian dari Balai Srikandi. Kemudian di sekelilingnya terdapat bangunan yang sering digunakan untuk acara resepsi dan pameran, yaitu Balai Shinta, Kunthi, dan Utari. Ada pula kompleks wisma penginapan Wisma Sembodro dan Wisma Arimbi serta perpustakaan.</p>
<p>Museum yang terletak di Balai Srikandi menyimpan berbagai koleksi benda-benda yang digunakan saat kongres waktu itu serta diorama.</p>
<p>Nah, setelah tau sejarahnya, maka persepsi kita soal Hari Ibu selama ini mungkin berubah.</p>
<p>Bila kita memperingati Hari Ibu dengan cara memanjakan ibu kita, memberikan hadiah kepada ibu kita, rasanya kok ndak pas sama semangat dan latar belakang sejarahnya, ya? <img src='http://jengjeng.matriphe.com/smilies/yahoo_bigsmile.gif' alt='&#58;&#68;' class='wp-smiley' width='18' height='18' title='&#58;&#68;' /></p>
<p>Selamat Hari Ibu, wahai perempuan Indonesia! <img src='http://jengjeng.matriphe.com/smilies/yahoo_sunglas.gif' alt='&#98;&#45;&#41;' class='wp-smiley' width='18' height='18' title='&#98;&#45;&#41;' /></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://jengjeng.matriphe.com/mengingat-kembali-sejarah-hari-ibu.html/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>60</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Jeng-Jeng Jakarta</title>
		<link>http://jengjeng.matriphe.com/jeng-jeng-jakarta.html</link>
		<comments>http://jengjeng.matriphe.com/jeng-jeng-jakarta.html#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 13 Dec 2007 17:26:16 +0000</pubDate>
		<dc:creator>matriphe</dc:creator>
				<category><![CDATA[Travelogue]]></category>
		<category><![CDATA[bhi]]></category>
		<category><![CDATA[Jakarta]]></category>
		<category><![CDATA[kopdar]]></category>
		<category><![CDATA[museum]]></category>
		<category><![CDATA[seleblog]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://jengjeng.matriphe.com/index.php/2007/12/14/jeng-jeng-jakarta.html</guid>
		<description><![CDATA[Sebenernya sudah lama saya mo posting ini, tapi kemarin masih kerepotan dan belum bisa berhubungan dengan dunia internet, maka baru sekarang saya sempat posting. Biar basi yang penting posting! Hari Jumat-Sabtu (7-8/12) lalu saya berkesempatan jeng-jeng ke Jakarta. Kesempatan ini merupakan pertama kalinya saya menginjakkan kaki di Jakarta. Huehehe, maklum wong ndeso! Banyak pengalaman yang [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><img src="http://jengjeng.matriphe.com/wp-content/uploads/2007/12/hello-jakarta1.jpg" alt="Hello Jakarta!" title="Hello Jakarta!" width="350" height="263" class="alignnone size-full wp-image-1220" /></p>
<p>Sebenernya sudah lama saya mo posting ini, tapi kemarin masih kerepotan dan belum bisa berhubungan dengan dunia internet, maka baru sekarang saya sempat posting. Biar basi yang penting posting! <img src='http://jengjeng.matriphe.com/smilies/yahoo_tongue.gif' alt='&#58;&#112;' class='wp-smiley' width='18' height='18' title='&#58;&#112;' /></p>
<p>Hari Jumat-Sabtu (7-8/12) lalu saya berkesempatan jeng-jeng ke Jakarta. Kesempatan ini merupakan pertama kalinya saya menginjakkan kaki di Jakarta. Huehehe, maklum wong ndeso! <img src='http://jengjeng.matriphe.com/smilies/yahoo_bigsmile.gif' alt='&#58;&#68;' class='wp-smiley' width='18' height='18' title='&#58;&#68;' /></p>
<p>Banyak pengalaman yang saya dapat selama 2 hari di ibukota ini, baik yang menyenangkan maupun yang mbikin emosi. Saya menikmatinya, menikmati kebangsatan dan kelaknatan kota yang katanya megapolitan ini.</p>
<p><span id="more-496"></span>Sekali lagi blog membuktikan kekuatan magisnya, ndak hanya trend sesat atau cuma wadah narsis aja, blog ternyata mampu menjalin persaudaraan.</p>
<p>Temen-temen blogger, yang belum pernah saya temui sebelumnya, bener-bener membantu saya dalam mengarungi kehidupan di kota kejam ini.</p>
<p>Makasih buat temen-temen blogger, terutama <a href="http://b-h-i.blogspot.com/" title="Bunderan Hotel Indonesia" target="_blank">BHI</a> atas sambutan dan kerepotan yang ditimbulkan akibat kedatangan saya ke Jakarta. <img src='http://jengjeng.matriphe.com/smilies/yahoo_worship.gif' alt='&#94;&#58;&#41;&#94;' class='wp-smiley' width='32' height='18' title='&#94;&#58;&#41;&#94;' /></p>
<p>Saya ke Jakarta karena ada suatu keperluan, tapi bukan saya namanya kalo kesempatan macam ini ndak dipake buat jeng-jeng. <img src='http://jengjeng.matriphe.com/smilies/yahoo_giggle.gif' alt='&#59;&#41;&#41;' class='wp-smiley' width='18' height='18' title='&#59;&#41;&#41;' /></p>
<p>Saya sama sekali ndak punya gambaran mo ngapain di Jakarta. Saya bahkan buta sama sekali dengan yang namanya Jakarta.</p>
<p>Awalnya saya berniat untuk <em>ndoyok</em> bin nggelandang, atau istilah lain yang lebih keren, sok backpacking-an. Pokoke waton berangkat, soal ntar nginep di mana, mo ngapain, dipikir belakangan.</p>
<p>Namun karena berbagai pertimbangan, akhirnya metode pendoyokan yang biasa saya terapkan itu akhirnya saya rubah. Saya pun membeli peta Jakarta untuk orientasi medan. <a href="http://i43.photobucket.com/albums/e357/ineanto/1170123088.jpg" title="Peta Busway TransJakarta" target="_blank">Peta Busway TransJakarta</a> pun saya download lalu saya print sebagai bekal.</p>
<p>Wis pokoke nggaya banget dan yak-yak-o. <img src='http://jengjeng.matriphe.com/smilies/yahoo_laughloud.gif' alt='&#58;&#41;&#41;' class='wp-smiley' width='18' height='18' title='&#58;&#41;&#41;' /></p>
