<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>jengjeng matriphe! &#187; Solo</title>
	<atom:link href="http://jengjeng.matriphe.com/tag/solo/feed" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://jengjeng.matriphe.com</link>
	<description>pengen jalan-jalan, makan-makan, dan lain-lain</description>
	<lastBuildDate>Tue, 02 Aug 2011 11:41:49 +0000</lastBuildDate>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<generator>http://wordpress.org/?v=3.2.1</generator>
	<atom:link rel='hub' href='http://jengjeng.matriphe.com/?pushpress=hub'/>
		<item>
		<title>Gudeg Ceker Margoyudan, Juaranya Gudeg Solo</title>
		<link>http://jengjeng.matriphe.com/gudeg-ceker-margoyudan-juaranya-gudeg-solo.html</link>
		<comments>http://jengjeng.matriphe.com/gudeg-ceker-margoyudan-juaranya-gudeg-solo.html#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 27 Feb 2009 19:16:08 +0000</pubDate>
		<dc:creator>matriphe</dc:creator>
				<category><![CDATA[Kuliner]]></category>
		<category><![CDATA[gudeg]]></category>
		<category><![CDATA[Solo]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://jengjeng.matriphe.com/?p=1043</guid>
		<description><![CDATA[Gudeg rupanya ndak melulu menjadi monopoli Jogja. Meskipun berdekatan, namun cita rasa gudeg ala Solo ini berbeda dengan gudeg Jogja yang terkenal manis tersebut. Solo memang merupakan salah satu surga kuliner di Indonesia. Berbagai makanan enak banyak dijual dengan waktu penjualan yang berbeda-beda, mulai dari pagi hari, siang hari, malam hari, maupun dini hari. Ketika [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><img src="http://jengjeng.matriphe.com/wp-content/uploads/2009/02/gudeg-ceker.jpg" alt="Gudeg Ceker Bu Kasno" title="Gudeg Ceker Bu Kasno" width="350" height="263" class="alignnone size-full wp-image-1044" /></p>
<p>Gudeg rupanya ndak melulu menjadi monopoli Jogja. Meskipun berdekatan, namun cita rasa gudeg ala Solo ini berbeda dengan gudeg Jogja yang terkenal manis tersebut.</p>
<p>Solo memang merupakan salah satu surga kuliner di Indonesia. Berbagai makanan enak banyak dijual dengan waktu penjualan yang berbeda-beda, mulai dari pagi hari, siang hari, malam hari, maupun dini hari.</p>
<p><span id="more-1043"></span>Ketika pulang ke Solo beberapa waktu yang lalu, saya berkunjung kembali ke Gudeg Ceker Margoyudan yang sangat termahsyur itu. Kebetulan letaknya juga ndak jauh dari SMA saya, jadi sekalian bernostalgia. <img src='http://jengjeng.matriphe.com/smilies/yahoo_bigsmile.gif' alt='&#58;&#68;' class='wp-smiley' width='18' height='18' title='&#58;&#68;' /></p>
<p>Gudeg Bu Kasno, yang terletak di Jl. Monginsidi, Solo ini memang sudah termahsyur sejak tahun 1960-an. Ceker ayam yang begitu empuk memang menjadi jagoan dari gudeg ini. Bayangkan, kita bisa dengan mudah melolosi daging dari tulang dengan lidah tanpa perlawanan sedikit pun!</p>
<p>Jam bukanya pun ajaib, yaitu sekitar jam 2 dini hari. Namun jangan salah, yang rela mengantre itu banyak banget! Bahkan sebelum warung resmi dibuka, pengunjung sudah rela mengantre!</p>
<p><img src="http://jengjeng.matriphe.com/wp-content/uploads/2009/02/antrian-gudeg.jpg" alt="Antrian di Gudeg Ceker" title="Antrian di Gudeg Ceker" width="350" height="263" class="alignnone size-full wp-image-1045" /></p>
<p>Karena saking banyaknya orang yang hendak menikmati gudeg ini, maka tata letak warung pun disesuaikan. Kita bisa memilih duduk di depan si ibu dan menikmati gudeg dengan menahan piring dengan salah satu tangan, atau duduk di dingklik-dingklik kayu yang sudah disediakan.</p>
<p>Di tempat ini memang sengaja tidak memberikan meja, demi alasan efisiensi tempat. Jadi pengunjung datang, antre, duduk, makan, kemudian pergi karena tempatnya akan digunakan oleh pengunjung lain.</p>
<p><img src="http://jengjeng.matriphe.com/wp-content/uploads/2009/02/tanpa-meja.jpg" alt="Tanpa meja" title="Tanpa meja" width="350" height="263" class="alignnone size-full wp-image-1046" /></p>
<p>Maka jika Anda berkunjung ke Solo dan kelaparan pada tengah malam, jangan khawatir. Gudeg ceker akan membinasakan rasa lapar Anda dan memanjakan lidah Anda, tentunya Anda harus rela mengantre dengan tertib.</p>
<p>Duh, jadi lapar!</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://jengjeng.matriphe.com/gudeg-ceker-margoyudan-juaranya-gudeg-solo.html/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>54</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Menelusuri Jejak Sejarah Kampung Batik Laweyan</title>
		<link>http://jengjeng.matriphe.com/menelusuri-jejak-sejarah-kampung-batik-laweyan.html</link>
		<comments>http://jengjeng.matriphe.com/menelusuri-jejak-sejarah-kampung-batik-laweyan.html#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 24 Jan 2008 07:53:45 +0000</pubDate>
		<dc:creator>matriphe</dc:creator>
				<category><![CDATA[Asal Muasal & Sejarah]]></category>
		<category><![CDATA[Destinasi]]></category>
		<category><![CDATA[Museum & Bangunan Bersejarah]]></category>
		<category><![CDATA[batik]]></category>
		<category><![CDATA[Solo]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://jengjeng.matriphe.com/index.php/2008/01/24/menelusuri-jejak-sejarah-kampung-batik-laweyan.html</guid>
		<description><![CDATA[Menelusuri kembali lorong-lorong di antara tembok-tembok di Laweyan membuat saya seakan terlempar ke masa lalu. Tembok-tembok tua dengan warna yang memudar itu konon menjadi saksi atas masa kejayaan batik Laweyan. Ndak hanya batik, dari kampung inil pula lahirlah tokoh pergerakan nasional yang ikut berpartisipasi dalam melawan penjajahan, K.H. Samanhudi melalui perkumpulan Serikat Dagang Islam-nya. Konon [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><img src="http://jengjeng.matriphe.com/wp-content/uploads/2008/01/lorong-laweyan1.jpg" alt="Salah satu sudut Kampung Laweyan" title="Salah satu sudut Kampung Laweyan" width="350" height="263" class="alignnone size-full wp-image-1202" /></p>
<p>Menelusuri kembali lorong-lorong di antara tembok-tembok di Laweyan membuat saya seakan terlempar ke masa lalu.</p>
<p>Tembok-tembok tua dengan warna yang memudar itu konon menjadi saksi atas masa kejayaan batik Laweyan.</p>
<p>Ndak hanya batik, dari kampung inil pula lahirlah tokoh pergerakan nasional yang ikut berpartisipasi dalam melawan penjajahan, K.H. Samanhudi melalui perkumpulan Serikat Dagang Islam-nya.</p>
<p><span id="more-606"></span>Konon Kampung Laweyan sudah ada sejak abad ke-15 pada masa pemerintahan Kerajaan Pajang.</p>
<p>Daerah Laweyan dulu banyak ditumbuhi pohon kapas dan merupakan sentra industri benang yang kemudian berkembang menjadi sentra industri kain tenun dan bahan pakaian.</p>
<p>Kain-kain hasil tenun dan bahan pakaian ini sering disebut dengan Lawe, sehingga daerah ini kemudian disebut dengan Laweyan.</p>
<p>Industri dan perdagangan di Laweyan semakin berkembang semenjak digunakannya <acronym title="orang-orang sekitar menyebut juga Kali Jenis">Kali Kabangan</acronym> sebagai jalur transportasi dari dan menuju Kerajaan Pajang.</p>
<p><img src='http://jengjeng.matriphe.com/wp-content/uploads/2008/01/jembatan-kabangan.jpg' alt='Jembatan yang melintas di atas Kali Kabangan' /></p>
<p>Dari kampung ini pula, hidup seorang tokoh yang konon akan menurunkan raja-raja Mataram Islam.</p>
<p>Tokoh ini adalah Kyai Ageng Henis yang merupakan keturunan Brawijaya V yang kemudian mempunyai keturunan Ki Ageng Pemanahan yang mendirikan Kerajaan Mataram di Kotagede.</p>
<p>Kyai Ageng Henis dulunya beragama Hindu Jawa, namun semenjak singgahnya Sunan Kalijaga di daerah ini ketika hendak menuju Kerajaan Pajang, Kyai Ageng Henis pun kemudian masuk Islam.</p>
<p>Kyai Ageng Henis bersama Sunan Kalijaga kemudian menyebarkan agama Islam di kawasan Laweyan.</p>
<p>Seorang tokoh yang amat disegani saat itu atas pengaruh Kyai Ageng Henis akhirnya juga masuk Islam. Beliau adalah Kyai Ageng Beluk.</p>
<p>Setelah masuk Islam, Kyai Ageng Beluk kemudian mengubah sanggarnya menjadi sebuah masjid untuk menunjang dakwahnya.</p>
<p>Masjid ini lah yang kemudian dikenal sebagai Masjid Laweyan yang dibangun pada tahun 1546 Masehi.</p>
<p>Agama Islam pun menyebar dengan sangat pesat di Laweyan.</p>
<p><img src='http://jengjeng.matriphe.com/wp-content/uploads/2008/01/masjid-laweyan.jpg' alt='Masjid Laweyan' /></p>
<p>Batik sendiri awalnya diperkenalkan oleh Kyai Ageng Henis yang memang menyukai kesenian.</p>
<p>Selain menyebarkan agama, Kyai Ageng Henis juga mengajarkan masyarakat bagaimana cara membuat batik.</p>
<p>Jadilah Laweyan yang dulunya hanya memproduksi kain tenun berubah menjadi produsen batik.</p>
<p>Karena letaknya yang strategis, Laweyan pun menjadi salah satu kota perdagangan yang maju.</p>
<p>Sebagai kota perdagangan, dibangunlah sebuah bandar (pelabuhan) yang berada di sisi selatan kampung dan di sebelah timur masjid di pinggir Kali Kabangan. Namun peninggalan bandar ini sudah ndak dapat ditemukan lagi.</p>
<p>Ndak heran kalo di Laweyan banyak terdapat saudagar batik yang kaya.</p>
<p>Kehidupan masyarakat di Laweyan ini dapat kita lihat dari bentuk-bentuk bangunan yang ada.</p>
<p>Setiap rumah saudagar biasanya dikelilingi oleh tembok-tembok tinggi. Tujuannya adalah saat itu demi alasan keamanan.</p>
<p>Namun walau setiap rumah dibatasi dengan tembok, antar rumah terdapat pintu yang menghubungkan rumah satu dengan yang lainnya sehingga silaturahmi tetap terjaga.</p>
<p>Konon di beberapa rumah juga terdapat lorong bawah tanah dan bunker yang berfungsi untuk mengungsi bila terjadi serangan.</p>
<p><img src='http://jengjeng.matriphe.com/wp-content/uploads/2008/01/tembok-laweyan.jpg' alt='Lorong di antara tembok-tembok tinggi di Laweyan' /></p>
<p>Sekilas, bentuk-bentuk bangunan rumah yang dikelilingi oleh tembok ini mengingatkan saya akan Kotagede.</p>
<p>Terang saja, tata kota Kotagede terinspirasi oleh tata kota di Laweyan karena Panembahan Senopati, putra Ki Ageng Pemanahan banyak menghabiskan masa kecilnya di kampung ini.</p>
<p>Bila melacak kembali, sebuah tugu yang ada di pusat kawasan ini dulunya adalah pasar. Namun pasar ini sudah ndak ditemukan lagi.</p>
<p>Panembahan Senopati semasa kecil tinggal di kawasan sebelah utara pasar. Rumah Panembahan Senopati ketika berada di Kotagede pun berada di sebelah utara pasar. Karena inilah ia dijuluki Raden Ngabehi Loring Pasar.</p>
<p>Ketika Kerajaan Mataram pindah ke desa Sala yang kemudian berubah nama menjadi Kraton Surakarta, Laweyan tetap merasa sebagai daerah merdeka yang ndak ingin tunduk kepada kraton.</p>
<p>Ini dikarenakan para saudagar merasa mereka sudah kaya dan mampu hidup tanpa perlu bergabung dengan daerah kekuasaan kraton.</p>
<p>Bisa jadi perlawanan ini juga dikarenakan kraton saat itu begitu dekat pihak Belanda, padahal para saudagar batik yang ada di kawasan ini semuanya adalah saudagar muslim <acronym title="pribumi">bumiputra</acronym>.</p>
<p>Sikap ini nampak dari bentuk-bentuk motif batik yang ndak mengikuti pakem-pakem motif seperti motif-motif batik kraton.</p>
<p>Ketika masa penjajahan Belanda, pada tahun 1905 muncullah organisasi Serikat Dagang Islam yang diprakarsai oleh K.H. Samanhudi, salah satu saudagar batik.</p>
<p>Tujuan didirikannya SDI saat itu sebenernya untuk menyatukan para saudagar batik muslim bumiputra yang ada di Laweyan untuk menghadapi Belanda yang pengaruhnya semakin kuat di dalam kraton.</p>
<p>Rumah K.H. Samanhudi masih ada dan dapat kita temukan di kawasan ini.</p>
<p>Atas jasa-jasa dari K.H. Samanhudi, Presiden Soekarno memberikan sebuah rumah untuk K.H. Samanhudi yang sampai sekarang masih digunakan oleh cucu dan keturunan K.H. Samanhudi.</p>
<p><img src='http://jengjeng.matriphe.com/wp-content/uploads/2008/01/rumah-samanhudi.jpg' alt='Rumah pemberian Presiden Soekarno kepada K.H. Samanhudi' /></p>
<p>Bentuk bangunan di kawasan tengah dan utara Laweyan kebanyakan membentuk &#8220;jalan mati&#8221;, di mana jalan ini terkesan sepi karena berada di antara tembok-tembok rumah yang saling membelakangi.</p>
<p>Sedangkan kawasan di daerah selatan yang dekat dengan Kali Kabangan rumahnya cenderung terbuka dan membentuk &#8220;jalan hidup&#8221; di mana pintu-pintu bagian depan rumah saling berhadap-hadapan sehingga memungkinkan interaksi.</p>
<p>Rumah-rumah di kawasan tengah dan utara didiami oleh para saudagar sedangkan berada di selatan didiami oleh para pekerja batik.</p>
<p>Dulu banyak sekali jalan-jalan yang melintang dari utara ke selatan menuju ke Kali Kabangan. Jalan ini dinamakan &#8220;jalan servis&#8221; yang berfungsi untuk membawa kain batik setengah jadi untuk dicuci di Kali Kabangan.</p>
<p>Jaman dulu air di kali ini begitu bersih sehingga masih layak digunakan untuk mencuci. Selain itu, bahan pewarna batik jaman dulu itu terbuat dari bahan alami sehingga ndak membahayakan alam.</p>
<p>Industri batik tulis dan cap di Laweyan sempat kolaps ketika masuknya batik-batik sablon.</p>
<p>Proses pembuatan batik yang lebih cepat dan massal membuat harga batik sablon menjadi murah. Tentu saja ini menghantam industri batik tulis dan cap yang ada di Laweyan.</p>
<p>Belum lagi ekspansi bisnis yang dilakukan oleh para pedagang Cina yang saat itu memang mencoba menguasai area Laweyan.</p>
<p>Selama hampir beberapa generasi pembatik di Laweyan gulung tikar. Bisnis batik di Laweyan yang dilakukan secara turun temurun pun terputus.</p>
