<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>jengjeng matriphe! &#187; Semarang</title>
	<atom:link href="http://jengjeng.matriphe.com/tag/semarang/feed" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://jengjeng.matriphe.com</link>
	<description>pengen jalan-jalan, makan-makan, dan lain-lain</description>
	<lastBuildDate>Tue, 02 Aug 2011 11:41:49 +0000</lastBuildDate>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<generator>http://wordpress.org/?v=3.2.1</generator>
	<atom:link rel='hub' href='http://jengjeng.matriphe.com/?pushpress=hub'/>
		<item>
		<title>Lawang Sewu, Eksotisme yang Terbalut Mistis</title>
		<link>http://jengjeng.matriphe.com/lawang-sewu-eksotisme-yang-terbalut-mistis.html</link>
		<comments>http://jengjeng.matriphe.com/lawang-sewu-eksotisme-yang-terbalut-mistis.html#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 09 Feb 2008 04:34:33 +0000</pubDate>
		<dc:creator>matriphe</dc:creator>
				<category><![CDATA[Destinasi]]></category>
		<category><![CDATA[Museum & Bangunan Bersejarah]]></category>
		<category><![CDATA[heritage]]></category>
		<category><![CDATA[Semarang]]></category>
		<category><![CDATA[wisata]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://jengjeng.matriphe.com/index.php/2008/02/09/lawang-sewu-eksotisme-yang-terbalut-mistis.html</guid>
		<description><![CDATA[Pas jeng-jeng ke Semarang liburan Imlek kemarin, kami mengunjungi kembali Lawang Sewu, salah satu situs wisata populer di Semarang. Kunjungan saya yang ketiga kali ini ternyata membuat saya berpikir kembali soal eksotisme dan potensi wisata Lawang Sewu yang dari sudut pandang lain mungkin ndak selaras dengan sudut pandang orang kebanyakan. Lawang Sewu, sejak dulu terkenal [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><img src="http://jengjeng.matriphe.com/wp-content/uploads/2008/02/lawang-sewu1.jpg" alt="Sisi lain Lawang Sewu" title="Sisi lain Lawang Sewu" width="350" height="263" class="alignnone size-full wp-image-1198" /></p>
<p>Pas <a href="http://cahandong.org/2008/02/09/jeng-semawis.html" title="Jeng Semawis" target="_blank">jeng-jeng ke Semarang</a> liburan Imlek kemarin, kami mengunjungi kembali Lawang Sewu, salah satu situs wisata populer di Semarang.</p>
<p>Kunjungan saya yang ketiga kali ini ternyata membuat saya berpikir kembali soal eksotisme dan potensi wisata Lawang Sewu yang dari sudut pandang lain mungkin ndak selaras dengan sudut pandang orang kebanyakan.</p>
<p><span id="more-628"></span>Lawang Sewu, sejak dulu terkenal dengan keangkeran, cerita horor, kemistisan, tempat seram, dan obyek wisata nyali lainnya.</p>
<p>Namun bila kita bisa menafikkan semua stigma masyarakat tersebut, Lawang Sewu bisa menjadi potensi wisata unggulan Semarang.</p>
<p>Arsitektur Lawang Sewu yang unik dan menarik inilah yang patut ditonjolkan daripada cerita seramnya.</p>
<p>Latar belakang sejarah lah yang seharusnya lebih dikedepankan daripada cerita &#8220;di sini pernah dipakai untuk lokasi uji nyali yang memenangkan penghargaan reality show terbaik se-Asia&#8221;-nya itu.</p>
<p>Bila Pemkot Semarang memang berniat mengangkat potensi wisata Semarang, tentunya pemkot harus bener-bener serius dengan membangun infrastruktur yang memadai.</p>
<p>Andai saja Lawang Sewu direnovasi kembali, kemudian dialihfungsikan, sebagai museum atau hotel misalnya, tentunya ini akan menarik lebih banyak wisatawan.</p>
<p>Lalu akan muncul keresahan, la nanti kalo dijadikan hotel, apa ndak angker nantinya? Saya cuma ketawa. La hantu itu sebenernya lebih takut pada kita! La kok kita yang takut sama mereka.</p>
<p>Suasana gelap, sepi, membuat suasana tambah wingit dan membuat para setan itu suka gentayangan. Coba kalo ini gedung diramaikan, saya yakin para setan dan hantu itu akan enyah dengan sendirinya.</p>
<p>Wisatawan asing tentu ndak tertarik dengan cerita klenik macam beginian. Yang doyan cerita klenik ini kan ya orang-orang kita sendiri. La kalo yang ditonjolkan cuma cerita klenik, mana mau para wisatawan asing itu datang?</p>
<p>Andai Lawang Sewu dijadikan hotel, tentu hotel ini akan menjadi hotel menarik seperti hotel Majapahit di Surabaya yang pernah menjadi saksi sejarah dengan peristiwa perobekan bendera Belanda menjadi merah-putih itu.</p>
<p>Kalo dijadikan museum, bisa jadi Museum Sejarah Jakarta  atau yang sering disebut dengan Museum Fatahillah itu dijamin ndak bakal ada apa-apanya.</p>
<p>Foto-foto Semarang tempo doeloe bisa dipajang di museum ini. Saya sendiri sedih dan prihatin. Mosok gambar-gambar, foto-foto, dan peninggalan sejarah kita (khususnya di Semarang) malah ada di <a href="http://www.semarang.nl/" title="Semarang Foto Archives" target="_blank"">Belanda</a>?</p>
<p>Heritage dan bangunan tua peninggalan Belanda yang banyak bertebaran di Semarang harusnya bisa menjadi ujung tombak wisata Semarang. Tentunya dengan perawatan dan penyajian yang baik.</p>
<p>Saya yang suka melihat heritage dan bentuk bangunan-bangunan tua begitu sedih. Ndak bisa kah kita melestarikan peninggalan kebudayaan tersebut sebagai warisan kepada anak cucu?</p>
<p>Saya jadi teringat slogan, &#8220;jas <strike>coklat</strike> merah: jangan sekali-kali melupakan sejarah&#8221;.</p>
<p>Saya membayangkan bila saja Lawang Sewu bener-bener direnovasi. Membayangkan suasana tempo doeloe lengkap dengan para sinyo dan none-none Belandanya tentunya menjadi ndak sulit lagi.</p>
<p>Ah, andai saja pemerintah kita ini peduli.. <img src='http://jengjeng.matriphe.com/smilies/yahoo_sighing.gif' alt='&#58;&#45;&#60;' class='wp-smiley' width='24' height='18' title='&#58;&#45;&#60;' /></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://jengjeng.matriphe.com/lawang-sewu-eksotisme-yang-terbalut-mistis.html/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>66</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Es Dawet Durian Kampung Kali</title>
		<link>http://jengjeng.matriphe.com/es-dawet-durian-kampung-kali.html</link>
		<comments>http://jengjeng.matriphe.com/es-dawet-durian-kampung-kali.html#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 30 Nov 2007 15:12:16 +0000</pubDate>
		<dc:creator>matriphe</dc:creator>
				<category><![CDATA[Kuliner]]></category>
		<category><![CDATA[es]]></category>
		<category><![CDATA[Semarang]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://jengjeng.matriphe.com/index.php/2007/11/30/es-dawet-durian-kampung-kali.html</guid>
		<description><![CDATA[Sebenernya sudah cukup lama saya mendengar legenda Es Dawet Durian Semarang ini, namun berhubung saya buta dengan peta perkulineran Semarang, saya hanya mengira es ini hanya tinggal cerita belaka. Akhirnya tadi siang saya berhasil menemukan kembali legenda yang hilang tersebut berkat petunjuk dan pencerahan dari Fany. Thanks, Fan! Panasnya Semarang memang cucok kali untuk nyeruput [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><img src="http://jengjeng.matriphe.com/wp-content/uploads/2007/11/es-dawet-durian1.jpg" alt="Es dawet durian Kampung Kali" title="Es dawet durian Kampung Kali" width="350" height="263" class="alignnone size-full wp-image-1383" /></p>
<p>Sebenernya sudah cukup lama saya mendengar legenda Es Dawet Durian Semarang ini, namun berhubung saya buta dengan peta perkulineran Semarang, saya hanya mengira es ini hanya tinggal cerita belaka.</p>
<p>Akhirnya tadi siang saya berhasil menemukan kembali legenda yang hilang tersebut berkat petunjuk dan pencerahan dari <a href="http://blog.faniez.net/" title="Fany" target="_blank">Fany</a>. Thanks, Fan! <img src='http://jengjeng.matriphe.com/smilies/yahoo_wink.gif' alt='&#59;&#41;' class='wp-smiley' width='18' height='18' title='&#59;&#41;' /></p>
<p>Panasnya Semarang memang cucok kali untuk nyeruput es. Belum lagi, bulan-bulan begini adalah musim-musim durian. Hoho.. I love durian! <img src='http://jengjeng.matriphe.com/smilies/yahoo_drool.gif' alt='&#61;&#112;&#126;' class='wp-smiley' width='18' height='18' title='&#61;&#112;&#126;' /></p>
<p><span id="more-492"></span>Es Dawet Durian ini sering dikenal dengan nama Es Dawet Durian Kampung Kali, karena memang dijual di daerah bernama Kampung Kali.</p>
<p>Kampung Kali merupakan lokasi yang sangat strategis. Daerahnya cukup rindang karena masih banyak ditemukan pohon-pohon besar  di pinggir jalan. Cukup nyaman untuk beristirahat di tengah panas mentari yang menyengat.</p>
<p>Selain rindang, ada &#8220;kerindangan&#8221; lain yang bisa kita temukan. Es ini dijual tepat di depan kompleks sekolahan Yayasan Bernadus Theresiana yang identik dengan gadis-gadis siswi SMA yang putih mulus, di Jl. Mayjen Sutoyo 69, tak jauh dari Simpang Lima. <img src='http://jengjeng.matriphe.com/smilies/yahoo_devil.gif' alt='&#62;&#58;&#41;' class='wp-smiley' width='18' height='18' title='&#62;&#58;&#41;' /></p>
<p>Hanya ada seorang penjual es di kawasan ini. Untuk menemukannya cukup mudah. Si penjual menggunakan gerobak dorong berwarna hijau dengan ciri khas gentong kecil berwarna coklat dan beberapa buah durian di atas gerobaknya.</p>
<p>Untuk menuju ke sana gampang banget. Dari Simpang Lima, belok ke jalan K.H. Ahmad Dahlan, kemudian pas pertigaan mentok belok kiri.</p>
<p>Nah, Sekolah Theresiana itu berada di pojokan pertigaan sebelah kiri. Tepat di depan sekolah itu, penjual es ini dapat kita temukan.</p>
<p>Bisa juga sih ngambil arah dari jalan Gadjah Mada, tapi ntar kita kudu muter balik setelah lewat jalan D.I. Panjaitan. Mending lewat Ahmad Dahlan saja, saran saya. <img src='http://jengjeng.matriphe.com/smilies/yahoo_bigsmile.gif' alt='&#58;&#68;' class='wp-smiley' width='18' height='18' title='&#58;&#68;' /></p>
<p>Saya pun memesan satu porsi. Berhubung buah durian adalah buah musiman, ndak setiap hari kita bisa menikmati es ini. Di hari biasa, es ini dijual sebagai Es Dawet biasa.</p>
<p>Beruntung, bulan Desember adalah musim-musim durian, maka Es Dawet Durian pun bisa saya nikmati.</p>
<p>Seporsi es ini ukurannya cukup dahsyat menurut saya. Mangkok yang digunakan adalah mangkok soto berukuran besar.</p>
<p>Es Dawet Durian ini berisi dawet (cendol) putih bikinan sendiri, tape ketan putih, potongan buah nangka, dan 3 biji durian.</p>
<p>Sebagai airnya digunakan santan dan serutan es yang dilumeri juruh atau air gula jawa. <img src='http://jengjeng.matriphe.com/smilies/yahoo_drool.gif' alt='&#61;&#112;&#126;' class='wp-smiley' width='18' height='18' title='&#61;&#112;&#126;' /></p>
<p>Dawet yang digunakan ini cukup unik. Dawet atau cendol ini berwarna putih, tanpa bahan pewarna. Selain itu kalo dawet biasa dipotong pendek-pendek, dawet yang digunakan pada es ini panjang-panjang, mirip mie. <img src='http://jengjeng.matriphe.com/smilies/yahoo_bigsmile.gif' alt='&#58;&#68;' class='wp-smiley' width='18' height='18' title='&#58;&#68;' /></p>
<p>Durian yang digunakan pun didatangkan dari Jepara. Durian Jepara memang terkenal akan rasa manisnya dan warna kuning emasnya yang cantik.</p>
<p>Tibalah saatnya mencicipi. Slluurrp..</p>
<p>Aneh, menurut saya. Es ini terasa kurang manis. Larutan gula jawanya sepertinya ndak mampu mengalahkan dominasi santan dan serutan es yang mencair.</p>
<p>Saya sempat kecewa karena rasanya kurang manis. Di tengah keputusasaan, saya pun mengambil durian dan menyeruputnya bersama air gulanya.</p>
<p>Saya terkejut! Rasa manis durian Jepara mampu menolong kekurangan gula jawa tadi, bahkan memberikan sensasi rasa berbeda! <img src='http://jengjeng.matriphe.com/smilies/yahoo_ooooh.gif' alt='&#58;&#45;&#111;' class='wp-smiley' width='18' height='18' title='&#58;&#45;&#111;' /></p>
<p>Perpaduan rasa durian dan gula jawanya memang unik. Barulah saya mengerti kenapa tim Bango Cita Rasa Nusantara memberikan gelar juara kepada es ini. <img src='http://jengjeng.matriphe.com/smilies/top.gif' alt='&#58;&#116;&#111;&#112;' class='wp-smiley' width='29' height='19' title='&#58;&#116;&#111;&#112;' /></p>
<p>La? Emang ada hubungannya antara es sama kecap? <img src='http://jengjeng.matriphe.com/smilies/yahoo_laughloud.gif' alt='&#58;&#41;&#41;' class='wp-smiley' width='18' height='18' title='&#58;&#41;&#41;' /></p>
<p><img src='http://jengjeng.matriphe.com/wp-content/uploads/2007/11/bango-juara.jpg' alt='Stiker juara dari Bango Cita Rasa Nusantara' /></p>
<p>Namun sayang, daging durian ini masih sedikit keras, alias kurang matang, meski rasa manisnya sudah cukup mantab.</p>
<p>Mungkin belum musimnya kali, ya? Musim panen durian biasanya kan pertengahan Desember. La pas saya ngicipi ini es kan Desember awal. <img src='http://jengjeng.matriphe.com/smilies/yahoo_giggle.gif' alt='&#59;&#41;&#41;' class='wp-smiley' width='18' height='18' title='&#59;&#41;&#41;' /></p>
<p>Saya ndak bisa mbayangkan kalo misalnya durian yang digunakan itu dagingnya sudah sedikit mlenyek, harumnya sudah menyengat, sehingga rasa manisnya bisa berpadu sempurna dengan larutan gula jawa..</p>
<p>Weh.. <img src='http://jengjeng.matriphe.com/smilies/yahoo_drool.gif' alt='&#61;&#112;&#126;' class='wp-smiley' width='18' height='18' title='&#61;&#112;&#126;' /> *ngelap iler*</p>
<p>Tape ketan dan nangkanya memberikan variasi rasa yang cukup menarik, walau terkesan rasa ini tenggelam oleh rasa duriannya.</p>
<p>Secara keseluruhan, es ini loemajan lah, terutama ketika cuaca Semarang yang panas ngentang dan pas musim durian. <img src='http://jengjeng.matriphe.com/smilies/yahoo_clap.gif' alt='&#61;&#68;&#62;' class='wp-smiley' width='18' height='18' title='&#61;&#68;&#62;' /></p>
<p>Hoho.. Dahsyat! <img src='http://jengjeng.matriphe.com/smilies/yahoo_drool.gif' alt='&#61;&#112;&#126;' class='wp-smiley' width='18' height='18' title='&#61;&#112;&#126;' /></p>
<p>Total kerusakan yang ditimbulkan, cukup mahal menurut saya. Seporsi Es Dawet Durian ini harus ditebus dengan harga 10 ribu rupiah. Namun untuk kedahsyatan rasa, cukup pantas lah.</p>
<p>Ah, saya jadi teringat akan <a href="http://cahandong.org/2006/11/10/kedahsyatan-es-teler-1001.html" title="Kedahsyatan Es Teler 1001" target="_blank">Es 1001</a> yang bikin saya seolah-olah terbang ke dongeng 1001 malam itu. <img src='http://jengjeng.matriphe.com/smilies/yahoo_drool.gif' alt='&#61;&#112;&#126;' class='wp-smiley' width='18' height='18' title='&#61;&#112;&#126;' /></p>
<p>Tertarik mencicipi? <img src='http://jengjeng.matriphe.com/smilies/yahoo_giggle.gif' alt='&#59;&#41;&#41;' class='wp-smiley' width='18' height='18' title='&#59;&#41;&#41;' /></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://jengjeng.matriphe.com/es-dawet-durian-kampung-kali.html/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>61</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Serabi Ngampin Ambarawa Nan Segar</title>
