Musicademia, Harmony in Diversity

Musicademia, "Harmony in Diversity"

Rabu (21/11) malam, saya dan anak-anak Marko yang tersisa di Jogja, Yudhi ama Sepep yang barusan wisuda plus Didit Kuya, berkesempatan nonton konser Musicademia dengan tajuk “Harmony in Diversity” yang menampilkan Twilite Orchestra yang dikonduktori oleh Addie MS.

Ini kesempatan langka, mengingat saya belum pernah nonton konser semacam ini. Selain itu, ini merupakan acara lain Marko selain bermain tennis karena sudah lama ndak turing. ;))

Kami pun menyebut diri kami MarkoDEMIA! De Marko nonton Musicademia! :))

MarkoJAK? Ah, ndak ada apa-apanya! MarkoJAK mosok kopdar naek TransJakarta terus ngeluyur ke mol! :-j

Berawal dari melihat poster di warung burjo cewek, Yudhi ngajakin nonton tu konser karena harga tiket yang murah, 10 rebu rupiah!

La biasanya acara-acara konser kek gini kan mahal tiketnya. Mangkanya, begitu tau harga ni tiket bersahabat banget sama kantong mahasiswa, kami pun tak ragu untuk berpuasa sehari untuk bisa membeli ni tiket. πŸ˜€

Konser Musicademia sendiri diadakan di Grand Pacific Hall, di Jalan Magelang, depan TVRI Jogja. Selain di Jogja, konser ini juga diadakan di Bandung tanggal 19 sebelumnya di Graha Sanusi Unpad dan rencananya tanggal 23 besok akan tampil di Graha Institut Teknologi Sepuluh November Surabaya.

Disponsori oleh PT. HM Sampoerna Untuk Indonesia, acara ini diadakan untuk menyambut Dies Natalis UGM yang ke-58 tanggal 19 Desember besok.

Acaranya sendiri keren banget. Apalagi saya yang biasanya nonton konser dangdut kampung atau campur sari, disuguhi dengan musik-musik bermelodi kualitas tinggi dari Twilite Orchestra yang didukung oleh Paduan Suara Mahasiswa (PSM) UGM.

Konser berlangsung selama ±75 menit dengan mengusung 18 lagu. Sayang banget gara-gara nungguin Sepep, kami kehilangan 7 lagu awal. πŸ™

Konser Musicademia

Kami masuk ke dalam ruangan ketika lagu “Orpheus in the Underworld Overture” selesai dimainkan.

Memasuki lagu “The Music of the Night”, kami masih sibuk mencari tempat duduk. Untunglah, setelah berburu kursi presiden akhirnya kami dapat tempat duduk meski posisinya terpencar.

Lagu “Yamko Rambe Yamko” yang diaransemen ulang oleh Singgih Sanjaya begitu rancak ketika dimainkan oleh Twilite Orchestra yang diiringi oleh choir dari PSM UGM.

Setelah lagu ini selesai, Addie MS pun bercerita tentang lagu-lagu daerah. Addie juga menyinggung soal lagu “Rasa Sayange” yang dimaling sama Malaysia, negara yang beraninya cuma nyiksa pembantu itu. X(

Addie berharap agar kasus “Rasa Sayange” itu ndak terulang lagi lain kali. Tentu kita diharapkan ikut melestarikan dan bangga dengan lagu-lagu daerah kita.

Selain “Yamko Rambe Yamko”, Singgih Sanjaya yang juga hadir di tengah-tengah penonton juga mengaransemen lagu “Cublak-Cublak Suweng” yang dimainkan setelah “Yamko Rambe Yamko”.

Lagu berikutnya adalah “Rangkaian Melati” yang dibawakan oleh Binu D. Sukaman dan diiringi oleh PSM. Penampilan penyanyi soprano ini bener-bener memukau penonton dengan suara tingginya.

Dilanjutkan dengan permainan piano oleh Levi Gunardi yang membawakan lagu berjudul “Fantasia” yang digubah berdasarkan lagu “Indonesia Pusaka” karya Ismail Marzuki.

Komposisi lagu ini dibuat oleh Joko Lemazh Suprayitno, yang juga hadir di tengah-tengah penonton malam itu.

Binu D. Sukaman pun hadir kembali bersama dengan Lucky Octavian, finalis Indoesian Idol. Mereka membawakan lagu “Bagimu Perdamaian” yang diambil dari “Opera Anoman” yang diaransemen oleh Addie MS dan Djaduk Feriyanto.

