<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>jengjeng matriphe! &#187; Yogyakarta</title>
	<atom:link href="http://jengjeng.matriphe.com/tag/yogyakarta/feed" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://jengjeng.matriphe.com</link>
	<description>pengen jalan-jalan, makan-makan, dan lain-lain</description>
	<lastBuildDate>Tue, 02 Aug 2011 11:41:49 +0000</lastBuildDate>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<generator>http://wordpress.org/?v=3.2.1</generator>
	<atom:link rel='hub' href='http://jengjeng.matriphe.com/?pushpress=hub'/>
		<item>
		<title>Menelusuri Jejak Danau Purba Borobudur</title>
		<link>http://jengjeng.matriphe.com/menelusuri-jejak-danau-purba-borobudur.html</link>
		<comments>http://jengjeng.matriphe.com/menelusuri-jejak-danau-purba-borobudur.html#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 04 Feb 2010 23:06:12 +0000</pubDate>
		<dc:creator>matriphe</dc:creator>
				<category><![CDATA[Asal Muasal & Sejarah]]></category>
		<category><![CDATA[Destinasi]]></category>
		<category><![CDATA[Edukasi & Ketrampilan]]></category>
		<category><![CDATA[Borobudur]]></category>
		<category><![CDATA[candi]]></category>
		<category><![CDATA[Elo]]></category>
		<category><![CDATA[National Geographic Indonenesia]]></category>
		<category><![CDATA[NGI]]></category>
		<category><![CDATA[Progo]]></category>
		<category><![CDATA[Yogyakarta]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://jengjeng.matriphe.com/?p=1444</guid>
		<description><![CDATA[Seniman sekaligus arsitek Belanda bernama W.O.J Nieuwenkamp menulis di dalam bukunya yang berjudul Fiet Borobudur Meer (Danau Borobudur) pada tahun 1931, konon dahulunya Candi Borobudur dibangun di atas sebuah danau purba, sehingga seolah-olah bentuk Borobudur seperti ceplok bunga teratai yang mengapung di atas kolam sebagai perwujudan tempat kelahiran Sang Budha. Bersama teman-teman dari forum National [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><img src="http://jengjeng.matriphe.com/wp-content/uploads/2010/02/sutikno.jpg" alt="" title="Ir. Sutarto, M.T. menjelaskan batuan" width="350" height="263" class="alignnone size-full wp-image-1445" /></p>
<p>Seniman sekaligus arsitek Belanda bernama <em>W.O.J Nieuwenkamp</em> menulis di dalam bukunya yang berjudul <em>Fiet Borobudur Meer</em> (Danau Borobudur) pada tahun 1931, konon dahulunya Candi Borobudur dibangun di atas sebuah danau purba, sehingga seolah-olah bentuk Borobudur seperti ceplok bunga teratai yang mengapung di atas kolam sebagai perwujudan tempat kelahiran Sang Budha.</p>
<p><span id="more-1444"></span>Bersama teman-teman dari <a href="http://forum.nationalgeographic.co.id/" title="Forum national Geographic Indonesia" target="_blank">forum National Geographic Indonesia</a> regional Yogyakarta, saya berkesempatan menelusuri jejak-jejak danau purba di sekitar Borobudur, yang membuat saya seolah-olah sedang kuliah lapangan!</p>
<p>Saya mendengar pernyataan ini langsung dari Ir. Helmy Murwanto, M.Sc.,  Ir. Sutarto, M.T., dan Dr. Sutanto, tim peneliti dari UPN Veteran Yogyakarta yang telah melakukan penelitian terhadap materi-materi tanah di sekitar Borobudur sejak tahun 1996 hingga sekarang untuk membuktikan hipotesa Nieuwenkamp.</p>
<p>Hipotesa danau purba Nieuwenkamp dianggap sebuah mitos oleh <em>Van Erp</em>,  pemimpin tim pemugaran Candi Borobudur pada tahun 1907-1911 dari Belanda. Menurut Van Erp, hipotesa ini ngawur karena  tidak didukung bukti-bukti kuat seperti prasasti tentang adanya danau di kawasan itu.</p>
<p>Hipotesa Nieuwenkamp ini lah yang membuat Pak Helmy yang orang Muntilan, Magelang, ini bersama kawan-kawannya tertarik meneliti materi endapan lempung hitam yang ada di dasar sungai sekitar Candi Borobudur yaitu Sungai Sileng, Sungai Progo, dan Sungai Elo.</p>
<p><img src="http://jengjeng.matriphe.com/wp-content/uploads/2010/02/helmy-lempung-hitam.jpg" alt="Ir. Helmy Murwanto, M.Sc., menunjukkan lempung hitam yang ditelitinya" title="Ir. Helmy Murwanto, M.Sc., menunjukkan lempung hitam yang ditelitinya" width="350" height="263" class="alignnone size-full wp-image-1446" /></p>
<p>Sampel lempung hitam yang sekilas bentuknya seperti arang basah ini kemudian diteliti dengan analisis radio karbon C-14. Ternyata lempung hitam ini banyak mengandung serbuk sari (<em>pollen</em>) dari tanaman komunitas rawa atau danau, antara lain <em>Commelina</em>, <em>Cyperaceae</em>, <em>Nymphaea stellata</em>, dan <em>Hydrocharis</em>, juga fosil kayu. Dalam bahasa populer, flora ini adalah tanaman teratai, rumput air, dan paku-pakuan yang mengendap di danau saat itu. Dari analisis ini pula diketahui ternyata endapan lempung hitam bagian atas berumur 660 tahun.</p>
<p>Pada tahun 2001, Pak Helmy dan tim melakukan pengeboran lempung hitam pada kedalaman 40 meter. Setelah dianalisis dengan radio karbon C-14 diketahui lempung hitam itu berumur 22 ribu tahun. Maka dari hasil ini bisa disimpulkan kalo danau ini sudah ada sejak 22 ribu tahun lalu (zaman <em>Plistosen</em>), dan berakhir di sekitar akhir abad ke-10 hingga abad ke-13.</p>
<p><img src="http://jengjeng.matriphe.com/wp-content/uploads/2010/02/sutanto.jpg" alt="Dr. Sutanto menjelaskan proses terjadi endapan material vulkanik" title="Dr. Sutanto menjelaskan proses terjadi endapan material vulkanik" width="350" height="263" class="alignnone size-full wp-image-1448" /></p>
<p>Candi Borobudur konon dibangun di atas daratan (bukit) yang terbentuk karena timbunan endapan-endapan material vulkanik dari beberapa gunung di sekitarnya, yang terbawa oleh sungai-sungai yang bermuara ke danau ini, antara lain Sungai Pabelan dari Gunung Merapi, Sungai Elo dari Gunung Merbabu, Sungai Progo dari Gunung Sumbing dan Sindoro.</p>
<p>Sungai-sungai yang ada sekarang di sekitar Borobudur dulunya bermuara di danau purba ini. Namun seiring terbendungnya aliran-aliran sungai oleh material vulkanik, akhirnya danau ini mengering dan membuat sungai-sungai yang dulunya bemuara di danau ini mencari jalurnya sendiri hingga sekarang mengarah ke Laut Selatan.</p>
<p>Namun ada teori lain yang mengatakan bahwa danau ini sudah mengering jauh sebelum Borobudur dibangun, yaitu sebelum abad ke-8. Bahkan diperkirakan di lingkungan tersebut sudah terdapat pemukiman penduduk ketika Borobudur dibangun oleh Raja Samaratungga dari Wangsa Syailendra dengan arsitek Gunadharma ini.</p>
<p>Hal ini bisa ditengarai dari pemakaman umum di beberapa desa di sekitar Borobudur yang berumur sebelum tahun 1300. Nisan makam kuno terbuat dari kayu jati relatif tipis, bukan dari batu. Teori ini dikemukakan oleh budayawan Aris Sutomo, penulis buku <em>Temples of Java</em>.</p>
<p>Yang menarik, ada dugaan lain bahwa awalnya danau ini bagian dari laut yaitu terbentuk dari laut yang terjebak, karena ditemukannya beberapa sumur yang airnya asin di di Desa Candirejo, Sigug, dan Ngasinan. Selain itu, bebatuan karang di Bukit Menoreh di sebelah selatan Borobudur ditengarai sebagai karang laut zaman dahulu.</p>
<p>Bila Van Erp mempertanyakan bukti-bukti prasasti, tim Helmy menggunakan prasasti toponim (asal mula penamaan) nama daerah di sekitar Borobudur, yang berkaitan dengan lingkungan air. Misalnya nama desa Bumi Segoro  di sebelah barat daya Borobudur, yang mana &#8220;bumi&#8221; berarti daratan dan &#8220;segoro&#8221; berarti laut atau danau. Juga ada desa bernama Sabrang Rowo (menyeberang rawa/danau) di sebelah selatan Borobudur.</p>
<p><img src="http://jengjeng.matriphe.com/wp-content/uploads/2010/02/lapisan-tanah.jpg" alt="Lapisan tanah di salah satu tepi Sungai Progo" title="Lapisan tanah di salah satu tepi Sungai Progo" width="350" height="263" class="alignnone size-full wp-image-1451" /></p>
<p>Penelitian tim dari UPN ini bertujuan untuk mencari tahu sejarah perkembangan lingkungan Borobudur dari waktu ke waktu, mulai dari awal terbentuknya danau, yaitu dugaan air laut yang terjebak hingga berkembang menjadi danau, kemudian danau menjadi rawa, dan rawa menjadi dataran, menggunakan analisis lapisan tanah dan batuan.</p>
<p>Selain tim peneliti dari UPN ini, penelitian serupa untuk membuktikan hipotesa Nieuwenkamp juga dilakukan pernah oleh seorang ahli geologi bernama <em>Van Bemmelen</em> pada tahun 1949.</p>
<p>Dalam bukunya yang berjudul <em>The Geology of Indonesia</em> (Geologi Indonesia), Van Bemmelen menyebutkan di daerah Magelang bagian selatan dulu pernah terbentuk danau yang terbentuk oleh letusan kuat dari Gunung Merapi tahun 1006 M (meski beberapa ahli mempertanyakan catatan tahun letusan Merapi tahun 1006 M ini).</p>
