<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>jengjeng matriphe! &#187; Surabaya</title>
	<atom:link href="http://jengjeng.matriphe.com/tag/surabaya/feed" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://jengjeng.matriphe.com</link>
	<description>pengen jalan-jalan, makan-makan, dan lain-lain</description>
	<lastBuildDate>Tue, 02 Aug 2011 11:41:49 +0000</lastBuildDate>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<generator>http://wordpress.org/?v=3.2.1</generator>
	<atom:link rel='hub' href='http://jengjeng.matriphe.com/?pushpress=hub'/>
		<item>
		<title>Pecel Semanggi Surabaya, Makanan Tradisional Yang Hampir Punah</title>
		<link>http://jengjeng.matriphe.com/pecel-semanggi-surabaya-makanan-tradisional-yang-hampir-punah.html</link>
		<comments>http://jengjeng.matriphe.com/pecel-semanggi-surabaya-makanan-tradisional-yang-hampir-punah.html#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 30 Sep 2009 06:52:33 +0000</pubDate>
		<dc:creator>matriphe</dc:creator>
				<category><![CDATA[Kuliner]]></category>
		<category><![CDATA[pecel]]></category>
		<category><![CDATA[Surabaya]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://jengjeng.matriphe.com/?p=1352</guid>
		<description><![CDATA[Pas mudik Lebaran ke Surabaya beberapa waktu yang lalu, saya berkesempatan mencicipi kembali beberapa makanan khas yang kini agak sulit ditemukan. Salah satu makanan ini adalah Pecel Semanggi. Makanan ini konon sudah hampir punah karena sulit ditemui. Penjualnya rata-rata adalah ibu-ibu paruh baya yang berdagang keliling dengan menyunggi besek berisi bahan-bahan pecel. Kendala utama sih [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><img src="http://jengjeng.matriphe.com/wp-content/uploads/2009/09/pecel-semanggi.jpg" alt="Pecel Semanggi" title="Pecel Semanggi" width="350" height="263" class="alignnone size-full wp-image-1353" /></p>
<p>Pas mudik Lebaran ke Surabaya beberapa waktu yang lalu, saya berkesempatan mencicipi kembali beberapa makanan khas yang kini agak sulit ditemukan. Salah satu makanan ini adalah Pecel Semanggi.</p>
<p>Makanan ini konon sudah hampir punah karena sulit ditemui. Penjualnya rata-rata adalah ibu-ibu paruh baya yang berdagang keliling dengan menyunggi <em>besek</em> berisi bahan-bahan pecel. Kendala utama sih di faktor bahan dasarnya, yaitu daun semanggi.</p>
<p>Konon makanan ini juga sudah merambah restoran dan hotel-hotel, namun menurut saya, lebih mantab kalo kita mencicipinya langsung dari penjual tradisional.</p>
<p><span id="more-1352"></span>Seperti namanya, pecel ini berbahan dasar daun semanggi (<em>Marsilea crenata</em>) yang direbus dan disajikan dengan kecambah rebus kemudian disiram bumbu yang terbuat dari ketela rambat atau ubi jalar (<em>Ipomoea batatas</em>) yang direbus dan dicampur gula jawa, garam, terasi, petis udang (makanya warna bumbunya berwarna hitam), sedikit kacang tanah, dan cabai.</p>
<p><img src="http://jengjeng.matriphe.com/wp-content/uploads/2009/09/racikan-pecel-semanggi.jpg" alt="Racikan pecel semanggi" title="Racikan pecel semanggi" width="350" height="263" class="alignnone size-full wp-image-1354" /></p>
<p>Pecel ini disajikan tanpa nasi, hanya sayur semanggi dan kecambah disiram bumbu yang disajikan di dalam pincuk daun pisang. Untuk memakannya, kita wajib dan fardhu menggunakan kerupuk puli yang terbuat dari beras (di beberapa daerah di Jawa kerupuk ini disebut dengan kerupuk gendar) untuk memakannya.</p>
<p>Kerupuk puli ini berfungsi menggantikan sendok. Kalo cara saya makan, kerupuk dicuil kemudian cuilan ini digunakan untuk menyendok sayur dan dimakan bersama. Kerupuk ini sangat lebar sehingga kita harus berhati-hati membawanya supaya tidak jatuh (karena biasanya disajikan di samping pecel).</p>
<p>Secara penampilan, pecel semanggi memang &#8220;kurang menggiurkan&#8221;, namun secara rasa, woohh! Seddap!!</p>
<p>Makanan ini biasa dijual dengan berkeliling. Si penjual biasanya berteriak, &#8220;seemmmaannnggiiiiiii&#8230;&#8221;, dengan nada tertentu untuk menjajakan dagangannya.</p>
<p>Para penjual ini kebanyakan berasal dari daerah Benowo, Surabaya bagian barat. Kebetulan, karena pakde saya tinggal di daerah Manukan, Tandes, yang ndak jauh dari Benowo, penjual pecel ini berhasil dicegat di depan rumah ketika melintas.</p>
<p>Karena sulitnya bahan baku daun semanggi, penjual ini waktu berjualannya tidak menentu. Kadang seminggu sekali, kadang dua minggu sekali.</p>
<p>Daun semanggi yang digunakan pun bukan daun semanggi liar (yang biasa tumbuh di sungai dan sawah), tapi dibeli dari seseorang yang membudidayakan semanggi ini, begitu menurut pengakuan si penjual.</p>
<p><img src="http://jengjeng.matriphe.com/wp-content/uploads/2009/09/penjual-pecel-semanggi.jpg" alt="Penjual pecel semanggi" title="Penjual pecel semanggi" width="350" height="263" class="alignnone size-full wp-image-1355" /></p>
<p>Bila diperhatikan, gaya penjual pecel semanggi ini sangat khas. Ibu-ibu ini selalu menggunakan kebaya plus kain batik, kemudian sebuah selendang dililit sedemikian rupa di atas kepala yang berfungsi sebagai alas ketika dagangan disunggi.</p>
<p>Formasi dagangan ketika disunggi pun sangat khas. Sebuah besek atau keranjang berisi sayur dan bumbu berada di bawah, kemudian di atasnya ditumpangkan seplastik besar kerupuk puli.</p>
<p>Tangan satu memgang dagangan di atas kepala, tangan yang lain menenteng keranjang yang berisi daun-daun pisang untuk pincuk dan <em>gear</em> lainnya. Tentu dibutuhkan keseimbangan yang luar biasa sehingga dagangan ini tidak tumpah.</p>
<p>Ketika ada pembeli, dengan suatu teknik yang sigap, keranjang yang menjulang tinggi di atas kepala ini bisa &#8220;mendarat&#8221; dengan sempurna. Sebaliknya, ketika selesai melayani, keranjang dagangan ini pun bisa dengan cepat berpindah ke atas kepala!</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://jengjeng.matriphe.com/pecel-semanggi-surabaya-makanan-tradisional-yang-hampir-punah.html/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>40</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Jeng-Jeng Suramadu</title>
		<link>http://jengjeng.matriphe.com/jeng-jeng-suramadu.html</link>
		<comments>http://jengjeng.matriphe.com/jeng-jeng-suramadu.html#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 14 Apr 2009 06:46:18 +0000</pubDate>
		<dc:creator>matriphe</dc:creator>
				<category><![CDATA[Travelogue]]></category>
		<category><![CDATA[Madura]]></category>
		<category><![CDATA[Sumenep]]></category>
		<category><![CDATA[Surabaya]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://jengjeng.matriphe.com/?p=1076</guid>
		<description><![CDATA[Madura ndak hanya terkenal dengan karapan sapi, clurit, carok, dan ramuan Maduranya. Meskipun gersang, Madura menyimpan potensi wisata yang sayangnya kurang mendapat perhatian. Saya berkesempatan untuk jeng-jeng mengelilingi pulau yang mempunyai luas 4.250 km2 ini. Sumenep, kabupaten yang terletak di ujung timur pulau ini menjadi tujuan kami. Saya dan Mas Iman berangkat menuju Surabaya. Di [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><img src="http://jengjeng.matriphe.com/wp-content/uploads/2009/04/jengjeng-suramadu.jpg" alt="Jeng-jeng Suramadu" title="Jeng-jeng Suramadu" width="350" height="263" class="alignnone size-full wp-image-1077" /></p>
<p>Madura ndak hanya terkenal dengan karapan sapi, clurit, carok, dan ramuan Maduranya. Meskipun gersang, Madura menyimpan potensi wisata yang sayangnya kurang mendapat perhatian.</p>