Selesai “Bagimu Perdamaian”, Lucky dan Binu kembali membawakan lagu “Libiamo ne’lietti Calici (Drinking Song)” karya Giuseppe Fortunino Francesco Verdi. Lagu ini mungkin sangat familiar dengan kita, karena sering menjadi lagu pengiring ketika pesta dansa di film-film itu. πŸ˜€

Lagu “One Winged Angel” yang diambil dari “Final Fantasy VII” karya Nobue Oematsu juga menjadi lagu yang mungkin familiar, terutama para penggemar film Final Fantasy. πŸ™‚

Lagu ini sempet dikira menjadi lagu penutup. Sempat terdengar nada kecewa dari para penonton karena mengira konser berakhir.

Addie MS pun turun dari panggung diikuti para pemain drum dan terompet. Satu persatu mereka beranjak dari kursi lalu turun ke panggung sambil diiringi lagu “Plink, Plank, Plunk” yang dimainkan oleh para pemain biola dan cello dengan cara memetik-metik senarnya.

Oh, ternyata ini adalah tipuan! :))

Addie MS pun kembali naik ke atas panggung dan mengajak penonton berinteraksi. Addie mengajak penonton untuk ikut serta mengiringi musik dengan tepukan tangan.

Mengikuti instruksi sang konduktor, penonton pun bertepuk serempak untuk mengiringi lagu “Trepak”.

Konser pun berakhir setelah lagu “Redetzky March” dimainkan dengan teknik memetik-metik senar biola dan cello. Lagu ini juga sempat mengundang tawa penonton karena ada sisipan “nada” yang berasal dari gesekan jari dengan badan biola berbunyi, “nguik..”

Secara keseluruhan, konser ini berjalan dengan bagus banget. :top

Tata suaranya bagus. Meskipun gedung yang dipakai bukan dirancang untuk konser, gaung musik yang mengganggu dapat teredam dengan baik.

Tata lampunya juga bagus. Ditambah ada 2 buah giant screen di kanan-kiri panggung membuat penonton yang berada di belakang bisa melihat dengan jelas.

Saya sangat puas, walau cuma bisa menikmati separo konser. Padahal 7 lagu sebelumnya cukup menarik untuk diikuti.

“Indonesia Raya” menjadi lagu pembuka, kemudian disusul dengan “Hymne Gadjah Mada”, “Bangun Pemudi Pemuda”, “Mission Impossible”, “I Write the Songs”, dan “Summertime” adalah lagu-lagu yang ndak bisa kami nikmati.

Konser ini juga sangat tepat waktu, dimulai pukul 19.30 tet. Saya kira ni konser bakal molor-molor karena biasanya ada sambutan-sambutan ndak penting gitu. Eh, ternyata.. :))

Namun sayang, waktu yang cuma 1¼ jam itu saya rasa terlalu singkat. Awalnya saya mengira konser ini akan berlangsung sekitar 2 jaman gitu. πŸ˜€

Selesai konser, tentu acara selanjutnya adalah foto-foto! Addie MS tentu menjadi target utama untuk diajak berfoto bersama.

Tanpa ragu, saya pun merangsek maju untuk bisa berfoto bareng Addie MS. La kapan lagi bisa berdesak-desakan sama cewek-cewek yang cakep-cakep demi rebutan berfoto bareng. >:)

Ealah tobil anak kadal! Si Didit Kuya malah dapet kesempatan dan pose bagus banget berfoto bersama Addie. Bajingan!! :((

Mana yang motret itu saya! Apa ndak nggonduk banget, tuh! ~X(

Padahal saya sudah susah payah mendekati Addie, ndak dapat gambar yang bagus. La si Kuya yang ucluk-ucluk dateng belakangan malah dapat kesempatan bagus. :banghead

Ya sudahlah. Untuk mengobati kekecewaan, saya pun berfoto-foto narsis najis di beberapa sudut yang bisa dipake buat narsis.

Panggung, tempat khusus pers, sampe mobil pemadam kebakaran berubah menjadi studio foto dadakan. :))

Pose Narsis Najis

Blogger gitu loh! b-)

Kebetulan di situ ada wartawan MetroTV yang lagi mewawancarai salah seorang penonton. Dengan semangat katrok bin ndeso, saya pun ikutan nampang di belakang penonton yang sedang diwawancari itu sambil mengikuti gaya Tukul, “masuk tipi.. masuk tipi..”