<p>Para pemuda Laweyan justru banyak yang keluar dari area dan mencoba peruntungan di luar Laweyan. Bukan begitu, <a href="http://colonelseven.wordpress.com/" title="Balibul" target="_blank">Kang Bal</a>? <img src='http://jengjeng.matriphe.com/smilies/yahoo_giggle.gif' alt='&#59;&#41;&#41;' class='wp-smiley' width='18' height='18' title='&#59;&#41;&#41;' /></p>
<p>Namun pada tahun 2000-an industri batik Laweyan pun kembali bangkit. Apalagi semenjak dibentuknya forum Kampung Batik Laweyan mencoba mengangkat kembali potensi wisata kampung cagar budaya ini.</p>
<p>Jika dulu para pengusaha batik hanya menjadi produsen dan suplier, kini mereka juga membuka showroom-showroom di rumahnya masing-masing.</p>
<p>Kita bisa berkeliling menyusuri lorong-lorong Laweyan dan blusukan masuk ke rumah-rumah saudagar batik untuk melihat dengan lebih dekat proses pembuatan batik.</p>
<p><img src='http://jengjeng.matriphe.com/wp-content/uploads/2008/01/mengintip-pembatik.jpg' alt='Mengintip aktivitas pembatik di Laweyan' /></p>
<p>Waktu yang dianjurkan untuk melihat aktivitas di kampung ini adalah pagi hari. Mulai dari pembuatan, pencelupan, hingga penjemuran kain-kain batik dapat kita lihat hingga tengah hari.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://jengjeng.matriphe.com/menelusuri-jejak-sejarah-kampung-batik-laweyan.html/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>56</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>JengJeng dan JalanJalan di Solo</title>
		<link>http://jengjeng.matriphe.com/jengjeng-dan-jalanjalan-di-solo.html</link>
		<comments>http://jengjeng.matriphe.com/jengjeng-dan-jalanjalan-di-solo.html#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 23 Jan 2008 08:48:49 +0000</pubDate>
		<dc:creator>matriphe</dc:creator>
				<category><![CDATA[Travelogue]]></category>
		<category><![CDATA[batik]]></category>
		<category><![CDATA[kraton]]></category>
		<category><![CDATA[museum]]></category>
		<category><![CDATA[Solo]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://jengjeng.matriphe.com/index.php/2008/01/23/jengjeng-dan-jalanjalan-di-solo.html</guid>
		<description><![CDATA[Beberapa waktu yang lalu, sebuah nomer Jakarta nongol di layar henpon saya. Saya sempat berpikir mungkinkah ini panggilan interview dari sebuah perusahaan di kota laknat bernama Jakarta itu? Setelah saya pencet tombol OK untuk menjawab telepon, terdengar suara renyah seorang wanita yang menyapa. &#8220;Halo, ini bener Zam? Saya Ina dari Majalah JalanJalan, temennya Gita Aprikot. [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><img src="http://jengjeng.matriphe.com/wp-content/uploads/2008/01/zam-ina1.jpg" alt="Zam JengJeng dan Ina JalanJalan" title="Zam JengJeng dan Ina JalanJalan" width="350" height="263" class="alignnone size-full wp-image-1203" /></p>
<p>Beberapa waktu yang lalu, sebuah nomer Jakarta nongol di layar henpon saya.</p>
<p>Saya sempat berpikir mungkinkah ini panggilan interview dari sebuah perusahaan di kota laknat bernama Jakarta itu?</p>
<p>Setelah saya pencet tombol OK untuk menjawab telepon, terdengar suara renyah seorang wanita yang menyapa.</p>
<p>&#8220;Halo, ini bener Zam? Saya <a href="http://jalanjalan.co.id/contributors.php?id=43" title="Ina Hapsari" target="_blank">Ina</a> dari <a href="http://www.jalanjalan.co.id/" title="Majalah JalanJalan" target="_blank">Majalah JalanJalan</a>, temennya <a href="http://aprikot.wordpress.com/" title="Gita Aprikot" target="_blank">Gita Aprikot</a>. Kira-kira kamu bisa bantu saya?&#8221;</p>
<p><span id="more-598"></span>Rupanya Ina membutuhkan beberapa informasi mengenai Solo yang akan dia tulis di majalahnya edisi mendatang.</p>
<p>&#8220;Wah, kebetulan&#8221;, pikir saya. Sudah lama saya ndak keluyuran di Solo karena ndak ada temen jalan. Saya pun menawarkan diri untuk menemani kalo dia bener datang ke Solo.</p>
<p>Selama 3 hari 2 malam, saya dan Ina melakukan penjelajahan di Solo. Yang membuat saya sedikit malu, rupanya cukup banyak tempat menarik yang ada di Solo yang ndak saya ketahui.</p>
<p>Ternyata cukup menyenangkan juga bertemu dengan wartawan traveling macam Ina. Saya mendapat banyak sekali cerita dan pengalaman dia ketika ia berkunjung ke berbagai tempat di Indonesia dan dunia.</p>
<p>Saya langsung iri dengan kerjaan dia yang isinya ngeluyur ke tempat-tempat macam itu. Pengeeen!!! <img src='http://jengjeng.matriphe.com/smilies/yahoo_drool.gif' alt='&#61;&#112;&#126;' class='wp-smiley' width='18' height='18' title='&#61;&#112;&#126;' /></p>
<p>Laksana kopdar bloger pertama kali, saya langsung bisa akrab sama dia. Orangnya yang rame dan doyan bercerita membuat saya merasa nyaman dan &#8220;klik&#8221; jalan bareng dia.</p>
<p>Selain itu, Ina juga bukan tipe traveler pemilih. Saya ajak ndoyok pun dia setuju. What a nice travelmate! <img src='http://jengjeng.matriphe.com/smilies/yahoo_wink.gif' alt='&#59;&#41;' class='wp-smiley' width='18' height='18' title='&#59;&#41;' /></p>
<p>Saya banyak sekali mendapat pengetahuan, informasi, serta tips-tips dari Ina tentang traveling. Mulai dari yang nggembel (backpacking) hingga yang level mid-to-top traveling.</p>
<p>Kebetulan tugas dia di Solo adalah mengupas beberapa tempat yang termasuk level mid-to-top traveling destination. Ini adalah ranah yang belum pernah saya coba karena tentunya keterbatasan finansial. <img src='http://jengjeng.matriphe.com/smilies/yahoo_laughloud.gif' alt='&#58;&#41;&#41;' class='wp-smiley' width='18' height='18' title='&#58;&#41;&#41;' /></p>
<p>Namun di luar tugas peliputan, dia justru mengajak saya untuk ndoyok. Hoho.. You got a right person, Na! <img src='http://jengjeng.matriphe.com/smilies/yahoo_wink.gif' alt='&#59;&#41;' class='wp-smiley' width='18' height='18' title='&#59;&#41;' /></p>
<p>Ina rencananya datang bersama fotografernya, seorang Belanda yang sudah cukup lama tinggal di Indonesia, <a href="http://jalanjalan.co.id/contributors.php?id=40" title="Jan Dekker" target="_blank">Jan Dekker</a>. Namun tiba-tiba fotografernya ndak bisa datang karena sakit.</p>
<p>Saya pun diminta sama Ina untuk jadi fotografernya selama liputan. Wah! Suatu kehormatan.</p>
<p>Maka jadilah saya menjadi fotografer sok-tau dan banyak nggaya karena memang saya ndak bakat jadi fotografer. Bakat saya kan sebenernya fotomodel! <img src='http://jengjeng.matriphe.com/smilies/yahoo_sunglas.gif' alt='&#98;&#45;&#41;' class='wp-smiley' width='18' height='18' title='&#98;&#45;&#41;' /></p>
<p>Lucunya, biasanya fotografer kan pake kamera SLR gitu, dengan segudang peralatan mulai dari tripod hingga lampu-lampu, la modal saya cuma kamera poket pinjaman. <img src='http://jengjeng.matriphe.com/smilies/yahoo_laughloud.gif' alt='&#58;&#41;&#41;' class='wp-smiley' width='18' height='18' title='&#58;&#41;&#41;' /></p>
<p>Ndak tau deh apakah foto-foto hasil jepretan saya itu layak cetak di majalah yang mengusung tema &#8220;travel in style&#8221; dan &#8220;style in travel&#8221; itu. <img src='http://jengjeng.matriphe.com/smilies/yahoo_giggle.gif' alt='&#59;&#41;&#41;' class='wp-smiley' width='18' height='18' title='&#59;&#41;&#41;' /></p>
<p>Our first destination adalah sebuah resto dan guesthouse yang sangat cantik bernama Roemahkoe, yang terletak di Jl. Dr. Rajiman 501, Laweyan, Solo.</p>
<p>Bangunan ini dibangun paa tahun 1938 bergaya &#8220;art deco&#8221; yang dulunya milik seorang saudagar batik.</p>
<p>Terang saja, dari belakang bangunan ini, ada sebuah pintu tembus ke Kampung Batik Laweyan.</p>
<p>Arsitektur Jawa yang berpadu Eropa begitu memukau saya yang suka melihat bangunan-bangunan tua.</p>
<p>Belum lagi interiornya yang khas Jawa berpadu dengan foto-foto jadul jaman Belanda.</p>
<p>Di restonya, saya bertugas memfoto dan mencicipi beberapa menu unggulan dari resto ini. Hohoho! <img src='http://jengjeng.matriphe.com/smilies/yahoo_devil.gif' alt='&#62;&#58;&#41;' class='wp-smiley' width='18' height='18' title='&#62;&#58;&#41;' /></p>
<p><img src='http://jengjeng.matriphe.com/wp-content/uploads/2008/01/roemahkoe.jpg' alt='Roemahkoe' /></p>
<p>Salah satu menu yang diunggulkan di resto ini adalah Lodoh Pindang yang konon merupakan makanan favorit Sri Sultan Pakubuwana X.</p>
<p>Untuk minuman, Pak Bondan Winarno pas acara Wisata Kuliner pernah mencoba Es Cemol yang jahenya berasa sangat nendang!</p>
<p>Tapi maafken, beberapa foto ndak bisa saya share di sini. <img src='http://jengjeng.matriphe.com/smilies/yahoo_bigsmile.gif' alt='&#58;&#68;' class='wp-smiley' width='18' height='18' title='&#58;&#68;' /></p>
<p>Habis dari Roemahkoe, Ina ngajakin ke kebun binatang. Motor Kaze pun saya arahkan ke Taman Satwa Taru Jurug yang berada di pinggir kali Bengawan Solo.</p>
<p>Hohoh.. Terakhir kali saya ke sini, kalo ndak salah pas TK. Sepertinya menarik juga menengok <strike>kerabat</strike> kondisi satwa di kebun binatang ini.</p>
<p>Setelah berputar dan melihat-lihat koleksi satwa di kebun binatang yang pengelolaannya kini dipegang pihak swasta ini, saya miris dan sedih.</p>
<p>Lepaskan saja semua binatang ini dan kembalikan ke habitatnya! <img src='http://jengjeng.matriphe.com/smilies/yahoo_angry.gif' alt='&#88;&#40;' class='wp-smiley' width='34' height='18' title='&#88;&#40;' /></p>
<p>Saya sedikit emosi, sedih, dan hanya bisa mengelus dada melihat kondisi satwa yang mengenaskan.</p>
<p><img src='http://jengjeng.matriphe.com/wp-content/uploads/2008/01/awas-buas.jpg' alt='Awas Binatang Buas' /></p>
<p>Malamnya saya mengajak Ina untuk mencicipi hidangan khas Solo, Nasi Liwet, di kawasan Keprabon.</p>
<p>Melalui Ina yang melakukan interview terhadap si penjual, saya baru tau kalo penjual Nasi Liwet di kawasan ini rupanya masih satu keluarga, keluarga Bu Wongso.</p>
<p>Pantes saja banyak warung yang menggunakan merk &#8220;Nasi Liwet Bu Wongso Lemu&#8221;. <img src='http://jengjeng.matriphe.com/smilies/yahoo_laughloud.gif' alt='&#58;&#41;&#41;' class='wp-smiley' width='18' height='18' title='&#58;&#41;&#41;' /></p>
<p>Dan uniknya, para penjual Nasi Liwet ini berasal dari daerah Baki, Sukoharjo. <img src='http://jengjeng.matriphe.com/smilies/yahoo_giggle.gif' alt='&#59;&#41;&#41;' class='wp-smiley' width='18' height='18' title='&#59;&#41;&#41;' /></p>
<p><img src='http://jengjeng.matriphe.com/wp-content/uploads/2008/01/wongso-lemu.jpg' alt='Warung Nasi Liwet Bu Wongso Lemu Keprabon' /></p>
<p>Tujuan kami esok harinya adalah ke Museum Batik Kuno Danar Hadi. Saya sendiri baru tau kalo ada museum ini ya dari si Ina.</p>
<p>Padahal museum ini bener-bener keren dan patoet dipoedjiken!</p>
<p>Museum ini menyimpan berbagai kain batik kuno koleksi Bapak Santoso Dullah, pemilik Danar Hadi.</p>
<p>Melihat-lihat koleksi batik dan mendengar penjelasan Asisten Manager museum ini, Bu Asti, semakin menguatkan bahwa batik sebenernya berawal dari Jawa.</p>
<p>Bahkan batik Pekalongan, batik Madura, hingga batik-batik Sumatra, semuanya berakar dari batik yang ada di Jawa, terutama dari masa kerajaan Pajang dan Mataram.</p>
<p>Batik rupanya juga menyerap berbagai kebudayaan yang masuk di masanya yang kemudian tertuang di dalam motifnya.</p>
<p>Ada motif Jawa Hokokai yang mendapat pengaruh Jepang, ada batik yang terpengaruh gaya Eropa, India, Cina, dan Arab.</p>
<p>Selain dari motif, daerah asal batik juga dapat dilihat dari warna yang mendominasi.</p>
<p>Warna coklat merupakan warna khas kraton, warna biru adalah warna batik khas daerah pesisir utara yang terpengaruh warna laut, warna merah yang terpengaruh kebudayaan Cina, dan lain-lain.</p>
<p>Ada juga motif batik pagi-sore di mana satu kain bisa dipakai 2 kali dengan motif berbeda. Juga batik yang untuk mewarnainya harus dibawa ke 3 tempat.</p>
<p>Segala hal mengenai batik sangat lengkap di museum ini.</p>
<p><img src='http://jengjeng.matriphe.com/wp-content/uploads/2008/01/membatik.jpg' alt='Membuat batik tulis' /></p>
<p>Selain itu, pengunjung juga bisa melihat secara langsung proses pembuatan batik tulis dan batik cap yang ada di lingkungan pabrik batik Danar Hadi.</p>
<p>Museum ini terletak di Jl. Slamet Riyadi, berada di seberang hotel Novotel Solo di samping Toko Sami Luwes. <img src='http://jengjeng.matriphe.com/smilies/yahoo_bigsmile.gif' alt='&#58;&#68;' class='wp-smiley' width='18' height='18' title='&#58;&#68;' /></p>
<p>Selama di dalam museum, pengunjung dilarang mengambil gambar. Tapi ketika di pabrik, pengunjung diperbolehkan mengambil gambar.</p>
<p>Tapi karena saat itu saya &#8220;bertugas&#8221; maka saya pun boleh jeprat-jepret mengambil gambar suasana museum. <img src='http://jengjeng.matriphe.com/smilies/yahoo_giggle.gif' alt='&#59;&#41;&#41;' class='wp-smiley' width='18' height='18' title='&#59;&#41;&#41;' /></p>
<p>Berlanjut perjalanan kami menelusuri segala hal tentang batik, kami pun menuju ke Kampung Batik Laweyan.</p>
<p>Secara umum, kampung batik ini rupanya lebih dulu ada jauh sebelum Kraton Surakarta ada.</p>
<p>Motif batik dari kampung ini lebih bervariatif dan cenderung mengikuti pasar daripada motif batik kraton yang mempunyai makna filosofi dan pakem-pakem tertentu.</p>
<p>Tata kota kampung dan bentuk bangunan di wilayah ini ini pun mengingatkan saya pada tata kota dan bangunan di <a href="http://jengjeng.matriphe.com/index.php/tag/kotagede" title="Tag: Kotagede">Kotagede</a> yang rupanya mempunyai alur sejarah yang saling bertautan.</p>
<p>Selain Laweyan, ada sebuah kampung batik lain di Solo, yaitu Kampung Batik Kauman yang lebih condong ke pemenuhan kebutuhan kraton.</p>
