<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>jengjeng matriphe! &#187; serabi</title>
	<atom:link href="http://jengjeng.matriphe.com/tag/serabi/feed" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://jengjeng.matriphe.com</link>
	<description>pengen jalan-jalan, makan-makan, dan lain-lain</description>
	<lastBuildDate>Tue, 02 Aug 2011 11:41:49 +0000</lastBuildDate>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<generator>http://wordpress.org/?v=3.2.1</generator>
	<atom:link rel='hub' href='http://jengjeng.matriphe.com/?pushpress=hub'/>
		<item>
		<title>Serabi Tanah Abang?</title>
		<link>http://jengjeng.matriphe.com/serabi-tanah-abang.html</link>
		<comments>http://jengjeng.matriphe.com/serabi-tanah-abang.html#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 06 Jun 2008 02:50:15 +0000</pubDate>
		<dc:creator>matriphe</dc:creator>
				<category><![CDATA[Kuliner]]></category>
		<category><![CDATA[Jakarta]]></category>
		<category><![CDATA[serabi]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://jengjeng.matriphe.com/index.php/2008/06/06/serabi-tanah-abang.html</guid>
		<description><![CDATA[Sudah beberapa kali saya mengamati seorang ibu penjual serabi di kawasan Pasar Tanah Abang, Jakarta Pusat. Duduk tanpa menggunakan dhasaran kecuali hanya sebuah dingklik, anglo, dan keranjang untuk menjajakan serabinya. Walau saya penasaran dengan serabi yang satu-satunya dijual di seputaran pasar ini, namun baru kemarin itu saya mampir mendekati ibu penjual serabi itu. Melihat bentuk [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><img src="http://jengjeng.matriphe.com/wp-content/uploads/2008/06/penjual-srabi1.jpg" alt="Penjual Serabi Tanah Abang" title="Penjual Serabi Tanah Abang" width="350" height="263" class="alignnone size-full wp-image-1167" /></p>
<p>Sudah beberapa kali saya mengamati seorang ibu penjual serabi di kawasan Pasar Tanah Abang, Jakarta Pusat. Duduk tanpa menggunakan <em>dhasaran</em> kecuali hanya sebuah <em>dingklik</em>, anglo, dan keranjang untuk menjajakan serabinya.</p>
<p>Walau saya penasaran dengan serabi yang satu-satunya dijual di seputaran pasar ini, namun baru kemarin itu saya mampir mendekati ibu penjual serabi itu.</p>
<p><span id="more-721"></span>Melihat bentuk serabi tersebut, saya langsung penasaran. Bentuknya bantat bantat dan liat. Lebih mirip kue apem kalo saya bilang. Di dalamnya terselip potongan-potongan kelapa yang dipotong dadu.</p>
<p>Cara memakannya pun dengan mencocolkannya ke larutan gula aren yang hangat. Cara makan seperti ini mengingatkan saya akan <a href="http://jengjeng.matriphe.com/index.php/2007/10/28/serabi-ngampin-ambarawa-nan-segar.html" title="Serabi Ngampin Ambarawa Nan Segar">Serabi Ngampin</a>, namun serabi ini ndak sampai berendam dalam kuah gula.</p>
<p>Ketika ditanya, ibu penjual yang mengaku berasal dari Kuningan, Jawa Barat, ini berkata, &#8220;ya serabi biasa..&#8221;, dengan logat Sunda yang kental ketika ditanya apa nama serabinya ini.</p>
<p>Dengan menggunakan 2 buah anglo, tungku tanah liat yang menggunakan bahan bakar kayu, serabi ini dimasak dengan menggunakan wajan kecil yang juga terbuat dari tanah liat.</p>
<p>Kayu bakar yang digunakan pun adalah kayu sengon dan beberapa kayu bekas sisa-sisa box yang banyak berserakan di sekitar pasar. Dia berjualan sendirian, di tengah hiruk pikuk kehidupan Pasar Tanah Abang di waktu malam.</p>
<p>Seakan ia tak peduli dengan hilir mudiknya angkot M11 dan M09, suara dangdut yang gedombrangan dari pojokan karaoke remang-remang, di antara para ibu-ibu setengah baya penjaja cinta yang siul-siul menggoda pria tampan macam saya dengan siulan-siulannya.. Munyuk! <img src='http://jengjeng.matriphe.com/smilies/yahoo_waiting.gif' alt='&#58;&#45;&#119;' class='wp-smiley' width='23' height='18' title='&#58;&#45;&#119;' /></p>
<p>Saya menjumpai ibu ini ketika senja selepas Maghrib hingga Isya. Selepas itu, ibu penjual itu hanya meninggalkan seonggok abu bekas pembakaran kayu tungkunya.</p>
<p><img src='http://jengjeng.matriphe.com/wp-content/uploads/2008/06/srabi-tan-abang.jpg' alt='Serabi Tanah Abang' /></p>