Dasar ndeso!! =))

Nah, saya menduga, liputan ini bakal dipake untuk acara ShowBiz News. Siapa tau anda-anda bakal kena kutukan bisa melihat tampang dan tingkah katrok saya di acara itu besok. :))

Pas mo balik dan menuju ke parkiran, kami ketemu sama Binu D. Sukaman, si penyanyi sopran tadi. Kesempatan ndak disia-siakan. Berfoto barenglah kami bersama beliau!

berfoto bersama Binu D. Sukaman

Kami juga ketemu sama wartawan senior yang pernah kerja lama di Tempo dan kini kerja di Gatra. Namanya Linda Jalil. Mungkin Pakde Ndoro kenal? ;))

Dari bincang-bincang dengan Mbak Binu dan Tante Linda, kami mendapat informasi bahwa Mas Addie MS belum turun. Hoke, kami pun sepakat untuk menunggu Mas Addie turun demi berfoto bersama beliau. :))

Setelah menunggu sampe jenggotan cukup lama, akhirnya Mas Addie keluar dari ruang ganti dan bersedia meladeni kami untuk berfoto bareng meski kelelahan tergurat di wajahnya. πŸ˜€

Niatan saya untuk berfoto bareng Mas Addie MS akhirnya kesampaian!! \:d/

berfoto bersama Addie MS

Makasih banget, Mas Addie MS! Maafkan juga atas tingkah katrok wal ndeso kami.. ^:)^

Sebuah pengalaman baru bagi saya. Melihat konser simfoni kek gini dan bertemu sama seleb beneran! \:d/

Kalo cuma ketemu seleblog mah biasa! :-j

Eh, kalo denger konser-konser lagu beginian, saya teringat sama Si Genduk Margenduk yang katanya jago main biola tapi sekarang ndak pernah kelihatan karena ketiban Bonang di UKM Karawitan itu. ;))

Ah, kapan konser semacam ini diadakan lagi ya? Mumpung saya masih di Jogja, nih. πŸ˜€

36 thoughts on “Musicademia, Harmony in Diversity”

  1. ehm.. ada taklimat berduri yang harus gw umbar:
    Tante Linda Jalil berkata sambil ngeliat zam
    : eh, masnya lucu yang pake kacamata, mukanya Jawa banget..
    namanya kira-kira siapa ya? suparjo?

    de marko.. gemar coba-coba.. siip deh..

  2. oalah, nonton towh…

    nda manteb…
    kurang sue, kurang akeh…. (apalagi kalo ketinggalan 7 lagu, yg depan bagus-bagus bgt) πŸ˜‰
    belum klimaks kok ud abis
    tapi yah udah oke bgt buat tiket seharga 10 rb πŸ™‚

    btw, mas adi ms-nya charming bgt πŸ˜€
    *jealous kok situ poto bareng*

  3. pas aku di jogja, lupa apa 2004 gitu kali ya, juga ada konser twilite ini di GSP, juga dibiayain Sampoerna, jadi tiketnya murah, satu kos nonton semua πŸ˜€ kapan lagi bisa nonton orkestra dengan kaos dan jins belel? hehehehe….
    jadi di konser yang ini gak ada si suara keren Ray Jeffryn ya? sayang seribu sayang……

  4. MarkoJAK? Ah, ndak ada apa-apanya! MarkoJAK mosok kopdar naek TransJakarta terus ngeluyur ke mol! :-j

    bilang aja kamu sedih ga bisa ikutan mereka, zam.. :-”

    Ah, kapan konser semacam ini diadakan lagi ya? Mumpung saya masih di Jogja, nih. πŸ˜€

    emang mau ke mana?

  5. wahhh aku kaget ndelok poto sing nisor dewe :))
    ngguyu moco komene didut. sing bener ki dudu ketok luwih tuo tapi ketok luwih soro kekekeke piiiiiisssss

  6. ketoke asik bro… keren asli.. rearrange musiknya itu yang aku pengen denger.. apalagi.. addie MS gitu lhoo….
    eh zam.. fotomu sama adi MS tu dijadiin kuiz aja..
    cari 5 perbedaaan.. wakakaka

Comments are closed.