<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>jengjeng matriphe! &#187; soto</title>
	<atom:link href="http://jengjeng.matriphe.com/tag/soto/feed" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://jengjeng.matriphe.com</link>
	<description>pengen jalan-jalan, makan-makan, dan lain-lain</description>
	<lastBuildDate>Tue, 02 Aug 2011 11:41:49 +0000</lastBuildDate>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<generator>http://wordpress.org/?v=3.2.1</generator>
	<atom:link rel='hub' href='http://jengjeng.matriphe.com/?pushpress=hub'/>
		<item>
		<title>Soto Kuning Bogor</title>
		<link>http://jengjeng.matriphe.com/soto-kuning-bogor.html</link>
		<comments>http://jengjeng.matriphe.com/soto-kuning-bogor.html#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 04 Jun 2008 01:48:23 +0000</pubDate>
		<dc:creator>matriphe</dc:creator>
				<category><![CDATA[Kuliner]]></category>
		<category><![CDATA[Bogor]]></category>
		<category><![CDATA[soto]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://jengjeng.matriphe.com/index.php/2008/06/04/soto-kuning-bogor.html</guid>
		<description><![CDATA[Ketika jeng-jeng ke Bogor beberapa waktu yang lalu, saya sempat mencicipi soto khas Bogor, yaitu Soto Kuning Bogor. Sebenernya di Bogor sendiri ada 2 gagrak soto, yaitu soto kuning dan soto bening. Kedua soto ini mengikuti pola dasar persotoan, yaitu soto bersantan dan soto ndak bersantan. Kali ini saya mencoba Soto Kuning yang dijual di [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><img src="http://jengjeng.matriphe.com/wp-content/uploads/2008/06/soto-kuning-bogor1.jpg" alt="Soto Kuning Bogor" title="Soto Kuning Bogor" width="350" height="263" class="alignnone size-full wp-image-1168" /></p>
<p>Ketika <a href="http://jengjeng.matriphe.com/index.php/2008/06/02/jeng-jeng-cibujang-bogor.html" title="Jeng-Jeng Cibujang Bogor" target="_blank">jeng-jeng ke Bogor</a> beberapa waktu yang lalu, saya sempat mencicipi soto khas Bogor, yaitu Soto Kuning Bogor.</p>
<p>Sebenernya di Bogor sendiri ada 2 gagrak soto, yaitu soto kuning dan soto bening. Kedua soto ini mengikuti pola dasar persotoan, yaitu soto bersantan dan soto ndak bersantan.</p>
<p><span id="more-716"></span>Kali ini saya mencoba Soto Kuning yang dijual di seputaran Jalan Surya Kencana, tepatnya di dekat perempatan Gang Aut dan Gang Roda, pada pagi hari menjelang siang.</p>
<p>Penjual soto ini menggunakan gerobak dorong, berada di trotoar ala kaki lima. Sebelum soto disajikan, kita dipersilakan memilih sendiri isi dari soto kita. Kebanyakan adalah jeroan semacam babat dan kikil. Ada juga perkedel kentang bila suka.</p>
<p>Setelah isi tersebut kita pilih, daging yang berwarna kuning karena sebelumnya direbus ke dalam kuah soto yang juga berwarna kuning ini kemudian dipotong-potong dan diguyur kuah panas lalu ditaburi potongan seledri dan bawang goreng. Yang namanya soto, tak lengkap rasanya kalo belum dikucuri perasan jeruk nipis.</p>
<p>Soto terhidang di meja. Baunya sudah ngawe-awe seakan menantang untuk disantap. Seperti biasa, saya mencicip dulu kuah soto sebagai basis penilaian suatu soto.</p>
<p>Slurrpp.. Hm.. Santan kental yang warna kuningnya berasal dari kunyit begitu sedap. Saya merasakan sedikit rasa minyak samin di sana. Pada beberapa versi, soto ini ada yang menggunakan susu sebagai pengganti santan atau memadukan keduanya. Uniknya, walau menggunakan santan, rasanya ndak eneg. Mungkin karena perasan jeruk nipis yang mampu memberikan rasa segar.</p>