<p>Saya berkesempatan untuk jeng-jeng mengelilingi pulau yang mempunyai luas 4.250 km<sup>2</sup> ini. Sumenep, kabupaten yang terletak di ujung timur pulau ini menjadi tujuan kami.</p>
<p><span id="more-1076"></span>Saya dan <a href="http://blog.imanbrotoseno.com/" target="_blank">Mas Iman</a> berangkat menuju Surabaya. Di Surabaya, kami bertemu <a href="http://blog.efahmi.info/" title="efahmi" target="_blank">Fahmi</a> dan <a href="http://angki.wordpress.com/" title="Angki" target="_blank">Angki</a> di Bandara Juanda. Namun sayangnya hanya Fahmi yang bersedia bergabung dengan kami.</p>
<p>Perjalanan pun dimulai. Kami harus menyeberang menggunakan kapal feri dari Pelabuhan Ujung di Surabaya untuk kemudian mendarat di Kamal, Madura. Jembatan Suramadu masih belum selesai, sehingga menyeberang menggunakan kapal adalah satu-satunya jalan untuk sampai ke Madura.</p>
<p>Untung saja, begitu masuk ke pelabuhan kami langsung naik ke atas kapal. Pada waktu-waktu tertentu terutama ketika liburan, antrian di kedua pelabuhan ini bisa mencapai 2 km bahkan lebih.</p>
<p><img src="http://jengjeng.matriphe.com/wp-content/uploads/2009/04/monjaya.jpg" alt="Monumen Jalasveva Jayamahe" title="Monumen Jalasveva Jayamahe" width="200" height="267" class="alignright size-full wp-image-1078" /></p>
<p>Dari atas kapal, di sebelah galangan kapal PT PAL, sayup-sayup terlihat Monumen Jalasveva Jayamahe (Monjaya) berdiri tegak menjulang di antara kapal-kapal tempur TNI AL yang berlabuh.</p>
<p>Patung yang berada di atas gedung museum ini menggambarkan sosok seorang kolonel TNI AL berpakaian dinas resmi dengan tangan kanan dalam posisi berkacak pinggang dan tangan kiri menahan pedang komando. Tatapan matanya ke arah laut lepas menggambarkan masa depan negara Indonesia berada di lautan.</p>
<p>Bila mengingat, memang sudah seharusnya Indonesia yang merupakan negara kepulauan ini memperkuat lini kekuatan maritimnya. Namun sayang, kenyataannya kekuatan maritim kita sangatlah lemah. <img src='http://jengjeng.matriphe.com/smilies/yahoo_bigsmile.gif' alt='&#58;&#68;' class='wp-smiley' width='18' height='18' title='&#58;&#68;' /></p>
<p>Monumen ini dibangun pada tahun 1990 dan baru dibuka pada tanggal 5 Desember 1996. Patung ini didesain oleh Nyoman Nuarta, desainer yang tinggal di Bandung, yang juga mendesain patung Garuda Wisnu Kencana di Jimbaran, Bali.</p>
<p>Tinggi total bangunan adalah 60 meter, yaitu 30 meter tinggi bangunan museum dan 30 meter adalah tinggi patung. Ndak tanggung-tanggung, konon monumen ini merupakan monumen tertinggi kedua setelah patung Liberty di New York, yang tinggi totalnya 85 meter itu. Jika saja tangan si Liberty ini ndak ke atas ngangkat obor, bisa jadi tinggi kedua patung ini sama! <img src='http://jengjeng.matriphe.com/smilies/yahoo_giggle.gif' alt='&#59;&#41;&#41;' class='wp-smiley' width='18' height='18' title='&#59;&#41;&#41;' /></p>
<p>Kata “jalasveva jayamahe” sendiri merupakan slogan dari TNI AL yang berarti “di laut kita jaya”.</p>
<p><strong>Sumenep, Eksotisme Ujung Timur Madura</strong></p>
<p>Sekitar 30 menit kami menyeberang, kami tiba di Pelabuhan Kamal timur. Dari Kamal, kami menuju ke Sumenep melalui jalur selatan dengan menggunakan mobil, melewati Bangkalan, Sampang, Pamekasan, dan berakhir di Sumenep.</p>
<p>Memasuki daerah Sampang dan Pamekasan, di beberapa ruas jalan, kami melihat langsung laut Selat Madura yang berada persis di sisi jalan. Pemandangan ini sungguh luar biasa dan sangat cantik! Laut berwarna hijau kebiruan mendominasi pandangan hingga garis horizon.</p>
<p><img src="http://jengjeng.matriphe.com/wp-content/uploads/2009/04/gerbang-asta-tinggi.jpg" alt="Gerbang Masuk Asta Tinggi" title="Gerbang Masuk Asta Tinggi" width="350" height="263" class="alignnone size-full wp-image-1080" /></p>
<p>Setelah menempuh perjalanan selama 3 jam, kami sampai di Sumenep dan langsung menuju ke Asta Tinggi, kompleks makam raja-raja dan bangsawan Kerajaan Sumenep.</p>
<p>Sumenep merupakan satu-satunya daerah yang masih menyisakan bangunan kraton di Madura. Ini tak lepas dari keberadaan Kraton Mataram Islam yang akhirnya terpecah menjadi Kraton Surakarta dan Yogyakarta.</p>
<p>Di kompleks Asta Tinggi ini terdapat makam raja-raja Sumenep dan para pendahulunya, antara lain makam Tumenggung Tirtonegoro, R.A. Tirtonegoro, K.R.A.T. Notokusumo, dan R.A. Pangeran Kornel.</p>
<p>Ada 3 blok di dalam kompleks makam ini, namun yang paling menjadi daya tarik dari kompleks ini adalah gerbang utama dan bangunan Kubah Panembahan Sumolo, yang melindungi makam keluarga Notokusumo, pendiri kerajaan Sumenep, yang bercorak arsitektur Eropa, Hindu, Jawa, dan Madura.</p>
<p>Di sekitar kubah bertebaran nisan-nisan dari keluarga atau kerabat kerajaan. Batu nisan yang ada di makam ini beberapa ada yang tua, yang terlihat dari bentuk nisan dan corak ukiran nisannya.</p>
<p><img src="http://jengjeng.matriphe.com/wp-content/uploads/2009/04/asta-tinggi.jpg" alt="Asta Tinggi" title="Asta Tinggi" width="350" height="263" class="alignnone size-full wp-image-1079" /></p>
<p>Ketika kami datang, banyak peziarah yang sedang melayangkan doa, membaca surat Yasin dan tahlil dengan khusyuk dan khidmat. Mereka duduk menghadap ke batu nisan berwarna kuning bercorak hindu yang di kedua ujung nisannya dibalut kain berwarna merah atau kuning.</p>
<p>Dari Asta Tinggi, kami menuju ke kompleks kraton Sumenep di pusat kota. Kompleks kraton yang mungil ini kini digunakan sebagai kantor dan rumah dinas bupati Sumenep.</p>
<p>Pola tata kota kerajaannya mirip dengan tata kota kerajaan di Jogja/Solo. Sebuah alun-alun, masjid agung, pasar selalu melengkapi kraton sebagai pusat pemerintahan.</p>
<p><img src="http://jengjeng.matriphe.com/wp-content/uploads/2009/04/gerbang-kraton-sumenep.jpg" alt="Gerbang Kraton Sumenep" title="Gerbang Kraton Sumenep" width="350" height="263" class="alignnone size-full wp-image-1081" /></p>
<p>Yang menarik, arsitektur kraton ini merupakan perpaduan arsitektur Hindu, Jawa, Eropa, dan Cina. Arsitektur Cina nampak dari ujung-ujung atap joglo yang merupakan ciri arsitektur Jawa. Beberapa corak ornamen Hindu berpadu dengan sistem pilar pada arsitektur Eropa. Sebuah perpaduan yang cantik.</p>
<p>Di salah satu sudut, terdapat Taman Sare yang awalnya saya kira adalah pemakaman, karena kata &#8220;sare&#8221; di sini bisa berarti &#8220;tidur&#8221; atau &#8220;makam (sarean)&#8221;. Rupanya Taman Sare adalah Taman Sari, kolam pemandian putri-putri kraton. Meski kolam ini tidak dipakai, namun airnya tetap mengalir karena kolam ini merupakan sumber air.</p>
<p><img src="http://jengjeng.matriphe.com/wp-content/uploads/2009/04/taman-sare.jpg" alt="Taman Sare" title="Taman Sare" width="350" height="263" class="alignnone size-full wp-image-1082" /></p>
<p>Ada lagi yang unik. Di halaman, terdapat 2 pohon yang terkenal dengan pohon laki dan perempuan. Kedua pohon ini letaknya terpisah, yang laki-laki di sebelah timur dan yang perempuan di sebelah barat. Kenapa disebut pohon laki dan perempuan, karena ada bagian pohon ini yang berbentuk seperti alat kelamin laki-laki dan perempuan.</p>
<p>Dari kraton Sumenep, kami bergerak menuju kota untuk mencari penginapan. Ndak mudah rupanya mencari penginapan di kota ini. Kami hanya menemukan 3 penginapan yang berada di jalan protokol kota Sumenep.</p>