<p><img src='http://jengjeng.matriphe.com/wp-content/uploads/2008/01/laweyan.jpg' alt='Salah satu sudut di Kampung Batik Laweyan' /></p>
<p>Untuk Kampung Batik Laweyan ini, <strike>insya Allah akan</strike> sudah saya tulis di <a href="http://jengjeng.matriphe.com/index.php/2008/01/24/menelusuri-jejak-sejarah-kampung-batik-laweyan.html" title="Menelusuri Jejak Sejarah Kampung Batik Laweyan">postingan terpisah</a>. <img src='http://jengjeng.matriphe.com/smilies/yahoo_wink.gif' alt='&#59;&#41;' class='wp-smiley' width='18' height='18' title='&#59;&#41;' /></p>
<p>Agenda hari berikutnya, kami mengunjungi Kraton Kasunana Surakarta dan Istana Mangkunegaran.</p>
<p>Di Kraton Kasunanan, ndak banyak yang membuat saya tertarik.</p>
<p>Apalagi bapak abdi dalem yang menjadi guide kami saat itu menurut perasaan si Ina, kemungkinan dia naksir saya! <img src='http://jengjeng.matriphe.com/smilies/yahoo_ooooh.gif' alt='&#58;&#45;&#111;' class='wp-smiley' width='18' height='18' title='&#58;&#45;&#111;' /></p>
<p>Oh mai gat! Tidaaakkk!!! <img src='http://jengjeng.matriphe.com/smilies/yahoo_nailbiting.gif' alt='&#58;&#45;&#83;&#83;' class='wp-smiley' width='36' height='18' title='&#58;&#45;&#83;&#83;' /></p>
<p>Ina malah semakin menjadi dengan menggoda saya karena itu bapak dengan agresifnya menyerang saya. Kadal njengking, kecoak bunting!!</p>
<p><acronym title="karena sebenernya bukan kraton, sih">Istana</acronym> Mangkunegaran menjadi pengalaman terbaru saya. Jujur, selama saya besar dan tinggal di Solo, saya belum pernah mengunjungi tempat ini. <img src='http://jengjeng.matriphe.com/smilies/yahoo_blush.gif' alt='&#58;&#34;&#62;' class='wp-smiley' width='18' height='18' title='&#58;&#34;&#62;' /></p>
<p>Mangkunegara berpangkat setara adipati dari Kraton Kasunanan. Di Jogja, jabatan ini setara dengan Pakualam.</p>
<p>Mangkunegara sendiri lebih berfungsi semacam panglima perang, sehingga pantas saja kalo di sekitar istana ini ada banyak lapangan yang memang diperuntukkan untuk latihan berperang.</p>
<p>Bangunan istana ini menurut saya lebih bagus dan lebih terawat. Apalagi beberapa hari sebelumnya kraton ini mengadakan upacara <acronym title="peringatan ulang tahun">Wilujengan</acronym> <acronym title="kenaikan tahta">Jumenengan</acronym> <acronym title="Kanjeng Gusti Pangeran Adipati Aryo">KGPAA</acronym> Mangkunegara IX ke-20.</p>
<p>Bersama Pak Budi sang guide, kami diajak berkeliling ke beberapa ruang di Istana Mangkunegaran ini.</p>
<p><img src='http://jengjeng.matriphe.com/wp-content/uploads/2008/01/di-mangkunegaran.jpg' alt='di Istana Mangkunegaran' /></p>
<p>Di suatu ruangan kami melihat sebuah benda anti-selingkuh yang dipasang pada alat kelamin pria dan wanita yang kemudian dikunci dengan ritual khusus.</p>
<p>Bentuk pengaman untuk pria ini seperti kondom namun terbuat dari emas dan berujung terbuka mirip kelopak bunga tapi tajam.</p>
<p>Sedangkan pengaman untuk wanita berbentuk lempeng emas berbentuk V berukir yang ada lubang khusus untuk keluarnya air kencing. <img src='http://jengjeng.matriphe.com/smilies/yahoo_giggle.gif' alt='&#59;&#41;&#41;' class='wp-smiley' width='18' height='18' title='&#59;&#41;&#41;' /></p>
<p>Maaf banget karena selama di ruangan ini, pengunjung ndak diperbolehkan mengambil gambar. <img src='http://jengjeng.matriphe.com/smilies/yahoo_giggle.gif' alt='&#59;&#41;&#41;' class='wp-smiley' width='18' height='18' title='&#59;&#41;&#41;' /></p>
<p>Setelah lelah mengelilingi Mangkunegaran, kami pun menikmati hidangan khas Solo lainnya, Sate Kere!</p>
<p><img src='http://jengjeng.matriphe.com/wp-content/uploads/2008/01/penjual-sate-kere.jpg' alt='Penjual Sate Kere di Mangkunegaran' class="alignright" /></p>
<p>Sate kere adalah sate yang bahannya terdiri atas tempe gembus, tempe bacem, jeroan, kikil, dengan bumbu kacang, kecap, dan cabe yang puedes. <img src='http://jengjeng.matriphe.com/smilies/yahoo_bigsmile.gif' alt='&#58;&#68;' class='wp-smiley' width='18' height='18' title='&#58;&#68;' /></p>
<p>Yang unik, kami menikmati sate ini masih di dalam kawasan Istana Mangkunegaran.</p>
<p>Kami bertemu dengan sepasang suami-istri orang asing yang merupakan traveler.</p>
<p>Awalnya mereka hendak memesan sate seperti yang kami makan dan dari situlah obrolan pun berkembang.</p>
<p>Sang wanita yang kami sangka awalnya orang Indonesia rupanya berasal dari Filipina. <img src='http://jengjeng.matriphe.com/smilies/yahoo_laughloud.gif' alt='&#58;&#41;&#41;' class='wp-smiley' width='18' height='18' title='&#58;&#41;&#41;' /></p>
<p>Saya cuma ndomblong mendengarkan si Ina sama ini cewek Filipina ketika saling bercerita tentang pengalaman traveling mereka masing-masing. <img src='http://jengjeng.matriphe.com/smilies/yahoo_drool.gif' alt='&#61;&#112;&#126;' class='wp-smiley' width='18' height='18' title='&#61;&#112;&#126;' /></p>
<p>Melihat pasangan ini saya jadi iri dan pengen. Betapa bahagianya mereka bisa traveling dan ndoyok ke berbagai tempat di dunia bersama.</p>
<p>Yang saya pikirkan, mereka ini dapet duit dari mana? Lalu gimana dengan kerjaan mereka? Hampir setiap kehidupannya mereka menghabiskan waktu di berbagai tempat menarik.</p>
<p>Sedangkan saya? Mburuh sampai njengking pun pendapatan selalu habis buat menyambung hidup dan mbayar utang.</p>
<p>Duh Gusti, ampunilah dosa-dosa hamba-Mu ini.. <img src='http://jengjeng.matriphe.com/smilies/yahoo_pray.gif' alt='&#91;&#45;&#111;&#60;' class='wp-smiley' width='18' height='18' title='&#91;&#45;&#111;&#60;' /></p>
<p>Berkenalan dengan orang seperti Ina dan pasangan traveler itu, membuat saya malu.</p>
<p>Pengalaman perjalanan saya ini ndak ada apa-apanya dibanding mereka. Petualangan saya yang ndak mutu ini sepertinya kok ndak layak dibanggakan.</p>
<p>Ah, saya sendiri pun tersadar. Sebagai amateur traveler, rasanya saya masih perlu menimba banyak pengalaman dan menentukan jati diri traveling saya.</p>
<p>Mengenal wartawan seperti Ina, membuat saya mengerti bagaimana cara mencari informasi tentang tempat-tempat yang layak liput atau ndak.</p>
<p>Selain itu, berbagai cerita di belakang layar acara petualangan yang muncul di tivi itu rupanya sangat menarik.</p>
<p>Maklum saja, Ina juga mengenal beberapa host acara traveling di beberapa acara tivi. Kadang para presenter itu harus berakting di depan kamera ketika harus membawakan acara.</p>
<p>Ina pernah bercerita, saat pembuatan suatu acara traveling, si presenter disyuting dengan menceburkan diri ke dalam laut ketika meliput keindahan bawah laut padahal itu presenter sama sekali ndak bisa berenang! <img src='http://jengjeng.matriphe.com/smilies/yahoo_laughloud.gif' alt='&#58;&#41;&#41;' class='wp-smiley' width='18' height='18' title='&#58;&#41;&#41;' /></p>
<p>Mendengar ceritanya saja semakin membuat saya ngiri. <img src='http://jengjeng.matriphe.com/smilies/banghead.gif' alt='&#58;&#98;&#97;&#110;&#103;&#104;&#101;&#97;&#100;' class='wp-smiley' width='25' height='20' title='&#58;&#98;&#97;&#110;&#103;&#104;&#101;&#97;&#100;' /></p>
<p>Duh Gusti, apakah saya harus berpindah jalur dari kerjaan mburuh saya ini ke dunia yang sama sekali buta bagi saya itu? <img src='http://jengjeng.matriphe.com/smilies/yahoo_pray.gif' alt='&#91;&#45;&#111;&#60;' class='wp-smiley' width='18' height='18' title='&#91;&#45;&#111;&#60;' /></p>
<p>Selain itu, saya juga merasakan betapa susahnya jadi fotografer. Pantes saja si <a href="http://diditkurniawan.web.ugm.ac.id/" title="diditjogja" target="_blank">Didit</a> yang biasanya jadi fotografer saya itu kadang misuh-misuh karena ndak bisa ikut bernarsis ria. <img src='http://jengjeng.matriphe.com/smilies/yahoo_laughloud.gif' alt='&#58;&#41;&#41;' class='wp-smiley' width='18' height='18' title='&#58;&#41;&#41;' /></p>
<p>Ah, namun saya yakin. Setiap orang pasti punya jalur rejekinya masing-masing. <img src='http://jengjeng.matriphe.com/smilies/yahoo_wink.gif' alt='&#59;&#41;' class='wp-smiley' width='18' height='18' title='&#59;&#41;' /></p>
<p>Makasih banget, Ina Hapsari, atas semua cerita dan pengalaman serta pengaruh jahat travelingmu yang telah elo tularkan. <img src='http://jengjeng.matriphe.com/smilies/yahoo_devil.gif' alt='&#62;&#58;&#41;' class='wp-smiley' width='18' height='18' title='&#62;&#58;&#41;' /></p>
<p>It&#8217;s nice to have a travel mate like you! <img src='http://jengjeng.matriphe.com/smilies/yahoo_wink.gif' alt='&#59;&#41;' class='wp-smiley' width='18' height='18' title='&#59;&#41;' /></p>
<p>I hope I&#8217;ll go to the destination you&#8217;ve recommended soon! <img src='http://jengjeng.matriphe.com/smilies/yahoo_daydream.gif' alt='&#56;&#45;&#62;' class='wp-smiley' width='23' height='18' title='&#56;&#45;&#62;' /></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://jengjeng.matriphe.com/jengjeng-dan-jalanjalan-di-solo.html/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>53</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Kehangatan Wedang Kacang Putih</title>
		<link>http://jengjeng.matriphe.com/kehangatan-wedang-kacang-putih.html</link>
		<comments>http://jengjeng.matriphe.com/kehangatan-wedang-kacang-putih.html#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 04 Jun 2007 01:22:40 +0000</pubDate>
		<dc:creator>matriphe</dc:creator>
				<category><![CDATA[Kuliner]]></category>
		<category><![CDATA[Solo]]></category>
		<category><![CDATA[wedang]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://jengjeng.matriphe.com/index.php/2007/06/04/kehangatan-wedang-kacang-putih.html</guid>
		<description><![CDATA[Setelah diultimatum oleh ibunda, akhirnya Sabtu kemarin saya pulang ke Solo. La sudah beberapa pekan ini saya ndak nyetor muka sebagai syarat tetap diakuinya diri saya sebagai anak. Berangkat dari Jogja sehabis Maghrib. Sepanjang jalan pulang, saya berpikir tentang santapan kuliner apa yang akan saya cicipi kalo sudah sampe di Solo. Kalo biasanya saya melakukan [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><img src="http://jengjeng.matriphe.com/wp-content/uploads/2007/06/wedang-kacang-putih1.jpg" alt="Wedang Kacang Putih" title="Wedang Kacang Putih" width="350" height="263" class="alignnone size-full wp-image-1388" /></p>
<p>Setelah diultimatum oleh ibunda, akhirnya Sabtu kemarin saya pulang ke Solo. La sudah beberapa pekan ini saya ndak nyetor muka sebagai syarat tetap diakuinya diri saya sebagai anak.</p>
<p>Berangkat dari Jogja sehabis Maghrib. Sepanjang jalan pulang, saya berpikir tentang santapan kuliner apa yang akan saya cicipi kalo sudah sampe di Solo. <img src='http://jengjeng.matriphe.com/smilies/yahoo_drool.gif' alt='&#61;&#112;&#126;' class='wp-smiley' width='18' height='18' title='&#61;&#112;&#126;' /></p>
<p>Kalo biasanya saya melakukan <a href="http://jengjeng.matriphe.com/index.php/2007/04/23/ritual-susu-segar-shi-jack.html" title="Ritual Susu Segar Shi Jack">ritual untuk menyusu</a> terlebih dulu, kemarin ritual tersebut tidak saya lakukan. Begitu memasuki Kota Solo, Kawasaki Kaze langsung saya arahkan ke timur, menuju pusat kuliner khas Solo, Kawasan Keprabon.</p>
<p><span id="more-236"></span>Kampung Keprabon Timur, Kelurahan Keprabon, Kecamatan Banjarsari, memang terkenal sebagai kawasan kuliner Solo. Di sepanjang Jalan Teuku Umar inilah kita bisa merasakan berbagai makanan khas Solo.</p>
<p>Di kawasan yang terletak di selatan Istana Mangkunegaran ini setiap malam menjadi kawasan yang wajib dikunjungi bila berkunjung ke Solo. Berbagai menu khas seperti nasi liwet, gudeg ceker, timlo, dan masih banyak lagi bisa kita temukan.</p>
<p>Nuansa khas ini akan semakin kental terasa karena adanya pengamen sinden yang lengkap dengan kebaya menyanyikan gending-gending Jawa diiringi petikan kecapi dan tabuhan gendang. Pokoke <em>nJawani</em> khas Solo banget.</p>
<p>Saya pun langsung njujug ke target operasi saya. Semangkok Wedang Kacang Putih hangat sepertinya nikmat apalagi kalo disantap pas dingin-dingin seperti ini.</p>
<p>Sebenernya saya berniat ke sebuah kedai langganan semenjak saya kecil. Pemilik kedai itu adalah sepasang Engkoh dan Tacik (orang tua keturunan Cina). Tapi entah kenapa kedai itu sudah tidak saya temukan lagi. Kemungkinan sepasang orang tua itu telah wafat dan usahanya tidak diteruskan oleh anak-cucunya.</p>
<p>Walau sempet kecewa, tapi akhirnya kekecewaan saya terobati. Di ujung jalan terdapat sebuah warung bertuliskan &#8220;Wedang Dongo &#8211; Wedang Kacang Putih&#8221; besar. Tanpa pikir panjang saya pun segera memarkirkan motor di depan warung yang berada di ujung pertigaan Jl. Teuku Umar dan Jl. Brigjen Slamet Riyadi tersebut.</p>
<p>Dengan beringas saya pun segera memesan semangkok Wedang Kacang Putih. Aroma harum khasnya langsung tercium ketika mangkok itu terhidang di atas meja. <img src='http://jengjeng.matriphe.com/smilies/yahoo_drool.gif' alt='&#61;&#112;&#126;' class='wp-smiley' width='18' height='18' title='&#61;&#112;&#126;' /></p>
<p>Sendok pun segera saya mainkan. Di dasar mangkok terdapat ketan putih untuk menyuplai karbohidrat. Tak sabar saya pun segera menyeruput wedang tersebut. Sllruupp&#8230; Ah.. <img src='http://jengjeng.matriphe.com/smilies/yahoo_drool.gif' alt='&#61;&#112;&#126;' class='wp-smiley' width='18' height='18' title='&#61;&#112;&#126;' /></p>
<p>Kacang putih yang benar-benar empuk langsung menyerang. Tak perlu kita mengunyah terlalu keras, karena kacangnya bener-bener empuk dan langsung hancur tanpa perlu kita mengunyahnya secara berlebihan.</p>
