<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>jengjeng matriphe! &#187; pecel</title>
	<atom:link href="http://jengjeng.matriphe.com/tag/pecel/feed" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://jengjeng.matriphe.com</link>
	<description>pengen jalan-jalan, makan-makan, dan lain-lain</description>
	<lastBuildDate>Tue, 02 Aug 2011 11:41:49 +0000</lastBuildDate>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<generator>http://wordpress.org/?v=3.2.1</generator>
	<atom:link rel='hub' href='http://jengjeng.matriphe.com/?pushpress=hub'/>
		<item>
		<title>Pecel Semanggi Surabaya, Makanan Tradisional Yang Hampir Punah</title>
		<link>http://jengjeng.matriphe.com/pecel-semanggi-surabaya-makanan-tradisional-yang-hampir-punah.html</link>
		<comments>http://jengjeng.matriphe.com/pecel-semanggi-surabaya-makanan-tradisional-yang-hampir-punah.html#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 30 Sep 2009 06:52:33 +0000</pubDate>
		<dc:creator>matriphe</dc:creator>
				<category><![CDATA[Kuliner]]></category>
		<category><![CDATA[pecel]]></category>
		<category><![CDATA[Surabaya]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://jengjeng.matriphe.com/?p=1352</guid>
		<description><![CDATA[Pas mudik Lebaran ke Surabaya beberapa waktu yang lalu, saya berkesempatan mencicipi kembali beberapa makanan khas yang kini agak sulit ditemukan. Salah satu makanan ini adalah Pecel Semanggi. Makanan ini konon sudah hampir punah karena sulit ditemui. Penjualnya rata-rata adalah ibu-ibu paruh baya yang berdagang keliling dengan menyunggi besek berisi bahan-bahan pecel. Kendala utama sih [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><img src="http://jengjeng.matriphe.com/wp-content/uploads/2009/09/pecel-semanggi.jpg" alt="Pecel Semanggi" title="Pecel Semanggi" width="350" height="263" class="alignnone size-full wp-image-1353" /></p>
<p>Pas mudik Lebaran ke Surabaya beberapa waktu yang lalu, saya berkesempatan mencicipi kembali beberapa makanan khas yang kini agak sulit ditemukan. Salah satu makanan ini adalah Pecel Semanggi.</p>
<p>Makanan ini konon sudah hampir punah karena sulit ditemui. Penjualnya rata-rata adalah ibu-ibu paruh baya yang berdagang keliling dengan menyunggi <em>besek</em> berisi bahan-bahan pecel. Kendala utama sih di faktor bahan dasarnya, yaitu daun semanggi.</p>
<p>Konon makanan ini juga sudah merambah restoran dan hotel-hotel, namun menurut saya, lebih mantab kalo kita mencicipinya langsung dari penjual tradisional.</p>
<p><span id="more-1352"></span>Seperti namanya, pecel ini berbahan dasar daun semanggi (<em>Marsilea crenata</em>) yang direbus dan disajikan dengan kecambah rebus kemudian disiram bumbu yang terbuat dari ketela rambat atau ubi jalar (<em>Ipomoea batatas</em>) yang direbus dan dicampur gula jawa, garam, terasi, petis udang (makanya warna bumbunya berwarna hitam), sedikit kacang tanah, dan cabai.</p>
<p><img src="http://jengjeng.matriphe.com/wp-content/uploads/2009/09/racikan-pecel-semanggi.jpg" alt="Racikan pecel semanggi" title="Racikan pecel semanggi" width="350" height="263" class="alignnone size-full wp-image-1354" /></p>
<p>Pecel ini disajikan tanpa nasi, hanya sayur semanggi dan kecambah disiram bumbu yang disajikan di dalam pincuk daun pisang. Untuk memakannya, kita wajib dan fardhu menggunakan kerupuk puli yang terbuat dari beras (di beberapa daerah di Jawa kerupuk ini disebut dengan kerupuk gendar) untuk memakannya.</p>
<p>Kerupuk puli ini berfungsi menggantikan sendok. Kalo cara saya makan, kerupuk dicuil kemudian cuilan ini digunakan untuk menyendok sayur dan dimakan bersama. Kerupuk ini sangat lebar sehingga kita harus berhati-hati membawanya supaya tidak jatuh (karena biasanya disajikan di samping pecel).</p>
<p>Secara penampilan, pecel semanggi memang &#8220;kurang menggiurkan&#8221;, namun secara rasa, woohh! Seddap!!</p>
