<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>jengjeng matriphe! &#187; pantai</title>
	<atom:link href="http://jengjeng.matriphe.com/tag/pantai/feed" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://jengjeng.matriphe.com</link>
	<description>pengen jalan-jalan, makan-makan, dan lain-lain</description>
	<lastBuildDate>Tue, 02 Aug 2011 11:41:49 +0000</lastBuildDate>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<generator>http://wordpress.org/?v=3.2.1</generator>
	<atom:link rel='hub' href='http://jengjeng.matriphe.com/?pushpress=hub'/>
		<item>
		<title>Jeng-Jeng Sawarna</title>
		<link>http://jengjeng.matriphe.com/jeng-jeng-sawarna.html</link>
		<comments>http://jengjeng.matriphe.com/jeng-jeng-sawarna.html#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 21 Jun 2010 07:45:17 +0000</pubDate>
		<dc:creator>matriphe</dc:creator>
				<category><![CDATA[Destinasi]]></category>
		<category><![CDATA[Pulau, Laut, Pantai]]></category>
		<category><![CDATA[Travelogue]]></category>
		<category><![CDATA[Banten]]></category>
		<category><![CDATA[Bayah]]></category>
		<category><![CDATA[Lebak]]></category>
		<category><![CDATA[pantai]]></category>
		<category><![CDATA[Sawarna]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://jengjeng.matriphe.com/?p=1513</guid>
		<description><![CDATA[Jawa Barat bagian selatan dan Banten masih menyimpan banyak pesona. Lokasinya yang cukup sulit dijangkau karena prasarana yang kurang, membuat alam dan pemandangannya seperti tak pernah terjamah. A hidden paradise. Salah satunya adalah pantai-pantai di kawasan Desa Sawarna, Kec. Bayah, Kab. Lebak, Banten, yang menjadi salah satu favorit para surfer asing sejak tahun 2005, karena [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><img src="http://jengjeng.matriphe.com/wp-content/uploads/2010/06/lagun-pari.jpg" alt="Di Pantai Lagun Pari" width="350" height="263" class="alignnone size-full wp-image-1514" /></p>
<p>Jawa Barat bagian selatan dan Banten masih menyimpan banyak pesona. Lokasinya yang cukup sulit dijangkau karena prasarana yang kurang, membuat alam dan pemandangannya seperti tak pernah terjamah. <em>A hidden paradise</em>.</p>
<p>Salah satunya adalah pantai-pantai di kawasan Desa Sawarna, Kec. Bayah, Kab. Lebak, Banten, yang menjadi salah satu favorit para <em>surfer</em> asing sejak tahun 2005, karena karakteristik pantainya curam dan memiliki ombak besar. Bahkan para bule ini betah tinggal hingga berminggu-minggu dan berbulan-bulan karena penasaran dengan ombak di pantai ini, tentunya selain karena kawasan ini masih sangat sepi.</p>
<p><span id="more-1513"></span>Tanpa rencana, kami pun berangkat ke Sawarna. Berbekal informasi minim dari teman yang pernah ke sana, kami pun &#8220;napak tilas&#8221; mengikuti rutenya (yang belakangan kami ketahui bahwa rute ini untuk <em>masokis-traveler</em> &ndash; pelancong yang doyan menyiksa dirinya sendiri demi mencapai tujuan), melahap jalur Jakarta-Serang-Malingping-Bayah-Sawarna yang memakan waktu hingga 9 jam!</p>
<p>Padahal jalur ke Sawarna bisa ditempuh dengan menumpang kendaraan umum ke Pelabuhan Ratu (biasanya ke Bogor dulu, kemudian naik bus MGI ke Pelabuhan Ratu, Sukabumi), kemudian dilanjut naik Elf atau angkot lain ke Bayah atau langsung ke Sawarna.</p>
<p>Namun meski kami tersiksa karena selama 4 jam berdesak-desakan di dalam Elf yang melahap jalan rusak parah dari Terminal Pakupatan, Serang, Banten menuju Malingping, kami merasa enjoy saja. Bahkan kami sempat sesumbar, kalo ke Sawarna ndak melewati rute Malingping, belum ke Sawarna (dengan tujuan agar pelancong lain merasakan penderitaan kami, heheh).</p>
<p>Kami berangkat dari Slipi Jaya, menumpang bus jurusan Merak dan turun di Terminal Pakupatan, Serang, Banten. Perjalanan sekitar 2 jam hingga ke Serang dengan ongkos 18 rebu untuk bus AC. Dari Terminal Pakupatan, kami naik Elf ke Malingping, yang kampretnya itu Elf banyak ngetem dan mematok harga lebih mahal, yang seharusnya 20 ribu menjadi 30 ribu rupiah.</p>
<p>Jalanan rusak dimulai di sekitar Saketi, Pandeglang, Banten, dan terus berlanjut hingga Malingping. Menurut cerita orang-orang, dana pembangunan jalan banyak dikorupsi, sehingga pantas saja jalannya ancur begitu.</p>
<p>Di beberapa ruas, memang ada perbaikan, yaitu dengan membangun jalanan beton. Namun lagi-lagi menurut informasi, yang membangun jalan tersebut adalah pihak swasta yang memang berkepentingan untuk memudahkan akses ke lokasi penambangan emas. Pandeglang memang salah satu daerah penghasil emas di Banten.</p>
<p><img src="http://jengjeng.matriphe.com/wp-content/uploads/2010/06/di-angkot.jpg" alt="Di dalam angkot" title="Di dalam angkot" width="350" height="263" class="alignnone size-full wp-image-1526" /></p>
<p>Begitu turun di Pasar Malingping, kami harus berganti angkot ke Bayah (ongkosnya sekitar 10-15 ribu per orang), dan dari Bayah disambung naik ojek dengan ongkos sekitar 20 ribu per orang. Namun begitu turun dari Elf, kami langsung ditawari carter angkot dengan harga 150 ribu dan diantar sampai Sawarna.</p>
<p>Setelah dipikir-pikir, ongkos nyarter angkot ndak jauh beda dengan <em>ngeteng</em>, akhirnya kami menyarter angkot tersebut. Dari Pasar Malingping menuju Bayah, jalannya bagus dengan aspal mulus, Beda banget dengan rute Serang-Malingping, terutama di kawasan Kab. Pandeglang, Banten, yang rusak parah.</p>
<p>Perjalanan dari Malingping ke Sawarna memakan waktu sekitar 2 jam. Perjalanan kami pun bukannya tanpa hambatan, di tengah-tengah tanjakan berkelok dan sempit, selepas Terminal Bayah dan mulai masuk daerah Ciantir yang masih berupa hutan, angkot yang kami tumpangi bermasalah. Karena hujan mengguyur, entah gimana ceritanya mesin kemasukan air sehingga beberapa kali mobil harus berhenti untuk mengeringkan air. Masih untung kami tidak diminta turun dan membantu mendorong mobil.</p>
<p>Meski begitu, sepanjang perjalanan kami disuguhi pemandangan tiada dua. Menyusuri jalan di yang tepat berada di pinggir tebing yang berbatasan langsung dengan Samudera Hindia, memberikan pemandangan luar biasa.</p>
<p>Setelah mengalami perjalanan yang cukup mendebarkan, karena angkot yang gak beres jalan di tengah hutan pada saat hujan, kami pun tiba di Desa Wisata Ciantir, Kampung Cikaung, Desa Sawarna, Kec. Bayah, Kab. Lebak, Banten, tujuan kami akan menginap. Desa ini memang kerap menjadi lokasi menginap karena selain lokasinya yang sangat dekat dengan pantai, juga suasana pedesaan yang ramah kepada wisatawan.</p>
<p><img src="http://jengjeng.matriphe.com/wp-content/uploads/2010/06/jembatan-gantung.jpg" alt="Jembatan gantung menuju Sawarna" title="Jembatan gantung menuju Sawarna" width="350" height="263" class="alignnone size-full wp-image-1515" /></p>
<p>Sebelum masuk ke desa, kami harus melewati jembatan gantung yang sekilas sangat tidak meyakinkan. Jembatan ini melintasi Sungai Sawarna, yang menjadi asal nama dari desa ini. Di mulut jembatan, kami dimintai ongkos retribusi sebesar 2 ribu rupiah per orang.</p>
<p>Setelah berjalan sekitar 500 meter dari jembatan gantung kami menuju ke Widi&#8217;s Homestay yang dimiliki oleh Pak Ade (081911282912). Pak Ade memang sangat terkenal di Sawarna. Banyak para pejalan dan backpacker yang menginap di tempatnya. Dengan memanfaatkan rumahnya dan rumah saudara-saudaranya, Pak Ade menampung tamu-tamu dan melayaninya dengan baik.</p>
