Seniman sekaligus arsitek Belanda bernama W.O.J Nieuwenkamp menulis di dalam bukunya yang berjudul Fiet Borobudur Meer (Danau Borobudur) pada tahun 1931, konon dahulunya Candi Borobudur dibangun di atas sebuah danau purba, sehingga seolah-olah bentuk Borobudur seperti ceplok bunga teratai yang mengapung di atas kolam sebagai perwujudan tempat kelahiran Sang Budha.
Category: Asal Muasal & Sejarah
-
Sejarah Panjang Guinness Si Bir Hitam
Bagi kaum muslim, bir merupakan salah satu minuman yang diharamkan. Namun ndak dapat dipungkiri, di lain sisi, bir juga menjadi bagian dari budaya dan gaya hidup manusia yang mempunyai sejarah panjang.
Saya bukan peminum bir, namun saya tertarik dengan proses pembuatan dan sejarah panjang yang melatari sebuah bir menjadi salah satu minuman yang populer hingga sekarang.
Apalagi bir ini banyak sekali ragam dan jenis, sehingga saya pun mencoba menelusuri kisah Guinness, salah satu produsen bir yang berhasil berjaya selama 250 tahun.
-
Tradisi-Tradisi Acara Sekaten
Malam ini (19/3) merupakan malam terakhir perayaan Sekaten tahun ini, setelah selama sebulan acara Sekaten digelar di Alun-Alun Yogyakarta.
Puncak acara Sekaten sendiri ditandai dengan dikeluarkannya 2 perangkat gamelan kraton yang diletakkan dan dimainkan di halaman Masjid Agung Yogyakarta selama seminggu sebelum puncak acara Grebeg Sekaten.
-
Wayang Potehi, Wayang Cina yang Berakulturasi
Suara tabuhan Simbal, Kecer, Bek To, Gong, Pengling, dan Munyu bertalu-talu menggaung di lorong jalan Kampung Ketandan.
Harmoni suaranya mengundang para penonton untuk berkumpul di depan sebuah kotak berbentuk seperti gerobak penjual rokok yang berwarna merah.
Pagelaran Wayang Potehi (Po Tay Hie) akan segera dimulai. Penonton pun berkumpul untuk menyaksikan cerita apa yang akan ditampilkan malam itu.
-
Menelusuri Jejak Sejarah Kampung Batik Laweyan
Menelusuri kembali lorong-lorong di antara tembok-tembok di Laweyan membuat saya seakan terlempar ke masa lalu.
Tembok-tembok tua dengan warna yang memudar itu konon menjadi saksi atas masa kejayaan batik Laweyan.
Ndak hanya batik, dari kampung inil pula lahirlah tokoh pergerakan nasional yang ikut berpartisipasi dalam melawan penjajahan, K.H. Samanhudi melalui perkumpulan Serikat Dagang Islam-nya.
-
Situs Watu Gilang, Tonggak Sejarah Mataram Islam
Menyusuri Kotagede membawa kita seolah-olah terlempar ke masa lalu. Bangunan-bangunan tua yang bertebaran serta berbagai peninggalan kerajaan Mataram Islam menjadikan Kotagede layak untuk dijadikan obyek wisata budaya.
Selain menyimpan berbagai heritage, Kotagede memiliki sejarah tersendiri. Konon Kotagede adalah kota tertua yang menjadi cikal bakal Kerajaan Mataram Islam yang kemudian berkembang menjadi Kraton Yogyakarta dan Surakarta.
Kali ini saya bersama Annots dan Didit melakukan pendoyokan untuk menelusuri kembali jejak-jejak kerajaan Mataram Islam yang mungkin sudah terlupakan.
-
Ndoyok
Dalam beberapa postingan, saya sering menyebutkan istilah “ndoyok”. Pun banyak juga yang bertanya tentang arti kata “ndoyok” itu tadi.
Ndoyok sering disebut bersamaan dengan jeng-jeng. Walau artinya mirip-mirip, namun ada perbedaannya.
Kata “ndoyok” bukan merupakan salah satu kata gaul ala Jogja. Maknanya hanya bersifat lokal-personal dan ndak semua orang ngerti artinya.
Nah, kali ini saya akan menjelaskan soal makna kata “ndoyok” dan asal-usulnya. 😀
-
Mengingat Kembali Sejarah Hari Ibu
Hari Ibu mengingatkan saya pada sebuah bangunan yang berkaitan erat dengan peringatan Hari Ibu ini, namun sering kita lupakan.
Mungkin ndak banyak yang tau kalo ternyata Jogja punya peranan yang amat penting atas tercetusnya tanggal 22 Desember sebagai Hari Ibu.
Nah, di Jogja ada sebuah bangunan yang menjadi monumen untuk mengingat peristiwa sejarah lahirnya Hari Ibu.
Bangunan ini mungkin banyak yang ndak menyangka, karena seringnya bangunan ini digunakan untuk acara resepsi pernikahan dan pameran, kalo punya kisah sejarah tersendiri.
Bangunan ini adalah gedung Mandala Bhakti Wanitatama!
-
Bahasa Walikan Jogja
Pernah denger percakapan atau tulisan kek gini, “Piye kabare socomu sing pahin kae, Dab?”. Atau pernah dengar orang memaki, “pabu sacilad!” hingga nama merek kaos oblong khas Jogja, Dagadu?
Buat temen-temen di Jogja, bahasa tersebut mungkin familiar, bahkan sering digunakan pada percakapan sehari-hari. Tapi kadang temen-temen di luar Jogja kurang paham dengan arti kata tersebut.
Kalo kita mengenal bahasa gawul abege yang bahkan sampe ada kamusnya yang konon diambil dari bahasa gaulnya kaum transexsual, ada juga bahasa gaul yang muncul di daerah-daerah tertentu. Contohnya ada bahasa kiwalan kera ngalam dan tentu saja bahasa walikan Jogja, walau sebenernya setiap daerah punya bahasa slangnya masing-masing.
Saya cuma mo ngebahas bahasa walikan khas Jogja saja. Mungkin sudah banyak blog yang membahasnya, saya cuma menambahkan dan menceritakan ulang saja. Semoga bisa berguna, terutama kalo temen-temen sedang berada di Jogja dan mendengar bahasa macam ini. 🙂