<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>jengjeng matriphe! &#187; pasar</title>
	<atom:link href="http://jengjeng.matriphe.com/tag/pasar/feed" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://jengjeng.matriphe.com</link>
	<description>pengen jalan-jalan, makan-makan, dan lain-lain</description>
	<lastBuildDate>Tue, 02 Aug 2011 11:41:49 +0000</lastBuildDate>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<generator>http://wordpress.org/?v=3.2.1</generator>
	<atom:link rel='hub' href='http://jengjeng.matriphe.com/?pushpress=hub'/>
		<item>
		<title>Ngubek Pasar Subuh Blok M</title>
		<link>http://jengjeng.matriphe.com/ngubek-pasar-subuh-blok-m.html</link>
		<comments>http://jengjeng.matriphe.com/ngubek-pasar-subuh-blok-m.html#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 18 Jun 2008 05:27:15 +0000</pubDate>
		<dc:creator>matriphe</dc:creator>
				<category><![CDATA[Destinasi]]></category>
		<category><![CDATA[Urban & Perkotaan]]></category>
		<category><![CDATA[Jakarta]]></category>
		<category><![CDATA[pasar]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://jengjeng.matriphe.com/index.php/2008/06/18/ngubek-pasar-subuh-blok-m.html</guid>
		<description><![CDATA[Sebelum acara Ngupas Benhil, sebenernya saya udah melakukan acara pre-ngubek pasar. Bersama Yudi dan Pito, saya menjelajah Pasar Subuh Blok M Sabtu dini hari. Hujan yang turun sejak lepas tengah malam hari itu membuat suasana menjadi semakin mencekat. Hawa dingin menusuk kulit, pedih sepedih tusukan jarum-jarum air yang tak kunjung reda. Ah, tapi masih lebih [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><img src="http://jengjeng.matriphe.com/wp-content/uploads/2008/06/pasar-subuh-blok-m1.jpg" alt="Pasar Shubuh Blok M" title="Pasar Shubuh Blok M" width="350" height="263" class="alignnone size-full wp-image-1163" /></p>
<p>Sebelum acara <a href="http://jengjeng.matriphe.com/index.php/2008/06/16/jalansutra-ngubek-pasar-bendungan-hilir.html" title="JalanSutra Ngubek Pasar Bendungan Hilir">Ngupas Benhil</a>, sebenernya saya udah melakukan acara pre-ngubek pasar.</p>
<p>Bersama <a href="http://pantomimus.wordpress.com/" title="Yudi" target="_blank">Yudi</a> dan <a href="http://pitopoenya.blogspot.com/" title="Pito" target="_blank">Pito</a>, saya menjelajah Pasar Subuh Blok M Sabtu dini hari.</p>
<p><span id="more-737"></span>Hujan yang turun sejak lepas tengah malam hari itu membuat suasana menjadi semakin mencekat. Hawa dingin menusuk kulit, pedih sepedih tusukan jarum-jarum air yang tak kunjung reda. Ah, tapi masih lebih pedih bila tiada dirimu di sisi.. Hoeeekkk!!! <img src='http://jengjeng.matriphe.com/smilies/yahoo_laughloud.gif' alt='&#58;&#41;&#41;' class='wp-smiley' width='18' height='18' title='&#58;&#41;&#41;' /></p>
<p>Sehabis nongkrong di <a href="http://b-h-i.blogspot.com/" title="Bunderan HI" target="_blank">BHI</a>, terbersit rencana tolol untuk melihat dari dekat aktivitas para pedagang jajanan pasar di kawasan Blok M.</p>
<p>Walau hujan masih turun rintik-rintik, sekitar pukul 4 kami nyegat mikrolet C01 dari depan Hotel Nikko. Menunggu tak lama di halte yang terbuat dari bahan metal itu.</p>
<p>Mikrolet yang penuh dengan orang-orang pulang kerja, mulai dari kerja beneran hingga kerja &#8220;gituan&#8221; pun ada. Sepinya malam semakin sunyi, tenggelam dalam deru mesin mikrolet yang melesat cepat.</p>
<p>Tiba di Blok M, hujan makin menderas. Sial. Tanpa jaket, hanya bermodal kaos oblong dan topi butut gratisan, saya berlari-lari menuju warung mi ayam yang rupanya juga penuh dengan para peneduh.</p>
<p>Aroma mi ayam sempat menggoda, namun urung saya memesan karena Yudi menjawil saya untuk pindah ke pelataran wartel yang ndak jauh dari situ.</p>
<p>Kebelet pipis, karena ndak ada toliet umum yg tersedia, plus hujan deras membuat saya memutuskan untuk sekonyong-konyong mepet ke sekumpulan semak untuk melepas hasrat. Ah.. Nikmat, sambil bergidik karena dingin menjamah kulit.</p>
<p>Dedaunan malang yang basah oleh air hujan menjadi korban. Masih untung saya ndak membawa <a href="http://punyaulan.wordpress.com/2008/06/12/syal-baru-yang-indah-nan-permai/" title="Syal baru yang indah nan permai.." target="_blank">syal baru yang indah nan permai</a>.. <img src='http://jengjeng.matriphe.com/smilies/yahoo_bigsmile.gif' alt='&#58;&#68;' class='wp-smiley' width='18' height='18' title='&#58;&#68;' /></p>
<p>Setelah hujan sedikit mereda, kami pun bergerak. Masuk menusuk melewati jalur-jalur bis terminal Blok M. Sesekali melompat untuk menghindari genangan air, namun apa daya kecipak air yang muncul ketika kaki mendarat masih saja membasahi ujung celana.</p>
<p>Berbelok mengikuti koridor dan lorong-lorong toko yang masih tutup, laksana labirin yang membingungkan bila belum terbiasa. Saya yang sedikit mengantuk pun tak begitu ingat rute-rutenya.</p>
<p>Saya hanya menyerah pasrah mengikuti langkah Yudi dan Pito yang seolah-olah memiliki GPS di kepalanya sehingga dengan mudahnya menelusuri labirin pasar. Padahal menurut pengakuan mereka, baru 2 kali mereka menjelajahi pasar ini. Menemukannya pun secara tak sengaja.</p>
<p>Seingat saya, pasar Subuh ini berada di belakang gedung Pasar Jaya, yang dulu pernah mengalami kebakaran ini. Seruak keramaian langsung menyergap.</p>
<p>Para pedagang rupanya sedang bersiap-siap. Ada yang memasang tenda, menata dagangan, bahkan beberapa pembeli sudah melakukan transaksi. Hujan deras rupanya menjadi kendala sehingga persiapan pasar yang biasanya diakukan pukul 2 dini hari telat.</p>
<p>Berbagai jajanan pasar, mulai dari yang tradisional, kue basah, hingga modern berupa roti-roti ada semua di sini. Menempati ruas jalan sepanjang kurang lebih 300 meter, membuat saya sempat kehilangan pegangan hendak membeli jajanan yang mana.</p>
<p><img src='http://jengjeng.matriphe.com/wp-content/uploads/2008/06/kue-kue.jpg' alt='Kue-kue pasar' /></p>
<p>Memang, pasar ini ndak lebih besar dari pasar sejenis di kawasan Senen, namun berada di surga makanan ini saja sudah cukup membingungkan.</p>