		<link>http://jengjeng.matriphe.com/serabi-ngampin-ambarawa-nan-segar.html</link>
		<comments>http://jengjeng.matriphe.com/serabi-ngampin-ambarawa-nan-segar.html#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 28 Oct 2007 05:46:40 +0000</pubDate>
		<dc:creator>matriphe</dc:creator>
				<category><![CDATA[Kuliner]]></category>
		<category><![CDATA[Ambarawa]]></category>
		<category><![CDATA[Semarang]]></category>
		<category><![CDATA[serabi]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://jengjeng.matriphe.com/index.php/2007/10/28/serabi-ngampin-ambarawa-nan-segar.html</guid>
		<description><![CDATA[Seperti biasa, kalo pas ngeluyur ke Semarang, saya mencuri-curi waktu untuk keluyuran. Nah, kebetulan hari Jumat kemarin saya pas disuruh ke Semarang untuk urusan kerjaan. Sip, berhubung beberapa waktu lalu saya sudah kedereng pengen ngeluyur, akhirnya tugas dari juragan itu di mata saya berarti &#8220;jengjeng&#8221;. Setelah tugas usai, dalam perjalanan balik ke Jogja, saya menyempatkan [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><img src="http://jengjeng.matriphe.com/wp-content/uploads/2007/10/serabi-ngampin1.jpg" alt="Serabi Ngampin siap dimakan" title="Serabi Ngampin siap dimakan" width="350" height="263" class="alignnone size-full wp-image-1260" /></p>
<p>Seperti biasa, kalo pas ngeluyur ke Semarang, saya mencuri-curi waktu untuk keluyuran. Nah, kebetulan hari Jumat kemarin saya pas disuruh ke Semarang untuk urusan kerjaan. <img src='http://jengjeng.matriphe.com/smilies/yahoo_bigsmile.gif' alt='&#58;&#68;' class='wp-smiley' width='18' height='18' title='&#58;&#68;' /></p>
<p>Sip, berhubung beberapa waktu lalu saya sudah <em>kedereng</em> pengen ngeluyur, akhirnya tugas dari juragan itu di mata saya berarti &#8220;jengjeng&#8221;. <img src='http://jengjeng.matriphe.com/smilies/yahoo_devil.gif' alt='&#62;&#58;&#41;' class='wp-smiley' width='18' height='18' title='&#62;&#58;&#41;' /></p>
<p>Setelah tugas usai, dalam perjalanan balik ke Jogja, saya menyempatkan diri untuk mencoba salah satu makanan khas Ambarawa, Serabi <strike>lempit</strike> Ngampin yang banyak dijual sepanjang jalan Jogja-Semarang, tepatnya di daerah Ambarawa.</p>
<p><span id="more-437"></span>Ternyata kue serabi itu ada berbagai jenis. Salah satunya ya Serabi Ngampin ini. Bedanya dengan serabi yang lain, serabi ini berendam dalam kuah manis yang terbuat dari santan dan gula jawa saat dinikmati.</p>
<p>Serabinya sendiri ternyata ada beberapa tipe, tipe tawar dan tipe manis. Yang tawar, permukaan serabi hanya berwarna putih atau hijau, sedangkan yang manis permukaannya ada warna coklat karena dicampur dengan sedikit gula jawa.</p>
<p>Serabi Ngampin banyak dijual di kedai-kedai kecil berderet sepanjang jalan Soegiyopranoto, atau lebih dikenal dengan jalan raya Ambarawa-Semarang. Kedai-kedai mungil ini berdiri di sekitar kantor kelurahan Ngampin, Kecamatan Ambarawa, Kabupaten Semarang.</p>
<p><img src='http://jengjeng.matriphe.com/wp-content/uploads/2007/10/warung-serabi.jpg' alt='warung Serabi Ngampin' /></p>
<p>Dinamakan Serabi Ngampin karena memang serabi ini dijual di daerah Ngampin, Ambarawa. Serabi ini juga sering disebut dengan Serabi Kucur karena penggunaan kuah santan manis tadi.</p>
<p>Di salah satu kedai penjual Serabi Ngampin ini saya berhenti sejenak untuk melepas penat. Bau harum serabi yang baru masak membuat cacing-cacing perut saya berbuat rusuh. <img src='http://jengjeng.matriphe.com/smilies/yahoo_devil.gif' alt='&#62;&#58;&#41;' class='wp-smiley' width='18' height='18' title='&#62;&#58;&#41;' /></p>
<p>Di dalam ruang kedai kayu berukuran sekitar 1Â½ x 1Â½ meter ini saya menemukan sebuah meja dan 2 buah tungku tanah liat berbahan bakar kayu.</p>
<p>Serabi-serabi yang sudah matang diletakkan dalam sebuah nampan yang ditutup dengan plastik mengerucut ke atas. Fungsinya selain untuk melindungi serabi dari asap kendaraan yang lewat di depannya juga untuk menarik perhatian.</p>
<p><img src='http://jengjeng.matriphe.com/wp-content/uploads/2007/10/serabi.jpg' alt='Serabi Ngampin yang dijual' /></p>
<p>Saya pun memesan seporsi. Satu porsi Serabi Ngampin berisi 4 buah serabi yang diletakkan di dalam mangkok kemudian diguyur dengan santan manis yang masih hangat. Weh, seger banget! <img src='http://jengjeng.matriphe.com/smilies/yahoo_drool.gif' alt='&#61;&#112;&#126;' class='wp-smiley' width='18' height='18' title='&#61;&#112;&#126;' /></p>
<p>Tak sabar saya pun segera mencicipinya. Dengan sendok saya pun mencuil sedikit serabi lalu menyendok kuah santannya lalu memakannya. Weh.. <img src='http://jengjeng.matriphe.com/smilies/yahoo_drool.gif' alt='&#61;&#112;&#126;' class='wp-smiley' width='18' height='18' title='&#61;&#112;&#126;' /></p>
<p>Santan yang ndak terlalu manis bercampur dengan serabi tawar yang empuk dan halus memberikan sensasi tersendiri. Seger tenan! <img src='http://jengjeng.matriphe.com/smilies/yahoo_drool.gif' alt='&#61;&#112;&#126;' class='wp-smiley' width='18' height='18' title='&#61;&#112;&#126;' /></p>
<p>Saya pun melirik ke arah ibu penjual yang sedang memasak serabi. Ternyata serabi ini dimasak dengan cara yang tradisional dan unik.</p>
<p>Serabi dimasak dengan wajan kecil yang terbuat dari tanah liat. Wajan ini kemudian diletakkan di atas tungku tanah liat pula yang berbahan bakar kayu.</p>
<p><img src='http://jengjeng.matriphe.com/wp-content/uploads/2007/10/tungku-kayu.jpg' alt='tungku kayu untuk membuat serabi' /></p>
<p>Penggunaan tanah liat dan bahan bakar kayu ini tentu ada alasannya. Kayu bakar mampu menghasilkan panas yang tetap dan stabil bila dibandingkan dengan kompor. Tanah liat juga menghantarkan panas dengan unik, sehingga serabi akan matang dengan pas dan ndak mudah gosong.</p>
<p>Adonan tepung beras dituang ke dalam wajan dengan menggunakan sendok sayur kecil. Kemudian wajan tanah liat tadi ditutup dengan penutup berbentuk seperti piring terbalik yang juga terbuat dari tanah liat.</p>
<p>Ndak lama, sekitar 3 menitan, serabi pun matang lalu diangkat dengan menggunakan sendok kayu (<em>sothil</em>).</p>
<p>Serabi pun merekah seketika saat diangkat dari wajan. Lubang-lubang kecil di permukaan serabi terbentuk akibat uap yang terlepas dari adonan serabi. Bau harum pun langsung tercium. Dengan cekatan, ibu penjual meletakkannya ke dalam nampan kerucut tadi.</p>
<p>Konon para penjual serabi ini sudah ada sejak tahun 1970-an. Walau makanan ini khas Ambarawa, namun serabi ini hanya dijual di daerah Ngampin.</p>
<p>Selesai menikmati segarnya Serabi Ngampin, saya pun beranjak dari kedai yang berbentuk seperti lincak ini. Total kerusakan yang saya derita untuk seporsi Serabi Ngampin itu hanya 2.500 rupiah saja.</p>
<p>Sebagai oleh-oleh, saya pun membeli Kerupuk Sermiyer yang juga dijual di kedai itu. Kerupuk Sermiyer adalah kerupuk yang terbuat dari singkong. Kerupuk ini sangat tipis dan garing, sehingga mudah remuk. Kerupuk Sermiyer berdiameter sekitar 30 cm ini dijual seharga 1.500 rupiah saja.</p>
<p><img src='http://jengjeng.matriphe.com/wp-content/uploads/2007/10/krupuk-sermiyer.jpg' alt='Kerupuk Sermiyer' /></p>
<p>Hari menjelang sore, saya pun kembali memancal Kawasaki Kaze, menyusuri kaki Gunung Ungaran dan Telomoyo untuk kembali ke Jogja.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://jengjeng.matriphe.com/serabi-ngampin-ambarawa-nan-segar.html/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>71</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Nuansa Alam Candi Gedong Songo</title>
		<link>http://jengjeng.matriphe.com/nuansa-alam-candi-gedong-songo.html</link>
		<comments>http://jengjeng.matriphe.com/nuansa-alam-candi-gedong-songo.html#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 04 Oct 2007 23:55:09 +0000</pubDate>
		<dc:creator>matriphe</dc:creator>
				<category><![CDATA[Candi & Tempat Ibadah]]></category>
		<category><![CDATA[Destinasi]]></category>
		<category><![CDATA[candi]]></category>
		<category><![CDATA[Hindu]]></category>
		<category><![CDATA[Semarang]]></category>
		<category><![CDATA[Ungaran]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://jengjeng.matriphe.com/index.php/2007/10/05/nuansa-alam-candi-gedong-songo.html</guid>
		<description><![CDATA[Hari Rabu, 3 Oktober lalu, saya ngeluyur lagi ke candi. Seperti biasa, petualangan tolol saya kali ini tetep masih tanpa rencana, lebih tepatnya karena tersesat. Petualangan diawali setelah saya menyelesaikan pekerjaan saya di Semarang. Biasanya saya ke Semarang bareng sama majikan saya, sehingga habis kerja ndak bakal bisa keluyuran. Untungnya hari itu saya sendirian. Niatan [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><img src="http://jengjeng.matriphe.com/wp-content/uploads/2007/10/candi-gedong-songo1.jpg" alt="Candi Gedong Songo" title="Candi Gedong Songo" width="350" height="263" class="alignnone size-full wp-image-1266" /></p>
<p>Hari Rabu, 3 Oktober lalu, saya ngeluyur lagi ke candi. Seperti biasa, petualangan tolol saya kali ini tetep masih tanpa rencana, lebih tepatnya karena tersesat. <img src='http://jengjeng.matriphe.com/smilies/yahoo_laughloud.gif' alt='&#58;&#41;&#41;' class='wp-smiley' width='18' height='18' title='&#58;&#41;&#41;' /></p>
<p>Petualangan diawali setelah saya menyelesaikan pekerjaan saya di Semarang. Biasanya saya ke Semarang bareng sama majikan saya, sehingga habis kerja ndak bakal bisa keluyuran.</p>
<p>Untungnya hari itu saya sendirian. Niatan untuk jeng-jeng setelah urusan kerjaan usai pun membara di dada. Sepeda motor pun saya pilih sebagai tunggangan dan rekan berpetualang.</p>
<p>Sejak dari Jogja, niat awalnya sih mo ke Bandungan. Tapi apa lacur, sampai di Bandungan saya ndak menemukan obyek yang menarik.</p>
<p>Dasar nasib, mata saya ndak sengaja melihat papan petunjuk ke arah Candi Gedong Songo. Hasrat sok-arkeolog saya pun terusik, dimulailah <acronym title="istilah untuk melakukan petualangan dengan nekad dan penuh ke-soktau-an">pendoyokan</acronym> saya hari itu! <img src='http://jengjeng.matriphe.com/smilies/yahoo_devil.gif' alt='&#62;&#58;&#41;' class='wp-smiley' width='18' height='18' title='&#62;&#58;&#41;' /></p>
<p><span id="more-405"></span>Kompleks wisata Candi Gedong Songo terletak sekitar 1.200 meter <acronym title="dari permukaan air laut">DPL</acronym> di lereng Gunung Ungaran, tepatnya di Desa Candi, Kecamatan Ambarawa, Kabupaten Semarang. Jika dari Bandungan, ambil arah ke barat sejauh kurang lebih 15 km.</p>
<p>Jalan menuju obyek ini sangat terjal dan berkelok. Tapi kita akan diganjar oleh pemandangan mantab dan keren kota Ambarawa dan Rawa Pening dari atas. Jika cuaca cukup cerah, gunung kembar Sindoro dan Sumbing pun akan terlihat.</p>
<p>Jangan sekali-kali menuju ke tempat wisata ini jika kendaraan ndak dalam kondisi fit. Tanjakan sebesar 30Â°-40Â° akan menghajar mesin. Belom lagi tikungan tajam dan berkelok membuat mesin harus bekerja ekstra.</p>
<p>Bahkan ketika saya turun dengan kondisi gigi netral dan mesin sengaja saya matikan untuk menghemat bensin, dalam beberapa detik speedometer menunjukkan angka 60 km/jam dan terus bertambah jika saya ndak ngerem.</p>
<p>Kata &#8220;Gedong Songo&#8221; berasal dari bahasa Jawa &#8220;Gedong&#8221; yang berarti bangunan dan &#8220;Songo&#8221; yang berarti sembilan. Dulunya, nama kompleks candi ini disebut &#8220;Gedong Pitu&#8221; alias Gedong Tujuh, karena saat pertama kali ditemukan oleh Gubernur Jendral Raffles tahun 1740, ada 7 candi. Kemudian ditemukan lagi 2 bangunan candi sehingga disebut dengan &#8220;Gedong Songo&#8221;.</p>
<p>Meski namanya Gedong Songo, namun cuma 5 candi saja yang masih berdiri kokoh. Empat candi lainnya cuma tertinggal puing. Semua candi ini terletak menyebar di beberapa bukit ke atas, dengan urutan candi nomor satu berada di paling bawah, kemudian berurutan hingga ke atas.</p>
<p>Selain candi, di kompleks obyek wisata ini terdapat taman bermain dengan berbagai fasilitas pemainan, hutan pinus yang nyaman untuk berekreasi dengan keluarga, ladang-ladang sayuran milik penduduk sekitar, serta bumi perkemahan. Tak jarang pula, pendakian ke puncak Gunung Ungaran juga dimulai dari kompleks ini.</p>
<p>Dengan tiket masuk seharga 2.600 rupiah dan ongkos parkir motor 1.000 rupiah, kita bisa menikmati berbagai keindahan di lokasi ini sepuasnya.</p>
<p>Begitu masuk gerbang, jalanan menanjak langsung menyambut. Weleh, cukup ngos-ngosan juga, padahal candinya aja belum terlihat.</p>
<p>Untuk menuju ke candi, kita dapat mengikuti jalan setapak yang sudah disemen. Ada 2 jalur, lewat barat atau lewat utara. Bila ingin mengikuti urutan candi, ambillah jalan ke utara alias naik. Saya pun mengambil jalur yang ke utara.</p>
<p>Belum sampai ke candi yang pertama, kita akan ditawari menunggang kuda untuk melahap jalan menanjak terkutuk itu. Ongkos sewanya sekitar 50.000 rupiah, tapi bisa lebih murah jika kita pandai menawar.</p>
<p>Saya memilih untuk berjalan kaki. La saya ndak punya cukup uang, je! Saya juga lupa kalo saya sedang puasa, mana hari itu saya ndak sahur karena kesiangan. Waduh mak, haus banget! <img src='http://jengjeng.matriphe.com/smilies/banghead.gif' alt='&#58;&#98;&#97;&#110;&#103;&#104;&#101;&#97;&#100;' class='wp-smiley' width='25' height='20' title='&#58;&#98;&#97;&#110;&#103;&#104;&#101;&#97;&#100;' /></p>
<p><strong>CANDI GEDONG SATU</strong></p>
<p><img src='http://jengjeng.matriphe.com/wp-content/uploads/2007/10/candi-1.jpg' alt='Candi Gedong Satu' /></p>
<p>Sampai juga saya di candi pertama. Candi ini hanya terdiri atas sebuah candi saja. Tetapi ditengarai ada candi perwara, dengan melihat puing-puing di sekitar candi ini.</p>
<p>Bentuk atap candinya terdiri atas 3 tingkat. Masing-masing tingkat dihiasi oleh segitiga-segitiga dengan ukiran yang cantik. Yang unik, di dalam candi pertama ini, kita dapat menemukan Yoni namun tanpa Lingga.</p>
<p>Ndak ada arca satu pun di candi ini. Setiap sisi candi hanya terdapat relung-relung kosong. Kondisi bangunan candi pun cukup memprihatinkan karena banyak batuan yang rapuh dan rusak.</p>
<p>Perjalanan pun saya teruskan ke candi kedua. Jalanan panjang menanjak begitu menyiksa betis dan paha saya yang jarang terlatih ini. Beberapa kali saya harus berhenti untuk istirahat sejenak, menghirup nafas panjang, sambil mencium harum pinus dan menikmati pemandangan.</p>