<p>Soal tempat menginap selama saya di Jakarta, saya ditawari tempat menginap di Istana Wapres BHI di kawasan Kebon Kacang oleh <a href="http://bangsari.wordpress.com/" title="Bangsari" target="_blank">Kang Ipul</a> berkat bantuan <a href="http://igncahyo.wordpress.com/" title="bagonk" target="_blank">Kang Bagonk</a>.</p>
<p>Beruntung, apalagi lokasi Istana BHI memang ndak jauh dari tempat saya menyelesaikan keperluan, di jalan Menteng Raya, Jakarta Pusat, tepatnya sekitaran Patung Tani.</p>
<p>Berangkat dari Jogja naek kereta Senja Utama Jogja hari Kamis (6/12) malem. Gara-gara ada kerjaan yang kudu diberesin, saya ndak sempet packing sebelumnya. Ditambah hujan yang mengguyur sejak siang membuat saya hampir ketinggalan kereta karena datang mepet setelah diantar <a href="http://annots.wordpress.com/" title="Annots" target="_blank">Annots</a> ke stasiun.</p>
<p>Kurangnya persiapan plus kebiasaan saya kalo jeng-jeng tanpa rencana, membuat beberapa hal penting lupa dilakukan. Peta Jakarta dan peta busway TransJakarta yang saya persiapkan justru ndak saya bawa. <img src='http://jengjeng.matriphe.com/smilies/yahoo_laughloud.gif' alt='&#58;&#41;&#41;' class='wp-smiley' width='18' height='18' title='&#58;&#41;&#41;' /></p>
<p><strong>JAKARTA MENYAMBUT</strong></p>
<p>Sampai di Jakarta pagi Subuh. Karena saya buta sama sekali sama Jakarta dan moda transportasinya, rencananya saya akan dijemput ajudan pak Wapres BHI, <a href="http://colonelseven.wordpress.com/" title="Balibul" target="_blank">Kang Iqbal</a> di stasiun Pasar Senen.</p>
<p>Begitu tiba di Jakarta, saya langsung menjadi korban kejahilan sang ajudan. Namun kejahilan dari Kang Balibul ini menjadi &#8220;sambutan&#8221; yang sangat berkesan! <img src='http://jengjeng.matriphe.com/smilies/yahoo_laughloud.gif' alt='&#58;&#41;&#41;' class='wp-smiley' width='18' height='18' title='&#58;&#41;&#41;' /></p>
<p>Ceritanya gini, rencananya Kang Balibul akan menjemput saya pake motor. Turun dari kereta, saya langsung dicecar dengan tawaran tukang ojek maupun tukang bajaj. Tentu saya menolak dengan pasang tampang sok galak, cuek, dan jumawa. Maksudnya sih biar ndak diganggu gitu. <img src='http://jengjeng.matriphe.com/smilies/yahoo_mean.gif' alt='&#58;&#45;&#62;' class='wp-smiley' width='18' height='18' title='&#58;&#45;&#62;' /></p>
<p>Saya pun menunggu jemputan di halte depan stasiun. SMS dari Kang Balibul bilang kalo dia baru aja bangun. Ya udah, saya pikir agak lama.</p>
<p>Karena badan capek dan mata ngantuk berat karena ndak bisa tidur nyenyak di kereta, pikiran saya saat itu pengen segera dijemput dan segera beristirahat.</p>
<p>Mak jegagik ada orang yang tiba-tiba duduk di samping saya. Tanpa melihat mukanya, saya cuekin aja tu orang.</p>
<p>Tiba-tiba dia nawarin saya rokok. Saya pun menolak dengan sok cuek. First lesson: jangan percaya dan mudah menerima tawaran orang yang tak dikenal.</p>
<p>Tak berapa lama ni orang nanya-nanya sok akrab, &#8220;mo ke mana, mas?&#8221;. Second lesson: waspada dengan orang yang sok kenal dan sok akrab.</p>
<p>&#8220;Oh, mo pulang..&#8221;, jawab saya cuek sambil pura-pura mainan HP <strike>biar ndak disuruh mbayar</strike> dan berharap jemputan segera datang.</p>
<p>&#8220;Udah, naik taksi aja yuk..&#8221;, tawar orang di samping saya tadi. Anjrit! Sopir taksi gelap nyari mangsa nih, pikir saya.</p>
<p>&#8220;Ndak, saya nunggu jemputan, kok..&#8221;, tolak saya dengan nada sok tegas berharap ni sopir taksi gelap enyah.</p>
<p>&#8220;Dijemput ma siapa, mas?&#8221;, tanya ni orang lagi. Jamput!</p>
<p>&#8220;Dijemput kakak saya!&#8221;, jawab saya sambil mikir rese banget sih ni orang.</p>
<p>Ndak berapa lama, tu orang bilang, &#8220;la ini kakakmu di sini..&#8221;, sambil nunjuk Kang Ipul yang duduk di sampingnya lalu ketawa nguakak. <img src='http://jengjeng.matriphe.com/smilies/yahoo_rotfl.gif' alt='&#61;&#41;&#41;' class='wp-smiley' width='30' height='18' title='&#61;&#41;&#41;' /></p>
<p>Jamput! Asyu! Bajirut! Pokoke semua nama hewan langsung meluncur ketika tau orang yang nanya-nanya saya tadi itu Kang Balibul! <img src='http://jengjeng.matriphe.com/smilies/banghead.gif' alt='&#58;&#98;&#97;&#110;&#103;&#104;&#101;&#97;&#100;' class='wp-smiley' width='25' height='20' title='&#58;&#98;&#97;&#110;&#103;&#104;&#101;&#97;&#100;' /></p>
<p>Kang Balibul semakin nguakak penuh kemenangan! Huasyu.. <img src='http://jengjeng.matriphe.com/smilies/yahoo_laughloud.gif' alt='&#58;&#41;&#41;' class='wp-smiley' width='18' height='18' title='&#58;&#41;&#41;' /></p>
<p><strong>NDOYOK JAKARTA</strong></p>
<p><a href="http://diditkurniawan.web.ugm.ac.id/" title="diditjogja" target="_blank">Didit</a>, kawan sependoyokan saya ternyata nyusul juga ke Jakarta karena ada keperluan yang hampir sama, namun beda lokasi. Ya sudah, sekalian saja dia ditransitkan ke Kebon Kacang.</p>
<p>Abis Jumatan, hujan deres turun. Sial, padahal saya mo orientasi medan dulu. Tapi untung hujan tak lama, sekitar pukul 14.00 saya keluar dari Kebon Kacang lalu berjalan kaki menuju Patung Tani.</p>
<p>Jalan kaki? Iya, jalan kaki. Sebenernya saya sudah dikasih ancer-ancer dan mode transportasi yang digunakan untuk sampai ke sana, tapi melihat trotoar yang begitu lebar dan bagus banget, membuat kaki ini tergoda untuk menapakkan kaki di atasnya. <img src='http://jengjeng.matriphe.com/smilies/yahoo_laughloud.gif' alt='&#58;&#41;&#41;' class='wp-smiley' width='18' height='18' title='&#58;&#41;&#41;' /></p>