<p>Setelah tenggelam dalam kebingungan ahirnya saya ndak jadi membeli apa pun. Cacing perut yang nakal malah memaksa kami njujug ke penjual bubur ayam di pentokan pasar. Soal bubur ini <a href="http://jengjeng.matriphe.com/index.php/2008/06/27/bubur-ayam-subuh-versus-bandrek-abah.html" title="Bubur Ayam Subuh versus Bandrek Abah">sudah saya posting tersendiri</a>.</p>
<p>Pasar yang memang mulai ada sekitar 3 tahun lalu ini lumayan lengkap. Corak dagangannya beragam dan jumlahnya yang bejibun, membuat pasar ini sering digunakan sebagai pusat kulakan jajanan untuk dijual kembali di pasar-pasar tradisional di sekitarnya.</p>
<p>Namun menurut informasi dari <a href="http://blogiway.blogspot.com/" title="Iway" target="_blank">Kang Iway</a>, keberadaan pasar ini rupanya sudah cukup lama. Dugaan saya sih pasar ini mulai ramai lagi setelah kebakaran pasar pada tahun 2005. Matur sengsu, Kang! <img src='http://jengjeng.matriphe.com/smilies/yahoo_bigsmile.gif' alt='&#58;&#68;' class='wp-smiley' width='18' height='18' title='&#58;&#68;' /></p>
<p>Entah apakah pasar ini juga merupakan &#8220;ekstensi&#8221; dari Pasar Subuh yang ada di Pasar Senen, mengingat faktor jarak, saya kurang mengerti sejarahnya. Mungkin njenengan bisa menambahkan?</p>
<p>Namun satu hal, kehidupan pasar di pagi hari menjadi daya tarik tersendiri. Setidaknya buat saya. <img src='http://jengjeng.matriphe.com/smilies/yahoo_bigsmile.gif' alt='&#58;&#68;' class='wp-smiley' width='18' height='18' title='&#58;&#68;' /></p>
<p>Pasar tradisional, selain menjadi ajang transaksi jual beli yang dihiasi dengan tawar menawar, rupanya juga menjadi ajang bersosialisasi dan berinteraksi, baik antar pedagang, maupun pedagang dengan pembelinya.</p>
<p>Hal yang ndak bisa kita temukan di pasar modern semacam swalayan dan supermarket. Tentu ini terlepas dari kebersihan, kepraktisan, dan berbagai kemudahan yang ditawarkan oleh pasar modern.</p>
<p>Inilah kenapa saya selalu merasa nyaman dan senang ngubek jajanan di pasar atau kaki lima. Selain faktor harga, ada sentuhan lain yang ndak saya dapatkan di restoran mewah, apalagi restoran waralaba.</p>
<p>Ah, potret keramahan dan interaksi semacam inilah yang membuat saya selalu kangen pulang..</p>
<p>Baca juga: <a href="http://blogiway.blogspot.com/2007/09/pasar-ngantuk.html" title="Pasar Ngantuk" target="_blank">Pasar Ngantuk</a> oleh kang Iway.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://jengjeng.matriphe.com/ngubek-pasar-subuh-blok-m.html/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>43</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>JalanSutra Ngubek Pasar Bendungan Hilir</title>
		<link>http://jengjeng.matriphe.com/jalansutra-ngubek-pasar-bendungan-hilir.html</link>
		<comments>http://jengjeng.matriphe.com/jalansutra-ngubek-pasar-bendungan-hilir.html#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 16 Jun 2008 09:03:30 +0000</pubDate>
		<dc:creator>matriphe</dc:creator>
				<category><![CDATA[Destinasi]]></category>
		<category><![CDATA[Travelogue]]></category>
		<category><![CDATA[Urban & Perkotaan]]></category>
		<category><![CDATA[Jakarta]]></category>
		<category><![CDATA[JalanSutra]]></category>
		<category><![CDATA[pasar]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://jengjeng.matriphe.com/index.php/2008/06/16/jalansutra-ngubek-pasar-bendungan-hilir.html</guid>
		<description><![CDATA[Setelah sukses dengan Beringharjo Hunting Tour, JalanSutra kembali menggelar acara Ngupas Benhil (Ngubek Pasar Bendungan Hilir). Selain menguak lokasi makan di dalam pasar, acara ini menjadi istimewa karena ada pembagian buku kuliner edisi ke-4yang ditulis oleh para dedengkot JS. Hujan yang turun sejak dini hari sempat membuat saya agak bermalas-malasan. Sempat terpikir saya mo ndak [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><img src="http://jengjeng.matriphe.com/wp-content/uploads/2008/06/js-ngupas-benhil1.jpg" alt="JalanSutra Ngubek Pasar Bendungan Hilir (Ngupas Benhil)" title="JalanSutra Ngubek Pasar Bendungan Hilir (Ngupas Benhil)" width="350" height="263" class="alignnone size-full wp-image-1164" /></p>
<p>Setelah sukses dengan <a href="jengjeng.matriphe.com/index.php/2007/06/22/jajanan-pasar-beringharjo.html" title="Jajanan Pasar Beringharjo">Beringharjo Hunting Tour</a>, <a href="http://yahoogroups.com/group/jalansutra" title="Milis JalanSutra" target="_blank">JalanSutra</a> kembali menggelar acara Ngupas Benhil (Ngubek Pasar Bendungan Hilir).</p>
<p>Selain menguak lokasi makan di dalam pasar, acara ini menjadi istimewa karena ada pembagian buku kuliner edisi ke-4yang ditulis oleh para dedengkot JS.</p>
<p><span id="more-732"></span>Hujan yang turun sejak dini hari sempat membuat saya agak bermalas-malasan. Sempat terpikir saya mo ndak dateng. Tapi mengingat acara ini bakal dihadiri para dedengkot dan senior JS yang sudah melegenda dan tersohor, rasanya saya akan sangat menyesal kalo saya ndak bersua dengan mereka.</p>
<p>Biasanya saya cuma bisa mengagumi kecerdasan lidah dan analisis mereka melalui tulisan, tentu mendengarkan cerita dari mereka secara langsung adalah pengalaman tersendiri.</p>
<p>Akhirnya setelah memaksakan diri, saya pun berangkat juga. Setelah naik busway dan turun di halte Bendungan Hilir, saya berjalan menuju ke pasar.</p>
<p>Saya datang agak terlambat. Rupanya para peserta yang berjumlah sekitar 20-an orang ini sudah berkumpul. Ndak sulit menemukan segerombolan rekan-rekan JS. Yah, kayak sekumpulan bloger yang pada <a href="http://chikastuff.wordpress.com/2008/06/16/laporan-kopdar-monas-kopdar-fki/" title="Laporan Kopdar Monas + Kopdar FKI" target="_blank">kopdar di Monas</a> itu. <img src='http://jengjeng.matriphe.com/smilies/yahoo_bigsmile.gif' alt='&#58;&#68;' class='wp-smiley' width='18' height='18' title='&#58;&#68;' /></p>
<p>Pasar Benhil saat itu begitu bersih dan rapi. Usut punya usut, rupanya denger-denger <acronym title="GUbernur DKI, Fauzi Bowo">Bang Foke</acronym> mau sidak ke pasar tersebut. Lah? Sidak kok pake persiapan bebersih begini, sih? Mana unsur dadakannya?</p>