<p>Letusan ini mengakibatkan sebagian puncak Merapi longsor ke arah barat daya, kemudian tertahan oleh Bukit Menoreh bagian timur yang berada di selatan daerah Borobudur. Akibatnya, material longsoran tersebut membendung aliran Kali Progo di timur Borobudur, sehingga terbentuklah genangan yang luas di dataran Magelang bagian selatan. Setelah berabad-abad, sumbatan yang membendung Kali Progo hilang oleh proses erosi, akhirnya danau mengering.</p>
<p><img src="http://jengjeng.matriphe.com/wp-content/uploads/2010/02/peserta.jpg" alt="Dr. Sutanto bersama rekan-rekan Forum NGI regional Jogja" title="Dr. Sutanto bersama rekan-rekan Forum NGI regional Jogja" width="350" height="263" class="alignnone size-full wp-image-1449" /></p>
<p>Nah, bila memang benar di sekeliling Borobudur saat itu terdapat danau atau rawa, yang menjadi pertanyaan adalah bagaimanakah batu-batu ini dibentuk dan bagaimana batu-batu ini dibawa ke bukit Borobudur untuk disusun menjadi candi. Apakah batu dibawa dalam bentuk utuh atau sudah berbentuk potongan-potongan balok batu?</p>
<p>Bila batuan dibawa dalam bentuk balok-balok itu, di manakah bengkel pemotongan batu ini? Bila memang dilakukan di tempat lain, di mana kah letak pemotongan batu ini? Bila batu dibawa dalam bentuk utuh kemudian dibentuk di bukit Borobudur, di mana kah &#8220;sampah&#8221; batu bekas ukiran dibuang?</p>
<p>Borobudur rupanya mempunyai sejarah dan pesona yang sampai sekarang masih menjadi misteri. <img src='http://jengjeng.matriphe.com/smilies/yahoo_smiley.gif' alt='&#58;&#41;' class='wp-smiley' width='18' height='18' title='&#58;&#41;' /></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://jengjeng.matriphe.com/menelusuri-jejak-danau-purba-borobudur.html/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>27</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Kaos Gratis dari Yogyes</title>
		<link>http://jengjeng.matriphe.com/kaos-gratis-dari-yogyes.html</link>
		<comments>http://jengjeng.matriphe.com/kaos-gratis-dari-yogyes.html#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 08 Sep 2008 07:58:51 +0000</pubDate>
		<dc:creator>matriphe</dc:creator>
				<category><![CDATA[Opini]]></category>
		<category><![CDATA[info]]></category>
		<category><![CDATA[kaos]]></category>
		<category><![CDATA[Yogyakarta]]></category>
		<category><![CDATA[yogyes]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://jengjeng.matriphe.com/index.php/2008/09/08/kaos-gratis-dari-yogyes.html</guid>
		<description><![CDATA[Beberapa waktu yang lalu saya mendapatkan kiriman kaos dari YogYes. Kalo dihitung-hitung, ada 3 kali saya dapet kaos dari YogYes, termasuk yang sekarang. Kaos-kaos berdesain keren namun nJogja ini bener-bener berguna untuk mengobati kerinduan saya akan Jogja sekaligus mempromosikan pariwisata Jogja. Pertama kali saya dapet kaos pas awal-awal ngeblog. Saat itu ada program promosi YogYes [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><img src="http://jengjeng.matriphe.com/wp-content/uploads/2008/09/did-you-know1.jpg" alt="Did You Know?" title="Did You Know?" width="350" height="263" class="alignnone size-full wp-image-1145" /></p>
<p>Beberapa waktu yang lalu saya mendapatkan <a href="http://www.yogyes.com/id/about/merchandise/t-shirt/" title="KAOS YogYES: Kaos Jogja, Rasa Mancanegara" target="_blank">kiriman kaos dari YogYes</a>. Kalo dihitung-hitung, ada 3 kali saya dapet kaos dari YogYes, termasuk yang sekarang.</p>
<p>Kaos-kaos berdesain keren namun nJogja ini bener-bener berguna untuk mengobati kerinduan saya akan Jogja sekaligus mempromosikan pariwisata Jogja.</p>
<p><span id="more-799"></span>Pertama kali saya dapet kaos pas awal-awal ngeblog. Saat itu ada program promosi YogYes bernama <a href="http://www.yogyes.com/id/tour-de-djokdja/" title="Tour de Djokdja" target="_blank">Tour de Djokdja</a>. Meskipun saya bukan termasuk yang mendapatkan undian, namun saya mendapat kaos ini ketika main ke kantor YogYes. <img src='http://jengjeng.matriphe.com/smilies/yahoo_bigsmile.gif' alt='&#58;&#68;' class='wp-smiley' width='18' height='18' title='&#58;&#68;' /></p>
<p>Kaos kedua saya dapatkan pas acara <a href="http://blog.matriphe.com/index.php/2006/12/12/peluncuran-tour-de-djokdja/" title="Peluncuran Tour de Djokdja" target="_blank">launching Tour de Djokdja</a>. Sebuah kaos dengan kemasan menarik plus sebuah mug keren. Kaos ini saya dapat karena saya bisa menjawab soal ketika acara kuis pemainan. <img src='http://jengjeng.matriphe.com/smilies/yahoo_bigsmile.gif' alt='&#58;&#68;' class='wp-smiley' width='18' height='18' title='&#58;&#68;' /></p>
<p>Kaos ketiga saya dapat karena saya ditawari begitu saja. Hoho, kok bisa? Mungkin ini salah satu cara YogYes mempromosikan kaosnya. Setau saya, ada beberapa bloger yang dapat juga.</p>
<p>Yang menarik, selain desainnya yang keren, kaos ini juga sangat informatif. Dengan mengangkat tema &#8220;<a href="http://www.yogyes.com/id/about/fun-stuff/did-you-know/" title="Did You Know?" target="_blank">Did You Know?</a>&#8220;, YogYes mencoba memberikan informasi sejarah dan latar belakang suatu tempat di Jogja dengan cara yang unik.</p>
<p>Beberapa desain kaos yang mengambil informasi dari artikel-artikel di YogYes ini, (baru) ada 4 buah, yaitu mengenai <a href="http://www.yogyes.com/id/yogyakarta-tourism-object/museum-and-monument/tugu-jogja/" title="Tugu Jogja" target="_blank">Tugu Jogja</a>, <a href="http://www.yogyes.com/id/yogyakarta-tourism-object/candi/ijo/" title="Candi Ijo" target="_blank">Candi Ijo</a>, <a href="http://www.yogyes.com/id/yogyakarta-tourism-object/beach/sadeng/" title="Pantai Sadeng" target="_blank">Pantai Sadeng</a>, dan <a href="http://www.yogyes.com/id/yogyakarta-tourism-object/places-of-interest/pg-madukismo/" title="P.G. Madukismo" target="_blank">Pabrik Gula Madukismo</a>.</p>
<p>Salah satu yang saya dapat adalah desain Pantai Sadeng, yang menuliskan bahwa dulunya aliran sungai Bengawan Solo (purba) itu mengalirnya menuju ke hilirnya yang sekarang menjadi Pantai Sadeng ini. Namun aliran Bengawan Solo berubah akibat pergerakan lempeng Australia membuat daerah ini &#8220;lebih tinggi&#8221; yang mengakibatkan jalur Bengawan Solo berubah.</p>
<p>Kaos ini kemudian saya hadiahkan kepada <a href="http://nonadita.dagdigdug.com/" title="Pacarku Dita" target="_blank">Dita</a>, sebagai kenang-kenangan biar dia selalu <a href="http://nonadita.com/2008/08/17/yogyakarta-dan-cinta-yang-baru-dimulai/" title="Yogyakarta dan Cinta yang Baru Dimulai" target="_blank">ingat Jogja</a>, meskipun ukurannya kebesaran. <img src='http://jengjeng.matriphe.com/smilies/yahoo_giggle.gif' alt='&#59;&#41;&#41;' class='wp-smiley' width='18' height='18' title='&#59;&#41;&#41;' /></p>
<p>Nah, pengen juga dapet kaosnya? Silakan beli. Hehehe.. <img src='http://jengjeng.matriphe.com/smilies/yahoo_bigsmile.gif' alt='&#58;&#68;' class='wp-smiley' width='18' height='18' title='&#58;&#68;' /></p>
<p>Kamu juga bisa dapet kaos secara gratis. Caranya, pasang widget yang disediakan YogYes di blog kamu, kemudian blog kamu itu akan diundi untuk mendapatkan kaos gratis.</p>
<p>Silakan koprol langsung ke <a href="http://www.yogyes.com/id/about/fun-stuff/did-you-know/" title="http://www.yogyes.com/id/about/fun-stuff/did-you-know/" target="_blank">TKP</a> untuk info lengkapnya. <img src='http://jengjeng.matriphe.com/smilies/yahoo_smiley.gif' alt='&#58;&#41;' class='wp-smiley' width='18' height='18' title='&#58;&#41;' /></p>
<p>Namun maaf, model cantik yang tertampil di atas tidak disertakan dalam paket kaos, karena model tersebut udah ada yang punya.. <img src='http://jengjeng.matriphe.com/smilies/yahoo_blush.gif' alt='&#58;&#34;&#62;' class='wp-smiley' width='18' height='18' title='&#58;&#34;&#62;' /></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://jengjeng.matriphe.com/kaos-gratis-dari-yogyes.html/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>88</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Sampai Jumpa Lagi, Jogja!</title>
		<link>http://jengjeng.matriphe.com/sampai-jumpa-lagi-jogja.html</link>
		<comments>http://jengjeng.matriphe.com/sampai-jumpa-lagi-jogja.html#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 30 Apr 2008 06:08:44 +0000</pubDate>
		<dc:creator>matriphe</dc:creator>
				<category><![CDATA[Arkais]]></category>
		<category><![CDATA[curhat]]></category>
