<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>jengjeng matriphe! &#187; Sunda Kelapa</title>
	<atom:link href="http://jengjeng.matriphe.com/tag/sunda-kelapa/feed" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://jengjeng.matriphe.com</link>
	<description>pengen jalan-jalan, makan-makan, dan lain-lain</description>
	<lastBuildDate>Tue, 02 Aug 2011 11:41:49 +0000</lastBuildDate>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<generator>http://wordpress.org/?v=3.2.1</generator>
	<atom:link rel='hub' href='http://jengjeng.matriphe.com/?pushpress=hub'/>
		<item>
		<title>Pelabuhan Sunda Kelapa, Cikal Bakal Jakarta</title>
		<link>http://jengjeng.matriphe.com/pelabuhan-sunda-kelapa-cikal-bakal-jakarta.html</link>
		<comments>http://jengjeng.matriphe.com/pelabuhan-sunda-kelapa-cikal-bakal-jakarta.html#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 28 Jul 2008 13:13:41 +0000</pubDate>
		<dc:creator>matriphe</dc:creator>
				<category><![CDATA[Destinasi]]></category>
		<category><![CDATA[Museum & Bangunan Bersejarah]]></category>
		<category><![CDATA[Jakarta]]></category>
		<category><![CDATA[Sunda Kelapa]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://jengjeng.matriphe.com/index.php/2008/07/28/pelabuhan-sunda-kelapa-cikal-bakal-jakarta.html</guid>
		<description><![CDATA[Berada di Pelabuhan Sunda Kelapa, mengamati aktivitas bongkar muat barang di sana, membuat saya menelaah kembali lirik lagu, &#8220;nenek moyangku orang pelaut..&#8221; Mungkin ndak banyak yang tahu, kalo di pelabuhan yang saya kunjungi tersebut merupakan cikal bakal lahirnya Jakarta. Yang menarik dari Jakarta adalah banyaknya situs-situs bersejarah, yang sayangnya kondisinya sangat banyak yang memprihatinkan. Menjelajahi [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><img src="http://jengjeng.matriphe.com/wp-content/uploads/2008/07/pelabuhan-sunda-kelapa1.jpg" alt="Pelabuhan Sunda Kelapa" title="Pelabuhan Sunda Kelapa" width="350" height="263" class="alignnone size-full wp-image-1152" /></p>
<p>Berada di Pelabuhan Sunda Kelapa, mengamati aktivitas bongkar muat barang di sana, membuat saya menelaah kembali lirik lagu, &#8220;nenek moyangku orang pelaut..&#8221;</p>
<p>Mungkin ndak banyak yang tahu, kalo di pelabuhan yang saya kunjungi tersebut merupakan cikal bakal lahirnya Jakarta.</p>
<p><span id="more-774"></span>Yang menarik dari Jakarta adalah banyaknya situs-situs bersejarah, yang sayangnya kondisinya sangat banyak yang memprihatinkan.</p>
<p>Menjelajahi situs-situs ini seolah membawa saya membaca kembali buku Sejarah, yang dulu pernah saya benci, namun dengan visualisasi dan sensasi yang menarik.</p>
<p>Salah satunya adalah Pelabuhan Sunda Kelapa, yang konon merupakan pelabuhan perdagangan terbesar setelah Malaka.</p>
<p>Pelabuhan ini pada abad ke-12 merupakan daerah kekuasaan Kerajaan Sunda, yang beribukota di Pakuan Pajajaran (yang kini menjadi Kota Bogor). Bahkan konon pelabuhan ini sudah ada sejak jaman Kerajaan Tarumanegara.</p>
<p>Menyaksikan kapal-kapal Phinisi dan kapal-kapal Bugis Schooner dengan bentuknya yang khas, meruncing pada salah satu ujungnya dan berwarna-warni pada badan kapal, membuat saya bisa membayangkan betapa ramai dan besarnya pelabuhan ini saat itu.</p>
<p>Kapal-kapal tersebut ditambatkan berjejer di kanal sepanjang 3 km. Bahkan di abad ke-17, konon kapal-kapal ini masih dapat melayari muara sungai Ciliwung.</p>
<p>Kemahsyuran pelabuhan milik Kerajaan Sunda ini membuat pelabuhan ramai dikunjungi oleh kapal-kapal dari Palembang, Tanjungpura, Malaka, Makassar, serta pedagang-pedagang dari India dan Tiongkok. Dari bandar ini lah merica, beras, porselen, kopi, sutra, kain, wangi-wangian, kuda, anggur, hingga emas diperdagangkan.</p>
<p>Seorang penjelajah asal Portugis, Tome Pires, yang mendarat di Sunda Kelapa sekitar tahun 1512-1515 menuliskan dalam dokumen, bahwa Pelabuhan Sunda Kelapa menjadi penyangga sejumlah pelabuhan di Nusantara seperti Sumatera, Palembang, Laue, Tanjungpura, Malaka, Makassar, dan Madura.</p>
<p>Pun demikian kesan yang saya tangkap ketika melihat aktivitas di pelabuhan ini. Kapal-kapal modern yang terletak di kanal sebelah timur, terlihat mengangkut berbagai komoditas &#8220;berat&#8221; yang hendak dibawa ke luar Jawa. Sedangkan kapal-kapal tradisional ditambatkan di kanal sebelah barat membawa komoditas yang &#8220;lebih ringan&#8221;.</p>