<p>Makanan ini biasa dijual dengan berkeliling. Si penjual biasanya berteriak, &#8220;seemmmaannnggiiiiiii&#8230;&#8221;, dengan nada tertentu untuk menjajakan dagangannya.</p>
<p>Para penjual ini kebanyakan berasal dari daerah Benowo, Surabaya bagian barat. Kebetulan, karena pakde saya tinggal di daerah Manukan, Tandes, yang ndak jauh dari Benowo, penjual pecel ini berhasil dicegat di depan rumah ketika melintas.</p>
<p>Karena sulitnya bahan baku daun semanggi, penjual ini waktu berjualannya tidak menentu. Kadang seminggu sekali, kadang dua minggu sekali.</p>
<p>Daun semanggi yang digunakan pun bukan daun semanggi liar (yang biasa tumbuh di sungai dan sawah), tapi dibeli dari seseorang yang membudidayakan semanggi ini, begitu menurut pengakuan si penjual.</p>
<p><img src="http://jengjeng.matriphe.com/wp-content/uploads/2009/09/penjual-pecel-semanggi.jpg" alt="Penjual pecel semanggi" title="Penjual pecel semanggi" width="350" height="263" class="alignnone size-full wp-image-1355" /></p>
<p>Bila diperhatikan, gaya penjual pecel semanggi ini sangat khas. Ibu-ibu ini selalu menggunakan kebaya plus kain batik, kemudian sebuah selendang dililit sedemikian rupa di atas kepala yang berfungsi sebagai alas ketika dagangan disunggi.</p>
<p>Formasi dagangan ketika disunggi pun sangat khas. Sebuah besek atau keranjang berisi sayur dan bumbu berada di bawah, kemudian di atasnya ditumpangkan seplastik besar kerupuk puli.</p>
<p>Tangan satu memgang dagangan di atas kepala, tangan yang lain menenteng keranjang yang berisi daun-daun pisang untuk pincuk dan <em>gear</em> lainnya. Tentu dibutuhkan keseimbangan yang luar biasa sehingga dagangan ini tidak tumpah.</p>
<p>Ketika ada pembeli, dengan suatu teknik yang sigap, keranjang yang menjulang tinggi di atas kepala ini bisa &#8220;mendarat&#8221; dengan sempurna. Sebaliknya, ketika selesai melayani, keranjang dagangan ini pun bisa dengan cepat berpindah ke atas kepala!</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://jengjeng.matriphe.com/pecel-semanggi-surabaya-makanan-tradisional-yang-hampir-punah.html/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>40</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Pecel Nasi Merah Bumbu Wijen (Pecel Ndeso)</title>
		<link>http://jengjeng.matriphe.com/pecel-nasi-merah-bumbu-wijen.html</link>
		<comments>http://jengjeng.matriphe.com/pecel-nasi-merah-bumbu-wijen.html#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 17 Apr 2007 11:22:51 +0000</pubDate>
		<dc:creator>matriphe</dc:creator>
				<category><![CDATA[Kuliner]]></category>
		<category><![CDATA[pecel]]></category>
		<category><![CDATA[Solo]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://jengjeng.matriphe.com/?p=162</guid>
		<description><![CDATA[Gara-gara Fany cerita tentang jeng-jengnya ke Solo, saya jadi kangen rumah. Apalagi saya jarang pulang karena kalo setiap kali pulang saya selalu ditodong dengan pertanyaan mematikan, &#8220;kapan kawin kapan lulus?&#8221;, oleh bapak-ibu saya. Yang paling saya kangeni tentu saja makanan-makanan enak khasnya. Nah, salah satu makanan khas yang sulit ditemukan di kota-kota lain, bahkan di [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><img src="http://jengjeng.matriphe.com/wp-content/uploads/2007/04/pecel1.jpg" alt="Pecel Nasi Merah Bumbu Wijen" title="Pecel Nasi Merah Bumbu Wijen" width="350" height="263" class="alignnone size-full wp-image-1126" /></p>
<p>Gara-gara <a href="http://blog.faniez.net/2007/04/15/solo-kali-pertama/" title="Solo Kali Pertama" target="_blank">Fany cerita tentang jeng-jengnya ke Solo</a>, saya jadi kangen rumah. Apalagi saya jarang pulang karena kalo setiap kali pulang saya selalu ditodong dengan pertanyaan mematikan, &#8220;<strike>kapan kawin</strike> kapan lulus?&#8221;, oleh bapak-ibu saya. <img src='http://jengjeng.matriphe.com/smilies/yahoo_cry.gif' alt='&#58;&#40;&#40;' class='wp-smiley' width='22' height='18' title='&#58;&#40;&#40;' /></p>