<p>Trotoar di sini rupanya cukup nyaman, lebar, dan sepi. Mungkin karena ndak ada yang mo jalan kaki kali, ya? <img src='http://jengjeng.matriphe.com/smilies/yahoo_bigsmile.gif' alt='&#58;&#68;' class='wp-smiley' width='18' height='18' title='&#58;&#68;' /></p>
<p>Setelah urusan selesai, saya pun kansenan sama Didit untuk ketemu di Masjid Wali Songo di kawasan Kwitang. Dari situ kami lalu ke Plaza Atrium dengan berjalan kaki lagi. <img src='http://jengjeng.matriphe.com/smilies/yahoo_laughloud.gif' alt='&#58;&#41;&#41;' class='wp-smiley' width='18' height='18' title='&#58;&#41;&#41;' /></p>
<p>Kita orang ke Plaza Atrium karena Didit mo beli baju ma celana dalam buat bekal nginep. Dia emang ndak ada rencana nginep sebelumnya, jadi dia ndak bawa pakaian ganti sama sekali.</p>
<p>Berhubung saya jarang masuk mol, saya bingung plongah-plongoh saat masuk sana. Wis, pokoke malu-maluin banget lah! Makanya, lain kali jangan ajak saya ke mol, ya! <img src='http://jengjeng.matriphe.com/smilies/yahoo_laughloud.gif' alt='&#58;&#41;&#41;' class='wp-smiley' width='18' height='18' title='&#58;&#41;&#41;' /></p>
<p>Dari Senen, kami kembali ke Kebon Kacang naik busway. Yeah, ini adalah pertama kalinya saya naik busway! <img src='http://jengjeng.matriphe.com/smilies/yahoo_laughloud.gif' alt='&#58;&#41;&#41;' class='wp-smiley' width='18' height='18' title='&#58;&#41;&#41;' /></p>
<p>Dari Koridor 2 kami pindah ke Koridor 1 di Halte Harmoni lalu turun di Halte Sarinah. Sebelumnya kami ngontak <a href="http://ismail85.web.ugm.ac.id/" title="Tupic" target="_blank">Tupic</a> dulu untuk ketemuan di Halte Sarinah.</p>
<p>Di Halte Sarinah, kami nguakak-ngakak kek orang gila dan diliatin orang sehalte. Yo ben! <img src='http://jengjeng.matriphe.com/smilies/yahoo_laughloud.gif' alt='&#58;&#41;&#41;' class='wp-smiley' width='18' height='18' title='&#58;&#41;&#41;' /></p>
<p><strong>KUMPUL BUNDERAN HOTEL INDONESIA</strong></p>
<p>Setelah itu kami kembali ke Istana Wapres dan ketemu sama <a href="http://luthfi.wordpress.com/" title="Luthfi" target="_blank">Luthfi</a> penguasa Istana Bogor. Setelah berbasi-basi sejenak, kami pun meluncur ke lokasi konferensi Kasultanan BHI di emperan depan Plaza Indonesia.</p>
<p>Saya kira warga BHI itu ngumpulnya di emperan kolam tengah bunderan yang ada patung Selamat Datang-nya itu je. Ternyata di emperan depan Plaza Indonesia. <img src='http://jengjeng.matriphe.com/smilies/yahoo_laughloud.gif' alt='&#58;&#41;&#41;' class='wp-smiley' width='18' height='18' title='&#58;&#41;&#41;' /></p>
<p>Di sana, kami nguakak-nguakak, gojek kere, guyon goblok, pokoke menyenangkan. Ketemu orang-orang hebat ber-casing mlarat berjiwa ningrat yang mampu menghilangkan penat. Pokoke dahsyat!</p>
<p>Sejak pertama tiba di Jakarta, saya sudah stres. Bawaannya pengen misah-misuh, emosi, gara-gara liat kesemrawutan kota dan tingkah laku masyarakatnya yang biacilak tenan. Hajinguk, kutho opo iki?! <img src='http://jengjeng.matriphe.com/smilies/yahoo_waiting.gif' alt='&#58;&#45;&#119;' class='wp-smiley' width='23' height='18' title='&#58;&#45;&#119;' /></p>
<p>Tapi setelah ketemu temen-temen BHI, rasanya saya menemukan kembali hawa-hawa bersahabat. Suasana akrab yang meneduhkan..</p>
<p><img src='http://jengjeng.matriphe.com/wp-content/uploads/2007/12/bhi2.jpg' alt='Warga BHI kumpul' /></p>
<p>Saya sendiri ndak ingat semua yang dateng malam itu. Ada <a href="http://bahtiar.wordpress.com/" title="Bahtiar">Pak Presiden</a> dan <a href="http://bangsari.blogspot.com/" title="Bangsari" target="_blank">Pak Wapres</a>, <a href="http://colonelseven.wordpress.com/" title="Balibul" target="_blank">Kang Balibul</a>, <a href="http://hadik.blogspot.com/" title="Hadik" target="_blank">Gus Pitik</a>, <a href="http://e-ndiks.blogspot.com/" title="Endiks" target="_blank">Kang Endiks</a>, <a href="http://www.buih-ombak.com/" title="Mikow" target="_blank">Kang Mikow</a>, <a href="http://zumux.blogdrive.com/" title="Pakde Zumux" target="_blank">Pakde Zumux</a>, <a href="http://sekadarblog.com/" title="Hedi" target="_blank">Kang Hedi</a>, <a href="http://fanabis.blogsome.com/" title="Fanabis" target="_blank">Kang Kw</a>, <a href="http://omith.blogspot.com/" title="Omith" target="_blank">Mitha</a>, <a href="http://vivink.blogspot.com/" title="Pinkina" target="_blank">Mbak Vivink</a>, <a href="http://luthfi.wordpress.com/" title="Luthfi" target="_blank">Luthfi</a>, <a href="http://pantomimus.wordpress.com/" title="Yudhi" target="_blank">Kang Yudhi</a>, ama <a href="http://pitopoenya.blogspot.com/" target="_blank" title="Pito">Pito</a>. Bahkan <a href="http://ndorokakung.com/" title="Ndoro Kakung" target="_blank">Ndoro Kakung</a>, <a href="http://enda.goblogmedia.com/" title="Enda Nasution" target="_blank">Kang Enda</a>, sama <a href="http://blogombal.org/" title="Paman Tyo" target="_blank">Paman Tyo</a> pun datang.</p>
<p>Matur nuwun, kawan-kawan. Di sini saya menemukan sisi Jakarta yang menyenangkan. Hayah! <img src='http://jengjeng.matriphe.com/smilies/yahoo_laughloud.gif' alt='&#58;&#41;&#41;' class='wp-smiley' width='18' height='18' title='&#58;&#41;&#41;' /></p>
<p>Selain ngobrol-ngobrol, ada kejadian luar biasa yang baru pertama kali terjadi di BHI. Satpol PP tiba-tiba datang, menciduk orang-orang marjinal yang kebetulan beristirahat melepas lelah di sana dengan sadisnya.</p>