<p>Dengan konsep sesuai namanya, homestay, tamu menginap di kamar-kamar yang disediakan, plus disediakan makan pagi-siang-malam yang dilakukan swalayan di ruang makan. Ingin kopi, teh, disediakan air panas dan silakan bikin sendiri. Kalo masih pengen sesuatu yang lain, Indomie Rebus Telur misalnya, tinggal pesan ke warung kelontong di depan rumah yang dikelola oleh puteri Pak Ade.</p>
<p>Ongkos menginapnya cukup mahal, 60 ribu per orang. Kami cukup beruntung, karena saat kami datang, tamu sedang banyak. Kami masih mendapat tempat dan kami satu rumah dengan para bule surfer. Beberapa rombongan yang datang bahkan mendapat tempat yang lokasinya agak jauh dari pantai.</p>
<p><img src="http://jengjeng.matriphe.com/wp-content/uploads/2010/06/menuju-desa.jpg" alt="Pemandangan sawah di sepanjang jalan desa" title="Pemandangan sawah di sepanjang jalan desa" width="350" height="263" class="alignnone size-full wp-image-1519" /></p>
<p>Makin sore, hujan makin menderas. Untung kami sudah sampai di penginapan yang hangat, setelah sebelumnya sempat menikmati suasana sunset di Pantai Ciantir yang menjadi favorit para surfer. Bercengkrama menikmati suasana sepi pedesaan memang menjadi suasana yang &#8220;mahal&#8221; bagi &#8220;orang kota&#8221;.</p>
<p><img src="http://jengjeng.matriphe.com/wp-content/uploads/2010/06/pantai-ciantir.jpg" alt="Senja di Pantai Ciantir yang mendung" title="Senja di Pantai Ciantir yang mendung" width="350" height="263" class="alignnone size-full wp-image-1516" /></p>
<p>Kami bercengkrama dengan Pak Ade pada malam hari. Pak Ade dan istrinya begitu total melayani tamu, mempersiapkan kebutuhan tamu, hingga menemani ngobrol. Dari Pak Ade, kami mendengar cerita tentang asal-usul nama Sawarna.</p>
<p>Saya mengira nama &#8220;sawarna&#8221; berasal dari kata &#8220;satu warna&#8221;, namun ternyata bukan itu. Memang banyak versi cerita yang mendasari asal-usul nama Sawarna, salah satunya adalah ketika seseorang bernama Suwarna Dwipa dan anak buahnya yang menemukan daerah ini setelah berlayar dan terdampar di pantai.</p>
<p>Suwarna pun kemudian membuka hutan dan tinggal di kawasan pantai. Kapalnya yang hancur ditinggalkan dan konon dari layar kapal yang ditinggalkan di pantai karena hancur terkena badai hingga terdampar, terbentuklah karang yang disebut dengan Karang Layar. Karang Layar adalah landmark dari pantai Tanjung Layar, yang kalo digambar di peta, berada di ujung selatan garis pantai.</p>
<p>Nah, suatu ketika, putera Suwarna Dwipa ini sedang asyik main-main di sungai, tenggelam dan terbawa arus sungai. Sungai yang menenggelamkan putera Suwarna Dwipa ini adalah sungai yang dilintasi oleh jembatan gantung yang berada di pintu masuk desa. Sungai ini kemudian disebut dengan sungai Sawarna, yang berasal dari nama Suwarna, dan akhirnya menjadi nama desa.</p>
<p>Pagi-pagi sekali kami bangun. Posisi pantai yang menghadap ke barat jelas tak memungkinkan kami mendapat sunrise. Kami cuma bisa menikmati pemandangan kehidupan pedesaan di pagi hari: orang-orang pergi ke sawah yang terletak berdampingan dengan pasir pantai, ke ladang kelapa yang banyak berdiri berjajar di sepanjang pantai, ditambah para bule bersliweran mengusung papan surfing.</p>
<p>Setelah berburu sunrise, berjalan-jalan sebentar, menikmati nasi uduk bikinan istri Pak Ade, kami memulai tracking. Dengan dipandu oleh Mas Yudha, putera Pak Ade, kami akan diajak menyusuri Gua Lalay, trekking mendaki Bukit Cimonyet, berenang-renang di Pantai Lagun Pari, menyusuri pantai hingga ke Tanjung Layar, sebelum kembali ke penginapan.</p>
<p><img src="http://jengjeng.matriphe.com/wp-content/uploads/2010/06/pemandangan-pagie.jpg" alt="Sunrise hunter" title="Sunrise hunter" width="350" height="263" class="alignnone size-full wp-image-1520" /></p>
<p>Rute tersebut dipilih mengingat ketika siang, air laut akan surut, sehingga kita bisa berjalan di atas karang pantai dan bisa bermain-main di sekitar Pantai Tanjung Karang.</p>
<p>Mas Yudha sendiri adalah seorang surfer. Sejak usia 18 tahun, dia belajar surfing secara otodidak. Di kawasan Sawarna, Mas Yudha termasuk salah satu surver senior dan trainer. Bahkan dia sudah dikontrak oleh Billabong, salah satu brand yang memproduksi peralatan surfing, untuk jadi salah satu peselancarnya. Foto Mas Yudha yang sedang menaiki ombak dengan papan seluncur juga disablon pada dinding mug untuk suvenir.</p>
<p>Tujuan pertama kami adalah Goa Lalay. Untuk menuju ke sini, kami berjalan kaki sejauh kurang lebih 1,5 Km. Goa Lalay merupakan salah satu dari 28 goa yang ada di Sawarna. Menurut cerita Pak Ade, goa ini pernah coba ditelusuri oleh mahasiswa dari Mapala UI, namun setelah 2 hari, belum ditemukan juga ujungnya.</p>
<p><img src="http://jengjeng.matriphe.com/wp-content/uploads/2010/06/di-dalam-goa-lalay.jpg" alt="Di dalam Goa Lalay" title="Di dalam Goa Lalay" width="350" height="263" class="alignnone size-full wp-image-1524" /></p>
<p>Disebut dengan Goa Lalay karena di goa ini banyak ditemukan kelelawar (lalay, dalam Bahasa Sunda). Sebuah penamaan yang sangat sederhana. Goa ini bila dilihat dari segi geologis, termasuk dalam tipe goa yang biasa ditemukan. Terbentuk dari bebatuan dan tanah  yang terlarut oleh air yang kemudian air mengalir membentuk sungai bawah tanah.</p>
<p>Memasuki Goa Lalay, kami harus bertelanjang kaki. Selain karena licin, lumpur halus hasil endapan tanah yang membentuk goa setebal hingga paha membuat penelusuran goa menjadi sedikit terhambat. Dengan menggunakan penerangan lampu petromaks, kami mengikuti Mas Yudha agar tidak tersesat di dalam goa.</p>
<p><img src="http://jengjeng.matriphe.com/wp-content/uploads/2010/06/tanjakan-cimonyet.jpg" alt="Tanjakan Cimonyet" title="Tanjakan Cimonyet" width="200" height="267" class="alignright size-full wp-image-1522" /></p>
<p>Sekitar 500 meter dari mulut goa, kami sampai di salah satu <em>chamber</em> alias &#8220;ruangan&#8221; di dalam goa. Menurut Mas Yudha, yang sudah ditemukan ada 7 chamber, dan kami baru masuk ke <em>chamber</em> pertama.</p>
<p>Hamparan stalaktit dan stalagmit yang masih aktif menjadi pemandangan yang menyenangkan. Di beberapa sudut tercium bau kotoran kelelawar yang sangat tidak menyenangkan.</p>
<p>Keluar dari goa, kami diminta ongkos retribusi masuk sebesar 2.500 rupiah per orang oleh karang taruna desa. Padahal ketika kami datang, tidak ada seorang pun yang jaga, tiba-tiba aja mereka nongol gitu.</p>
<p>Kami meneruskan perjalanan dengan meniti pematang sawah, menyeberangi sungai, mendaki bukit, menuruni lembah. Kami sampai di sebuah tanjakan sempit dan terjal dengan air mengalir di jalurnya, sehingga tanjakan ini sekilas mirip air terjun mini. Tanjakan ini disebut dengan Tanjakan Cimonyet, merupakan jalur yang harus dilalui untuk menuju Bukit Cimonyet.</p>
<p>Dahulu di hutan ini memang banyak terdapat monyet, sehingga dinamakan Bukit Cimonyet. Namun candaan kami, nama Cimonyet cocok disematkan karena ketika mendaki ke bukit dan menuruni bukit ini, kami harus mengumpat, &#8220;monyet!&#8221;, akibat terjalnya medan dan licinnya turunan hingga beberapa kali kami jatuh terpeleset.</p>
<p>Setelah melahap tanjakan dan turunan Bukit Cimonyet yang curam, plus badan bau karena beberapa kali terjerembab ke dalam lumpur licin dan basah, kami pun akhirnya sampai ke Pantai Lagun Pari. Di sekitar pantai ini, terdapat banyak rumah-rumah dan gubuk tempat membuat gula kelapa.</p>