<p>Yang paling saya kangeni tentu saja makanan-makanan enak khasnya. Nah, salah satu makanan khas yang sulit ditemukan di kota-kota lain, bahkan di Solo sendiri mungkin susah ditemukan, adalah <strong>Pecel Nasi Merah Bumbu Wijen</strong>! <img src='http://jengjeng.matriphe.com/smilies/yahoo_drool.gif' alt='&#61;&#112;&#126;' class='wp-smiley' width='18' height='18' title='&#61;&#112;&#126;' /></p>
<p><span id="more-162"></span>Pecel. Makanan berbahan utama sayur mayur ini memang memiliki kekhasan tersendiri. Ada berbagai macam jenis pecel, dan yang biasanya paling terkenal adalah Pecel Madiun. Setiap pecel mempunyai identitasnya masing-masing, yang biasanya berupa variasi jenis sayur, bumbu, hingga lauk pauk pelengkap santapan. Ah, kalo soal <a href="http://jagomakan.blogspot.com/2007/03/liputan-apa-kulakan.html" title="Liputan Apa Kulakan?" target="_blank">dunia perpecelan begini</a> terutama <a href="http://jagomakan.blogspot.com/2007/03/kali-ini-saya-juga-membawa-misi-berat_7794.html" title="Misi Berat Pecel Madiun" target="_blank">Pecel Madiun</a>, silakan tanya kepada <a href="http://jagomakan.blogspot.com/" title="Jagoan Makan" target="_blank">Bulik Mendol</a> yang jago makan itu. <img src='http://jengjeng.matriphe.com/smilies/yahoo_bigsmile.gif' alt='&#58;&#68;' class='wp-smiley' width='18' height='18' title='&#58;&#68;' /></p>
<p>Nah, kali ini pecel yang akan kita cicipi ini beda. Lain dari yang lain, dan boleh dikata tidak ada duanya. Seperti yang sudah saya katakan, pecel ini agak susah ditemukan. Walau pecel ini sudah ada semenjak saya masih SD hingga sekarang, saya belum pernah menemukan hidangan pecel sejenis. <img src='http://jengjeng.matriphe.com/smilies/yahoo_smiley.gif' alt='&#58;&#41;' class='wp-smiley' width='18' height='18' title='&#58;&#41;' /></p>
<p>Nasi merah digunakan karena selain rasanya yang unik dan khas, <a href="http://www.mail-archive.com/idakrisnashow@yahoogroups.com/msg09314.html" title="[Ida-Krisna Show] Beras Merah Kaya Vitamin &#038; Mineral" target="_blank">nasi merah memiliki kandungan gizi tinggi bahkan lebih baik daripada nasi putih</a>. Nasi merah ini berasal dari beras merah, jadi jangan mengira nasi ini terbuat dari nasi biasa yang kemudian diolah sedemikian rupa hingga berwarna merah lo ya. <img src='http://jengjeng.matriphe.com/smilies/yahoo_laughloud.gif' alt='&#58;&#41;&#41;' class='wp-smiley' width='18' height='18' title='&#58;&#41;&#41;' /></p>
<p>Bumbu yang digunakan pun unik. Kalo biasanya bumbu pecel yang biasa kita temui itu terbuat dari kacang tanah, bumbu yang digunakan pecel ini terbuat dari kacang wijen. Warnanya pun ndak coklat kayak bumbu dari kacang, tapi berwarna hitam, dengan aroma yang khas. <img src='http://jengjeng.matriphe.com/smilies/yahoo_drool.gif' alt='&#61;&#112;&#126;' class='wp-smiley' width='18' height='18' title='&#61;&#112;&#126;' /></p>
<p>Soal sayuran, standar sih, ada bayam, kenikir, tauge, kacang panjang, dan bahkan daun pepaya. Tapi kalo pas beruntung dan ada, kita juga bisa menikmati bunga turi dan jantung pisang sebagai sayurnya!</p>
<p>Soal lauk pauk pelengkap, sampeyan bebas memilih. Mau pake rempeyek kacang kayak Pecel Madiun, atau mau pake gorengan, dicampur dengan <acronym title="nama makanan yang dikukus">bongko atau bothok</acronym>, atau cuma ditemani kerupuk atau karak pun jadi. Pokoke bebas!</p>
<p>Keunikan lainnya, dari dulu sampai sekarang, pecel ini selalu dibungkus atau dipincuk dengan menggunakan daun pisang dan menggunakan lidi sebagai perekat. Sebuah kemasan yang eksotis dan natural banget, di era teknologi macam ini. <img src='http://jengjeng.matriphe.com/smilies/yahoo_wink.gif' alt='&#59;&#41;' class='wp-smiley' width='18' height='18' title='&#59;&#41;' /></p>