<p>Saya pun berkenalan dengan rekan-rekan JS yang sudah nongol di sana. Saya ketemu lagi sama Teh Cindy yg pernah saya jumpa juga ketika acara di Beringharjo. Makin ndut aja, dia. <img src='http://jengjeng.matriphe.com/smilies/yahoo_bigsmile.gif' alt='&#58;&#68;' class='wp-smiley' width='18' height='18' title='&#58;&#68;' /></p>
<p>Saya ikut acara JS ini juga baru 2 kali. Pertama ya acara di Beringharjo pas saya masih di Jogja. Kedua ya Ngupas Benhill kemarin itu. JS sebenernya sering bikin acara, cuma karena lokasinya kebanyakan di Jakarta, saya agak kesulitan saat itu untuk ikutan.</p>
<p>Setelah berbincang dan berkenalan, acara pembagian tim pun dimulai. Skenarionya, tiap tim akan berlomba untuk mencari lokasi makan yang mantab. Kemudian lokasi dan makanan itu didata untuk kemudian dinilai. Tim yang paling banyak mendapat hasil buruan, itulah yang menang.</p>
<p>Tak lupa, setelah lokasi itu didatangi, diicipi, dijarah kelezatannya, tentu harus dibayar dan ditempeli stiker JS. Tim yang udah melihat stiker di lokasi tersebut ya harus mengalah dan mencari tempat lain. Saya bergabung sama Teh Euis, Mbak Iping, dan Mbak Ika. Serasa saya paling ganteng sendiri!</p>
<p>Kami langsung menusuk ke jantung pasar melalui pintu tengah. Jleb! Sebuah warung makan Padang Bopet Mini langsung kami jajah dengan semena-mena.</p>
<p>Ketupat Sayur plus Rendang pun segera kami sikat tanpa menunggu komando. Bubur Kampiun tak ketinggalan juga kami hajar untuk memeriahkan suasana.</p>
<p><img src='http://jengjeng.matriphe.com/wp-content/uploads/2008/06/js-ketupat-rendang-kampiun.jpg' alt='Ketupat Sayur, Rendang, dan Bubur Kampiun' /></p>
<p>Ketupat Sayur ini biasa aja menurut saya. Cuma yang membuat istimewa adalah digunakannya daun pakis di dalamnya. Daun ini terasa kaku kriuk-kriuk. Di Ketupat Sayur lainnya, biasanya digunakan daun singkong.</p>
<p>Rendangnya pun unik. Dengan sendok, memotong itu daging alotnya minta ampun kayak sandal jepit baru. Ternyata ada teknik untuk mengiris daging dengan sendok.</p>
<p>Usahakan mengenai bagian yang sejajar uratnya, sehingga itu daging mudah terkelupas. Daging yang alot karena susah dipotong rupanya begitu empuk ketika berada di dalam mulut. So, <em>don&#8217;t judge a rendang by its alotness, my friend</em>!</p>
<p>Warna rendang yang menghitam menunjukkan usia rendang. Makin tua usianya, makin meresap bumbunya, makin dahsyat pula rasanya.</p>
<p>Bubur Kampiun pun mendapat giliran untuk dieksekusi. Perpaduan gurihnya bubur putih dengan manisnya sarikaya yang berwarna coklat dan guyuran gula merah membuat mulut terasa segar setelah diterjang santan dari Ketupat Sayur.</p>
<p>Potongan pisang dan aksesoris berupa ubi rebus yang dipotong bola tercelup gula merah juga ikut memeriahkan suasana. Sepintas, rasa bubur ini mirip-mirip Es Palu Butung yang tanpa es..</p>
<p>Puas mereguk kelezatan, tak lupa stiker yang sudah disiapkan ditempelkan dengan manis di warung si penjual. Hohoh!</p>
<p>Lanjut, kami menuju ke warung Gado-Gado Bu Bambang di tengah pasar. Buset, kami ketemu dengan tim lain yang digawangi Mbak Lidia Tanod, Mas Andrew Mulianto, Mas Teddy, dan Mas Adi Taroepratjeka.</p>
<p>Sontak Mas Adi tereak, &#8220;ooii.. yang doyan rujak cingur ke sini!!&#8221;. Dengan kalap saya pun lari-lari histeris nyerobot Rujak Cingur yang udah hampir habis dibantai Mas Adi.</p>
<p>Rasanya boleh dipoedjiken. Sambel petisnya kuentel dan dahsyat. Namun ada yang unik, saya menemukan potongan jambu air merah di sela-sela hitamnya sambel petis. Sesuatu yang ndak ditemukan di Rujak Cingur di Surabaya sono.. <img src='http://jengjeng.matriphe.com/smilies/yahoo_bigsmile.gif' alt='&#58;&#68;' class='wp-smiley' width='18' height='18' title='&#58;&#68;' /></p>
<p>Bau harum Soto Sulung yang dibawa Teh Euis langsung ngawe-awe. Sebelum nyeruput soto, saya sempet ngicipi pula Gado-Gadonya Bu Bambang. Rupanya lidah saya masih terbuai oleh dahsyatnya sambel petis sehingga saya ndak bisa obyektif menilai rasa gado-gado ini.</p>
<p>Guyuran Soto Sulung Cak Abbas langsung menyadarkan lidah saya yang terbuai sambel petis. Seger-seger kecut langsung membuat saya merem-melek.</p>
<p>Saya merasa kuah ini terlalu kecut. Apakah ini karena perasan jeruk nipis yang terlalu banyak? Bisa jadi, wong kami ngicipi soto ini dengan cara seperti lagu dangdut, Semangkok Berempat! <img src='http://jengjeng.matriphe.com/smilies/yahoo_bigsmile.gif' alt='&#58;&#68;' class='wp-smiley' width='18' height='18' title='&#58;&#68;' /></p>
<p>Kami pun berpisah dengan tim yang masih menikmati beberapa makanan di Warung Bu Bambang yang mereka untuk melanjutkan perburuan.</p>
<p>Ndak banyak yang kami temukan di dalam. Ke lantai atas pun sia-sia. Kami pun memutuskan keluar dan memepet pasar dari sayap. Deretan Warung Padang dengan rapi berbaris di sana. Buset, saya seperti merasa di Padang, melihat jejeran warung makan ini. <img src='http://jengjeng.matriphe.com/smilies/yahoo_laughloud.gif' alt='&#58;&#41;&#41;' class='wp-smiley' width='18' height='18' title='&#58;&#41;&#41;' /></p>
<p>Ikan Bakar Sinar Surya yang ada di pojokan menjadi tujuan kami. Si penjual seolah-olah mengundang kami dengan asap pembakaran ikannya. Sepotong ikan bawal bakar yang malang segera kami bungkus dengan maksud untuk dicicipi di meeting point kami, RM. Meutia.</p>
<p><img src='http://jengjeng.matriphe.com/wp-content/uploads/2008/06/js-kopi-tarik-aceh.jpg' alt='Atraksi Kopi Tarik Aceh' class="alignright" /></p>
<p>Kami merasa sudah pol-polan, walau kami cuma merasa hasil yang kami dapat ndak memenuhi harapan. Segera kaki kami langkahkan, menuju RM Meutia seperti yang dijanjikan. Eh, kok berima ya? <img src='http://jengjeng.matriphe.com/smilies/yahoo_giggle.gif' alt='&#59;&#41;&#41;' class='wp-smiley' width='18' height='18' title='&#59;&#41;&#41;' /></p>
<p>Di RM Meutia saya dan Mas Adi tergoda untuk memesan kopi tarik setelah melihat pelayan membuat Kopi Tarik.</p>
<p>Atraksi pelayan tersebut menarik perhatian saya, selain pernak-pernik interior di dalam rumah makan ini begitu ciamik.</p>
<p>Rupanya dari atraksi inilah nama Kopi (juga Teh) Tarik berasal. Ketika membuatnya, air kopi dan susu dituang ke dalam sebuah wadah dengan cara seperti menarik tali.</p>