<p>Tak terasa tubuh pun mulai berkeringat. Dari kejauhan, keempat candi lainnya pun mulai terlihat. Masing-masing berdiri di bukit-bukit yang berbeda. Perjalanan masih panjang, bung! <img src='http://jengjeng.matriphe.com/smilies/yahoo_sweating.gif' alt='&#35;&#58;&#45;&#83;' class='wp-smiley' width='34' height='18' title='&#35;&#58;&#45;&#83;' /></p>
<p><strong>CANDI GEDONG DUA</strong></p>
<p><img src='http://jengjeng.matriphe.com/wp-content/uploads/2007/10/candi-2.jpg' alt='Candi Gedong Dua' /></p>
<p>Setelah melalui perjuangan panjang, tiba juga saya di candi kedua. Candi kedua ini juga terdiri atas sebuah candi saja. Namun kita juga dapat menemukan puing-puing yang ditengarai merupakan candi perwara. Candi ini kondisinya yang paling baik di antara candi-candi lainnya.</p>
<p>Atapnya tersusun atas 4 tingkat, dengan stupa di tiap ujungnya dan hiasan Antefix di tengah-tengah sisinya. Antefix adalah ukiran seorang dewa dalam posisi bersila yang berada di dalam segitiga berukiran pot dengan sulur-sulur daunnya.</p>
<p><img src='http://jengjeng.matriphe.com/wp-content/uploads/2007/10/antefix.jpg' alt='Hiasan Antefix pada Candi Gedong kedua' /></p>
<p>Dari candi kedua, untuk menuju candi ketiga jaraknya sangat dekat. Tanjakannya cukup terjal namun pendek, sehingga ndak begitu menyiksa kaki. <img src='http://jengjeng.matriphe.com/smilies/yahoo_sweating.gif' alt='&#35;&#58;&#45;&#83;' class='wp-smiley' width='34' height='18' title='&#35;&#58;&#45;&#83;' /></p>
<p><strong>CANDI GEDONG TIGA</strong></p>
<p><img src='http://jengjeng.matriphe.com/wp-content/uploads/2007/10/candi-3.jpg' alt='Candi Gedong Tiga' /></p>
<p>Ada 3 bangunan candi di kompleks candi ketiga ini. Sebuah candi perwara di samping candi utama dan sebuah bangunan semacam ruang penyimpan di depan candi utama.</p>
<p>Atap candi utama terdiri atas 4 tingkat dengan hiasan stupa dan Antefix, atap candi perwara teridiri atas 3 tingkat dengan hiasa stupa dan Antefix, serta bangunan di depan candi utama yang beratap stupa berderet 3 buah.</p>
<p>Candi utama pada kompleks ini satu-satunya candi yang menggunakan hiasan Makara pada tangga pintu masuknya. Selain itu arca-arcanya masih lengkap mengisi tiap relung pada tiap sisinya.</p>
<p><img src='http://jengjeng.matriphe.com/wp-content/uploads/2007/10/mahakala-nadiswara.jpg' alt='Arca Mahakala dan Nadiswara' /></p>
<p>Di pintu masuk candi utama, kita dapat menemukan arca Mahakala dan Nadiswara. Kemudian di sisi utara, timur, dan barat masing masing berisi arca Dewi Durga Mahesasuramardhani, Ganesha, dan Agastya.</p>
<p><img src='http://jengjeng.matriphe.com/wp-content/uploads/2007/10/durga-ganesha-agastya.jpg' alt='Arca Dewi Durga - Ganesha - Agastya' /></p>
<p>Eits, bentar, bentar. <img src='http://jengjeng.matriphe.com/smilies/yahoo_think.gif' alt='&#58;&#45;&#63;' class='wp-smiley' width='18' height='18' title='&#58;&#45;&#63;' /> Masih ingat dengan pola seperti ini?</p>
<p>Yak, benar! Susunannya sama persis dengan susunan arca pada <a href="http://jengjeng.matriphe.com/index.php/2007/09/03/candi-sambisari-6-setengah-m-di-bawah-tanah.html" title="Candi Sambisari, 6Â½ m di Bawah Tanah">Candi Sambisari</a> di Jogja! <img src='http://jengjeng.matriphe.com/smilies/yahoo_wink.gif' alt='&#59;&#41;' class='wp-smiley' width='18' height='18' title='&#59;&#41;' /></p>
<p>Namun pada candi perwara, arca-arca ini tidak ditemukan dan hanya tersisa relung-relungnya saja.</p>
<p>Di sini, saya sempat terpikir untuk mengakhiri penjelajahan saya karena melihat candi keempat dan kelima dipisahkan oleh sebuah lembah di seberang sana. Melihatnya saja sudah terbayang capeknya.</p>
<p>Tapi tunggu dulu, bau apa ini? <img src='http://jengjeng.matriphe.com/smilies/yahoo_sick.gif' alt='&#58;&#45;&#38;' class='wp-smiley' width='18' height='18' title='&#58;&#45;&#38;' /> Saya pun menengok ke arah lembah yang memisahkan bukit tempat candi ketiga dan keempat berada.</p>
<p><strong>MATA AIR PANAS</strong></p>
<p><img src='http://jengjeng.matriphe.com/wp-content/uploads/2007/10/mata-air-panas.jpg' alt='Sumber Mata Air Panas Berbelerang' /></p>
<p>Alamakjang! Ternyata ada sumber mata air panas di lembah tersebut dan bau busuk menyengat itu adalah bau belerang dari mata air panas ini!</p>
<p>Saya pun penasaran dan menuruni bukit menuju ke lembah. Bau belerang semakin menyengat. Konon mata air ini mampu menyembuhkan berbagai macam penyakit kulit.</p>
<p>Sayangnya saya ndak membawa baju ganti, soalnya siapa tau setelah saya mandi di mata air tersebut, wajah saya bisa jadi ganteng? <img src='http://jengjeng.matriphe.com/smilies/yahoo_mean.gif' alt='&#58;&#62;' class='wp-smiley' width='18' height='18' title='&#58;&#62;' /></p>
<p>Mata air panas di Gedong Songo ini konon adalah mata air terpanas di antara 3 mata air panas lain di Gunung Ungaran ini. Suhu uap dan air pada mata air ini mencapai 80Â°-an Celcius, sedangkan 2 mata air panas lainnya sekitar 40Â°-an Celcius.</p>
<p>Ada cerita di balik mata air panas ini. Konon mata air ini dijaga oleh makhluk bernama Nyai Gayatri, arwah perempuan asal Pulau Dewata. Nyai Gayatri adalah salah satu dayang dari Raja Sima. Setelah meninggal, arwah Nyai Gayatri mendiami mata air ini.</p>
<p>Nyai Gayatri adalah seseorang yang gemar menolong sesama. Sampai meninggal pun, Nyai Gayatri masih suka menolong. Salah satunya adalah dengan membantu menyembuhkan penyakit bagi orang yang mandi di mata air ini.</p>
<p>Yah, namanya juga cerita rakyat. Boleh percaya boleh tidak, tapi saya percaya kalo kekuatan penyembuhan terletak pada kandungan belerang di dalam air panas ini. <img src='http://jengjeng.matriphe.com/smilies/yahoo_smiley.gif' alt='&#58;&#41;' class='wp-smiley' width='18' height='18' title='&#58;&#41;' /></p>
<p>Begitu sampai di lembah tempat mata air panas berada, jalan setapak menuju ke candi keempat begitu menggoda.</p>
<p>Sial, ndak tahan dengan godaan, saya pun menapakkan kaki kembali, mendaki jalan setapak menuju candi keempat! <img src='http://jengjeng.matriphe.com/smilies/yahoo_laughloud.gif' alt='&#58;&#41;&#41;' class='wp-smiley' width='18' height='18' title='&#58;&#41;&#41;' /></p>
<p><strong>CANDI GEDONG EMPAT</strong></p>
<p><img src='http://jengjeng.matriphe.com/wp-content/uploads/2007/10/candi-4.jpg' alt='Candi Gedong Empat' /></p>
<p>Candi keempat ini mempunyai keunikan tersendiri. Ditengarai ada 8 candi perwara yang mengelilingi candi utama. Ini bisa dilihat dari puing-puing yang berformasi 2 candi di samping kanan-kiri, sebuah di belakang, dan 3 buah di depan candi utama.</p>
<p>Atap candi utama terdiri atas 4 tingkat, di mana masing-masing tingkat terdapat hiasan stupa. Pada dinding candi utama di sebelah selatan, terdapat sebuah arca yang ndak jelas arca siapa.</p>
<p>Di antara candi keempat dan kelima, terdapat tanah lapang luas yang sering digunakan untuk mendirikan tenda. Saya menemukan sisa-sisa pembakaran api unggun di sekitar lapangan ini.</p>
<p><strong>CANDI GEDONG LIMA</strong></p>
<p><img src='http://jengjeng.matriphe.com/wp-content/uploads/2007/10/candi-5.jpg' alt='Candi Gedong Lima' /></p>
<p>Melalui lapangan yang terbentang di antara candi keempat dan kelima yang cukup landai, sampailah kita di candi terakhir.</p>
<p>Kampret! Saya menemukan sepasang sejoli yang sedang asyik masyuk pacaran di candi ini. Begitu ke-gap oleh saya, mereka langsung kaget dan buru-buru membetulkan <strike>celana</strike> posisi mereka seolah-olah ndak terjadi apa-apa. <img src='http://jengjeng.matriphe.com/smilies/yahoo_angry.gif' alt='&#88;&#40;' class='wp-smiley' width='34' height='18' title='&#88;&#40;' /></p>
<p>Jirut! Mbok kalo pacaran tu jangan di candi, to ya! Kan ada tempat lain, toh di seputaran ini kan ada taman yang bisa dipake buat pacaran. <strike>Bikin pengen aja, tau ndak!</strike></p>
<p>Candi, selain tempat wisata budaya, merupakan tempat suci bagi agama Hindu atau Budha. Jadi, hormati, donk! Saya yang bukan umat Hindu atau Budha aja emosi kalo liat tempat suci begini dipake maksiat, apalagi di bulan puasa! <strike>Mana muka cowoknya jelek, padahal ceweknya lumayan manis.</strike></p>
<p>Untung mereka langsung pergi setelah saya datang. Mungkin mereka <strike>jijik</strike> malu ama saya. Apalagi saya langsung masang tampang ndak suka <strike>sama cowoknya</strike> ke arah mereka. <img src='http://jengjeng.matriphe.com/smilies/yahoo_frustrated.gif' alt='&#58;&#45;&#108;' class='wp-smiley' width='18' height='18' title='&#58;&#45;&#108;' /></p>
<p>Halah, malah ngomongin orang pacaran. <img src='http://jengjeng.matriphe.com/smilies/yahoo_laughloud.gif' alt='&#58;&#41;&#41;' class='wp-smiley' width='18' height='18' title='&#58;&#41;&#41;' /></p>
<p>Bentuk candi kelima ini mirip dengan candi keempat. Atap 4 tingkat dengan hiasan stupa, serta puing-puing candi perwara di sekitar candi utama.</p>
<p>Ada yang unik di salah satu puing candi perwara. Ada bagian yang tersusun lucu, tapi setelah diamati, bagian tersebut adalah bagian dinding candi. Walau terlihat cuma seonggok gitu, bagian ini cukup kokoh berdiri.</p>
<p>Akhirnya, selesai sudah penjelajahan candi saya. Yang saya bingung, gimana cara mbaliknya? Mo mbalik lewat jalan tadi? <img src='http://jengjeng.matriphe.com/smilies/yahoo_ooooh.gif' alt='&#58;&#45;&#111;' class='wp-smiley' width='18' height='18' title='&#58;&#45;&#111;' /></p>
<p>We e e. Ternyata ada jalan menurun yang cukup curam dari candi kelima ini. <img src='http://jengjeng.matriphe.com/smilies/yahoo_sweating.gif' alt='&#35;&#58;&#45;&#83;' class='wp-smiley' width='34' height='18' title='&#35;&#58;&#45;&#83;' /></p>
<p>Saya pun menuruni jalan terjal ini hingga setengah berlari karena saking kuatnya gaya <code>W cos &alpha;</code> mendorong tubuh saya. <img src='http://jengjeng.matriphe.com/smilies/yahoo_laughloud.gif' alt='&#58;&#41;&#41;' class='wp-smiley' width='18' height='18' title='&#58;&#41;&#41;' /></p>
<p>Sepanjang jalan ini, kita akan melewati ladang-ladang milik penduduk sekitar yang ditanami berbagai macam sayuran dan bunga selain hutan pinus, sehingga selama melewati jalan setapak ini pemandangannya begitu elok.</p>
<p>Saya baru menyadari, bahwa semua candi ini memiliki pola yang sama, yaitu semuanya menghadap ke barat!</p>
<p><strong>CERITA RAKYAT</strong></p>
<p>Ada cerita rakyat yang menyelimuti kompleks candi bercorak Hindu ini. Konon Gunung Ungaran tempat candi ini berada dibawa oleh Hanoman, anak dewa berwujud kera putih ini, untuk menimbun Dasamuka.</p>
<p>Dalam cerita Ramayana, Dasamuka yang ndak bisa mati ini menculik Dewi Sinta, istri Rama. Dalam perang merebut Dewi Sinta dari tangan Dasamuka, Dasamuka ndak bisa mati walau berbagai senjata sudah menghujam tubuhnya. Hanoman pun kemudian mengangkat sebuah gunung untuk menimbun tubuh Dasamuka.</p>
<p>Masyarakat sekitar percaya, jika mendengar suara desis atau bergejolak, itu adalah suara Dasamuka. Padahal sebenernya suara-suara itu muncul akibat aktivitas vulkanik yang aktif.</p>
<p>Ada lagi cerita soal Raja Sima. Raja Sima, merupakan raja yang pernah berkuasa di tanah Jawa. Konon ketika Raja Sima menemui masalah, dia selalu merenung dan menemukan solusinya di kompleks candi ini.</p>
<p>Menurut informasi yang saya peroleh, konon di kawasan candi yang bersuhu sekitar 20Â° Celcius ini ternyata memiliki kekuatan bio energi terbaik di Asia. Bahkan bio energi di kompleks ini lebih baik dari Pegunungan Tibet atau pegunungan di Asia lainnya.</p>
<p>Soal kebenarannya, saya sendiri ndak ngecek. Tapi memang, berada di kawasan ini sangat mengasyikkan <strike>apalagi sambil pacaran</strike>.</p>
<p>Berlibur ke tempat ini, selain menambah wawasan budaya juga mampu memberi kesegaran karena panorama dan hawa sejuk yang ada.</p>
<p>Menilik sejarah, candi ini ndak ada yang tau secara pasti siapa yang membangun. Tetapi melihat dari bentuk arsitekturnya, diperkirakan candi ini dibangun pada abad ke-9 oleh Wangsa Syailendra, walau ada versi lain yang menyebutkan dibangun oleh Raja Sanjaya.</p>
<p>Menurut fungsinya, diperkirakan candi ini digunakan selain untuk pemujaan juga digunakan untuk pemakaman.</p>
<p>Candi Gedong Songo, selain memberikan wawasan budaya, keindahan alamnya bisa menjadi alternatif lokasi wisata anda. <img src='http://jengjeng.matriphe.com/smilies/yahoo_wink.gif' alt='&#59;&#41;' class='wp-smiley' width='18' height='18' title='&#59;&#41;' /></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://jengjeng.matriphe.com/nuansa-alam-candi-gedong-songo.html/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>45</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Jeng-Jeng Jepara</title>
		<link>http://jengjeng.matriphe.com/jeng-jeng-jepara.html</link>
		<comments>http://jengjeng.matriphe.com/jeng-jeng-jepara.html#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 25 Sep 2007 06:30:23 +0000</pubDate>
		<dc:creator>matriphe</dc:creator>
				<category><![CDATA[Travelogue]]></category>
		<category><![CDATA[Jepara]]></category>
		<category><![CDATA[Semarang]]></category>
		<category><![CDATA[Yogyakarta]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://jengjeng.matriphe.com/index.php/2007/09/25/jeng-jeng-jepara.html</guid>
		<description><![CDATA[Memenuhi janji kepada Bude Gita, hari Minggu, 23 September kemarin itu, saya sama rekan sepertololan saya akhirnya menepati janji untuk jeng-jeng ke Jepara. Janji itu sebenernya sudah lama, ketika status kami saat itu masih mahasiswa, sebagai motivasi, kalo kami lulus, kami akan jeng-jeng ke Jepara. Alhamdulillah nadzar itu akhirnya terpenuhi, apalagi kemarin itu hari terakhir [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><img src="http://jengjeng.matriphe.com/wp-content/uploads/2007/09/jepara1.jpg" alt="Jogja-Jepara" title="Jogja-Jepara" width="350" height="263" class="alignnone size-full wp-image-1270" /></p>
<p>Memenuhi janji kepada <a href="http://aprikot.wordpress.com/" title="Gita Aprikot" target="_blank">Bude Gita</a>, hari Minggu, 23 September kemarin itu, saya sama <a href="http://diditkurniawan.web.ugm.ac.id/" title="diditjogja" target="_blank">rekan sepertololan saya</a> akhirnya <a href="http://aprikot.wordpress.com/2007/09/23/kejutan/" title="kejutan" target="_blank">menepati janji</a> untuk jeng-jeng ke Jepara.</p>
<p>Janji itu sebenernya sudah lama, ketika status kami saat itu masih mahasiswa, sebagai motivasi, kalo kami lulus, kami akan jeng-jeng ke Jepara. Alhamdulillah nadzar itu akhirnya terpenuhi, apalagi kemarin itu hari terakhir Bude Gita di Jepara sebelum beliau <em>njongos</em> di Bandung.</p>