<p>Setelah mendapat penginapan sederhana dan menaruh pantat sejenak, kami pun bergerak ke pusat kota untuk melihat kehidupan kota ini di malam hari. Kami menuju alun-alun kota yang bernama Taman Adipura. Taman ini begitu bersih dan rapi.</p>
<p>Terlihat masyarakat banyak yang duduk bercengkrama dan berbincang bersama rekan, keluarga, dan sahabat. Beberapa orang nampak duduk sambil membuka laptop. Rupanya di sekitar taman ini disediakan wi-fi gratis! Hohoho&#8230; Mantab juga!</p>
<p>Meski di beberapa sudut terpampang tulisan dilarang berjualan di sekitar taman, namun para pedagang tetap saja menggelar dagangannya. Para pengunjung pun senang karena mereka bisa menikmati suasana tanpa khawatir perut kelaparan.</p>
<p>Ada aja barang yang dijual. Mulai dari makanan, mainan, pakaian, hingga penjaja kereta kelinci berwarna-warni yang untuk menggerakkannya si pengemudi harus mengayuh. Dugaan saya sih, itu sebuah becak yang dimodifikasi. Para pedagang menggelar dagangan di atas terpal dan tikar. Ramai seperti pasar malam begitulah.</p>
<p><img src="http://jengjeng.matriphe.com/wp-content/uploads/2009/04/kereta-kelinci.jpg" alt="Kereta kelinci yang dikayuh" title="Kereta kelinci yang dikayuh" width="350" height="263" class="alignnone size-full wp-image-1083" /></p>
<p>Saya tertarik dengan seorang penjual jagung bakar yang membakar jagung berukuran kecil-kecil dengan menggunakan arang yang berada di atas wajan. Seribu rupiah bisa dapat 3 buah, namun sayangnya jagungnya keras dan tidak enak dimakan. Selain karena terlalu gosong, mungkin kualitas jagungnya juga kurang baik mengingat gersangnya tanah di Madura ini.</p>
<p>Subuh-subuh kami sudah berangkat dari penginapan. Tujuan kami adalah mengejar sunrise di Pantai Lombang. Prediksi waktu kami meleset, karena ketika kami sampai di Pantai Lombang, matahari sudah terbit cukup tinggi. Kami lupa bahwa kami berada di timur, sehingga waktu berjalan lebih cepat dari Jakarta.</p>
<p>Pantai Lombang sendiri sangat bersih. Hanya terlihat sampah organik semacam buah kelapa dan kayu-kayu atau ranting yang terdampar karena terbawa ombak pasang semalam.</p>
<p><img src="http://jengjeng.matriphe.com/wp-content/uploads/2009/04/pantai-lombang.jpg" alt="Subuh di Pantai Lombang" title="Subuh di Pantai Lombang" width="350" height="263" class="alignnone size-full wp-image-1084" /></p>
<p>Pasir putihnya yang halus membuat saya melepas sandal dan merasakan butiran-butirannya menyentuh kulit kaki saya. Tak lengkap rasanya kalo belum mencelupkan kaki ke air laut.</p>
<p>Pantai ini persis menghadap ke Laut Jawa dan seperti ciri khas pantai di Laut Jawa, ombaknya kecil-kecil. Di kejauhan nampak beberapa kapal tengah berada di laut lepas.</p>
<p>Keunikan pantai ini adalah pantai ini satu-satunya yang ditumbuhi pohon cemara udang (<em>Casuarina equesetifolia</em>). Pohon-pohon ini banyak digunakan untuk dibuat bonsai, terlihat dari beberapa calon bonsai yang sedang dibudidayakan di sekitar pantai ini.</p>
<p>Dari Pantai Lombang, kami menuju ke Masjid Agung Sumenep. Masjid yang dibangun oleh Panembahan Sumolo alias Panembahan Notokusumo I raja Sumenep pada tahun 1763 Masehi ini memliki tatanan yang mirip dengan tatanan masjid di Jogja dan Solo.</p>
<p>Sebuah gerbang di depan, bangunan kecil di halaman pada samping kanan-kiri (di Jawa, bangunan ini bernama Pagongan, tempat meletakkan gamelan pada acara Sekaten), serambi, dan bangunan utamanya dapat ditemukan mirip dengan masjid besar di Jawa.</p>
<p>Pola arsitekturnya lagi-lagi merupakan perpaduan nuansa Eropa, Jawa, Arab, dan Cina. Unsur arsitektur Cina ini menarik karena rupanya masjid ini diarsiteki oleh <em>Lauw Piango</em>, cucu dari <em>Lauw Khun Thing</em> yang merupakan satu dari enam orang Cina yang mula-mula datang dan menetap di Sumenep. Lauw Piango juga lah yang mengarsiteki bangunan kraton Sumenep.</p>
<p>Berpola atap bertingkat ke atas sebanyak 3 buah, meniru atap Masjid Agung Demak, dengan pilar-pilar beton bergaya Eropa, dan warna kuning-hijau cerah ala Cina menjadi ciri khas bangunan masjid.</p>
<p><img src="http://jengjeng.matriphe.com/wp-content/uploads/2009/04/gerbang-masjid-agung-sumene.jpg" alt="Gerbang Masjid Agung Sumenep" title="Gerbang Masjid Agung Sumenep" width="350" height="263" class="alignnone size-full wp-image-1085" /></p>
<p>Saya sangat tertarik dengan gerbang masjid ini. Ragam pola ornamennya begitu cantik. Terkesan lebih cantik daripada masjid utamanya yang lebih sederhana ornamennya.</p>
<p>Kunjungan kami ke Masjid Agung Sumenep ini menjadi obyek wisata kami terakhir di Sumenep. Kami akan bertolak ke Surabaya melalui jalur utara yang lebih berkelok dan berbukit-bukit.</p>
<p>Kami lewat sebentar di Pantai Selopeng, yang mempunyai keistimewaan gunung pasir (sand dune). Warna hijau-biru air laut masih menjadi daya tarik utama selain perahu-perahu cadik tradisional Madura.</p>
<p><strong>Trivia Sumenep</strong></p>
<p>Rute utara ini lebih menarik karena garis pantai yang mepet ke jalan raya lebih panjang. Akibatnya sepanjang perjalanan mata kami dimanjakan warna hijau-biru laut. Beberapa kali kami melintasi jembatan di mana pada muara sungainya tertambat perahu-perahu cadik tradisional Madura.</p>
<p>Selama di Sumenep, saya sering melihat kuburan yang terletak berserakan. Ada beberapa yang berada persis di tepi jalan raya, ada juga yang berada tepat di halaman rumah penduduk. Rata-rata makam-makam ini terdiri dari 1-2 buah nisan.</p>
<p>Lapangan voli juga beberapa kali saya lihat. Hampir di tiap desa pasti ada satu lapangan yang di kelilingi pagar dari jala untuk menghalau bola keluar dari lapangan. Entah kenapa lapangan bola hampir tidak saya lihat kecuali di kompleks sekolahan.</p>
<p>Menurut pengakuan Pak Didi, driver kami yang asli Madura, di Madura ini bahkan tidak terdapat bioskop. Kehadiran VCD/DVD bajakan rupanya bisa menggeser bioskop dalam memenuhi kebutuhan hiburan masyarakat di sini.</p>
<p>Di dunia kuliner, rasa masakan Madura sangat minim bumbu atau racikan bumbunya sederhana. Nasinya umumnya pera (agak keras), mungkin karena faktor tanah yang gersang sehingga kualitas padinya kurang begitu bagus.</p>
<p><img src="http://jengjeng.matriphe.com/wp-content/uploads/2009/04/rawon-madura.jpg" alt="Rawon Madura" title="Rawon Madura" width="350" height="263" class="alignnone size-full wp-image-1086" /></p>
<p>Menu kuliner yang berkesan menurut saya adalah menu rawon yang berbeda dengan rawon di Jawa. Rawon di Madura yang dijual di tepi jalan Tanah Merah ini lebih mirip soto, karena ndak menggunakan kluwek sebagai salah satu bumbu. Warnanya tentu saja menjadi tidak hitam. Lauknya pun sangat sederhana, potongan usus sapi besar, daging, dan paru yang digoreng kering dan asin, dilengkapi sejumput sambal.</p>
<p><strong>Surabaya, City of Heritage</strong></p>
<p>Yang saya suka dari Surabaya adalah banyaknya bangunan tua peninggalan Belanda yang terawat dan bahkan difungsikan. Beda sekali dengan kawasan Kota Tua di Jakarta dan Kawasan Kota Lama Semarang yang terkesan mangkrak dan tak terawat.</p>
<p>Salah satu pemanfaatan bangunan tua yang keren adalah Museum House of Sampoerna. Bangunan yang dibangun pada tahun 1862 ini dulunya adalah panti asuhan sebelum dibeli oleh Lee Sem Tee, pendiri perusahaan rokok H.M. Sampoerna, pada tahun 1932 untuk dijadikan pabrik rokok.</p>
<p><img src="http://jengjeng.matriphe.com/wp-content/uploads/2009/04/house-of-sampoerna.jpg" alt="House of Sampoerna" title="House of Sampoerna" width="350" height="263" class="alignnone size-full wp-image-1087" /></p>