<p>Saya pun mulai mencoba isi soto. Potongan-potongan daging tersebut ternyata sangat lunak dan empuk. Bila biasanya daging babat atau kikil itu terasa alot, di soto ini mitos tersebut terpatahkan.</p>
<p>Nasi putih hangat yang disajikan dengan dibungkus daun pisang berbentuk segitiga memberi kesan unik. Bau nasi hangat yang harum berpadu dengan bau daun pisang yang menyegarkan begitu menggugah selera. Makan nasi soto beralaskan daun pisang memang memberikan sensasi rasa tersendiri.</p>
<p><img src='http://jengjeng.matriphe.com/wp-content/uploads/2008/06/soto-kuning-nasi.jpg' alt='Soto Kuning plus nasi' /></p>
<p>Penjual soto ini mudah ditemui di seantero Bogor. Penasaran? Mungkin <a href="http://nonadita.com/" title="Nona Dita" target="_blank">nona manis berlirikan mata dahsyat</a> ini bisa mengajak anda menjelajah eksotisme kuliner Kerajaan Sillymangi tersebut. <img src='http://jengjeng.matriphe.com/smilies/yahoo_giggle.gif' alt='&#59;&#41;&#41;' class='wp-smiley' width='18' height='18' title='&#59;&#41;&#41;' /></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://jengjeng.matriphe.com/soto-kuning-bogor.html/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>38</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Soto Djiancuk, Soto Uenak ala Jawa Timur</title>
		<link>http://jengjeng.matriphe.com/soto-djiancuk-soto-uenak-ala-jawa-timur.html</link>
		<comments>http://jengjeng.matriphe.com/soto-djiancuk-soto-uenak-ala-jawa-timur.html#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 26 Apr 2008 05:51:58 +0000</pubDate>
		<dc:creator>matriphe</dc:creator>
				<category><![CDATA[Kuliner]]></category>
		<category><![CDATA[soto]]></category>
		<category><![CDATA[Yogyakarta]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://jengjeng.matriphe.com/index.php/2008/04/26/soto-djiancuk-soto-uenak-ala-jawa-timur.html</guid>
		<description><![CDATA[Kata &#8220;djiancuk&#8221; atau lebih sering diucapkan &#8220;jancuk&#8221; saja, bagi sebagian orang, terutama orang Jawa Timur, mempunyai arti yang kasar dan bisa ngajak perang. Namun di Jogja, kata &#8220;djiancuk&#8221; ini justru dijadikan branding oleh sebuah warung soto yang unik, yang mengklaim merupakan warung yang pertama dan satu-satunya di Jogja yang menyediakan menu soto ala Jawa Timur, [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><img src="http://jengjeng.matriphe.com/wp-content/uploads/2008/04/soto-djiancuk1.jpg" alt="Soto Djiancuk" title="Soto Djiancuk" width="350" height="263" class="alignnone size-full wp-image-1177" /></p>
<p>Kata &#8220;djiancuk&#8221; atau lebih sering diucapkan &#8220;jancuk&#8221; saja, bagi sebagian orang, terutama orang Jawa Timur, mempunyai arti yang kasar dan bisa ngajak perang.</p>
<p>Namun di Jogja, kata &#8220;djiancuk&#8221; ini justru dijadikan branding oleh sebuah warung soto yang unik, yang mengklaim merupakan warung yang pertama dan satu-satunya di Jogja yang menyediakan menu soto ala Jawa Timur, terutama dari kota Blitar.</p>
<p><span id="more-684"></span>Entah apa alasan dipilihnya kata ini. Mungkin ini merupakan ungkapan ekspresi ketika kita merasakan sesuatu yang luar biasa enak, hingga yang muncul ndak lagi pujian namun makian.</p>
<p>&#8220;Jiancuk..!! Uenak e, rek!!&#8221; <img src='http://jengjeng.matriphe.com/smilies/yahoo_giggle.gif' alt='&#59;&#41;&#41;' class='wp-smiley' width='18' height='18' title='&#59;&#41;&#41;' /></p>