		<category><![CDATA[Yogyakarta]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://jengjeng.matriphe.com/index.php/2008/04/30/sampai-jumpa-lagi-jogja.html</guid>
		<description><![CDATA[Setelah selama 5 tahun lebih tinggal di Jogja, akhirnya tibalah saatnya saya untuk meninggalkan kota ini. Terlalu banyak kenangan dan cerita yang tertoreh, yang bila semua dituliskan di dalam blog pun, rasanya ndak akan cukup. Walau rasanya cukup banyak tempat dan sudut yang saya jelajahi, namun semakin banyak tempat dan sudut yang menurut saya belum [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><img src="http://jengjeng.matriphe.com/wp-content/uploads/2008/04/tugu1.jpg" alt="Tugu Jogja" title="Tugu Jogja" width="350" height="263" class="alignnone size-full wp-image-1176" /></p>
<p>Setelah selama 5 tahun lebih tinggal di Jogja, akhirnya tibalah saatnya saya untuk meninggalkan kota ini. Terlalu banyak kenangan dan cerita yang tertoreh, yang bila semua dituliskan di dalam blog pun, rasanya ndak akan cukup.</p>
<p>Walau rasanya cukup banyak tempat dan sudut yang saya jelajahi, namun semakin banyak tempat dan sudut yang menurut saya belum ketahui. Ndak habis rasanya untuk menjelajahi seluruh penjuru Jogja.</p>
<p><span id="more-689"></span>Bila boleh memilih, tentu saya akan memilih untuk tinggal di kota yang saya cintai ini. Namun apa daya, terkadang kita harus meninggalkan sesuatu yang kita cintai untuk semakin menambah cinta kita.</p>
<p>Begitu pula dengan Jogja. Kota yang menjadi zona nyaman dan aman serta menentramkan, kota dengan ritme yang seolah berjalan pelan dan santai, dengan keramahan dan kesantunan warganya, namun rupanya harus saya tinggalkan.</p>
<p><img src='http://jengjeng.matriphe.com/wp-content/uploads/2008/04/peluk-tugu.jpg' alt='Peluk Tugu' class="alignright" /></p>
<p>&#8220;Kemapanan adalah penghambat kemajuan&#8221;, begitu salah satu slogan motivasi yang pernah saya dengar di televisi. Slogan yang akhirnya menyadarkan saya bahwa hidup harus terus berjalan, menghadapi rintangan dan ujian untuk meningkatkan kualitas diri.</p>
<p>Dan akhirnya <a href="http://klithikan.cahandong.org/bhiksu-tong-zam-chong.html" title="Bhiksu Tong Zam Chong" target="_blank">ke Barat</a> lah saya akan menuju. Kota kejam sekejam ibu tiri namun tak kejam soal gaji.. <img src='http://jengjeng.matriphe.com/smilies/yahoo_bigsmile.gif' alt='&#58;&#68;' class='wp-smiley' width='18' height='18' title='&#58;&#68;' /></p>
<p>Rasanya saya telah menerima karma. Membenci kota itu justru membuat saya sekarang harus menghadapinya. Sepertinya lain kali saya harus berhati-hati dengan ucapan saya.. <img src='http://jengjeng.matriphe.com/smilies/yahoo_giggle.gif' alt='&#59;&#41;&#41;' class='wp-smiley' width='18' height='18' title='&#59;&#41;&#41;' /></p>
<p>Kini barulah terasa, kesan mendalam ketika mendengar lagu &#8220;Yogyakarta&#8221; yang dipopulerkan oleh KLA Project pada tahun 90-an. Padahal dulunya ketika mendengar lagu itu terasa biasa-biasa saja.</p>
<p>Juga lagu &#8220;Ngayogjakarta&#8221; yang dibawakan kelompok musik asal Solo, Genk Kobra. Begitu njawani dan lekat pada kehidupan sehari-hari yang kadang ndak kita sadari.</p>
<p>Saya tentu akan merindukan saat-saat bersama <a href="http://cahandong.org/" title="jelata CA" target="_blank">kawan-kawan</a> di Jogja. Gojek kere, guyon goblok, ngangkring, melakukan <a href="http://wiki.cahandong.org/" title="Wiki CA" target="_blank">hal bodoh</a> dan <a href="http://klithikan.cahandong.org/" title="Pasar Klithikan" target="_blank">sia-sia</a>, ndoyok jeng-jeng keluyuran ke <a href="http://jengjeng.matriphe.com/index.php/tag/candi/" title="candi">candi</a> dan tempat ndak jelas lainnya..</p>
<p>Ah, namun ndak perlu bersedih. Program baru &#8220;Jengjeng van Ndoyok de Batavia&#8221; sudah saya persiapkan. <img src='http://jengjeng.matriphe.com/smilies/yahoo_giggle.gif' alt='&#59;&#41;&#41;' class='wp-smiley' width='18' height='18' title='&#59;&#41;&#41;' /></p>
<p>Berpikiran positif tentu akan lebih baik. Seperti lirik lagu <a href="http://juminten.cahandong.org/serenade.html" title="Serenade" target="_blank">Serenade</a> yang sering dinyanyikan para pengamen jalanan kalo pas <a href="http://juminten.cahandong.org/" title="Jumat Midnitne Tenguk-Tenguk" target="_blank">Jumintenan</a>.</p>
<blockquote><p>Kenapa harus takut pada matahari?<br />
Kepalkan tangan dan halau setiap panasnya<br />
Kenapa harus takut pada malam hari?<br />
Nyalakan api dalam hati<br />
Usir segala kelamnya..</p></blockquote>
<p>Kepada Tugu saya telah berjanji. Memeluknya berarti akan kembali lagi. Kembali ke Jogja. Sampai jumpa lagi, Jogja!</p>
<blockquote><p>
Izinkanlah aku untuk slalu pulang lagi<br />
Bila hati mulai sepi tanpa terobati..
</p></blockquote>
<p>Sayup-sayup terdengar lagu Yogyakarta-nya KLA Project..</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://jengjeng.matriphe.com/sampai-jumpa-lagi-jogja.html/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>77</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Soto Djiancuk, Soto Uenak ala Jawa Timur</title>
		<link>http://jengjeng.matriphe.com/soto-djiancuk-soto-uenak-ala-jawa-timur.html</link>
		<comments>http://jengjeng.matriphe.com/soto-djiancuk-soto-uenak-ala-jawa-timur.html#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 26 Apr 2008 05:51:58 +0000</pubDate>
		<dc:creator>matriphe</dc:creator>
				<category><![CDATA[Kuliner]]></category>
		<category><![CDATA[soto]]></category>
		<category><![CDATA[Yogyakarta]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://jengjeng.matriphe.com/index.php/2008/04/26/soto-djiancuk-soto-uenak-ala-jawa-timur.html</guid>
		<description><![CDATA[Kata &#8220;djiancuk&#8221; atau lebih sering diucapkan &#8220;jancuk&#8221; saja, bagi sebagian orang, terutama orang Jawa Timur, mempunyai arti yang kasar dan bisa ngajak perang. Namun di Jogja, kata &#8220;djiancuk&#8221; ini justru dijadikan branding oleh sebuah warung soto yang unik, yang mengklaim merupakan warung yang pertama dan satu-satunya di Jogja yang menyediakan menu soto ala Jawa Timur, [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><img src="http://jengjeng.matriphe.com/wp-content/uploads/2008/04/soto-djiancuk1.jpg" alt="Soto Djiancuk" title="Soto Djiancuk" width="350" height="263" class="alignnone size-full wp-image-1177" /></p>
<p>Kata &#8220;djiancuk&#8221; atau lebih sering diucapkan &#8220;jancuk&#8221; saja, bagi sebagian orang, terutama orang Jawa Timur, mempunyai arti yang kasar dan bisa ngajak perang.</p>
<p>Namun di Jogja, kata &#8220;djiancuk&#8221; ini justru dijadikan branding oleh sebuah warung soto yang unik, yang mengklaim merupakan warung yang pertama dan satu-satunya di Jogja yang menyediakan menu soto ala Jawa Timur, terutama dari kota Blitar.</p>
<p><span id="more-684"></span>Entah apa alasan dipilihnya kata ini. Mungkin ini merupakan ungkapan ekspresi ketika kita merasakan sesuatu yang luar biasa enak, hingga yang muncul ndak lagi pujian namun makian.</p>
<p>&#8220;Jiancuk..!! Uenak e, rek!!&#8221; <img src='http://jengjeng.matriphe.com/smilies/yahoo_giggle.gif' alt='&#59;&#41;&#41;' class='wp-smiley' width='18' height='18' title='&#59;&#41;&#41;' /></p>
<p>Selain namanya, rupanya warung soto yang terletak di tepi Rawa Kalibayem, Sonopakis, Jogja ini mempunyai beberapa keunikan.</p>
<p>Kami pun memesan menu andalan warung ini, yaitu tentu saja, soto. Melihat dari &#8220;angkring&#8221; tempat meracik soto, langsung mengingatkan saya akan nuansa Madura.</p>
<p>Sambil menunggu soto kami dibuat, saya pun memandangi dengan seksama keadaan sekeliling warung ini.</p>
<p><img src='http://jengjeng.matriphe.com/wp-content/uploads/2008/04/suasana.jpg' alt='Suasana Warung Soto Djiancuk' /></p>
<p>Tembok bangunan sengaja ndak disemen untuk memperlihatkan motif batu bata dan semen. Banyak lukisan terpampang di dinding yang sekilas seperti hanya guratan surealis, namun bila diamati ternyata lukisan ini banyak mengangkat tema-tema seksualitas dan erotisme.</p>
<p>Beberapa gambar Pak Karno juga terpampang di tembok, menunjukkan bahwa si pemilik warung begitu mengagumi sosok mantan presiden pertama itu.</p>
<p>Di luar ada beberapa lincak yang langsung mepet ke sawah, sehingga kita bisa menikmati soto sambil menikmati suasana rawa Kalibayem yang menyejukkan dengan leluasa.</p>
<p><img src='http://jengjeng.matriphe.com/wp-content/uploads/2008/04/botol-kecap.jpg' alt='Botol kecap unik' class="alignright" /></p>