<p>Ada 3 bangunan utama di komplek ini, bangunan utama dipakai sebagai museum dan pabrik rokok Djie Sam Soe, bangunan di sisi timur, dan di sebelah barat. Sisi timur digunakan sebagai kafe dan galeri, sedangkan bangunan di sisi barat merupakan rumah pribadi keluarga Lee Sem Tee.</p>
<p>Museum terdiri atas 2 lantai, lantai pertama terbagi atas 3 ruangan dan di lantai atas terdapat toko suvenir. Dari lantai atas kita bisa melihat langsung aktivitas pekerja pabrik yang sedang melinting rokok Dji Sam Soe pada hari kerja.</p>
<p>Kata Djie Sam Soe yang berarti angka 234 ini rupanya bermakna komposisi racikan tembakau, cengkeh, dan bahan lain untuk menyusun rokok. Sedangkan kata &#8220;Fatsal-5&#8243; bermakna resep racikan nomor 5. Pada Djie Sam Soe Premium, fatsalnya nomer 9. <img src='http://jengjeng.matriphe.com/smilies/yahoo_bigsmile.gif' alt='&#58;&#68;' class='wp-smiley' width='18' height='18' title='&#58;&#68;' /></p>
<p>Selain heritage, yang saya suka dari kuliner Surabaya adalah menu bebeknya. Menurut saya, masakan bebek Surabaya ini cita rasanya lebih mantab. Kami mampir ke warung nasi Bebek Kayu Tangan berdasarkan panduan dari Fahmi.</p>
<p><img src="http://jengjeng.matriphe.com/wp-content/uploads/2009/04/four-faces-budha.jpg" alt="Four Faces Buddha" title="Four Faces Buddha" width="200" height="267" class="alignright size-full wp-image-1088" /></p>
<p>Pagi-pagi kami bergegas menuju Kenjeran Park. Bukan, bukan, kami ndak mengunjungi pantai Kenjeran yang kotor itu, tapi kami hendak menuju ke Patung Four Faces Budha (Budha berwajah empat).</p>
<p>Patung setinggi 9 meter berwarna emas ini berada di dalam sebuah kubah setinggi 36 meter, dengan alas persegi dengan panjang sisi 9 meter. Angka 9 merupakan angka yang memiliki makna di ajaran agama Budha.</p>
<p>Berada di lokasi ini membuat saya serasa berada di Thailand. Dan memang, di pusat kota Bangkok, terdapat patung serupa yang disebut Thao Maha Brahma.</p>
<p>Empat wajah Budha ini memiliki 4 makna, yaitu kesabaran, kebebasan, keadilan, dan ketenangan. Empat pasang tangan kanan masing-masing memegang dada, cawan air suci, tongkat, piringan, kitab suci, senjata, dan tasbih.</p>
<p>Di sekitar patung ini dapat kita temukan 4 patung gajah berwarna putih yang berdiri pada bunga lotus, patung Ganesha, tempat meditasi, dan 3 kolam air bermotif bunga lotus.</p>
<p>Di seberang patung ini, kami masuk ke Sanggar Agung (Hong San Tang), sebuah klenteng unik yang memadukan arsitektur Hindu-Bali dengan Cina. Awalnya saya bahkan mengira klenteng ini adalah pura.</p>
<p>Memasuki halaman klenteng, kita akan disambut dengan lambang yin-yang yang tergambar di lantai dan kolam berornamen bunga lotus. Di dalam klenteng, terdapat beberapa altar dan patung-patung untuk beribadah umat Tri Dharma (Konghucu, Tao, dan Budha).</p>
<p><img src="http://jengjeng.matriphe.com/wp-content/uploads/2009/04/gerbang-laut.jpg" alt="Gerbang laut Sanggar Agung" title="Gerbang laut Sanggar Agung" width="350" height="263" class="alignnone size-full wp-image-1089" /></p>
<p>Yang paling menarik buat saya adalah halaman belakang dari klenteng ini. Di sini terdapat sebuah gerbang dengan patung dewi Kwan Im yang langsung mepet ke laut. Seolah-olah gerbang ini menjadi gerbang antara daratan dan lautan.</p>
<p>Gerbang ini menggambarkan Dewi Kwan Im yang didampingi 2 muridnya, dikawal oleh 4 pengawal langit, dan dilindungi 2 naga. Kesemua patung ini menghadap ke barat alias membelakangi laut.</p>
<p>Masih banyak tempat yang belum terkunjungi, baik selama di Madura atau pun di Surabaya. Eksotisme Suramadu, terutama Madura, memang layak untuk dieksplorasi lagi suatu saat. <img src='http://jengjeng.matriphe.com/smilies/yahoo_bigsmile.gif' alt='&#58;&#68;' class='wp-smiley' width='18' height='18' title='&#58;&#68;' /></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://jengjeng.matriphe.com/jeng-jeng-suramadu.html/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>57</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Jeng-Jeng Bromo</title>
		<link>http://jengjeng.matriphe.com/jeng-jeng-bromo.html</link>
		<comments>http://jengjeng.matriphe.com/jeng-jeng-bromo.html#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 19 Aug 2008 10:10:22 +0000</pubDate>
		<dc:creator>matriphe</dc:creator>
				<category><![CDATA[Travelogue]]></category>
		<category><![CDATA[Bromo]]></category>
		<category><![CDATA[Malang]]></category>
		<category><![CDATA[Surabaya]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://jengjeng.matriphe.com/index.php/2008/08/19/jeng-jeng-bromo.html</guid>
		<description><![CDATA[Udah lama banget saya ndak nulis soal jeng-jeng di blog ini. Maksud saya, nulis soal cerita perjalanan, &#8220;jeng-jeng series&#8221; gitu, lah! Kali ini saya berkesempatan ke Bromo, setelah ndak kuat menolak godaan Kumendan saya itu. Bah! Awalnya Mas Iman ngajakin nonton upacara Kasada, upacara persembahan masyarakat Tengger, namun mengingat kalo saat itu Bromo bakalan rame, [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><img src="http://jengjeng.matriphe.com/wp-content/uploads/2008/08/bromo1.jpg" alt="Gunung Bromo, Gunung Batok, Gunung Semeru" title="Gunung Bromo, Gunung Batok, Gunung Semeru" width="350" height="263" class="alignnone size-full wp-image-1150" /></p>
<p>Udah lama banget saya ndak nulis soal jeng-jeng di blog ini. Maksud saya, nulis soal cerita perjalanan, &#8220;jeng-jeng series&#8221; gitu, lah! <img src='http://jengjeng.matriphe.com/smilies/yahoo_bigsmile.gif' alt='&#58;&#68;' class='wp-smiley' width='18' height='18' title='&#58;&#68;' /></p>
<p>Kali ini saya berkesempatan ke Bromo, setelah ndak kuat menolak godaan <a title="Iman Brotoseno" href="http://blog.imanbrotoseno.com/" target="_blank">Kumendan</a> saya itu. Bah!</p>
<p><span id="more-782"></span>Awalnya Mas Iman ngajakin nonton upacara Kasada, upacara persembahan masyarakat Tengger, namun mengingat kalo saat itu Bromo bakalan rame, Mas Iman mengajak untuk jeng-jeng sebelum hari itu untuk menikmati pemandangan Bromo.</p>
<p>Bromo merupakan salah satu destinasi impian saya. Ajakan menggiurkan dari Mas Iman, ditambah waktu yang pas, yaitu liburan 16-17-18 Agustus, dan masih ada rejeki yang ngendon di tabungan, akhirnya saya memutuskan berangkat.</p>
<p>Berburu tiket kereta untuk berangkat ke Malang, terutama pada musim liburan gini, tentu bukan hal yang mudah. Untung Mas Iman punya &#8220;teman&#8221; sehingga tiket kereta Eksekutif Gajayana bisa didapat.</p>
<p>Berangkat Jumat (15/8) sore dari Gambir jam 17:40 (telat 10 menit dari jadwal) setelah sebelumnya saya dan Mas Iman saling mencari di tengah hiruk-pikuk Stasiun Gambir.</p>
<p>Para jelata <a title="CahAndong" href="http://cahandong.org/" target="_blank">CahAndong</a> yang awalnya menelurkan ide ini rupanya hanya <acronym title="kakean cangkem">kacang</acronym>.</p>
<p>Namun salut buat <a title="Nico Wijaya" href="http://wijayax31.blogspot.com/" target="_blank">Nico</a>, yang akhirnya membatalkan status kacangnya dengan menyerbu Surabaya untuk bergabung bersama <a title="Siwi" href="http://chiw.wordpress.com/" target="_blank">Siwi</a> dan <a title="Angki" href="http://angki.wordpress.com/" target="_blank">Angki</a> yang merapat kemudian di Malang.</p>
<p>Sebagai info, ini pertama kalinya Nico menginjakkan kaki di Surabaya dan Malang. Hoho, gelar &#8220;doyoker kehormatan&#8221; layak engkau sandang, Bung Nico! =D&gt;</p>