<p>Selain namanya, rupanya warung soto yang terletak di tepi Rawa Kalibayem, Sonopakis, Jogja ini mempunyai beberapa keunikan.</p>
<p>Kami pun memesan menu andalan warung ini, yaitu tentu saja, soto. Melihat dari &#8220;angkring&#8221; tempat meracik soto, langsung mengingatkan saya akan nuansa Madura.</p>
<p>Sambil menunggu soto kami dibuat, saya pun memandangi dengan seksama keadaan sekeliling warung ini.</p>
<p><img src='http://jengjeng.matriphe.com/wp-content/uploads/2008/04/suasana.jpg' alt='Suasana Warung Soto Djiancuk' /></p>
<p>Tembok bangunan sengaja ndak disemen untuk memperlihatkan motif batu bata dan semen. Banyak lukisan terpampang di dinding yang sekilas seperti hanya guratan surealis, namun bila diamati ternyata lukisan ini banyak mengangkat tema-tema seksualitas dan erotisme.</p>
<p>Beberapa gambar Pak Karno juga terpampang di tembok, menunjukkan bahwa si pemilik warung begitu mengagumi sosok mantan presiden pertama itu.</p>
<p>Di luar ada beberapa lincak yang langsung mepet ke sawah, sehingga kita bisa menikmati soto sambil menikmati suasana rawa Kalibayem yang menyejukkan dengan leluasa.</p>
<p><img src='http://jengjeng.matriphe.com/wp-content/uploads/2008/04/botol-kecap.jpg' alt='Botol kecap unik' class="alignright" /></p>
<p>Kami pun memilih duduk di dalam. Pandangan saya langsung tertuju pada sebentuk botol keramik aneh yang lucu. Oh, rupanya botol bertuliskan huruf-huruf kanji yang berbentuk seperti wadah tuak dalam film Cina klasik &#8220;Drunken Master&#8221; ini adalah botol kecap!</p>
<p>Ndak sengaja kaki saya menendang bagian dasar meja. Wow! Setelah diamati, rupanya meja bundar besar di hadapan saya ini adalah kayu bekas tempat gulungan kabel telepon itu!</p>
<p>Pantas saja saya menemukan beberapa tulisan berupa kode angka pada permukaan meja dan sebuah lubang pada tengah-tengah meja.</p>
<p>Beberapa meja rupanya juga dibuat dari bekas tempat gulungan kabel, namun berukuran lebih kecil. Sungguh ide yang nyentrik.</p>
<p>Tiba-tiba kami dikagetkan oleh suara gemerincing. Ternyata ibu berparas Madura yang kental sedang menuangkan kecap ke dalam soto pesanan kami.</p>
<p>Botol kecap rupanya diikat dengan tali yang digantungi beberapa lonceng kecil, sehingga ketika botol kecap diangkat maka lonceng-lonceng tersebut akan berbunyi.</p>
<p>Akhirnya soto pesanan kami datang. Saya sempat terkejut, kok penyajiannya menggunakan mangkok mungil seperti pada Soto Kudus?</p>
<p>Awalnya saya mengira soto ini adalah Soto Madura, melihat dari bentuk angkringnya. Namun soto ini beda dengan Soto Madura yang pernah saya coba.</p>
<p>Menurut informasi yang saya ketahui, soto ini adalah soto ala Blitar. Namun karena saya belum pernah nyobain Soto Blitar, saya ndak berani memastikan.</p>
<p>Komposisi soto pun mirip dengan Soto Madura yaitu pada daging sapi, namun kuahnya ndak berwarna kuning. Potongan telur, irisan kentang goreng, dan kuah yang bening-coklat mengingatkan saya pada Soto Banjar.</p>
<p>Mencicipi kuahnya, rasa merica langsung nendang di tenggorokan. Benar dugaan saya. Saya kok merasakan perpaduan antara Soto Madura dan Soto Banjar pada soto ini.</p>
<p>Yang lucu, pada soto ini terdapat tauge, yang lebih sering ditemukan pada soto-soto ala Jawa Tengah.</p>
<p><img src='http://jengjeng.matriphe.com/wp-content/uploads/2008/04/hidangan-soto-djiancuk.jpg' alt='Hidangan Soto Djiancuk' /></p>