<p>Gula kelapa dibuat dengan mengambil nira yang berasal dari air sadapan tongkol bunga kelapa (manggar). Para petani memanjat pohon kelapa, menyadap air dari bunga kelapa yang sudah cukup umur dan menyimpannya dalam wadah bambu. Nira kemudian dibersihkan dari kotoran dan disaring, kemudian direbus hingga nira mengental. Setelah nira mengental dan berwarna kecoklatan, nira pekat dan cair ini kemudian dicetak menggunakan batok-batok kelapa atau cincin-cincin bambu.</p>
<p>Sayang sekali, ketika kami tiba di tempat produksi gula kelapa ini, kegiatan pembuatan sudah selesai. Kami cuma melihat para pekerja yang sedang beristirahat.</p>
<p>Begitu melihat air laut dan ombak, kami langsung kalap. Apalagi badan kotor akibat lumpur bau, menyebabkan kami ingin segera mandi-mandi di laut.</p>
<p>Byur!! Ombak setinggi 1 meter langsung menerjang badan. Ombak di Pantai Lagun Pari yang berbentuk teluk ini memang besar dan tinggi. Namun meski begitu, bermain-main air di pantai ini bisa dibilang aman karena permukaan pantainya landai. Berbeda dengan pantai Ciantir yang permukaan pantainya curam.</p>
<p><img src="http://jengjeng.matriphe.com/wp-content/uploads/2010/06/ombak-lagun-pari.jpg" alt="Ombak besar Pantai Lagun Pari" title="Ombak besar Pantai Lagun Pari" width="350" height="263" class="alignnone size-full wp-image-1523" /></p>
<p>Lelah bermain-main air, kami pun mentas. Sembari beristirahat, kami ditawari kelapa muda. Yang istimewa, kelapa ini langsung dipetik dari pohonnya. Tentu sensasinya berbeda, menikmati air kelapa dan makan daging kelapa yang baru saja dipetik dari pohon. Untuk sebutir kelapa muda segar langsung petik dari pohon, kami cukup merogoh kocek 5 ribu rupiah per buah. Sangat murah!</p>
<p>Matahari mulai terik ketika kami menyusuri pantai. Air laut telah surut, membuka tabir-tabir karang yang berundak. Karang-karang berundak yang menyerupai tangga sepanjang pantai ini kemudian diberi nama Karang Teraje (d bahasa Sunda, teraje berarti tangga).</p>
<p>Beberapa kali saya melihat ikan-ikan terjebak dalam lubang-lubang karang, yang oleh penduduk setempat dapat dengan mudah diambil dan diburu. Di kejauhan, ombak-ombak besar datang menghantam bibir karang, sehingga terciptalah cipratan karang yang dahsyat.</p>
<p><img src="http://jengjeng.matriphe.com/wp-content/uploads/2010/06/karang-teraje.jpg" alt="Ombak besar Karang Teraje" title="Ombak besar Karang Teraje" width="350" height="263" class="alignnone size-full wp-image-1525" /></p>
<p>Lepas dari Karang Teraje, kami sampai di sebuah &#8220;tikungan&#8221;. Sebuah &#8220;panggung&#8221; besar nampak berdiri megah menjorok ke laut. Karang Palistir adalah nama &#8220;panggung&#8221; megah ini. Dari atas karang muncul cucuran-cucuran air yang mengalir ke bawah, air ini berasal dari sisa ombak yang terjebak dalam lipatan-lipatan batunya.</p>
<p>Dan itu dia! Landmark megah Karang Layar mulai nampak. Karang setinggi sekitar 4 meter ini menjadi tujuan akhir dari trekking kami. Matahari sudah mencapai atas kepala, sehingga kami tidak berlama-lama bermain di Pantai Tanjung Layar ini.</p>
<p><img src="http://jengjeng.matriphe.com/wp-content/uploads/2010/06/pantai-tanjung-layar.jpg" alt="di Pantai Tanjung Layar" title="di Pantai Tanjung Layar" width="350" height="263" class="alignnone size-full wp-image-1517" /></p>
<p>Kami kembali ke penginapan lagi-lagi dengan trekking. Melewati perkebunan kelapa yang berjajar rapi, melihat gerombolan kambing dan kerbau gembalaan penduduk, kami pulang. Rasa capek baru terasa ketika menyusuri jalan tanah setapak. Pantas saja, rute trekking kami bisa dibilang cukup jauh, sekitar 6 km!</p>
<p>Untuk mengetahui rute trekking kami, silakan liat di <a href="http://maps.google.com/maps/ms?ie=UTF8&#038;hl=en&#038;msa=0&#038;msid=100272502380624460749.000489731df130ec6b18f&#038;ll=-6.986236,106.314483&#038;spn=0.018487,0.038581&#038;t=h&#038;z=15" title="Sawarna Tracking Route" target="_blank">peta berikut</a>.</p>
<p>Setelah mandi-mandi dan berkemas, kami pun pulang menggunakan mobil carteran seharga 750 ribu yang akan mengantar kami sampai Jakarta melalui rute Sukabumi. Bila dihitung-hitung, carter mobil memang lebih murah karena untuk ngeteng dari Sawarna ke Pelabuhan Ratu dilanjut ke Bogor kemudian ke Jakarta, selain ongkosnya hampir sama, waktu tempuh juga lebih lama.</p>
<p>Ongkos dari Sawarna ke Pelabuhan Ratu sekitar 25 ribu, plus bus dari Pelabuhan Ratu ke Bogor adalah 25-35 rebu, kemudian bus dari Bogor ke Jakarta sekitar 12 rebu. Bila carter, per orang cuma keluar biaya 100 rebuan, plus bebas macet di Sukabumi karena sopir kami tau rute alternatif untuk menghindari macet.</p>
<p>Kami sampai di Jakarta lebih cepat, cuma makan waktu 5 jam bila dibandingkan ketika berangkat yang memakan waktu hingga 9 jam.</p>
<p>Baca juga:</p>
<ul>
<li><a href="http://cornila.matriphe.com/2010/06/14/ragam-wisata-sawarna/" title="Ragam Wisata Sawarna" target="_blank">Ragam Wisata Sawarna</a></li>
<li><a href="http://www.facebook.com/note.php?note_id=130368203649490&#038;id=1074934683" title="warna warni sawarna" target="_blank">warna warni sawarna</a> (Facebook Notes)</li>
</ul>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://jengjeng.matriphe.com/jeng-jeng-sawarna.html/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>32</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Jeng-Jeng Sebesi-Anak Krakatau</title>
		<link>http://jengjeng.matriphe.com/jeng-jeng-sebesi-anak-krakatau.html</link>
		<comments>http://jengjeng.matriphe.com/jeng-jeng-sebesi-anak-krakatau.html#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 10 Feb 2010 07:04:53 +0000</pubDate>
		<dc:creator>matriphe</dc:creator>
				<category><![CDATA[Destinasi]]></category>
		<category><![CDATA[Gunung, Bukit, Mata Air]]></category>
		<category><![CDATA[Pulau, Laut, Pantai]]></category>
		<category><![CDATA[Travelogue]]></category>
		<category><![CDATA[Anak Krakatau]]></category>
		<category><![CDATA[gunung]]></category>
		<category><![CDATA[Lampung]]></category>
		<category><![CDATA[pantai]]></category>
		<category><![CDATA[Sebesi]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://jengjeng.matriphe.com/?p=1452</guid>
		<description><![CDATA[Tak pernah terbayang dalam benak saya ketika dulu semasa kecil melihat gambar Anak Krakatau di uang pecahan 100 rupiah tahun emisi 1992 bahwa saya bisa menginjakkan kaki di sana. Rasanya hampir tak percaya karena memang tidak ada rencana untuk ke sana! Berawal dari ajakan teman-teman dari komunitas Indonesia Backpacker yang hendak melakukan gathering ke Pulau [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><img src="http://jengjeng.matriphe.com/wp-content/uploads/2010/02/puncak-krakatau.jpg" alt="Di puncak Anak Krakatau" title="Di puncak Anak Krakatau" width="350" height="263" class="alignnone size-full wp-image-1453" /></p>
<p>Tak pernah terbayang dalam benak saya ketika dulu semasa kecil melihat gambar Anak Krakatau di <a href="http://www.bi.go.id/web/id/Tentang+BI/Museum/Koleksi/Uang/Uang+Kertas/detail.htm?id=192" title="Uang Kertas Bank Indonesia Emisi 1992" target="_blank">uang pecahan 100 rupiah tahun emisi 1992</a> bahwa saya bisa menginjakkan kaki di sana. Rasanya hampir tak percaya karena memang tidak ada rencana untuk ke sana!</p>