<p>Setelah melalui perjalanan selama sekitar 18 jam, kami (saya dan Mas Iman) pun turun dari gerbong nomor 6. Bersama kami, beberapa cewek memanggul tas-tas besar backpack maupun carrier, sepasang suami istri bule backpacker sambil membawa dua putranya juga terlihat sibuk, juga beberapa orang bertas besar dan berjaket besar, ikut turun keluar dari gerbong kereta.</p>
<p>Hm.. Sepertinya mereka juga mempunyai tujuan yang sama dengan kami, mengintip eksotisme Bromo terutama ketika sunrise!</p>
<p>Stasiun Malang rupanya ndak begitu besar. Bangunan berarsitektur art-deco langsung menyambut kami. Semburat cat warna oranye nampak segar, walau terlihat sekali bangunan ini bangunan baru yang dibentuk seperti arsitektur jaman dulu. <img src='http://jengjeng.matriphe.com/smilies/yahoo_smiley.gif' alt='&#58;&#41;' class='wp-smiley' width='18' height='18' title='&#58;&#41;' /></p>
<p>Pak Mukani rupanya sudah menjemput di depan pintu keluar. Dengan menggunakan mobil Mitsubishi minibus, kami mencari penginepan untuk sekedar menaruh pantat yang penat dan mencari kesegaran air untuk mandi.</p>
<p>Sebelumnya, kami mampir dulu untuk sarapan Rawong Nguling yang berada di Jl. Zainal Arifin (Kedung Dalam).</p>
<p>Yang berbeda dari rawon ini adalah warna kuahnya yang ndak sehitam rawon-rawon yang pernah saya cicipi.</p>
<p><img src="http://jengjeng.matriphe.com/wp-content/uploads/2008/08/malang.jpg" alt="di Malang" /></p>
<p>Setelah transit di Hotel Malinda yang bangunannya cukup jadul, Siwi, Angki, dan Nico datang merapat. Hujan abu dari Gunung Semeru yang saat itu turun tipis ndak menghalangi kami untuk berkeliling kota Malang.</p>
<p>Kami pun berjumpa dengan kawan-kawan dari <a title="BloggerNgalam" href="http://www.bloggerngalam.com/" target="_blank">BloggerNgalam</a> di Warung Cwie Mie.</p>
<p><img src="http://jengjeng.matriphe.com/wp-content/uploads/2008/08/kopdar-malang.jpg" alt="Kopdar dengan BloggerNgalam" /></p>
<p>Sekitar jam 4 sore, kami segera berangkat ke Bromo. Sebelum ke sana, kami sempat mampir ke Candi Singosari. Hoho! Akhirnya aku ketemu candi, lagi! <img src='http://jengjeng.matriphe.com/smilies/yahoo_dance.gif' alt='&#92;&#58;&#100;&#47;' class='wp-smiley' width='26' height='18' title='&#92;&#58;&#100;&#47;' /></p>
<p>Hari menjelang senja ketika kami tiba di <a title="Bromo Cottages" href="http://bromocottages.com/" target="_blank">Bromo Cottages</a>, Tosari, Pasuruan, Jawa Timur.</p>
<p>Cottage ini bener-bener mantab! Berlokasi di bukit yang dekat dengan Gunung Bromo, menjadikan cottage ini menjadi pilihan bagi para wisatawan asing.</p>
<p>Benar saja, selama berada di sini, kami merasa terasing di negeri sendiri. Di mana-mana hanya ada bule, bule, dan bule! Serasa di Eropa saja! <img src='http://jengjeng.matriphe.com/smilies/yahoo_laughloud.gif' alt='&#58;&#41;&#41;' class='wp-smiley' width='18' height='18' title='&#58;&#41;&#41;' /></p>
<p><img src="http://jengjeng.matriphe.com/wp-content/uploads/2008/08/bromo-cottages.jpg" alt="di Bromo Cottages" /></p>
<p>Setelah beristirahat sejenak, mandi-mandi dengan air sedingin es, kami pun mencari makan di kaki lima. Yang unik, warung kaki lima di sini menggunakan tenda yang kanan-kirinya ditutup dengan terpal. Tenda ditutup rapat untuk menahan dingin yang menusuk kulit.</p>
<p>Satu lagi yang unik, sarung menjadi aksesoris wajib penduduk di sini. Sarung digunakan untuk membalut tubuh, menutup muka, atau hanya diselempangkan saja di leher.</p>
<p>Setelah makan dan beristirahat, jam 3.30 dini hari kami mulai bersiap untuk berangkat ke Bukit Pananjakan. Bukit ini kerap digunakan untuk mengamati prosesi matahari terbit.</p>
<p>Rupanya bule-bule yang juga menginap di Bromo Cottages juga udah bersiap. Suasana dini hari itu terasa sangat ramai.</p>
<p>Dengan mengendarai mobil, kami menuju ke Bukit Pananjakan. Namun untuk menuju ke pos pengamatan, kami harus turun dari mobil dan berjalan kaki.</p>
<p>Belum sampai ke gerbang pos, kami sudah diserbu penjaja jaket, syal, senter, untuk disewakan dan tukang ojek yang siap mengantar kami ke gerbang.</p>
<p>Ratusan orang sudah memadati pos pengamatan. Turis asing maupun domestik berbaur menjadi satu, demi menyaksikan keindahan alam ini.</p>
<p><img src="http://jengjeng.matriphe.com/wp-content/uploads/2008/08/sunrise.jpg" alt="Sunrise dari Pananjakan" /></p>
<p>Garis horison keemasan nampak panjang membelah birunya langit dan gelapnya daratan. Sedikit demi sedikit sang mentari menampakkan sosoknya, menyembul dari garis horison tersebut. Lingkaran berwarna oranye keemasan langsung menyolok mata. Awan-awan yang menyelimuti Kawah Tengger berada di bawah membuat kami serasa berada di negeri di atas awan.</p>
<p>Dari Pananjakan, ke arah selatan kami melihat Kawah Tengger yang berisi lautan pasir (Segara Wedi), Gunung Batok, Kawah Bromo, dan di kejauhan, Gunung Semeru nampak menjulang gagah.</p>
<p><img src="http://jengjeng.matriphe.com/wp-content/uploads/2008/08/bromo-tengger-semeru.jpg" alt="Bromo-Tengger-Semeru" /></p>
<p>Hawa dingin begitu menusuk. Saya yang hanya mengenakan celana kuning, kaos oblong, sepatu sneaker, dan jaket tipis langsung menggigil kedinginan. Jari-jari kaki dan tangan serasa beku diterjang angin dingin pegunungan.</p>
<p>Edan! Saya memang bodoh atau bener-bener nekad. Di saat yang lain menggunakan jaket berlapis-lapis, mengenakan kaos tangan, syal, hingga penutup kepala penahan dingin, saya malah seperti salah kostum! <img src='http://jengjeng.matriphe.com/smilies/yahoo_laughloud.gif' alt='&#58;&#41;&#41;' class='wp-smiley' width='18' height='18' title='&#58;&#41;&#41;' /></p>
<p>Puas menikmati keindahan alam dari Bukit Pananjakan, kami pun memutuskan untuk turun menuju Kawah Bromo. Namun sebelumnya, kami mengisi perut dengan jagung bakar, pop mie, dan kopi hangat.</p>
<p>Untuk menuju ke Kawah Bromo, kita harus melewati Segara Wedi (Lautan Pasir). Biasanya kita bisa menyewa mobil jeep untuk bisa melintasi lautan pasir ini, namun mobil colt yang kami tumpangi ini bisa melaju dengan lancar tanpa terperosok dan terjebak pasir.</p>
<p>Pak Mukani rupanya cukup lincah dan sudah ahli dalam menyetir di atas pasir seperti ini. Dengan mengambil ancang-ancang, mobil digeber dengan kencang sehingga dapat melaju di atas pasir, meski mobil berjalan dengan sedikit oleng dan selip karena permukaan pasir yang lembut.</p>
<p>Beberapa motor nampak kesusahan dalam melintasi lautan pasir. Beberapa motor nampak ambles dan rodanya selip. Ada juga yang jatuh terjerembab karena ndak bisa mengendalikan keseimbangan yang hilang akibat olengnya motor.</p>
<p>Debu-debu yang bertebaran akibat dilindasnya pasir, tentu berbahaya bagi mesin. Bila filter udara ndak bagus, ruang bakar bisa hancur dihajar serpihan pasir yang masuk melalui karburator.</p>
<p>Ternyata Segara Wedi ini tak melulu berisi pasir. Di beberapa bagian masih ditumbuhi rerumputan laksana savana.</p>
<p>Kami pun tiba di &#8220;pintu masuk&#8221; Kawah Bromo. Begitu kami turun dari mobil, kami pun disambut oleh para penjaja kuda. Dengan ongkos 50 ribu rupiah, kami akan diantar menuju depan tangga kawah.</p>
<p>Saya yang memang ndak tega menunggangi hewan lucu itu, lebih memilih berjalan kaki. Sengatan panas matahari namun hawa dingin pegunungan menusuk, membuat saya serba salah dalam berkostum.</p>
<p><img src="http://jengjeng.matriphe.com/wp-content/uploads/2008/08/segara-wedi.jpg" alt="di Segara Wedi" /></p>