<p>Mereka diangkut ke mobil tanpa ampun. Orang-orang kumuh itu hanya bisa berteriak dan meronta. Hati saya pedih, melihatnya saja saya tak tega. Sekali lagi hati ini mengumpat dalam hati, tak berperikemanusiaan!! <img src='http://jengjeng.matriphe.com/smilies/yahoo_angry.gif' alt='&#120;&#40;' class='wp-smiley' width='34' height='18' title='&#120;&#40;' /></p>
<p>Suasana cukup tegang dan mencekam. Saya yang bertampang kere dan lusuh ini jelas kethar-kethir, takut keciduk juga. <img src='http://jengjeng.matriphe.com/smilies/yahoo_worried.gif' alt='&#58;&#45;&#83;' class='wp-smiley' width='18' height='18' title='&#58;&#45;&#83;' /></p>
<p>Malam semakin larut dan akhirnya kumpul-kumpul BHI itu bubar. Saya, Didit, Tupic, Luthfi, tidur di Istana Presiden BHI yang juga berada di Kebon Kacang, ndak jauh dari Istana Wapres. <img src='http://jengjeng.matriphe.com/smilies/yahoo_tired.gif' alt='&#40;&#58;&#124;' class='wp-smiley' width='18' height='18' title='&#40;&#58;&#124;' /></p>
<p><strong>JENG-JENG JAKARTA TUA</strong></p>
<p>Jujur, saya ndak suka Jakarta. Menurut saya ndak ada yang menarik di Jakarta, selain museum dan bangunan-bangunan tuanya!</p>
<p>Ya, saya suka bangunan tua, heritage, dan sebangsanya! <img src='http://jengjeng.matriphe.com/smilies/yahoo_love.gif' alt='&#58;&#88;' class='wp-smiley' width='18' height='18' title='&#58;&#88;' /></p>
<p>Sabtu siang, saya dan Didit berencana ke Museum Fatahillah yang terletak di Kawasan Kota Tua, Jakarta Barat. Kawasan ini mirip dengan Kawasan Kota Lama di Semarang, namun gedung-gedung di sini masih &#8220;lebih terawat&#8221; daripada yang di Semarang, meskipun sama-sama terkesan terbengkalai.</p>
<p>Dari Halte Sarinah, kami langsung menuju Stasiun Jakarta Kota pake busway Koridor 1. Setelah turun di Stasiun Jakarta Kota, berjalan sedikit ke utara, kita pun sampai di Taman Fatahillah, Kawasan Kota Tua.</p>
<p>Di kawasan ini setidaknya ada 5 buah museum, antara lain Museum Bank Mandiri, Museum Bank Indonesia, Museum Wayang, Museum Seni Rupa dan Keramik, dan Museum Fatahillah (Museum Sejarah Jakarta).</p>
<p>Saat itu Museum Fatahillah sedang direnovasi, sehingga bilah-bilah bambu yang menempel di dinding terlihat sedikit mengganggu (kegiatan berfoto-foto narsis). <img src='http://jengjeng.matriphe.com/smilies/yahoo_sighing.gif' alt='&#58;&#45;&#60;' class='wp-smiley' width='24' height='18' title='&#58;&#45;&#60;' /></p>
<p><img src='http://jengjeng.matriphe.com/wp-content/uploads/2007/12/fatahillah.jpg' alt='Museum Sejarah Jakarta' /></p>
<p>Museum Fatahillah sendiri berisi benda-benda peninggalan dan cerita-cerita sejarah Jakarta mulai dari jaman pra-sejarah hingga masa kini.</p>
<p>Gedungnya sendiri dibangun pada tahun 1707 yang dulunya digunakan sebagai gedung balaikota (Stadhuis) Batavia. Kemudian gedung ini diresmikan sebagai museum pada tanggal 30 Maret 1974 oleh gubernur Jakarta saat itu, Bapak Ali Sadikin.</p>
<p>Yang unik, batu pertama pembangunan museum ini dilakukan oleh Petronella Wilhelmina van Hoorn pada tangal 25 Januari 1707 yang kala itu berusia 8 tahun. Wilhelmina sendiri merupakan putri dari Gubernur Jendral Hindia Belanda saat itu, Van Hoorn.</p>
<p>Di depan museum kita dapat menemukan batu-batu dari halaman depan istana The Dam Armsterdam yang merupakan bagian dari proyek &#8220;Moving the World &#8211; De Dam 2004&#8243; yang merupakan kerjasama antara 8 kota lainnya di dunia, yaitu Jakarta, Antwerpen, Oslo, Copenhagen, Kairo, Athena, Casablanca, dan Ankara.</p>
<p><img src='http://jengjeng.matriphe.com/wp-content/uploads/2007/12/batu-batu.jpg' alt='Batu dari 8 kota di depan Museum Sejarah Jakarta' /></p>
<p>Di dalam museum terdapat benda-benda peninggalan mulai dari jaman pra-sejarah, peninggalan kerajaan Tarumanegara, hingga peninggalan VOC yang berupa mebel-mebel antik.</p>
<p>Saya baru tau bentuknya Prasasti Kebon <strike>Kacang</strike> Kopi, Prasasti Ciaruteum, Prasasti Tugu, dan sebagainya yang dulu selalu saya cuekin pas pelajaran Sejarah. Tentu prasasti-prasasti ini hanya replikanya saja. <img src='http://jengjeng.matriphe.com/smilies/yahoo_bigsmile.gif' alt='&#58;&#68;' class='wp-smiley' width='18' height='18' title='&#58;&#68;' /> </p>
<p>Di halaman belakang, kita dapat menemukan patung Hermes yang menurut mitologi Yunani merupakan Dewa Keberuntungan.</p>
<p>Patung yang terbuat dari logam ini dulu berada di Jembatan Harmoni, lalu kemudian demi keamanan dipindahkan ke museum ini dan di Jembatan Harmoni dibuatkan replikanya.</p>
<p><img src='http://jengjeng.matriphe.com/wp-content/uploads/2007/12/hermes.jpg' alt='Patung Hermes' /></p>
<p>Selain Patung Hermes, kita dapat pula melihat meriam Si Jagur yang terkenal itu. Dulu meriam ini berada di depan gedung museum, lalu pada tanggal 22 November 2002 pada bulan Ramadhan setelah sholat Tarawih, meriam ini dipindahkan ke halaman belakang museum.</p>
<p>Meriam ini sangat terkenal dengan mitos kesuburannya. Jadi ada mitos yang beredar bahwa meriam ini mampu memberikan kesuburan karena bagian punggung meriam yang ada moncong berupa tangan mengepal dengan ibu jari dijepit jari telunjuk dan jari tengah. <img src='http://jengjeng.matriphe.com/smilies/yahoo_giggle.gif' alt='&#59;&#41;&#41;' class='wp-smiley' width='18' height='18' title='&#59;&#41;&#41;' /></p>
<p><img src='http://jengjeng.matriphe.com/wp-content/uploads/2007/12/si-jagur.jpg' alt='Meriam Si Jagur' /></p>
<p>Pada bagian punggung meriam terdapat tulisan &#8220;<em>ex me ipsa renata sum</em>&#8221; yang artinya kurang lebih &#8220;<em>dari diriku sendiri aku lahir kembali</em>&#8220;. Konon meriam ini dibuat dengan cara melebur 16 buah meriam kecil-kecil.</p>