<p>Perjalanan nekad dan lagi-lagi tanpa rencana itu bener-bener berkesan. Selain kami harus menempuh perjalanan yang jaraknya hampir sama dengan lebar pulau Jawa, <em>ngenthang</em> dari selatan ke utara, petualangan tolol itu kami lalui dalam waktu sehari semalam lebih dikit. <img src='http://jengjeng.matriphe.com/smilies/yahoo_bigsmile.gif' alt='&#58;&#68;' class='wp-smiley' width='18' height='18' title='&#58;&#68;' /></p>
<p><span id="more-394"></span><strong>PERJALANAN</strong></p>
<p>Niatnya berangkat abis Subuh, tapi karena saya bangun kesiangan kami berangkat jam 6 pagi. Udah gitu saya ndak sempet sahur pulak. Sial. Eh, tapi jam 6 emang habis Subuh, kan? <img src='http://jengjeng.matriphe.com/smilies/yahoo_bigsmile.gif' alt='&#58;&#68;' class='wp-smiley' width='18' height='18' title='&#58;&#68;' /></p>
<p>Kami bawa motor sendiri-sendiri. Maksudnya ndak saling berboncengan karena tim akan ketambahan seorang lagi sebagai pemandu, yaitu <a href="http://wedhouz.net/" title="wedhouz" target="_blank">Kang Wedhouz</a>, yang ndak ada motor.</p>
<p>Berangkat dari Jogja menuju Semarang dengan rute yang sedikit beda. Kami blusukan dulu melewati kawasan kebun salak di daerah Turi, Sleman, lalu masuk ke Magelang dan melewati rute biasa Jogja-Semarang.</p>
<p>Awan mendung menggantung dan sempet gerimis menemani kami pagi itu. Untungnya ketika keluar Magelang cuaca cerah walau udara tetep saja dingin menusuk kulit ketika memasuki Ambarawa dan lereng Gunung Ungaran.</p>
<p>Sampai di Semarang sekitar jam 8 pagi. Setelah ketemu Kang Wedhouz kami pun berangkat sekitar jam 8.30 menuju Demak kemudian ambil arah ke Jepara.</p>
<p>Saya hampir menabrak orang beberapa kali ketika melewati rute Demak-Jepara. Jamput! Orang-orang situ itu apa punya nyawa dobel kali ya? Nyebrang seenak udel, naek motor <em>biyayakan</em>, belok dulu baru ngasih sein, bener-bener melatih ketangkasan mengendara dan kesabaran. <img src='http://jengjeng.matriphe.com/smilies/yahoo_waiting.gif' alt='&#58;&#45;&#119;' class='wp-smiley' width='23' height='18' title='&#58;&#45;&#119;' /></p>
<p>Belom lagi jalan bergelombang, bermusuhkan truk-truk kontainer segede gaban, dan cuaca yang panasnya <em>nangudubillah</em> membuat puasa anda bener-bener teruji. <img src='http://jengjeng.matriphe.com/smilies/yahoo_pray.gif' alt='&#91;&#45;&#111;&#60;' class='wp-smiley' width='18' height='18' title='&#91;&#45;&#111;&#60;' /></p>
<p>Mbuh puasa saya hari itu batal apa nggak, tapi saya sempet juga misuh-misuh gara-gara ulah pemakai jalan yang cuek kayak itu jalan punya neneknya aja. <img src='http://jengjeng.matriphe.com/smilies/yahoo_angry.gif' alt='&#120;&#40;' class='wp-smiley' width='34' height='18' title='&#120;&#40;' /></p>
<p><strong>SELAMAT! SAMPAI JUGA DI JEPARA!</strong></p>
<p>Fiuh! Akhirnya sampai juga di Jepara, setelah berhasil mengatasi bahaya dalam perjalanan. <img src='http://jengjeng.matriphe.com/smilies/yahoo_sweating.gif' alt='&#35;&#58;&#45;&#83;' class='wp-smiley' width='34' height='18' title='&#35;&#58;&#45;&#83;' /></p>
<p>Jepara, kota kecil yang mengusung slogan &#8220;kota kartini&#8221; ini sangat bagus. Kotanya bersih, rapi, dan sepi!</p>
<p>Bangunan-bangunan rumah yang ada di kota ini bener-bener mantab. Bangunan megah dan mewah banyak ditemukan. Apa karena di sini banyak ditinggali para juragan furniture kali, ya?</p>
<p>Kota penghasil kerajinan ukir ini berkesan religius. Mungkin karena Jepara diapit oleh daerah penyebaran agama Islam di pulau Jawa yaitu Demak dan Kudus, membuat masyarakatnya begitu religius? Bisa jadi. Ah, ini sih analisis ngawur saya saja. <img src='http://jengjeng.matriphe.com/smilies/yahoo_youkiddingme.gif' alt='&#58;&#45;&#106;' class='wp-smiley' width='26' height='18' title='&#58;&#45;&#106;' /></p>
<p>Saya banyak menemukan masjid-masjid besar dan mewah. Saya amati hampir semua masjid mempunyai pola bangunan yang serupa, sebuah kubah utama dan 2 kubah perwara (halah, bahasa candi kebawa) berada di bagian depan. Kubah-kubah perwara ini pun ada yang cuma kubah kecil saja, tapi ada juga yang berupa menara. Kubahnya pun ndak selalu berbentuk setengah lingkaran, tapi ada juga yang beratap undak meniru arsitektur Masjid Agung Demak dan Menara Kudus.</p>
<p>Kami pun menjemput <a href="http://youtea.blogspot.com/" title="Yutie" target="_blank">Bude Yutie</a> yang kosannya berada di sekitar alun-alun dan Masjid Agung Jepara. Eh, di sini kami juga ketemu sama <a href="http://milokusuka.blogspot.com/" title="Ndah Ndut" target="_blank">Ndah</a> juga. Setelah semua berkumpul, kami pun langsung menuju ke rumah Bude Gita di daerah Bangsri, sekitar 20 menit dari ke utara.</p>
<p><img src='http://jengjeng.matriphe.com/wp-content/uploads/2007/09/jeng-jeng-jepara.jpg' alt='di depan rumah Gita, Jepara' /></p>
<p><strong>NGABUBURIT DI JEPARA</strong></p>
<p>Ke Jepara, ndak afdol rasanya kalo ndak <em>ngelencer</em> ke pantai. Setelah beristirahat sejenak di rumah Bude Gita, kami pun meluncur ke Pantai Bondo, yang lokasinya ndak jauh dari rumah Bude Gita.</p>
<p><img src='http://jengjeng.matriphe.com/wp-content/uploads/2007/09/pantai-bondo.jpg' alt='di Pantai Bondo, Jepara' /></p>
<p>Sebenernya saya pengen banget ke Karimun Jawa. Tapi menurut informasi, kapal yang menuju ke sana cuma ada pada hari Senin dan Kamis. Kek puasa aja. Kalo pun ke sana, lebih asyik kalo nginep. Kalo cuma sehari sih ndak bakalan puas.</p>
<p>Pantai Bondo cukup unik dan eksotis. Pasirnya putih dan halus, ombaknya kecil sehingga aman jika hendak mandi-mandi. Di tengah laut sana, kita bisa melihat karamba dan perahu-perahu nelayan. Yang lebih unik, sekitar 100 meter dari bibir pantai, kita dapat menemukan sawah bertanah merah.</p>
<p>Sayang, karena saya lagi puasa, saya ndak bisa total dalam berpose narsis. Narsis itu menguras tenaga, kawan! <img src='http://jengjeng.matriphe.com/smilies/yahoo_sunglas.gif' alt='&#98;&#45;&#41;' class='wp-smiley' width='18' height='18' title='&#98;&#45;&#41;' /></p>
<p>Setelah puas bermain di pantai, kami pun menuju ke hutan. Hah? Hutan? Iya, unik juga. <img src='http://jengjeng.matriphe.com/smilies/yahoo_giggle.gif' alt='&#59;&#41;&#41;' class='wp-smiley' width='18' height='18' title='&#59;&#41;&#41;' /></p>
<p><img src='http://jengjeng.matriphe.com/wp-content/uploads/2007/09/hutan.jpg' alt='di Hutan Mahoni, Jepara' /></p>
<p>Bukan hutan sih sebenernya, semacam perkebunan Mahoni gitu. Cuma suasanya begitu teduh, rindang, dan sepi, mirip hutan. Oh iya, selama menuju ke pantai, kami juga melewati perkebunan Jati yang sedang meranggas.</p>
<p>Benernya Bude Gita ndobos mo ngajakin kita-kita ke kebun karet sama kebun coklat. La karena cuaca panas pol-polan, saya pun keenakan dan ketiduran. Rencana pun urung dan saya yang disalahin gara-gara ketiduran. La mosok kita mo ngluyur panas-panas kek gitu? Ha mendingan bobo siang dulu to ya? <img src='http://jengjeng.matriphe.com/smilies/yahoo_tongue.gif' alt='&#58;&#112;' class='wp-smiley' width='18' height='18' title='&#58;&#112;' /></p>
<p>Ndak terasa, waktu menjelang senja. Acara ngabuburit pun kami usaikan sudah. Kami segera kembali ke rumah Bude Gita untuk berbuka puasa! <img src='http://jengjeng.matriphe.com/smilies/yahoo_drool.gif' alt='&#61;&#112;&#126;' class='wp-smiley' width='18' height='18' title='&#61;&#112;&#126;' /></p>
<p><strong>KEMBALI KE SEMARANG<br />
</strong></p>
<p>Setelah berbuka dan sholat Maghrib, kami pun pamit. Sesuai ungkapan Jawa, &#8220;<em>gandeng sampun tuwuk, mata krasa ngantuk, monggo enggal mantuk</em> (karena sudah puas, mata jadi ngantuk, mari segera pulang)&#8221;. <img src='http://jengjeng.matriphe.com/smilies/yahoo_laughloud.gif' alt='&#58;&#41;&#41;' class='wp-smiley' width='18' height='18' title='&#58;&#41;&#41;' /></p>
<p>Sukses, Bude! Doakan saja kapan-kapan saya bisa menyambangi dirimu ke Bandung! <img src='http://jengjeng.matriphe.com/smilies/yahoo_wink.gif' alt='&#59;&#41;' class='wp-smiley' width='18' height='18' title='&#59;&#41;' /></p>
<p>Perjalanan pulang dari Jepara menuju Semarang kembali menguji nyali kami. Tingkah laku para pemakai jalan di Jepara-Demak membuat kami harus bener-bener waspada. Lumayan lah buat obat ngantuk karena kami harus bener-bener siap mengantisipasi kemungkinan yang terjadi.</p>
<p>Selama perjalanan saya tak henti-hentinya membunyikan klakson. Ini saya lakukan karena orang-orang di sini tuh bener-bener cuek dan seenaknya kalo pas di jalan. Nyeberang jalan tanpa liat kanan kiri, berbelok mendadak tanpa lampu sein, sepertinya biasa. Bener-bener ngeselin!</p>
<p>Bener saja, saya hampir nabrak penjual mi ayam yang nyeberang nyelonong gitu aja tanpa nengok kanan kiri. Pas diklakson, bukannya nengok atau berhenti, ntu orang malah tetep aja melenggang kangkung tanpa dosa sambil ndorong gerobaknya itu. Budeg kali ntu orang. Ndak tau kalo saya langsung kelimpungan untuk menghindari tabrakan. Jamput asyuu!!</p>
<p>Jalanan Jepara-Demak yang gelap karena tiadanya lampu penerangan membuat kita harus waspada. Jalanan bergelombang dari Demak-Semarang juga harus diwaspadai.</p>
<p><strong>SEMALAM DI SEMARANG</strong></p>
<p>Kami pun memutuskan untuk menginap di Semarang. La di Jepara mo nginep di mana? Kami pun <strike>membooking</strike> menghubungi <a href="http://blog.budiyono.net/" title="boku_baka" target="_blank">Kang Budiyono</a>, minta ijin untuk menginap di <strike>Sunan Kuning</strike> rumahnya.</p>
<p>Sebelum menuju ke rumahnya Budiyono, kami mampir dulu ke rumahnya <a href="http://blog.faniez.net/" title="Fany" target="_blank">Fany</a> karena memang rumahnya Fany ndak jauh dari jalan raya Semarang-Demak.</p>
<p>Ah, nikmatnya <strike>pijetan</strike> teh hangat suguhan Fany sedikit meringankan rasa capek di badan. Sorry lo, Fan kalo ngerepoti. <img src='http://jengjeng.matriphe.com/smilies/yahoo_giggle.gif' alt='&#59;&#41;&#41;' class='wp-smiley' width='18' height='18' title='&#59;&#41;&#41;' /></p>
<p>Ndak lama kemudian Budiyono datang dan langsung ngajakin kita orang ketemuan ma anak-anak <a href="http://loenpia.net/" title="Komunitas Blogger Semarang" target="_blank">Loenpia</a> yang lagi ngumpul di Fak. Hukum UNDIP. Thanks atas sambutan hangatnya, sodara-sodaraku! <img src='http://jengjeng.matriphe.com/smilies/yahoo_wink.gif' alt='&#59;&#41;' class='wp-smiley' width='18' height='18' title='&#59;&#41;' /></p>
<p>Kami pun langsung meluncur ke rumah Budiyono. Rencananya sih sekalian sahur bareng anak-anak <acronym title="yang suka kumpul malam-malam">betmen</acronym> Loenpia di rumahnya Budiyono.</p>
<p>Setelah mandi-mandi, kami pun langsung terkapar. <img src='http://jengjeng.matriphe.com/smilies/yahoo_sleep.gif' alt='&#124;&#45;&#41;' class='wp-smiley' width='21' height='18' title='&#124;&#45;&#41;' /></p>
<p>Setelah sahur dan tidur lagi, sekitar jam 8.30 saya dan Didit pamit untuk pulang ke Jogja.</p>
<p>Terima kasih Bude Gita, Bude Yutie, Ndah, Kang Wedhouz, Budiyono, Fany,  dan temen-temen Loenpia. <img src='http://jengjeng.matriphe.com/smilies/yahoo_wave.gif' alt='&#58;&#45;&#104;' class='wp-smiley' width='28' height='18' title='&#58;&#45;&#104;' /></p>
<p><strong>PULANG KE JOGJA</strong></p>
<p>Kami pun pulang ke Jogja. Bukan kami namanya kalo langsung pulang gitu aja. Kami pun <em>ndoyok</em> dulu.</p>
<p>Ndoyok adalah istilah kami untuk menjelajah tempat-tempat yang belum pernah kami kunjungi, blusukan dengan nekad dan penuh rasa kesoktauan. <img src='http://jengjeng.matriphe.com/smilies/yahoo_laughloud.gif' alt='&#58;&#41;&#41;' class='wp-smiley' width='18' height='18' title='&#58;&#41;&#41;' /></p>
<p>Kami pun mampir dulu di Museum Kereta Api Ambarawa. Sebenernya tempatnya eksotis sih, tapi entah kenapa ketika sampai di sana, kami kurang bersemangat karena mungkin badan letih dan capek.</p>
<p>Pas masuk Magelang, kami pun menuju ke Candi Umbul, kawasan &#8220;yang katanya&#8221; pemandian air panas di daerah Grabag, Magelang. Mendengar kata &#8220;candi&#8221; membuat pikiran saya membayangkan sebuah situs candi dengan sebuah kolam air panas dan ditemani putri-putri yang cantik. <img src='http://jengjeng.matriphe.com/smilies/yahoo_daydream.gif' alt='&#56;&#45;&#62;' class='wp-smiley' width='23' height='18' title='&#56;&#45;&#62;' /> Halah!</p>
<p>Lagi-lagi kami mengurungkan niat ketika sampai di sana. Padahal lokasinya cukup bagus dan alami, loh! Ya sudah, akhirnya kami pun memutuskan untuk langsung pulang saja. <img src='http://jengjeng.matriphe.com/smilies/yahoo_laughloud.gif' alt='&#58;&#41;&#41;' class='wp-smiley' width='18' height='18' title='&#58;&#41;&#41;' /></p>
<p>Rasanya sudah cukup lama saya ndak keluyuran dengan nekad ke tempat-tempat jauh kek gini. Terakhir sih pas ke <a href="http://blog.matriphe.com/index.php/2006/12/26/tour-de-madiun/" title="Tour de Madiun" target="_blank">Madiun</a> sama ke <a href="http://blog.matriphe.com/index.php/2006/11/20/petualangan-purbalingga/" title="Petualangan Purbalinggaâ„¢" target="_blank">Purbalingga</a> tahun lalu.</p>
<p>Selanjutnya ke mana, ya? <img src='http://jengjeng.matriphe.com/smilies/yahoo_think.gif' alt='&#58;&#45;&#63;' class='wp-smiley' width='18' height='18' title='&#58;&#45;&#63;' /></p>
<p>Foto-foto ada di <a href="http://matriphe.multiply.com/photos/album/20" title="Jeng-Jeng Jepara" target="_blank">Multiply saya</a>. <img src='http://jengjeng.matriphe.com/smilies/yahoo_bigsmile.gif' alt='&#58;&#68;' class='wp-smiley' width='18' height='18' title='&#58;&#68;' /></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://jengjeng.matriphe.com/jeng-jeng-jepara.html/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>26</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Serang Semarang™!!</title>
		<link>http://jengjeng.matriphe.com/serang-semarang.html</link>
		<comments>http://jengjeng.matriphe.com/serang-semarang.html#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 09 May 2007 08:33:56 +0000</pubDate>
		<dc:creator>matriphe</dc:creator>
				<category><![CDATA[Travelogue]]></category>
		<category><![CDATA[Semarang]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://jengjeng.matriphe.com/index.php/2007/05/09/serang-semarang.html</guid>
		<description><![CDATA[Tanggal 5-6 Mei lalu, temen-temen Loenpia mengundang CahAndong untuk jumpa muka dan menjalin silaturahmi serta persaudaraan. Tentu saja undangan ini tidak akan disia-siakan. Setelah mengalami beberapa kali kesepakatan, akhirnya terbentuklah tim Serang Semarang™!! yang terdiri dari 7 orang dengan menggunakan 4 buah sepeda motor dan beberapa orang akan menyusul menggunakan bus. Ketujuh anggota tim yang [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><img src="http://jengjeng.matriphe.com/wp-content/uploads/2007/05/serang-semarang1.jpg" alt="Serang Semarang™!!" title="Serang Semarang™!!" width="350" height="263" class="alignnone size-full wp-image-1131" /></p>