<p>Kacang putih ini didapat dari kacang tanah yang telah dikupas kulit arinya. Supaya empuk, kacang ini dipresto, alias dimasak dengan panci bertekanan tinggi, dalam rendaman air gula, jahe, dan pandan. Hasilnya kacang putih menjadi sangat empuk dan air hasil rebusannya menimbulkan aroma harum kacangnya yang khas. <img src='http://jengjeng.matriphe.com/smilies/yahoo_drool.gif' alt='&#61;&#112;&#126;' class='wp-smiley' width='18' height='18' title='&#61;&#112;&#126;' /></p>
<p>Dengan perlahan saya pun mengaduk ketan yang ada di dasar. Kemudian menyendoknya lalu menyantapnya bersama kacang yang empuk. Air hasil rebusannya yang berwarna putih dan berasa manis begitu menyegarkan. Walah.. Nggenjreng tenan, dab! <img src='http://jengjeng.matriphe.com/smilies/yahoo_drool.gif' alt='&#61;&#112;&#126;' class='wp-smiley' width='18' height='18' title='&#61;&#112;&#126;' /></p>
<p>Semangkuk Wedang Kacang Putih yang bisa menganjal perut ini cukup murah. Dengan harga 4.500 rupiah, kita bisa menikmati kehangatan dan sensasi dari wedang ini.</p>
<p>Setelah cukup kenyang dan badan sudah sedikit hangat, saya pun segera meluncur kembali ke rumah. Dasar anak durhaka, lebih mementingkan kehangatan Wedang Kacang Putih daripada kehangatan keluarga yang menunggu di rumah. Tsah.. <img src='http://jengjeng.matriphe.com/smilies/yahoo_youkiddingme.gif' alt='&#58;&#45;&#106;' class='wp-smiley' width='26' height='18' title='&#58;&#45;&#106;' /></p>
<p>Mungkin ada yang penasaran dengan Wedang Dongo? <img src='http://jengjeng.matriphe.com/smilies/yahoo_giggle.gif' alt='&#59;&#41;&#41;' class='wp-smiley' width='18' height='18' title='&#59;&#41;&#41;' /> Tunggu liputan saya berikutnya!</p>
<p>Kalo saya pas pulang ke Solo dan sempet lo ya? <img src='http://jengjeng.matriphe.com/smilies/yahoo_bigsmile.gif' alt='&#58;&#68;' class='wp-smiley' width='18' height='18' title='&#58;&#68;' /></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://jengjeng.matriphe.com/kehangatan-wedang-kacang-putih.html/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>37</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Ritual Susu Segar Shi Jack</title>
		<link>http://jengjeng.matriphe.com/ritual-susu-segar-shi-jack.html</link>
		<comments>http://jengjeng.matriphe.com/ritual-susu-segar-shi-jack.html#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 23 Apr 2007 01:44:10 +0000</pubDate>
		<dc:creator>matriphe</dc:creator>
				<category><![CDATA[Kuliner]]></category>
		<category><![CDATA[Solo]]></category>
		<category><![CDATA[susu]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://jengjeng.matriphe.com/?p=166</guid>
		<description><![CDATA[Ada sebuah ritual yang selalu saya lakukan kalo pas pulang ke Solo. Sebuah ritual untuk melepaskan rasa kangen dan semacam ungkapan &#8220;welcome home&#8221;. Ritual itu adalah menikmati hidangan susu segar khas warung Shi Jack. Setelah cukup lama saya tidak melakukan ritual itu, dan akhirnya Sabtu kemarin hasrat saya itu pun terpenuhi. Selepas Maghrib, di bawah [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><img src="http://jengjeng.matriphe.com/wp-content/uploads/2007/04/warung-shi-jack1.jpg" alt="Warung Shi Jack" title="Warung Shi Jack" width="350" height="263" class="alignnone size-full wp-image-1127" /></p>
<p>Ada sebuah ritual yang selalu saya lakukan kalo pas pulang ke Solo. Sebuah ritual untuk melepaskan rasa kangen dan semacam ungkapan &#8220;welcome home&#8221;. Ritual itu adalah menikmati hidangan susu segar khas warung Shi Jack.</p>
<p>Setelah cukup lama saya tidak melakukan ritual itu, dan akhirnya Sabtu kemarin hasrat saya itu pun terpenuhi. Selepas Maghrib, di bawah guyuran gerimis <strike>mengundang</strike>, saya pun segera mancal Kaze-R saya untuk menuju ke arah timur laut, pulang ke Solo.</p>
<p>Sampai di Solo lepas Isya. Wah, dingin-dingin seperti ini memang ajib kalo kita menyeruput segelas Susu Madu Jahe khas Shi Jack itu.. <img src='http://jengjeng.matriphe.com/smilies/yahoo_drool.gif' alt='&#61;&#112;&#126;' class='wp-smiley' width='18' height='18' title='&#61;&#112;&#126;' /></p>
<p><span id="more-166"></span>Warung Shi Jack adalah salah satu dari warung yang menyediakan susu murni segar sebagai menu utamanya. Konon, warung susu ini adalah pioneer alias yang <acronym title="atau kali pertama? terdengar aneh">pertama kali</acronym> membuka usaha warung susu di kota Solo. Selain Shi Jack, ada beberapa warung susu lainnya seperti Shi Acid dan Yoto Isk, tetapi yang paling terkenal ya warung Shi Jack ini.</p>
<p>Warung Shi Jack ini ada beberapa cabang (atau waralaba, ya?) yang pusatnya terdapat di Jalan Kapten Mulyadi (sebelah selatan benteng Rottenberg). Cabang lainnya setau saya adalah di depan Lapangan Kotabarat, di daerah Makamhaji (deket rumahnya <a href="http://dipto-djatmiko.web.ugm.ac.id/" title="deep_track" target="_blank">Dipto</a>), dan di Jalan Adi Sucipto.</p>
<p>Bahan baku susu diambil langsung dari Boyolali, daerah yang terkenal sebagai penghasil susu. Walau menu utamanya adalah susu, di warung ini juga tersedia berbagai macam cemilan, gorengan, sate usus, sate keong, sate puyuh, lumpia, martabak, dan nasi kucing. Selain susu, kita juga bisa memesan roti bakar atau pisang owol.</p>
<p><img src='http://jengjeng.matriphe.com/wp-content/uploads/2007/04/pisang-owol.jpg' alt='Pisang Owol' /></p>
<p>Menu susu yang ditawarkan tidak melulu susu murni, tetapi ada berbagai macam variasi menu dan rasa. Nama-nama menunya pun unik-unik, ada <acronym title="Susu Murni">Sumur</acronym>, <acronym title="Susu Telor Jahe">Suteja</acronym>, <acronym title="Tanpa Telor Susu Sirup">Tante Susi</acronym>, <acronym title="Susu Coklat Manis">Sukatman</acronym>, <acronym title="Es Soda Gembira">Es Dara</acronym>, <acronym title="Susu Perah Manis">Superman</acronym>, dan juga <acronym title="Susu Telor Setengah Matang">Stang</acronym>. Selain menu susu yang aneh-aneh namanya itu, ada menu yang biasa kita dengar, seperti <acronym title="Susu Telor Madu Jahe">STMJ</acronym>, Susu Kopi, Susu Jahe, Susu Madu, dan sebagainya. Hidangan susu ini pun bisa disajikan panas, hangat, atau dingin (pakai es). <img src='http://jengjeng.matriphe.com/smilies/yahoo_drool.gif' alt='&#61;&#112;&#126;' class='wp-smiley' width='18' height='18' title='&#61;&#112;&#126;' /></p>
<p>Menu favorit saya adalah Susu Madu Jahe. Pada menu ini, madu yang digunakan adalah madu kelengkeng. Madu kelengkeng adalah madu yang dihasilkan dari sari bunga pohon kelengkeng. Ketika bercampur dengan susu, rasanya bener-bener mantab apalagi ditambah jahe membuat badan terasa hangat. Jahe yang digunakan adalah jahe bubuk, dan bukan jahe gepuk.</p>
<p><img src='http://jengjeng.matriphe.com/wp-content/uploads/2007/04/stmj-vs-smj.jpg' alt='STMJ vs Susu Madu Jahe' /></p>
<p>Selain Susu Madu Jahe, di kala badan terasa sangat letih, saya biasanya memesan STMJ (Susu Telur Madu Jahe). Telur yang digunakan pun bisa milih, mau pake telur ayam kampung atau telur bebek. Telurnya mau dibikin mentah atau setengah mateng, terserah!</p>
<p>Apalagi ditambah sebungkus nasi kucing, roti bakar, pisang owol, dan sate keong, membuat suasana dingin menjadi semakin semarak. <img src='http://jengjeng.matriphe.com/smilies/yahoo_laughloud.gif' alt='&#58;&#41;&#41;' class='wp-smiley' width='18' height='18' title='&#58;&#41;&#41;' /></p>
<p>Setelah capek hilang dan rasa kantuk datang (konon susu adalah salah satu terapi untuk mengobati susah tidur), saya pun segera pulang, tentunya setelah membayar.</p>
<p>Ah, andai saja di Jogja ada cabang warung Shi Jack.. <img src='http://jengjeng.matriphe.com/smilies/yahoo_eyeroll.gif' alt='&#56;&#45;&#124;' class='wp-smiley' width='18' height='18' title='&#56;&#45;&#124;' /></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://jengjeng.matriphe.com/ritual-susu-segar-shi-jack.html/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>47</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Pecel Nasi Merah Bumbu Wijen (Pecel Ndeso)</title>
		<link>http://jengjeng.matriphe.com/pecel-nasi-merah-bumbu-wijen.html</link>
		<comments>http://jengjeng.matriphe.com/pecel-nasi-merah-bumbu-wijen.html#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 17 Apr 2007 11:22:51 +0000</pubDate>
		<dc:creator>matriphe</dc:creator>
				<category><![CDATA[Kuliner]]></category>
		<category><![CDATA[pecel]]></category>
		<category><![CDATA[Solo]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://jengjeng.matriphe.com/?p=162</guid>
		<description><![CDATA[Gara-gara Fany cerita tentang jeng-jengnya ke Solo, saya jadi kangen rumah. Apalagi saya jarang pulang karena kalo setiap kali pulang saya selalu ditodong dengan pertanyaan mematikan, &#8220;kapan kawin kapan lulus?&#8221;, oleh bapak-ibu saya. Yang paling saya kangeni tentu saja makanan-makanan enak khasnya. Nah, salah satu makanan khas yang sulit ditemukan di kota-kota lain, bahkan di [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><img src="http://jengjeng.matriphe.com/wp-content/uploads/2007/04/pecel1.jpg" alt="Pecel Nasi Merah Bumbu Wijen" title="Pecel Nasi Merah Bumbu Wijen" width="350" height="263" class="alignnone size-full wp-image-1126" /></p>
<p>Gara-gara <a href="http://blog.faniez.net/2007/04/15/solo-kali-pertama/" title="Solo Kali Pertama" target="_blank">Fany cerita tentang jeng-jengnya ke Solo</a>, saya jadi kangen rumah. Apalagi saya jarang pulang karena kalo setiap kali pulang saya selalu ditodong dengan pertanyaan mematikan, &#8220;<strike>kapan kawin</strike> kapan lulus?&#8221;, oleh bapak-ibu saya. <img src='http://jengjeng.matriphe.com/smilies/yahoo_cry.gif' alt='&#58;&#40;&#40;' class='wp-smiley' width='22' height='18' title='&#58;&#40;&#40;' /></p>
<p>Yang paling saya kangeni tentu saja makanan-makanan enak khasnya. Nah, salah satu makanan khas yang sulit ditemukan di kota-kota lain, bahkan di Solo sendiri mungkin susah ditemukan, adalah <strong>Pecel Nasi Merah Bumbu Wijen</strong>! <img src='http://jengjeng.matriphe.com/smilies/yahoo_drool.gif' alt='&#61;&#112;&#126;' class='wp-smiley' width='18' height='18' title='&#61;&#112;&#126;' /></p>
<p><span id="more-162"></span>Pecel. Makanan berbahan utama sayur mayur ini memang memiliki kekhasan tersendiri. Ada berbagai macam jenis pecel, dan yang biasanya paling terkenal adalah Pecel Madiun. Setiap pecel mempunyai identitasnya masing-masing, yang biasanya berupa variasi jenis sayur, bumbu, hingga lauk pauk pelengkap santapan. Ah, kalo soal <a href="http://jagomakan.blogspot.com/2007/03/liputan-apa-kulakan.html" title="Liputan Apa Kulakan?" target="_blank">dunia perpecelan begini</a> terutama <a href="http://jagomakan.blogspot.com/2007/03/kali-ini-saya-juga-membawa-misi-berat_7794.html" title="Misi Berat Pecel Madiun" target="_blank">Pecel Madiun</a>, silakan tanya kepada <a href="http://jagomakan.blogspot.com/" title="Jagoan Makan" target="_blank">Bulik Mendol</a> yang jago makan itu. <img src='http://jengjeng.matriphe.com/smilies/yahoo_bigsmile.gif' alt='&#58;&#68;' class='wp-smiley' width='18' height='18' title='&#58;&#68;' /></p>
<p>Nah, kali ini pecel yang akan kita cicipi ini beda. Lain dari yang lain, dan boleh dikata tidak ada duanya. Seperti yang sudah saya katakan, pecel ini agak susah ditemukan. Walau pecel ini sudah ada semenjak saya masih SD hingga sekarang, saya belum pernah menemukan hidangan pecel sejenis. <img src='http://jengjeng.matriphe.com/smilies/yahoo_smiley.gif' alt='&#58;&#41;' class='wp-smiley' width='18' height='18' title='&#58;&#41;' /></p>
<p>Nasi merah digunakan karena selain rasanya yang unik dan khas, <a href="http://www.mail-archive.com/idakrisnashow@yahoogroups.com/msg09314.html" title="[Ida-Krisna Show] Beras Merah Kaya Vitamin &#038; Mineral" target="_blank">nasi merah memiliki kandungan gizi tinggi bahkan lebih baik daripada nasi putih</a>. Nasi merah ini berasal dari beras merah, jadi jangan mengira nasi ini terbuat dari nasi biasa yang kemudian diolah sedemikian rupa hingga berwarna merah lo ya. <img src='http://jengjeng.matriphe.com/smilies/yahoo_laughloud.gif' alt='&#58;&#41;&#41;' class='wp-smiley' width='18' height='18' title='&#58;&#41;&#41;' /></p>
<p>Bumbu yang digunakan pun unik. Kalo biasanya bumbu pecel yang biasa kita temui itu terbuat dari kacang tanah, bumbu yang digunakan pecel ini terbuat dari kacang wijen. Warnanya pun ndak coklat kayak bumbu dari kacang, tapi berwarna hitam, dengan aroma yang khas. <img src='http://jengjeng.matriphe.com/smilies/yahoo_drool.gif' alt='&#61;&#112;&#126;' class='wp-smiley' width='18' height='18' title='&#61;&#112;&#126;' /></p>
<p>Soal sayuran, standar sih, ada bayam, kenikir, tauge, kacang panjang, dan bahkan daun pepaya. Tapi kalo pas beruntung dan ada, kita juga bisa menikmati bunga turi dan jantung pisang sebagai sayurnya!</p>
<p>Soal lauk pauk pelengkap, sampeyan bebas memilih. Mau pake rempeyek kacang kayak Pecel Madiun, atau mau pake gorengan, dicampur dengan <acronym title="nama makanan yang dikukus">bongko atau bothok</acronym>, atau cuma ditemani kerupuk atau karak pun jadi. Pokoke bebas!</p>
<p>Keunikan lainnya, dari dulu sampai sekarang, pecel ini selalu dibungkus atau dipincuk dengan menggunakan daun pisang dan menggunakan lidi sebagai perekat. Sebuah kemasan yang eksotis dan natural banget, di era teknologi macam ini. <img src='http://jengjeng.matriphe.com/smilies/yahoo_wink.gif' alt='&#59;&#41;' class='wp-smiley' width='18' height='18' title='&#59;&#41;' /></p>