<p>Belum lagi debu-debu yang bertebaran membuat saya harus menutup hidung untuk menghindari masuknya debu ke saluran pernafasan.</p>
<p>Kami mampir dulu ke sebuah pura. Pura ini digunakan untuk upacara keagamaan Hindu, agama yang banyak dianut oleh penduduk Tengger, terutama pada acara Kasada.</p>
<p>Dari pura, kami segera bergerak menuju ke tangga Kawah Bromo. Sengatan matahari, debu yang bertebaran, plus oksigen yang menipis membuat kami kesusahan dalam mendaki. Namun sedikit demi sedikit, kami sampai juga di depan tangga.</p>
<p>Siwi menghitung jumlah anak tangga menuju ke kawah ini. Sekitar 280-an anak tangga menurut hitungan Siwi, namun saya enggan menghitung ulang. <img src='http://jengjeng.matriphe.com/smilies/yahoo_tongue.gif' alt='&#58;&#112;' class='wp-smiley' width='18' height='18' title='&#58;&#112;' /></p>
<p>Sesampainya di puncak, asap putih tebal yang berasal dari pusat kawah menghalangi pandangan. Pemandangan begitu eksotis dan mantab!</p>
<p>Kami bertemu 2 wisatawati asal Jerman. Kedua orang ini ber-backpacking selama kurang lebih 3½ minggu di Indonesia. Sebelum ke Bromo, mereka telah menjelajah Rinjani dan tujuan mereka berikutnya adalah Yogyakarta!</p>
<p><img src="http://jengjeng.matriphe.com/wp-content/uploads/2008/08/bersama-bule.jpg" alt="Bersama wisatawati asal Jerman" /></p>
<p>Setelah puas menikmati pemandangan Kawah Bromo, kami pun memutuskan pulang kembali ke cottage. Debu dan pasir serasa lengket semua di badan, belum lagi rasa capek yang menghinggapi badan letih yang kurang istirahat, membuat kami ingin segera berbersih diri.</p>
<p>Setelah bersih, kami pun check-out dan melanjutkan perjalanan menuju Surabaya, di mana di sini menjadi titik tolak kepulangan kami ke peradaban masing-masing.</p>
<p>Setiba di Surabaya, saya, Mas Iman, dan Nico setelah beristirahat di Hotel Sahid, kami menuju ke Monumen Kapal Selam yang terletak tak jauh dari hotel.</p>
<p>Di tempat inilah, di tepi Kali Mas, kami juga betemu dengan temen-temen dari <a title="TuguPahlawan.Com" href="http://tugupahlawan.com/" target="_blank">TuguPahlawan.Com</a>, sebelum <acronym title="pindah tongkrongan">pintong</acronym> ke MERR (Middle East Ring Road) untuk menikmati secangkir kopi panas dan bercanda.</p>
<p>Tengah malam, saya dan Nico bertolak dari Surabaya, sedangkan Mas Iman tinggal di Surabaya untuk melanjutkan misinya ke Madura.</p>
<p>Fiuh, perjalanan yang melelahkan! <img src='http://jengjeng.matriphe.com/smilies/yahoo_sweating.gif' alt='&#35;&#58;&#45;&#83;' class='wp-smiley' width='34' height='18' title='&#35;&#58;&#45;&#83;' /></p>
<p>Tulisan terkait:</p>
<ul>
<li><a href="http://blog.imanbrotoseno.com/?p=272" target="_blank">Titian Muhibah JawaTimuran</a> oleh Mas Iman</li>
<li><a title="Kick Bromo" href="http://angki.wordpress.com/2008/08/20/kick-bromo/" target="_blank">Kick Bromo</a> oleh Raden Mas Angki Bukaningrat</li>
<li><a title="Perjalanan Bromo, Memaknai Kemerdekaan" href="http://wijayax31.blogspot.com/2008/08/perjalanan-bromo-memaknai-kemerdekaan.html" target="_blank">Perjalanan Bromo, Memaknai Kemerdekaan</a> oleh Nico Wijaya</li>
</ul>
<p>Update: Tulisan ini juga dimuat di <a href="http://www.korantempo.com/korantempo/koran/2008/10/19/Perjalanan/index.html" title="Menyongsong Mentari Kemerdekaan" target="_blank">Koran Tempo edisi Minggu, 19 Oktober 2008, pada rubrik Perjalanan</a>.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://jengjeng.matriphe.com/jeng-jeng-bromo.html/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>71</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Makanan Khas Selama Lebaran</title>
		<link>http://jengjeng.matriphe.com/makanan-khas-selama-lebaran.html</link>
		<comments>http://jengjeng.matriphe.com/makanan-khas-selama-lebaran.html#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 23 Oct 2007 11:19:45 +0000</pubDate>
		<dc:creator>matriphe</dc:creator>
				<category><![CDATA[Kuliner]]></category>
		<category><![CDATA[gresik]]></category>
		<category><![CDATA[gulai]]></category>
		<category><![CDATA[kue]]></category>
		<category><![CDATA[nasi]]></category>
		<category><![CDATA[roti]]></category>
		<category><![CDATA[Surabaya]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://jengjeng.matriphe.com/index.php/2007/10/23/makanan-khas-selama-lebaran.html</guid>
		<description><![CDATA[Lebaran, selalu identik dengan yang namanya makanan enak. Berbagai makanan yang biasanya ndak nongol di hari-hari biasa, pada keluar semua. Selain makanan dan kue-kue, tiap daerah tentu punya makanan khas sendiri-sendiri. Membahas soal makanan khas daerah memang mengasyikkan. Selain rasanya yang unik, makanan tersebut kadang membawa filosofi dan cerita tersendiri. Nah, selama Lebaran kemarin, saya [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><img src="http://jengjeng.matriphe.com/wp-content/uploads/2007/10/kue-lebaran1.jpg" alt="Kue Lebaran" title="Kue Lebaran" width="350" height="263" class="alignnone size-full wp-image-1262" /></p>
<p>Lebaran, selalu identik dengan yang namanya makanan enak. Berbagai makanan yang biasanya ndak nongol di hari-hari biasa, pada keluar semua.</p>
<p>Selain makanan dan kue-kue, tiap daerah tentu punya makanan khas sendiri-sendiri. Membahas soal makanan khas daerah memang mengasyikkan. Selain rasanya yang unik, makanan tersebut kadang membawa <a href="http://jengjeng.matriphe.com/index.php/2007/10/20/tradisi-bakda-kupat-dan-makna-ketupat.html#ketupat" title="Filosofi Ketupat">filosofi</a> dan cerita tersendiri.</p>
<p>Nah, selama Lebaran kemarin, saya menemukan kembali beberapa makanan khas yang selalu saya rindukan setiap kali ke Surabaya. Walau ndak semuanya bisa saya cicipi kembali, karena makanan-makanan ini pun ternyata sudah mulai jarang ada.</p>
<p><span id="more-425"></span><strong>KUE SPIKU</strong></p>
<p><img src='http://jengjeng.matriphe.com/wp-content/uploads/2007/10/spiku.jpg' alt='Kue Spiku' /></p>
<p>Makanan pertama yang bakal saya omongkan di sini adalah Kue Spiku. Bentuknya sekilas mirip kek Roti Mandarin atau Lapis Legit. Tapi sebenernya kue ini beda banget secara struktur dan rasa.</p>
<p>Kue ini memiliki cerita tersendiri buat saya. Dulu semasa nenek saya masih ada, beliau suka sekali membuat sendiri Kue Spiku ini. Kalo beli, rasanya kurang mantab. Mungkin karena terbiasa dengan kue buatan nenek itulah saya menganggap Kue Spiku lainnya kurang nendang rasanya. <img src='http://jengjeng.matriphe.com/smilies/yahoo_think.gif' alt='&#58;&#45;&#63;' class='wp-smiley' width='18' height='18' title='&#58;&#45;&#63;' /></p>
<p>Kue Spiku sendiri kalo dipegang itu terasa sangat padat namun agak <em>mblenyek</em>, teksturnya begitu halus, dan berasa sedikit berminyak (<em>nglenga</em>).</p>
<p>Maklum saja, karena untuk membuat kue ini membutuhkan sekitar 20 butir kuning telur, beberapa gram gula halus, dan 2 sendok makan terigu untuk kue berukuran 20 x 20 cm!</p>
<p>Untuk memakannya pun ndak sembarangan. Ada manner-nya, ada tata caranya. Mungkin karena saking berlemaknya kue ini sehingga kita hanya diperbolehkan makan potongan-potongan kecil berukuran sekitar 2 x 1 cm saja!</p>
<p>La tapi kalo banyak, ya sama saja. Nenek saya sering bilang, &#8220;spiku itu bukan gethuk. makannya itu sedikit-sedikit..&#8221; <img src='http://jengjeng.matriphe.com/smilies/yahoo_giggle.gif' alt='&#59;&#41;&#41;' class='wp-smiley' width='18' height='18' title='&#59;&#41;&#41;' /></p>