<p>Padahal isinya sih padahal ya cuma Kopi Aceh yang sudah disaring dan bebas ampas dengan susu. Sama kayak bikin Kopi Susu biasa. <img src='http://jengjeng.matriphe.com/smilies/yahoo_bigsmile.gif' alt='&#58;&#68;' class='wp-smiley' width='18' height='18' title='&#58;&#68;' /></p>
<p>Hasil dari tarikan kopi ini menghasilkan buih-buih kecil di atas permukaan kopi. Warna Kopi Aceh yang hitam sontak berubah menjadi coklat tua. Baunya begitu menggoda untuk segera disruput.. <img src='http://jengjeng.matriphe.com/smilies/yahoo_drool.gif' alt='&#61;&#112;&#126;' class='wp-smiley' width='18' height='18' title='&#61;&#112;&#126;' /></p>
<p>Beberapa benda kuno nampak cantik nangkring di dinding berdampingan dengan kain-kain. Gramofon dan sempoa antik berada di meja kasir yang juga tak kalah unik. Tak lepas kamar mandi pun tersentuh nuansa etnik namun mewah. Saya pun duduk di atas sebuah lincak dari kayu ukiran sambil menunggu tim yang lain merapat. Cukup mengesankan!</p>
<p>Seluruh peserta pun akhirnya berkumpul lengkap. Di ruang atas kami bercengkrama sebentar sambil menunggu Mie Aceh terhidang. Begitu mi datang, langsung saja kami sikat tanpa banyak cakap. Eh, berima lagi! <img src='http://jengjeng.matriphe.com/smilies/yahoo_laughloud.gif' alt='&#58;&#41;&#41;' class='wp-smiley' width='18' height='18' title='&#58;&#41;&#41;' /></p>
<p>Soal pegimana bentuk dan rasa Mie-nya, silakan buka Buku Kuliner Edisi 04 &#8211; Mie Enak di Jakarta pada halaman 15! <img src='http://jengjeng.matriphe.com/smilies/yahoo_bigsmile.gif' alt='&#58;&#68;' class='wp-smiley' width='18' height='18' title='&#58;&#68;' /></p>
<p>Namun menurut saya, kuah Mi Aceh ini kurang garang. Rempahnya ndak seperti Mi Aceh yang dulu pernah saya cicipi di Jogja. Warna kuah yang merah menantang rupanya rempahnya tampil diam-diam.</p>
<p><img src='http://jengjeng.matriphe.com/wp-content/uploads/2008/06/js-mi-aceh.jpg' alt='Mie Aceh' /></p>
<p>Paling mantab memang memakan mi ini dalam keadaan panas ngepul-ngepul. Sedikit saja dingin, rasanya akan berubah drastis. Bagi yang suka, acar bawang merah bisa dimasukkan ke dalam kuah, lalu memakannya cepat-cepat.</p>
<p>Senang rasanya dapat berjumpa langsung dengan para penulis dan kontributor buku kuliner tersebut. Ada Mas Irvan Kartawiria, Mas Andrew Mulianto, Teh Cindy van Cereth Kompor, Mbak Grace Khoesuma, Mbak Lidia Tanod, Mas Adi Taroepratjeka, Mas Benny Tjandra, dan Capt. Gatot Purwoko.</p>
<p>Mendengar pengalaman dan cerita dari mereka tentang &#8220;susahnya&#8221; berburu makanan lalu menuliskan ke buku menjadi pengalaman tersendiri. Mereka tak segan berbagi cerita dan pengalaman kuliner mereka.</p>
<p>Namun ada hal yang ndak seperti ekspektasi saya. Ketika di Beringharjo, masing-masing tim mempresentasikan temuannya dan tim yang lain mengomentari dan bila perlu berdiskusi. Namun kemarin, acara yang saya harapkan saya bisa <em>ngangsu kaweruh</em>, menimba ilmu dari para dedengkot JS ini ndak terlaksana.</p>
<p>Bisa dimaklumi, karena makanan yg ditemukan ini hampir sama semua: Makanan Padang! <img src='http://jengjeng.matriphe.com/smilies/yahoo_laughloud.gif' alt='&#58;&#41;&#41;' class='wp-smiley' width='18' height='18' title='&#58;&#41;&#41;' /> Berbeda memang dengan di Beringharjo yang banyak ragam dan warna.</p>
<p>Oiya, tim kami dinyatakan memenangi games, padahal kami merasa makanan kami ndak banyak yang kami catat. Rupanya penilaian dilakukan berdasarkan &#8220;urutan stiker&#8221; yang tertempel di warung yg kami temui. Karena kami banyak menempel stiker di tempat-tempat yang belum ada stiker dari tim lain, maka nilai kami yang paling tinggi.</p>
<p>Sebenernya ada tim lain yang lebih banyak jumlah makanannya, namun didiskualifikasi. Ya jelas, wong anggota timnya berisi panitia semua! <img src='http://jengjeng.matriphe.com/smilies/yahoo_bigsmile.gif' alt='&#58;&#68;' class='wp-smiley' width='18' height='18' title='&#58;&#68;' /></p>
<p>Namun secara keseluruhan, acara ini bagus banget. Salut buat panitianya. Kalo ada acara lagi, jika waktu dan lokasinya pas, saya pasti datang! <img src='http://jengjeng.matriphe.com/smilies/yahoo_dance.gif' alt='&#92;&#58;&#100;&#47;' class='wp-smiley' width='26' height='18' title='&#92;&#58;&#100;&#47;' /></p>
<p>La kalo ndak dateng, <em>goodie bag</em> yang dijanjikan sama Mbak Lidia ndak bakal saya dapat.. <img src='http://jengjeng.matriphe.com/smilies/yahoo_sighing.gif' alt='&#58;&#45;&#60;' class='wp-smiley' width='24' height='18' title='&#58;&#45;&#60;' /></p>
<p>Postingan ini juga dipostingkan di milis JalanSutra sebagai laporan karena tim kami memenangkan games. <img src='http://jengjeng.matriphe.com/smilies/yahoo_wink.gif' alt='&#59;&#41;' class='wp-smiley' width='18' height='18' title='&#59;&#41;' /></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://jengjeng.matriphe.com/jalansutra-ngubek-pasar-bendungan-hilir.html/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>41</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Pasar Sore Ramadhan, Kauman, Jogja</title>
		<link>http://jengjeng.matriphe.com/pasar-sore-ramadhan-kauman-jogja.html</link>
		<comments>http://jengjeng.matriphe.com/pasar-sore-ramadhan-kauman-jogja.html#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 20 Sep 2007 15:35:25 +0000</pubDate>
		<dc:creator>matriphe</dc:creator>
				<category><![CDATA[Destinasi]]></category>
		<category><![CDATA[Festival, Seni, Budaya]]></category>
		<category><![CDATA[pasar]]></category>
		<category><![CDATA[ramadhan]]></category>
		<category><![CDATA[Yogyakarta]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://jengjeng.matriphe.com/index.php/2007/09/20/pasar-sore-ramadhan-kauman-jogja.html</guid>
		<description><![CDATA[Bosan dengan hidangan berbuka puasa yang itu-itu saja? Bingung nyari di mana menu untuk berbuka, bahkan sahur? Di Jogja, kita dapat dengan mudah menemukan pusat penjual makanan musiman, terutama di Bulan Ramadhan. Jalan Kaliurang, sekitar Kampus UGM, sekitar Kampus UNY, Jalan Godean, selalu dipenuhi para penjual menu berbuka. Tapi ada satu tempat unik dan bisa [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><img src="http://jengjeng.matriphe.com/wp-content/uploads/2007/09/pasar-kauman1.jpg" alt="Pasar Sore Ramadhan Kauman" title="Pasar Sore Ramadhan Kauman" width="350" height="263" class="alignnone size-full wp-image-1271" /></p>