<p>Tanggal 5-6 Mei lalu, temen-temen <a href="http://loenpia.net" title="Komunitas Blogger Semarang" target="_blank">Loenpia</a> mengundang <a href="http://cahandong.org/" title="Komunitas Blogger suka JengJeng" target="_blank">CahAndong</a> untuk jumpa muka dan menjalin silaturahmi serta persaudaraan.</p>
<p>Tentu saja undangan ini tidak akan disia-siakan. Setelah mengalami beberapa kali kesepakatan, akhirnya terbentuklah tim Serang Semarang™!! yang terdiri dari 7 orang dengan menggunakan 4 buah sepeda motor dan beberapa orang akan menyusul menggunakan bus.</p>
<p>Ketujuh anggota tim yang menggunakan sepeda motor adalah <a href="http://diditkurniawan.web.ugm.ac.id/" title="diditjogja" target="_blank">Didit</a> sebagai korlap, <a href="http://ismail85.web.ugm.ac.id/" title="tupic" target="_blank">Tupic</a>, <a href="http://kecilmungil.elzan.com/" title="amma" target="_blank">Mbak Amma</a>, <a href="http://thestoopid.fluxide.com/" title="thestoopid" target="_blank">Adi</a>, <a href="http://templank.web.id/" title="templank" target="_blank">Ridho</a>, <a href="http://kailani.web.ugm.ac.id/" title="kucinglistrik" target="_blank">Kailani</a>, dan saya sendiri. <a href="http://arawku.blogspot.com/" title="Mas Is" target="_blank">Mas Is</a>, <a href="http://mentaree.blogspot.com/" title="Bunda Unai" target="_blank">Bunda Unai</a>, <a href="http://irf.blogsome.com/" title="Mas irf" target="_blank">Mas Irfan</a>, dan <a href="http://blog.bodi.web.id/" title="bodi" target="_blank">Mas Boy</a> menyusul kemudian. <a href="http://yutie.blogspot.com/" title="youtea" target="_blank">Bude Yutie</a> pun ikut datang jauh-jauh dari Jepara.</p>
<p>Kali ini tim akan mengunjungi Lawang Sewu yang tak lagi menyeramkan, Polder Tawang di Kawasan Kota Lama, menikmati Kota Semarang dari Bukit Papandayan, <a href="http://jengjeng.matriphe.com/index.php/2007/05/09/serang-semarang.html#pagoda">Pagoda Avalokitesvara</a> di Vihara Watugong, serta Klenteng Sam Poo Kong.</p>
<p><span id="more-175"></span><strong>PEMBERANGKATAN</strong></p>
<p>Tim berkumpul di kandangEBLIS™ sekitar pukul 13.00. Kemudian pada pukul 13.30 tim pun mulai berangkat. Tetapi karena ada beberapa keperluan antara lain, makan siang, mengisi pulsa, dan mengisi angin ban, tim meninggalkan Jogja pada pukul 14.30.</p>
<p><img src='http://jengjeng.matriphe.com/wp-content/uploads/2007/05/berangkat.jpg' alt='Tim sebelum berangkat' /></p>
<p>Rute Jogja-Semarang yang dilalui tim memang sangat &#8220;mulus&#8221; sehingga sukses membuat pantat anggota tim menjadi ikut-ikutan &#8220;mulus&#8221;. La gimana ndak mulus, udah jalan sempit, bergelombang dan berlubang, musuhnya pun truk-truk dan bus-bus yang memang sering mengerang karena kontur menanjak.</p>
<p>Tetapi yang patut disyukuri adalah pemandangan sepanjang perjalanan sungguh indah. Maklum saja, rute ini kan dikelilingi beberapa gunung, antara lain Gunung Merbabu di sisi timur dan Gunung Sumbing di sisi barat. Belum lagi ketika mencapai Ambarawa, Gunung Ungaran dan Gunung Telomoyo terhampar dengan menawarkan pemandangan eksotisnya.</p>
<p>Sekitar pukul 17.30 tim pun tiba di Semarang. Sesuai dengan kesepakatan dan koordinasi dengan <a href="http://fiandigital.wordpress.com/" title="fian" target="_blank">Kang Fian</a>, tim akan dijemput di Bukit Gombel. Sembari menunggu tim penjemput, apalagi yang bisa dikerjakan kecuali foto-foto? <img src='http://jengjeng.matriphe.com/smilies/yahoo_bigsmile.gif' alt='&#58;&#68;' class='wp-smiley' width='18' height='18' title='&#58;&#68;' /></p>
<p><img src='http://jengjeng.matriphe.com/wp-content/uploads/2007/05/gombel.jpg' alt='Tim Serang Semarang di Bukit Gombel' /></p>
<p>Kami pun akhirnya dijemput oleh <a href="http://fiandigital.wordpress.com/" title="fian" target="_blank">Kang Fian</a> yang kemudian disusul oleh <a href="http://jeeptralala.blogspot.com/" title="Jhiban" target="_blank">Kang Jhiban</a>. Kami langsung meluncur ke Lawang Sewu karena di situ temen-temen <a href="http://loenpia.net" title="Komunitas Blogger Semarang" target="_blank">Loenpia</a> sudah menunggu.</p>
<p><strong>LAWANG SEWU YANG TAK LAGI MENYERAMKAN</strong></p>
<p>Salah satu tujuan saya datang ke Semarang kali ini adalah untuk mengunjungi Lawang Sewu yang belum sempet tereksplorasi sepenuhnya pada <a href="http://jengjeng.matriphe.com/index.php/2007/02/19/jeng-jeng-semarang.html" title="Jeng-Jeng Semarang">kunjungan yang lalu</a>. Akan tetapi saya harus menelan kekecewaan yang amat sangat. Bayangan mencekam dengan aroma mistis kental ketika tiba di Lawang Sewu langsung sirna, musnah, dan binasa! <img src='http://jengjeng.matriphe.com/smilies/yahoo_ooooh.gif' alt='&#58;&#45;&#111;' class='wp-smiley' width='18' height='18' title='&#58;&#45;&#111;' /></p>
<p>Ternyata di Lawang Sewu saat itu sedang diadakan Semarang Expo untuk memperingati HUT Kota Semarang ke 460. Tetapi kalo menurut saya, rasanya lokasi ini tidak cocok untuk diadakan sebuah pameran. Ruangan sempit dan banyaknya lorong-lorong sungguh sangat tidak nyaman bila digunakan untuk pameran.</p>
<p>Mungkin Pemkot Semarang ingin mengubah citra Lawang Sewu yang angker, menakutkan, dan mistis ini menjadi lebih &#8220;familiar&#8221;. Tetapi saya rasa justru terkesan memaksa. Lawang Sewu menurut saya justru memiliki nilai &#8220;plus&#8221; ya dari kesan mistisnya itu. <img src='http://jengjeng.matriphe.com/smilies/yahoo_smiley.gif' alt='&#58;&#41;' class='wp-smiley' width='18' height='18' title='&#58;&#41;' /></p>
<p>Yah, walau begitu, ada juga yang mampu mengobati kekecewaan saya yang memang kurang begitu suka dengan keramaian apalagi ada acara band-band-annya ini. Penampakan makhluk <strike>ghaib</strike> manis penghuni stand Djie Sam Soe dan Marlboro mampu melenyapkan rasa kecewa saya. Tetapi mohon maap, skrinsut sang makhluk tidak dapat terabadikan. <img src='http://jengjeng.matriphe.com/smilies/yahoo_devil.gif' alt='&#62;&#58;&#41;' class='wp-smiley' width='18' height='18' title='&#62;&#58;&#41;' /></p>
<p><img src='http://jengjeng.matriphe.com/wp-content/uploads/2007/05/semarang-expo.jpg' alt='Semarang Expo di Lawang Sewu' /></p>
<p>Setelah lelah berkeliling, akhirnya kami semua meninggalkan Lawang Sewu. Sebagian tim menjemput <a href="http://mentaree.blogspot.com/" title="Bunda Unai" target="_blank">Bunda Unai</a> dan <a href="http://arawku.blogspot.com/" title="Mas Is" target="_blank">Mas Is</a> yang nyusul dari Jogja, sedangkan kami menuju ke rumahnya <a href="http://blog.budiyono.net/" title="boku baka" target="_blank">Budiyono</a> untuk sekedar istirahat dan mengisi perut.</p>
<p>Setelah dirasa cukup, perjengjengan dilanjutkan. Kali ini kita menuju ke Kawasan Kota Lama.</p>
<p><strong>KOTA LAMA YANG TERBENGKALAI</strong></p>
<p>Eksotisme Kota Lama memang sudah lama terdengar. Ini pula yang membuat saya sangat penasaran dengan kawasan ini. Konon pemandangan Kota Lama di malam hari sungguh eksotis.</p>
<p>Kami pun akhirnya berkumpul di Polder Tawang. Polder Tawang pada masanya digunakan sebagai kolam untuk mengatur sirkulasi air di kawasan Kota Lama. <del datetime="2007-05-12T05:57:41+07:00">Belanda memang sangat ahli untuk urusan perairan ini</del>. Kolam retensi Polder Tawang yang dibangun pada tahun 1999 ini sayangnya tidak berfungsi sebagaimana mestinya.</p>
<p>Kolam yang terdiri dari beberapa tanggul, pintu air, dan saluran-saluran air ini kondisinya kini sangat memprihatinkan. Bau yang menyengat akibat air yang tergenang di kolam ini membuat kawasan yang sebenernya berpotensi ini menjadi kurang nyaman untuk dijadikan tempat kongkow.</p>
<p>Padahal kalo dicermati, kawasan ini bisa dijadikan sebagai tempat rekreasi murah dan ucapan &#8220;selamat datang&#8221; ketika kita mendarat di Semarang melalui Stasiun Tawang yang memang terletak persis di depan kolam ini.</p>
<p>Tim yang tadinya terpisah di Lawang Sewu akhirnya berkumpul di sini. Setelah saling berkenalan dan bercengkrama, apalagi yang dilakukan kecuali foto-foto? <img src='http://jengjeng.matriphe.com/smilies/yahoo_peace.gif' alt='&#58;&#41;&#62;&#45;' class='wp-smiley' width='22' height='18' title='&#58;&#41;&#62;&#45;' /></p>
<p><img src='http://jengjeng.matriphe.com/wp-content/uploads/2007/05/polder-tawang.jpg' alt='Di Polder Tawang, Kota Lama, Semarang' /></p>
<p>Dari Polder Tawang kami pun bertolak ke icon dari Kota Lama, yaitu Gereja Blenduk. Dari banyaknya bangunan di kawasan yang menjadi latar <a href="http://ruangfilm.com/?q=node/572" title="Kala" target="_blank">film Kala</a> ini, saya rasa hanya Gereja Blenduk dan sekitarnya saja yang terlihat lebih terawat.</p>
<p><strong>SEMARANG DARI BUKIT PAPANDAYAN</strong></p>
<p>Kami pun akhirnya meluncur ke Bukit Papandayan karena di sana rekan-rekan yang lain sudah menunggu di sebuah kafe. Di kafe ini, kita bisa melihat pemandangan Kota Semarang di malam hari yang begitu cantik karena lampu-lampu kota yang menyala.</p>
<p><img src='http://jengjeng.matriphe.com/wp-content/uploads/2007/05/kerlip-semarang.jpg' alt='Kota Semarang dilihat dari Papandayan' /></p>
<p>Di kafe inilah, saya akhirnya bisa mereview makanan berlabel yang menyesakkan hati, yaitu &#8220;<a href="http://ple-q.com/2007/05/02/ta-how-bukan-sekedar-tahu-biasa/" title="Ta-How ?!? Bukan Sekedar Tahu Biasa" target="_blank">TA-how</a>&#8221; yang merupakan salah satu lahan usahanya <a href="http://ple-q.com/" title="Yogie" target="_blank">Kang Yogie</a> dan <a href="http://niea.web.id/" title="Niea" target="_blank">Niea</a>.</p>
<p>Komentar saya, rasanya enak, unik, pedas ladanya mampu menuntut konsumen untuk nambah lagi. Tetapi akan LEBIH ENAK lagi kalo NAMANYA DIGANTI!! Menyinggung perasaan, tau?! <img src='http://jengjeng.matriphe.com/smilies/yahoo_madtongue.gif' alt='&#62;&#58;&#112;' class='wp-smiley' width='18' height='18' title='&#62;&#58;&#112;' /></p>
<p>Sekitar pukul 1.00 kami pun turun. Rasa capek yang amat sangat membuat saya langsung terkapar begitu tiba di rumah <a href="http://blog.budiyono.net/" title="boku baka" target="_blank">Budiyono</a>. <img src='http://jengjeng.matriphe.com/smilies/yahoo_sleep.gif' alt='&#73;&#45;&#41;' class='wp-smiley' width='21' height='18' title='&#73;&#45;&#41;' /></p>
<p><strong><a name="pagoda"></a>PAGODA AVALOKITESVARA</strong></p>
<p><img src='http://jengjeng.matriphe.com/wp-content/uploads/2007/05/pagoda.jpg' alt='Pagoda Avalokitesvara' class="alignleft" /></p>
<p>Pagoda Avalokitesvara terletak di Vihara Buddhagaya di daerah Watugong, Semarang. Pagoda ini konon menjadi yang pertama kali dibangun dan satu-satunya pagoda yang ada di Indonesia. Bangunan setinggi 45 meter yang hampir semua materialnya berasal dari Cina ini tampak menjulang ketika kita hendak memasuki Semarang dari selatan.</p>
<p>Begitu memasuki kawasan vihara, ada 3 buah bangunan yang bisa kita jelajah. Dan lagi-lagi kali ini saya tidak sempat berkeliling dan menjelajah setiap sudut tempat ini karena keterbatasan waktu. <img src='http://jengjeng.matriphe.com/smilies/yahoo_sad.gif' alt='&#58;&#40;' class='wp-smiley' width='18' height='18' title='&#58;&#40;' /></p>
<p>Memasuki pelataran, kita akan melihat sebuah bangunan bernama Dharmasalla yang digunakan untuk beribadah umat Buddha di sisi kiri, sebuah bangunan bekas vihara sebelum pagoda dibangun di tengah, dan pagoda berada di sisi kanan.</p>
<p>Saya pun berbelok ke kanan untuk menuju ke pagoda. Sebelum masuk ke kompleks pagoda, kita akan disambut oleh patung Dewi Kwan Im, sang dewi welas asih. Tak jauh dari patung, tumbuh pohon Bodhi (<em>Ficus religiosa L</em>) yang usianya sudah puluhan tahun dengan patung Sidharta di bawahnya.</p>
<p><img src='http://jengjeng.matriphe.com/wp-content/uploads/2007/05/dharmasalla.jpg' alt='Gedung Dharmasalla' /></p>
<p>Di bawah pohon Bodhi inilah Pangeran Sidharta Gautama mendapatkan kebenaran sejati dan menjadi Budha Syakamuni. Ajaran yang diterima Sidharta inilah yang menjadi titik awal ajaran agama Budha (<acronym title="correct me if I'm wrong">CMIIW</acronym>). Di Indonesia, selain di vihara ini, pohon Bodhi juga ada di Candi Borobudur dan di sebelah utara gedung pusat UGM.</p>
<p>Untuk menuju pagoda, kita harus menaiki anak tangga. Di tengah-tengah anak tangga ini ada tempayan yang menurut kepercayaan orang Cina, tempat itu digunakan untuk mengirimkan sesuatu ke akhirat dengan cara membakar barang yang hendak dikirim itu. Selain itu ada juga tempat untuk menancapkan dupa dan ukiran naga di lantai tengah di antara tangga.</p>
<p>Menengok sebelah kiri, kita akan mencium suatu bau harum yang unik. Ternyata bau itu berasal dari bunga pohon Salla, pohon yang didatangkan dari India. Keunikan pohon ini adalah, bunga dan buahnya muncul dari batang pohon, bukan dari tangkai. Bunga dan buah pohon ini dilarang dipetik, tetapi bunga dan buah yang sudah jatuh boleh diambil oleh pengunjung. Menurut cerita, di bawah pohon Salla inilah Sang Budha dilahirkan dan meninggal.</p>
<p><img src='http://jengjeng.matriphe.com/wp-content/uploads/2007/05/bunga-salla.jpg' alt='Bunga pohon Salla' /></p>
<p>Di dalam pagoda, kita akan melihat sebuah patung besar Bodhisattva Avalokitesvara berwarna emas. Bodhisattva Avalokitesvara adalah sosok yang dihormati dan menjadi nama pagoda ini. Bodhisattva Avalokitesvara adalah sosok yang mengajarkan cinta dan kasih sayang. Nilai lainnya yang hendak diajarkan dari pagoda ini adalah moralitas. Pagoda ini juga disebut dengan Pagoda Meta Karuna di mana &#8220;meta&#8221; berarti &#8220;cinta kasih&#8221; dan &#8220;karuna&#8221; berarti &#8220;kasih sayang&#8221;.</p>
<p>Soal moralitas ini, saya sempet mendapatkan &#8220;siraman rohani&#8221; oleh salah satu pemandu ketika saya bertanya-tanya tentang pohon Salla dan riwayat pagoda ini. <a href="http://irf.blogsome.com/" title="Mas Irf" target="_blank">Mas Irfan</a> yang melihat saya diceramahi cuma ketawa.</p>
<p>&#8220;Si Zam itu kan dulunya ndak bermoral, setelah diceramahi seperti itu bisa dipastikan kini agak lebih bermoral&#8221;, celetuk <a href="http://irf.blogsome.com/" title="Mas Irf" target="_blank">Mas Irfan</a>. Asem ik.. <img src='http://jengjeng.matriphe.com/smilies/yahoo_laughloud.gif' alt='&#58;&#41;&#41;' class='wp-smiley' width='18' height='18' title='&#58;&#41;&#41;' /></p>
<p>Saya pun mencoba tradisi Tjiam-shi. Tjiam-shi adalah tradisi turun temurun warga Tionghoa untuk meramal tentang nasib dan kehidupan. Caranya pun unik. Kita akan diberi sebuah tabung bambu yang berisi beberapa batang bambu yang diberi nomor. Kita diwajibkan menggoyang-goyang tabung bambu tersebut hingga salah satu batang bambu itu keluar dan jatuh ke lantai.</p>