<p>Meriam ini dibuat oleh M.T. Bocarro di Macao yang kemudian dibawa ke Malaka untuk memperkuat benteng Portugis. Tahun 1641, Malaka jatuh ke tangan VOC dan meriam ini dibawa ke Batavia.</p>
<p>Di sini kita juga melihat penjara-penjara yang berada di bawah gedung. Penjara ini berbentuk setengah lingkaran yang kita harus membungkuk bila memasukinya. Di dalamnya terdapat bola-bola besi yang digunakan untuk mengikat kaki para tahanan.</p>
<p>Dulu, ruangan-ruangan ini digunakan untuk menampung sekitar 80-an orang tahanan. Ada 5 buah ruang penjara yang masih utuh sampe sekarang.</p>
<p>Selesai menjelajah Museum Sejarah Jakarta, kami pun keluar. Kami saat itu ingin melanjutkan ke Museum Wayang yang letaknya tak jauh dari Museum Sejarah Jakarta ini, namun apa daya museum telah tutup karena waktu menunjukkan pukul 15.00.</p>
<p>Kami pun berjalan keliling-keliling menikmati arsitektur Kota Tua ini sambil nyeruput Es Potong! <img src='http://jengjeng.matriphe.com/smilies/yahoo_laughloud.gif' alt='&#58;&#41;&#41;' class='wp-smiley' width='18' height='18' title='&#58;&#41;&#41;' /></p>
<p><img src='http://jengjeng.matriphe.com/wp-content/uploads/2007/12/kota-tua.jpg' alt='Jeng-jeng di Kota Tua' /></p>
<p>Foto-foto narsis saya lainnya ada di <a href="http://matriphe.multiply.com/photos/album/21/Museum_Sejarah_Jakarta" title="Museum Sejarah Jakarta" target="_blank">Galeri Foto Multiply saya</a>. <img src='http://jengjeng.matriphe.com/smilies/yahoo_bigsmile.gif' alt='&#58;&#68;' class='wp-smiley' width='18' height='18' title='&#58;&#68;' /></p>
<p><strong>NDOYOK JAKARTA JILID DUA</strong></p>
<p>Sebenernya kami pengen menjelajah museum-museum lainnya, namun apa daya waktunya yang ndak ada, membuat kami mengurungkan niat. Padahal kami yakin, banyak hal menarik yang akan kami temukan di museum-museum ini.</p>
<p>Kami pun pulang menumpang busway. Kami pun mampir dulu ke stasiun Pasar Senen untuk membeli tiket kereta Fajar Utama Yogyakarta buat saya pulang ke Jogja.</p>
<p>Dari stasiun Pasar Senen, terbersit ide tolol namun terdengar menyenangkan. Daripada kami sumpek, emosi, dan umpel-umpelan di busway, kami memilih berjalan kaki dari Pasar Senen ke Sarinah Thamrin! <img src='http://jengjeng.matriphe.com/smilies/yahoo_laughloud.gif' alt='&#58;&#41;&#41;' class='wp-smiley' width='18' height='18' title='&#58;&#41;&#41;' /></p>
<p>Pas nyampe di jalan Merdeka Selatan, kembali muncul ide tolol untuk ke Monas demi melihat Lingga dan Yoni raksasa. Tapi untung lah, pikiran jernih kembali menguasai kami kembali sehingga niatan tolol itu akhirnya urung. <img src='http://jengjeng.matriphe.com/smilies/yahoo_giggle.gif' alt='&#59;&#41;&#41;' class='wp-smiley' width='18' height='18' title='&#59;&#41;&#41;' /></p>
<p>Nikmatnya berjalan kaki, kami bisa menemukan hal-hal yang unik-unik. Ndak sengaja mata kami melihat gerbang bertuliskan: Pusat Jajanan Sabang, yang terletak di Jalan Agus Salim, Jakarta Pusat.</p>
<p>Namun sayang, kami ndak sempet ngicip-icip di sana meski kami menyusuri jalan tersebut dan cuma bisa nelan ludah. La harga makanan di Jakarta ini mahalnya minta ampun!</p>
<p><strong>TERIMA KASIH DAN MAAF</strong></p>
<p>Saya mo ngucapin terima kasih buat berbagai pihak yang telah bersedia saya repoti, antara lain Kang Ipul, Kang Balibul, dan Kang Bahtiar atas tempat menginap dan cerita serta petuah-petuah njenengan.</p>
<p>Juga buat Kang Hedi dan Kang Kw, bayangan saya sebelum ketemu njenengan-njenengan itu beda banget loh. Ternyata njenengan lebih dari yang saya bayangkan! <img src='http://jengjeng.matriphe.com/smilies/yahoo_giggle.gif' alt='&#59;&#41;&#41;' class='wp-smiley' width='18' height='18' title='&#59;&#41;&#41;' /></p>
<p>Juga buat Didit dan Tupic, rekan sependoyokan saya, pokoke ndoyok everywhere! Hidup ndoyok! <img src='http://jengjeng.matriphe.com/smilies/rock.gif' alt='&#58;&#114;&#111;&#99;&#107;' class='wp-smiley' width='29' height='25' title='&#58;&#114;&#111;&#99;&#107;' /></p>
<p>Maaf juga buat <a href="http://venus-to-mars.com/" title="Simbok Venus" target="_blank">Simbok</a> yang sempet misuh-misuh gara-gara ndak saya kasih tau. Maaf, mbok, saya ndak mau ngerepoti njenengan. Tapi saya janji kalo ada waktu, saya bakalan main ke rumah njenengan. <img src='http://jengjeng.matriphe.com/smilies/yahoo_wink.gif' alt='&#59;&#41;' class='wp-smiley' width='18' height='18' title='&#59;&#41;' /></p>
<p>Buat <a href="http://garden-fairy.net/" title="Ria Patria" target="_blank">Ria</a> karena ternyata kita ndak bisa ketemuan, maapken saya karena hari Sabtu itu saya masih di Kota Tua, je. Mungkin lain kali ya, kita ketemuan. <img src='http://jengjeng.matriphe.com/smilies/yahoo_bigsmile.gif' alt='&#58;&#68;' class='wp-smiley' width='18' height='18' title='&#58;&#68;' /></p>
<p>Buat temen-temen De Marko, <a href="http://thestoopid.multiply.com/" title="Adi thestoopid" target="_blank">Adi</a> yang saya ndak jadi nginep di tempat ente karena Bekasi ke Menteng itu jauh, kawan! <img src='http://jengjeng.matriphe.com/smilies/yahoo_laughloud.gif' alt='&#58;&#41;&#41;' class='wp-smiley' width='18' height='18' title='&#58;&#41;&#41;' /></p>
<p>Juga buat <a href="http://templank.web.id/" title="Ridho" target="_blank">Ridho</a> yang udah nungguin di tempat Jono karena nungguin kaos. Sori, Dho! Lebih baik ente ngontak Kang Ipul langsung. <img src='http://jengjeng.matriphe.com/smilies/yahoo_bigsmile.gif' alt='&#58;&#68;' class='wp-smiley' width='18' height='18' title='&#58;&#68;' /></p>