<p>Secara keseluruhan, soto ini patoet ditjoebaken. Walau dengan porsi seuprit begini, harganya kok saya rasa terlalu mahal. Total kerusakan yang ditimbulkan setelah memesan 3 porsi soto plus 2 minum dan sebiji perkedel dihargai 21 ribu rupiah.</p>
<p>Namun secara suasana, warung soto unik ini patut dikunjungi. Banyak benda-benda etnik dan unik dapat ditemukan di sini. Pokoke jan klasik banget dan nyeni.</p>
<p>Berikut saya sertakan peta untuk menuju ke sana.</p>
<p><img src='http://jengjeng.matriphe.com/wp-content/uploads/2008/04/peta-soto-djiancuk.jpg' alt='Peta Soto Djiancuk' /></p>
<p>Selamat mencoba!</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://jengjeng.matriphe.com/soto-djiancuk-soto-uenak-ala-jawa-timur.html/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>60</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Nyobain Soto Betawi</title>
		<link>http://jengjeng.matriphe.com/nyobain-soto-betawi.html</link>
		<comments>http://jengjeng.matriphe.com/nyobain-soto-betawi.html#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 17 Dec 2007 08:49:07 +0000</pubDate>
		<dc:creator>matriphe</dc:creator>
				<category><![CDATA[Kuliner]]></category>
		<category><![CDATA[Jakarta]]></category>
		<category><![CDATA[soto]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://jengjeng.matriphe.com/index.php/2007/12/17/nyobain-soto-betawi.html</guid>
		<description><![CDATA[Pas guwa ke Jakarta beberapa waktu yang lalu, guwa sempet nyobain nyang namenye kulineran Jakarte. Salah satunya adalah Soto Betawi. Padahal nyang namanya jalan-jalan, belon lengkap kalo kagak makan-makan. Bener, kagak tuh? Ah, ndak enak ngomong gaya Jakarta. Lidah Jawa medok gini ndadak nggaya, sok-sokan, kemlinthi, pake bahasa Jakarte. Pake lu-guwa lu-guwa segala.. Guwajingan, lu! [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><img src="http://jengjeng.matriphe.com/wp-content/uploads/2007/12/soto-betawi1.jpg" alt="Soto Betawi" title="Soto Betawi" width="350" height="263" class="alignnone size-full wp-image-1219" /></p>
<p>Pas guwa <a href="http://jengjeng.matriphe.com/index.php/2007/12/14/jeng-jeng-jakarta.html" title="Jeng-Jeng Jakarta">ke Jakarta</a> beberapa waktu yang lalu, guwa sempet nyobain nyang namenye kulineran Jakarte. Salah satunya adalah Soto Betawi.</p>
<p>Padahal nyang namanya jalan-jalan, belon lengkap kalo kagak makan-makan. Bener, kagak tuh? <img src='http://jengjeng.matriphe.com/smilies/yahoo_laughloud.gif' alt='&#58;&#41;&#41;' class='wp-smiley' width='18' height='18' title='&#58;&#41;&#41;' /></p>
<p>Ah, ndak enak ngomong gaya Jakarta. Lidah Jawa medok gini ndadak nggaya, sok-sokan, kemlinthi, pake bahasa Jakarte.</p>
<p>Pake lu-guwa lu-guwa segala.. Guwajingan, lu! <img src='http://jengjeng.matriphe.com/smilies/yahoo_rotfl.gif' alt='&#61;&#41;&#41;' class='wp-smiley' width='30' height='18' title='&#61;&#41;&#41;' /></p>
<p>Wis, biasa aja. <img src='http://jengjeng.matriphe.com/smilies/yahoo_laughloud.gif' alt='&#58;&#41;&#41;' class='wp-smiley' width='18' height='18' title='&#58;&#41;&#41;' /></p>
<p><span id="more-506"></span>Soal soto, Indonesia memang punya banyak banget jenis soto. Klasifikasinya pun, berbeda-beda. Ada soto yang diklasifikasikan berdasarkan lokasi, macam Soto Banjar, Soto Betawi, Soto Madura, Soto Kudus, Soto Bogor, Soto Padang, dan mungkin tiap daerah di Indonesia punya sotonya sendiri. <img src='http://jengjeng.matriphe.com/smilies/yahoo_giggle.gif' alt='&#59;&#41;&#41;' class='wp-smiley' width='18' height='18' title='&#59;&#41;&#41;' /></p>