<p>Bisa jadi, karena bisa dibilang kue ini cukup mahal karena menggunakan banyak telur, kalo potongannya besar-besar, bisa langsung habis! La kalo mesen saja, bisa sampai 100 rebu rupiah je. <img src='http://jengjeng.matriphe.com/smilies/yahoo_laughloud.gif' alt='&#58;&#41;&#41;' class='wp-smiley' width='18' height='18' title='&#58;&#41;&#41;' /></p>
<p>Lebaran kemarin, karena nenek saya sudah lama ndak ada, saya ndak menemukan kue ini. Beruntung, pas berkunjung ke Gresik, ke rumah nenek saya yang lain (ya, karena saya dari keluarga besar) saya menemukan kue ini! Hore!! <img src='http://jengjeng.matriphe.com/smilies/yahoo_party.gif' alt='&#60;&#58;&#45;&#112;' class='wp-smiley' width='38' height='18' title='&#60;&#58;&#45;&#112;' /></p>
<p>Rasanya bener-bener mirip buatan nenek saya. Memang, Kue Spiku buatan sendiri itu beda banget ama Kue Spiku kalo kita mesen atau beli.</p>
<p>Kue ini tentu berasa manis. Biasanya sih terdiri atas 3 lapisan, kuning-coklat-kuning. Kadang-kadang ada yang menaburi kacang sangrai atau mete di atasnya sebagai variasi. Tapi kalo yang versi original sih ndak pake tambahan apa-apa.</p>
<p>Dulu setiap saya bekunjung ke rumah mbah-mbah saya, pasti kue ini terhidang. Tapi Lebaran kemarin saya cuma menemukan 1 rumah saja yang menghidangkan, ya di rumah nenek saya yang di Gresik itu.</p>
<p>Apakah Kue Spiku ini mulai langka? <img src='http://jengjeng.matriphe.com/smilies/yahoo_think.gif' alt='&#58;&#45;&#63;' class='wp-smiley' width='18' height='18' title='&#58;&#45;&#63;' /></p>
<p><strong>KUE MARYAM DAN KARE KACANG HIJAU</strong></p>
<p><img src='http://jengjeng.matriphe.com/wp-content/uploads/2007/10/maryam-kare.jpg' alt='Kue Maryam dan Kare Kacang Hijau' /></p>
<p>Satu lagi makanan yang kini semarak saya liat di tipi-tipi. Padahal makanan ini udah lama banget ada loh.</p>
<p>Ya, makanan itu adalah Kue Cane, yang saya mengenalnya sebagai Roti Maryam.</p>
<p>Lamunan saya langsung melayang ke masa kecil saya, di kawasan Ampel, Surabaya. Kawasan yang terkenal dengan kampung Arabnya itu memang sempet menjadi tempat tinggal saya pas kecil.</p>
<p>Namanya juga kampung Arab, banyak sekali orang ber-ras Kaukasoid di situ. Orang Arab, India, Pakistan, Turki, semua ada. Kalo di mata kita sih, mo India kek, mo Turki kek, mo Pakistan kek, wis pokoke wong Arab! <img src='http://jengjeng.matriphe.com/smilies/yahoo_laughloud.gif' alt='&#58;&#41;&#41;' class='wp-smiley' width='18' height='18' title='&#58;&#41;&#41;' /></p>
<p>Ndak hanya orang Timur Tengah, ada juga orang Banjar, Madura, dan Cina (sedikit), selain orang asli situ, yang konon keturunan Sunan Ampel dan santri-santrinya.</p>
<p>Kalo saya? Jangan tanya! <img src='http://jengjeng.matriphe.com/smilies/yahoo_laughloud.gif' alt='&#58;&#41;&#41;' class='wp-smiley' width='18' height='18' title='&#58;&#41;&#41;' /> Tampang <strike>ganteng</strike> eblis gini mana ada unsur Arabnya? <img src='http://jengjeng.matriphe.com/smilies/yahoo_devil.gif' alt='&#62;&#58;&#41;' class='wp-smiley' width='18' height='18' title='&#62;&#58;&#41;' /></p>
<p>Nah, karena keanekaragaman masyarakat yang tinggal di situ, tentu berimbas pada kebudayaan dan tentu saja makanannya! <img src='http://jengjeng.matriphe.com/smilies/yahoo_drool.gif' alt='&#61;&#112;&#126;' class='wp-smiley' width='18' height='18' title='&#61;&#112;&#126;' /></p>
<p>Salah satu makanan khas Timur Tengah (entah dari Arab, India, atau mana lah) adalah Roti Maryam, yang istilah lainnya disebut dengan Roti Cane.</p>
<p>Cara bikin Roti Cane ini gampang banget. Cuma butuh tepung, air, telur, dan mentega, Roti Cane dasar sudah bisa dibuat.</p>
<p>Roti Cane ini ternyata ada juga yang berasa manis. <a href="http://www.adhamsomantrie.com/" title="Adham Somantrie" target="_blank">Adham Somantrie</a> udah pernah nyobain <a href="http://www.adhamsomantrie.com/?p=103" title="Kuliner: Martabak HAR" target="_blank">Roti Cane yang versi manis</a>. Padahal setahu saya, Roti Cane itu ya rasanya tawar atau asin. <img src='http://jengjeng.matriphe.com/smilies/yahoo_bigsmile.gif' alt='&#58;&#68;' class='wp-smiley' width='18' height='18' title='&#58;&#68;' /></p>
<p>Roti Cane atau Roti Maryam emang enak dimakan pake susu, gula, coklat, atau apa pun yang manis-manis. Tapi yang khas dari Timur Tengah, tentu adalah kare-nya. Dan Roti Maryam itu memang biasanya dimakan menggunakan kare!</p>
<p>Di Ampel, agak susah juga nyari penjualnya. Di sebuah gang (saya lupa namanya, Ampel Sawahan kalo ndak salah) di tepi jalan K.H. Mas Mansyur, Surabaya, kita bisa menemukan penjual Roti Maryam dan kare-nya ini.</p>
<p>Kare-nya pun istimewa, karena bukan kare kambing atau sapi, melainkan Kare Kacang Hijau! Walau begitu, tetep aja ada potongan daging di dalam kare yang kalo dilihat sekilas seperti bubur kacang hijau ini.</p>
<p>Cara makannya, Roti Maryam ditaruh di atas piring. Roti bisa disobek-sobek terlebih dulu atau masih utuhan, tapi disarankan rotinya disobek-sobek dulu, sih. Setelah itu, barulah Kare Kacang Hijau dituangkan ke atas roti tadi.. <img src='http://jengjeng.matriphe.com/smilies/yahoo_drool.gif' alt='&#61;&#112;&#126;' class='wp-smiley' width='18' height='18' title='&#61;&#112;&#126;' /></p>
<p>Rasanya? Gimana ya?</p>
<p>Rasa kare yang khas pedas ladanya bercampur dengan Roti Maryam gurih yang menggantikan fungsi nasi. Kacang Hijaunya empuk karena dimasak dalam waktu yang lama. Rasanya bener-bener ajib! <img src='http://jengjeng.matriphe.com/smilies/yahoo_drool.gif' alt='&#61;&#112;&#126;' class='wp-smiley' width='18' height='18' title='&#61;&#112;&#126;' /></p>
<p>Bagi yang ndak biasa, mungkin rasanya agak-agak gimana gitu. Ya begitulah. Namanya juga makanan luar yang diimpor. Saya aja juga ngerasa aneh sama makanan Jepang, makanan Korea, dan sebagainya. Lain lidah ya lain selera! <img src='http://jengjeng.matriphe.com/smilies/yahoo_bigsmile.gif' alt='&#58;&#68;' class='wp-smiley' width='18' height='18' title='&#58;&#68;' /></p>
<p>Saya mendapatkan Roti Maryam dan Kare Kacang Hijau ini di rumah salah satu paman saya yang masih tinggal di Ampel. Roti Maryam dan Kare Kacang Hijau-nya adalah buatan sendiri, loh! <img src='http://jengjeng.matriphe.com/smilies/yahoo_bigsmile.gif' alt='&#58;&#68;' class='wp-smiley' width='18' height='18' title='&#58;&#68;' /></p>
<p><strong>NASI KRAWU</strong></p>
<p><img src='http://jengjeng.matriphe.com/wp-content/uploads/2007/10/nasi-krawu.jpg' alt='Nasi Krawu' /></p>
<p>Kalo yang ini sih katanya makanan khas Gresik. Cuman kemarin ngicipi ni nasi pas Lebaran, jadi saya ulas juga.</p>
<p>Sebenernya Nasi Krawu tuh bukan asli dari Gresik, tapi karena banyak dijual di Gresik, maka orang banyak mengira Nasi Krawu itu makanan khas Gresik. Nasi Krawu itu menurut sepengetahuan saya, justru berasal dari Madura.</p>
<p>Kok bisa? Iya, liat aja. Dari para penjual Nasi Krawu itu, rata-rata pake nama &#8220;mbuk&#8221; di depan nama penjualnya. Panggilan &#8220;mbuk&#8221; itu adalah panggilan khas Madura kepada ibu-ibu.</p>
<p>Misalnya Mbuk Bariyah, Mbuk Marjani, Mbuk Rika, dan Mbuk ra weruk.. Eh, itu Mbuh ra weruh ding.. <img src='http://jengjeng.matriphe.com/smilies/yahoo_laughloud.gif' alt='&#58;&#41;&#41;' class='wp-smiley' width='18' height='18' title='&#58;&#41;&#41;' /></p>