<p>Bosan dengan hidangan berbuka puasa yang itu-itu saja? Bingung nyari di mana menu untuk berbuka, bahkan sahur?</p>
<p>Di Jogja, kita dapat dengan mudah menemukan pusat penjual makanan musiman, terutama di Bulan Ramadhan. Jalan Kaliurang, sekitar Kampus UGM, sekitar Kampus UNY, Jalan Godean, selalu dipenuhi para penjual menu berbuka.</p>
<p>Tapi ada satu tempat unik dan bisa menjadi alternatif tujuan berburu makanan untuk berbuka. Tempat itu adalah di Kampung Kauman, yang sering disebut dengan Pasar Sore Ramadhan Kauman.</p>
<p>Kali ini saya akan menjelajah surga dunia makanan Pasar Sore Ramadhan di Kauman untuk mencari menu yang unik dan menarik.</p>
<p><span id="more-392"></span>Kauman sendiri adalah salah satu daerah di lingkungan Kraton Yogyakarta di mana di situ berkumpul para alim ulama dan ahli agama. Organisasi Muhammadiyah yang dirintis oleh K.H. Ahmad Dahlan pun lahir di sini.</p>
<p>Kauman berasal dari kata &#8220;qoimuddin&#8221; yang kemudian karena lidah Jawa berubah jadi &#8220;pakauman&#8221; yang berarti orang-orang berilmu agama. Nama Kauman akhirnya menjadi lebih terkenal dan mudah dilafalkan. Selain di Jogja, kampung Kauman juga dikenal di Solo, Demak, Kudus, Semarang, Surabaya, dan Gersik.</p>
<p>Suasana santri begitu terasa begitu kita melangkahkan kaki, menelusuri lorong-lorong sempit di antara rumah-rumah penduduk. Bangunan-bangunan tua berarsitektur jadul masih dapat kita temukan di sini.</p>
<p>Tak jarang suara lantunan ayat suci Al Quran terdengar samar-samar namun jelas menyeruak dari rumah-rumah penduduk. Apalagi bulan Ramadahan macam gini. Suasana religinya sangat terasa. Bila anda Eblis, dipastikan kepanasan! <img src='http://jengjeng.matriphe.com/smilies/yahoo_devil.gif' alt='&#62;&#58;&#41;' class='wp-smiley' width='18' height='18' title='&#62;&#58;&#41;' /></p>
<p>Namun, di balik suasana santri yang terasa, ada keriuhan lain ketika Ramadhan tiba. Di salah satu lorong Kauman, <strike>tepatnya di Jalan Nggerjen</strike> lorong Pasar Tiban (<a href="http://jengjeng.matriphe.com/index.php/2007/09/20/pasar-sore-ramadhan-kauman-jogja.html#comment-2237" title="keterangan dari Arnanto">menurut Arnanto</a>), berderet para ibu-ibu berjualan beraneka macam ragam makanan. <img src='http://jengjeng.matriphe.com/smilies/yahoo_drool.gif' alt='&#61;&#112;&#126;' class='wp-smiley' width='18' height='18' title='&#61;&#112;&#126;' /></p>
<p>Konon kegiatan ini sudah berlangsung selama lebih dari 2 dekade. Sekitar tahun 1973, ibu-ibu warga sekitar mulai merintis usaha dengan menyediakan makanan untuk menu berbuka puasa. Kemudian dalam perjalanannya, penjual di pasar sore ini ndak hanya dari Kampung Kauman, tapi dari luar juga ikut bergabung di pasar ini.</p>
<p>Berbagai macam makanan dijual di sini. Mulai dari jajan pasar tradisional, aneka es dan koktail, kolak, hingga lauk berat pun ada. Bahkan makanan-makanan tradisional yang jarang ditemukan pada hari-hari biasa pun ikutan nongkrong di pasar ini.</p>
<p>Saya pun menjelajah tiap meja stan. Berbagai menu makanan saya cermati benar-benar untuk mencari yang istimewa. </p>
<p>Weh, ada beberapa makanan yang sudah lama ndak saya temukan muncul. Carang Gesing, Jadah Manten, Semar Mendem, Nogosari, Jenang Sumsum, hingga Tahu Sumedang pun ada! <img src='http://jengjeng.matriphe.com/smilies/yahoo_laughloud.gif' alt='&#58;&#41;&#41;' class='wp-smiley' width='18' height='18' title='&#58;&#41;&#41;' /></p>
<p>Tapi, eits, tunggu dulu! Mata penuh nafsu saya tak sengaja menatap dan terpaku pada sebentuk onggokan berwarna putih di sebuah meja stan. Usut punya usut, onggokan jajanan itu adalah Kicak, jajanan tradisional yang biasanya muncul cuma di bulan Ramadhan! <img src='http://jengjeng.matriphe.com/smilies/yahoo_drool.gif' alt='&#61;&#112;&#126;' class='wp-smiley' width='18' height='18' title='&#61;&#112;&#126;' /></p>
<p><img src='http://jengjeng.matriphe.com/wp-content/uploads/2007/09/kicak.jpg' alt='Kricak, makanan khas Ramadhan' /></p>
<p>Kicak terbuat dari ketan yang dikukus kemudian dicampur dengan potongan nangka yang kemudian dilumuri parutan kelapa. Rasanya, gurih-gurih manis dan kenyal. Harganya cuma 1.500 rupiah per bungkus. <img src='http://jengjeng.matriphe.com/smilies/yahoo_bigsmile.gif' alt='&#58;&#68;' class='wp-smiley' width='18' height='18' title='&#58;&#68;' /></p>
<p>Dari 48 meja penjaja yang berderet sepanjang kurang lebih 300 meter ini, saya cuma menemukan 2 stan saja yang menjual Kricak. Lainnya berisi jajanan pasar biasa, aneka minuman, hingga sayur dan lauk yang berat-berat. Padahal dulu, menurut <a href="http://arnanto.web.ugm.ac.id/" title="PriyayiSae" target="_blank">Arnanto</a> si anak Kauman, <strike>Kricak</strike> Kicak merupakan makanan yang menjadi menu andalan pasar ini.</p>
<p>Bila anda resah dengan penjual makanan yang kebanyakan mahasiswi yang cuma nongkrong ngabuburit sambil pura-puara jualan kolak yang penampilannya ndak mau kalah menggoda dengan dagangan yang dijajakannya seperti yang anda temukan di Jalan Kaliurang, percayalah, di sini pandangan anda akan terjaga!</p>
<p>Siapa juga yang mau liat ibu-ibu pake kaos kekecilan dan menjajakan makanan dengan nada mendesah semi-semi menggoda kek begitu? <img src='http://jengjeng.matriphe.com/smilies/yahoo_giggle.gif' alt='&#59;&#41;&#41;' class='wp-smiley' width='18' height='18' title='&#59;&#41;&#41;' /></p>
<p>Keberadaan Pasar Sore Ramadhan di Kauman ini menjadi daya tarik tersendiri ketika Ramadhan tiba. Semaraknya senantiasa dinanti oleh masyarakat. Keberadaannya yang tetap lestari ndak terlepas dari upaya masyarakat untuk turut menyiarkan gema Ramadhan.</p>
<p>Jika kamu ingin merasakan nuansa lain ketika berburu menu berbuka, datanglah ke sini! <img src='http://jengjeng.matriphe.com/smilies/yahoo_wink.gif' alt='&#59;&#41;' class='wp-smiley' width='18' height='18' title='&#59;&#41;' /></p>