<p>Kemudian untuk mengetahui apakah nomor yang tertulis di batang bambu tersebut &#8220;berjodoh&#8221; dengan kita, kita harus mengeceknya. Caranya, &#8220;pueh&#8221; atau batang kayu berbentuk sabit yang dibelah dua ditepukkan lalu dilepaskan. Jika kedua bilah jatuh dengan posisi saling berlawanan (salah satu terbuka dan lainnya tertutup), berarti nomor itu jodoh dengan kita dan kita mengambil kertas ramalan sesuai dengan nomor yang tertera pada batang bambu. Tetapi jika keduanya terbuka berarti nomor itu diragukan sedangkan bila tertutup berarti nomor tersebut tidak direstui.</p>
<p>Saya pun mencoba tradisi ini. Itung-itung bertanya kepada dewa, kapankah saya lulus? <img src='http://jengjeng.matriphe.com/smilies/yahoo_think.gif' alt='&#58;&#45;&#63;' class='wp-smiley' width='18' height='18' title='&#58;&#45;&#63;' /> Tetapi sayang, setelah mencoba sebanyak 3 kali ramalan saya tidak muncul. Pueh yang saya jatuhkan tidak berlawanan posisinya. Ini berarti saya &#8220;belum beruntung&#8221; kali ini. Atau mungkin sang dewa sendiri juga bingung, kapan saya lulus? <img src='http://jengjeng.matriphe.com/smilies/yahoo_think.gif' alt='&#58;&#45;&#63;' class='wp-smiley' width='18' height='18' title='&#58;&#45;&#63;' /></p>
<p>&#8220;Emangnya aku ini dosen pembimbingmu?&#8221;, gitu kali ya tanggapan dewa? <img src='http://jengjeng.matriphe.com/smilies/yahoo_laughloud.gif' alt='&#58;&#41;&#41;' class='wp-smiley' width='18' height='18' title='&#58;&#41;&#41;' /></p>
<p><img src='http://jengjeng.matriphe.com/wp-content/uploads/2007/05/tjiam-shi.jpg' alt='Mencoba Tjiam-shi' /></p>
<p>Watugong sendiri juga memiliki sejarah. Nama daerah ini diambil dari ditemukannya sebuah batu yang berbentuk seperti gong. Batu ini bisa kita lihat di taman di depan pintu masuk vihara ini. Konon, di daerah inilah ajaran Budha berkembang pertama kali di Semarang.</p>
<p><img src='http://jengjeng.matriphe.com/wp-content/uploads/2007/05/watu-gong.jpg' alt='Batu berbentuk gong' /></p>
<p>Setelah lelah berkeliling, akhirnya kami pun menuju ke Klenteng Sam Poo Kong, karena beberapa rekan sudah menunggu di sana.</p>
<p><strong>KLENTENG SAM POO KONG</strong></p>
<p>Di sini, kami bertemu dengan <a href="http://blog.bodi.web.id/" title="bodi" target="_blank">Mas Boy</a> yang menyusul dari Jogja dan temen-temen lain yang terpisah. Oiya, <a href="http://irf.blogsome.com/" title="Mas Irf" target="_blank">Mas Irfan</a> juga menyusul langsung dari Solo dan langsung njujug ke Pagoda Watugong.</p>
<p>Soal Klenteng ini, sudah pernah saya bahas di <a href="http://jengjeng.matriphe.com/index.php/2007/02/19/jeng-jeng-semarang.html#sampookong" title="Jeng-Jeng Semarang @ Sam Poo Kong">tulisan yang lalu</a>.</p>
<p><img src='http://jengjeng.matriphe.com/wp-content/uploads/2007/05/sam-poo-kong.jpg' alt='Di Klenteng Sam Poo Kong' /></p>
<p><strong>MISSION ACCOMPLISHED!</strong></p>
<p>Dari Sam Poo Kong, kami pun menuju ke sebuah warung bebek goreng di belakang SMA 1 Semarang. Tetapi cita rasa bebek yang ditawarkan warung ini rasanya kurang nendang. Dagingnya masih alot. Mungkin cara mengolahnya kurang sip. Daging bebek memang sedikit berbeda teksturnya dengan daging ayam. Sehingga bila kurang pandai mengolahnya, daging bebek tersebut akan alot. <img src='http://jengjeng.matriphe.com/smilies/yahoo_bigsmile.gif' alt='&#58;&#68;' class='wp-smiley' width='18' height='18' title='&#58;&#68;' /></p>
<p>Di sinilah, <a href="http://loenpia.net" title="Komunitas Blogger Semarang" target="_blank">Loenpia</a> mengumumkan pemenang lomba <a href="http://loenpia.net/blog/lomba-photoblog-loenpia/" title="Lomba Photoblog Loenpia" target="_blank">Fotoblog</a>. Pemenang pertama kali ini diraih oleh <a href="http://blog.faniez.net/" title="Faniez" target="_blank">Fany</a>. Congrats ya! <img src='http://jengjeng.matriphe.com/smilies/yahoo_party.gif' alt='&#60;&#58;&#45;&#80;' class='wp-smiley' width='38' height='18' title='&#60;&#58;&#45;&#80;' /> </p>
<p>Oiya, <a href="http://blog.faniez.net/" title="Faniez" target="_blank">Fany</a> juga memberikan saya sebuah <a href="http://blog.faniez.net/2007/04/19/buku-panduan-memulai-wordpress/" title="Buku Panduan Memulai WordPress" target="_blank">buku</a> untuk direview. Makasih sudah memberi tanda tangan pada bukunya. Sayangnya masih kurang cap bibirnya, tapi ngecapnya jangan di buku, tapi di pipi. <img src='http://jengjeng.matriphe.com/smilies/yahoo_kiss.gif' alt='&#58;&#45;&#42;' class='wp-smiley' width='18' height='18' title='&#58;&#45;&#42;' /></p>
<p>Setelah kenyang, kami pun beristirahat sejenak di sebuah masjid di kampus Universitas Diponegoro. Dan sekitar pukul 16.30 kami meninggalkan Semarang menuju ke Solo.</p>
<p>Loh kok ke Solo? Hiya, pengalaman jalan Jogja-Semarang yang penuh intrik membuat kami ingin merasakan nyamannya jalan Semarang-Solo yang lebar dan mulus. Selain itu, kami juga ingin menemani <a href="http://irf.blogsome.com/" title="Mas Irf" target="_blank">Mas Irfan</a> kembali ke Solo.</p>
<p>Jalur ini juga cukup eksotis. Melalui kaki Gunung Telomoyo yang kemudian disambung dengan Merbabu, membuat senja saat itu begitu menggairahkan. Akan tetapi, rasa capek yang amat sangat membuat konsentrasi kami sedikit kendur. Beberapa kali kami harus waspada karena selepas Salatiga, jalanan sedikit lebih bergelombang. Bahkan sodaraku <a href="http://ismail85.web.ugm.ac.id/" title="tupic" target="_blank">Tupic</a> hampir terjatuh 2 kali akibat selip karena jalan licin akibat hujan yang turun sebelumnya.</p>
<p>Kami pun beristirahat sejenak di sebuah masjid untuk menunaikan sholat Maghrib, kemudian ketika memasuki Kota Boyolali, kami mampir sejenak untuk mengisi perut dengan mi ayam dan segelas susu segar khas Boyolali yang memang daerah penghasil susu tersebut.</p>
<p><img src='http://jengjeng.matriphe.com/wp-content/uploads/2007/05/susu-segar.jpg' alt='Menikmati susu segar Boyolali' /></p>
<p>Kami pun berpisah dengan <a href="http://irf.blogsome.com/" title="Mas Irf" target="_blank">Mas Irfan</a> di pertigaan Kartasura. <a href="http://irf.blogsome.com/" title="Mas Irf" target="_blank">Mas Irfan</a> terus ke Solo, kami berbelok ke arah Klaten untuk meneruskan perjalanan ke Jogja.</p>
<p>Sebuah perjalanan yang melelahkan. Bahkan tanpa disadari, kami telah menyusuri jalur segitiga emas <acronym title="Jogja Solo Semarang">Joglosemar</acronym>! <img src='http://jengjeng.matriphe.com/smilies/yahoo_sweating.gif' alt='&#35;&#58;&#45;&#83;' class='wp-smiley' width='34' height='18' title='&#35;&#58;&#45;&#83;' /></p>
<p>Untuk foto-foto lainnya, bisa dilihat di <a href="http://jengjeng.matriphe.com/index.php/galeri/?album=serang-semarang" title="Galeri Foto &raquo; Serang Semarang">Galeri Narsis &raquo; Serang Semarang</a> saya. <img src='http://jengjeng.matriphe.com/smilies/yahoo_bigsmile.gif' alt='&#58;&#68;' class='wp-smiley' width='18' height='18' title='&#58;&#68;' /></p>
<p>Makasih, <a href="http://loenpia.net" title="Komunitas Blogger Semarang" target="_blank">Loenpia</a>! Makasih semuanya! Jangan kapok menerima kedatangan kami lagi! <img src='http://jengjeng.matriphe.com/smilies/yahoo_smiley.gif' alt='&#58;&#41;' class='wp-smiley' width='18' height='18' title='&#58;&#41;' /></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://jengjeng.matriphe.com/serang-semarang.html/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>39</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Jeng-Jeng Semarang</title>
		<link>http://jengjeng.matriphe.com/jeng-jeng-semarang.html</link>
		<comments>http://jengjeng.matriphe.com/jeng-jeng-semarang.html#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 19 Feb 2007 10:43:46 +0000</pubDate>
		<dc:creator>matriphe</dc:creator>
				<category><![CDATA[Travelogue]]></category>
		<category><![CDATA[Semarang]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://jengjeng.matriphe.com/?p=54</guid>
		<description><![CDATA[Menanggapi tantangan Fany di komen postingan awal saya, akhirnya tantangan tersebut bisa terlunasi Sabtu-Minggu (17-18 Februari 2007) lalu. Ini adalah kunjungan pertama saya ke Semarang, apalagi melakukan aktivitas bak seorang backpacker, beraktivitas nekad dengan semangat let it flow ala De MARKO, memberikan kesan tersendiri buat saya. Terima kasih banyak buat temen-temen Loenpia yang telah menyambut [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><img src="http://jengjeng.matriphe.com/wp-content/uploads/2007/02/jengjengsemarang.jpg" alt="Jeng-Jeng Semarang" title="Jeng-Jeng Semarang" width="350" height="263" class="alignnone size-full wp-image-1104" /></p>
<p>Menanggapi tantangan <a href="http://blog.faniez.net/" title="Fany Ariasari" target="_blank">Fany</a> di <a href="http://jengjeng.matriphe.com/index.php/2007/02/12/hello-world.html#comment-3" title="tantangan Fany">komen</a> <a href="http://jengjeng.matriphe.com/index.php/2007/02/12/hello-world.html" title="Selamat Datang Jalan!">postingan awal</a> saya, akhirnya tantangan tersebut bisa terlunasi Sabtu-Minggu (17-18 Februari 2007) lalu. <img src='http://jengjeng.matriphe.com/smilies/yahoo_bigsmile.gif' alt='&#58;&#68;' class='wp-smiley' width='18' height='18' title='&#58;&#68;' /></p>
<p>Ini adalah kunjungan pertama saya ke Semarang, apalagi melakukan aktivitas bak seorang backpacker, beraktivitas nekad dengan semangat <em>let it flow</em> ala De MARKO, memberikan kesan tersendiri buat saya.</p>
<p>Terima kasih banyak buat temen-temen <a href="http://loenpia.net" title="Loenpia.Net" target="_blank">Loenpia</a> yang telah menyambut kami dengan begitu ruarr biasa. Saya sangat terharu dan jadi merasa sedikit sungkan.. <img src='http://jengjeng.matriphe.com/smilies/yahoo_smiley.gif' alt='&#58;&#41;' class='wp-smiley' width='18' height='18' title='&#58;&#41;' /></p>
<p>Kali ini kita akan menjelajah <a href="http://jengjeng.matriphe.com/index.php/2007/02/19/jeng-jeng-semarang.html#tamantabanas">Taman Tabanas</a>, <a href="http://jengjeng.matriphe.com/index.php/2007/02/19/jeng-jeng-semarang.html#sampookong">Klenteng Sam Poo Kong</a>, <a href="http://jengjeng.matriphe.com/index.php/2007/02/19/jeng-jeng-semarang.html#lawangsewu">Lawang Sewu</a>, <a href="http://jengjeng.matriphe.com/index.php/2007/02/19/jeng-jeng-semarang.html#mbahjingkrak">Warung Mbah Jingkrak</a>, dan <a href="http://jengjeng.matriphe.com/index.php/2007/02/19/jeng-jeng-semarang.html#majt">Masjid Agung Jawa Tengah</a>.</p>
<p><strike>Update: <a href="http://jengjeng.matriphe.com/index.php/2007/02/19/puting-beliung-jogja.html" title="Puting Beliung Jogja">Video rekaman Puting Beliung Jogja</a>!</strike></p>
<p><span id="more-54"></span><strong>DE JOURNEY BEGINS</strong></p>
<p>Rencana perjalanan saya ini sebenernya tercetus karena hasrat saya yang ingin mengunjungi ibukota Jawa Tengah yang seumur-umur belum pernah saya kunjungi itu. Setelah mencari waktu yang pas, ternyata ada respons dari temen-temen di Semarang. Beberapa rekan menyarankan saya untuk berkunjung ke Semarang pas Hari Raya Imlek. Ha ya sudah, berhubung saya pas sela dan ada waktu, ya ajakan itu saya sanggupi aja.</p>
<p>Awalnya saya berencana berangkat ke sana ndak rame-rame, paling cuma beberapa gelintir orang saja, mengingat ini adalah keinginan pribadi saya dan saya ndak pengen merepotkan banyak orang. Jadi mohon maaf buat temen-temen <a href="http://sandbox.cahandong.org/" title="CahAndong.Org" target="_blank">seperdolanan</a>, kalo saya jalan-jalannya kok ndak woro-woro dulu.. <img src='http://jengjeng.matriphe.com/smilies/yahoo_smiley.gif' alt='&#58;&#41;' class='wp-smiley' width='18' height='18' title='&#58;&#41;' /></p>
<p>Tetapi rencana berubah. Orang-orang yang sejak awal menyatakan akan ikut saya ke Semarang, malah membatalkan diri karena ada kepentingan lain (melotot ke arah <a href="http://diditkurniawan.web.ugm.ac.id/" title="diditjogja" target="_blank">Didit</a>), tetapi di sisi lainnya justru ada yang menyatakan diri bergabung meski sejak awal tidak saya sangka sangat sulit untuk bergabung dengan tim, malah ikut (ngelirik <a href="http://chocoluv.elzan.com/" title="chocoluv" target="_blank">Monik</a>). <img src='http://jengjeng.matriphe.com/smilies/yahoo_laughloud.gif' alt='&#58;&#41;&#41;' class='wp-smiley' width='18' height='18' title='&#58;&#41;&#41;' /></p>
<p>Oke, tanpa basa-basi, anggota tim Jeng-Jeng (JJ) kali ini adalah saya sendiri, <a href="http://zaen.web.ugm.ac.id/" title="templank" target="_blank">Ridlo</a>, <a href="http://kailani.web.ugm.ac.id/" title="kucinglistrik" target="_blank">Kailani</a>, dan <a href="http://chocoluv.elzan.com/" title="chocoluv" target="_blank">Monik</a>. Awalnya saya pengen naek motor, tetapi karena si <a href="http://chocoluv.elzan.com/" title="chocoluv" target="_blank">Ndoro Putri</a> ini ndak boleh ikut kalo naek motor, akhirnya kami semua memutuskan untuk ngebis setelah melalui perdebatan alot. <img src='http://jengjeng.matriphe.com/smilies/yahoo_bigsmile.gif' alt='&#58;&#68;' class='wp-smiley' width='18' height='18' title='&#58;&#68;' /></p>
<p><img src="http://jengjeng.matriphe.com/wp-content/uploads/2007/02/0002-timjengjeng.jpg" alt="Tim JengJeng de Semarang di kosan Ridlo sebelum perjalanan" /></p>
<p>Perjalanan kali ini sempat diwarnai oleh hujan cukup lebat dan mengerikan. Rencana semula kami berangkat jam 2 siang terpaksa mundur untuk menunggu hujan reda. Setelah hujan reda sekitar pukul 3, kami pun berangkat. Motor dititipkan di kosannya <a href="http://zaen.web.ugm.ac.id/" title="templank" target="_blank">Ridlo</a> kemudian kami ngebis kecil ke Terminal Jombor, baru naek bis jurusan Semarang dari Jombor.</p>
<p>Akan tetapi, karena bis kecil yang ditunggu tidak segera lewat, kami pun memutuskan untuk jalan kaki saja ke Terminal Jombor yang jaraknya lumayan juga. Hehe, kesan backpacking-nya kerasa banget ketika kami menyusuri trotoar di bawah rintik-rintik gerimis sisa hujan siang tadi.</p>
<p><img src="http://jengjeng.matriphe.com/wp-content/uploads/2007/02/0003-kejombor.jpg" alt="Tim JengJeng menuju Terminal Jombor" /></p>
<p>Setelah sholat Ashar, kami pun segera mencari bis ekonomi jurusan Semarang. Karena sama-sama kurang paham jalur bis Jogja-Semarang, kami malah terdampar di Magelang kemudian oper bis untuk melanjutkan perjalanan ke Semarang dari Magelang.</p>