<p>Kami pun memilih duduk di dalam. Pandangan saya langsung tertuju pada sebentuk botol keramik aneh yang lucu. Oh, rupanya botol bertuliskan huruf-huruf kanji yang berbentuk seperti wadah tuak dalam film Cina klasik &#8220;Drunken Master&#8221; ini adalah botol kecap!</p>
<p>Ndak sengaja kaki saya menendang bagian dasar meja. Wow! Setelah diamati, rupanya meja bundar besar di hadapan saya ini adalah kayu bekas tempat gulungan kabel telepon itu!</p>
<p>Pantas saja saya menemukan beberapa tulisan berupa kode angka pada permukaan meja dan sebuah lubang pada tengah-tengah meja.</p>
<p>Beberapa meja rupanya juga dibuat dari bekas tempat gulungan kabel, namun berukuran lebih kecil. Sungguh ide yang nyentrik.</p>
<p>Tiba-tiba kami dikagetkan oleh suara gemerincing. Ternyata ibu berparas Madura yang kental sedang menuangkan kecap ke dalam soto pesanan kami.</p>
<p>Botol kecap rupanya diikat dengan tali yang digantungi beberapa lonceng kecil, sehingga ketika botol kecap diangkat maka lonceng-lonceng tersebut akan berbunyi.</p>
<p>Akhirnya soto pesanan kami datang. Saya sempat terkejut, kok penyajiannya menggunakan mangkok mungil seperti pada Soto Kudus?</p>
<p>Awalnya saya mengira soto ini adalah Soto Madura, melihat dari bentuk angkringnya. Namun soto ini beda dengan Soto Madura yang pernah saya coba.</p>
<p>Menurut informasi yang saya ketahui, soto ini adalah soto ala Blitar. Namun karena saya belum pernah nyobain Soto Blitar, saya ndak berani memastikan.</p>
<p>Komposisi soto pun mirip dengan Soto Madura yaitu pada daging sapi, namun kuahnya ndak berwarna kuning. Potongan telur, irisan kentang goreng, dan kuah yang bening-coklat mengingatkan saya pada Soto Banjar.</p>
<p>Mencicipi kuahnya, rasa merica langsung nendang di tenggorokan. Benar dugaan saya. Saya kok merasakan perpaduan antara Soto Madura dan Soto Banjar pada soto ini.</p>
<p>Yang lucu, pada soto ini terdapat tauge, yang lebih sering ditemukan pada soto-soto ala Jawa Tengah.</p>
<p><img src='http://jengjeng.matriphe.com/wp-content/uploads/2008/04/hidangan-soto-djiancuk.jpg' alt='Hidangan Soto Djiancuk' /></p>
<p>Secara keseluruhan, soto ini patoet ditjoebaken. Walau dengan porsi seuprit begini, harganya kok saya rasa terlalu mahal. Total kerusakan yang ditimbulkan setelah memesan 3 porsi soto plus 2 minum dan sebiji perkedel dihargai 21 ribu rupiah.</p>
<p>Namun secara suasana, warung soto unik ini patut dikunjungi. Banyak benda-benda etnik dan unik dapat ditemukan di sini. Pokoke jan klasik banget dan nyeni.</p>
<p>Berikut saya sertakan peta untuk menuju ke sana.</p>
<p><img src='http://jengjeng.matriphe.com/wp-content/uploads/2008/04/peta-soto-djiancuk.jpg' alt='Peta Soto Djiancuk' /></p>
<p>Selamat mencoba!</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://jengjeng.matriphe.com/soto-djiancuk-soto-uenak-ala-jawa-timur.html/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>60</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Wedang Uwuh, Wedang &#8220;Sampah&#8221; Khas Imogiri</title>
		<link>http://jengjeng.matriphe.com/wedang-uwuh-wedang-sampah-khas-imogiri.html</link>
		<comments>http://jengjeng.matriphe.com/wedang-uwuh-wedang-sampah-khas-imogiri.html#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 22 Apr 2008 09:46:40 +0000</pubDate>
		<dc:creator>matriphe</dc:creator>
				<category><![CDATA[Kuliner]]></category>
		<category><![CDATA[imogiri]]></category>
		<category><![CDATA[wedang]]></category>
		<category><![CDATA[Yogyakarta]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://jengjeng.matriphe.com/index.php/2008/04/22/wedang-uwuh-wedang-sampah-khas-imogiri.html</guid>
		<description><![CDATA[&#8220;Uwuh&#8221; dalam bahasa Jawa bermakna &#8220;sampah&#8221;. Sampah yang dimaksud adalah sampah dedaunan organik. Namun di Imogiri, Wedang Uwuh justru menjadi minuman khas. Meski bernama &#8220;uwuh&#8221;, namun minuman justru menyegarkan dan menyehatkan. Kok bisa? Makam raja-raja Yogyakarta dan Surakarta yang sering disebut dengan Pajimatan Imogiri ini rupanya mempunyai tradisi kuliner yang unik. Salah satunya adalah Wedang [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><img src="http://jengjeng.matriphe.com/wp-content/uploads/2008/04/wedang-uwuh1.jpg" alt="Wedang Uwuh Khas Imogiri" title="Wedang Uwuh Khas Imogiri" width="350" height="263" class="alignnone size-full wp-image-1178" /></p>
<p>&#8220;Uwuh&#8221; dalam bahasa Jawa bermakna &#8220;sampah&#8221;. Sampah yang dimaksud adalah sampah dedaunan organik.</p>
<p>Namun di Imogiri, Wedang Uwuh justru menjadi minuman khas. Meski bernama &#8220;uwuh&#8221;, namun minuman justru menyegarkan dan menyehatkan.</p>
<p>Kok bisa?</p>
<p><span id="more-681"></span>Makam raja-raja Yogyakarta dan Surakarta yang sering disebut dengan Pajimatan Imogiri ini rupanya mempunyai tradisi kuliner yang unik. Salah satunya adalah Wedang Uwuh.</p>
<p>Disebut demikian memang karena penampilan minuman ini mirip-mirip &#8220;uwuh&#8221; atau &#8220;sampah dedaunan&#8221;.</p>
<p>Terang saja, di dalam gelas, terdapat berbagai macam rempah dan dedaunan, antara lain potongan jahe gepuk yang dibakar, serutan kayu manis, serutan kayu cengkeh, daun cengkeh, daun pala, secang, dan gula batu yang diseduh dengan air mendidih.</p>
<p><img src='http://jengjeng.matriphe.com/wp-content/uploads/2008/04/isi-uwuh.jpg' alt='Isi Wedang Uwuh' /></p>
<p>Warna air yang merah cerah terbentuk dari air seduhan secang. Bau harum muncul dari aroma kayu manis. Rasa hangat-pedas terbentuk dari jahe dan dedaunan rempah lainnya.</p>
<p>Akibat racikan berbagai rempah inilah, wedang yang sering juga disebut dengan Wedang Jahe Cengkeh ini dipercaya berkhasiat dan mampu menjaga kesehatan badan.</p>
<p>Waktu yang pas untuk menikmati wedang ini tentu saja ketika cuaca dingin. Bisa juga menikmati wedang ini setelah lelah berolah raga di seputaran Pajimatan Imogiri.</p>
<p>Ya, suasana Pajimatan Imogiri di Minggu pagi memang ndak jauh beda dengan Bunderan UGM yang selalu ramai dengan orang-orang yang hendak berolah raga atau sekedar berwisata bersama keluarga.</p>
<p>Lebih nikmat lagi bila menikmati wedang ini ditemani dengan Pecel Kembang Turi, yang banyak juga dijual di tempat ini. Hm.. Jadi inget <a href="http://jengjeng.matriphe.com/index.php/2007/04/17/pecel-nasi-merah-bumbu-wijen.html" title="Pecel Nasi Merah Bumbu Wijen">Pecel Ndeso khas Solo</a> itu. <img src='http://jengjeng.matriphe.com/smilies/yahoo_drool.gif' alt='&#61;&#112;&#126;' class='wp-smiley' width='18' height='18' title='&#61;&#112;&#126;' /></p>
<p>Uniknya lagi, semua bahan pembuat wedang ini tersedia di kawasan ini. Pohon Pala, pohon Cengkeh, pohon Secang, Kayu Manis semua ada di kawasan berbukit yang rindang ini.</p>
<p>Berkunjung ke Makam Imogiri tentu menjadi kurang lengkap bila belum mencoba Wedang Uwuh. <img src='http://jengjeng.matriphe.com/smilies/yahoo_smiley.gif' alt='&#58;&#41;' class='wp-smiley' width='18' height='18' title='&#58;&#41;' /></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://jengjeng.matriphe.com/wedang-uwuh-wedang-sampah-khas-imogiri.html/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>42</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Candi Gebang, Candi Hindu Tertua di Jogja</title>
		<link>http://jengjeng.matriphe.com/candi-gebang-candi-hindu-tertua-di-jogja.html</link>
		<comments>http://jengjeng.matriphe.com/candi-gebang-candi-hindu-tertua-di-jogja.html#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 20 Apr 2008 07:08:31 +0000</pubDate>
		<dc:creator>matriphe</dc:creator>
				<category><![CDATA[Candi & Tempat Ibadah]]></category>
		<category><![CDATA[Destinasi]]></category>
		<category><![CDATA[candi]]></category>
		<category><![CDATA[Hindu]]></category>
		<category><![CDATA[Yogyakarta]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://jengjeng.matriphe.com/index.php/2008/04/20/candi-gebang-candi-hindu-tertua-di-jogja.html</guid>
		<description><![CDATA[Di kawasan utara Jogja, sekitar 12 km dari pusat kota, terdapat sebuah candi yang orang mungkin ndak banyak tau. Walau terletak di kawasan yang padat penduduknya, keberadaan candi ini seolah-olah masih terkucilkan. Candi Gebang, candi mungil ini ditengarai merupakan candi bercorak Hindu tertua di Jogja, bahkan diperkirakan lebih tua dari Candi Kalasan, candi Budha tertua [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><img src="http://jengjeng.matriphe.com/wp-content/uploads/2008/04/candi-gebang1.jpg" alt="Candi Gebang" title="Candi Gebang" width="350" height="263" class="alignnone size-full wp-image-1179" /></p>