<p>Harganya pun murah, seingat saya (dan kalo masih belum naik), seporsinya cuma 2.500 rupiah! Sebuah harga yang sangat murah bila dibandingkan dengan rasanya yang dahsyat!</p>
<p>Selain pecel nasi merah, si <strike>ibu</strike> mbah penjual, yang dari saya SD sampe sekarang masih sehat wal afiat ini, juga menjual nasi pecel biasa. Juga ada pula lontong pecel, di mana lontong digunakan sebagai pengganti nasi. Soal bumbu juga bisa milih, mau pake bumbu kacang atau wijen. <img src='http://jengjeng.matriphe.com/smilies/yahoo_smiley.gif' alt='&#58;&#41;' class='wp-smiley' width='18' height='18' title='&#58;&#41;' /></p>
<p>Si mbah berjualan, setau saya cuma pada hari Minggu pagi mulai dari jam 5 hingga jam 7-8. Bahkan sering pada jam 6 sudah habis karena saking larisnya. Memang nikmat rasanya, habis olah raga pagi, langsung sarapan nasi ini.</p>
<p>Yang datang pun dari berbagai lapisan, mulai dari etnis Jawa, Cina, hingga encik-encik Arab. Mulai dari yang pembantu yang disuruh majikannya, hingga rombongan keluarga yang datang menggunakan mobil mewah.</p>
<p>Oiya, jangan membayangkan tempatnya kayak warung gitu ya. Tempatnya tu sederhana banget. Terletak di halaman ruko yang belum buka, hanya dengan menggunakan sebuah meja, si mbah melayani sang pembeli yang rata-rata memang membeli untuk dibawa pulang.</p>
<p><img src='http://jengjeng.matriphe.com/wp-content/uploads/2007/04/mbah.jpg' alt='Mbah penjual pecel' /></p>
<p>Si mbah yang rumahnya cukup jauh dari tempatnya berjualan ini, menggunakan sepeda dengan <acronym title="keranjang dari anyaman bambu yang ditaruh di belakang sepeda">bronjong</acronym> untuk mengangkut barang dagangannya. Apa karena kebiasaan inilah si mbah masih sehat hingga sekarang dan tetap melayani pembeli fanatis yang rindu akan kedahsyatan pecelnya ya? <img src='http://jengjeng.matriphe.com/smilies/yahoo_think.gif' alt='&#58;&#45;&#63;' class='wp-smiley' width='18' height='18' title='&#58;&#45;&#63;' /></p>
<p>Eh, iya. Lokasi pecel ini ada di ujung bagian utara kompleks ruko di perumahan saya. Dari gerbang perumahan Fajar Indah, masuk saja sekitar 300 meter. Kalo ada yang rame-rame di Minggu pagi, ya di situlah letak si mbah penjual pecel. Di sebelah mbah penjual pecel ini juga ada penjual nasi liwet yang tak kalah larisnya.</p>
<p>Ah, jadi semakin kangen sama pecel itu.. <img src='http://jengjeng.matriphe.com/smilies/yahoo_drool.gif' alt='&#61;&#112;&#126;' class='wp-smiley' width='18' height='18' title='&#61;&#112;&#126;' /> Terakhir kali saya menikmati pecel itu adalah pas perjalanan <a href="http://blog.matriphe.com/index.php/2006/12/26/tour-de-madiun/" title="Tour de Madiun" target="_blank">Tour de Madiun</a> untuk berburu gadis beberapa waktu yang lalu. <img src='http://jengjeng.matriphe.com/smilies/yahoo_bigsmile.gif' alt='&#58;&#68;' class='wp-smiley' width='18' height='18' title='&#58;&#68;' /></p>
<p><img src='http://jengjeng.matriphe.com/wp-content/uploads/2007/04/pincuk.jpg' alt='Sepincuk pecel nasi merah bumbu wijen' /></p>
<p>Tapi kalo pas saya di rumah, impian menikmati sarapan pecel itu pun kandas, sirna, dan musnah karena kebiasaan bangun <strike>pagi</strike> siang saya yang kacau. <img src='http://jengjeng.matriphe.com/smilies/yahoo_cry.gif' alt='&#58;&#40;&#40;' class='wp-smiley' width='22' height='18' title='&#58;&#40;&#40;' /></p>
<p>Arghhh.. <img src='http://jengjeng.matriphe.com/smilies/yahoo_witsend.gif' alt='&#126;&#88;&#40;' class='wp-smiley' width='44' height='18' title='&#126;&#88;&#40;' /> Jadi pengen pulang!!! <img src='http://jengjeng.matriphe.com/smilies/banghead.gif' alt='&#58;&#98;&#97;&#110;&#103;&#104;&#101;&#97;&#100;' class='wp-smiley' width='25' height='20' title='&#58;&#98;&#97;&#110;&#103;&#104;&#101;&#97;&#100;' /></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://jengjeng.matriphe.com/pecel-nasi-merah-bumbu-wijen.html/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>44</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Mengurus Perpanjangan STNK</title>
		<link>http://jengjeng.matriphe.com/mengurus-perpanjangan-stnk.html</link>
		<comments>http://jengjeng.matriphe.com/mengurus-perpanjangan-stnk.html#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 09 Mar 2007 01:32:12 +0000</pubDate>
		<dc:creator>matriphe</dc:creator>
				<category><![CDATA[Piye Carane]]></category>
		<category><![CDATA[info]]></category>
		<category><![CDATA[karanganyar]]></category>
		<category><![CDATA[Solo]]></category>
		<category><![CDATA[tutorial]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://jengjeng.matriphe.com/?p=116</guid>
		<description><![CDATA[Kali ini kita jeng-jeng ke yang serius-serius. Kita akan jeng-jeng ke kantor SAMSAT. La ngapain? Berhubung sepeda motor adalah sarana transportasi yang mendukung aktivitas per-jeng-jeng-an saya, maka sebagai warga negara yang baik, tertib administrasi merupakan sesuatu yang harus dipatuhi. Kebetulan, beberapa hari ke depan STNK sepeda motor tunggangan saya akan habis masa berlakunya, maka saya [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><img src="http://jengjeng.matriphe.com/wp-content/uploads/2007/03/stnk-cover1.jpg" alt="Surat Tanda Nomor Kendaraan Bermotor" title="Surat Tanda Nomor Kendaraan Bermotor" width="350" height="263" class="alignnone size-full wp-image-1113" /></p>
<p>Kali ini kita jeng-jeng ke yang serius-serius. Kita akan jeng-jeng ke kantor <acronym title="Sistem Administrasi Manunggal Satu Atap">SAMSAT</acronym>. La ngapain?</p>
<p>Berhubung sepeda motor adalah sarana transportasi yang mendukung aktivitas per-jeng-jeng-an saya, maka sebagai warga negara yang baik, tertib administrasi merupakan sesuatu yang harus dipatuhi.</p>
<p>Kebetulan, beberapa hari ke depan STNK sepeda motor tunggangan saya akan habis masa berlakunya, maka saya pun mengajukan perpanjangan STNK.</p>
<p>Mungkin banyak di antara temen-temen yang belum mengetahui langkah-langkah dan prosedur pengurusan perpanjangan STNK, semoga postingan kali ini bisa bermanfaat.</p>
<p><span id="more-116"></span>Seperti yang kita ketahui, setiap tahun kita harus membayar pajak kendaraan bermotor. Sedangkan STNK memiliki masa berlaku selama 5 tahun.</p>
<p>Nah, untuk membayar pajak saja, kita sebenarnya bisa melakukan pembayaran di tempat kita berdomisili selama masih dalam satu propinsi. Misalnya kalo STNK saya bernomor Solo sedangkan saya berada di Cilacap, maka saya bisa melakukan pembayaran pajak STNK di kantor SAMSAT Cilacap. Ini semua bisa dilakukan karena konon sistem pembayaran pajak sudah online dan terhubung ke sistem di Semarang.</p>
<p>Sepeda motor saya tercatat di Kabupaten Karanganyar, karena rumah saya walaupun berada di kawasan Solo, tetapi secara administratif termasuk ke dalam Kabupaten Karanganyar. Yah, bisa dibilang Solo pinggiran lah.. <img src='http://jengjeng.matriphe.com/smilies/yahoo_laughloud.gif' alt='&#58;&#41;&#41;' class='wp-smiley' width='18' height='18' title='&#58;&#41;&#41;' /></p>
<p>Saya pun langsung menuju ke kantor SAMSAT Solo karena memang letak kantor ini tak jauh dari rumah saya, sekitar <acronym title="jarak terjauh yang bisa dicapai oleh batu yang dilontarkan dengan ketapel"><em>sak-plinthengan</em></acronym> lah. <img src='http://jengjeng.matriphe.com/smilies/yahoo_bigsmile.gif' alt='&#58;&#68;' class='wp-smiley' width='18' height='18' title='&#58;&#68;' /></p>
<p>Saya kemudian bertanya dulu kepada petugas di sana apakah saya bisa melakukan perpanjangan STNK di kantor situ. Eh, ternyata tidak bisa dan saya harus mengurusnya ke kantor SAMSAT Karanganyar. <img src='http://jengjeng.matriphe.com/smilies/yahoo_sad.gif' alt='&#58;&#40;' class='wp-smiley' width='18' height='18' title='&#58;&#40;' /></p>
<p>Ya sudah, saya pun segera mancal motor ke ibukota Kabupaten Karanganyar. Jaraknya memang lumayan jauh, mengingat ibukota kabupaten berada di sebelah timur Kota Solo sedangkan rumah saya berada di kawasan utara Kota Solo.</p>
<p>Singkat cerita, saya pun sampai di kantor SAMSAT Karanganyar. Setelah memarkir motor, saya pun menuju ke kantor SAMSAT dan bertanya tentang prosedur yang harus saya lalui.</p>
<p>Awalnya saya mengira kalo prosedur birokrasi yang harus saya lalui akan sangat panjang, ternyata prosedur tersebut cukup singkat. Tetapi walau begitu, waktu kita akan banyak terkuras karena kita harus antri dan menunggu proses pengurusannya. <img src='http://jengjeng.matriphe.com/smilies/yahoo_bigsmile.gif' alt='&#58;&#68;' class='wp-smiley' width='18' height='18' title='&#58;&#68;' /></p>
<p>Baiklah, mari kita mulai saja prosedur dari pengurusan STNK ini.</p>
<ol>
<li><strong>Siapkan STNK dan KTP</strong>. Identitas yang tertera pada STNK harus sama dengan yang ada di KTP. Karena STNK yang saya pegang atas nama bapak saya, maka saya pun membawa KTP bapak saya yang ternyata masih <acronym title="KTP versi lama, yang baru berwarna biru, KTP nasional">KTP kuning</acronym> itu. <img src='http://jengjeng.matriphe.com/smilies/yahoo_bigsmile.gif' alt='&#58;&#68;' class='wp-smiley' width='18' height='18' title='&#58;&#68;' /></li>
<li>Bila mau mengurus perpanjangan STNK, <strong>bawa pula BPKB asli</strong>. Kalo cuma mau membayar pajak, ndak usah membawa BPKB.</li>
<li><strong>Fotokopi KTP dan STNK</strong> masing-masing sebanyak <strong>4 lembar</strong>. Kalo pengen ringkas dan ndak mau repot, biasanya di sekitar kantor SAMSAT ada jasa fotokopian. Petugas di fotokopian ini biasanya sudah hafal. <img src='http://jengjeng.matriphe.com/smilies/yahoo_bigsmile.gif' alt='&#58;&#68;' class='wp-smiley' width='18' height='18' title='&#58;&#68;' /></li>
<li>Kalo kita mau memperpanjang STNK, kita harus melalui prosedur <strong>cek fisik</strong>. Cek fisik ini untuk <strong>mengambil data nomor rangka dan nomor mesin</strong> mobil/motor dengan cara menggesekkan pensil ke atas kertas khusus yang ditempelkan di atas nomor mesin/rangka yang biasanya dicetak pada rangka/mesin.<br />
Untuk mendapatkan kertas khusus ini, kita harus menunjukkan STNK asli dan <strong>menyerahkan fotokopi STNK satu lembar</strong>. Setelah itu kita bisa minta tolong pada petugas yang ada untuk melakukan penggesekan ini. Sebagai ongkos jasa penggesekan, saya dimintai duit 2.000 rupiah. Biaya ini resmi atau bukan, saya kurang tau. Yang pasti saya ikhlas ngasih karena para petugas ini biasanya kaum <em>wong cilik</em> yang gajinya ndak seberapa. <img src='http://jengjeng.matriphe.com/smilies/yahoo_smiley.gif' alt='&#58;&#41;' class='wp-smiley' width='18' height='18' title='&#58;&#41;' /><br />
Yang cuma membayar pajak, langkah ini bisa dilewati dan langsung menuju langkah berikutnya.</li>
<li>Setelah semua syarat siap, kita  harus <strong>mengambil formulir pendaftaran</strong>. Tunjukkan STNK asli dan KTP asli serta lampirkan <strong>selembar fotokopi STNK dan KTP</strong> masing-masing 1 lembar.<br />
Kita tidak perlu mengisi formulir ini karena formulir ini sudah berisi data-data kendaraan kita. Formulir berwarna biru ini kemudian dibubuhi <strong>materai senilai 5.000 rupiah</strong>. Kita diminta membayar materai ini.</li>
<li>Setelah itu kita menuju ke bagian pengurusan. Setelah <strong>menyerahkan STNK asli, KTP asli, fotokopian STNK dan KTP yang tersisa, serta formulir tadi</strong>, kita diminta untuk menunggu. Bagi yang mau memperpanjang STNK biasanya diminta menunjukkan BPKB asli.</li>
<li><strong>Menunggu</strong>. Ya, proses inilah yang paling membosankan. Anda bisa melakukan beragam aktivitas untuk menghilangkan kebosanan. Mulai dari utak-atik HP, dengerin mp3, atau kalo memungkinkan bisa juga ngeblog.. <img src='http://jengjeng.matriphe.com/smilies/yahoo_laughloud.gif' alt='&#58;&#41;&#41;' class='wp-smiley' width='18' height='18' title='&#58;&#41;&#41;' /><br />
Untungnya di kantor ini sudah menerapkan sistem antrian menggunakan nomor sehingga antrian menjadi lebih tertib.</li>
<li><strong>Bayar ke kasir</strong>. Di sini kita akan diminta membayar biaya-biaya yang terdiri dari <strong>Pajak Kendaraan Bermotor (PKB)</strong> dan <strong>asuransi Jasa Raharja</strong>. Karena saya melakukan perpanjangan STNK, saya dikenai beban <strong>biaya administrasi STNK</strong> dan <strong>biaya pembuatan plat nomor</strong>. Selain biaya tersebut ada juga <strong>biaya balik nama</strong> dan <strong>sangsi-sangsi</strong> kalo misalnya terlambat. Di sini KTP asli kita akan dikembalikan.<br />
Total biaya yang harus saya bayarkan adalah 200.000 rupiah dengan perincian 138.000 rupiah untuk PKB, 22.000 rupiah untuk Jasa Raharja, 25.000 ribu untuk administrasi STNK, dan 15.000 rupiah untuk plat nomor.</li>
<li>Setelah membayar, kita menunggu lagi. Setelah menunggu, kita akan <strong>mendapatkan STNK baru</strong> dan bukti pembayaran pajak kendaraan bermotor. <img src='http://jengjeng.matriphe.com/smilies/yahoo_dance.gif' alt='&#92;&#58;&#100;&#47;' class='wp-smiley' width='26' height='18' title='&#92;&#58;&#100;&#47;' /></li>
<li>Selesai.</li>
</ol>
<p>Cukup mudah dan singkat, bukan? Tapi memang akan lebih singkat lagi kalo kita mengurusnya melalui calo. <img src='http://jengjeng.matriphe.com/smilies/yahoo_laughloud.gif' alt='&#58;&#41;&#41;' class='wp-smiley' width='18' height='18' title='&#58;&#41;&#41;' /> Apalagi bagi yang ndak punya waktu dan kesempatan karena terlalu sibuk. <img src='http://jengjeng.matriphe.com/smilies/yahoo_smiley.gif' alt='&#58;&#41;' class='wp-smiley' width='18' height='18' title='&#58;&#41;' /> Bayar uang sekian, terima beres. <img src='http://jengjeng.matriphe.com/smilies/yahoo_bigsmile.gif' alt='&#58;&#68;' class='wp-smiley' width='18' height='18' title='&#58;&#68;' /></p>