<p>Perjalanan ke Semarang ini bener-bener lama, maklum, kan kelas ekonomi. <img src='http://jengjeng.matriphe.com/smilies/yahoo_bigsmile.gif' alt='&#58;&#68;' class='wp-smiley' width='18' height='18' title='&#58;&#68;' /> Beberapa kali temen-temen Semarang mengontak kami sudah sampai mana. La karena belom pernah ke Semarang, ya jelas bingung kami ketika ditanya posisi kami. <img src='http://jengjeng.matriphe.com/smilies/yahoo_laughloud.gif' alt='&#58;&#41;&#41;' class='wp-smiley' width='18' height='18' title='&#58;&#41;&#41;' /> Jadi maap kalo informasi yang kami berikan tidak valid.</p>
<p><strong>WELCOME TO SEMARANG!</strong></p>
<p>Singkat cerita sampailah kami di Semarang. Berkat koordinasi dari <a href="http://blog.faniez.net/" title="Fany Ariasari" target="_blank">Fany</a> dan <a href="http://wedhouz.net/" title="Wedhouz" target="_blank">Kang Wedhouz</a> yang cukup membuat bingung kami, akhirnya diputuskan kami akan dijemput <a href="http://ahmaddendi.net/" title="Ahmad Dendi" target="_blank">Kang Dendi</a> di depan <acronym title="Universitas Sultan Agung">UNISULA</acronym> setelah turun dari tol.</p>
<p>Kami pun didrop di rumahnya <a href="http://blog.faniez.net/" title="Fany Ariasari" target="_blank">Fany</a>. Di situ sudah menunggu rekan-rekan <a href="http://loenpia.net/" title="Loenpia.Net" target="_blank">Loenpia</a>, ada <a href="http://blog.budiyono.net/" title="Budiyono" target="_blank">Budiyono</a>, <a href="http://wedhouz.net/" title="Wedhouz" target="_blank">Kang Wedhouz</a>, <a href="http://escoret.net/" title="Pepeng" target="_blank">Pepeng</a>, <a href="http://www.hudatoriq.web.id/" title="Thariqul Huda" target="_blank">Huda</a>, dan <a href="http://lovandhi.blogspot.com/" title="Andhi Nugroho" target="_blank">Kang Andhi</a>. Di situ pula sudah tergelar berbagai jenis makanan kecil. Pokoke kayak ada Tahlilan gitu deh.. <img src='http://jengjeng.matriphe.com/smilies/yahoo_laughloud.gif' alt='&#58;&#41;&#41;' class='wp-smiley' width='18' height='18' title='&#58;&#41;&#41;' /></p>
<p>Selain temen-temen <a href="http://loenpia.net/" title="Loenpia.Net" target="_blank">Loenpia</a>, sudah ada juga <a href="http://aprikot.org/" title="Gita Aprikot" target="_blank">Bude Gita</a> dan <a href="http://yutie.blogspot.com/" title="Wahyutie Rahayu" target="_blank">Bude Yutie</a> yang datang dari Jepara langsung misuh-misuh karena saya ngasih tau kalo mo Semarang secara dadakan seperti ini. <img src='http://jengjeng.matriphe.com/smilies/yahoo_bigsmile.gif' alt='&#58;&#68;' class='wp-smiley' width='18' height='18' title='&#58;&#68;' /> Maaf, bude..</p>
<p><img src="http://jengjeng.matriphe.com/wp-content/uploads/2007/02/005-depanrumahfany.jpg" alt="berfoto di depan rumah Fany" /></p>
<p><img src="http://jengjeng.matriphe.com/wp-content/uploads/2007/02/0004-rumahfany.jpg" alt="Sambutan Loenpia.Net di rumah Fany" /></p>
<p><strong><a title="tamantabanas" name="tamantabanas"></a>SEMARANG DI MALAM HARI</strong></p>
<p>Setelah makan malam secara beringas, kami pun diajak jeng-jeng muter-muter Semarang yang ternyata sangat luas itu. Ya tentu saja kami mau, wong tujuan kami ke Semarang kan emang mau jeng-jeng! <img src='http://jengjeng.matriphe.com/smilies/yahoo_bigsmile.gif' alt='&#58;&#68;' class='wp-smiley' width='18' height='18' title='&#58;&#68;' /></p>
<p>Malam itu kami diajak ke daerah Semarang atas, tepatnya di daerah Gombel, yaitu <strong>Taman Tabanas</strong>. Dari situ kita bisa melihat pemandangan eksotis kota Semarang di malam hari sambil bercengkrama dan gojek kere bersama kawan-kawan. Lebih mantab lagi kalo kita nyruput capuccino dan mbrakot  jagung bakar.</p>
<p><img src="http://jengjeng.matriphe.com/wp-content/uploads/2007/02/0006-semarangmalam.jpg" alt="Kota Semarang di malam hari dilihat dari Taman Tabanas" /></p>
<p><img src="http://jengjeng.matriphe.com/wp-content/uploads/2007/02/0007-tamantabanas.jpg" alt="bercengkrama bersama rekan-rekan Loenpia.Net" /></p>
<p>Malam semakin larut, dan kami pun akhirnya memutuskan untuk pulang dan istirahat. <a href="http://chocoluv.elzan.com/" title="chocoluv" target="_blank">Monik</a> nginep di rumah <a href="http://blog.faniez.net/" title="Fany Ariasari" target="_blank">Fany</a>, sedangkan para eblisÃ¢â€žÂ¢ menginap di rumah <a href="http://blog.budiyono.net/" title="Budiyono" target="_blank">Budiyono</a>. Konon, rumah <a href="http://blog.budiyono.net/" title="Budiyono" target="_blank">Budiyono</a> ini berada di Sunan Kuning, yang merupakan daerah <strike>wajib pakai kondom</strike> terkenal. <img src='http://jengjeng.matriphe.com/smilies/yahoo_bigsmile.gif' alt='&#58;&#68;' class='wp-smiley' width='18' height='18' title='&#58;&#68;' /></p>
<p>Yang namanya eblisÃ¢â€žÂ¢, pasti ndak puas kalo cuma jeng-jeng bentar terus tidur. Bersama <a href="http://ahmaddendi.net/" title="Ahmad Dendi" target="_blank">Kang Dendi</a>, kami diajak keliling bentar melewati kawasan <strong>Kota Lama</strong> yang banyak terdapat <em>heritage</em> alias bangunan tua peninggalan kolonial. Tempat ini cukup eksotis sebenarnya, akan tetapi sayang kurang terawat dengan baik.</p>
<p>Salah satu bangunan yang terkenal di daerah ini adalah <strong>Gereja Blenduk</strong> karena kubahnya yang besar dan disebut dengan <em>blenduk</em>. Gereja Blenduk bisa diliat di <a href="http://wedhouz.net/2007/02/18/blenduk/" title="Blenduk" target="_blank">blog-nya Kang Wedhouz</a>.</p>
<p>Kami pun meluncur ke Jalan Gajah Mada untuk nongkrong bareng bersama para <acronym title="sebutan untuk anak-anak Loenpia.Net">Loenpians</acronym> di <strong><acronym title="semacam angkringan di Jogja atau HIK di Solo">Kucingan</acronym> Pak Gik</strong> di daerah <strike>Pot Gandul</strike> Wotgandul (thanks, <a href="http://lawabiroe.blogspot.com/" title="Lawa Biroe" target="_blank">Mas Lowo</a>). <acronym title="correct me if i'm wrong">CMIIW</acronym> <img src='http://jengjeng.matriphe.com/smilies/yahoo_bigsmile.gif' alt='&#58;&#68;' class='wp-smiley' width='18' height='18' title='&#58;&#68;' /></p>
<p>Puas menikmati teh hangat dan makan nasi kucing di pinggir kali mampet dan bau dan dipenuhi sampah (asli, yang ndak familiar dengan jorok pasti akan muntah). <img src='http://jengjeng.matriphe.com/smilies/yahoo_laughloud.gif' alt='&#58;&#41;&#41;' class='wp-smiley' width='18' height='18' title='&#58;&#41;&#41;' /> Tapi apakah ini memang ciri khas angkringan, eh kucingan ini? Yang pasti, saya sih nyantai saja.. <img src='http://jengjeng.matriphe.com/smilies/yahoo_bigsmile.gif' alt='&#58;&#68;' class='wp-smiley' width='18' height='18' title='&#58;&#68;' /></p>
<p>Tapi kalo menurutku, akan lebih ngesoulâ„¢ lagi kalo tempatnya bersih, ada tikar buat lesehan, dan tidak di pinggir kali yang mampet dan bau, serta sampahnya tidak dibuang sembarangan seperti itu. Tapi walau seperti itu, kok tetep saja ramai ya? <img src='http://jengjeng.matriphe.com/smilies/yahoo_bigsmile.gif' alt='&#58;&#68;' class='wp-smiley' width='18' height='18' title='&#58;&#68;' /></p>
<p>Skip. Akhirnya kami pun tiba di rumah <a href="http://blog.budiyono.net/" title="Budiyono" target="_blank">Budiyono</a>. Rumahnya luas, banyak kasur, dan berbagai fasilitas ada di sini. Tak heran tempat ini sering dijadikan base-camp para Loenpians. Belum lagi lokasi yang dekat dengan &#8220;tempat jajan&#8221;, bisa dijadikan nilai plus buat rumah ini. <img src='http://jengjeng.matriphe.com/smilies/yahoo_laughloud.gif' alt='&#58;&#41;&#41;' class='wp-smiley' width='18' height='18' title='&#58;&#41;&#41;' /></p>
<p>Di sini, anak-anak ndak langsung tidur. Ada yang main <acronym title="PlayStation">PS</acronym>, ada yang crita-crita, pokoke macem-macem. Karena saya ndak bisa main PS, saya milih tidur saja. La sudah nguantuk banget, je.. <img src='http://jengjeng.matriphe.com/smilies/yahoo_tired.gif' alt='&#40;&#58;&#124;' class='wp-smiley' width='18' height='18' title='&#40;&#58;&#124;' /></p>
<p><strong>SUNAN KUNING DI PAGI HARI</strong></p>
<p>Sebelumnya, saya mengucapkan <strong>Selamat Tahun Baru Imlek 2558</strong> bagi yang merayakannya!</p>
<p>Ada pengalaman baru di rumah <a href="http://blog.budiyono.net/" title="Budiyono" target="_blank">Budiyono</a> ini. Di rumah ini, pertama kalinya saya merasakan kamar mandi &#8220;open source&#8221;. Lo kok bisa &#8220;open source&#8221;? La iya, wong kamar mandinya ini ndak ada pintunya! <img src='http://jengjeng.matriphe.com/smilies/yahoo_laughloud.gif' alt='&#58;&#41;&#41;' class='wp-smiley' width='18' height='18' title='&#58;&#41;&#41;' /></p>
<p>Jadi, kita mandi sambil waspada kalo tiba-tiba ada gadis-gadis di <acronym title="Sunan Kuning">SK</acronym> ngelirik ke bawah dan menemukan saya lagi asyik indehoy singsat-singsot mandi. <img src='http://jengjeng.matriphe.com/smilies/yahoo_laughloud.gif' alt='&#58;&#41;&#41;' class='wp-smiley' width='18' height='18' title='&#58;&#41;&#41;' /></p>
<p>Selesai mandi, saya ngajakin <a href="http://kailani.web.ugm.ac.id/" title="kucinglistrik" target="_blank">Kailani</a> untuk jeng-jeng ke atas, tepatnya menjelajah kawasan Sunan Kuning yang tersohor itu. Banyak terdapat penginapan dan tempat karaoke di kawasan ini. Beberapa di antaranya cukup jelas memasang papan nama dengan merk salah satu kondom terkenal. Bahkan ada papan bertuliskan &#8220;Daerah Wajib Memakai Kondom&#8221;. <img src='http://jengjeng.matriphe.com/smilies/yahoo_laughloud.gif' alt='&#58;&#41;&#41;' class='wp-smiley' width='18' height='18' title='&#58;&#41;&#41;' /> Sayang sekali saya ndak membawa kamera saat itu. <img src='http://jengjeng.matriphe.com/smilies/yahoo_tongue.gif' alt='&#58;&#80;' class='wp-smiley' width='18' height='18' title='&#58;&#80;' /></p>
<p>Ada juga beberapa &#8220;bidadari&#8221; yang sedang keluar dari rumah dengan berpakaian &#8220;ala kadarnya&#8221; membuat kami sempat berpikir yang &#8220;iya-iya&#8221;. Untung saja wajah ganteng kami tertinggal di rumah <a href="http://blog.budiyono.net/" title="Budiyono" target="_blank">Budiyono</a> sehingga para &#8220;bidadari&#8221; itu ndak menawar kami. <img src='http://jengjeng.matriphe.com/smilies/yahoo_laughloud.gif' alt='&#58;&#41;&#41;' class='wp-smiley' width='18' height='18' title='&#58;&#41;&#41;' /> Atau memang mereka lagi off duty, ya? <img src='http://jengjeng.matriphe.com/smilies/yahoo_bigsmile.gif' alt='&#58;&#68;' class='wp-smiley' width='18' height='18' title='&#58;&#68;' /></p>
<p><strong><a title="sampookong" name="sampookong"></a>KLENTENG SAM POO KONG</strong></p>
<p>Perjalanan kami akhirnya dimulai. Target operasi pertama kami adalah Klenteng Sam Poo Kong. Klenteng ini terletak di daerah Simongan, Semarang. Klenteng ini mempunyai nama lain Klenteng Sam Poo Thay Jin atau Gedong Batu.</p>
<p><img src="http://jengjeng.matriphe.com/wp-content/uploads/2007/02/0008-sampookong.jpg" alt="Pintu Gerbang Klenteng Sam Poo Kong" /></p>
<p>Klenteng ini dibangun untuk menghormati seorang utusan dari Dinasti Ming, yaitu seorang pelaut muslim bernama <a href="http://http://id.wikipedia.org/wiki/Cheng_Ho" title="Laksamana Cheng Ho di Wikipedia" target="_blank">Laksamana Cheng Ho</a>.</p>
<p>Ketika kami datang, lantunan musik Cina terdengar. Ternyata ada kesenian Ta Kwo Djwee. Di kawasan ini ada beberapa bangunan yang sedang dalam taraf pembangunan dan renovasi. Di tempat ini ada altar tempat sembahyang dan makam-makam Jawa. Bangunan ini merupakan bukti perpaduan kebudayaan Cina dan Islam.</p>
<p><img src="http://jengjeng.matriphe.com/wp-content/uploads/2007/02/0012-papannama.jpg" alt="di depan papan nama klenteng" /></p>
<p><img src="http://jengjeng.matriphe.com/wp-content/uploads/2007/02/0010-altar.jpg" alt="Altar utama Klenteng Sam Poo Kong" /></p>
<p><img src="http://jengjeng.matriphe.com/wp-content/uploads/2007/02/0011-chengho.jpg" alt="Laksamana Cheng Ho wannabe" /></p>
<p>Kami pun banyak menghabiskan waktu di altar utama klenteng ini. Karena memang merupakan tempat ibadah, banyak sekali kaum etnis Cina yang melakukan sembahyang di klenteng ini.</p>
<p>Di belakang altar, kita akan menemukan sebuah dinding batu yang berisi cerita tentang kedatangan Laksamana Cheng Ho ke Jawa. Di balik dinding ini terdapat sebuah gedung untuk tempat ibadah. Karena di dalam gedung sedang ada ritual sembahyang, maka kami ndak bisa melihat ke dalam gedung ini. Gedung inilah yang disebut dengan Goa Batu dan konon di tempat inilah pertama kali Laksamana Cheng Ho membuat markas.</p>
<p><img src="http://jengjeng.matriphe.com/wp-content/uploads/2007/02/0013-goabatu.jpg" alt="Goa Batu yang berisi ukiran kisah perjalanan Laksamana Cheng Ho" /></p>
<p>Di altar inilah kami banyak menghabiskan waktu untuk foto-foto!</p>
<p><img src="http://jengjeng.matriphe.com/wp-content/uploads/2007/02/0014-narsisaltar.jpg" alt="narsis di altar Sam Poo Kong" /></p>
<p><img src="http://jengjeng.matriphe.com/wp-content/uploads/2007/02/0015-lonceng.jpg" alt="narsis di depan lonceng" /></p>
<p><img src="http://jengjeng.matriphe.com/wp-content/uploads/2007/02/0016-depanaltar.jpg" alt="narsis di depan altar" /></p>
<p><strong><a title="lawangsewu" name="lawangsewu"></a>LAWANG SEWU</strong></p>
<p>Petualangan &#8220;rohani&#8221; dilanjutkan. Kali ini kami menuju Lawang Sewu, salah satu bangunan heritage yang memiliki nuansa mistis sangat kental. Gedung ini terkenal akan keangkerannya, terbukti dengan pernah diadakan Uji Nyali di tempat ini di mana saat itu, penampakannya sangat terlihat dengan jelas.</p>
<p><img src="http://jengjeng.matriphe.com/wp-content/uploads/2007/02/0017-lawangsewu.jpg" alt="Gedung Lawang Sewu" /></p>
<p>Lawang Sewu terletak di salah satu sudut persimpangan Tugu Muda. Begitu kami masuk, kami ditemani oleh 2 orang tour guide. Para tour guide inilah yang memandu kami menjelajahi gedung tua ini dan bercerita banyak hal tentang gedung ini.</p>
<p>Gedung ini dibangun pada jaman Belanda sekitar tahun 1903 dan selesai tanggal 1 Juli 1907. Awalnya gedung ini difungsikan sebagai kantor <acronym title="Nederlandsch Indishe Spoorweg Naatschappij">NIS</acronym>, perusahaan kereta api milik Belanda.</p>
<p>Kemudian ketika Jepang datang ke Indonesia tahun 1942, gedung ini diambil alih untuk kemudian dijadikan salah satu markas militer Jepang. Di gedung ini pula terdapat penjara dan ruang penyiksaan hingga pembantaian rakyat.</p>
<p>Setelah kemerdekaan, gedung ini dipakai sebagai kantor administrasi Perusahaan Kereta Api Indonesia (<acronym title="Perusahaan Jawatan Kereta Api">PJKA</acronym>), kemudian pernah juga dijadikan sebagai markas Komando Daerah Militer IV Diponegoro.</p>