<p>Berawal dari ajakan teman-teman dari komunitas Indonesia Backpacker yang hendak melakukan gathering ke Pulau Sebesi, Lampung, saya pun ikut bergabung. Ini pertama kalinya saya ikut trip bersama rombongan besar, apalagi saya bukan anggota komunitas tersebut. <img src='http://jengjeng.matriphe.com/smilies/yahoo_bigsmile.gif' alt='&#58;&#68;' class='wp-smiley' width='18' height='18' title='&#58;&#68;' /></p>
<p><span id="more-1452"></span>Awalnya kami hendak mendaftarkan diri di acara gathering tersebut, namun karena pendaftaran sudah ditutup lebih cepat dari rencana, maka kami pun urung bergabung dengan trip tersebut. Tak kehilangan akal, kami bertujuh pun tetep nekad untuk berangkat bareng mereka untuk menghemat biaya kapal dan mengetahui rute (karena selama ini saya buta rute dan gak pake rencana).</p>
<p>Kesimpulan asal saya, mengorganisasi manusia sebanyak 100-an orang itu ribet sangat. Acara dan jadwal molor karena banyaknya manusia yang telat datang ke titik kumpul Pelabuhan Merak, Banten. Saya yang sudah datang jauh-jauh lebih awal jelas sewot. Itulah sebabnya saya lebih suka jalan sendiri atau maksimal dalam kelompok kecil (kurang dari 10 orang).</p>
<p>Menuju Pelabuhan Merak banyak bus yang bisa digunakan. Bus dari Kalideres, Pulogadung, dan Kampung Rambutan selalu ada hampir 24 jam. Ongkosnya sekitar 17 ribu untuk bus AC, dengan waktu tempuh sekitar 3-4 jam kalo tidak macet.</p>
<p>Selain dengan bus, bisa naik kereta api dari Stasiun Jakarta Kota hingga Stasiun Merak dengan kereta Merak Jaya, namun jadwal hanya ada 2 kali pagi dan sore.</p>
<p>Dari Terminal Merak, kami cukup berjalan kaki saja menuju Pelabuhan Merak. Pelabuhan dan terminal ini konon masih dalam taraf pembangunan hingga nantinya bisa menjadi terminal terpadu (pelabuhan, terminal, dan stasiun menjadi satu kawasan dan terhubung satu sama lain). Saat ini yang sudah terpadu baru pelabuhan dan stasiun.</p>
<p><img src="http://jengjeng.matriphe.com/wp-content/uploads/2010/02/etiket-merak.jpg" alt="E-ticket Pelabuhan Merak" title="E-ticket Pelabuhan Merak" width="350" height="263" class="alignnone size-full wp-image-1454" /></p>
<p>Tiket naik kapal feri 10 ribu rupiah dengan bentuk kartu magnetik. Bila pernah berkunjung dan masuk ke gedung SCBD/BEI Jakarta, masuk ke Pelabuhan Merak (dan juga di Bakauheni) mirip dengan sistem masuk di gedung SCBD.</p>
<p>Tiket ditempelkan ke mesin, kemudian pintu akan terbuka. Tiket ini diserahkan kepada petugas sesaat sebelum naik kapal. </p>
<p><img src="http://jengjeng.matriphe.com/wp-content/uploads/2010/02/pintu-masuk.jpg" alt="Masuk ke Pelabuhan melalui mesin" title="Masuk ke Pelabuhan melalui mesin" width="350" height="263" class="alignnone size-full wp-image-1455" /></p>
<p>Perjalanan dari Pelabuhan Merak ke Bakauheni memakan waktu sekitar 2 jam. Selama di kapal, kami lebih banyak tidur di atas bangku-bangku kosong. Apalagi malam membuat kami hampir tidak bisa melihat apa pun kecuali gemerlap lampu-lampu dari kawasan industri Cilegon.</p>
<p>Kami sampai di Bakauheni pas Subuh. Begitu keluar dari Pelabuhan Bakauheni, kami langsung diserbu para calo-calo dari Terminal Bakauheni. &#8220;Karang.. Karang.. Metro.. Metro.. Raja Basa.. Raja Basa..,&#8221; teriak calo tersebut yang kadang ngeselin karena mereka gak segan menarik-narik lengan dan barang bawaan calon penumpang.</p>
<p>Kami segera menyingkir dari kepungan para calo untuk nongkrong dulu di ibu penjual kopi yang ngemper di peron terminal. Selain membeli kopi, kami pun berunding untuk menentukan sarana transportasi berikutnya.</p>
<p>Tujuan kami adalah Dermaga Canti di Kalianda. Untuk menuju ke sini sebenernya bisa ditempuh dengan 2 kali naik angkot. Dari Bakauheni, naik angkot berwarna kuning turun di Pasar Kalianda. Ongkosnya 15 ribu rupiah. Dari Pasar Kalianda kemudian berganti angkot warna biru hingga ke Dermaga Canti dengan ongkos 5 ribu rupiah.</p>
<p>Karena rombongan IBP yang kami barengi pada nyewa angkot, kami pun memutuskan untuk ikut menyewa juga. Tawar-menawar harga terjadi. Kami bertujuh, jika dihitung per orang 20 ribu, ongkosnya akan jadi 140 ribu. Akhirnya kesepakatan harga terjadi, kami akan diantar hingga Dermaga Canti dengan ongkos carter 125 ribu.</p>
<p>Sepanjang jalan dari Bakauheni ke Canti, kami mencium bau durian. Sial! Bau ini membuat kami jadi pengen makan duren!!</p>
<p>Kami tiba di Canti lebih awal dari rombongan IBP. Begitu turun, lagi-lagi kami disambut oleh tawaran carter kapal ke Sebesi. Padahal menurut informasi, kapal dari Sebesi-Canti-Sebesi datang rutin setiap pukul 9 pagi. Ongkosnya pun cuma 15 ribu rupiah per orang. Bila mencarter kami ditarik ongkos 400 ribu rupiah!</p>
<p>Karena rombongan IBP sudah mencarter kapal dari Canti ke Sebesi, maka kami memilih untuk ikut rombongan IBP saja. Kami tetep membayar 15 ribu rupiah per orang ke panitia IBP.</p>
<p>Bentuk perahu motor yang melayani rute Canti-Sebesi sebelas-duabelas dengan kapal yang melayani rute Muara Angke-Pulau Pramuka, cuma ukuran kapal Sebesi ini lebih kecil dan lajunya lebih lambat. Jarak Pulau Sebesi-Canti yang cuma 13 Km harus ditempuh dalam waktu 2 jam.</p>
<p><img src="http://jengjeng.matriphe.com/wp-content/uploads/2010/02/peta-pulau.jpg" alt="Peta Pulau Sebuku, Sebesi, Anak Krakatau. Sumber: Google Maps." title="Peta Pulau Sebuku, Sebesi, Anak Krakatau. Sumber: Google Maps." width="350" height="263" class="alignnone size-full wp-image-1456" /></p>
<p>Selama perjalanan, kami disuguhi pemandangan yang luar biasa. Ada 3 buah karang yang membentuk semacam pulau di sebelah selatan Dermaga Canti yang oleh penduduk setempat disebut dengan Pulau Tiga.</p>
<p>Kami bahkan menyusuri selat Sebuku yang memisahkan Pulau Sebuku dan Pulau Sebuku Kecil. Dari jauh terlihat Gunung Sebesi menjulang tinggi dengan awan menutupi puncaknya membawa kesan mistis. Dari jauh, samar-samar terlihat siluet Anak Gunung Krakatau.</p>
<p>Karena tak ingin melewatkan pemandangan ini, sebagian penumpang kapal langsung pindah untuk duduk di atap kapal. Kamera keluar semua dan akhirnya potret-memotret tak terelakkan!</p>
<p><img src="http://jengjeng.matriphe.com/wp-content/uploads/2010/02/di-atap-kapal.jpg" alt="Sebagian penumpang kapal duduk di atap untuk menikmati pemandangan" title="Sebagian penumpang kapal duduk di atap untuk menikmati pemandangan" width="350" height="263" class="alignnone size-full wp-image-1457" /></p>
<p>Perjalanan akhirnya berakhir di dermaga Sebesi. Dermaga ini merupakan akses utama untuk menuju dan keluar dari Pulau Sebesi.</p>
<p>Pulau Sebesi sebenernya berdiri di lereng Gunung Sebesi yang berketinggian 884 meter dpl. Secara administratif, Pulau Sebesi berada dalam wilayah Desa Tejang Pulau Sebesi, Kecamatan Raja Basa, Kabupaten Lampung Selatan. </p>
<p>Luas pulaunya 2.620 ha dengan panjang pantai 19,55 km. Bila dilihat dari peta, pulau ini berbentuk hampir bundar. Bersama Pulau Sebuku, Sanghyang, Lagundi, dan Anak Krakatau, 5 pulau ini masuk dalam wilayah Kepulauan Krakatau yang terletak di Teluk Lampung, Selat Sunda.</p>
<p>Di Pulau Sebesi terdapat 4 dusun, yaitu Dusun Bangunan, Dusun Inpres, Dusun Regahan Lada, dan Dusun Segenom. Mata pencaharian penduduk Sebesi selain nelayan adalah bertani kelapa, pisang, dan coklat, yang hasil pertanian ini dijual ke Kalianda.</p>
<p>Kami tiba di salah satu dari 3 dermaga di Pulau Sebesi yang terletak di Dusun Bangunan. Fasilitas penginapan tidak ada, kecuali bila menginap secara homestay di rumah-rumah warga.</p>