<p>Konon Nasi Krawu itu sudah ada di Gresik sejak tahun 1950-an. Penjual pertama Nasi Krawu menurut informasi yang saya terima adalah Mbuk Su (Sufayah). Tentang siapa Mbuk Su sebenernya, ndak banyak referensi, manual, dan handbook yang menuliskan. Warung Nasi Krawu Mbuk Su original ini masih ada lo!</p>
<p>Kata &#8220;krawu&#8221; denger-denger berasal dari kata &#8220;krawukan&#8221;, yang berarti mengambil nasi secara acak dengan tangan. <img src='http://jengjeng.matriphe.com/smilies/yahoo_bigsmile.gif' alt='&#58;&#68;' class='wp-smiley' width='18' height='18' title='&#58;&#68;' /></p>
<p>Nasi Krawu sendiri sebenernya cukup sederhana isinya. Nasi pera (nasi yang agak keras), suwiran daging ayam, serundeng 2 warna, sambel, dan semacam areh.</p>
<p>Daging ayam yang disuwir (diiris halus) ini empuk banget. Konon daging ini mengalami proses perebusan selama kurang lebih 5 jam. Rasa daging ini berasa manis, sekilas kek daging rendang, tapi beda sama rendang. Nah loh.</p>
<p>Untuk lauknya, ada berbagai macam jeroan berbumbu yang digoreng. Kolesterol? Persetan dulu, ah! <img src='http://jengjeng.matriphe.com/smilies/yahoo_laughloud.gif' alt='&#58;&#41;&#41;' class='wp-smiley' width='18' height='18' title='&#58;&#41;&#41;' /></p>
<p>Rasa manis ini akan dinetralisir oleh serundeng (parutan kelapa berbumbu yang digoreng kering) 2 warna, kuning dan coklat, sambel berbentuk semacam pasta, dan bumbu putih semacam areh pada gudeg itu.</p>
<p>Paling enak, Nasi Krawu memang dimakan pake pincuk untuk sarapan. Nasi pera hangat itu harus segera dimakan, karena kalo udah dingin, tu nasi bisa bertambah keras. Tapi inilah ciri khas dari Nasi Krawu. <img src='http://jengjeng.matriphe.com/smilies/yahoo_bigsmile.gif' alt='&#58;&#68;' class='wp-smiley' width='18' height='18' title='&#58;&#68;' /></p>
<p>Sayangnya porsinya yang sak uprit tapi harganya selangit, sekitar 5-10 ribuan. <img src='http://jengjeng.matriphe.com/smilies/yahoo_sad.gif' alt='&#58;&#40;' class='wp-smiley' width='18' height='18' title='&#58;&#40;' /></p>
<p>Yang khas dari Madura, sambel pedasnya itu. Tapi behubung saya ndak suka sambal, membuat sensasi menikmati Nasi Krawu sedikit berkurang. <img src='http://jengjeng.matriphe.com/smilies/yahoo_laughloud.gif' alt='&#58;&#41;&#41;' class='wp-smiley' width='18' height='18' title='&#58;&#41;&#41;' /></p>
<p>Walau bukan menu khas Lebaran, Nasi Krawu layak dicoba jika berkunjung ke Gresik. <a href="http://gresik.wordpress.com/" title="Peyek Gresik" target="_blank">Cak Peyek</a> mungkin bisa rekomen warung Nasi Krawu yang patoet dipoedjiken? <img src='http://jengjeng.matriphe.com/smilies/yahoo_giggle.gif' alt='&#59;&#41;&#41;' class='wp-smiley' width='18' height='18' title='&#59;&#41;&#41;' /></p>
<p><strong>YANG TERLEWATKAN</strong></p>
<p>Itulah kira-kira oleh-oleh saya selama Lebaran kemarin. Sebenernya masih banyak makanan khas lainnya, tapi berhubung keterbatasan waktu dan kesempatan, ndak banyak yang sempet saya icipi.</p>
<p>Beberapa makanan yang belum tericipi adalah Madu Mongso dan Ketupat <strike>Kethek</strike> Ketheg khas Gresik (info dari Cak Peyek).</p>
<p>Madu Mongso sendiri merupakan hidangan yang biasa disajikan di saat Lebaran bersama Kue Spiku. Nenek saya juga sering membuat makanan yang berasal dari ketan hitam ini.</p>
<p>Tapi selama saya di Surabaya dan Gresik, saya ndak menemukan makanan ini. Sayang sekali. Semoga ndak punah. <img src='http://jengjeng.matriphe.com/smilies/yahoo_nailbiting.gif' alt='&#58;&#45;&#83;&#83;' class='wp-smiley' width='36' height='18' title='&#58;&#45;&#83;&#83;' /></p>
<p>Oiya, Madu Mongso yang saya maksud ini agak beda loh. Madu Mongso ini begitu empuk dan manis-manis-kecut, dihidangkan dengan piring kecil. Soalnya ada juga versi lain Madu Mongso yang dibungkus pake kertas macam permen. <img src='http://jengjeng.matriphe.com/smilies/yahoo_smiley.gif' alt='&#58;&#41;' class='wp-smiley' width='18' height='18' title='&#58;&#41;' /></p>
<p>Kalo Ketupat <strike>Kethek (kethek berarti monyet kah?)</strike> Ketheg, sepertinya Cak Peyek harus mengundang saya secara ekslusif ke Gresik. Saya belum pernah tau bentuknya.</p>
<p><strike>Apakah bentuk ketupatnya kayak monyet? Atau bungkusnya dari kulit monyet? Atau bila kita memakan tu ketupat lalu akan berteriak dan mengumpat, &#8220;monyet!&#8221; <img src='http://jengjeng.matriphe.com/smilies/yahoo_laughloud.gif' alt='&#58;&#41;&#41;' class='wp-smiley' width='18' height='18' title='&#58;&#41;&#41;' /></strike></p>
<p>Soal Ketupat Ketheg ini, <a href="http://jengjeng.matriphe.com/index.php/2007/10/23/makanan-khas-selama-lebaran.html#comment-2506" title="penjelasan dari Cak Peyek">sudah dijelaskan sama Cak Peyek di komentar</a>. <img src='http://jengjeng.matriphe.com/smilies/yahoo_bigsmile.gif' alt='&#58;&#68;' class='wp-smiley' width='18' height='18' title='&#58;&#68;' /></p>
<p>Ngomong-ngomong soal Gresik, saya pengen banget lo <a href="http://gresik.wordpress.com/" title="Peyek" target="_blank">Cak</a>, nongkrong di warung kopi yang banyak bertebaran di Kota Santri itu.</p>
<p>Pake baju koko, nyincing sarung, ngobrol ngalur-ngidul sambil nyruput kopi kental, manteb banget keknya. <a href="http://venus-to-mars.com/" title="Venus" target="_blank">Simbok</a> pasti demen kalo beginian. <img src='http://jengjeng.matriphe.com/smilies/yahoo_laughloud.gif' alt='&#58;&#41;&#41;' class='wp-smiley' width='18' height='18' title='&#58;&#41;&#41;' /></p>
<p>Oiya, ada lagi yang saya kangeni, yaitu Nasi Kebuli khas Ampel. Nasi Kebulinya sih biasa, cuma yang khas itu, dulu setiap bulan Ramadhan pada hari kamis, hidangan berbukanya adalah Nasi Kebuli. Mantab banget, dah! Cuma ndak tau apakah tradisi ini masih ada ndak, di Masjid Ampel. <img src='http://jengjeng.matriphe.com/smilies/yahoo_dontknow.gif' alt='&#58;&#45;&#63;&#63;' class='wp-smiley' width='40' height='18' title='&#58;&#45;&#63;&#63;' /></p>
<p>Waduh, ngomongin makanan begini, membuat saya teringat pada <a href="http://jagomakan.blogspot.com/" title="Manda la mendol" target="_blank">Bulik saya yang jagoan makan</a> itu. Kemarin ke mana, Bulik? <img src='http://jengjeng.matriphe.com/smilies/yahoo_giggle.gif' alt='&#59;&#41;&#41;' class='wp-smiley' width='18' height='18' title='&#59;&#41;&#41;' /></p>
<p>Oke, segitu dulu. Mungkin temen-temen ada cerita soal hidangan khas lainnya?</p>
<p><a href="http://mave.wordpress.com/" title="Mina" target="_blank">Mina</a> mungkin mau bercerita soal <a href="http://jengjeng.matriphe.com/index.php/2007/10/20/tradisi-bakda-kupat-dan-makna-ketupat.html#comment-2474" title="Buras, apaan sih?">Buras</a>-nya? Mungkin juga <a href="http://omith.blogspot.com/" title="Omith" target="_blank">Omith</a> mau cerita soal <a href="http://jengjeng.matriphe.com/index.php/2007/10/20/tradisi-bakda-kupat-dan-makna-ketupat.html#comment-2480" title="soal Lepet">Lepet</a>-nya? Atau <a href="http://denayanti.co.nr/" title="Dena" target="_blank">Bude Dena</a> mau cerita soal <a href="http://jengjeng.matriphe.com/index.php/2007/10/20/tradisi-bakda-kupat-dan-makna-ketupat.html#comment-2477" title="soal Kupat Rendang">Kupat Rendang</a>-nya?</p>
<p>Yang lain, silakan beritahu saya lewat komentar (atau postingan tersendiri). <img src='http://jengjeng.matriphe.com/smilies/yahoo_wink.gif' alt='&#59;&#41;' class='wp-smiley' width='18' height='18' title='&#59;&#41;' /></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://jengjeng.matriphe.com/makanan-khas-selama-lebaran.html/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>39</slash:comments>
		</item>
	</channel>
</rss>

