Category: Opini

  • Cara Membuat Donat Awet

    Donat Awet

    Beberapa waktu lalu saya mendapat email yang beredar melalui milis soal keawetan donat. Intinya sih menyebutkan merk salah satu donat yang rupanya bisa awet hingga beberapa bulan.

    Pada awalnya saya menyimpulkan bahwa donat yang umumnya menggunakan merk “luar negeri” itu menggunakan pengawet. Namun ternyata saya salah. 😕

    (more…)

  • Lingkaran Setan?

    Ini lampu gantung, bukan lingkaran setan

    Pernahkah kamu mengalami apa yang dinamakan Lingkaran Setan? >:) Six degree of separation theory, istilah kerennya.

    Hari ini saya mengalaminya. Dan setelah merunut ke belakang, rupanya kejadian-kejadian dan pertemuan saya dengan teman-teman di ranah blogosfer ini sering kali melibatkan si setan melingkar-lingkar itu.

    (more…)

  • Resiko Blog Bertema Kuliner

    Guk! Guk!

    Lagi-lagi saya mendapat email ngeselin yang dikirim melalui kontak form saya namun mbikin saya senyum-senyum. Sebuah email yang dikirim entah karena memang ndak tau atau cuma fastreading saja.

    Ah, mungkin ini memang resiko yang harus saya tanggung karena berani menulis blog yang bertema sok kuliner dan membahas urusan makan-makan.

    (more…)

  • Kehilangan Gairah, Saatnya Bertobat?

    Tobat

    Saya kehilangan gairah, kehilangan nafsu, dan kehilangan passion untuk ngeblog.

    Jujur, ini bukan hanya karena Wiki, namun menurut analisis pribadi saya, karena urusan pacul dan harga sembako yang naik mencekik leher.

    Saya sering eneg dan ndak tau mo ngapain lagi di depan internet. Tersesat dan bingung hendak ke mana ketika berada di dunia maya.

    Apakah ini saatnya saya untuk bertobat?

    (more…)

  • Slogan Pariwisata Indonesia?

    Indonesia: Ultimate in Diversity

    Pernah denger slogan “Ultimate in Diversity“?

    Basbang? Mungkin. Tapi kalo belum, berarti kita kudu tos dulu. :drunk

    Sudah lama saya ndak ngangsu pengalaman dari temen-temen Jalansutra. Maklum, semenjak saya jatuh miskin benwit, kran milis yang saya ikuti terpaksa saya hentikan. Termasuk milis paling deras, milisnya Jalansutra.

    Beberapa waktu yang lalu, di JS sedang hangat-hangatnya dibicarakan soal slogan resmi yang dilansir Departemen Kebudayaan dan Pariwisata ini.

    Slogan “Ultimate in Diversity” dirasa kurang pas, terlalu panjang, dan kurang ear-catchy.

    Kemudian temen-temen JS pun mbikin lomba slogan pariwisata ala Jalansutra.

    (more…)

  • Who’s Next?

    Who's next?

    Ini postingan ke sekian kali yang bernada sedih. :-<

    Setelah bermenyek-menyek pas farewell party-nya De Marko, juga hengkangnya Ridlo dari Jogja untuk pulang ke Jakarta karena diusir sama Pak Sugeng sang pemilik kos, juga Wini yang jadi te-ka-we di Abu Dhabi untuk jadi tukang peras susu onta, kini giliran seorang rekan yang akan meninggalkan Jogja. 🙁

    Sedih, tapi juga bangga dan bahagia. Satu persatu kami harus mulai menata kembali jalan untuk mencapai masa depan yang semoga lebih baik. Jadi jongos kumpeni di negeri kaya nan miskin ini. :-<

    Kutunggu cerita suksesmu, Pic! 😉

    And who’s next? Didit? Adi? Arnanto? We’re just counting the time, fellows.. 🙂

    Ah, Yogyakarta. Setiap sudutnya adalah kenangan. Setiap jengkalnya adalah harapan. Aku makin cinta dengan kota ini. 😡

    Sampai jumpa lagi, kawan! Sungguh aku benci mengucapkan kalimat ini.. 🙂

  • Ritual Wisuda ala Jogja

    Ritual Wisuda ala Jogja

    Setelah wisuda lalu foto-foto? Itu sih udah pasti. Tapi di Jogja, ada beberapa ritual unik yang sering dilakukan setelah wisuda. Ritual-ritual yang entah kapan mulainya dan dari mana asalnya ini seakan-akan hal yang wajar mengingat status Yogyakarta sebagai kota pelajar.

    Ritual-ritual ini seakan-akan menjadi wujud ekspresi gembira kelulusan dan kecintaan para lulusan baru yang akan meninggalkan Jogja, yang mungkin sangat dicintainya dan memberikan kenangan tersendiri.

    Walau ndak semua lulusan baru melakukan ritual ini, tapi banyak juga yang melakukannya. Tentu saja, karena untuk melakukan ritual-ritual ini dibutuhkan nyali dan keberanian yang tinggi. Beberapa ritual bersifat opsional, tapi ada satu yang selalu sama, yaitu melakukan ritual di Tugu Jogja yang terkenal itu.

    (more…)

  • Aku dan Coffeemix

    Cofeemix

    Sepertinya saya akan berhenti menyeruput Coffeemix. Ya, saya mencoba mengikuti jejak si Gadis Kucing Garong itu. 😀

    Akhir-akhir ini hidup saya kacau. Nocturnal. Malam begadang, tidurnya siang. Hidup seperti codhot.

    Kalo pun siang kerja, pasti ditunjang oleh segelas Coffeemix untuk menemani cekikikan sama seekor kucing mesum via Y!M. ;)) Mulai dari obrolan jorok hingga jorok banget kami lakukan demi menghilangkan kantuk yang tak dapat ditanggulangi oleh Coffeemix.

    (more…)

  • Krisis Air

    Bingung mo mandi

    Sial. Semalem pompa air di kosan saya rusak lagi. Ini adalah kejadian kesekian kalinya. Maka jadilah kosan saya sekarang itu mengalami yang namanya krisis air bersih, terutama untuk masalah sanitasi.

    Bayangkan saja, air di kosan saya itu diambil dari sumur. Nah, air sumur ini lalu disalurkan ke bak yang ada di atas tower. Makanya pompa air menjadi satu-satunya nafas kehidupan perairan di kosan saya. Kalo pompanya rusak? Ya sudah. Kiamat!

    Kalo perkara ndak mandi itu sih udah biasa. Nahan gatel-gatel karena ndak mandi itu sih masalah adaptasi. Yang repot itu ya kalo urusan membuang sisa metabolisme dan pencernaan baik yang besar maupun yang kecil.

    Yang merepotkan lainnya adalah ketika wudlu. Kalo wudlu sih bisa diatasi dengan datang ke mesjid. Lumayanlah, sekali-kali berjamaah ke mesjid. Berjamaah ngambil airnya, maksud saya! :))

    Ah, setelah mengalami ini, saya jadi berpikir. Baru krisis air sebentar gini aja repotnya bukan main. Bagaimana dengan sodara-sodara kita di tenda-tenda pengungsian itu, ya? 😕

    Pagi ini? Saya pun mandi di kantor.. :-“