<p><img src="http://jengjeng.matriphe.com/wp-content/uploads/2010/02/dermaga-sebesi.jpg" alt="Dermaga Pulau Sebesi" title="Dermaga Pulau Sebesi" width="350" height="263" class="alignnone size-full wp-image-1458" /></p>
<p>Atas bantuan Pak Hayun (081369923312 &#8211; 08287013757), salah satu pengelola wisata di Pulau Sebesi, kami menginap di salah satu rumah warga dengan biaya 200 ribu per malam.</p>
<p>Kami menginap di salah satu ruangan di rumah warga di Dusun Bangunan. Ini memungkinkan kami bisa berinteraksi langsung dengan si pemilik rumah dan warga sekitar.</p>
<p>Sinyal operator seluler sangat sulit didapat. Ditambah listrik hanya menyala dari jam 6 sore hingga jam 12 malam yang dipasok dari PLN dengan menggunakan 2 buah generator diesel. Bahkan saat kami berada di sana, listrik sedang padam karena salah satu dari generator rusak (walau begitu, warga tetap diwajibkan membayar listrik sebesar 25 ribu per bulan).</p>
<p>Karena cuaca cerah, kami sepakat untuk mengunjungi Anak Krakatau, karena anak-anak IBP mengadakan acara sendiri. Awalnya memang tidak terpikir untuk ke Anak Krakatau karena saat berangkat, cuaca sedang mendung.</p>
<p>Atas bantuan Pak Hayun, kami menyewa kapal untuk menuju ke Anak Krakatau dengan biaya 1,2 juta rupiah pulang-pergi plus biaya perijinan dan pemandu dari ranger Taman Nasional sebesar 200 ribu rupiah, sehingga totalnya 1,4 juta rupiah.</p>
<p><img src="http://jengjeng.matriphe.com/wp-content/uploads/2010/02/anak-krakatau.jpg" alt="Menuju ke Anak Krakatau" title="Menuju ke Anak Krakatau" width="350" height="263" class="alignnone size-full wp-image-1459" /></p>
<p>Perjalanan dari Sebesi ke Anak Krakatau memakan waktu sekitar 2 jam. Makin mendekati Anak Krakatau, gelombang laut pun makin tinggi dan ganas. Kami yang awalnya duduk-duduk di atap kemudian beringsut turun dan masuk ke dalam karena goyangan kapal makin kencang sambil berdoa semoga tidak terjadi apa-apa.</p>
<p>Begitu kapal merapat ke bibir pantai Anak Krakatau, saya langsung menginjak-injakkan kaki di atas pasir hitam karena kegirangan. Maaakk!! Anakmu ini menginjakkan kaki di Anak Krakatau!!</p>
<p><img src="http://jengjeng.matriphe.com/wp-content/uploads/2010/02/cagar-alam-krakatau.jpg" alt="Gerbang Taman Nasional Cagar Alam Krakatau" title="Gerbang Taman Nasional Cagar Alam Krakatau" width="350" height="263" class="alignnone size-full wp-image-1460" /></p>
<p>Ketika kami tiba, kami melihat beberapa tenda tengan berdiri di depan gerbang Taman Nasional Krakatau. Selama aktivitas vulkanik Krakatau dinyatakan aman, kita diperbolehkan mendaki ke puncak, berkemah, bahkan melakukan snorkeling dan diving di sekitar Anak Krakatau.</p>
<p>Bersama pemandu, kami melakukan trekking dan mendaki hingga ke puncak Krakatau. Awalnya kami harus menembus gelapnya &#8220;hutan tropis&#8221; mini sebelum pada patok nomor 4 pada ketinggian sekitar 400 meter dpl, kondisinya sudah berubah menjadi jalur pasir bekas longsoran lahar dan beberapa pohon pinus.</p>
<p>Hingga patok nomor 5 pada ketinggian 500 meter dpl, vegetasinya sudah berubah menjadi rerumputan. Lepas dari patok nomor 6-7 pada ketinggian 600-700 meter, vegetasi sudah hampir tak ada dan hanya pasir dan batuan vulkanik. Mulai dari patok nomor 5 inilah sudut pendakian berubah curam.</p>
<p>Kami mendaki hanya sampai bibir kawah bekas letusan tahun 1992 pada patok nomor 12 atau pada ketinggian 120 meter dpl. Kami tidak bisa mencapai ke atas lagi karena puncak Anak Krakatau masih aktif mengeluarkan gas belerang. Total ketinggian puncak Anak Krakatau saat kami berkunjung adalah 334 meter dpl.</p>
<p>Ketinggian dan luas pulau Anak Krakatau yang muncul pada periode 1927-1929 ini akan terus berubah seiring dengan aktivitas vulkaniknya. Bahkan dari tengah kawah yang terbentuk ketika ledakan tahun 1992 kini telah menjulang puncak baru.</p>
<p><img src="http://jengjeng.matriphe.com/wp-content/uploads/2010/02/gunung-rakata.jpg" alt="Gunung Rakata di latar belakang merupakan salah satu sisa letusan Gunung Krakatau Besar" title="Gunung Rakata di latar belakang merupakan salah satu sisa letusan Gunung Krakatau Besar" width="350" height="263" class="alignnone size-full wp-image-1462" /></p>
<p>Berawal dari sebuah gunung bernama Krakatau Besar berbentuk kerucut yang kemudian meletus besar hingga terbentuklah Pulau Rakata, Pulau Panjang, dan Pulau Sertung.</p>
<p>Aktivitas di kaldera Krakatau di bawah laut yang terus bergejolak akhirnya memunculkan 3 gunung baru di atas Pulau Rakata, yaitu Gunung Rakata, Gunung Danan, dan Gunung Perbuatan.</p>
<p>Pada tanggal 27 Agustus 1883, terjadi letusan besar yang akhirnya menenggelamkan Gunung Danan dan Gunung Perbuatan dan hanya menyisakan Gunung Rakata. Kaldera yang terbentuk dari ledakan ini memiliki diameter hingga 7 Km.</p>
<p>Aktivitas vulkanik di dasar laut Krakatau terus bergejolak hingga pada periode 1927-1929 terbentuklah pulau baru yang kini dinamakan Anak Krakatau.</p>
<p><img src="http://jengjeng.matriphe.com/wp-content/uploads/2010/02/proses-anak-krakatau.jpg" alt="Proses terbentuknya Anak Krakatau" title="Proses terbentuknya Anak Krakatau" width="350" height="789" class="alignnone size-full wp-image-1461" /></p>
<p>Setelah puas menjelajah puncak Krakatau, kami kembali turun sebelum semakin sore. Melihat pantai dengan air jernih, badan rasanya gatal kalo tidak nyemplung. Kami pun kalap dan berkecipak-kecipak nyemplung ke laut!</p>
<p><img src="http://jengjeng.matriphe.com/wp-content/uploads/2010/02/nyemplung-krakatau.jpg" alt="Nyemplung di pantai Anak Krakatau" title="Nyemplung di pantai Anak Krakatau" width="350" height="263" class="alignnone size-full wp-image-1463" /></p>
<p>Anak buah kapal berteriak-teriak ke arah kami untuk segera naik ke kapal dan segera kembali ke Sebesi. Selain takut kesorean, ternyata kami disuguhkan pemandangan dahsyat di atas laut ketika pulang.</p>
<p>Di barat, mentari lambat-lambat mulai tenggelam. Anak Krakatau yang gagah nampak tertidur di samping Pulau Sertung yang sekilas berbentuk mirip paus membentuk siluet dahsyat.</p>
<p><img src="http://jengjeng.matriphe.com/wp-content/uploads/2010/02/krakatau-sertung.jpg" alt="Siluet Anak Krakatau dan Pulau Sertung di senja hari" title="Siluet Anak Krakatau dan Pulau Sertung di senja hari" width="350" height="263" class="alignnone size-full wp-image-1464" /></p>
<p>Mendekati Pulau Sebesi, langit sudah gelap. Di kejauhan, di bagian daratan Lampung, kami melihat petir berkilat-kilat teredam mendung pekat. Sepertinya hujan deras tengah mengguyur Lampung. Kami pun bisa dengan jelas melihat rasi bintang scorpio di langit utara, suatu hal yang sangat langka kami temukan di Jakarta. Suara bising mesin kapal tak lagi kami hiraukan.</p>
<p>Kapal yang kami tumpangi tidak memiliki penerangan sama sekali. Kami hanya mengandalkan satu-satunya senter yang dibawa oleh seorang rekan. Begitu kami tiba di dermaga, suasana pun gelap gulita.</p>
<p>Kami berjalan kembali ke penginapan yang untungnya ada genset pribadi di rumah tersebut, sehingga rumah tempat kami menginap lebih terang daripada rumah lain yang menggunakan penerangan lampu minyak (lampu teplok).</p>
<p><img src="http://jengjeng.matriphe.com/wp-content/uploads/2010/02/pagi-sebesi.jpg" alt="Suasana pagi di Dermaga Sebesi" title="Suasana pagi di Dermaga Sebesi" width="350" height="263" class="alignnone size-full wp-image-1466" /></p>