<p>Tambahan: Jika anda berkunjung hari Kamis, anda mungkin beruntung mendapatkan takjil buka puasa nasi <a href="http://arnanto.web.ugm.ac.id/priyayisae/2007/09/22/pengajian-vs-gule-kambinx/" title="Pengajian Vs Gule KambinX" target="_blank">Gulai Kambing khas Masjid Gede Kauman</a>. <img src='http://jengjeng.matriphe.com/smilies/yahoo_devil.gif' alt='&#62;&#58;&#41;' class='wp-smiley' width='18' height='18' title='&#62;&#58;&#41;' /></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://jengjeng.matriphe.com/pasar-sore-ramadhan-kauman-jogja.html/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>42</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Jajanan Pasar Beringharjo</title>
		<link>http://jengjeng.matriphe.com/jajanan-pasar-beringharjo.html</link>
		<comments>http://jengjeng.matriphe.com/jajanan-pasar-beringharjo.html#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 22 Jun 2007 06:12:09 +0000</pubDate>
		<dc:creator>matriphe</dc:creator>
				<category><![CDATA[Kuliner]]></category>
		<category><![CDATA[bakmi]]></category>
		<category><![CDATA[bubur]]></category>
		<category><![CDATA[jajanan]]></category>
		<category><![CDATA[JalanSutra]]></category>
		<category><![CDATA[kopdar]]></category>
		<category><![CDATA[kue]]></category>
		<category><![CDATA[pasar]]></category>
		<category><![CDATA[roti]]></category>
		<category><![CDATA[ubi]]></category>
		<category><![CDATA[Yogyakarta]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://jengjeng.matriphe.com/index.php/2007/06/22/jajanan-pasar-beringharjo.html</guid>
		<description><![CDATA[Seperti janji saya kemarin, kali ini saya mo posting soal hasil perburuan Beringharjo Hunting Tour bareng JSers Jogja kemarin itu. Jadi bersiap-siaplah ngiler dan ngeces-ngeces.. Sebagai kekayaan food heritage Jogja, makanan ini semakin lama dan semakin terpinggirkan. Bahkan kami harus ngubek-ubek hingga ke sudut-sudut pasar. Beberapa di antaranya memang kami temukan di pinggiran pasar sih, [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><img src="http://jengjeng.matriphe.com/wp-content/uploads/2007/06/jajan-pasar1.jpg" alt="Jajanan Pasar Beringharjo Hunting Tour" title="Jajanan Pasar Beringharjo Hunting Tour" width="350" height="263" class="alignnone size-full wp-image-1384" /></p>
<p>Seperti <a href="http://jengjeng.matriphe.com/index.php/2007/06/18/hatrick-kopdar.html#comment-1318" title="Janji saya kepada Fahmi">janji saya kemarin</a>, kali ini saya mo posting soal hasil perburuan <a href="http://jengjeng.matriphe.com/index.php/2007/06/18/hatrick-kopdar.html#bhtjs" title="Beringharjo Hunting Tour jalansutra">Beringharjo Hunting Tour</a> bareng <a href="http://groups.yahoo.com/group/jalansutra" title="Jalansutra" target="_blank">JS</a>ers Jogja kemarin itu. Jadi bersiap-siaplah ngiler dan ngeces-ngeces.. <img src='http://jengjeng.matriphe.com/smilies/yahoo_drool.gif' alt='&#61;&#112;&#126;' class='wp-smiley' width='18' height='18' title='&#61;&#112;&#126;' /></p>
<p>Sebagai kekayaan food heritage Jogja, makanan ini semakin lama dan semakin terpinggirkan. Bahkan kami harus ngubek-ubek hingga ke sudut-sudut pasar. Beberapa di antaranya memang kami temukan di pinggiran pasar sih, tapi tetep saja susah menemukannya! Apalagi yang jual sudah simbah-simbah, membuat kesan beberapa makanan ini hampir punah jika tidak diselamatkan dan diperkenalkan kepada generasi muda. Halah!</p>
<p>Makanan tradisional ini mungkin di tempat lain beda namanya. Bahkan beberapa nama makanan itu saya baru dengar dan baru tau bentuk dan rasanya ya pas ikutan acara kemarin itu. Jadi kalo temen-temen menemukan makanan sejenis tapi berbeda nama, tak perlu dipermasalahkan bukan? <img src='http://jengjeng.matriphe.com/smilies/yahoo_wink.gif' alt='&#59;&#41;' class='wp-smiley' width='18' height='18' title='&#59;&#41;' /></p>
<p>Beberapa makanan yang akan saya tulis di sini antara lain: <a href="http://jengjeng.matriphe.com/index.php/2007/06/22/jajanan-pasar-beringharjo.html#matakebo" title="Kue Mata Kebo">Kue Mata Kebo</a> (ada yang menyebut dengan Mendhut atau Kue Putri Mandi), <a href="http://jengjeng.matriphe.com/index.php/2007/06/22/jajanan-pasar-beringharjo.html#mangkuk" title="Kue Mangkuk">Kue Mangkuk</a>, <a href="http://jengjeng.matriphe.com/index.php/2007/06/22/jajanan-pasar-beringharjo.html#bubur" title="berbagai jenis bubur">berbagi jenis bubur</a>, <a href="http://jengjeng.matriphe.com/index.php/2007/06/22/jajanan-pasar-beringharjo.html#kolomben" title="Roti Kolomben">Roti Kolomben</a>, <a href="http://jengjeng.matriphe.com/index.php/2007/06/22/jajanan-pasar-beringharjo.html#pentil" title="Bakmi Pentil">Bakmi Pentil</a>, <a href="http://jengjeng.matriphe.com/index.php/2007/06/22/jajanan-pasar-beringharjo.html#emprit" title="Bolu Emprit">Bolu Emprit</a>, <a href="http://jengjeng.matriphe.com/index.php/2007/06/22/jajanan-pasar-beringharjo.html#umbi" title="berbagai umbi-umbian">berbagai umbi-umbian</a>, <a href="http://jengjeng.matriphe.com/index.php/2007/06/22/jajanan-pasar-beringharjo.html#jahe" title="Biskuit Jahe">Biskuit Jahe</a>, <a href="http://jengjeng.matriphe.com/index.php/2007/06/22/jajanan-pasar-beringharjo.html#kethak">Kethak Manis</a>, <a href="http://jengjeng.matriphe.com/index.php/2007/06/22/jajanan-pasar-beringharjo.html#blondho" title="Blondho">Blondho</a>, dan <a href="http://jengjeng.matriphe.com/index.php/2007/06/22/jajanan-pasar-beringharjo.html#growol" title="growol">Growol</a>.</p>
<p><span id="more-274"></span><a name="matakebo"></a><strong>KUE MATA KEBO / MENDHUT / KUE PUTRI MANDI</strong></p>
<p><img src='http://jengjeng.matriphe.com/wp-content/uploads/2007/06/matakebo.jpg' alt='Kue Mata Kebo / Mendhut / Kue Putri Mandi' /></p>
<p>Seperti namanya, kue ini berbentuk seperti mata kerbau, walau mata kerbau jelas berbeda bentuknya dengan kue ini. <img src='http://jengjeng.matriphe.com/smilies/yahoo_bigsmile.gif' alt='&#58;&#68;' class='wp-smiley' width='18' height='18' title='&#58;&#68;' /></p>