<p>Di depan gedung ini, terdapat sumur sedalam 1 Km! Sumur ini masih dapat digunakan, dan konon bila kita tercebur ke dalam sumur ini, maka kita bisa nembus ke laut! <img src='http://jengjeng.matriphe.com/smilies/yahoo_ooooh.gif' alt='&#58;&#45;&#111;' class='wp-smiley' width='18' height='18' title='&#58;&#45;&#111;' /> Percaya atau tidak, itu sih kata pemandunya. <img src='http://jengjeng.matriphe.com/smilies/yahoo_bigsmile.gif' alt='&#58;&#68;' class='wp-smiley' width='18' height='18' title='&#58;&#68;' /></p>
<p><img src="http://jengjeng.matriphe.com/wp-content/uploads/2007/02/0018-sumur1km.jpg" alt="Tempat sumur sedalam 1 Km" /></p>
<p>Sesuai namanya, gedung ini dinamakan Lawang Sewu karena banyaknya pintu di gedung ini. Tetapi apakah betul jumlahnya 1000 buah? Sang pemandu cuma tersenyum dan mengatakan kalo ada orang yang sudah mencoba menghitung jumlah pintu ini, tetapi hasilnya tidak tepat 1000, bisa 1001 tapi bisa juga 999. Kalo ndak percaya, sang pemandu mempersilakan untuk membuktikan sendiri. <img src='http://jengjeng.matriphe.com/smilies/yahoo_bigsmile.gif' alt='&#58;&#68;' class='wp-smiley' width='18' height='18' title='&#58;&#68;' /></p>
<p><img src="http://jengjeng.matriphe.com/wp-content/uploads/2007/02/0019-loronglawangsewu.jpg" alt="salah satu lorong di Lawang Sewu" /></p>
<p>Memasuki salah satu ruangan, saya langsung merasakan sesuatu yang beda. Dalam sekejap seluruh tubuh langsung merinding. Bulu-bulu di tangan dan tengkuk langsung berdiri. Saya mencoba menenangkan diri, tetapi hal ini terjadi 3 kali! <img src='http://jengjeng.matriphe.com/smilies/yahoo_nailbiting.gif' alt='&#58;&#45;&#83;&#83;' class='wp-smiley' width='36' height='18' title='&#58;&#45;&#83;&#83;' /> Saya memang tidak bisa melihat, tetapi mungkin saja salah satu penunggu gedung ini ada di ruangan ini.</p>
<p>Kami pun dipandu untuk naik ke atas melalui tangga utama. Tangga ini terletak tepat di pintu masuk. Di sini kita bisa melihat sebuah dinding kaca kolase yang menggambarkan 2 orang gadis dan sebuah roda kereta api. Konon dua gadis yang terpampang di dinding kaca ini pada waktu-waktu tertentu bisa hilang, alias bergerak! <img src='http://jengjeng.matriphe.com/smilies/yahoo_worried.gif' alt='&#58;&#45;&#83;' class='wp-smiley' width='18' height='18' title='&#58;&#45;&#83;' /></p>
<p><img src="http://jengjeng.matriphe.com/wp-content/uploads/2007/02/0020-kolase.jpg" alt="Dinding kolase di tangga utama" /></p>
<p>Di samping dinding kolase ini, ada sebuah sudut yang secara sekilas merupakan lumut. Tetapi jika kita memperhatikan dengan seksama, kita akan menemukan sosok penampakan dari salah satu penghuni Lawang Sewu ini. Sosok ini berupa kepala tengkorak dan nona Belanda bernama Angel.</p>
<p><img src="http://jengjeng.matriphe.com/wp-content/uploads/2007/02/0021-angel.jpg" alt="Salah satu penampakan di sudut Lawang Sewu" /></p>
<p>Angel ini adalah penguasa dari tempat ini. Dia adalah putri seorang Belanda penghuni gedung ini yang kemudian bunuh diri dengan cara terjun dari atas gedung ini karena cintanya kepada seorang Indonesia ditolak oleh orang tuanya. Begitu cerita yang berkembang. <img src='http://jengjeng.matriphe.com/smilies/yahoo_smiley.gif' alt='&#58;&#41;' class='wp-smiley' width='18' height='18' title='&#58;&#41;' /></p>
<p>Kami pun akhirnya sampai di ruangan paling atas gedung ini. Ruangan yang luas menyerupai aula ini konon merupakan tempat pembantaian. Banyak sekali ditemukan kelelawar berterbangan di ruangan ini. Dari sini kita bisa melihat ke luar dari jendela-jendela sempit.</p>
<p><img src="http://jengjeng.matriphe.com/wp-content/uploads/2007/02/0025-ruangbantai.jpg" alt="Ruang Pembantaian di bagian atas Lawang Sewu" /></p>
<p><img src="http://jengjeng.matriphe.com/wp-content/uploads/2007/02/0022-jendelaatas.jpg" alt="pemandangan gedung dari jendela atas" /></p>
<p>Setelah itu, kami dipandu menuju ke salah satu sudut yang sangat eksotis, karenanya di sini sering digunakan untuk foto-foto pre-wedding. Di sini kita bisa melihat salah satu menara yang ada di depan.</p>
<p><img src="http://jengjeng.matriphe.com/wp-content/uploads/2007/02/0023-menaralawangsewu.jpg" alt="Menara Lawang Sewu" /></p>
<p>Kami pun diajak ke balkon depan. Dari situ, kita bisa melihat pemandangan eksotis Tugu Muda di bawah.</p>
<p><img src="http://jengjeng.matriphe.com/wp-content/uploads/2007/02/0024-tugumuda.jpg" alt="Tugu Muda dari atas Lawang Sewu" /></p>
<p><img src="http://jengjeng.matriphe.com/wp-content/uploads/2007/02/0026-narsistugumuda.jpg" alt="narsis di atas Lawang Sewu" /></p>
<p>Sebenernya kami ingin menelusuri lebih jauh gedung ini. Apalagi saya penasaran dengan ruang penyiksaan bawah tanahnya itu. Konon, hawa-hawa mistis di ruang ini yang paling kental dan terasa. Tetapi karena memperhitungkan waktu dan cacing perut sudah mulai demo, kami pun segera meninggalkan tempat ini.</p>
<p>Sebelum pulang, tentu kami puaskan bernarsis ria dulu. <img src='http://jengjeng.matriphe.com/smilies/yahoo_bigsmile.gif' alt='&#58;&#68;' class='wp-smiley' width='18' height='18' title='&#58;&#68;' /> Lain kali, saya akan kembali ke tempat ini, untuk menuntaskan penasaran saya akan ruang bawah tanah Lawang Sewu!</p>
<p><img src="http://jengjeng.matriphe.com/wp-content/uploads/2007/02/027-jurukunci.jpg" alt="berfoto bersama juru kunci Lawang Sewu" /></p>
<p><img src="http://jengjeng.matriphe.com/wp-content/uploads/2007/02/029-belakanglawangsewu.jpg" alt="narsis di belakang Lawang Sewu" /></p>
<p><img src="http://jengjeng.matriphe.com/wp-content/uploads/2007/02/028-penampakan.jpg" alt="sebuah PENAMPAKAN?" /></p>
<p><strong><a title="mbahjingkrak" name="mbahjingkrak"></a>WARUNG MBAH JINGKRAK</strong></p>
<p><img src="http://jengjeng.matriphe.com/wp-content/uploads/2007/02/0030-mbahjingkrak.jpg" alt="Mbah Jingkrak?" class="alignleft" /></p>
<p>Kami pun mencari makan siang di sebuah warung yang cukup unik, namanya Warung Mbah Jingkrak. Logonya cukup membuat ngakak, yaitu seorang nenek (mbah) yang lagi berjingkrak kegirangan. <img src='http://jengjeng.matriphe.com/smilies/yahoo_laughloud.gif' alt='&#58;&#41;&#41;' class='wp-smiley' width='18' height='18' title='&#58;&#41;&#41;' /></p>
<p>Ruangannya cukup sempit bila dilihat dari jumlah pengunjungnya. Ruangan bertema Jawa sangat terasa. Para pelayan yang menggunakan baju batik, kursi dan meja yang terbuat dari kayu, menunjukkan kesan Jawa. Di bagian tembok terdapat berbagai ornamen, mulai dari kendi dan berbagai potongan kayu ditempelkan di tembok tersebut.</p>
<p>Warung ini sistemnya macam prasmanan, artinya kita dipersilakan mengambil sendiri lauk dan menu yang kita inginkan. Masakan yang ada berbagai macam, tetapi kebanyakan merupakan masakan-masakan khas Jawa.</p>
<p><img src="http://jengjeng.matriphe.com/wp-content/uploads/2007/02/0034-menujingkrak.jpg" alt="Menu Warung Mbah Jingkrak" /></p>
<p>Nama-nama menu yang dipampangkan juga unik dan membuat senyum. Ada Daging Gendruwo, Pitik Rambut Setan, Sunduk Bolong, Sambel Iblis, Oseng Ati Boyo, Es Tobat, dan Es Insyaf.</p>
<p>Saya pun memesan makan nasi merah dengan gulai daun singkong plus sate telor puyuh. Tapi ternyata nasi merah yang disajikan tidak seperti nasi merah yang pernah saya makan. Tetapi secara rasa, masakannya enak. Penyajiannya pun unik, yaitu di atas piring yang dialasi daun pisang.</p>
<p><img src="http://jengjeng.matriphe.com/wp-content/uploads/2007/02/0031-menugita.jpg" alt="ini adalah menu yang dipesan Bude Gita, menu saya bukan yang ini" /></p>
<p>Karena penasaran, saya memesan Es Tobat, sedangkan <a href="http://zaen.web.ugm.ac.id/" title="templank" target="_blank">Ridlo</a> memesan Es Insyaf. Es Tobat adalah air kunir yang diberi santan dengan isi antara lain cincau, tape singkong, dan bubur mutiara. Sedangkan Es Insyaf mirip dengan Es Tobat, tetapi isinya hanya cincau dan kelapa muda.</p>
<p><img src="http://jengjeng.matriphe.com/wp-content/uploads/2007/02/0032-estobat.jpg" alt="Es Tobat Mbah Jingkrak" /></p>
<p><img src="http://jengjeng.matriphe.com/wp-content/uploads/2007/02/0033-esinsyaf.jpg" alt="Es Insyaf Warung Mbah Jingkrak" /></p>
<p>Rasa dari kedua es ini menurut saya kurang nendang. Rasa manisnya menggantung. Saya kira pada awalnya warna coklat adalah warna dari juruh (air gula yang dicairkan) tetapi ternyata air kunirnya tidak dapat membangkitkan rasa manis karena kalah oleh santan. Setelah minum es ini, saya bener-bener TOBAT (kapok) memesan es ini lagi. <img src='http://jengjeng.matriphe.com/smilies/yahoo_laughloud.gif' alt='&#58;&#41;&#41;' class='wp-smiley' width='18' height='18' title='&#58;&#41;&#41;' /></p>
<p><strong><a title="majt" name="majt"></a>MASJID AGUNG JAWA TENGAH<br />
</strong></p>
<p>Setelah kenyang, perjalanan pun dilanjutkan. Awalnya kami akan menuju ke <strong>Pagoda Watu Gong</strong>, tetapi mengingat waktu Tim Jeng-Jeng di Semarang hanya sampai jam 3 sore karena mengejar bis, akhirnya rencana ke Watu Gong dibatalkan dan diganti ke Masjid Agung Jawa Tengah.</p>
<p><img src="http://jengjeng.matriphe.com/wp-content/uploads/2007/02/0035-majt.jpg" alt="Masjid Agung Jawa Tengah" /></p>
<p>Rencana awalnya kita mau naik ke menara masjid ini dan menikmati pemandangan Kota Semarang dari atas menara, tetapi karena saat itu full dan ramai, kami pun memutuskan untuk tidak jadi naik dan hanya sholat dan menikmati keindahan arsitektur masjid ini.</p>
<p>Masjid ini dibangun sejak 6 September 2002 dan selesai pada 14 November 2006. Masjid ini dibangun sebagai &#8220;tetenger&#8221; (peringatan) atas kembalinya tanah wakaf bondo Masjid Besar Kauman Semarang.</p>
<p>Keunikan masjid ini selain menaranya adalah adanya payung raksasa yang bisa membuka dan menutup secara elektronik. Saat kami ke sana, payung-payung ini sedang menutup sehingga bentuknya menjadi semacam &#8220;rudal&#8221;. Payung-payung ini berada pada &#8220;plasa&#8221; atau serambi masjid.</p>
<p><img src="http://jengjeng.matriphe.com/wp-content/uploads/2007/02/0036-menaraplasamajt.jpg" alt="Menara dan Plasa Masjid Agung Jawa Tengah" /></p>
<p>Aneh sekali kenapa pada siang hari panas seperti ini payung-payung ini tidak dibuka. Akibatnya lantai marmer di plasa yang seharusnya suci justru menjadi sangat panas sehingga orang lebih memilih menggunakan sandal dan alas kaki ketika menginjak plasa ini.</p>
<p>Pada bagian timur plasa terdapat sebuah lengkungan yang bertuliskan asmaul husna. Di tengah-tengah lengkungan ini terdapat taman air mancur yang saat itu tidak muncul airnya. Tak jauh dari plasa, terdapat sebuah replika menara Masjid Kudus.</p>
<p><img src="http://jengjeng.matriphe.com/wp-content/uploads/2007/02/0037-menaramajt.jpg" alt="Menara Masjid Agung Jawa Tengah" /></p>
<p>Setelah sholat dan beristirahat, acara selanjutnya tentu saja adalah foto-foto!</p>
<p><img src="http://jengjeng.matriphe.com/wp-content/uploads/2007/02/0038-pintumajt.jpg" alt="di depan pintu Masjid Agung Jawa Tengah" /></p>
<p><img src="http://jengjeng.matriphe.com/wp-content/uploads/2007/02/0039-depanmajt.jpg" alt="di depan Masjid Agung Jawa Tengah" /></p>
<p><img src="http://jengjeng.matriphe.com/wp-content/uploads/2007/02/0040-batassuci.jpg" alt="batas (manusia) suci?" /></p>
<p><strong>END OF DE JOURNEY</strong></p>
<p>Ada perjumpaan, tentu saja ada perpisahan. Tak terasa waktu yang ada telah berakhir. Kebersamaan ini harus diakhiri. Masih banyak tempat yang ingin dikunjungi, tapi apa jua waktu yang tidak dapat berkompromi.</p>
<p>Kami pun akhirnya harus pulang dan kembali ke Jogja. Terima kasih, <a href="http://loenpia.net/" title="Loenpia.Net" target="_blank">kawan</a>! Terima kasih Semarang! Kami akan kembali lagi!</p>
<p><strong>KESAN-KESAN</strong></p>
<p>Semarang ternyata sangat luas bila dibandingkan dengan Jogja. Semarang dibagi menjadi 2 daerah mengikuti kontur alamnya, yaitu Semarang Atas dan Semarang Bawah.</p>
<p>Walau sebagai ibukota Jawa Tengah, saya tidak menemukan unsur dan kesan &#8220;nJawani&#8221; di kota ini. Keberadaan gedung-gedung tua mengesankan Semarang seperti kota-kota di Eropa, terutama jika kita berkunjung ke Kota Lama.</p>
<p>Karena terletak di pinggir laut, Semarang menjadi kota perdagangan yang sibuk. Banyaknya pedagang dan pendatang terutama dari Cina, menjadikan Semarang menjadi kota perdagangan. Di beberapa daerah terdapat kantong-kantong pemukiman etnis Cina. Gedung-gedung tinggi yang mengapit jalanan sempit kota semakin menyiratkan kesan kota perdagangan itu.</p>
<p>Saya memperhatikan, di Semarang ini terdapat banyak sekali persimpangan yang lebih dari 4. Dan uniknya lagi, saya kok tidak menemukan zebra kros di setiap persimpangan lampu bangjo.</p>
<p>Saya secara pribadi mengucapkan banyak terima kasih kepada rekan-rekan <a href="http://loenpia.net/" title="Loenpia.Net" target="_blank">Loenpia</a> yang telah  menyambut kami dengan begitu meriah. <img src='http://jengjeng.matriphe.com/smilies/yahoo_worship.gif' alt='&#94;&#58;&#41;&#94;' class='wp-smiley' width='32' height='18' title='&#94;&#58;&#41;&#94;' /></p>
<p><strong><a title="twister" name="twister"></a>WELCOME HOME JOGJA DISAMBUT PUTING BELIUNG!</strong></p>
<p>Dengan menggunakan bis eksekutif Nusantara (matur nuwun atas &#8220;sponsorship&#8221;-nya, <a href="http://wedhouz.net/" title="wedhouz" target="_blank">Kang</a>) kami meninggalkan Semarang pukul 3 sore. Perjalanan ke Jogja hanya memakan waktu 3 jam. Dan sekitar pukul 6 kami tiba di Jogja.</p>
<p>Saya mendapat berita bahwa jam 5 sore, Jogja diserang angin puting beliung. Angin ini memporak-porandakan Stasiun Kereta Api Lempuyangan dan sekitarnya. Saya yang kalo pulang ke kosan melewati jalur ini sempat kaget dan terjebak kemacetan.</p>
<p>Innalillahi wa inna ilaihi ro ji&#8217;uun.. Kenapa Jogja ditimpa bencana lagi seperti ini?</p>
<p>Saya mendapatkan gambar angin puting beliung yang menimpa Jogja itu. Gambar ini diambil sendiri oleh teman saya, Mas Darmawan dari sekitar Jalan Taman Siswa.</p>
<p>Bagi yang penasaran, silakan download dari <a href="http://jengjeng.matriphe.com/index.php/2007/02/19/puting-beliung-jogja.html" title="Puting Beliung Jogja">sini (eksklusif, 3 MB, WMV)</a>. Foto-foto kiriman dia juga masuk ke <a href="http://www.detik.com/beritafoto/public/index.php?fuseaction=detik.readfoto&amp;tahun=2007&amp;bulan=02&amp;tgl=19&amp;time=155800&amp;idnews=744042&amp;idkanal=157&amp;id=1" title="Rentetan Puting Beliung di Yogya" target="_blank">Detik</a>.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://jengjeng.matriphe.com/jeng-jeng-semarang.html/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>31</slash:comments>
		</item>
	</channel>
</rss>