<p>Di kawasan utara Jogja, sekitar 12 km dari pusat kota, terdapat sebuah candi yang orang mungkin ndak banyak tau. Walau terletak di kawasan yang padat penduduknya, keberadaan candi ini seolah-olah masih terkucilkan.</p>
<p>Candi Gebang, candi mungil ini ditengarai merupakan candi bercorak Hindu tertua di Jogja, bahkan diperkirakan lebih tua dari <a href="http://jengjeng.matriphe.com/index.php/2007/08/06/candi-kalasan-candi-budha-tertua-di-jogja.html" title="Candi Kalasan, Candi Budha Tertua di Jogja">Candi Kalasan, candi Budha tertua di Jogja</a> itu.</p>
<p><span id="more-674"></span>Menuju ke sini, seakan-akan memberikan kesan kontras. Candi yang terletak di Desa Gebang, Kelurahan Wedomartani, Kecamatan Ngemplak, Sleman, yang merupakan kawasan pemukiman padat ini ternyata kondisinya cukup memprihatinkan.</p>
<p>Mengikuti papan petunjuk ke arah candi yang mulai usang membuat kita seakan bertanya, apa iya candi ini terletak di antara pemukiman perumahan? Benar saja, candi ini rupanya memang terletak di &#8220;pinggir&#8221; kawasan perumahan itu.</p>
<p>Terletak di tengah areal persawahan, jalan menuju ke candi ini pun bisa dibilang jalan tanah setapak. Ah, tapi saya pernah menyusuri candi yang lokasinya lebih mengenaskan, kok. <img src='http://jengjeng.matriphe.com/smilies/yahoo_bigsmile.gif' alt='&#58;&#68;' class='wp-smiley' width='18' height='18' title='&#58;&#68;' /></p>
<p>Menakjubkan! Walau lokasinya &#8220;terpencil&#8221;, namun kondisi kompleks candi ini sangat terawat. Berpagarkan kawat berduri mengelilingi, makin menguatkan kesan &#8220;terpencil&#8221; tersebut.</p>
<p>Ketika saya datang di sore hari, pintu masuk pagar terkunci. Di dalam pos penjaga, ndak ada orang yang bisa saya temui.</p>
<p>Saya melihat sebuah selokan tanah yang terdapat lubang kecil di bawah untaian kawat berduri tersebut. Pikiran ala maling saya bekerja, saya pun nekad menerobos masuk melalui selokan tadi! <img src='http://jengjeng.matriphe.com/smilies/yahoo_devil.gif' alt='&#62;&#58;&#41;' class='wp-smiley' width='18' height='18' title='&#62;&#58;&#41;' /></p>
<p>Ah, perasaan amaze ketika melihat bangunan candi kembali merasuk jiwa. Sebuah perasaan yang ndak saya temukan di tempat lain, kecuali di candi tentunya. Apalagi dengan situasi sunyi semacam ini, membuat saya lebih leluasa menikmati dan mengagumi keindahannya. Ah, benar-benar menenangkan jiwa!</p>
<p>Candi ini ndak besar, berukuran sekitar 5,25 x 5,25 meter dengan tinggi 7,75 meter, terletak tepat di tengah-tengah halaman yang banyak ditumbuhi pohon sukun dan akasia.</p>
<p>Ndak banyak informasi mengenai latar belakang dibangunnya candi yang ditemukan pada bulan November 1936 ini. Bahkan siapa raja yang membangun dan maksudnya apa juga masih misteri.</p>
<p>Berawal dari penemuan sebuah arca Ganesha oleh penduduk, yang setelah ditelusuri rupanya arca ini merupakan bagian dari bangunan candi. Ndak ada prasasti yang ditemukan sehingga usia candi hanya bisa diperkirakan dari corak dan bentuk fisik bangunan candi.</p>
<p>Candi ketika ditemukan kondisinya sangat mengenaskan, yaitu berupa reruntuhan bangunan. Pemugaran kembali candi ini kemudian dilakukan pada tahun 1937 dan selesai pada tahun 1939 di bawah pimpinan ilmuwan Belanda, Prof. Dr. Ir. Van Romondt.</p>
<p>Ciri-ciri fisik bangunan menunjukkan bahwa candi ini bernafaskan Hindu, dengan ditemukannya arca Ganesha, Yoni, dan Lingga.</p>
<p>Seluruh tubuh candi ini sangat polos, tanpa ukiran relief, ndak seperti candi Hindu lainnya. Kalo pun ada, kesannya masih sangat sederhana. Dari sinilah diperkirakan, candi ini dibangun pada awal-awal abad ke-7, sekitar tahun 730 sampai 800 M.</p>
<p>Candi ini menghadap ke timur, dengan sebuah ruangan berisi Yoni dengan cerat menghadap utara tanpa Lingga. Pada bagian atas pintu masuk, terdapat semacam kanopi dengan hiasan Kala yang sederhana.</p>
<p>Uniknya, saya ndak menemukan tangga untuk masuk ke dalam ruangan ini yang biasanya berhiaskan Makara.</p>
<p>Di kanan-kiri pintu masuk, hanya ditemukan arca Nadiswara pada sebelah kanan, sedangkan arca Mahakala di sebelah kiri ndak ditemukan.</p>
<p>Dinding candi sebelah utara dan selatan hanya ditemukan relung kosong, sedangkan di bagian barat terdapat arca Ganesha yang berada pada sebuah Yoni dengan cerat menghadap utara.</p>
<p><img src='http://jengjeng.matriphe.com/wp-content/uploads/2008/04/ganesha.jpg' alt='Arca Ganesha di atas Yoni' /></p>
<p>Menilik dari ciri candi Hindu yang semasa, seperti yang dapat dilihat pada <a href="http://jengjeng.matriphe.com/index.php/2007/09/03/candi-sambisari-6-setengah-m-di-bawah-tanah.html" title="Candi Sambisari, 6½ m di Bawah Tanah">Candi Sambisari</a> dan pada candi ketiga pada kompleks <a href="http://jengjeng.matriphe.com/index.php/2007/10/05/nuansa-alam-candi-gedong-songo.html" title="Nuansa Alam Candi Gedong Songo">Candi Gedong Songo</a>, seharusnya relung di sebelah utara diisi oleh arca Agastya dan di sebelah selatan adalah arca Dewi Durga.</p>
<p>Kaki candi berupa teras yang tinggi tanpa ukiran relief apa pun juga menunjukkan usia tua dari candi.</p>
<p>Melihat ke atap, saya terkejut. Ada sesuatu yang berbeda bila dibandingkan dengan candi-candi Hindu lainnya. Atap yang terdiri atas 3 tingkat ini cukup unik dan menarik.</p>
<p>Pada tingkat pertama, terdapat sebuah relung dengan relief kepala manusia pada keempat sisinya. Dari bentuk penutup kepala manusia ini, diperkirakan merupakan gambaran pendeta Hindu.</p>
<p>Hal ini diperkuat dengan sebuah relung berhias Kala-Makara pada atap tingkat kedua yang kali ini berupa sosok manusia yang sedang duduk bersila.</p>
<p><img src='http://jengjeng.matriphe.com/wp-content/uploads/2008/04/hiasan-atap.jpg' alt='Hiasan pada atap candi' /></p>
<p>Pada bagian puncak, atapnya ndak berbentuk Ratna atau Stupa, namun merupakan Lingga silinder yang berada di atas Seroja.</p>
<p>Ketika saya merunut, rupanya bila Lingga di atap ini ditarik garis lurus, posisinya tepat berada di tengah-tengah Yoni yang ada di dalam candi. Hal ini diperkuat dengan adanya relung pada bagian atap sebelah dalam candi.</p>
<p>Hiasan Lingga di atas Seroja ini juga ada pada masing-masing tingkat atap. Selain itu, hiasan berupa Antefix pun dapat kita temukan pada tingkat bagian atas.</p>
<p>Dari ukiran-ukiran arca pendeta Hindu ini, bisa jadi candi ini sering digunakan oleh para pendeta untuk menenangkan diri dan bertapa. Hal ini didukung dengan suasana nyaman, sejuk, dan asri karena di sekeliling terdapat pohon-pohon yang rindang. Saya bahkan menemukan beberapa ekor kupu-kupu yang berterbangan di sekitar candi ini seakan memberikan kesan damai.</p>
<p><img src='http://jengjeng.matriphe.com/wp-content/uploads/2008/04/kompleks-candi-gebang.jpg' alt='Kompleks Candi Gebang' /></p>
<p>Berkunjung ke kompleks candi ini bisa menjadi alternatif wisata dan edukasi. Suasana asri dan menenangkan ini bisa menjadi obat gundah gulana, seperti apa yang saya rasakan kemarin itu.</p>
<p>Karena hari mulai beranjak senja, saya pun terpaksa mengakhiri kunjungan saya di candi ini. Ah, sepertinya saya akan merindukan lagi tempat ini..</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://jengjeng.matriphe.com/candi-gebang-candi-hindu-tertua-di-jogja.html/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>40</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Sensasi Pedas-Manis-Dingin Rujak Es Krim</title>
		<link>http://jengjeng.matriphe.com/sensasi-pedas-manis-dingin-rujak-es-krim.html</link>
		<comments>http://jengjeng.matriphe.com/sensasi-pedas-manis-dingin-rujak-es-krim.html#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 16 Apr 2008 11:06:12 +0000</pubDate>
		<dc:creator>matriphe</dc:creator>
				<category><![CDATA[Kuliner]]></category>
		<category><![CDATA[es]]></category>
		<category><![CDATA[rujak]]></category>
		<category><![CDATA[Yogyakarta]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://jengjeng.matriphe.com/index.php/2008/04/16/sensasi-pedas-manis-dingin-rujak-es-krim.html</guid>
		<description><![CDATA[Pedas, biasanya membawa sensasi hot, panas, dan berkeringat. Lalu bagaimana kalo sensasi pedas justru dipadukan dengan nuansa manis dan dingin? Di Jogja, ada jajanan khas yang cukup banyak bertebaran. Jajanan yang mantab disantap di kala panas terik. Jajanan itu adalah Rujak Es Krim. Sebuah perpaduan yang ndak umum namun unik serta kreatif. Rasa pedas dipadukan [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><img src="http://jengjeng.matriphe.com/wp-content/uploads/2008/04/rujak-eskrim1.jpg" alt="Rujak Es Krim" title="Rujak Es Krim" width="350" height="263" class="alignnone size-full wp-image-1180" /></p>