<p>Tak lupa kepada semua pihak yang ndak bisa saya sebutkan satu persatu. Matur nuwun! <img src='http://jengjeng.matriphe.com/smilies/yahoo_wink.gif' alt='&#59;&#41;' class='wp-smiley' width='18' height='18' title='&#59;&#41;' /></p>
<p>Mungkin lain kali <a href="http://sekadarblog.com/2007/12/08/zam-matriphe/" title="Blogger Kondang" target="_blank">kereblog kuper karena jarang blogwalking</a> macam saya ini datang lagi, njenengan-njenengan ndak keberatan, kan? <img src='http://jengjeng.matriphe.com/smilies/yahoo_giggle.gif' alt='&#59;&#41;&#41;' class='wp-smiley' width='18' height='18' title='&#59;&#41;&#41;' /></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://jengjeng.matriphe.com/jeng-jeng-jakarta.html/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>57</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Suiker Fabriek Gondang Winangoen</title>
		<link>http://jengjeng.matriphe.com/suiker-fabriek-gondang-winangoen.html</link>
		<comments>http://jengjeng.matriphe.com/suiker-fabriek-gondang-winangoen.html#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 22 Jul 2007 04:31:48 +0000</pubDate>
		<dc:creator>matriphe</dc:creator>
				<category><![CDATA[Destinasi]]></category>
		<category><![CDATA[Museum & Bangunan Bersejarah]]></category>
		<category><![CDATA[Klaten]]></category>
		<category><![CDATA[museum]]></category>
		<category><![CDATA[pabrik]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://jengjeng.matriphe.com/index.php/2007/07/22/suiker-fabriek-gondang-winangoen.html</guid>
		<description><![CDATA[Trio Tolol kembali beraksi! Setelah berpetualang mematahkan kaki memandulkan sperma ke Ratu Boko beberapa waktu yang lalu, kini Trio Tolol melanjutkan jeng-jeng ke Museum Gula Gondang Baru, Klaten. Sekali lagi, dengan perencanaan yang tiada, jeng-jeng kali ini sedikit lebih bermutu dan tentunya postingannya akan sangat panjang. Ide tolol ini terbersit karena selama perjalanan saya dari [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><img src="http://jengjeng.matriphe.com/wp-content/uploads/2007/07/museum-gula1.jpg" alt="Museum Gula Gondang Baru" title="Museum Gula Gondang Baru" width="350" height="263" class="alignnone size-full wp-image-1389" /></p>
<p>Trio Tolol kembali beraksi! Setelah <a href="http://jengjeng.matriphe.com/index.php/2007/07/17/sunset-hunting-at-ratu-boko-by-bike.html" title="Sunset Hunting at Ratu Boko by Bike!">berpetualang mematahkan kaki memandulkan sperma ke Ratu Boko</a> beberapa waktu yang lalu, kini Trio Tolol melanjutkan jeng-jeng ke Museum Gula Gondang Baru, Klaten. Sekali lagi, dengan perencanaan yang tiada, jeng-jeng kali ini sedikit lebih bermutu dan tentunya postingannya akan sangat panjang. <img src='http://jengjeng.matriphe.com/smilies/yahoo_bigsmile.gif' alt='&#58;&#68;' class='wp-smiley' width='18' height='18' title='&#58;&#68;' /></p>
<p>Ide tolol ini terbersit karena selama perjalanan saya dari Solo ke Jogja atau sebaliknya, selalu melewati kawasan ini. Apalagi Museum Gula ini merupakan bagian dari kompleks Pabrik Gula Gondang Baru yang merupakan pabrik peninggalan jaman Belanda yang masih aktif. Kebetulan musim ini merupakan musim giling tebu, maka hasrat keingintahuan kami pun semakin bertambah.</p>
<p>Selain berkunjung ke Museum Gula yang sepi, kami juga mengunjungi pabrik gula untuk melihat langsung proses penggilingan tebu hingga menjadi gula pasir.</p>
<p><span id="more-319"></span><strong>Museum Gula: Sepi!</strong></p>
<p>Museum Gula ini didirikan atas prakarsa dan diresmikan sendiri oleh Gubernur Jawa Tengah saat itu, Bapak Soepardjo Roestam, pada tanggal 11 September 1982. Museum ini menyimpan berbagai benda yang berkaitan dengan pemrosesan tebu hingga menjadi gula.</p>
<p>Memasuki museum ini, kami diwajibkan menuliskan buku tamu dan membayar dana sukarela. Dari buku tamu, kami melihat beberapa wisatawan dari Belanda, Belgia, dan Jepang pernah mengunjungi museum ini.</p>
<p>Setelah urusan administrasi selesai, kami pun memasuki museum ditemani oleh Mas Bimo, pemandu dan satu-satunya orang yang dapat kami temui di museum itu.</p>
<p>Memasuki ruangan pertama, kami menemukan miniatur kompleks Pabrik Gula Gondang Baru. Sebuah peta Jawa Tengah dengan titik-titik lokasi pabrik gula di Jawa Tengah terpampang jelas di ruangan ini.</p>
<p>Pabrik ini merupakan pabrik yang dibangun pada masa Belanda dan bernama Gondang Winangoen saat itu. PG Gondang Baru merupakan salah satu di antara 180 pabrik gula lain di Pulau Jawa yang masih aktif. Nama Gondang Baru diberikan pada tahun 1960-an.</p>
<p>Pada masa pendudukan Jepang, pabrik-pabrik gula di Jawa banyak yang berubah fungsi menjadi pabrik dan gudang senjata Jepang. Setelah Jepang angkat kaki dari Indonesia, pabrik-pabrik dan gudang ini mangkrak. Beruntung, pabrik ini masih berfungsi dengan baik hingga saat ini.</p>
<p>Ruangan kedua, kami melihat koleksi alat-alat pertanian yang digunakan untuk menanam tebu. Mulai dari cangkul sederhana, contoh jenis tebu, hama pengganggu tanaman tebu, terletak di ruangan ini.</p>
<p>Memasuki ruangan ketiga, kami melihat alat-alat produksi gula jaman dulu. Amperemeter, sekering, trafo, mesin jahit karung, timbangan, pokoknya komponen-komponen pabrik jaman dulu ada di sini.</p>
<p>Kemudian kami memasuki ruangan berikutnya. Di sini dipajang foto-foto upacara selamatan ketika akan memulai musim giling di beberapa pabrik gula.</p>