<p>Sebuah serabi dijualnya seribu rupiah. Rasanya gurih cenderung asin bila dimakan tanpa cocolan gula yang disertakan. Potongan kelapa yang krauk-krauk menambah kesan gurih.</p>
<p>Entah di mana lagi saya bisa menemukan serabi macam ini, sehingga saya pun menamakan serabi ini dengan, Serabi Tanah Abang. <img src='http://jengjeng.matriphe.com/smilies/yahoo_smiley.gif' alt='&#58;&#41;' class='wp-smiley' width='18' height='18' title='&#58;&#41;' /></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://jengjeng.matriphe.com/serabi-tanah-abang.html/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>37</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Serabi Ngampin Ambarawa Nan Segar</title>
		<link>http://jengjeng.matriphe.com/serabi-ngampin-ambarawa-nan-segar.html</link>
		<comments>http://jengjeng.matriphe.com/serabi-ngampin-ambarawa-nan-segar.html#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 28 Oct 2007 05:46:40 +0000</pubDate>
		<dc:creator>matriphe</dc:creator>
				<category><![CDATA[Kuliner]]></category>
		<category><![CDATA[Ambarawa]]></category>
		<category><![CDATA[Semarang]]></category>
		<category><![CDATA[serabi]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://jengjeng.matriphe.com/index.php/2007/10/28/serabi-ngampin-ambarawa-nan-segar.html</guid>
		<description><![CDATA[Seperti biasa, kalo pas ngeluyur ke Semarang, saya mencuri-curi waktu untuk keluyuran. Nah, kebetulan hari Jumat kemarin saya pas disuruh ke Semarang untuk urusan kerjaan. Sip, berhubung beberapa waktu lalu saya sudah kedereng pengen ngeluyur, akhirnya tugas dari juragan itu di mata saya berarti &#8220;jengjeng&#8221;. Setelah tugas usai, dalam perjalanan balik ke Jogja, saya menyempatkan [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><img src="http://jengjeng.matriphe.com/wp-content/uploads/2007/10/serabi-ngampin1.jpg" alt="Serabi Ngampin siap dimakan" title="Serabi Ngampin siap dimakan" width="350" height="263" class="alignnone size-full wp-image-1260" /></p>
<p>Seperti biasa, kalo pas ngeluyur ke Semarang, saya mencuri-curi waktu untuk keluyuran. Nah, kebetulan hari Jumat kemarin saya pas disuruh ke Semarang untuk urusan kerjaan. <img src='http://jengjeng.matriphe.com/smilies/yahoo_bigsmile.gif' alt='&#58;&#68;' class='wp-smiley' width='18' height='18' title='&#58;&#68;' /></p>
<p>Sip, berhubung beberapa waktu lalu saya sudah <em>kedereng</em> pengen ngeluyur, akhirnya tugas dari juragan itu di mata saya berarti &#8220;jengjeng&#8221;. <img src='http://jengjeng.matriphe.com/smilies/yahoo_devil.gif' alt='&#62;&#58;&#41;' class='wp-smiley' width='18' height='18' title='&#62;&#58;&#41;' /></p>
<p>Setelah tugas usai, dalam perjalanan balik ke Jogja, saya menyempatkan diri untuk mencoba salah satu makanan khas Ambarawa, Serabi <strike>lempit</strike> Ngampin yang banyak dijual sepanjang jalan Jogja-Semarang, tepatnya di daerah Ambarawa.</p>
<p><span id="more-437"></span>Ternyata kue serabi itu ada berbagai jenis. Salah satunya ya Serabi Ngampin ini. Bedanya dengan serabi yang lain, serabi ini berendam dalam kuah manis yang terbuat dari santan dan gula jawa saat dinikmati.</p>
<p>Serabinya sendiri ternyata ada beberapa tipe, tipe tawar dan tipe manis. Yang tawar, permukaan serabi hanya berwarna putih atau hijau, sedangkan yang manis permukaannya ada warna coklat karena dicampur dengan sedikit gula jawa.</p>
<p>Serabi Ngampin banyak dijual di kedai-kedai kecil berderet sepanjang jalan Soegiyopranoto, atau lebih dikenal dengan jalan raya Ambarawa-Semarang. Kedai-kedai mungil ini berdiri di sekitar kantor kelurahan Ngampin, Kecamatan Ambarawa, Kabupaten Semarang.</p>
<p><img src='http://jengjeng.matriphe.com/wp-content/uploads/2007/10/warung-serabi.jpg' alt='warung Serabi Ngampin' /></p>
<p>Dinamakan Serabi Ngampin karena memang serabi ini dijual di daerah Ngampin, Ambarawa. Serabi ini juga sering disebut dengan Serabi Kucur karena penggunaan kuah santan manis tadi.</p>