<p>Pedas, biasanya membawa sensasi hot, panas, dan berkeringat. Lalu bagaimana kalo sensasi pedas justru dipadukan dengan nuansa manis dan dingin?</p>
<p>Di Jogja, ada jajanan khas yang cukup banyak bertebaran. Jajanan yang mantab disantap di kala panas terik. Jajanan itu adalah Rujak Es Krim.</p>
<p><span id="more-673"></span>Sebuah perpaduan yang ndak umum namun unik serta kreatif. Rasa pedas dipadukan dengan rasa dingin dan manis es krim justru memberikan sensasi rasa berbeda.</p>
<p>Jangan dibayangkan es krim yang dipakai itu es krim mahal, namun yang dipakai hanyalah <a href="http://jengjeng.matriphe.com/index.php/2008/01/08/romantisme-nostalgia-es-puter.html" title="Romantisme Nostalgia Es Puter">es puter biasa</a>. Hm.. Ternyata selain roti tawar, paduan es puter rupanya juga cukup nendang bila berpadu dengan rujak.</p>
<p>Rujak yang digunakan pun, rujak biasa. Parutan buah-buahan yang terdiri dari ketimun, bengkuang, mangga muda, pepaya, nanas, dan kedondong ini dipadukan dalam air gula jawa dan sambal rujak.</p>
<p>Penyajiannya pun sangat sederhana. Rujak diwadahi dalam mangkuk, kemudian es krim diserut dari tabung dan diletakkan di atas rujak. Ada versi lain rujak yang menambahkan susu kental manis coklat di atas es krim.</p>
<p>Cara makannya pun bisa berbeda-beda. Ada yang menyendokkan dari pinggir satu-satu lalu membiarkan rujak dan es krim yang mulai meleleh berpadu di dalam mulut.</p>
<p>Kalo saya lebih suka mengaduk dahulu es krim dengan rujak sehingga tercipta campuran es krim leleh berisi rujak. Bubur es krim isi rujak, saya bilang.</p>
<p>Namun bagaimana pun cara memakannya, yang penting sensasi kenikmatan rujak es krim ini bisa kita nikmati dengan maksimal. Soal selera, ini tentu berbeda.</p>
<p>Walau bisa dikatakan penjual Rujak Es Krim ini banyak bertebaran, kita harus jeli untuk menemukannya karena biasanya pedagang ini menggelar dagangan di kaki lima atau dengan berkeliling menggunakan gerobak.</p>
<p>Nah, salah satu tempat yang cukup populer menikmati Rujak Es Krim ini adalah di kompleks alun-alun Pura Pakualaman.</p>
<p>Sebuah gerobak mangkal di warung knock-down beratapkan terpal lengkap dengan bangku dan meja kayu. Cukup sederhana namun mampu menghadirkan kesan romantis.</p>
<p>La buktinya, banyak pasangan muda-mudi usia belasan berseragam sekolah yang duduk-duduk mepet menikmati Rujak Es Krim sambil senyum-senyum penuh asmara.. Halah! <img src='http://jengjeng.matriphe.com/smilies/yahoo_youkiddingme.gif' alt='&#58;&#45;&#106;' class='wp-smiley' width='26' height='18' title='&#58;&#45;&#106;' /></p>
<p>Suasana yang rindang karena di alun-alun ini tumbuh 2 pohon beringin tua besar membuat angin bertiup sepoi-sepoi, semakin menambah sensasi rasa jika kita menyantap es ini di siang hari yang panas menyengat.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://jengjeng.matriphe.com/sensasi-pedas-manis-dingin-rujak-es-krim.html/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>50</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Grebeg Maulud, Puncak Acara Sekaten</title>
		<link>http://jengjeng.matriphe.com/grebeg-maulud-puncak-acara-sekaten.html</link>
		<comments>http://jengjeng.matriphe.com/grebeg-maulud-puncak-acara-sekaten.html#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 20 Mar 2008 14:41:50 +0000</pubDate>
		<dc:creator>matriphe</dc:creator>
				<category><![CDATA[Destinasi]]></category>
		<category><![CDATA[Festival, Seni, Budaya]]></category>
		<category><![CDATA[grebeg]]></category>
		<category><![CDATA[kraton]]></category>
		<category><![CDATA[Sekaten]]></category>
		<category><![CDATA[Yogyakarta]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://jengjeng.matriphe.com/index.php/2008/03/20/grebeg-maulud-puncak-acara-sekaten.html</guid>
		<description><![CDATA[Acara Sekaten yang diadakan untuk memperingati Maulid Nabi Muhammad SAW diakhiri dengan acara Grebeg Maulud. Grebeg adalah upacara adat berupa sedekah yang dilakukan pihak kraton kepada masyarakat berupa gunungan. Kraton Yogyakarta dan Surakarta setiap tahun mengadakan upacara grebeg sebanyak 3 kali, yaitu Grebeg Syawal pada saat hari raya Idul Fitri, Grebeg Besar pada saat hari [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><img src="http://jengjeng.matriphe.com/wp-content/uploads/2008/03/gunungan1.jpg" alt="Abdi Dalem membawa Gunungan Jaler" title="Abdi Dalem membawa Gunungan Jaler" width="350" height="263" class="alignnone size-full wp-image-1186" /></p>
<p>Acara Sekaten yang diadakan untuk memperingati Maulid Nabi Muhammad SAW diakhiri dengan acara Grebeg Maulud.</p>
<p>Grebeg adalah upacara adat berupa sedekah yang dilakukan pihak kraton kepada masyarakat berupa gunungan.</p>
<p><span id="more-658"></span>Kraton Yogyakarta dan Surakarta setiap tahun mengadakan upacara grebeg sebanyak 3 kali, yaitu Grebeg Syawal pada saat hari raya Idul Fitri, Grebeg Besar pada saat hari raya Idul Adha, dan Grebeg Maulud atau sering disebut dengan Grebeg Sekaten pada peringatan Maulid Nabi Muhammad.</p>
<p>Menilik sejarah, kata &#8220;grebeg&#8221; berasal dari kata &#8220;gumrebeg&#8221; yang berarti riuh, ribut, dan ramai. Tentu saja ini menggambarkan suasana grebeg yang memang ramai dan riuh.</p>
<p>Gunungan pun memiliki makna filosofi tertentu. Gunungan yang berisi hasil bumi (sayur dan buah) dan jajanan (rengginang) ini merupakan simbol dari kemakmuran yang kemudian dibagikan kepada rakyat.</p>
<p>Pada upacara grebeg ini, gunungan yang digunakan bernama Gunungan Jaler (pria), Gunungan Estri (perempuan), serta Gepak dan Pawuhan.</p>
<p>Gunungan ini dibawa oleh para abdi dalem yang menggunakan pakaian dan peci berwarna merah marun dan berkain batik biru tua bermotif lingkaran putih dengan gambar bunga di tengah lingkarannya. Semua abdi dalem ini tanpa menggunakan alas kaki alias <em>nyeker</em>.</p>
<p>Gunungan diberangkatkan dari Kori Kamandungan dengan diiringi tembakan salvo dan dikawal sepuluh bregada prajurit kraton sekitar pukul 10 siang.</p>
<p>Dari Kamandungan, gunungan dibawa melintasi Sitihinggil lalu menuju Pagelaran di alun-alun utara untuk diletakkan di halaman Masjid Gedhe dengan melewati pintu regol.</p>
<p>Saat berangkat dari kraton, barisan terdepan adalah prajurit Wirabraja yang sering disebut dengan prajurit lombok abang karena pakaiannya yang khas berwarna merah-merah dan bertopi Kudhup Turi berbentuk seperti lombok.</p>
<p>Sebagai catatan, prajurit Wirabraja memang mempunyai tugas sebagai &#8220;cucuking laku&#8221;, alias pasukan garda terdepan di setiap upacara kraton.</p>
<p>Kemudian ketika acara serah terima gunungan di halaman Masjid Gedhe, prajurit yang mengawal adalah prajurit Bugis yang berseragam hitam-hitam dengan topinya yang khas serta prajurit Surakarsa yang berpakaian putih-putih.</p>
<p><img src='http://jengjeng.matriphe.com/wp-content/uploads/2008/03/surakarsa-bugis.jpg' alt='Prajurit Surakarsa dan Bugis' /></p>
<p>Setelah gunungan diserahkan kepada penghulu Masjid Gede untuk kemudian didoakan oleh penghulu tersebut, gunungan pun dibagikan.</p>
<p>Namun belum selesai doa diucapkan, gunungan pun sontak direbut oleh masyarakat yang datang dari seluruh penjuru Jogja. Yang memprihatinkan, banyak sekali nenek-nenek yang ikut berebut gunungan.</p>
<p>Memang ada kepercayaan dari masyarakat bahwa barangsiapa yang mendapat bagian apa pun dari gunungan tersebut, dia akan mendapat berkah.</p>
<p><img src='http://jengjeng.matriphe.com/wp-content/uploads/2008/03/rayah-gunungan.jpg' alt='Masyarakat berebut Gunungan Jaler' /></p>
<p>Filosofi berebut atau &#8220;ngrayah&#8221; ini menggambarkan bahwa untuk mencapai suatu tujuan, manusia harus &#8220;ngrayah&#8221; atau berusaha untuk mengambilnya.</p>
<p>Bahkan beberapa warga masih terlihat mengais sisa-sisa yang ada. Seorang mbah-mbah yang berasal dari Bantul mengatakan bahwa potongan kacang panjang yang didapatnya akan dia simpan untuk mendatangkan keamanan dan ketentraman di rumahnya.</p>
<p>Seorang pemuda yang hanya mendapatkan bambu-bambu sisa rangka gunungan berkata akan menyimpan bambu tersebut dalam gerobak mi ayamnya dengan tujuan untuk penglaris.</p>
<p>Acara rebutan gunungan inilah yang biasanya menjadi daya tarik para wisatawan, baik domestik maupun asing.</p>