<p>Keesokan paginya, kami menghabiskan waktu bermain-main dan menyusuri pantai di Pulau Sebesi. Setelah berburu sunrise di dermaga dan makan nasi udduk di warung sebelah penginapan, kami menyurusi pantai hingga mencapai kawasan hutan bakau di sebelah timur laut kemudian berganti arah menuju barat laut untuk menemukan pantai yang teduh untuk mandi-mandi.</p>
<p>Kami pun akhirnya mandi-mandi di pantai dengan pemandangan langsung ke Pulau Umang (masyarakat menyebutnya juga Pulau Umang Umang).</p>
<p><img src="http://jengjeng.matriphe.com/wp-content/uploads/2010/02/nyemplung-sebesi.jpg" alt="Bermain di pantai Pulau Sebesi" title="Bermain di pantai Pulau Sebesi" width="350" height="263" class="alignnone size-full wp-image-1465" /></p>
<p>Setelah membersihkan diri dan berkemas, kami meninggalkan Pulau Sebesi sekitar pukul 12 bareng dengan rombongan IBP.</p>
<p>Selama perjalanan, kami mengalami 2 kali senja di atas laut. Pertama ketika kami kembali dari Anak Krakatau dan yang kedua ketika kami berada di atas feri KM Raja Basa I yang membawa kami dari Bakauheni ke Merak. Lagi-lagi kami mendapat pemandangan senja yang menakjubkan!</p>
<p><img src="http://jengjeng.matriphe.com/wp-content/uploads/2010/02/senja-kapal.jpg" alt="Menikmati senja di atas kapal feri" title="Menikmati senja di atas kapal feri" width="350" height="263" class="alignnone size-full wp-image-1467" /></p>
<p>Postingan terkait:</p>
<ul>
<li><a href="http://www.mrbambang.web.id/2010/02/journey-to-sebesi-island-and-child-of-krakatoa.blog/comment-page-1/#comment-2491" title="Journey to Sebesi Island and Child of Krakatoa" target="_blank">Journey to Sebesi Island and Child of Krakatoa</a> di blog Bambang</li>
<li><a href="http://www.flickr.com/photos/zamroni/sets/72157623384262786/" title="Muhammad Zamroni's buddy icon<br />
Sebesi &#038; Anak Krakatau" target="_blank">Galeri foto di Flickr</a></li>
</ul>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://jengjeng.matriphe.com/jeng-jeng-sebesi-anak-krakatau.html/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>44</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Pantai Pandansari Riwayatmu Kini</title>
		<link>http://jengjeng.matriphe.com/pantai-pandansari-riwayatmu-kini.html</link>
		<comments>http://jengjeng.matriphe.com/pantai-pandansari-riwayatmu-kini.html#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 09 Jan 2008 09:33:05 +0000</pubDate>
		<dc:creator>matriphe</dc:creator>
				<category><![CDATA[Arkais]]></category>
		<category><![CDATA[Keluyuran]]></category>
		<category><![CDATA[pantai]]></category>
		<category><![CDATA[wisata]]></category>
		<category><![CDATA[Yogyakarta]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://jengjeng.matriphe.com/index.php/2008/01/09/pantai-pandansari-riwayatmu-kini.html</guid>
		<description><![CDATA[Salah satu pantai favorit saya di Jogja adalah Pantai Pandansari. Keberadaan mercusuar di pantai ini adalah daya tarik tersendiri selain pantainya yang relatif sepi. Namun saya sangat kecewa melihat keadaannya kini. Pantainya begitu kotor oleh sampah. Saya sangat sedih melihat pantai favorit saya ini keadaannya menjadi benar-benar mengenaskan! Pantai Pandansari menjadi favorit saya karena saya [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><img src="http://jengjeng.matriphe.com/wp-content/uploads/2008/01/pandansari-sampah1.jpg" alt="Pantai Pandansari yang penuh sampah" title="Pantai Pandansari yang penuh sampah" width="350" height="263" class="alignnone size-full wp-image-1208" /></p>
<p>Salah satu pantai favorit saya di Jogja adalah Pantai Pandansari.</p>
<p>Keberadaan mercusuar di pantai ini adalah daya tarik tersendiri selain pantainya yang relatif sepi.</p>
<p>Namun saya sangat kecewa melihat keadaannya kini. Pantainya begitu kotor oleh sampah. <img src='http://jengjeng.matriphe.com/smilies/yahoo_sad.gif' alt='&#58;&#40;' class='wp-smiley' width='18' height='18' title='&#58;&#40;' /></p>
<p>Saya sangat sedih melihat pantai favorit saya ini keadaannya menjadi benar-benar mengenaskan! <img src='http://jengjeng.matriphe.com/smilies/yahoo_cry.gif' alt='&#58;&#40;&#40;' class='wp-smiley' width='22' height='18' title='&#58;&#40;&#40;' /></p>
<p><span id="more-567"></span>Pantai Pandansari menjadi favorit saya karena saya punya kenangan tersendiri dengan pantai ini.</p>
<p>Saya pernah melihat puluhan bintang jatuh ketika menjadi panitia malam keakraban jurusan saya di pantai ini.</p>
<p>Pengalaman yang tak kan terlupakan!</p>
<p>Terakhir kali saya ke sini ya pas setelah saya lulus dan <a href="http://jengjeng.matriphe.com/index.php/2007/07/11/kopdar-raya-pantai-pandansari.html" title="Kopdar Raya: Pantai Pandansari">kopdar akbar gila-gilaan</a> pas <a href="http://rekam.org/" title="Renisa" target="_blank">Nisa</a> sama <a href="http://iks.edyw.com/" title="Iks" target="_blank">Iks</a> dateng ke Jogja.</p>
<p>Begitu tiba, saya disambut oleh sampah-sampah berserakan di atas pasir! <img src='http://jengjeng.matriphe.com/smilies/yahoo_ooooh.gif' alt='&#58;&#45;&#111;' class='wp-smiley' width='18' height='18' title='&#58;&#45;&#111;' /></p>
<p><img src='http://jengjeng.matriphe.com/wp-content/uploads/2008/01/sampah-pandansari.jpg' alt='Sampah berserakan di Pantai Pandansari' /></p>
<p>Saya menduga sampah-sampah ini terbawa ombak dari Pantai Samas yang memang jaraknya ndak begitu jauh. Pantai Samas kan emang kotor. <img src='http://jengjeng.matriphe.com/smilies/yahoo_sad.gif' alt='&#58;&#40;' class='wp-smiley' width='18' height='18' title='&#58;&#40;' /></p>
<p>Mungkin akibat tingginya gelombang laut akhir-akhir ini, sampah-sampah dari Pantai Samas terbawa obak berpindah ke sini.</p>
<p>Selain sampah ranting dan kayu-kayu, saya menemukan sampah-sampah plastik dan sisa-sisa kebiadaban manusia yang suka membuang sampah sembarangan. <img src='http://jengjeng.matriphe.com/smilies/yahoo_angry.gif' alt='&#120;&#40;' class='wp-smiley' width='34' height='18' title='&#120;&#40;' /></p>
<p>Benar-benar ndak enak dipandang mata! <img src='http://jengjeng.matriphe.com/smilies/yahoo_waiting.gif' alt='&#58;&#45;&#119;' class='wp-smiley' width='23' height='18' title='&#58;&#45;&#119;' /></p>
<p>Coba liat gambar di bawah ini. Perbedaannya sangat jauh, bukan?</p>
<p><img src='http://jengjeng.matriphe.com/wp-content/uploads/2008/01/perbandingan.jpg' alt='Perbandingan keadaan di Pantai Pandansari' /></p>
<p>Gambar di sebelah kiri diambil pada tanggal 7 Juli 2007. Masih bersih dan sangat menyenangkan sekali.</p>
<p>Sedangkan gambar di sebelah kanan diambil pada tanggal 5 Januari 2008. Begitu menyedihkan dan memprihatinkan. <img src='http://jengjeng.matriphe.com/smilies/yahoo_sad.gif' alt='&#58;&#40;' class='wp-smiley' width='18' height='18' title='&#58;&#40;' /></p>
<p>Belum lagi saya ndak bisa naik ke atas mercusuar. Padahal saya pengen banget <a href="http://blog.matriphe.com/index.php/2006/11/04/senja-di-atas-merkusuar/" title="Senja di Atas Merkusuar" target="_blank">menikmati kembali sunset dari atas mercusuar</a> setinggi 45 meter ini. <img src='http://jengjeng.matriphe.com/smilies/yahoo_sighing.gif' alt='&#58;&#45;&#60;' class='wp-smiley' width='24' height='18' title='&#58;&#45;&#60;' /></p>
<p>Menurut penjaganya, mercusuar ini sudah ditutup untuk umum semenjak gempa tahun 2006 lalu dengan alasan keamanan karena bangunan mercusuar banyak yang retak.</p>
