Kue, BlackBerry, Miyabi, dan Perpisahan

kue-blackberry

Kue itu masih teronggok dengan manis di dalam kardusnya. Keharuan masih menyeruak di dalam dada. Alasan itulah yang membuat saya semakin ndak tega untuk memotongnya.

Sore tadi, seorang rekan sekantor yang juga satu angkatan dengan saya, memberikan kejutan di hari terakhir saya mburuh. Saya terharu. Sebuah kue berbentuk Blackberry merah bergambar Miyabi bikinan istrinya itu benar-benar membuat saya terkejut.

Sepanjang hari saya berusaha untuk tetap seolah-olah biasa-biasa saja. Namun sebenernya ada perasaan sedih karena hendak berpisah dengan kawan-kawan di kantor. Dan sebuah kue berbentuk Blackberry merah bergambar Miyabi itu semakin menambah kesedihan saya.

Perasaan seperti ini pernah saya rasakan. Sangat menyesakkan memang, namun ini adalah salah satu fase kehidupan yang harus saya lalui. Berjumpa dengan perpisahan, suatu hal yang sebenarnya saya benci.

Ingatan saya seperti berputar mundur. Saya seolah berada di titik nol kilometer Jogja, berkumpul dengan teman-teman yang saya yakin sekarang sedang berada di sana. Berjuminten yang membuat saya hampir meneteskan air mata. Bahkan segelas teh nasgitel Angkringan Lik Man tak mampu mengobati keharuan saya saat itu.

Dinginnya hembusan AC di ruangan serta dering telepon yang menjerit-jerit menyadarkan lamunan saya. Monitor LCD 17 inchi yang menampilkan layar perintah semakin meyakinkan saya bahwa saya telah melalui masa-masa itu.

Ramainya warung bakmi ayam Kardi seolah masih tak mampu menghalau keharuan yang menyeruak. Saya hanya bisa diam dan mendengarkan obrolan kawan-kawan saya itu. Saya masih mencoba untuk nampak biasa-biasa saja meski rasa sesak masih memenuhi dada.

kawan-kawan-digital-media

Terima kasih kawan! Terima kasih semuanya! >:D<

Kue itu masih teronggok manis di dalam kardusnya. BlackBerry merah yang dianggap ikon oleh kawan-kawan saya itu menjadi inspirasi Zaki untuk mengabadikannya dalam bentuk kue. Saya memang sering autis dan asyik sendiri dengan BlackBerry ketika kami sedang berkumpul untuk sekedar makan siang.

Lantas ada apa dengan Miyabi? Hahaha. Kata kunci yang sangat populer ini memang tak pernah lekang untuk diperbincangkan. Saya sendiri sebenernya udah lama ndak mengikuti sepak terjangnya karena Nana Chunk lebih dahsyat, apalagi sejak saya hijrah ke Jakarta. Entah apa pertimbangan si Zaki menampilkannya ke layar BlackBerry besar itu. Saya udah punya pengisi hati dan layar BlackBerry yang lainnya, hooi!! :))

Kue BlackBerry merah bergambar Miyabi itu masih teronggok manis di dalam kardusnya. Masih menunggu untu dipotong dan dimakan. Menyimpannya terus menerus tentu juga tiada guna, karena akan membusuk juga. Hanya saja untuk memotong kue tersebut bagi saya membutuhkan mental dan keberanian tersendiri. Selain enggan merusak bentuknya yang lucu, memotongnya juga berarti mengambil keputusan untuk mengakhiri rasa menye-menye yang membanjiri diri.

Ah, saya masih ingin menikmati rasa kehilangan ini. Menguapkan rasa sedih dengan memandanginya hingga rasa lapar tiba. Life must goes on. Mari kita potong kue dan melangkah ke depan.

kue-miyabi-potong

Selamat tahun baru, kawan! Saatnya bekerja di tempat baru, dengan harapan baru! <:-p

46 thoughts on “Kue, BlackBerry, Miyabi, dan Perpisahan”

  1. perpisahan itu memang menyedihkan kang…

    tapi itu merupakan titik awal kita untuk melangkah lebih kedepan lagi…:clap

    BTW pulang ke yogja lagi yah…??!!!

  2. cukup mengharukan…hiks…

    rotinya cukup kreatif, baru sekali ini liat roti kayak bgitu, dan itu merah2nya di kue dibuat dari apa?

    …tapi kenapa gambar kuenya mesti Miyabi????

  3. Jadi…
    Bagaimana rasanya memakan Miyabi?? Hihihi…8-}

    Sabar yaa, yakinlah bahwa kamu lagi2 mendapatkan teman2 yang baik. Perpisahan emang berat, tapi kan nggak berarti kehilangan mereka sebagai teman. Semoga sukses di kantor baru kita :top

  4. wah, berarti nanti aku bisa sering bertemu denganmu kalau ke jkt. asyik…. bisa minta diajari nge-blog (kok hatiku jadi dagdigdug, nih. kenapa ya? 😉

  5. aduh mesakne ayu-ayu di potong-potong, mukanya jangan Mas….gawe kenang2an hahaha…. 😛

    btw, selamat bekerja di tempat yg baru
    smoga makin sukses ^^v

  6. waahhh … sekarang sampeyan dah mencicipi rasanya miyabi itu, mbok ya cerita gimana rasanya
    kqkqkqkkkqq

  7. Awalnya saya pikir blackberry beneran, ternyata kue ya… :d

    Kreatif banget ya si ibu yg buat.

    Salam kenal ya mas. Mohon izin ngelink.

    Semoga sukses di habitat yg baru ^^v

  8. klo gitu kapan2 aku minta dibuatin kue bergambar nana chunk ah (ndak mau kalah)

    selamat bertugas di tempat yang baru, smoga lebih sakses

  9. Dapat kue seperti itu emang males motongx *keren banget*..tapi akhirx harus dimakan juga ternyata perut emang lebih unggul hehehe:-D ya..rasanya gimana mas,enak g?*sambil nelan ludah krn ngiler*…btw lam kenal ya..;-)

  10. buat miyabi….kamu tuh cantik
    tapi kenapa kamu salah gunakan kecantikan kamu itu…!!
    kamu cari apa?uang ya…
    sayang banget miyabi….uang tidak bisa selamanya menjamin kebahagiaan.jangankan untukmu,,untuk semua orang juga sama…
    akan ada kebahagian lebih daripada uang di kehidupan mendatang….:(

Comments are closed.