<p>Tapi ada yang cukup mengherankan. Kenapa plat nomor yang biasanya jadi paling lama seminggu setelah pengurusan, kok saya disuruh kembali lagi untuk mengambil plat nomor itu SEBULAN lagi ya? <img src='http://jengjeng.matriphe.com/smilies/yahoo_think.gif' alt='&#58;&#45;&#63;' class='wp-smiley' width='18' height='18' title='&#58;&#45;&#63;' /></p>
<p>Uniknya lagi, kalo dulu STNK berwarna kuning, STNK baru yang saya terima berwarna biru. <img src='http://jengjeng.matriphe.com/smilies/yahoo_bigsmile.gif' alt='&#58;&#68;' class='wp-smiley' width='18' height='18' title='&#58;&#68;' /></p>
<p>Hehehe.. Karena saya sedang puasa jeng-jeng, maka saya nulis ini saja.. <img src='http://jengjeng.matriphe.com/smilies/yahoo_whistling.gif' alt='&#58;&#45;&#34;' class='wp-smiley' width='22' height='18' title='&#58;&#45;&#34;' /></p>
<p>Semoga informasi ini bermanfaat. <img src='http://jengjeng.matriphe.com/smilies/yahoo_wink.gif' alt='&#59;&#41;' class='wp-smiley' width='18' height='18' title='&#59;&#41;' /></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://jengjeng.matriphe.com/mengurus-perpanjangan-stnk.html/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>72</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Solo Nostalgia</title>
		<link>http://jengjeng.matriphe.com/solo-nostalgia.html</link>
		<comments>http://jengjeng.matriphe.com/solo-nostalgia.html#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 05 Mar 2007 01:18:50 +0000</pubDate>
		<dc:creator>matriphe</dc:creator>
				<category><![CDATA[Travelogue]]></category>
		<category><![CDATA[Solo]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://jengjeng.matriphe.com/?p=111</guid>
		<description><![CDATA[Ah, lagi-lagi saya tidak bisa menahan hasrat jeng-jeng saya. Jeng-jeng kali ini sedikit beda, bukan keluyuran ke tempat-tempat eksotis, tetapi cuma perjalanan saya pulang kampung ke Solo. Tapi kenapa dituliskan di sini, karena saya mendapatkan nuansa nostalgia selama dalam perjalanan saya pulang ini. Kalo biasanya saya pulang ke Solo naek motor, kemarin itu saya pulang [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><img src="http://jengjeng.matriphe.com/wp-content/uploads/2007/03/solo-cover1.jpg" alt="Solo Nostalgia" title="Solo Nostalgia" width="350" height="263" class="alignnone size-full wp-image-1112" /></p>
<p>Ah, lagi-lagi saya tidak bisa menahan hasrat jeng-jeng saya.</p>
<p>Jeng-jeng kali ini sedikit beda, bukan keluyuran ke tempat-tempat eksotis, tetapi cuma perjalanan saya pulang kampung ke Solo. Tapi kenapa dituliskan di sini, karena saya mendapatkan nuansa nostalgia selama dalam perjalanan saya pulang ini.</p>
<p>Kalo biasanya saya pulang ke Solo naek motor, kemarin itu saya pulang sambil mengenang masa-masa lalu saya, karena sudah lama banget saya ndak pulang menggunakan jasa kereta Prambanan Ekspres (Prameks). Apalagi semenjak peluncuran Prameks edisi <acronym title="Kereta Rel Diesel Elektrik">KRDE</acronym> pada tanggal 1 Maret setahun yang lalu, saya belom pernah mencobanya. <img src='http://jengjeng.matriphe.com/smilies/yahoo_bigsmile.gif' alt='&#58;&#68;' class='wp-smiley' width='18' height='18' title='&#58;&#68;' /></p>
<p>Selain perjalanan saya <a href="http://jengjeng.matriphe.com/index.php/2007/03/05/solo-nostalgia.html#prameks">menikmati suasana Prameks</a>, kita akan mencoba menu kuliner dari <a href="http://jengjeng.matriphe.com/index.php/2007/03/05/solo-nostalgia.html#jahegepuk">Warung Jahe Gepuk Pak No</a>. <img src='http://jengjeng.matriphe.com/smilies/yahoo_drool.gif' alt='&#61;&#112;&#126;' class='wp-smiley' width='18' height='18' title='&#61;&#112;&#126;' /></p>
<p><span id="more-111"></span><strong>DE JOURNEY BEGINS</strong></p>
<p>Jumat (2 Maret 2007) itu, mendung masih menggantung. Hujan gerimis cukup deras sempat mengguyur sore harinya. Saya pada saat itu tidak ada kegiatan apa-apa selain cuma bengong di kosan, akhirnya saya malah terlelap sore itu (harusnya saya ngerjain TAÃ¢â€žÂ¢ ya?). <img src='http://jengjeng.matriphe.com/smilies/yahoo_dontknow.gif' alt='&#58;&#45;&#63;&#63;' class='wp-smiley' width='40' height='18' title='&#58;&#45;&#63;&#63;' /></p>
<p>Menjelang Maghrib, saya terbangun. Entah kenapa saya kok tiba-tiba pengen banget pulang, entah eblisÃ¢â€žÂ¢ mana yang membisiki saya. Dan saya kok pengen banget pulang naek kereta. Padahal selama ini saya lebih milih naek motor karena bisa pulang sewaktu-waktu, beda kalo naik kereta yang harus patuh pada jadwal. <img src='http://jengjeng.matriphe.com/smilies/yahoo_bigsmile.gif' alt='&#58;&#68;' class='wp-smiley' width='18' height='18' title='&#58;&#68;' /></p>
<p>Baiklah, seingat saya jadwal kereta Prameks terakhir dari Jogja adalah jam 7-an malam. Ha ya sudah, sebelum berangkat saya pun menyempatkan diri sholat Maghrib dulu.</p>
<p>Sebenernya saya ingin melakukan jeng-jeng kali ini dengan lagak bak seorang backpacker. Tapi apa daya, karena di kosan ndak ada orang yang bisa dimintai tolong nganterin ke Lempuyangan, akhirnya saya mancal motor ke stasiun yang sempet porak poranda disapu puting <strike>susu</strike> beliung itu.</p>
<p>Jam setengah 7 saya berangkat dan dari kejauhan terlihat Prameks sudah tiba di Lempuyangan. Saya mempercepat motor saya dan setelah menitipkan motor di parkiran stasiun, saya pun menuju loket untuk membeli tiket seharga 7.000 rupiah.</p>
<p>Setelah masuk peron, loh kok? Prameks-nya udah ndak ada! Heheh.. Ternyata Prameks yang saya liat tadi baru saja masuk stasiun dari Solo dan kini menuju Stasiun Tugu.</p>
<p>Sembari menunggu, saya pun memperhatikan setiap sudut stasiun yang lebih tua 15 tahun dari Stasiun Tugu atau Stasiun Besar Yogyakarta ini. Atap-atap stasiun yang sempat hilang akibat disapu angin kemarin sudah diperbaiki. Orang yang hendak naek Prameks ndak begitu banyak, apalagi hari itu bukan hari Sabtu atau Minggu.</p>
<p>La pas saya lagi asyik-asyik menikmati suasana, saya dikejutkan oleh seorang gadis manis yang menyapa saya. Saya sempat kaget dan berpikir lama, siapakah gadis manis ini? Jangan-jangan dia salah orang atau jangan-jangan dia mengira saya kuli panggul stasiun yang kemudian mau disewa untuk <strike>melayani hasratnya</strike> membawakan barang-barangnya? <img src='http://jengjeng.matriphe.com/smilies/yahoo_think.gif' alt='&#58;&#45;&#63;' class='wp-smiley' width='18' height='18' title='&#58;&#45;&#63;' /></p>
<p>Oo.. Ternyata dia anak <a href="http://bayunovianto.web.ugm.ac.id/kassmadjigama/" title=" Keluarga Alumni SMA N 1 Surakarta Universitas Gadjah Mada" target="_blank">Kassmadji Gama</a>, adik kelas saya dulu pas di SMA yang sekarang ngaku kuliah di Psikologi UGM angkatan 2003. Hehe, kenal sama <a href="http://chocoluv.elzan.com/" title="psikocluk" target="_blank">psikocluk</a> itu ndak, ya? <img src='http://jengjeng.matriphe.com/smilies/yahoo_laughloud.gif' alt='&#58;&#41;&#41;' class='wp-smiley' width='18' height='18' title='&#58;&#41;&#41;' /></p>
<p>Dan cewek yang ngaku bernama Yaya ini ternyata mulutnya ndak semanis wajahnya. La kenapa bisa? Ha ya bisa. Masak begitu ketemu, pertanyaan yang pertama keluar dari bibirnya, &#8220;sudah LULUS, mas?&#8221; Jampuutt!!! <img src='http://jengjeng.matriphe.com/smilies/yahoo_witsend.gif' alt='&#126;&#88;&#40;' class='wp-smiley' width='44' height='18' title='&#126;&#88;&#40;' /></p>
<p>Kalo saja dia itu cowok, sudah tak suwek-suwek cangkÃƒÂ©m-ÃƒÂ¨ terus tak lempar ke atas rel biar dilindas kereta.. <img src='http://jengjeng.matriphe.com/smilies/yahoo_angry.gif' alt='&#120;&#40;' class='wp-smiley' width='34' height='18' title='&#120;&#40;' /> Untung saja dia cewek, jadinya ya saya <strike>perkosa dia</strike> cuma tersenyum pahit menanggapi pertanyaannya.</p>
<p>Obrolan <strike>panas menjurus saru</strike> kami pun terpaksa terhenti ketika ada pengumuman bahwa kereta Prambanan Ekspress akan masuk jalur 2. Kami dan beberapa orang lainnya segera mempersiapkan diri berdiri di kanan-kiri jalur 2.</p>
<p>Tak lama kemudian, kereta berwarna kuning ini berhenti dan pintu berpenggerak hidrolik pun terbuka. Ces.. Ces.. Begitulah bunyi ketika pintu terbuka. Para penumpang pun segera naik dan mencari tempat duduk.</p>
<p><strong><a title="prameks" name="prameks"></a>PRAMBANAN EKSPRES, KERETA NOSTALGIA</strong></p>
<p><img src='http://jengjeng.matriphe.com/wp-content/uploads/2007/03/prameks.jpg' alt='KRDE Prambanan Ekspres' /></p>
<p>Setelah mendapat tempat duduk, saya pun memperhatikan bagian dalam kereta ini. Ternyata banyak sekali perbedaan pada kereta KRDE ini daripada kereta Prameks lama yang berjenis <acronym title="Kereta Rel Diesel">KRD</acronym>.</p>
<p><img src='http://jengjeng.matriphe.com/wp-content/uploads/2007/03/prameks-lama.jpg' alt='KRD Prameks lama' /></p>
<p>Kesan pertama saya setelah memasuki kereta adalah kereta ini terlihat lebih luas. Ternyata ini disebabkan karena tempat duduk yang ada di dalam kereta ini adalah berderet menyamping, sejajar dengan kereta. Kalau kereta Prameks yang dulu, tempat duduknya masih menghadap depan-belakang.</p>
<p><img src='http://jengjeng.matriphe.com/wp-content/uploads/2007/03/dalam-gerbong.jpg' alt='suasana di dalam gerbong Prameks' /></p>
<p>Gerbong ini juga lebih panjang daripada gerbong lama. Dilihat dari papan informasi yang tertera di dalam gerbong, setiap gerbong mampu menampung 70 orang penumpang, sedangkan gerbong lama seingat saya cuma 60 orang. Itu kalo biasa lo, tapi biasanya banyak juga orang yang berdiri di dalam, apalagi kalo pas akhir pekan, bisa 120-an orang di dalamnya.</p>
<p>Tempat duduk kereta ini juga berbeda. Kalo di gerbong lama tempat duduknya empuk karena ada busanya, tapi di kereta ini tempat duduknya keras karena terbuat dari bahan semacam plastik fiber. Di sepanjang lorong terdapat cincin-cincin tempat bepegangan bagi penumpang yang berdiri sebanyak 48 buah. Di bagian tengah atap ada kipas angin yang mengatur sirkulasi udara.</p>
<p>Dalam satu rangkaian kereta terdiri dari 5 gerbong. Kereta ini tidak memiliki lokomotif, tetapi pada bagian ujung-ujungnya terdapat gerbong tempat masinis menjalankan kereta yang juga menjadi satu dengan gerbong penumpang. Jadi kereta ini dapat berjalan pulang-pergi tanpa perlu membolak-balik lokomotif.</p>
<p>Kereta ini konon pengontrolannya menggunakan komputer. Karena itu pula, kereta ini dilengkapi dengan sistem pembatas kecepatan. Sehingga kereta ini jika melebihi kecepatan tertentu, otomatis sistem akan mengembalikan kecepatan pada kecepatan yang aman. Konon kereta jenis ini adalah kereta pertama kali yang dioperasikan di Indonesia.</p>
<p>Kereta KRDE ini adalah merupakan hasil modifikasi yang dilakukan oleh PT. INKA (Industri Kereta Api), sedangkan kereta Prameks yang lama adalah kereta bekas yang dibeli dari Jepang. Kereta ini menggunakan mesin diesel buatan Cummins dan alternator buatan Toshiba. Bodinya menggunakan bodi KRL Belgien Nederland-Holland Electric. Sistem suspensinya menggunakan <em>bolsterless bogie</em> sehingga mampu meredam guncangan dengan mantab.</p>
<p>Kereta ini sungguh nyaman. Suaranya halus dan guncangannya sangat kecil. Pokoke wenak tenan, apalagi kalo di depan kita adalah cewek manis.. Wah, bener-bener posisi wenak.. <img src='http://jengjeng.matriphe.com/smilies/yahoo_devil.gif' alt='&#62;&#58;&#41;' class='wp-smiley' width='18' height='18' title='&#62;&#58;&#41;' /></p>
<p>Uniknya lagi, di kereta ini ada petugas yang menawarkan makanan dan minuman. Dengan menggunakan kereta dorong, petugas berseragam ini menawarkan berbagai makanan kecil, tisu, air mineral, dan sebagainya. Dengan berseragam biru-biru bertuliskan PRESTIS yang merupakan kepanjangan dari Prameks Ekstra Service, mereka ini mondar-mandir sepanjang lorong sambil memukul besi kereta dorong. Ting.. Ting..</p>
<p><img src='http://jengjeng.matriphe.com/wp-content/uploads/2007/03/prestis.jpg' alt='Prameks Ekstra Service' /></p>
<p>Kereta ini hanya berhenti pada Stasiun Tugu, Stasiun Lempuyangan, Stasiun Klaten, Stasiun Solo Purwosari, Stasiun Solo Balapan, dan Stasiun Solo Jebres. Karena kereta yang saya tumpangi ini adalah kereta terakhir, maka pemberhentian hanya sampai di Stasiun Solo Balapan untuk kemudian dipakai pada esok harinya.</p>
<p>Kalo dulu, Prameks masih sering berhenti di stasiun-stasiun kecil untuk menunggu kereta lain dari arah berlawanan yang akan lewat, kini Prameks bisa langsung melaju tanpa henti karena adanya proyek rel jalur ganda yang menghubungkan Jogja-Solo.</p>
<p>Saya pun mencoba mengingat-ingat kapan terakhir kali saya naik Prameks. <img src='http://jengjeng.matriphe.com/smilies/yahoo_think.gif' alt='&#58;&#45;&#63;' class='wp-smiley' width='18' height='18' title='&#58;&#45;&#63;' /> Kira-kira sih pada awal-awal kuliah saya masih sering naek Prameks, jadi mungkin sekitar 3-4 tahun yang lalu saya terakhir kali naik Prameks.</p>
<p>Dulu kalo pas di kereta, ketemu teman SMA rasanya seneng banget karena bisa diajak ngobrol dan nanya-nanya kabar. Kalo sekarang, saya malah berharap tidak ketemu temen-temen SMA saya.. <img src='http://jengjeng.matriphe.com/smilies/yahoo_pray.gif' alt='&#91;&#45;&#79;&#60;' class='wp-smiley' width='18' height='18' title='&#91;&#45;&#79;&#60;' /> Malu, euy.. Belum lulus!! <img src='http://jengjeng.matriphe.com/smilies/yahoo_cry.gif' alt='&#58;&#40;&#40;' class='wp-smiley' width='22' height='18' title='&#58;&#40;&#40;' /></p>