<p>Awalnya saya taunya ini kue adalah mendhut, walau mendhut hanya terdiri dari sebuah tongolan saja sedangkan ini ada 2 tongolan. <img src='http://jengjeng.matriphe.com/smilies/yahoo_bigsmile.gif' alt='&#58;&#68;' class='wp-smiley' width='18' height='18' title='&#58;&#68;' /> Ada juga yang bilang ini adalah Kue Putri Mandi. Kalo Kue Putri Mandi, kira-kira apanya yang membuat kue ini disebut &#8220;Putri mandi&#8221;, ya? <img src='http://jengjeng.matriphe.com/smilies/yahoo_devil.gif' alt='&#62;&#58;&#41;' class='wp-smiley' width='18' height='18' title='&#62;&#58;&#41;' /></p>
<p>Kue ini terbuat dari tepung ketan yang berisi unti (parutan kelapa bercampur gula merah) berwarna merah dan hujau kemudian disiram dengan adonan putih yang terbuat dari tepung beras. Adonan ini kemudian dibungkus dengan daun pisang kemudian dikukus.</p>
<p>Sedangkan versi lain menyebutkan bahwa Kue Mata Kebo itu berisi kacang hijau, sedangkan yang berisi unti ini disebut dengan Kue Putri Mandi. Seperti yang saya bilang, bentuk boleh sama, tapi nama bisa beda. <img src='http://jengjeng.matriphe.com/smilies/yahoo_bigsmile.gif' alt='&#58;&#68;' class='wp-smiley' width='18' height='18' title='&#58;&#68;' /></p>
<p>Rasanya? Kenyal-kenyal tapi manis. <img src='http://jengjeng.matriphe.com/smilies/yahoo_drool.gif' alt='&#61;&#112;&#126;' class='wp-smiley' width='18' height='18' title='&#61;&#112;&#126;' /></p>
<p>Penjual kue ini bisa ditemukan di depan pintu masuk Pasar Beringharjo sebelah selatan, bercampur dengan penjual pecel.</p>
<p><a name="mangkuk"></a><strong>KUE MANGKUK</strong></p>
<p><img src='http://jengjeng.matriphe.com/wp-content/uploads/2007/06/kuemangkuk.jpg' alt='Kue Mangkuk' /></p>
<p>Kue berbentuk seperti bolu ini disebut Kue Mangkuk. Terbuat dari tepung beras, yang kemudian diberi sumba (pewarna makanan) berwarna merah. Kalo bolu dibungkus kertas, kue ini dibungkus daun pisang di bawahnya.</p>
<p>Rasanya manis dan teksturnya tidak sepadat kue bolu. Disebut Kue Mangkuk karena bentuk wadahnya yang terbuat dari daun pisang ini mirip mangkuk.</p>
<p>Kue ini dijual di tempat saya membeli Kue Mata Kebo.</p>
<p><a hame="bubur"></a><strong>BERBAGAI JENIS BUBUR</strong></p>
<p><img src='http://jengjeng.matriphe.com/wp-content/uploads/2007/06/penjualbubur.jpg' alt='Penjual Bubur' /></p>
<p>Kalo di sini, istilah jenang itu bisa dibilang bubur yang manis. Jadi kalo orang bilang mau beli jenang, itu maksudnya ya bubur. Kalo bubur biasanya identik dengan bubur yang asin.</p>
<p>Nah, di sini saya menemukan Bubur (jenang) Ngangrang atau Rangrang. Bubur ini berwarna kuning, terbuat dari ketan, dan sekilas memang terlihat seperti kumpulan semut Rangrang. Rasanya manis dan terdapat sensasi rasa jahenya.</p>
<p>Kemudian yang warna merah itu adalah bubur mutiara. Bukan mutiara dari tiram terus dibikin bubur, tapi terbuat dari sagu yang dibentuk bulat-bulat kecil mirip mutiara. Rasanya manis.</p>
<p>Bubur yang berwarna coklat itu adalah bubur Ubi-Nangka-Kelapa. Dari namanya sudah jelas bahwa bahannya adalah ubi jalar (ketela), nangka, dan kelapa muda. Rasanya manis juga.</p>
<p>Bubur-bubur ini biasa dimakan bareng Bubur Sumsum yang berwarna putih yang terbuat dari tepung beras. Rasanya gurih, biasanya ditambahi juruh (gula merah yang dicairkan). Kali ini Bubur Sumsum dimakan bersama Bubur Ngangrang, Bubur Mutiara, dan Bubur Ubi-Nangka-Kelapa.</p>
<p>Kalo disusun, susunannya adalah, Bubur Ngangrang di bagian paling bawah, kemudian Bubur Sumsum, lalu Bubur Ubi-Nangka-Kelapa, dan Bubur Mutiara di  bagain atas. Setelah itu, di atasnya disiram santan yang gurih.</p>
<p><a name="kolomben"></a><strong>ROTI KOLOMBEN</strong></p>
<p><img src='http://jengjeng.matriphe.com/wp-content/uploads/2007/06/kolomben.jpg' alt='Roti Kolomben' /></p>
<p>Roti ini saya dengar pas acara briefing. Jadi sebelum berburu, kami semua diberi gambaran kira-kira makanan apa yang bisa kami dapatkan.</p>
<p>&#8220;Bentuknya mirip mobil sedan&#8221;, kata Mbak Yuni. Eh ternyata bentuknya lebih mirip duit tail di film-film kungfu tiongkok itu. Kotak, tapi ada semacam tonjolan di tengahnya..</p>
<p>Roti ini strukturnya mirip-mirip Cakwe, tapi pori-porinya lebih sempit. Sepertinya hanya terbuat dari tepung terigu, telur, gula, dan ragi. Roti ini ringan dan tidak padat. Rasanya sih biasa, standar.</p>
<p>Menurut cerita sih, roti ini merupakan roti yang sering dimakan oleh para kaum menengah ke bawah alias kere. Kata &#8220;kolomben&#8221; diduga berasal dari kata &#8220;kala mben&#8221; yang berarti &#8220;dahulu kala&#8221;. Bisa jadi roti ini &#8220;dulu&#8221; begitu populer dan amat sedikit ditemukan, sehingga disebut &#8220;roti&#8221; pada masa dahulu.</p>
<p><a name="pentil"></a><strong>BAKMI PENTIL</strong></p>
<p><img src='http://jengjeng.matriphe.com/wp-content/uploads/2007/06/bakmipentil.jpg' alt='Bakmi Pentil' /></p>
<p>Eits, awas! Jangan salah menyebut nama bakmi ini. Kepleset sedikit ketika nyebut huruf &#0232; jadi &#0233; bisa berabe!</p>
<p>Bakmi ini disebut pentil karena bentuknya mirip dengan pentil sepeda. Itu loh, karet berwarna merah pada sistem katup pada ban jaman dulu. Kalo sekarang, ban berpentil sudah jarang digunakan.</p>
<p>Terbuat dari tepung kanji, membuat bakmi ini terasa kenyal dan ulet. Rasanya asin sehingga untuk memakannya perlu ditemani dengan sejumput sambel. Ada 2 jenis bakmi, yang kuning dan putih. Yang kuning ukurannya lebih besar dan tebal daripada yang putih, rasanya sih sama saja.</p>
<p><a name="emprit"></a><strong>BOLU EMPRIT</strong></p>
<p><img src='http://jengjeng.matriphe.com/wp-content/uploads/2007/06/boluemprit.jpg' alt='Bolu Emprit' /></p>
<p>Bentuk kue ini jangan dibayangkan empuk seperti kue bolu ya, tapi justru keras. Sekilas bentuknya kayak biskuit bayi, tapi rasanya manis banget.</p>
<p>Sepertinya terbuat dari adonan gula karena rasa kue ini asli manis banget kayak Kue Semprit. Walau keras, tapi setelah di lidah, langsung mak nyess..</p>
<p>Disebut Bolu Emprit karena diduga bentuknya yang mungil dan berwarna coklat seperti Burung Emprit (Burung Gereja).</p>
<p><a name="umbi"></a><strong>GEMBILI, KEMPUL, UWI, SUWEK</strong></p>
<p><img src='http://jengjeng.matriphe.com/wp-content/uploads/2007/06/umbi.jpg' alt='Gembili, Kempul, Uwi, Suwek' /></p>