<p>Belom lagi soto yang dibedakan berdasarkan pada konten sotonya. Ada soto ayam, soto sapi, soto kambing, soto babat, soto kebo, soto kikil, dan bisa jadi ada soto babi. <img src='http://jengjeng.matriphe.com/smilies/yahoo_giggle.gif' alt='&#59;&#41;&#41;' class='wp-smiley' width='18' height='18' title='&#59;&#41;&#41;' /></p>
<p>Dari gagraknya pun, ada 2 jenis pula. Gagrak soto bening yang kuahnya bening berbahan dasar kaldu dan gagrak soto berkuah keruh yang kuahnya menggunakan santan.</p>
<p>Dalam perkembangannya, soto pun juga banyak yang termodifikasi. Soto, Sroto, Saoto, hingga Cotto pun merupakan modifikasi dari soto, baik penamaan maupun bentuk fisiknya.</p>
<p>Ada pula Timlo dan Empal Gentong bisa juga dimasukkan dalam keluarga soto (atau sop?). <img src='http://jengjeng.matriphe.com/smilies/yahoo_giggle.gif' alt='&#59;&#41;&#41;' class='wp-smiley' width='18' height='18' title='&#59;&#41;&#41;' /></p>
<p>Gagrak soto bening memang sering rancu dengan sop. La emang ndak ada standar baku mana yang bisa dibilang soto dan mana yang bisa dibilang sop, bukan? <img src='http://jengjeng.matriphe.com/smilies/yahoo_giggle.gif' alt='&#59;&#41;&#41;' class='wp-smiley' width='18' height='18' title='&#59;&#41;&#41;' /></p>
<p>Hayah, mau ngomongin soto sejenis aja muter-muter dulu penjelasannya. <img src='http://jengjeng.matriphe.com/smilies/yahoo_laughloud.gif' alt='&#58;&#41;&#41;' class='wp-smiley' width='18' height='18' title='&#58;&#41;&#41;' /></p>
<p>Nah, Soto Betawi yang mo saya icipi ini, termasuk gagrak soto keruh, karena menggunakan santan sebagai kuah dasarnya.</p>
<p>Soto Betawi yang saya icipi ini juga unik. Kok bisa?</p>
<p>Saya sendiri ndak tau persis, versi Soto Betawi yang original itu kek mana. Tapi menurut informasi yang saya terima, Soto Betawi itu pake daging sapi dan jeroannya. Lah, soto yang saya icipi ini justru menggunakan daging ayam. <img src='http://jengjeng.matriphe.com/smilies/yahoo_bigsmile.gif' alt='&#58;&#68;' class='wp-smiley' width='18' height='18' title='&#58;&#68;' /></p>
<p>Tapi apa pun kontennya, kekuatan dan ciri khas soto justru terletak pada kuahnya. Bahkan bisa jadi sama-sama Soto Betawi, tapi kalo rasa kuahnya beda, rasanya bisa beda. <img src='http://jengjeng.matriphe.com/smilies/yahoo_bigsmile.gif' alt='&#58;&#68;' class='wp-smiley' width='18' height='18' title='&#58;&#68;' /></p>
<p>Begitu soto terhidang, tentunya bagian yang saya icipi pertama kali adalah kuahnya.</p>
<p>Sluurrpp&#8230; <img src='http://jengjeng.matriphe.com/smilies/yahoo_think.gif' alt='&#58;&#45;&#63;' class='wp-smiley' width='18' height='18' title='&#58;&#45;&#63;' /></p>
<p>Secara sekilas, rasanya mirip-mirip kuah opor ayam. La, apa jangan-jangan ini memang opor ayam? <img src='http://jengjeng.matriphe.com/smilies/yahoo_laughloud.gif' alt='&#58;&#41;&#41;' class='wp-smiley' width='18' height='18' title='&#58;&#41;&#41;' /></p>
<p>Tapi kalo dibilang opor kok ya kurang pas menurut saya. Kuah soto ini lebih encer daripada opor, meski sama-sama menggunakan santan. Sebenernya untuk lebih menyotokan, kita bisa menambahkan air perasan jeruk nipis. <img src='http://jengjeng.matriphe.com/smilies/yahoo_giggle.gif' alt='&#59;&#41;&#41;' class='wp-smiley' width='18' height='18' title='&#59;&#41;&#41;' /></p>
