Sebelum acara Ngupas Benhil, sebenernya saya udah melakukan acara pre-ngubek pasar.
Bersama Yudi dan Pito, saya menjelajah Pasar Subuh Blok M Sabtu dini hari.
Sebelum acara Ngupas Benhil, sebenernya saya udah melakukan acara pre-ngubek pasar.
Bersama Yudi dan Pito, saya menjelajah Pasar Subuh Blok M Sabtu dini hari.
Setelah sukses dengan Beringharjo Hunting Tour, JalanSutra kembali menggelar acara Ngupas Benhil (Ngubek Pasar Bendungan Hilir).
Selain menguak lokasi makan di dalam pasar, acara ini menjadi istimewa karena ada pembagian buku kuliner edisi ke-4yang ditulis oleh para dedengkot JS.
Di antara gedung-gedung pencakar langit Jakarta, rupanya ada sebuah masjid tua yang seolah-olah tenggelam di antara kaki-kaki gedung-gedung itu.
Terletak di pusat kota, rupanya ndak banyak orang yang tau tentang keberadaan masjid yang memadukan corak Cina, Betawi, Hindu, dan Arab ini.
Sudah beberapa kali saya mengamati seorang ibu penjual serabi di kawasan Pasar Tanah Abang, Jakarta Pusat. Duduk tanpa menggunakan dhasaran kecuali hanya sebuah dingklik, anglo, dan keranjang untuk menjajakan serabinya.
Walau saya penasaran dengan serabi yang satu-satunya dijual di seputaran pasar ini, namun baru kemarin itu saya mampir mendekati ibu penjual serabi itu.
Belum sebulan kesasar di Jakarta, saya kok sudah kangen sama Jogja. Nah, untuk mengurangi rasa kangen, saya pun kemecer pengen makan gudeg.
Ternyata, mencari gudeg di Jakarta ini gampang-gampang susah. Mencari gudeg dengan rasa original yang nJogja banget, membutuhkan kemampuan ndoyok yang super.
Maap. Jakarta yang laknat telah menyita waktu saya. Membuat saya kesusahan dalam ngeblog dan urusan duniawi lainnya.
Sampai jumpa di postingan selanjutnya! :rock
Sudah sekitar seminggu ini saya tersesat di belantara berkedok kota yang bernama Jancukarta Jakarta. Tentunya sebagai pendatang baru yang ikut berpartisipasi menyesaki kota ini, banyak kesan dan pengalaman yang saya dapat.
Secara umum, mungkin sudah pada tau lah, gimana sih bentuknya Jakarta. Namun bagi saya, sesuatu itu selalu ada hikmahnya. Ada pelajaran yang senantiasa bisa kita ambil jika kita jeli dan melihat dari sudut pandang yang lain.
Gang Kelinci rupanya ndak hanya terkenal di dalam lagu, namun Gang Kelinci juga menyimpan cita rasa kuliner yang melegenda.
Beberapa waktu yang lalu, saya berkesempatan mencicipi menu ini bersama Mas Iman Brotoseno dan Mas Ipul pas saya ke Jakarta beberapa waktu yang lalu.
Bloger Days di Jakarta kemarin berlangsung beda. Ndak, saya ndak ngomongin soal acara Blogger Day yang digagas British Council itu, namun Bloger Days versi saya. 😀
Empat hari tiga malam saya terdampar di kota laknat Jakarta semakin meneguhkan anggapan saya bahwa di Jakarta itu banyak penggoda iman.. ;))
Pas guwa ke Jakarta beberapa waktu yang lalu, guwa sempet nyobain nyang namenye kulineran Jakarte. Salah satunya adalah Soto Betawi.
Padahal nyang namanya jalan-jalan, belon lengkap kalo kagak makan-makan. Bener, kagak tuh? :))
Ah, ndak enak ngomong gaya Jakarta. Lidah Jawa medok gini ndadak nggaya, sok-sokan, kemlinthi, pake bahasa Jakarte.
Pake lu-guwa lu-guwa segala.. Guwajingan, lu! =))
Wis, biasa aja. :))