Seringkali saya mendapat pertanyaan, “saya pengen ke situ dengan cara backpacker, kira-kira naik apa, ya?”. Backpacker, lebih tepatnya orang yang melakukan kegiatan backpacking, memang menjadi ngetren akhir-akhir ini. Seolah-olah itu suatu kegiatan keren bagi para pejalan.
Anggapan bepergian memanggul tas punggung, berpenampilan “gembel”, menggunakan sarana transportasi publik, dan bisa menjelajah berbagai sudut bumi memang kerap menjadi rujukan untuk definisi backpacker. Ini memang tidak salah, setidaknya belum ada definisi baku dari kegiatan yang konon baru dikenal tahun 60/70-an.
Namun kadang kita (kita? saya aja ding) sering melupakan semangat dan filosofi dari backpacking. Seringkali saya ber-backpacking hanya penampilan. Memanggul tas segede dosa seperti hendak camping selama setahun (sehingga berbagai barang dibawa) dan menunjukkan latar belakang foto tempat-tempat keren di penjuru negeri, memang keren.
Tapi apakah kita, eh saya, sudah menjadi seorang backpacker?