<p>Tak terasa, 45 menit sudah berlalu. Prameks pun memasuki Stasiun Purwosari. Saya pun turun di sini. Setelah turun kereta, saya pun tidak keluar melalui pintu keluar stasiun, tetapi saya justru menyusuri rel menuju ke barat, karena di sana saya ingin menikmati kehangatan wedang jahe.. <img src='http://jengjeng.matriphe.com/smilies/yahoo_drool.gif' alt='&#61;&#112;&#126;' class='wp-smiley' width='18' height='18' title='&#61;&#112;&#126;' /></p>
<p><strong><a title="jahegepuk" name="jahegepuk"></a>HANGATNYA JAHE GEPUK</strong></p>
<p>Rasa capek menggelayut di badan karena selama di kereta saya ndak melakukan aktivitas apa pun kecuali cuma duduk. Apalagi tubuh yang sempat terguyur gerimis di Jogja tadi membuat badan terasa dingin.</p>
<p><img src='http://jengjeng.matriphe.com/wp-content/uploads/2007/03/warung-jahe-gepuk.jpg' alt='Warung Jahe Gepuk Pak No Purwosari' /></p>
<p>Tak jauh dari stasiun, ada warung wedang yang ramai, namanya Warung Wedang Jahe Gepuk Pak No. Saya pun menyusuri rel-rel mati ini ke arah barat. Saya menemukan sisa-sisa rel yang konon dulu merupakan jalur Solo-Semarang. Tetapi kini rel-rel di pinggir Jalan Slamet Riyadi ini sudah tidak dimanfaatkan lagi dan jalur Solo-Semarang dilewatkan Purwodadi.</p>
<p>Begitu sampai di warung ini, kesan merakyat langsung terasa. Ada warung <acronym title="Hidangan Istimewa Kampung">HIK</acronym> yang menyediakan berbagai macam gorengan, tikar yang digelar untuk lesehan, dan dingklik-dingklik tertata rapi menunjang kita untuk menikmati malam.</p>
<p><img src='http://jengjeng.matriphe.com/wp-content/uploads/2007/03/hidangan.jpg' alt='hidangan yang ada di Warung Pak No' /></p>
<p>Saya pun disapa ramah oleh sang ibu empunya warung. Saya pun bertanya menu spesial warung ini apa, dan beliau menjawab, &#8220;Susu Jahe, mas.. Dijamin manteb!&#8221;.</p>
<p>Weh, saya pun tergoda. <img src='http://jengjeng.matriphe.com/smilies/yahoo_drool.gif' alt='&#61;&#112;&#126;' class='wp-smiley' width='18' height='18' title='&#61;&#112;&#126;' /> Saya memesan satu dan segera mencomot seekor puyuh goreng yang sudah ngawe-awe sejak tadi. Menu puyuh ini sangat istimewa, karena selama saya di Jogja, saya belum menemukan angkringan yang menyediakan menu ini kecuali warung HIK di Solo.</p>
<p><img src='http://jengjeng.matriphe.com/wp-content/uploads/2007/03/susu-jahe-puyuh.jpg' alt='Susu Jahe dan Puyuh Goreng' /></p>
<p>Karena saking laparnya, saya lupa kalo menu puyuh ini lebih mantab kalo sebelumnya dibakar dulu di atas bara.. Ah, tapi tak mengapa lah.. <img src='http://jengjeng.matriphe.com/smilies/yahoo_laughloud.gif' alt='&#58;&#41;&#41;' class='wp-smiley' width='18' height='18' title='&#58;&#41;&#41;' /></p>
<p>Daging burung puyuh ini secara keseluruhan lebih alot daripada daging ayam. Cara memakannya pun harus hati-hati, karena ukuran burung yang kecil, tulang-tulangnya juga kecil, sehingga kemungkinan tulang nylilit di gigi dan menusuk gusi juga besar. <img src='http://jengjeng.matriphe.com/smilies/yahoo_laughloud.gif' alt='&#58;&#41;&#41;' class='wp-smiley' width='18' height='18' title='&#58;&#41;&#41;' /> Pokoknya sampeyan musti ngerasain sendiri! <img src='http://jengjeng.matriphe.com/smilies/yahoo_laughloud.gif' alt='&#58;&#41;&#41;' class='wp-smiley' width='18' height='18' title='&#58;&#41;&#41;' /></p>
<p>Warung ini berdiri sejak Oktober 1999. Mulai buka dari jam 4 sore sampai tengah malam. Hampir setiap malam warung ini rame, apalagi kalo pas malam minggu. Dulu setahu saya ada yang jual jagung bakar juga di sekitar warung ini, tapi pas saya datang berkunjung, penjual jagung bakar ini tidak ada.</p>
<p>Sang ibu penjualnya pun enak diajak ngobrol. Selama berjualan, ia dibantu oleh suami dan putri-putri (ingat, putri-putri) serta beberapa tetangganya. Sang ibu ini lalu bercerita tentang resep wedang jahenya yang memang berasa nendang di tenggorokan dan hangat di badan ini.</p>
<p>Jahe di warung ini memang mantab. Pedas jahenya benar-benar terasa. Suhu wedangnya juga pas, tidak terlalu panas namun tidak pula terlalu dingin. Rasa manis susu murni berpadu dengan pedasnya jahe membangkitkan rasa tersendiri. Sluurrpp.. Ah.. <img src='http://jengjeng.matriphe.com/smilies/yahoo_drool.gif' alt='&#61;&#112;&#126;' class='wp-smiley' width='18' height='18' title='&#61;&#112;&#126;' /></p>
<p>Jahe warung ini juga istimewa cara mengolahnya. Sebelumnya, jahe disikat terlebih dahulu hingga bersih. Kemudian jahe dijemur di bawah terik matahari supaya kering. Kemudian setelah kering, jahe dipanggang. Cara memanggangnya juga unik, jahe dimasukkan ke dalam kolong <acronym title="tungku yang terbuat dari tanah liat">anglo</acronym> sehingga jahe tidak gosong.</p>
<p>Setelah benar-benar kering, jahe dikupas dan kemudian dihancurkan atau dimemarkan. Kalo orang Jawa bilang, di-gepuk. Nah, jahe yang sudah hancur ini kemudian diseduh dengan air panas. Hasilnya, sari-sari jahe yang sudah kering tadi akan larut semua ke dalam air panas. Minuman ini yang dinamakan Wedang Jahe Gepuk.</p>
<p>Untuk menghasilkan rasa jahe yang mantab, kita bisa menambahkan gula jawa (gula merah). Tetapi bila tidak ada, pakai gula biasa pun bisa. Cuma, ya rasanya ndak semantab wedang yang menggunakan gula jawa.</p>
<p>Karena saya memesan susu jahe, maka jahe gepuk tadi dilarutkan dalam susu murni yang panas. Rasanya, wuih.. <img src='http://jengjeng.matriphe.com/smilies/yahoo_drool.gif' alt='&#61;&#112;&#126;' class='wp-smiley' width='18' height='18' title='&#61;&#112;&#126;' /> Rasa manis susu bercampur jahe yang hangat membuat badan menjadi rileks. Bener-bener nikmat kalo disruput pas hujan-hujan bersama kekasih.. X) Halah..</p>
<p>Belum puas, si ibunya menawarkan nasi kucingnya. Nasi kucing ini lauknya ada bermacam-macam, mulai dari oseng-oseng, sambel bandeng, sambel gÃƒÂ©rÃƒÂ¨h (ikan asin), hingga nasi goreng. Semua nasi dan lauknya ini adalah bikinan ibu itu. Si ibu pun menjamin bahwa semua yang ada di warungnya adalah halal.</p>
<p>&#8220;Dulu pernah kita jual daging babi, mas.. Tapi ada orang yang komplain, terus dia bilang lebih baik ndak usah jualan yang begituan lagi. Sekarang saya ndak mau jualan daging babi lagi, mas. <acronym title="darah kering yang diolah menjadi makanan">SarÃƒÂ¨n</acronym> juga ndak, apalagi <acronym title="daging anjing">iwak jamu</acronym>.. Pokoke dijamin semuanya halal..&#8221;, begitu sang ibu bercerita.</p>
<p>Sang ibu lalu meneruskan ceritanya, &#8220;di sini yang sering dicari adalah Wedang KencÃƒÂ©ng, mas.. Kebanyakan yang nyari itu orang-orang Cina. KencÃƒÂ©ng artinya kencang, menurut orang-orang Cina yang sering memesan wedang ini, minuman ini dipercaya bisa mengencangkan otot-otot sehingga kita bisa nampak lebih muda. Oalah, tak kirain yang kenceng apaan.. <img src='http://jengjeng.matriphe.com/smilies/yahoo_laughloud.gif' alt='&#58;&#41;&#41;' class='wp-smiley' width='18' height='18' title='&#58;&#41;&#41;' /></p>
<p><img src='http://jengjeng.matriphe.com/wp-content/uploads/2007/03/wedang-kenceng.jpg' alt='Wedang Kenceng' class="alignleft" /></p>
<p>Wedang Kenceng adalah jahe yang dilarutkan dalam air tape ketan. Air tape ketan yang rasanya manis-manis gimana itu dicampur dengan jahe? Wah, saya jadi penasaran bagaimana rasanya. Saya pun akhirnya tak bisa menahan diri untuk mencobanya. Setelah menikmati kehangatan Susu Jahe, kini saatnya mencoba Wedang Kenceng! <img src='http://jengjeng.matriphe.com/smilies/yahoo_drool.gif' alt='&#61;&#112;&#126;' class='wp-smiley' width='18' height='18' title='&#61;&#112;&#126;' /></p>
<p>Weh, ternyata rasanya mantab juga! Rasa pedas jahe bercampur dengan manisnya tape memberikan rasa yang khas dan unik. Rasa dari wedang ini lebih segar dan ringan daripada susu jahe. Ketan yang mengendap di dasar gelas pun bisa kita makan.</p>
<p>Saya pun mencoba nasi oseng-osengnya. Saya memang tidak suka sambal. Jadi saya mencoba oseng-osengnya saja. Oseng-oseng ini berisi tahu dan tempe, rasanya enak. Apalagi ditambah lauk sate telor puyuh.. Weh.. <img src='http://jengjeng.matriphe.com/smilies/yahoo_drool.gif' alt='&#61;&#112;&#126;' class='wp-smiley' width='18' height='18' title='&#61;&#112;&#126;' /></p>
<p>Tak terasa waktu sudah menunjukkan pukul 9 malam. Setelah kenyang dan puas menikmati hidangan rakyat tersebut, saya pun memutuskan pulang. Tetapi sayang sekali, bis kota sudah tidak ada. La padahal jarak dari Purwosari ke rumah saya kira-kira 2,5 km. Akhirnya saya pun memutuskan untuk berjalan kaki. Itung-itung olah raga.. <img src='http://jengjeng.matriphe.com/smilies/yahoo_cry.gif' alt='&#58;&#40;&#40;' class='wp-smiley' width='22' height='18' title='&#58;&#40;&#40;' /></p>
<p><strong>NOSTALGIA SEKOLAH</strong></p>
<p>Dengan menyusuri jalan Slamet Riyadi bak seorang backpacker, saya pun menikmati suasana kota. Ketika melewati depan mall Solo Square, ingatan saya langsung terlempar ke masa lalu.</p>
<p><img src='http://jengjeng.matriphe.com/wp-content/uploads/2007/03/solo-square.jpg' alt='Solo Square' /></p>
<p>Dulu, kawasan Solo Square merupakan tanah lapang yang tidak terawat. Dulu pas masih SD, kami sering melakukan kegiatan olah raga di situ. Tetapi kini, lapangan itu sudah berubah menjadi simbol kapitalis dan konsumtif.</p>
<p>Tak jauh dari Solo Square adalah SD Negeri Kleco 2. Di SD inilah saya dulu bersekolah. Kondisinya tidak banyak berubah. Kenangan masa SD saya pun langsung merasuk ke otak. Saya sempat berhenti sejenak untuk mengingat-ingat masa-masa SD saya dulu sambil memandang bangunan sekolah itu. Tak terasa saya bisa tersenyum-senyum sendirian.</p>
<p>Saya lalu menyusuri jalan yang dulu saya lewati ketika pergi dan pulang sekolah ketika SD. Menyusuri jalan-jalan sempit membelah pemukiman penduduk. Warung kelontong Barokah di dekat sekolah yang dulu menjadi penyelamat ketika lupa membawah bahan untuk hasta karya, rumah sobat lama saya Handoko yang rumahnya paling dekat dengan sekolah, jalan-jalan dan gang-gang itu, semuanya nampak tak banyak berubah.</p>
<p>Saya pun berencana menuju ke SMP Negeri 2, SMP saya dulu. Tetapi akhirnya niatan ini saya urungkan mengingat jalan di sekitar SMP ini dulu terkenal rawan. Apalagi jam-jam segini, biasanya ada orang mabuk-mabukan di sekitar situ. Entahlah kalo sekarang.</p>
<p>Saya pun teringat akan suatu kejadian yang cukup mengerikan. Pernah saya melihat peristiwa bunuh diri ketika melewati jalan menuju SMP ini. Sang korban meninggal dengan cara gantung diri di sebuah pohon. Saya saat itu melihat dengan jelas ketika mayat diturunkan dari pohon. Hi.. <img src='http://jengjeng.matriphe.com/smilies/yahoo_nailbiting.gif' alt='&#58;&#45;&#83;&#83;' class='wp-smiley' width='36' height='18' title='&#58;&#45;&#83;&#83;' /></p>
<p>Langkah kaki ini terus berjalan. Tak terasa sekitar 45 menit saya pun sampai di rumah. <img src='http://jengjeng.matriphe.com/smilies/yahoo_bigsmile.gif' alt='&#58;&#68;' class='wp-smiley' width='18' height='18' title='&#58;&#68;' /> Ternyata waktu tempuh saya berjalan kaki sama dengan waktu tempuh Jogja-Solo menggunakan Prameks. <img src='http://jengjeng.matriphe.com/smilies/yahoo_laughloud.gif' alt='&#58;&#41;&#41;' class='wp-smiley' width='18' height='18' title='&#58;&#41;&#41;' /></p>
<p>Ketika saya tiba di rumah, pintu sudah dikunci. Setelah mengetuk pintu, bapak saya kaget ketika membuka pintu. Setelah dipersilakan masuk, saya diberondong berbagai pertanyaan. <img src='http://jengjeng.matriphe.com/smilies/yahoo_bigsmile.gif' alt='&#58;&#68;' class='wp-smiley' width='18' height='18' title='&#58;&#68;' /> Biasa lah, kekhawatiran ortu kepada anaknya. <img src='http://jengjeng.matriphe.com/smilies/yahoo_bigsmile.gif' alt='&#58;&#68;' class='wp-smiley' width='18' height='18' title='&#58;&#68;' /></p>
<p>Dan malam itu saya pun tidur dengan nyenyak sekali karena kecapekan. <img src='http://jengjeng.matriphe.com/smilies/yahoo_sleep.gif' alt='&#124;&#45;&#41;' class='wp-smiley' width='21' height='18' title='&#124;&#45;&#41;' /></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://jengjeng.matriphe.com/solo-nostalgia.html/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>48</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Cerita Semalam di Solo</title>
		<link>http://jengjeng.matriphe.com/cerita-semalam-di-solo.html</link>
		<comments>http://jengjeng.matriphe.com/cerita-semalam-di-solo.html#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 17 Feb 2007 06:19:49 +0000</pubDate>
		<dc:creator>matriphe</dc:creator>
				<category><![CDATA[Travelogue]]></category>
		<category><![CDATA[Solo]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://jengjeng.matriphe.com/?p=13</guid>
		<description><![CDATA[Perhatian! Jeng-jeng kali ini dengan sangat menyesal tidak terdapat skrinsut karena saya sedang krisis identitas kamera digital, dan acara yang diadakan sangat mendadak, mak jegagik&#8482;. Maka postingan ini dengan sangat menyesal tidak dapat kami sertakan suatu bukti ontentik apa pun sehingga silakan kalo mau mencap postingan ini adalah cerpen. Semua bermula dari ajakan dari seorang [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><strong>Perhatian!</strong> Jeng-jeng kali ini dengan sangat menyesal tidak terdapat skrinsut karena saya sedang krisis <strike>identitas</strike> kamera digital, dan acara yang diadakan sangat mendadak, mak jegagik&trade;. Maka postingan ini dengan sangat menyesal tidak dapat kami sertakan suatu bukti ontentik apa pun sehingga silakan kalo mau mencap postingan ini adalah cerpen.</p>