<p>Di sekitar, banyak wartawan dari media elektronik maupun para fotografer dengan kamera berlensa pralon bertebaran. <img src='http://jengjeng.matriphe.com/smilies/yahoo_laughloud.gif' alt='&#58;&#41;&#41;' class='wp-smiley' width='18' height='18' title='&#58;&#41;&#41;' /></p>
<p>Fred, seorang turis asal Austalia yang saya tanya nampak antusias dan berkata, &#8220;it&#8217;s amazing! it&#8217;s beyond of my expectation..&#8221;, sambil menenteng kamera videonya.</p>
<p>Duh, saya ngiler sama bule cewek di sebelahnya yang pakaiannya.. <img src='http://jengjeng.matriphe.com/smilies/yahoo_drool.gif' alt='&#61;&#112;&#126;' class='wp-smiley' width='18' height='18' title='&#61;&#112;&#126;' /></p>
<p>Dengan berakhirnya acara Grebeg Maulud ini, usai sudah acara perayaan Maulud Nabi Muhammad yang diwujudkan dalam acara Sekaten.</p>
<p>Baca juga: <a href="http://jengjeng.matriphe.com/index.php/2008/03/19/tradisi-tradisi-acara-sekaten.html" title="Tradisi-Tradisi Acara Sekaten">Tradisi-Tradisi Acara Sekaten</a></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://jengjeng.matriphe.com/grebeg-maulud-puncak-acara-sekaten.html/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>28</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Tradisi-Tradisi Acara Sekaten</title>
		<link>http://jengjeng.matriphe.com/tradisi-tradisi-acara-sekaten.html</link>
		<comments>http://jengjeng.matriphe.com/tradisi-tradisi-acara-sekaten.html#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 19 Mar 2008 12:35:45 +0000</pubDate>
		<dc:creator>matriphe</dc:creator>
				<category><![CDATA[Asal Muasal & Sejarah]]></category>
		<category><![CDATA[Festival, Seni, Budaya]]></category>
		<category><![CDATA[kraton]]></category>
		<category><![CDATA[Sekaten]]></category>
		<category><![CDATA[Yogyakarta]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://jengjeng.matriphe.com/index.php/2008/03/19/tradisi-tradisi-acara-sekaten.html</guid>
		<description><![CDATA[Malam ini (19/3) merupakan malam terakhir perayaan Sekaten tahun ini, setelah selama sebulan acara Sekaten digelar di Alun-Alun Yogyakarta. Puncak acara Sekaten sendiri ditandai dengan dikeluarkannya 2 perangkat gamelan kraton yang diletakkan dan dimainkan di halaman Masjid Agung Yogyakarta selama seminggu sebelum puncak acara Grebeg Sekaten. Awal dari acara puncak Sekaten adalah dengan dikeluarkannya gamelan [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><img src="http://jengjeng.matriphe.com/wp-content/uploads/2008/03/kondur-gangsa1.jpg" alt="Prosesi Kondur Gangsa" title="Prosesi Kondur Gangsa" width="350" height="263" class="alignnone size-full wp-image-1187" /></p>
<p>Malam ini (19/3) merupakan malam terakhir perayaan Sekaten tahun ini, setelah selama sebulan acara Sekaten digelar di Alun-Alun Yogyakarta. </p>
<p>Puncak acara Sekaten sendiri ditandai dengan dikeluarkannya 2 perangkat gamelan kraton yang diletakkan dan dimainkan di halaman Masjid Agung Yogyakarta selama seminggu sebelum puncak acara Grebeg Sekaten.</p>
<p><span id="more-654"></span>Awal dari acara puncak Sekaten adalah dengan dikeluarkannya gamelan Kyai Guntur Madu dan Kyai Naga Wilaga (kalo di Solo adalah Kyai Guntur Madu dan Kyai Guntur Sari) pada tanggal 5 bulan Mulud, seminggu sebelum Maulid Nabi yang jatuh pada tanggal 12 Mulud Tahun Jawa.</p>
<p>Sekitar pukul 23.00, gamelan kraton dikeluarkan dari tempat penyimpanannya, di Bangsal Sri Manganti lalu disinggahkan di Bangsal Ponconiti yang kemudian dengan pengawalan para prajurit kraton, dibawa ke halaman Masjid Agung.</p>
<p>Gamelan Kyai Guntur Madu diletakkan di Pagongan Lor (utara) sedangkan Kyai Naga Wilaga diletakkan di Pagongan Kidul (selatan) halaman Masjid Agung. Prosesi ini disebut dengan upacara Mios Gangsa.</p>
<p>Selama sepekan, gamelan ini dibunyikan setiap hari, kecuali pada hari Kamis malam dan hari Jumat. Karena prosesi Mios Gangsa pada Sekaten tahun ini jatuh pada hari Kamis, maka gamelan ini ndak dibunyikan hari itu.</p>
<p>Gending-gending yang dimainkan memiliki nuansa magis yang kental. Menggunakan laras pelog namun berbeda dengan pelog biasa, gamelan ini dibunyikan dengan cara yang berbeda.</p>
<p>Seperangkat gamelan ini hanya terdiri atas bonang, saron, dan gong. Ndak seperti seperangkat gamelan lengkap lainnya.</p>
<p>Kalo menilik sejarah, tradisi ini diawali oleh Sunan Kalijaga yang menggunakan gamelan ini sebagai media dakwah. Untuk menarik perhatian masyarakat, Sunan Kalijaga memainkan gamelan ini dan ketika warga sudah berkumpul, Sunan Kalijaga memberikan pengajian.</p>
<p>Selama Sekaten berlangsung, memang di Masjid Gede setiap hari diadakan pengajian di sela-sela tabuhan gamelan.</p>
<p>Di sekitar halaman masjid banyak dijumpai para penjual kinang, telor merah, pecut, dan nasi gurih. Ada tradisi unik yang mendasari kenapa banyaknya penjual benda-benda ini.</p>
<p><img src='http://jengjeng.matriphe.com/wp-content/uploads/2008/03/penjual-kinang.jpg' alt='Penjual Kinang' /></p>
<p>Masyarakat percaya jika kita mendengar gamelan ini ditabuh, kemudian kita <em>nginang</em> (mengunyah daun sirih, gambir, tembakau, dan kapur) maka dipercaya kita akan awet muda dan mendapat berkah.</p>
<p>Ada kepercayaan kalo setelah nginang bibir dan gigi kita tidak berwarna merah, berarti kita sering bohong.</p>
<p>Selain tradisi nginang, ada tradisi membeli dan makan <em>sega gurih</em> (nasi gurih alias nasi uduk).</p>
<p>Tradisi ini adalah simbol bahwa kita mensyukuri apa-apa yang sudah kita dapatkan. Dengan makan nasi yang sudah diberi bumbu, diharapkan kehidupan kita akan semakin nikmat, seperti rasa nasi yang kita makan.</p>
<p>Ada pula tradisi membeli <em>endog abang</em> alias telur merah. Telur ini adalah telur rebus biasa yang kulitnya diberi warna merah. Telur ini kemudian ditusuk dengan menggunakan tusuk sate yang kemudian dihias.</p>
<p>Kalo di Solo, namanya <em>endog amal</em>, yaitu telor asin. Endog amal maksudnya agar kita menjadi orang yang suka beramal.</p>
<p>Telur adalah cikal bakal kehidupan. Sedangkan warna merah artinya keberuntungan, rejeki, berkah, dan keberanian.</p>
<p>Jadi diharapkan dengan memakan telur ini, kita bisa kembali lahir menjadi seseorang yang berjiwa bersih, pemberani, dan penuh keberkahan.</p>
<p>Sedangkan tusuk sate melambangkan bahwa kita semua memiliki poros kehidupan, yaitu Tuhan Yang Maha Esa.</p>
<p>Pecut juga banyak dijual di tempat ini. Pecut adalah alat yang digunakan untuk menggiring ternak agar berjalan pada jalan yang benar. Nah, makna membeli pecut di tempat ini adalah diharapkan kita bisa menggiring nafsu kita supaya berjalan ke jalan yang benar.</p>
<p>Sebelum upacara pengembalian gamelan ini ke Bangsal Sri Manganti dilaksanakan, di dalam serambi Masjid Agung diadakan acara pembacaan riwayat kehidupan Nabi Muhammad SAW dalam bahasa Jawa.</p>
<p>Pembacaan riwayat ini dihadiri oleh Ngarso Dalem Sri Sultan Hamengkubuwana X beserta keluarga dan abdi dalem.</p>
<p>Sekitar pukul 22.30, pembacaan riwayat Nabi selesai. Para pasukan bersiap, dan Ngarso Dalem pun berjalan keluar masjid untuk kembali ke kraton dengan diiringi para prajurit Wirabraja, yang sering disebut dengan pasukan lombok abang karena seragamnya mirip lombok ini, sebagai cucuk lampah.</p>
<p>Setelah Ngarsa Dalem kembali, gamelan Kyai Guntur Madu dan Kyai Naga Wilaga pun kemudian diangkat dan kemudian dikembalikan. Prosesi pengembalian ini disebut dengan Kondur Gangsa.</p>
<p>Besok pagi, puncak perayaan Maulid Nabi akan berlangsung, yaitu Grebeg Sekaten, yang dilakukan di halaman Masjid Agung juga.</p>
<p>Baca juga: <a href="http://jengjeng.matriphe.com/index.php/2008/03/20/grebeg-maulud-puncak-acara-sekaten.html" title="Grebeg Maulud, Puncak Acara Sekaten">Grebeg Maulud, Puncak Acara Sekaten</a>.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://jengjeng.matriphe.com/tradisi-tradisi-acara-sekaten.html/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>21</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Pengajian Macapat Bersama Cak Nun</title>
		<link>http://jengjeng.matriphe.com/pengajian-macapat-bersama-cak-nun.html</link>
		<comments>http://jengjeng.matriphe.com/pengajian-macapat-bersama-cak-nun.html#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 18 Mar 2008 12:15:02 +0000</pubDate>
		<dc:creator>matriphe</dc:creator>
				<category><![CDATA[Arkais]]></category>
		<category><![CDATA[Event]]></category>
		<category><![CDATA[kebudayaan]]></category>