<p>Kontennya, suiran daging ayam, potongan tomat, potongan <acronym title="kentangnya ndak dihancurkan, tapi utuh">perkedel kentang</acronym>, <acronym title="mi putih halus mirip bihun, tapi lebih liat">su&#8217;un</acronym>, dan sebagai topping adalah taburan bawang goreng. <img src='http://jengjeng.matriphe.com/smilies/yahoo_drool.gif' alt='&#61;&#112;&#126;' class='wp-smiley' width='18' height='18' title='&#61;&#112;&#126;' /></p>
<p>Cara makan sotonya pun beda. Kalo di Jawa, biasanya nasi itu jadi satu dengan mangkuk sotonya. Sedangkan di sini, nasi dipisah dalam piring sendiri.</p>
<p>Bagi sebagian orang, lebih enak kalo nasi yang di piring itu dicemplungkan langsung ke dalam mangkuk soto, namun sebagian yang lain menganggap cara ini jorok. <img src='http://jengjeng.matriphe.com/smilies/yahoo_bigsmile.gif' alt='&#58;&#68;' class='wp-smiley' width='18' height='18' title='&#58;&#68;' /></p>
<p>Ada juga yang cara makannya dengan menyendoki kuah dan isi soto ke piring nasi satu per satu. Tentu bagi mereka yang bilang nasi nyemplung kuah adalah jorok.</p>
<p>Cara ini pun ada yang mencibir, &#8220;Kesuwen! Selak kaliren!&#8221; (Kelamaan! Keburu kelaparan!) <img src='http://jengjeng.matriphe.com/smilies/yahoo_laughloud.gif' alt='&#58;&#41;&#41;' class='wp-smiley' width='18' height='18' title='&#58;&#41;&#41;' /></p>
<p>La saya? Saya sih cuek saja. Nasi nyemplung soto atau kuah soto disendoki ke nasi, sama saja. <img src='http://jengjeng.matriphe.com/smilies/yahoo_laughloud.gif' alt='&#58;&#41;&#41;' class='wp-smiley' width='18' height='18' title='&#58;&#41;&#41;' /></p>
<p>Saya masih penasaran dengan kuah soto ini. Ada rasa cengkeh terasa di sana. Perasan jeruk nipis mampu sedikit mengubah rasa soto-opor bersantan ini ke arah lebih light. Berasa lebih nyoto!</p>
<p>Menurut saya, soto itu ciri khasnya ya perasan air jeruk nipis itu. Walau tentu ndak semua soto enak (dan bisa) dibegitukan. <img src='http://jengjeng.matriphe.com/smilies/yahoo_bigsmile.gif' alt='&#58;&#68;' class='wp-smiley' width='18' height='18' title='&#58;&#68;' /></p>
<p>Secara keseluruhan, soto ini &#8220;eco&#8221; menurut saya. Saya masih belum bisa membandingkan karena ini adalah pertama kalinya saya mencicipi. Itung-itung perkenalan, lah!</p>
<p>Tapi saya masih penasaran dengan soto yang versi originalnya, karena menurut feeling saya, Soto Betawi yang saya icipi ini bukanlah versi original. <img src='http://jengjeng.matriphe.com/smilies/yahoo_bigsmile.gif' alt='&#58;&#68;' class='wp-smiley' width='18' height='18' title='&#58;&#68;' /></p>
<p>Total kerusakan, cukup membuat shock. Semangkok soto plus nasi ini harus ditebus dengan duit sebesar 8 ribu rupiah. Teh hangat segelas yang menemani saya saat itu juga harus ditebus dengan duit sebesar 2 ribu rupiah. Mahal amat!! <img src='http://jengjeng.matriphe.com/smilies/yahoo_cry.gif' alt='&#58;&#40;&#40;' class='wp-smiley' width='22' height='18' title='&#58;&#40;&#40;' /></p>
<p>Oiya, soto ini saya dapat dari warung kaki lima pinggir jalan di daerah Kwitang.</p>
<p>Mungkin ada yang tau di mana dan bagaimana bentuk serta rasa Soto Betawi yang original?</p>
<p>Monggo sharing.. <img src='http://jengjeng.matriphe.com/smilies/yahoo_smiley.gif' alt='&#58;&#41;' class='wp-smiley' width='18' height='18' title='&#58;&#41;' /></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://jengjeng.matriphe.com/nyobain-soto-betawi.html/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>60</slash:comments>
		</item>
	</channel>
</rss>