<p>Lah? Kok bisa? Sebuah alasan yang aneh. <img src='http://jengjeng.matriphe.com/smilies/yahoo_think.gif' alt='&#58;&#45;&#63;' class='wp-smiley' width='18' height='18' title='&#58;&#45;&#63;' /></p>
<p>Padahal saya pernah naik ke sana <a href="http://jengjeng.matriphe.com/index.php/2007/02/24/jeng-jeng-bareng-miwako.html#pandansari" title="Jeng-Jeng Bareng Miwako">malam-malam sama Miwako</a> sekitar Februari 2007.</p>
<p>Belum lagi saya pernah ke sana beberapa bulan setelah gempa hanya untuk mendapatkan <a href="http://sandbox.cahandong.org/2006/11/04/merkusuar-pandansari.html" title="Mercusuar Pandansari" target="_blank">liputan tentang pantai ini</a> sekitar November 2006. <img src='http://jengjeng.matriphe.com/smilies/yahoo_think.gif' alt='&#58;&#45;&#63;' class='wp-smiley' width='18' height='18' title='&#58;&#45;&#63;' /></p>
<p>Bukankah tujuan pembangunan mercusuar ini adalah untuk obyek wisata? La kenapa ditutup untuk umum?</p>
<p>Semoga ada <acronym title="pemkab Bantul?">pihak-pihak terkait</acronym> yang bisa menjelaskan. <img src='http://jengjeng.matriphe.com/smilies/yahoo_waiting.gif' alt='&#58;&#45;&#119;' class='wp-smiley' width='23' height='18' title='&#58;&#45;&#119;' /></p>
<p>Ah, walau Pantai Pandansari ndak seperti dulu lagi, suasana sunset-nya tetep bener-bener eksotis!</p>
<p>Melihat sang surya perlahan-lahan tenggelam dan bersembunyi di balik horison yang tertutup awan, memberikan warna perpaduan biru dan keemasan yang menakjubkan!</p>
<p><img src='http://jengjeng.matriphe.com/wp-content/uploads/2008/01/pandansari-sunset.jpg' alt='Suasana sunset di Pantai Pandansari' /></p>
<p>Andai saja saya ke sana bersama gadis pujaan hati, menikmati sunset dengan duduk di atas pasir yang bersih sambil bergandengan tangan..</p>
<p>Oh, betapa romantisnya.. <img src='http://jengjeng.matriphe.com/smilies/yahoo_daydream.gif' alt='&#56;&#45;&#62;' class='wp-smiley' width='23' height='18' title='&#56;&#45;&#62;' /></p>
<p>Baca juga info lengkap tentang <a href="http://sandbox.cahandong.org/2006/11/04/merkusuar-pandansari.html" title="Mercusuar Pandansari" target="_blank">Pantai Pandansari</a>.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://jengjeng.matriphe.com/pantai-pandansari-riwayatmu-kini.html/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>27</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Kopdar Raya: Pantai Pandansari</title>
		<link>http://jengjeng.matriphe.com/kopdar-raya-pantai-pandansari.html</link>
		<comments>http://jengjeng.matriphe.com/kopdar-raya-pantai-pandansari.html#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 11 Jul 2007 01:41:12 +0000</pubDate>
		<dc:creator>matriphe</dc:creator>
				<category><![CDATA[Arkais]]></category>
		<category><![CDATA[Kumpul-Kumpul]]></category>
		<category><![CDATA[cahandong]]></category>
		<category><![CDATA[kopdar]]></category>
		<category><![CDATA[pantai]]></category>
		<category><![CDATA[Yogyakarta]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://jengjeng.matriphe.com/index.php/2007/07/11/kopdar-raya-pantai-pandansari.html</guid>
		<description><![CDATA[Sebenernya saya bingung mo posting gimana. Bayangkan saja, setelah dihajar hatrick kopdar, kini saya dan temen-temen kudu melayani serangan blogger-blogger dari luar Jogja. Bisa dibilang ini Hari Raya Kopdar. La setelah beberapa waktu saya berpuasa kopdar, kini saatnya berhari raya. Ditambah tamu-tamu yang datang ke Jogja berasal dari jauh semua, membuat nuansa hari raya semakin [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><img src='http://jengjeng.matriphe.com/wp-content/uploads/2007/07/kopdar-pandansari.jpg' alt='Kopdar Raya: Pantai Pandansari' /></p>
<p>Sebenernya saya bingung mo posting gimana. Bayangkan saja, setelah dihajar <a href="http://jengjeng.matriphe.com/index.php/2007/06/18/hatrick-kopdar.html" title="Hatrick Kopdar">hatrick kopdar</a>, kini saya dan <a href="http://cahandong.org/" title="CahAndong" target="_blank">temen-temen</a> kudu melayani serangan blogger-blogger dari luar Jogja.</p>
<p>Bisa dibilang ini Hari Raya Kopdar. La setelah beberapa waktu saya berpuasa kopdar, kini saatnya berhari raya. Ditambah tamu-tamu yang datang ke Jogja berasal dari jauh semua, membuat nuansa hari raya semakin terasa! <img src='http://jengjeng.matriphe.com/smilies/yahoo_dance.gif' alt='&#92;&#58;&#100;&#47;' class='wp-smiley' width='26' height='18' title='&#92;&#58;&#100;&#47;' /></p>
<p>Mulai tulisan ini, saya mencoba menuliskan suasana kopdar yang saya alami secara bertahap. Rasanya terlalu panjang kalo ditulis di dalam satu postingan. Yah, lumayan lah buat refreshing selama mengurusi yudisium yang melelahkan setelah <a href="http://jengjeng.matriphe.com/index.php/2007/07/07/akhirnya-pendadaran.html" title="Akhirnya Pendadaran!">dicabut status saya sebagai mahasiswa</a>. <img src='http://jengjeng.matriphe.com/smilies/yahoo_bigsmile.gif' alt='&#58;&#68;' class='wp-smiley' width='18' height='18' title='&#58;&#68;' /></p>
<p>Kopdar pertama adalah di <a href="http://sandbox.cahandong.org/2006/11/04/merkusuar-pandansari.html" title="Mercusuar Pandansari" target="_blank">Pantai Pandansari</a>, pantai eksotis yang memiliki sejuta kenangan. *lirik <a href="http://chocoluv.elzan.com/" title="chocoluv" target="_blank">Monik</a>* Pantai dengan sebuah mercusuar menjulang yang jarang dijangkau orang. <img src='http://jengjeng.matriphe.com/smilies/yahoo_bigsmile.gif' alt='&#58;&#68;' class='wp-smiley' width='18' height='18' title='&#58;&#68;' /></p>
<p><span id="more-298"></span>Kopdar raya diawali dengan <a href="http://rekam.rumahblog.com/2007/07/09/full-saturday/" title="Full Saturday" target="_blank">kedatangan Nisa ke Jogja</a> hari Jumat, 6 Juli 2007. Maklum, musim liburan begini Jogja menjadi salah satu tujuan wisata. Selain Nisa, ada <a href="http://iks.edyw.com/2007/07/09/070707-cahandongkuorg/" title="07.07.07 CahAndongku.org" target="_blank">Iks yang juga datang ke Jogja</a> ditemani sama <a href="http://blog.mysyam.net/2007/07/10/jalan-jalan/" title="Jalan-jalan" target="_blank">Syam</a>.</p>
<p>Setelah <a href="http://jengjeng.matriphe.com/index.php/2007/07/07/akhirnya-pendadaran.html" title="Akhirnya: Pendadaran!">dibantai</a>, tanpa sempet mandi dan berganti baju, saya, <a href="http://pu.jopajapu.com/" title="pu!" target="_blank">Adi</a>, <a href="http://diditkurniawan.web.ugm.ac.id/" title="diditjogja" target="_blank">Didit</a>, dan <a href="http://ismail85.web.ugm.ac.id/" title="tupic" target="_blank">Tupic</a> menemui Nisa yang ditemani ibu dan adiknya di Hotel Limaran, hotel bekas gedung perpustakaan UGM di era tahun 50-an yang bercorak arsitektur Jepang ini.</p>
<p>Tujuan kami bertandang malam itu adalah untuk berkenalan sambil meminta ijin kepada ibunya Nisa agar keesokan harinya si Nisa boleh diajak jeng-jeng oleh kami, para eblis. <img src='http://jengjeng.matriphe.com/smilies/yahoo_devil.gif' alt='&#62;&#58;&#41;' class='wp-smiley' width='18' height='18' title='&#62;&#58;&#41;' /></p>
<p>Sang ibunda pun mengijinkan dengan berpesan agar tidak mengajak Nisa pergi ke tempat yang jauh-jauh serta menjaga Nisa baik-baik. Hehe.. Tenang saja, bu! We know how to handle <strike>fragile things</strike> girls with care.. <img src='http://jengjeng.matriphe.com/smilies/yahoo_wink.gif' alt='&#59;&#41;' class='wp-smiley' width='18' height='18' title='&#59;&#41;' /></p>