<p>Melihat aktivitas para kuli panggul membawa barang di pundaknya, kemudian meniti sebatang balok kayu yang ditopangkan miring ke badan kapal sebagai jembatan, merupakan pemandangan yang cukup menarik.</p>
<p><img src='http://jengjeng.matriphe.com/wp-content/uploads/2008/07/membawa-barang.jpg' alt='Membawa barang ke atas kapal' /></p>
<p>Saya hanya begidik ngeri dan urung mencoba meniti batang kayu ini setelah melihat laut yang ada di bawah. Kecemplung ke laut karena melakukan tindakan konyol tentu bukanlah hal yang bijaksana. <img src='http://jengjeng.matriphe.com/smilies/yahoo_bigsmile.gif' alt='&#58;&#68;' class='wp-smiley' width='18' height='18' title='&#58;&#68;' /></p>
<p>Kehidupan para anak buah kapal pun bisa kita lihat lebih dekat. Mulai dari mencuci pakaian, membersihkan kapal, memperbaiki jangkar, mengecat lambung kapal, semua bisa kita saksikan.</p>
<p>Saya tertegun ketika melihat sepasang suami-istri beserta anak-anaknya yang mendayung perahu mungil menelisip di antara badan-badan kapal yang besar. Hendak ke mana kah, mereka?</p>
<p><img src='http://jengjeng.matriphe.com/wp-content/uploads/2008/07/perahu-kecil.jpg' alt='Perahu mungil di antara kapal' /></p>
<p>Siapa kah yang menyangka, kalo dari pelabuhan inilah, Kota Batavia, cikal bakal Jakarta berawal.</p>
<p>Jatuhnya Malaka ke tangan Portugis melalui Alfonso d&#8217; Albuquerque tahun 1511 membawa lembaran sejarah baru.</p>
<p>Portugis membuat perjanjian dengan Kerajaan Pasundan yang memberikan hak bagi orang-orang Portugis membangun gudang dan benteng di kawasan ini. Sebagai imbalannya, Portugis akan membantu kerajaan Pasundan yang kala itu beragama Hindu melawan serangan dari Kerajaan Islam Demak.</p>
<p>Perjanjian ini kemudian ditulis di sebuah prasasti batu yang diberi nama Padrao. Prasasti Padrao ini dapat dilihat di Museum Nasional (Museum Gajah).</p>
<p>Serangan pasukan Kerajaan Demak yang dibantu Cirebon di bawah pimpinan Fatahillah untuk mengusir Portugis akhirnya berhasil merebut Sunda Kelapa.</p>
<p>Fatahillah pun akhirnya mengubah nama Sunda Kelapa menjadi &#8220;Jayakarta&#8221; yang berarti &#8220;kota kemenangan&#8221;, pada tanggal 22 Juni 1527. Tanggal inilah yang kemudian dipakai sebagai &#8220;tanggal lahir&#8221; kota Jakarta.</p>
<p>Akhir abad ke-16, Jan Pieterszoon Coen berhasil merebut Jayakarta. J.P. Coen kemudian membangun kota baru yang disebut dengan nama Batavia, yang diduga lokasinya adalah di situs Kota Tua sekarang.</p>
<p>Kapasitas Pelabuhan Sunda Kelapa yang tidak dapat menampung jumlah kapal yang masuk, membuat pemerintah Belanda membangun Pelabuhan Tanjung Priok.</p>
<p>Selain itu, pemerintah Belanda juga membangun jalur trem yang ditarik oleh kuda untuk membawa komoditas dari Tanjung Priok ke Batavia pada tahun 1869 dan jalan kereta api pertama antara Batavia-Buitenzorg (Bogor) pada tahun 1873.</p>
<p><img src='http://jengjeng.matriphe.com/wp-content/uploads/2008/07/bersepeda.jpg' alt='Bersepeda ke Sunda Kelapa' /></p>
<p>Sore itu kami mencoba menelusuri jalur kejayaan Batavia dan Sunda Kelapa. Menggunakan jasa ojek sepeda, kami menyusuri jalan dari situs Kota Tua ke Pelabuhan Sunda Kelapa.</p>
<p>Sore yang cerah, menawarkan pemandangan senja di pelabuhan, membuat kami termotivasi.</p>
<p>Jejak-jejak kejayaan Sunda Kelapa tidak dapat kami temukan lagi. Kasteel atau benteng Belanda yang dulu kokoh berdiri sudah tiada berbekas.</p>
<p>Ketika kami berkunjung, kami ndak sempat berkunjung ke Menara Syahbandar (Lookout Tower) yang dibangun pada tahun 1839. Mungkin lain kali?</p>
<p>Ah, rasanya Museum Bahari yang merupakan bekas Westzijdsche Pakhuizen (gudang rempah-rempah Belanda) akan menjadi destinasi saya selanjutnya.</p>
<p>Berawal dari Sunda Kelapa, Jayakarta, Batavia, terakhir sebutannya menjadi Jakarta. Berbagai peristiwa yang menjadi dasar perubahan nama-nama tersebut, membuat pelabuhan ini layak disebut sebagai Bandar Empat Zaman.</p>
<p>Selain memiliki nilai sejarah, pelabuhan ini juga mempunyai nilai ekonomi, sosial, dan budaya.</p>
<p>Akankah pelabuhan ini lekang ditelan zaman?</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://jengjeng.matriphe.com/pelabuhan-sunda-kelapa-cikal-bakal-jakarta.html/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>60</slash:comments>
		</item>
	</channel>
</rss>