<p>Harganya pun murah, seingat saya (dan kalo masih belum naik), seporsinya cuma 2.500 rupiah! Sebuah harga yang sangat murah bila dibandingkan dengan rasanya yang dahsyat!</p>
<p>Selain pecel nasi merah, si <strike>ibu</strike> mbah penjual, yang dari saya SD sampe sekarang masih sehat wal afiat ini, juga menjual nasi pecel biasa. Juga ada pula lontong pecel, di mana lontong digunakan sebagai pengganti nasi. Soal bumbu juga bisa milih, mau pake bumbu kacang atau wijen. <img src='http://jengjeng.matriphe.com/smilies/yahoo_smiley.gif' alt='&#58;&#41;' class='wp-smiley' width='18' height='18' title='&#58;&#41;' /></p>
<p>Si mbah berjualan, setau saya cuma pada hari Minggu pagi mulai dari jam 5 hingga jam 7-8. Bahkan sering pada jam 6 sudah habis karena saking larisnya. Memang nikmat rasanya, habis olah raga pagi, langsung sarapan nasi ini.</p>
<p>Yang datang pun dari berbagai lapisan, mulai dari etnis Jawa, Cina, hingga encik-encik Arab. Mulai dari yang pembantu yang disuruh majikannya, hingga rombongan keluarga yang datang menggunakan mobil mewah.</p>
<p>Oiya, jangan membayangkan tempatnya kayak warung gitu ya. Tempatnya tu sederhana banget. Terletak di halaman ruko yang belum buka, hanya dengan menggunakan sebuah meja, si mbah melayani sang pembeli yang rata-rata memang membeli untuk dibawa pulang.</p>
<p><img src='http://jengjeng.matriphe.com/wp-content/uploads/2007/04/mbah.jpg' alt='Mbah penjual pecel' /></p>
<p>Si mbah yang rumahnya cukup jauh dari tempatnya berjualan ini, menggunakan sepeda dengan <acronym title="keranjang dari anyaman bambu yang ditaruh di belakang sepeda">bronjong</acronym> untuk mengangkut barang dagangannya. Apa karena kebiasaan inilah si mbah masih sehat hingga sekarang dan tetap melayani pembeli fanatis yang rindu akan kedahsyatan pecelnya ya? <img src='http://jengjeng.matriphe.com/smilies/yahoo_think.gif' alt='&#58;&#45;&#63;' class='wp-smiley' width='18' height='18' title='&#58;&#45;&#63;' /></p>
<p>Eh, iya. Lokasi pecel ini ada di ujung bagian utara kompleks ruko di perumahan saya. Dari gerbang perumahan Fajar Indah, masuk saja sekitar 300 meter. Kalo ada yang rame-rame di Minggu pagi, ya di situlah letak si mbah penjual pecel. Di sebelah mbah penjual pecel ini juga ada penjual nasi liwet yang tak kalah larisnya.</p>
<p>Ah, jadi semakin kangen sama pecel itu.. <img src='http://jengjeng.matriphe.com/smilies/yahoo_drool.gif' alt='&#61;&#112;&#126;' class='wp-smiley' width='18' height='18' title='&#61;&#112;&#126;' /> Terakhir kali saya menikmati pecel itu adalah pas perjalanan <a href="http://blog.matriphe.com/index.php/2006/12/26/tour-de-madiun/" title="Tour de Madiun" target="_blank">Tour de Madiun</a> untuk berburu gadis beberapa waktu yang lalu. <img src='http://jengjeng.matriphe.com/smilies/yahoo_bigsmile.gif' alt='&#58;&#68;' class='wp-smiley' width='18' height='18' title='&#58;&#68;' /></p>
<p><img src='http://jengjeng.matriphe.com/wp-content/uploads/2007/04/pincuk.jpg' alt='Sepincuk pecel nasi merah bumbu wijen' /></p>
<p>Tapi kalo pas saya di rumah, impian menikmati sarapan pecel itu pun kandas, sirna, dan musnah karena kebiasaan bangun <strike>pagi</strike> siang saya yang kacau. <img src='http://jengjeng.matriphe.com/smilies/yahoo_cry.gif' alt='&#58;&#40;&#40;' class='wp-smiley' width='22' height='18' title='&#58;&#40;&#40;' /></p>
<p>Arghhh.. <img src='http://jengjeng.matriphe.com/smilies/yahoo_witsend.gif' alt='&#126;&#88;&#40;' class='wp-smiley' width='44' height='18' title='&#126;&#88;&#40;' /> Jadi pengen pulang!!! <img src='http://jengjeng.matriphe.com/smilies/banghead.gif' alt='&#58;&#98;&#97;&#110;&#103;&#104;&#101;&#97;&#100;' class='wp-smiley' width='25' height='20' title='&#58;&#98;&#97;&#110;&#103;&#104;&#101;&#97;&#100;' /></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://jengjeng.matriphe.com/pecel-nasi-merah-bumbu-wijen.html/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>44</slash:comments>
		</item>
	</channel>
</rss>

