Apa Kabar di Sana?

Keceriaan

Dua tahun yang lalu, cobaan itu datang. Memporak porandakan cita-cita dan harapan. Merenggut kebahagiaan kepala-kepala mungil itu.

Namun Tuhan rupanya mempunyai rencana lain. Melalui cobaan itu rupanya skenario besar yang menjadi alur dasar kehidupan saya (dan kita) sekarang.

Dari gempa itulah, solidaritas pun muncul. Bahkan di ranah blogosfer, ranah ghaib yang saat itu belum semeriah sekarang.

Bantuan mengalir deras ke Jogja. Termasuk dari para bloger. Mereka dengan tulus memberikan bantuan kepada kami, tanpa pernah mengenal siapa kami, yang hanya bertegur komen bersalam trackback.

Beberapa minggu berlalu, sebuah ide tercetus dari Kang Elzan. Terpikir nasib anak-anak yang sekolahnya rubuh. Terpikir kondisi psikologis mereka yang rasanya terlalu pedih untuk mereka.

Berkumpullah beberapa gelintir bloger yang saat itu juga baru aja kenal melalui YM. Melalui Monik (apa kabar, nduk?) saya dan beberapa rekan terhubung dengan Kang Elzan dan Kang Wedhouz.

Koordinasi terjalin dan tertelorkanlah even bertajuk Klaten Ceria Satu dan Dua.

Senang rasanya dapat berbagi keceriaan bersama anak-anak SD tersebut. Tertawa, bergembira, dan bercanda bersama. Walau hanya beratapkan terpal tenda yang kalo siang masya Allah suhunya bisa bikin telor matang, mereka tetap ceria.

Klaten Ceria

Sungguh mengenaskan. Di lain tempat, bantuan berlimpah ruah turah-turah, di sudut lain di Klaten, jangankan bantuan, perhatian pun sepertinya tiada. Maaf hanya itu yang bisa kami bantu, dik! πŸ™‚

Setahun berlalu, kami sempat berkunjung kembali ke sana. SD Negeri Titang, Jogonalan, Klaten dan SD Negeri 1 Gentan, Gantiwarno, Klaten. Kedua sekolah itu sudah berdiri kembali walau belum sempurna benar.

Gempa kecil yang masih sering terjadi menyisakan garis-garis retakan-retakan di sana-sini. Ah, sungguh tega! Bantuan seperti ini kok ya masih sempat dikorupsi.

Berjumpa dengan mereka yang masih ingat dengan wajah kami. Lebih ceria dari setahun lalu. “Aku saiki wis kelas telu, mas!“, celetuk seorang anak sambil membawa pesawat kertas lipat dari sobekan buku bergaris ketika ditanya.

Berjumpa dengan kepala sekolah yang rupanya sudah berganti. Melihat ladang tebu di sekitar sekolah yang dibentengi bukit Seribu. Ah, begitu menenangkan.

Namun maaf ya, dik. Kakak saat ini ndak dapat berkunjung ke sana lagi. Kakak ndak bisa menjenguk sekolahmu lagi. Kakak hanya bisa berdoa dari sini, semoga kalian baik-baik saja. Belajarlah yang benar ya, dik. πŸ™‚

Andai kakak bisa ke sana, semoga kakak masih ingat rute menuju tempatmu.

Menerobos jalan tanah yang bila hujan menjadi becek-gak-ada-ojek, menyeberang sungai yang untungnya sedikit kering sehingga motor ndak tenggelam, menyusuri kaki bukit, bertegur sapa ramah dengan para petani bersepeda onthel yang bersahaja..

Kawan-kawanku jelata CahAndong, sampaikan salamku untuk anak-anak itu.. >:D<

44 comments

  1. menyenangkan saat melihat seorang yang dahulu berdiri pun susah, tapi sekarang sudah bisa tertawa dan berlari.

    😐 speechless, cuman bisa mendoakan saja, semoga dibalas beribu kali lipat bantuan teman – teman ke jogja waktu gempa.

  2. ah…, jadi inget masa2 itu. ketika terkadang hati nurani harus ditekan dalam2 karena tak mampu memberi kepada semua yang datang ke posko kami… di depan mereka kami memasang tampang tegar sambil memohon maaf tak bisa membantu. namun ketika sedang “menghadap”-Nya, hanya air mata yang menetes. andaikan kami mampu melakukan lebih dari waktu itu… andai…

  3. :(( Jadi keinget dulu pas KKN.

    Apa kabar disana?
    Mereka sekarang telah bangkit.
    Mereka telah tersenyum.
    Terima kasih semua relawan yang rela melawan panas dan dahaga, membantu mereka untuk tidak terjatuh lagi pada lubang keputusasaan.

    Jogja Bangkit !

  4. jogja udah bangkit kok, scr mental dan materi. tuh liat, amplaz ga pernah sepi. butik2 juga rame cewe2 ngeborong baju. di pedesaan, banyak tuh, pemuda2 desa yg asyik dengan hape 3G. aku wae ra duwe.

    mari kita kerahkan kasih sayang kita ke saudara2 kita di tempat lain yg dlm skala prioritas, msh membutuhkan.
    *ngelirik kikod*
    hmmmm…kowe arep main portofolio po ??? apa, main saham atau reksa dana ??

  5. Sbg warga kla-10… Saya ngaturke tengkiu buwat Sampiyan & friends. “Lemah teles” Dab… Gusti Allah sing mbales.

    *salam tepang*

  6. seh eleng ora nek koe tau dadi relawan neng posko MIPA…..
    ??????????????????????????
    golekki cah2 MIPA koe dabs………..
    golekki cah lapangan……….
    “dipikir mung cah lapangan tok seng isoh misuh”……………
    :))

  7. hmm…

    ternyata selain celana kuning, topi merah itu legendaris juga ternyata..

    mahkota sang sultan ndoyok…

  8. wah ternyata udah lama juga yah, semoga yang bakalan terjadi yang baik2 aja lagi deh, meskipun mustahil. semua pasti akan hancur. hoho πŸ™

  9. saya yakin anak-anak itu pasti masih menunggumu zam. menunggumu pulang dari jakarta membawa oleh-oleh untuk mereka… πŸ˜€

  10. ngasihnya buku ya? knp gak dikasih semen ama batu bata? kan katanya mo rubuh…

    “Eh untung kak zam gak sekolah kami, kalo nggak sekolahnya malah rubuh beneran kak… jangan kak… jangan kemari…!” πŸ˜€

  11. (walaupun ga ada hubungannya tapi) jadi inget jaman kkn 2 tahun yang lalu…
    dhewe wis tuwa yo…
    dilit neh mati *dark*

  12. jadi inget smua
    lucu deh

    hehee
    agra?
    *bongkar arsip dokumentasi KC*
    hihihhi..
    sekolah dimana ya dia sekarang?

  13. Zam.. so sweet banget itu 5 paragraph terakhirnya.. jadi terharu.. akhirnya.. muncul juga sisi lain dari dirimu… πŸ™‚

  14. Wah sang maestronya ada di jakarte yah… ehehehehe, keren nih kalo blogger event nya kaya gini, daripada kopdar makan makan mulu.

Comments are closed.