<p>Kebiasaan masyarakat Jawa, setiap kali ada acara selalu diawali dengan upacara selamatan. Biasanya upacara selamatan awal musim giling ini diawali dengan &#8220;mengawinkan&#8221; sepasang tebu. Acara ini mirip dengan acara perkawinan, tetapi yang dikawinkan adalah sepasang tebu. Sepasang tebu yang sudah &#8220;dikawinkan&#8221; ini kemudian dimasukkan ke dalam mesin penggiling, sebagai tanda dimulainya musim giling.</p>
<p>Selain &#8220;perkawinan&#8221; tebu, biasanya acara selamatan semacam ini dimeriahkan dengan acara pagelaran wayang kulit. Sesaji yang digunakan biasanya menggunakan kepala kerbau atau kepala sapi.</p>
<p>Di ruangan ini pula, dapat dilihat miniatur PG Tasikmadu, Karanganyar, serta foto-foto jadul beberapa pabrik gula di Jawa Tengah.</p>
<p>Ruangan berikutnya adalah miniatur ruang administratif kantor pengurus pabrik. Ada mesin ketik kuno, mesin hitung kuno, kamera kuno, dan foto-foto para pejabat yang pernah menjabat di pabrik ini.</p>
<p>Kemudian ruangan terakhir yang kami kunjungi berisi miniatur pabrik gula. Ternyata proses pembuatan gula ini diibaratkan dengan kereta api. Tiap-tiap bagian proses disebut dengan &#8220;stasiun&#8221; dan orang yang bertanggung jawab atas proses tersebut disebut dengan &#8220;masinis&#8221;.</p>
<p><img src='http://jengjeng.matriphe.com/wp-content/uploads/2007/07/miniatur-pg.jpg' alt='Miniatur Pabrik Gula' /></p>
<p>Usai berkeliling museum, kami pun keluar ke halaman. Di halaman kami menemukan lokomotif kereta lori yang sudah tidak dipakai. Kereta lori merupakan sarana angkutan yang digunakan untuk mengangkut tebu dari kebun ke pabrik. Tapi kini lori sudah tidak dipakai lagi untuk mengangkut tebu dari kebun, tapi hanya digunakan untuk mengangkut tebu menuju ke stasiun penggilingan.</p>
<p>Ada salah satu lokomotif uap yang diberi nama &#8220;simbah&#8221;. Lokomotif ini adalah lokomotif pertama yang digunakan di pabrik ini. Lokomotif bertenaga uap ini merupakan lokomotif buatan Jerman pada tahun 1818. Di samping &#8220;simbah&#8221; ada gerbong lori pengangkut tebu. Pada masanya, &#8220;simbah&#8221; digunakan untuk mengangkut tetes tebu dari Gondang Baru ke Stasiun Srowot untuk selanjutnya dibawa ke Semarang atau Surabaya.</p>
<p>Tak jauh dari &#8220;simbah&#8221; ada pedati yang digunakan untuk mengangkut tebu dari kebun dan lokomotif diesel buatan Belanda yang diberi nama &#8220;ajax&#8221;.</p>
<p><img src='http://jengjeng.matriphe.com/wp-content/uploads/2007/07/loko-lori.jpg' alt='Lokomotif Tua dan Gerbong Lori' /></p>
<p>Sebenernya di pabrik ini ada kereta wisata, yaitu para pengunjung diajak berkeliling kompleks pabrik menggunakan lori. Tapi sayang, paket wisata ini hanya diadakan di luar musim giling karena pas musim giling begini itu lori dipake untuk proses produksi. Berhubung saat kami berkunjung adalah saat musim giling, kami tidak dapat menikmati perjalanan mengunakan lori.</p>
<p><strong>MELIHAT PROSES PEMBUATAN GULA PASIR</strong></p>
<p>Pak Bimo mengajak kami mengunjungi pabrik. Loh, apa boleh? Ya tentu saja boleh, asal ada pemandu yang mendampingi. Tapi sayangnya, selama di dalam pabrik kami tidak diperkenankan berfoto-foto. Mungkin dapat mengganggu kali ya? <img src='http://jengjeng.matriphe.com/smilies/yahoo_bigsmile.gif' alt='&#58;&#68;' class='wp-smiley' width='18' height='18' title='&#58;&#68;' /></p>
<p>Kami berjalan memasuki pabrik dengan gedung tua yang kental sekali arsitektur Belandanya. Di tempat ini juga disewakan sebuah guesthouse bercorak Belanda yang keren banget. Guesthouse ini dulu adalah rumah dinas dari kepala pengelola pabrik. Pokoke kalo masuk rumah ini, serasa jadi meneer Belanda gitu lah. <img src='http://jengjeng.matriphe.com/smilies/yahoo_bigsmile.gif' alt='&#58;&#68;' class='wp-smiley' width='18' height='18' title='&#58;&#68;' /></p>
<p><img src='http://jengjeng.matriphe.com/wp-content/uploads/2007/07/guesthouse.jpg' alt='Guesthouse bercorak Belanda' /></p>
<p>Kami pun smpai di area pabrik. Stasiun pertama yang kami temui adalah stasiun penggilingan. Di sini, tebu diangkut dari truk atau lori menggunakan crane kemudian dimasukkan ke mesin penggiling. Kami melihat sendiri mesin-mesin uap yang masih bekerja dengan baik.</p>
<p>Dari plakat yang tertempel pada tubuh mesin, tertulis: 1879. Roda-roda besar dengan gerigi-gerigi mesin uap ini digunakan sebagai sumber tenaga mesin-mesin penggiling dan seluruh stasiun.</p>
<p>Suara bising memekakkan telinga membuat kami harus setengah berteriak untuk berkomunikasi. Lantai bergetar serasa gempa membuat kami harus berhati-hati selama berada di pabrik ini. Udara panas akibat mesin-mesin uap membuat suasana serasa di sauna. Ditambah harum air tebu dan senyuman ramah para pekerja di pabrik ini membuat kami menikmati tour de fabriek ini.</p>
<p>Menuju stasiun penggilingan, kami melihat bagaimana batang-batang tebu dipotong dan digiling untuk diambil airnya. Batang tebu harus melewati beberapa proses pemerasan agar air tebu dapat diperoleh secara maksimal dan ampasnya menjadi kering.</p>
<p>Air tebu, atau yang disebut dengan nira kemudian ditampung untuk kemudian disalurkan ke stasiun penyaringan. Ampas-ampas tebu yang kering disalurkan ke ruang ketel untuk menjadi bahan bakar mesin-mesin uap. Nah, cerobong besar di pabrik ini mengeluarkan asap sisa pembakaran ini.</p>