<p>Ini dia golongan umbi-umbian yang mungkin jarang kita kenal. Ternyata ndak hanya singkong, ketela, dan gadung saja yang enak dimakan dan mengenyangkan, tapi beberapa jenis umbi ini pun bisa dijadikan makanan pokok.</p>
<p>Pertama adalah Gembili. Di gambar, Gembili itu yang paling kiri, kecil, bentuknya lonjong. Rasanya sedikit tawar, teksturnya lembut. Kemudian ada Kempul yang sekilas mirip dengan Talas atau Bentul. Mungkin sekeluarga, atau memang namanya saja yang beda?</p>
<p>Lalu yang warnanya pink itu namanya Suwek. Awas ini bukan &#8220;tak suwek-suwek cangkemmu&#8221; yang jadi trademark-nya si Tukul lo ya. Membacanya &#8220;suw&#0233;k&#8221;. Dan yang terakhir yang warnanya kuning itu disebut Uwi.</p>
<p><a name="jahe"></a><strong>BISKUIT JAHE</strong></p>
<p><img src='http://jengjeng.matriphe.com/wp-content/uploads/2007/06/biskuitjahe.jpg' alt='Biskuit Jahe' /></p>
<p>Ini dia biskuit yang unik. Rasa jahenya langsung nendang sejak gigitan pertama. Sensasinya serasa kita mengunyah batang jahe. Apalagi kalo disantap sambil dicelup ke susu hangat <strike>dengan kemasan menggiurkan</strike>. Weh.. <img src='http://jengjeng.matriphe.com/smilies/yahoo_drool.gif' alt='&#61;&#112;&#126;' class='wp-smiley' width='18' height='18' title='&#61;&#112;&#126;' /></p>
<p>Ini biskuit bisa dibilang langka. Gimana ndak langka, biskuit ini sudah jarang ditemukan. Memang ada sih, beberapa bisa kita temukan di supermarket besar, tapi sensasi jahenya ndak senendang sensasi jahe biskuit pasaran ini.</p>
<p>Don&#8217;t judge a food by its look. Ungkapan ini sangat cocok diberikan kepada 3 jenis makanan yang akan saya bahas terakhir ini. Temen-temen JSers memberikan label &#8220;juara&#8221; pada 3 makanan ini.</p>
<p><a name="kethak"></a><strong>KETHAK MANIS</strong></p>
<p><img src='http://jengjeng.matriphe.com/wp-content/uploads/2007/06/kethak.jpg' alt='Kethak Manis' /></p>
<p>Pertama yang akan kita cicipi adalah Kethak. Sebenernya ada beberapa jenis Kethak, ada yang pedas, asin, dan manis. Kebetulan yang saya temukan ini versi Kethak Manis.</p>
<p>Bahannya dari ampas kelapa yang sudah diambil minyaknya. Jadi kalo mo bikin minyak dari kelapa, kan itu kelapa diperas sampai ampasnya kering, nah ampas inilah yang dipakai sebagai bahan baku Kethak.</p>
<p>Aromanya langsung tercium ketika bungkus daun pisang ini dibuka. Tengik. Setelah dicicipi, kami semua terkejut. Dahsyat bener ini Kethak. Rasanya manis-manis tapi berasa getir dan ngeres banget, dan aromanya ternyata didukung oleh rasanya yang &#8220;dahsyat dan mengejutkan&#8221; ini.</p>
<p>Tampilan manisnya yang mirip Lemper ini ternyata bisa menipu. Tapi ini masih belum seberapa bila dibandingkan dengan juara berikutnya.</p>
<p><a name="blondho"></a><strong>BLONDHO</strong></p>
<p><img src='http://jengjeng.matriphe.com/wp-content/uploads/2007/06/blondho.jpg' alt='Blondho' /></p>
<p>Di tempat kedua, ada Blondho. Bahan dari Blondho ini tak jauh beda dengan bahan Kethak. Masih dengan menggunakan ampas kelapa yang telah diambil minyaknya, aroma dan rasa makanan ini begitu &#8220;nendang&#8221;. <img src='http://jengjeng.matriphe.com/smilies/yahoo_beatup.gif' alt='&#98;&#45;&#40;' class='wp-smiley' width='18' height='18' title='&#98;&#45;&#40;' /></p>
<p>Makanan ini bisa dicemil langsung (hebat bener yang berani ngemil makanan ini) tapi sering dipake buat campuran masakan. Kuah gudeg yang kental itu konon menggunakan Blondho ini sebagai bahan campurannya.</p>
<p><a name="growol"></a><strong>GROWOL</strong></p>
<p><img src='http://jengjeng.matriphe.com/wp-content/uploads/2007/06/growol.jpg' alt='Growol' /></p>
<p>Inilah dia sang jawara kita. Rekan-rekan JSers yang lain langsung sepakat ketika menentukan siapa jawara dari perburuan makanan kami.</p>
<p>Growol. Benda ini bener-bener pandai berkamuflase. Bentuknya yang cantik rupanya tidak seramah rasanya. Beberapa rekan JSers yang mencicipi makanan ini langsung berubah ekspresi wajahnya. Saya yang bertugas mengambil gambar pun tak kuasa menahan &#8220;karisma&#8221; makanan ini sehingga membuat tangan gemetar dan gambar yang saya ambil menjadi ngeblur.</p>
<p>Sekilas kita akan tergiur, tetapi setelah anda mencium aroma apalagi merasakannya, wuiihh.. *speechless* <img src='http://jengjeng.matriphe.com/smilies/yahoo_neutral.gif' alt='&#58;&#45;&#124;' class='wp-smiley' width='18' height='18' title='&#58;&#45;&#124;' /></p>
<p>Terbuat dari sejenis singkong, dengan sebuah benda berwarna hitam nongkrong manis di atasnya. Awalnya benda hitam manis itu kami kira semacam kumbu (kacang hijau yang ditumbuk halus) atau apalah yang manis.</p>
<p>Setelah ditowel, teksturnya berpasir. Ketika dicium.. <img src='http://jengjeng.matriphe.com/smilies/yahoo_ooooh.gif' alt='&#58;&#45;&#111;' class='wp-smiley' width='18' height='18' title='&#58;&#45;&#111;' /> Oh mai got! Dan ketika benda itu masuk ke dalam mulut.. &#8220;Masya Allah.. Benda apakah yang telah saya masukkan ke dalam mulutku ini?&#8221; <img src='http://jengjeng.matriphe.com/smilies/yahoo_cry.gif' alt='&#58;&#40;&#40;' class='wp-smiley' width='22' height='18' title='&#58;&#40;&#40;' /></p>
<p>Hii.. Kalo mengingat benda itu, saya masih bergidik merinding. Rasanya pantas kalo makanan ini dihidangkan pada acara <a href="http://www.nbc.com/Fear_Factor/" title="Fear Factor" target="_blank">Fear Factor</a> deh.</p>
<p>Kira-kira itulah sekelumit kisah dan beberapa makanan yang kami temukan. Masih banyak sebenernya yang belum tereksplorasi. Apa pun bentuk, nama, dan rasanya, jenis-jenis makanan tersebut tetaplah food heritage yang harus tetap kita lestarikan.</p>
<p>Akan lebih baik lagi bila makanan tradisional ini bisa bersanding dengan makanan-makanan (yang katanya) modern tapi penuh bahan kimia itu. <img src='http://jengjeng.matriphe.com/smilies/yahoo_wink.gif' alt='&#59;&#41;' class='wp-smiley' width='18' height='18' title='&#59;&#41;' /></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://jengjeng.matriphe.com/jajanan-pasar-beringharjo.html/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>76</slash:comments>
		</item>
	</channel>
</rss>