<p>Di salah satu kedai penjual Serabi Ngampin ini saya berhenti sejenak untuk melepas penat. Bau harum serabi yang baru masak membuat cacing-cacing perut saya berbuat rusuh. <img src='http://jengjeng.matriphe.com/smilies/yahoo_devil.gif' alt='&#62;&#58;&#41;' class='wp-smiley' width='18' height='18' title='&#62;&#58;&#41;' /></p>
<p>Di dalam ruang kedai kayu berukuran sekitar 1Â½ x 1Â½ meter ini saya menemukan sebuah meja dan 2 buah tungku tanah liat berbahan bakar kayu.</p>
<p>Serabi-serabi yang sudah matang diletakkan dalam sebuah nampan yang ditutup dengan plastik mengerucut ke atas. Fungsinya selain untuk melindungi serabi dari asap kendaraan yang lewat di depannya juga untuk menarik perhatian.</p>
<p><img src='http://jengjeng.matriphe.com/wp-content/uploads/2007/10/serabi.jpg' alt='Serabi Ngampin yang dijual' /></p>
<p>Saya pun memesan seporsi. Satu porsi Serabi Ngampin berisi 4 buah serabi yang diletakkan di dalam mangkok kemudian diguyur dengan santan manis yang masih hangat. Weh, seger banget! <img src='http://jengjeng.matriphe.com/smilies/yahoo_drool.gif' alt='&#61;&#112;&#126;' class='wp-smiley' width='18' height='18' title='&#61;&#112;&#126;' /></p>
<p>Tak sabar saya pun segera mencicipinya. Dengan sendok saya pun mencuil sedikit serabi lalu menyendok kuah santannya lalu memakannya. Weh.. <img src='http://jengjeng.matriphe.com/smilies/yahoo_drool.gif' alt='&#61;&#112;&#126;' class='wp-smiley' width='18' height='18' title='&#61;&#112;&#126;' /></p>
<p>Santan yang ndak terlalu manis bercampur dengan serabi tawar yang empuk dan halus memberikan sensasi tersendiri. Seger tenan! <img src='http://jengjeng.matriphe.com/smilies/yahoo_drool.gif' alt='&#61;&#112;&#126;' class='wp-smiley' width='18' height='18' title='&#61;&#112;&#126;' /></p>
<p>Saya pun melirik ke arah ibu penjual yang sedang memasak serabi. Ternyata serabi ini dimasak dengan cara yang tradisional dan unik.</p>
<p>Serabi dimasak dengan wajan kecil yang terbuat dari tanah liat. Wajan ini kemudian diletakkan di atas tungku tanah liat pula yang berbahan bakar kayu.</p>
<p><img src='http://jengjeng.matriphe.com/wp-content/uploads/2007/10/tungku-kayu.jpg' alt='tungku kayu untuk membuat serabi' /></p>
<p>Penggunaan tanah liat dan bahan bakar kayu ini tentu ada alasannya. Kayu bakar mampu menghasilkan panas yang tetap dan stabil bila dibandingkan dengan kompor. Tanah liat juga menghantarkan panas dengan unik, sehingga serabi akan matang dengan pas dan ndak mudah gosong.</p>
<p>Adonan tepung beras dituang ke dalam wajan dengan menggunakan sendok sayur kecil. Kemudian wajan tanah liat tadi ditutup dengan penutup berbentuk seperti piring terbalik yang juga terbuat dari tanah liat.</p>
<p>Ndak lama, sekitar 3 menitan, serabi pun matang lalu diangkat dengan menggunakan sendok kayu (<em>sothil</em>).</p>
<p>Serabi pun merekah seketika saat diangkat dari wajan. Lubang-lubang kecil di permukaan serabi terbentuk akibat uap yang terlepas dari adonan serabi. Bau harum pun langsung tercium. Dengan cekatan, ibu penjual meletakkannya ke dalam nampan kerucut tadi.</p>
<p>Konon para penjual serabi ini sudah ada sejak tahun 1970-an. Walau makanan ini khas Ambarawa, namun serabi ini hanya dijual di daerah Ngampin.</p>
<p>Selesai menikmati segarnya Serabi Ngampin, saya pun beranjak dari kedai yang berbentuk seperti lincak ini. Total kerusakan yang saya derita untuk seporsi Serabi Ngampin itu hanya 2.500 rupiah saja.</p>
<p>Sebagai oleh-oleh, saya pun membeli Kerupuk Sermiyer yang juga dijual di kedai itu. Kerupuk Sermiyer adalah kerupuk yang terbuat dari singkong. Kerupuk ini sangat tipis dan garing, sehingga mudah remuk. Kerupuk Sermiyer berdiameter sekitar 30 cm ini dijual seharga 1.500 rupiah saja.</p>
<p><img src='http://jengjeng.matriphe.com/wp-content/uploads/2007/10/krupuk-sermiyer.jpg' alt='Kerupuk Sermiyer' /></p>
<p>Hari menjelang sore, saya pun kembali memancal Kawasaki Kaze, menyusuri kaki Gunung Ungaran dan Telomoyo untuk kembali ke Jogja.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://jengjeng.matriphe.com/serabi-ngampin-ambarawa-nan-segar.html/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>71</slash:comments>
		</item>
	</channel>
</rss>