<p>Nira kemudian dibersihkan dari kotoran. Caranya dengan mencampurkan nira dengan susu kapur, yaitu campuran air kapur (kalsium oksida) dari gamping dan gas belerang dioksida. Kotoran akan mengendap karena terikat secara kimia oleh kapur dan belerang ini. Hehe, CMIIW ya. <img src='http://jengjeng.matriphe.com/smilies/yahoo_bigsmile.gif' alt='&#58;&#68;' class='wp-smiley' width='18' height='18' title='&#58;&#68;' /></p>
<p>Hehe, saya jadi ingat matakuliah Pengantar Instrumentasi yang diberikan oleh dosen saya, Pak Bambang Purwadi tentang proses otomatisasi pengatur campuran pada proses pemurnian nira ini. <img src='http://jengjeng.matriphe.com/smilies/yahoo_bigsmile.gif' alt='&#58;&#68;' class='wp-smiley' width='18' height='18' title='&#58;&#68;' /></p>
<p>Lanjut. Setelah nira bersih, lalu nira dipanaskan. Fungsinya jelas, menguapkan air sehingga yang tertinggal adalah tetes tebunya (molase) dan endapan gula. Tetes tebu ini kemudian dipisahkan dari endapan gula, sedangkan endapan gula lalu dijadikan kristal dengan cara diputar dengan menggunakan mesin sentrifugal.</p>
<p>Mesin sentrifugal ini bentuknya kek mesin pembuat arum manis. Jadi endapan gula diputar dengan kecepatan tinggi hingga terbentuklah kristal-krisatal gula. Kalo endapan gula tidak diproses dengan putaran, maka akan diperoleh gula kental.</p>
<p>Pernah liat gula jawa atau gula merah? Nah begitulah bentuk dari endapan gula yang sudah dingin bila tidak diproses dengan putaran. <img src='http://jengjeng.matriphe.com/smilies/yahoo_wink.gif' alt='&#59;&#41;' class='wp-smiley' width='18' height='18' title='&#59;&#41;' /></p>
<p>Setelah kristal-kristal gula terbentuk, masuk ke proses pendinginan dan pengayakan. Kalo pengen hasilnya lebih putih, kristal gula diproses lagi hingga menjadi warna lebih putih. Tentu saja rasa manisnya juga berkurang. Jadi jangan heran kalo gula yang berwarna putih dan yang berwarna agak kekuningan itu rasa manisnya beda.</p>
<p>Setelah gula selesai diayak, gula pun dikemas ke dalam karung-karung berukuran 1 kuintal dan dijahit. Setelah dikemas, gula disimpan di dalam gudang dan siap didistribusikan. <img src='http://jengjeng.matriphe.com/smilies/yahoo_bigsmile.gif' alt='&#58;&#68;' class='wp-smiley' width='18' height='18' title='&#58;&#68;' /></p>
<p>Oiya, meskipun di gudang gula ini banyak tersimpan gula, anehnya tidak ditemukan semut di tempat ini. Mungkin tu semut mabok kali ya, kebanyakan makan gula? <img src='http://jengjeng.matriphe.com/smilies/yahoo_laughloud.gif' alt='&#58;&#41;&#41;' class='wp-smiley' width='18' height='18' title='&#58;&#41;&#41;' /></p>
<p>Uh, capek deh. <img src='http://jengjeng.matriphe.com/smilies/yahoo_sweating.gif' alt='&#35;&#58;&#45;&#83;' class='wp-smiley' width='34' height='18' title='&#35;&#58;&#45;&#83;' /></p>
<p>Ternyata bikin gula tu susah juga. Tapi yang membuat saya kagum, pabrik ini masih menggunakan mesin-mesin tua jaman peninggalan Belanda yang semuanya masih berfungsi dengan baik! <img src='http://jengjeng.matriphe.com/smilies/top.gif' alt='&#58;&#116;&#111;&#112;' class='wp-smiley' width='29' height='19' title='&#58;&#116;&#111;&#112;' /></p>
<p><strong>INGAT MASA KECIL</strong></p>
<p><img src='http://jengjeng.matriphe.com/wp-content/uploads/2007/07/kebun-tebu.jpg' alt='Kebun Tebu' class="alignright" /></p>
<p>Saya jadi teringat masa kecil saya. Mencuri tebu di ladang tebu lalu menikmati setiap gigitan batang tebu bersama kawan-kawan. Badan gatel karena terkena <acronym title="serbuk kecil di batang yang bikin gatel">lugut</acronym>, suasana menegangkan karena kucing-kucingan dengan <acronym title="istilah untuk penjaga ladang tebu">sebe</acronym>, numpang gerbong lori yang membawa tebu, ah senangnya.. <img src='http://jengjeng.matriphe.com/smilies/yahoo_daydream.gif' alt='&#56;&#45;&#62;' class='wp-smiley' width='23' height='18' title='&#56;&#45;&#62;' /></p>
<p>Dulu di deket rumah saya ada banyak ladang tebu. Tapi kini udah berubah jadi ladang rumah. Kalo pas musim panen gitu, wah dipastikan banyak anak-anak sebaya yang berbondong-bondong menyerbu ladang. Para sebe pun pasti kewalahan menghadapi kami yang kecil dan lincah berlari menerobos ladang-ladang tebu. <img src='http://jengjeng.matriphe.com/smilies/yahoo_laughloud.gif' alt='&#58;&#41;&#41;' class='wp-smiley' width='18' height='18' title='&#58;&#41;&#41;' /></p>
<p>Tebu sendiri membutuhkan waktu sekitar setahun untuk dapat dipanen. Seingat saya, tebu jaman dulu tuh gede-gede batangnya. Manisnya pun bener-bener mantab. Batangnya kuning, kulitnya tipis, sekali brakot, wah.. Kalo gigi ndak kuat bisa mringis-mringis kesakitan. Kalo tebu sekarang mah kecil-kecil.</p>
<p>Selain tebu, bunga tebu (glagah) juga sering kami jadikan mainan. Batang glagah dibentuk sedemikian rupa menjadi senapan mainan sedangkan bunganya dijadikan aksesoris dengan menyelipkan pada belakang kepala yang diikat karet gelang kek suku indian. Setelah atribut lengkap, kami pun bermain perang-perangan di ladang tebu.. Fire in the hole! <img src='http://jengjeng.matriphe.com/smilies/yahoo_laughloud.gif' alt='&#58;&#41;&#41;' class='wp-smiley' width='18' height='18' title='&#58;&#41;&#41;' /></p>
<p>Huhuh.. Manisnya tebu membuatku teringat manisnya masa kecil.. <img src='http://jengjeng.matriphe.com/smilies/yahoo_smiley.gif' alt='&#58;&#41;' class='wp-smiley' width='18' height='18' title='&#58;&#41;' /></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://jengjeng.matriphe.com/suiker-fabriek-gondang-winangoen.html/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>60</slash:comments>
		</item>
	</channel>
</rss>