		<category><![CDATA[kegiatan]]></category>
		<category><![CDATA[wisata]]></category>
		<category><![CDATA[Yogyakarta]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://jengjeng.matriphe.com/index.php/2008/03/18/pengajian-macapat-bersama-cak-nun.html</guid>
		<description><![CDATA[Setelah mengalami kegundahan spiritual yang amat sangat, akhirnya semalem (17/03) saya menemukan pencerahan. Berawal dari ajakan Kang Sandal, saya, Funkshit, Goen, dan Pengki pun akhirnya ikutan acara Pengajian Macapat yang rutin diadakan tiap bulan pada tanggal 17. Yang unik dari acara ini, selain acara tauziahnya, adalah acara seni yang dibawakan oleh beberapa kelompok musik hingga [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><img src="http://jengjeng.matriphe.com/wp-content/uploads/2008/03/emha-novia1.jpg" alt="Cak Nun dan Mbak Via" title="Cak Nun dan Mbak Via" width="350" height="263" class="alignnone size-full wp-image-1188" /></p>
<p>Setelah mengalami <a href="http://jengjeng.matriphe.com/index.php/2008/03/13/kehilangan-gairah-saatnya-bertobat.html" title="Kehilangan Gairah, Saatnya Bertobat?">kegundahan spiritual</a> yang amat sangat, akhirnya semalem (17/03) saya menemukan pencerahan.</p>
<p>Berawal dari ajakan <a href="http://the.sandalian.com/" title="Sandal" target="_blank">Kang Sandal</a>, saya, <a href="http://funkshit.ariprasetyo.com/" title="Funkshit" target="_blank">Funkshit</a>, <a href="http://gunawanrudy.com/" title="Goen" target="_blank">Goen</a>, dan <a href="http://agung.isnotcyb.org/" title="Pengki" target="_blank">Pengki</a> pun akhirnya ikutan acara Pengajian Macapat yang rutin diadakan tiap bulan pada tanggal 17.</p>
<p><span id="more-651"></span>Yang unik dari acara ini, selain acara tauziahnya, adalah acara seni yang dibawakan oleh beberapa kelompok musik hingga puncaknya adalah penampilan kelompok musik Kyai Kanjeng.</p>
<p>Acara dimulai sekitar pukul 9 malem. Bertempat di halaman TK Alhamdulillah di daerah Jetis, Kecamatan Kasihan, Bantul.</p>
<p>Walau hanya dikemas secara sederhana, hanya duduk beralaskan terpal, namun jamaah yang hadir sangat banyak.</p>
<p>Ketika kami datang, acara rupanya telah dimulai. Penampilan kelompok musik dari <acronym title="Institut Seni Indonesia">ISI</acronym> (dulu bernama <acronym title="Sekolah Tinggi Seni Indonesia">STSI</acronym>) Surakarta membawakan beberapa lagu bernuansa Banyuwangi dan Banyumasan yang dikemas dalam nuansa etnik begitu ciamik menyambut kami.</p>
<p>Perpaduan kendang, suling, bonang, bas betot, drum, gitar, dan kibor begitu rancak dimainkan. Tempo lagu yang berubah dari lambat dan cepat disertai komposisi alat musik yang silih berganti membuat sajian lagu begitu asyik untuk dinikmati.</p>
<p>Penampilan berikutnya adalah dari kelompok musik yang menamakan dirinya Sobaya. Sobaya saat itu tampil mendampingi sebuah kelompok musik yang terdiri dari anak-anak jalanan.</p>
<p>Anak-anak jalanan menyanyikan lagu-lagu yang menceritakan nasib mereka yang menderita dengan suara cempreng khas mereka ketika mengamen di jalanan.</p>
<p>Gesekan biola dan petikan gambus dari kelompok Sobaya yang mengiringi para anak jalanan ini semakin membangkitkan nuansa dramatis.</p>
<p>Setelah anak-anak jalanan selesai tampil, kelompok Sobaya semakin membuai para jamaah dengan lagu-lagu bernuansa timur tengah.</p>
<p>Pak Riswanto, salah satu dosen <a href="http://www.umy.ac.id/" title="Universitas Muhammadiyah Yogyakarta" target="_blank">UMY</a> yang juga aktivitis <a href="http://www.muhammadiyah.or.id/" title="Muhammadiyah" target="_blank">Muhammadiyah</a> kemudian tampil memberikan tauziah.</p>
<p>Dengan kocak, Pak <del datetime="2008-03-19T12:27:13+00:00">Riswanto</del> Harwanto Dahlan (<a href="http://jengjeng.matriphe.com/index.php/2008/03/18/pengajian-macapat-bersama-cak-nun.html#comment-4300" title="ralat dari Kang Sandal">ralat dari Kang Sandal</a>) memberikan tauziah bertema krisis pangan. Menurut beliau, krisis pangan yang kini melanda Indonesia dengan ditandainya dengan naiknya harga-harga kebutuhan pokok ini disebabkan oleh beberapa hal.</p>
<p>Beberapa hal tersebut adalah kurangnya pemenuhan bahan pangan dunia karena negara-negara agraris mulai bergeser orientasi, dari menanam tanaman pangan menjadi menanam tanaman industri, salah satu contohnya untuk memenuhi kebutuhan energi biofuel.</p>
<p>Kedua, kurangnya kesadaran untuk menyimpan persediaan pangan. Setelah kurangnya pasokan akibat tidak ditanaminya tanaman pangan, Indonesia justru mengimpor berbagai bahan pangan. Lucu toh, negara agraris kok malah mengimpor bahan pangan?</p>
<p>Yang berikutnya adalah tak lepas dari tekanan negara-negara maju. Negara-negara maju kembali &#8220;menjajah&#8221; dengan berdalih memberikan pinjaman lunak. Kalo saja pemerintah dapat mengelola pinjaman lunak tersebut dengan baik, tentu saja pinjaman lunak tersebut bisa memajukan bangsa.</p>
<p>Selesai Pak <del datetime="2008-03-19T12:27:13+00:00">Riswanto</del> Harwanto memberikan tauziah, Cak Nun bersama istrinya Novia Kolopaking dan kelompok musik Kyai Kanjeng naik ke atas panggung. Duh, Mbak Ovi cantik banget.. <img src='http://jengjeng.matriphe.com/smilies/yahoo_love.gif' alt='&#58;&#120;' class='wp-smiley' width='18' height='18' title='&#58;&#120;' /></p>
<p>Cak Nun mengawali tauziahnya dengan beberapa lagu yang dimainkan oleh kelompok Kyai Kanjeng. Lantunan lagu ini mampu mengkondisikan jamaah untuk tenang, khusyuk, (dan juga ngantuk) untuk mendengar tauziah yang akan dibawakan Cak Nun.</p>
<p>Cak Nun dalam tauziahnya banyak memberi motivasi bahwa sebenernya bangsa kita ini adalah bangsa yang maju. Bangsa kita ini sebenernya bangsa yang tangguh, cerdas, dan mempunyai banyak kebisaan. Namun karena saking pinternya, justru bangsa kita ini menjadi ndak bisa apa-apa.</p>
<p>Ibarat burung, karena terlalu lama dalam sangkar maka burung tersebut lama-lama menjadi lupa bagaimana cara terbang.</p>
<p>Bangsa Indonesia diibaratkan oleh Cak Nun seperti burung itu tadi. Mempunyai potensi namun karena terlalu lama &#8220;di dalam sangkar&#8221; membuat potensi ini menjadi &#8220;ndak bisa terbang&#8221;.</p>
<p>Di sela-sela tauziahnya, Cak Nun mengajak para jamaah untuk berwirid, merenung, dan bershalawat untuk instropeksi dan memotivasi diri.</p>
<p>Saya, karena terlalu ngantuk, justru tertidur pas sesi ini. Apalagi saat itu lampu dimatikan yang bertujuan untuk menambah khusyuk suasana membuat suasana pas untuk memejamkan mata. <img src='http://jengjeng.matriphe.com/smilies/yahoo_sleep.gif' alt='&#124;&#45;&#41;' class='wp-smiley' width='21' height='18' title='&#124;&#45;&#41;' /></p>
<p>Selama tauziah, banyak celetukan dan lelucon yang dilontarkan membuat suasana makin semarak. Komunikasi dengan jamaah juga dibangun untuk mendapatkan interaksi.</p>
<p>Uniknya, celetukan-celetukan bernada menyindir dan &#8220;menyinggung&#8221; antara NU-Muhammadiyah  sering terlontar. Bukannya memanas, suasana justru makin cair dan terasa akrab.</p>
<p>Sebelum diakhiri, ada pembacaan puisi dari ketua bidang kebudayaan UMY, Pak Mustafa. Pak Mustafa membawakan puisi sebanyak 3 lembar yang berjudul &#8220;Balada Negeri Asu Sila&#8221;.</p>
<p>Dengan gaya membaca seperti membaca cerita, dengan disertai celetukan dan komentar-komentar nakal, puisi &#8220;Balada Negeri Asu Sila&#8221; ini menceritakan soal keadaan manusia yang kacau balau.</p>
<p>Manusia mudah dihasut oleh makhluk bernama George Segawon yang memang bertujuan untuk menjerumuskan manusia. Dalam puisi ini, diceritakan bagaimana George Segawon curhat mengenai misinya kepada seekor nyamuk.</p>
<p>Sekitar pukul &#0189; 3 dini hari acara berakhir. Cak Nun dan jamaah berdiri untuk melantunkan shalawat dan membaca surat An Nashr, yang memberikan pesan dan motivasi mengenai pertolongan dan kemenangan.</p>
<p>Kami pun kembali menembus dinginnya dini hari kembali pulang ke Jogja. Sebelum pulang, kami mampir dulu ke <acronym title="warung 24 jam yang menyediakan menu bubur kacang ijo dan mi instan">warung burjo</acronym> untuk mengganjal perut. Sampai di kosan, adzan Subuh berkumandang. Selesai sholat, saya pun tepar. <img src='http://jengjeng.matriphe.com/smilies/yahoo_sleep.gif' alt='&#124;&#45;&#41;' class='wp-smiley' width='21' height='18' title='&#124;&#45;&#41;' /></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://jengjeng.matriphe.com/pengajian-macapat-bersama-cak-nun.html/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>37</slash:comments>
		</item>
	</channel>
</rss>