<p>Semua bermula dari ajakan dari seorang sarjana fresh graduate yang mencoba mengais-ais rezeki di tempat <strike>sampah</strike> orang. Dia kebetulan ada jadwal wawancara di sebuah hotel di kawasan <strike><acronym title="Radio Republik Indonesia">RRI</acronym></strike> Solo.</p>
<p>Bukan, bukan dia melamar sebagai <em>opisboy</em> atau pun <em>belboy</em>, cuma kebetulan sang manajer HRD perusahaan tempat dia melamar ini sedang berada di Solo dan kok dengan penuh nggaya, tenguk-tenguk-nya kok ya di hotel. Ha wis ben, namanya juga manajer, ding.. <img src='http://jengjeng.matriphe.com/smilies/yahoo_bigsmile.gif' alt='&#58;&#68;' class='wp-smiley' width='18' height='18' title='&#58;&#68;' /></p>
<p>Rencana <a href="http://jengjeng.matriphe.com/index.php/2007/02/15/awal-perjalanan-akhir.html#jazi" title="Awal Perjalanan Akhir # Bapaknya Pak Jazi">melayat salah satu dosen saya</a> yang bapaknya meninggal kemarin akhirnya batal. La gimana lagi? Mosok hatrick melihat pemakaman dalam seminggu? Ya sudah, mendingan saya jeng-jeng dulu ke kota tempat saya dibesarkan itu. Itung-itung mengobati rasa kangen saya terhadap makanan khas Solo yang ngangenin itu. <img src='http://jengjeng.matriphe.com/smilies/yahoo_drool.gif' alt='&#61;&#112;&#126;' class='wp-smiley' width='18' height='18' title='&#61;&#112;&#126;' /></p>
<p><span id="more-13"></span>Berangkat dari Jogja yang saat itu dihiasi mendung menggantung di awan pada pukul 4 kurang sekian. Setelah saya dijemput menggunakan mobil (berasa seperti orang penting) akhirnya tim pun meluncur.</p>
<p>Di dalam mobil, selain ada sang sarjana&trade;, Abe, ada juga si Abud. Nah untuk melengkapi supaya menjadi trio AAA seperti ukuran batere, saya pun menjelma menjadi Amroni.. <img src='http://jengjeng.matriphe.com/smilies/yahoo_laughloud.gif' alt='&#58;&#41;&#41;' class='wp-smiley' width='18' height='18' title='&#58;&#41;&#41;' /></p>
<p>Saya merasa nyaman sekali naek mobil. La biasanya saya kalo bolak-balik Solo-Jogja pake motor Kaze-R kesayangan saya itu. La gimana lagi, motor itu telah menorehkan kenangan indah selama saya menyusuri jalan Jogja-Solo yang mulus dan lebar itu. Bahkan saking cintanya, saya dan si Kaze pernah rela nyungsep demi mencium wajah jalan aspal mulus itu 2 kali.. <img src='http://jengjeng.matriphe.com/smilies/yahoo_laughloud.gif' alt='&#58;&#41;&#41;' class='wp-smiley' width='18' height='18' title='&#58;&#41;&#41;' /></p>
<p>Oke deh, lanjut. Memasuki Klaten, hujan semakin menggila. Mendung berawan putih semakin meyakinkan bahwa hujan seperti ini akan lama. Tapi tenang saja, kan kita naik mobil. Cuma sayang, ada yang kurang rasanya di dalam mobil itu.</p>
<p>La kurang apa to? Wong sudah dikasih tumpangan mobil enak, ndak kehujanan, kok masih cerewet kakean cangkem? Ha setau saya, di mobil itu ada pramugarinya, je. La ini mana pramugarinya? Woo.. Dasar mobil jadul!</p>
<p>Sampe di Solo sekitar jam 5-an. Begitu tiba langsung <em>njujug</em> ke Hotel Comfort tak jauh dari Solo Grand Mall. Si Abe Sang Sarjana&trade; dibiarkan kelayapan masuk ke dalam hotel <strike>sambil tak lupa membawa bekal karet pelindung</strike> sedangkan saya dan Abud <em>cancut taliwanda</em> menuju ke <acronym title="Solo Grand Mall">SGM</acronym> buat numpang pipis. Itung-itung pengalaman pernah pipis di mall. <img src='http://jengjeng.matriphe.com/smilies/yahoo_laughloud.gif' alt='&#58;&#41;&#41;' class='wp-smiley' width='18' height='18' title='&#58;&#41;&#41;' /></p>
<p>Ha belom sempet nemu itu toilet (maklum, ndeso, bingung kalo masuk mall) dan baru saja nanya ke petugas cleaning service di situ, si Abe sudah tulat-tulit nge-SMS kalo tempat pertemuan pindah ke Hotel Novotel. Blaik! Terpaksa saya menahan <acronym title="Hasrat Ingin Vivis">HIV</acronym> yang sudah mintip-mintip itu.</p>
<p>Sampe di Novotel, dengan lagak dan gaya sok <em>petita-petiti</em>, saya masuk ke lobi hotel daannn&#8230; Ngibrit ke toiletnya!! <img src='http://jengjeng.matriphe.com/smilies/yahoo_laughloud.gif' alt='&#58;&#41;&#41;' class='wp-smiley' width='18' height='18' title='&#58;&#41;&#41;' /></p>
<p>Masuk toilet di hotel, sempat membuat saya bingung. Bahkan saya berkali-kali memastikan apakah benar ruang yang saya masuki itu bener-bener toliet. La gimana ndak bingung, masak ruangan yang dibilang <em>we-se</em> itu bersih dan wanginya melebihi kamar kosan saya. Tembok dan dindingnya dilapisi keramik marmer (atau marmer-marmeran). Baunya wangi, luasnya hampir sama kayak kamar kosan saya, ada <em>spiker</em> yang melantunkan lagu-lagi klasik, dan ada seonggok vas berisi bunga anggrek (sayangnya bukan bunga kampus) putih di ujung meja wastafel.</p>
<p>Saya sempat terlena dan lupa akan tujuan saya masuk ke ruangan ini. Tetapi setelah melihat kloset duduk ngawe-awe di situ, membuat saya kembali tersadar. Dengan lagak sok nggaya saya masuk ke ruangan itu. Dengan gagah berani saya melakukan hajat saya. Setelah selesai, saya kembali bingung..</p>
<p>Loh, ini ciduknya mana? Yang ada kok cuma kertas tisu gulungan. Tak lama saya bengong, saya melihat semacam selang dengan semacam penyemprot di ujungnya. &#8220;Apa pake ini, ya?&#8221;, pikir saya sok tau. Dan akhirnya, *sensor* <img src='http://jengjeng.matriphe.com/smilies/yahoo_sweating.gif' alt='&#35;&#58;&#45;&#83;' class='wp-smiley' width='34' height='18' title='&#35;&#58;&#45;&#83;' /></p>
<p>Wis ah. Daripada nungguin si Abe yang lagi digarap sama orang HRD (yang ternyata cewek cakep), <img src='http://jengjeng.matriphe.com/smilies/yahoo_drool.gif' alt='&#61;&#112;&#126;' class='wp-smiley' width='18' height='18' title='&#61;&#112;&#126;' /> saya dan Abud pun memutuskan untuk jeng-jeng sendiri saja. We la kok sampe di tempat parkir, saya lupa minta karcis parkirnya. Guoblok! Akhirnya saya dan Abud ndak jadi jeng-jeng dan cuma <acronym title="tenguk-tenguk (sambil ber-)crita">teng-teng-crit</acronym> di dalam mobil. <img src='http://jengjeng.matriphe.com/smilies/yahoo_cry.gif' alt='&#58;&#40;&#40;' class='wp-smiley' width='22' height='18' title='&#58;&#40;&#40;' /></p>
<p>Haseng. Lama banget si Abe digarap sama ibu, eh mbak HRD-nya. <img src='http://jengjeng.matriphe.com/smilies/yahoo_laughloud.gif' alt='&#58;&#41;&#41;' class='wp-smiley' width='18' height='18' title='&#58;&#41;&#41;' /> Saya sampe nglangut dan perut sudah mengaum tanda cacing perut minta jatah. Dan sukur <em>ngalhamdulillah</em>, si Abe segera datang. <img src='http://jengjeng.matriphe.com/smilies/yahoo_laughloud.gif' alt='&#58;&#41;&#41;' class='wp-smiley' width='18' height='18' title='&#58;&#41;&#41;' /> Saatnya the real jeng-jeng dimulai!! &gt;<img src='http://jengjeng.matriphe.com/smilies/yahoo_smiley.gif' alt='&#58;&#41;' class='wp-smiley' width='18' height='18' title='&#58;&#41;' /></p>
<p>Selepas maghrib, tongkat kemudi (emang kemudi pake tongkat?) mobil diserahkan kepada saya. Gugup dan bingung langsung menghampiri. Maklum, seumur-umur saya ndak pernah nyetir mobil, paling kalo ndak truck sampah ya gerobak sapi. <img src='http://jengjeng.matriphe.com/smilies/yahoo_laughloud.gif' alt='&#58;&#41;&#41;' class='wp-smiley' width='18' height='18' title='&#58;&#41;&#41;' /></p>
<p>Ha tapi nafsu sombong saya mengalahkan logika. Dengan beringas saya kemudikan itu mobil untuk jeng-jeng keliling-keliling Solo. Dari Novotel langsung menuju Pura Mangkunegaran terus bablas ke arah Keprabon. Di sini kami akan menikmati hangatnya Nasi Liwet khas Solo itu.</p>
<p>Nasi Liwet Wongso Lemu, demikian banyak warung nasi liwet mengklaim warungnya sebagai warung nasi yang legendaris itu. Karena biasanya saya kalo beli nasi liwet di dekat rumah, yang harganya juga murah, saya sedikit bingung untuk memilih warung nasi liwet yang enak. Akhirnya kami pun milih salah satu warung di situ.</p>
<p>Kami memesan 3 porsi nasi liwet komplit. Mohon maaf sekali ndak ada skrinsut. <img src='http://jengjeng.matriphe.com/smilies/yahoo_worship.gif' alt='&#94;&#58;&#41;&#94;' class='wp-smiley' width='32' height='18' title='&#94;&#58;&#41;&#94;' /> Isinya tentu saja nasi gurih (semacam nasi uduk) ditambah sayur <strike>rebung</strike> labu siyam yang ditambahkan suiran daging ayam dan paha ayam kampung beserta telurnya. <img src='http://jengjeng.matriphe.com/smilies/yahoo_drool.gif' alt='&#61;&#112;&#126;' class='wp-smiley' width='18' height='18' title='&#61;&#112;&#126;' /> Ciri khas lainnya, nasi liwet itu dikemas pake daun pisang alias dipincuk.</p>
<p>Nuansa yang asyik di tempat ini adalah para pengamennya. Para pengamen di sini ini terdiri dari beberapa orang bapak-ibu dengan berpakaian beskap dan kebaya Jawa. Sang ibu menyanyikan tembang Jawa, semacam nyinden, sedangkan bapak-bapaknya memetik siter, sebuah alat musik petik.</p>
<p>Nasi liwet paling enak dimakan hangat-hangat dan ditemani oleh krupuk rambak. Krupuk rambak adalah krupuk yang terbuat dari kulit sapi yang dipompa hingga menggembung. Kemudian kulit ini digoreng sampai garing dan kalo makan krupuk ini dijamin seret! <img src='http://jengjeng.matriphe.com/smilies/yahoo_bigsmile.gif' alt='&#58;&#68;' class='wp-smiley' width='18' height='18' title='&#58;&#68;' /> Jadi, siapkan minuman untuk menghilangkan seret akibat makan krupuk ini.</p>
<p>Setelah kenyang, saatnya membayar (ya iya lah!). Pak Boss Abe pun segera turun tangan. Huaseng! Satu porsi nasi liwet di sini harganya 10 rebu! <img src='http://jengjeng.matriphe.com/smilies/yahoo_ooooh.gif' alt='&#58;&#45;&#79;' class='wp-smiley' width='18' height='18' title='&#58;&#45;&#79;' /> Padahal kalo di tempat saya paling cuma 2-3 rebu. Tapi bukanya pagi hari. Saya jadi inget gudeg di Wijilan, Jogja itu, yang satu porsi harganya 40 rebu! <img src='http://jengjeng.matriphe.com/smilies/yahoo_laughloud.gif' alt='&#58;&#41;&#41;' class='wp-smiley' width='18' height='18' title='&#58;&#41;&#41;' /> Beda tempat, bisa beda harga! <img src='http://jengjeng.matriphe.com/smilies/yahoo_bigsmile.gif' alt='&#58;&#68;' class='wp-smiley' width='18' height='18' title='&#58;&#68;' /></p>
<p>Saya pun menantang untuk merasakan Wedang Dongo. Bukan, bukan wedang yang bikin goblok itu, tetapi wedang khas hangat berbahan dasar air jahe. Rasanya? <img src='http://jengjeng.matriphe.com/smilies/yahoo_drool.gif' alt='&#61;&#112;&#126;' class='wp-smiley' width='18' height='18' title='&#61;&#112;&#126;' /></p>
<p>Abe pun menyanggupi tantangan saya, tetapi sayang sekali, warung tempat penjual wedang itu tutup. <img src='http://jengjeng.matriphe.com/smilies/yahoo_sad.gif' alt='&#58;&#40;' class='wp-smiley' width='18' height='18' title='&#58;&#40;' /> Ya sudah, mungkin lain kali saja, sehingga skrinsutnya bisa disertakan.. <img src='http://jengjeng.matriphe.com/smilies/yahoo_bigsmile.gif' alt='&#58;&#68;' class='wp-smiley' width='18' height='18' title='&#58;&#68;' /></p>
<p>Ayo, siapa yang mau dolan ke Solo? Saya pandu wis, tapi ya itu. Makan dan transportasi ditanggung turis. <img src='http://jengjeng.matriphe.com/smilies/yahoo_laughloud.gif' alt='&#58;&#41;&#41;' class='wp-smiley' width='18' height='18' title='&#58;&#41;&#41;' /></p>
<p>Setelah itu, kami pun jeng-jeng keliling kota. Kalo dibandingkan dengan Jogja, Solo jauh lebih rapi, nyaman, dan sepi. Perlahan, mobil pun saya lewatkan alun-alun, lalu menuju ke Kraton. Menerobos perkampungan di dalam benteng kraton, kemudian keluar menuju Pasar Klewer. Sepi.</p>
<p>Saya kembali menantang untuk merasakan sate puyuh dan susu segar. Abe menyanggupi, dan mobil langsung menuju ke <acronym title="Hidangan Istimewa Kampung, semacam angkringan"></acronym> Kodim. Di situ kami duduk-duduk lesehan dan menikmati malam sambil bercerita.</p>
<p>Malam pun semakin merangkak. Jam menunjukkan pukul 9, tetapi satu tantangan belum terpenuhi. Segera kami meluncur ke warung susu segar SHI-JACK pusat. Karena demi mengejar nonton tayangan Empat Mata di Trans7, kami cuma memesan Susu Telor Madu dan Susu Jahe untuk kemudian dibawa pulang.</p>
<p>Susu segar di sini memang beda rasanya. Selain benar-benar diambil dari Boyolali, kota penghasil susu itu, menu yang ditawarkan juga bervariasi. Ada Susu Madu di mana madunya adalah madu kelengkeng. Susu Jahe, Susu Telor Madu Jahe, dan pokoknya banyak dah! Berbagai macam jajanan berkolesterol juga ada di sini. Pokoke komplit!</p>
<p>Setelah target kuliner yang sebenernya adalah panduan hawa nafsu kerinduan saya akan makanan Solo itu, mobil langsung saya geber menuju Jogja dengan menyempatkan diri melewati Dalem Kalitan, rumah Ibu Tien Soeharto itu.</p>
<p>Jam setengah 11 kami sampai di Jogja dan kemudian menyempatkan diri nonton Empat Mata yang makin lama saya rasa makin ndak lucu dan membosankan itu.</p>
<p>Perjalanan malam itu akhirnya selesai. Dan saya langsung tepar! <img src='http://jengjeng.matriphe.com/smilies/yahoo_sleep.gif' alt='&#73;&#45;&#41;' class='wp-smiley' width='21' height='18' title='&#73;&#45;&#41;' /></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://jengjeng.matriphe.com/cerita-semalam-di-solo.html/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>11</slash:comments>
		</item>
	</channel>
</rss>