<p>Keesokan harinya, saya terpaksa tidak dapat berkopdar ria di Tamansari karena demi mencari segepok rupiah <strike>untuk membayar wisuda</strike>. Saya baru sempet nyusul siang harinya, setelah mereka keluar dari kompleks Tamansari. <img src='http://jengjeng.matriphe.com/smilies/yahoo_sighing.gif' alt='&#58;&#45;&#60;' class='wp-smiley' width='24' height='18' title='&#58;&#45;&#60;' /></p>
<p>Setelah makan siang kami pun berkumpul kembali di Benteng Vredeburg. Setelah berdemokrasi ala <a href="http://cahandong.org/" title="CahAndong" target="_blank">CahAndong</a>, diputuskanlah sore itu kami akan ke Pandansari. Jaraknya lumayan deket, sih. Sekitar 20 km dari pusat kota Jogja. <img src='http://jengjeng.matriphe.com/smilies/yahoo_laughloud.gif' alt='&#58;&#41;&#41;' class='wp-smiley' width='18' height='18' title='&#58;&#41;&#41;' /></p>
<p>Lalu, apa saja yang dilakukan di Pandansari? Apalagi kalo bukan untuk acara inti, yaitu FOTO-FOTO!! Berikut ini foto favorit saya, yang diambil oleh <a href="http://diditkurniawan.web.ugm.ac.id/" title="diditjogja" target="_blank">Mentri Dokumentasi dan Fotografi CahAndong</a>. <img src='http://jengjeng.matriphe.com/smilies/yahoo_sunglas.gif' alt='&#98;&#45;&#41;' class='wp-smiley' width='18' height='18' title='&#98;&#45;&#41;' /></p>
<p><img src='http://jengjeng.matriphe.com/wp-content/uploads/2007/07/lompat.jpg' alt='Jump!!' /></p>
<p>Beberapa foto sudah diupload oleh <a href="http://chitosa.multiply.com/photos/album/25" title="Jogja 070707" target="_blank">Nisa</a> dan <a href="http://demonoid.multiply.com/photos/album/11" title="with Cahandong.org" target="_blank">Iks</a>, jadi silakan dilihat di <acronym title="Multiply">MP</acronym> mereka masing-masing. <img src='http://jengjeng.matriphe.com/smilies/yahoo_wink.gif' alt='&#59;&#41;' class='wp-smiley' width='18' height='18' title='&#59;&#41;' /></p>
<p>Sayangnya saat itu, menara mercusar sedang direnovasi, sehingga kami tidak bisa naik ke puncak menara. Tapi tak mengapa, hamparan pasir dan deburan ombak sudah cukup untuk melayani hasrat narsis dan selfotosense kami. <img src='http://jengjeng.matriphe.com/smilies/yahoo_bigsmile.gif' alt='&#58;&#68;' class='wp-smiley' width='18' height='18' title='&#58;&#68;' /></p>
<p>Di pantai ini, saya juga melepaskan semua beban yang selama ini menghantui. Beban itu akhirnya terlepas dan saya merasa bebas. Untuk melampiaskan perasaan bebas ini, saya pun berteriak seolah hendak memecah ombak Samudera Hindia, &#8220;AKU LULUUUUUSSSS!!!!!&#8221; <img src='http://jengjeng.matriphe.com/smilies/rock.gif' alt='&#58;&#114;&#111;&#99;&#107;' class='wp-smiley' width='29' height='25' title='&#58;&#114;&#111;&#99;&#107;' /></p>
<p>Yes. I love <strike>bitch</strike> beach!! <img src='http://jengjeng.matriphe.com/smilies/yahoo_love.gif' alt='&#58;&#120;' class='wp-smiley' width='18' height='18' title='&#58;&#120;' /></p>
<p>Setelah berteriak-teriak, saya pun bersujud syukur, mencium <strike>Gadiza Fauzi</strike> pasir. Alhamdulillah, saya lulus!! <img src='http://jengjeng.matriphe.com/smilies/yahoo_worship.gif' alt='&#94;&#58;&#41;&#94;' class='wp-smiley' width='32' height='18' title='&#94;&#58;&#41;&#94;' /></p>
<p><img src='http://jengjeng.matriphe.com/wp-content/uploads/2007/07/sujud.jpg' alt='Sujud Syukur' /></p>
<p>Sekian dulu postingan kopdar episode pertama saya. Saya masih capek setelah dihajar kopdar beberapa hari full. <img src='http://jengjeng.matriphe.com/smilies/yahoo_sighing.gif' alt='&#58;&#45;&#60;' class='wp-smiley' width='24' height='18' title='&#58;&#45;&#60;' /></p>
<p>Buat temen-temen yang udah datang, mohon maaf kalo sambutannya ada yang kurang berkenan. Buat temen-temen <a href="http://cahandong.org/" title="CahAndong" target="_blank">CA</a> lainnya, mohon maaf saya ndak sempet membrodkes info kopdar yang dadakan dot kom ini. Maafkan saya.. <img src='http://jengjeng.matriphe.com/smilies/yahoo_worship.gif' alt='&#94;&#58;&#41;&#94;' class='wp-smiley' width='32' height='18' title='&#94;&#58;&#41;&#94;' /></p>
<p>Next postingan:</p>
<ol>
<li>Kopdar 2 milyar bareng <a href="http://mave.wordpress.com/" title="Jmave" target="_blank">Mina</a></li>
<li>Kopdar Islami bareng <a href="http://joesatch.wordpress.com/" title="Joesatch" target="_blank">Joesatch</a> ama <a href="http://chiw.wordpress.com/" title="Chiw" target="_blank">Chiw</a></li>
<li>Tragedi Stasiun Tugu bareng <a href="http://iks.edyw.com/" title="iks" target="_balnk">Iks</a> ama <a href="http://blog.mysyam.net/" title="mysyam" target="_blank">Syam</a></li>
<li>Kopdar bubar bareng <a href="http://1m03t-9w-b9t.blogspot.com/" title="ShOFa" target="_blank">ShOFa</a> ama <a href="http://lorraine-erfi.blogspot.com/" title="Erfi" target="_blank">Erfi</a></li>
</ol>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://jengjeng.matriphe.com/kopdar-raya-pantai-pandansari.html/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>38</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Siapa di Tengah?</title>
		<link>http://jengjeng.matriphe.com/siapa-di-tengah.html</link>
		<comments>http://jengjeng.matriphe.com/siapa-di-tengah.html#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 10 Mar 2007 01:49:52 +0000</pubDate>
		<dc:creator>matriphe</dc:creator>
				<category><![CDATA[Arkais]]></category>
		<category><![CDATA[Oleh-Oleh]]></category>
		<category><![CDATA[foto]]></category>
		<category><![CDATA[misteri]]></category>
		<category><![CDATA[pantai]]></category>
		<category><![CDATA[Yogyakarta]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://jengjeng.matriphe.com/?p=119</guid>
		<description><![CDATA[Gambar ini diambil di Pantai Depok, Bantul, Yogyakarta beberapa bulan yang lalu (Desember 2006). Foto ini adalah koleksi dari rekan sekantor saya, Mbak Dina. Untuk ukuran yang lebih besar bisa dilihat di sini. Gambar aslinya ada di situ. Petunjuk: Terlihat 2 penampakan. Yang pertama berupa wajah dan yang kedua berupa gadis yang duduk terlihat punggung [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><img src="http://jengjeng.matriphe.com/wp-content/uploads/2007/03/penampakan-cover1.jpg" alt="Siapa di tengah?" title="Siapa di tengah?" width="350" height="263" class="alignnone size-full wp-image-1114" /></p>
<p>Gambar ini diambil di Pantai Depok, Bantul, Yogyakarta beberapa bulan yang lalu (Desember 2006). Foto ini adalah koleksi dari rekan sekantor saya, <a href="http://www.friendster.com/d1nn4" title="Mbak Dina" target="_blank">Mbak Dina</a>.</p>
<p>Untuk ukuran yang lebih besar bisa dilihat di <a href='http://jengjeng.matriphe.com/wp-content/uploads/2007/03/penampakan-large.jpg' title='Siapa di tengah?' target="_blank">sini</a>. Gambar aslinya ada di <a href="http://www.friendster.com/photos/6672810/0/649415138#pic=0649415138" target="_blank" title="Sailormoon">situ</a>.</p>
<p>Petunjuk: Terlihat 2 penampakan. Yang pertama berupa wajah dan yang kedua berupa <acronym title="gadis atau bukan, kurang tau">gadis</acronym> yang duduk terlihat punggung menghadap ke laut.</p>
<p>Keliatan? <img src='http://jengjeng.matriphe.com/smilies/yahoo_smiley.gif' alt='&#58;&#41;' class='wp-smiley' width='18' height='18' title='&#58;&#41;' /></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://jengjeng.matriphe.com/siapa-di-tengah.html/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>40</slash:comments>
		</item>
	</channel>
</rss>

